Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan Ardiansyah/ Labib Syarief/

Akbar Kurniadi
EU-Africa free trade agreement 'destroys' development policy, says Merkel advisor
Berita ini memuat tentang adanya tumpang-tindih kebijakan Uni Eropa di Afrika. Angel
Merkel sebagai kanselir Jerman, sangat menentang hal tersebut. Karena kebijakan
pembangunan yang diterapkan oleh Uni Eropa di Afrika lebih penting daripada perjanjian
kemitraan ekonomi. Selain itu, menurutnya jika perjanjian ekonomi diterapkan maka secara
tidak langsung akan menghambat kebijakan pembangunan di Afrika. Program pembangunan
yang dicanangkan oleh Jerman dan Eropa di Afrika akan terhambat jika perjanjian ekonomi
dengan negara-negara Afrika diberlakukan.
Economic Partnership Agreement antara Uni Eropa dan beberapa negara Afrika akan
memberikan akses yang sangat luas bagi kedua pihak untuk mengakses pasar masing-masing.
Bagi Eropa, Afrika membuka keran impor hingga 83 persen dari pasar mereka. Untuk Afrika
sendiri, Eropa memberikan bebas akses terhadap pasar mereka. Sementara itu, untuk tarif dan
biaya akan dihilangkan secara bertahap.
Akan tetapi, perjanjian ini tidak berjalan mulus sebagaimana mestinya. Kenya merupakan
salah satu negara yang menolak menandatangani perjanjian tersebut. Eropa meresponnya
dengan memberlakukan tarif impor bagi beberapa produk kenya yang berlaku mulai 1
Oktober. Tindakan tersebut mengakibatkan beberapa perusahaan di Afrika me-PHK
karyawannya. Akhirnya, setelah dua minggu, Kenya terpaksa menandatangani perjanjian
tersebut.
Seorang analis, menyatakan bahwa jika perjanjian ini diberlakukan, maka akan memberikan
dampak yang sangat signifikan terhadap keterpurukan ekonomi negara-negara di Afrika. Hal
ini dikarenakan negara-negara di Afrika tidak memiliki kapabilitas yang cukup dalam
bersaing di taraf perekonomian global, apalagi untuk menyaingi industri-industri besar di
Eropa. Akan tetapi, pihak Uni Eropa sendiri menyangkal bahwa liberalisasi pasar akan
membuat Afrika terpuruk. Yang terjadi justru sebaliknya, Afrika dapat belajar dari Eropa
berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka sejak dulu. Yang akan berefek pada
peningkatan ekonomi di negara-negara Afrika itu sendiri.
Europe-Africa Relations; well intentioned diplomatic disaster;
By Fatten Aggad Clerx

Dalam pertemuan Uni Afrika dengan Uni Eropa di Brussel, Belgia, terdapat isu yang
menjadi permasalahan hubungan dua institusi tersebut. Permasalahan pertama, adalah
ketidakhadiran beberapa pemimpin negara tersebut. Di antaranya pembatalan kedatangan
Presiden Zimbabwe karena tidak diberikannya visa terhadap istrinya, ketidakhadiran
perwakilan Republik Arab Sahrawi karena telah hadirnya perwakilan dari Maroko. Serta
ketidakhadiran Presiden Ethiopia yang menolak pembahasan isu gay. Permasalahan kedua,
adalah pelegalan homoseksual di negara-negara Afrika melalui legislasi. Tiga negara yang
menolak adalah Nigeria, Uganda dan Ethiopia. Negara-negara Eropa berusaha berdialog
dengan ketiga negara ini agar menerima legislasi pembolehan homseksesual. Tapi mereka
tetap menolak. Sebab bagi mereka pelegalan isu tersebut tidak sesuai dengan kultur Afrika
dan bertentangan dengan agama. Akibat penolakan tersebut. Uni Eropa menahan bantuan luar
negerinya terhadap ketiga negara ini. Selain, Uni Eropa, beberapa pejuang HAM aturan

tersebut tidak hanya melindungi hak sipil, tetapi juga aturan dalam mempersempit HIV dan
Aids. Akan tetapi, beberapa negara di Afrika setuju dengan legislasi pembolehan gay seperti
Kenya.
Permasalahan ketiga, gagalnya kesepakatan Economy Partnership Agreement (EPA).
Uni Afrika menolak untuk menyapakati liberalisasi perdagangan dengan Uni Eropa. Karena
dianggap akan merugikan Uni Afrika sendiri. Sedangkan bagi Afrika perjanjian tersebut demi
kemajuan Afrika. Ketiga hal permasalahan tersebut yang menjadi tensi dalam pertemuan di
Brussel. Banyak pemimpin Afrika menganggap pertemuan di ibukota Belgia tersebut tidak
akan membahas isu penting bagi Afrika dan hanya menguntungkan Afrika. Meskipun
demikian, terdapat sisi positif hubungan kedua negara di bidang perdagangan. Selain itu,
Afrika juga memilki hubungan dengan Jepang, AS dan China sebagai partner perdagannya
selain Uni Eropa.
West Africa and Europe trade: Who will benefit more?
Pada 24 Februari 2014, setelah lebih dari satu dekade negosiasi terkait
Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA) dengan Uni Eropa (UE), Masyarakat
Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS) menyetujui penandatanganan
Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA) dengan Uni Eropa (UE). kita perlu
melihat secara dekat setiap argumen yang dikemukakan oleh negosiator
dari kedua belah pihak: EPA mendorong pertumbuhan, mendorong
investasi, dan mempromosikan pembangunan. Faktanya adalah Pertama,
EPA mendorong pertumbuhan, EPA sebenarnya mengancam pertumbuhan
sumber utama Afrika Barat: pertanian. Subsidi produk Eropa (melalui CFA
270 miliar, atau sekitar 414.000.000) akan mengguncang pertanian
Afrika Barat, yang mengarah pada penurunan harga relatif, terutama bagi
peternakan dan produsen susu. Kedua, EPA mendorong investasi di Afrika
Barat, Sebuah konsensus global menegaskan Afrika Barat sebagai tempat
menarik bagi investasi potensial. Bahkan tanpa EPA, investor global akan
memilih Afrika Barat, yang menghasilkan keuntungan tertinggi per franc
yang diinvestasikan di dunia. Kenyataannya adalah bahwa EPA
mengurangi prospek ini dengan membatasi akses ke wilayah tersebut
bagi para investor Eropa.Ketiga, EPA mempromosikan integrasi ekonomi
dan pembangunan, secara implisit mensubsidi produk Eropa, EPA
menciptakan pengalihan perdagangan yang menguntungkan Eropa dan
menghambat produksi serta konsumsi produk lokal dalam mendukung
impor Eropa. Perjanjian tersebut memperkuat pembagian kerja di Afrika
Barat, yang menyediakan bahan baku untuk industri Eropa, namun tidak
memberikan Afrika Barat akses ke pasar Eropa, yang, pada kenyataannya,
dilindungi oleh hambatan teknis perdagangan.
Afrika Barat kaya akan sumber daya alam, penduduknya sedang
mengalami perubahan penting,dan memberikan pangsa pasar yang

besar.Maka bagi Eropa, EPA adalah alat yang ampuh untuk menjadikan
Afrika Barat sebagi salah satu pasar paling dinamis di dunia dan, yang
lebih penting, menyediakan akses ke sumber daya yang tidak
terbantahkan. EPA tersebut, dalam kenyataannya, merupakan perjanjian
politik yang bersembunyi di balik perjanjian ekonomi.EPA: adalah sebuah alat
yang akan menghancurkan kemitraan antara Afrika dan Eropa.Faktanya menunjukkan, EPA
akan memperburuk kemiskinan di daerah pedesaan, terutama bagi penduduk nomaden yang
bekerja sebagai produsen daging dan susu.