Anda di halaman 1dari 15

Foreign Policy in Africa

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok Dalam


Mata Kuliah Hubungan Internasional Kawasan Timur Tengah & Afrika

oleh
Akbar Aveorus Sabil
Akbar Azmi
Augusti Vingalianti
Dirga Eka Lazuardi
Eufrat Kamil Kahar
Farah Putri Nabillah
Muhammad Darmawan Ardiansyah
Rani Putri Nur Amalia
Zalqornaen Ramdana Syahrial Gufron

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015/2016
1 | Page

Pendahuluan
Secara umum, kebijakan luar negeri setiap negara mencerminkan
cara bagaimana pemerintahnya mendefinisikan tujuannya, dan sejauh
mana tujuan tersebut dicapai secara keseluruhan. 1 Tujuan tersebut tidak
hanya sebagai gagasan negara, namun juga sebagai identitas dan tradisi
yang membentuk perilaku. Dalam pembentukan negara sendiri, terdapat
dua cara, yaitu yang pertama ada wilayah yang dibuat oleh negaranegara dan ada negara yang dibuat oleh wilayah.
Dalam kasus negara-negara Afrika, umumnya wilayah telah ada
terlebih dahulu, kemudian didirikanlah negara-negara didalamnya. 2
Masalah perbatasan ini merupakan dasar dari para pemimpin untuk
memerintah, setelah itu mereka bisa meminta international conventions
of juridicial statehood and non-aggression untuk memastikan dukungan
internasional apabila integritas wilayah mereka terancam.
Umumnya, hampir semua rezim di Afrika dihadapkan dengan
masalah perpecahan politik dan keterbelakangan ekonomi.3 Pemerintah
berusaha untuk memperkuat fondasi negara melalui langkah-langkah
yang dirancang untuk meningkatkan rasa persatuan nasional masyarakat
atau disebut Nation building . Untuk permasalahan keterbelakangan
ekonomi, dihadapi dengan memelihara ekonomi domestik dan struktur
politik hubungan eksternal.
Kebijakan luar negeri negara-negara Arika, kebanyakan ditentukan
berdasarkan jenis negara dimana mereka berada. Negara-negara Afrika
yang pada dasarnya menentang campur tangan dari pihak eksternal.
Sebagian besar kebijakan luar negeri Afrika sebagian besar berasal dari
luar, guna untuk mempertahankan struktur kekuasaan dalam negerinya.
Namun hal tersebut tergantung dari sifat pemerintah yang bersangkutan.
Bagaimanapun, negara-negara Afrika harus mengetahui batas
mereka sendiri untuk mengasilkan sumber daya yang mereka butuhkan
untuk menjaga diri mereka di kawasan mereka sendiri. Dalam pencarian
tersebut, mereka bisa mencari dukungan dari tiga arena internasional,
yaitu negara-negara bekas koloni dan rekan mereka, negara Dunia
Ketiga, dan dengan konfrontasi global antara dua negara adidaya.4
Pembahasan
A. Hubungan Afrika Dengan Former Koloni 77 103
1Morgenthau Hans J. : Politic Among Nations, Yayasan Obor. Jakarta 1990.
2Clapham, C. 2000.Africa and the international system. Cambridge: Cambridge
University Press, hlm. 47
3Ibid.67.
4Ibid. 59.
2 | Page

Di dalam bukunya Christopher Clapham yang berjudul Africa and the


International System pada chapter 4 menjelaskan bagaimana pola aliansi
negara-negara di Afrika pasca kolonialisme, yaitu pola hubungan antara
former colonised dengan coloniser setelah kemerdekaan. Negara-negara
di Afrika lebih mendefinisikan hubungan internasional mereka dari faktor
sejarah, sehingga dalam menjalin hubungan dengan dunia, mereka lebih
condong kepada former colonizer atau negara yang pernah menjajah
mereka diwaktu zaman kolonialisasi, kebanyakan dari penjajah itu adalah
negara-negara di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Portugis.5
Pasca kemerdekaan, hubungan antara Afrika dengan former koloni
masih sangat kuat. Nilai-nilai atau warisan dari kolonial masih sangat
berpengaruh di Afrika bahkan dalam perumusan kebijakan luar negeri di
Afrika. Fitur penting dari hubungan post-kolonial adalah depth and
complexity. Contohnya pelantikan dan pelatihan para birokrawan oleh
former koloniser, termasuk leader kelompok etnis yang dipilih, dilatih
menjadi angkatan bersenjata; modal perekonomian mendapat bantuan
dari former koloniser; bahkan perusahaan-perusahaan inti yang
beroperasi di Afrika berbasis disana; selain itu juga budaya dan
pendidikan sangat dipengaruhi pada masa-masa colonial, yang paling
terlihat adalah mengenai bahasa. Bayangan-bayangan dari masa colonial
ini menjadi ancaman yang potensial bagi negara.
Hubungan perdagangan dan ekonomi pasca kemerdekaan antara
former koloni dan koloniser masih sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan
antara pemimpin Afrika dengan former koloni saling berbagi keuntungan
atau surplus dari hasil pengelolaan ekspor-impor. 6 Intinya, terdapat
common interest dalam hubungan ini, yang mana para leader Afrika
dapat mengambil keuntungan dari bantuan yang diberikan. Sedangkan
bagi former koloni, hubungan ini melanjutkan pengaruh diplomatik
mereka pasca kolonial atau setelah kemerdekaan.
Selain itu, kuatnya hubungan ekonomi anatara negara di Afrika
dengan former koloni dapat terlihat dari masih diandalkannya industri
agricultur-monocrop untuk menyokong perekonomian disana. Hubungan
yang masih dipertahankan antara former dan koloni pasca independence
selain itu adalah mengenai masalah security atau keamanan.7
Inggris dan Perancis mempu mengembangkan hubungan kompleks
dengan para bekas koloni mereka di Perancis dengan cara damai, yaitu
dengan dikembangkannya ekonomi industry. Terdapat 18 kontinen sub
sahara yang mana ada 42 negara di Afrika yang termasuk dalam African
francophone. Menjaga hubungan baik dengan para former colonial power
bahkan setelah merdeka, memberikan keuntungan tersendiri bagi negaranegara di Afrika.Dengan keanggotaan Inggris dan Perancis di DK
5 Clapham, C. 2000.Africa and the international system. Cambridge: Cambridge
University Press, hlm. 78.
6 Ibid.89.
7 Ibid. 91.
3 | Page

Permanen PBB, menyediakan akses bagi negara Francophone African dan


Commonwealth African kepada institusi keuangan internasional seperti
IMF dan World Bank. Keuntungan lain yang didapat dari Commonwealth
Africa yang didapat selain itu dapat terselesaikannya isu-isu seperti Isu
Rhodesia dan masalah politik Apartheid di Afrika Selatan dapat
terselesaikan dengan adanya KTT Lusaka 1979.8 Hal ini sebagai upaya
diplomatic Inggris kepada negara bekas koloninya dahulu di Afrika.
Depth and complexity relations between france and its former
coloni in Africa, ada tiga unsur penting:9
1. People
Koneksi yang dibentuk antara Perancis dan Afrika salah satunya
dengan ikatan pernikahan. Dengan ini, sejumlah orang Perancis
memiliki akses pada kekuasaan negara. Personal links ini terbilang
cukup sukses sebagai upaya sarana diplomasi dalam menjalin
hubungan luar negeri dengan Afrika pasca merdeka.
2. Money
Hubungan yang paling terlihat dan signifikan adalah mengenai zona
mata uang umum antara Perancis-Afrika yang dilambangkan dengan
CFA Franc. Mata uang ini mencakup hamper semua bekas koloni
Perancis. CFA Franc dibuat sejak 1948 untuk menjaga stabilitas
moneter. Zona Franc ini merumuskan hubungan Franco-Afica secara
keseluruhan.
3. Forces
Campur tangan militer Perancis di Afrika jauh lebih besar
dibandingkan dengan mata uang atau program bantuan lainnya.
Tahun 1993, terdapat sekiranya 13.000 tentara Perancis dikerahkan
di Afrika dan sekitarnya setelah periode awal antara tahun 1960 dan
1964.Perancis terlibat dalam sejumlah operasi kepolisian dalam
kudeta Gabon (1964), intevensi langsung hingga 1976 pada operasi
militer di Republik Afrika Tengah dan Chad.Perancis memberi
dukungan militer langsung bagi rezim yang berkuasa di Afrika,
termasuk Djobouti, Gabon, dan Zaire.
Namun,seiring berakhirnya perang dingin, bergabungnya jerman
barat dan Jerman Timur, pembukaan di Timur Eropa; hubungan Perancis
dan Afrika semakin sulit untuk dipertahankan.10
Multilateral Post-Colonialism
Hubungan bilateral ditandai dengan terbentuknya Francophone
Community dan Commonwealth. Dari hubungan bilateral ini, kemudian
meluas kerjasamanya ke negara eropa lain yang ditandai dengan
Konvensi Lome dari tahun 1975. Awalnya Konvensi Lome hanya
melibatkan dua kelompok negara di dalam struktur perdagangan
8 Ibid. 92.
9 Ibid. 96.
10 Ibid. 100.
4 | Page

kemudian memberi akses bagi negara-negara Afrika ke Eropa Barat


lainnya.11
Hubungan perdagangan khusus antara Perancis dan bekas koloni
mereka di Afrika diatur dalam traktat Roma, kemudian berlanjut pada
negosiasi konvensi Younde antara Community dengan 18 mantan koloni.
Konvensi Younde mulai berlaku sejak 1963 dan yang kedua pada 1969
yang mana menempatkan hubungan antara 6 negara EC (European
Community) dengan mantan koloni mereka di kawasan. Dengan ini
hubungan multilateral pasca colonialism dibentuk dan dipelihara melalui
Dana Pembangunan Eropa sebagai bentuk bantuan dari EC ke Afrika.
Namun, pasca perang dingin, dana pembangunan Eropa semakin
berkurang. Bantuan EC hanya menyumbang porsi relative kecil dari total
bantuan ke Afrika12
B. Tren Lama dan Baru dalam Pengambilan Kebijakan Luar Negeri
Afrika
1. Tren Lama; Pan-Afrikanisme
Terinspirasi oleh aktivitas gerakan anti-kolonial keturunan Afrika
yang hidup di Amerika Utara selama abad 19, nasionalis Afrika mencari
suatu nilai yang bisa mempersatukan Afrika untuk melawan aturan-aturan
kolonial. Hingga kemudian, nilai tersebut dikenal sebagai pan-Afrikanisme
yang mana kongres pan-Afrikanisme pertama dimulai dengan pertemuan
di Manchester, Inggris, 1945. Pada konferensi tersebut, Afrika mengadopsi
Declaration to the Colonial Peoples yang menyatakan hak pada semua
colonized peoples untuk bebas dari kontrol imperialis, politik maupun
ekonomi, dan untuk memilih pemerintahan mereka, tanpa dibatasi oleh
kekuatan luar.13
Pada 25 Mei 1963, 31 kepala negara di Afrika berkumpul dan
membentuk Organization of African Unity (OAU), pan-Afrikanisme
pertama, organisasi intergovermental yang berasal dari tanah Afrika.14
Setidaknya, terdapat empat prinsip utama dari organisasi ini:
1. The sovereign equality of all member states. Hal ini yang
membedakan OAU dengan PBB yang mana PBB memiliki Dewan
Keamanan, namun OAU tidak. Semua negara anggota OAU
kedudukannya adalah sama atau bisa dibilang anarki.15
11 Ibid. 97.
12The EC provided between 6.3 per cent and 10.1 per cent of Western bilateral and multilateral
aid to sub-Saharan Africa between 1984 and 1988; see OECD, Development Assistance Committee,
1989 Report: DevelopmentCooperation in the 1990s (Paris: OECD, 1989), table 35, p. 242

13 Ibid, hlm. 253.


14 Ibid, hlm. 254.
15 Ibid, hlm. 254.
5 | Page

2. Non-interference in the internal affairs of member states.16


3. The peaceful settlement of all disputes via negotiation, mediation,
consiliation, or arbitration.17
4. Unswerving opposition to colonialism and white minotiry rule18
OAU hanya bertahan selama 39 tahun, kemudian digantikan oleh
African Union (AU) pada tahun 2002. Namun begitu, jasa OAU sangat
besar. Ia bisa disebut sebagai implementasi dari kemenangan untuk panAfrikanisme walaupun harus menanggung banyak beban kritik dan
simpati dari berbagai pengamat dalam perannya memainkan politik
Afrika dan hubungan internasional.19 Setelah OAU masuk buku sejarah,
pada 8 Juli 2002, pemimpin dari lebih dari 50 negara Afrika bertemu di
Durban, Afrika Selatan untuk membentuk African Union, yang mana
merupakan suksesor dari OAU untuk melanjutkan pencarian African Unity.
Seperti OAU, AU akan mengadakan pertemuan dengan semua kepala
negara anggota, mengadopsi struktur dan aturan diplomatik OAU, dan
menambah beberapa petugas dan institusi untuk menguatkan kerjasama
Afrika. Pada 2003, diadakan kembali rapat kepala negara untuk
membahas secara garis besar struktur dan prinsip baru dari AU.
Kemudian, rapat tersebut mengahasilkan keputusan untuk membuat
struktur baru yang mana AU akan dipimpin oleh sepuluh badan eksekutif
Komisi Afrika. Mereka adalah presiden, wakil presiden, dan delapan komisi
yang bertanggungjawab untuk menjalankan delapan garis besar haluan
organisasi:20
1. Political Affairs, such as democratic elections and human rights
2. Peace and Security, most notably efforts devoted to conflict
resolutin
3. Economic affairs, inclusive of promoting regional integration
4. Infrastructure and energy, such as the development ofthe
transportation and telecommunicatios sectors
5. Social Affairs, ranging from sports and migration to health issues
and anti-drug efforts
6. Human resources, Science and Technology, such as education and
new information technologies
7. Commerce and industry, most notably efforts devoted to trade and
invesment
8. Rural economy and agriculture, inclusive of food security and
protection of the environment
16 Ibid, hlm. 255.
17 Ibid, hlm. 258.
18 Ibid, hlm. 259.
19 Ibid, hlm. 254.
20 Ibid, hlm. 260.
6 | Page

Struktur tersebut merupakan usaha untuk melanjutkan kesuksesan


OAU dan membangun secara lebih komprehensif kooperasi regional.
Namun, dalam hal prinsip, ada perbedaan cukup signifikan anatara OAU
dan AU. AU lebih bersifat fleksibel tentang konflik yang terjadi atau yang
akan datang. Maksudnya, AU sedikit menolak prinsip OAU tentang noninterference dalam urusan domestik negara anggotanya. Namun
demikian, negara anggota menyetujui prinsip baru dari AU ini yang mana
mereka mengizinkan AU untuk memiliki hak intervensi dalam hal
kejahatan HAM, kejahatan perang, dan genosida.sebagai tambahan,
semua negara anggota berkomitmen untuk menguatkan nilai-nilai
demokrasi dengan melakukan pemilihan yang bebas dan jujur dan
mendukung kebebasan berekspresi.21
2. Tren Baru; Neoliberalisme Ekonomi.
Berbicara mengenai kawasan Afrika, tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki tingkat
perekonomian yang sangat rendah. Hal ini dapat kita lihat dari perolehan
GNP dari masing-masing negara itu sendiri. Di mana negara-negara di
Afrika cenderung menghasilkan GNP yang sangat rendah dibandingkan
negara-negara di kawasan lainnya. 22 Walaupun telah dilakukan berbagai
cara untuk memulihkan perekonomian mereka, tetap saja negara-negara
ini masih terjebak dalam jurang kemiskinan. Hal diakibatkan oleh adanya
faktor-faktor tertentu yang menghalangi pertumbuhan ekonomi di
kawasan tersebut.23
Belum lagi permasalahan penyakit HIV-AIDS yang melanda kawasan
tersebut. Tercatat sekitar 22 juta orang di Afrika terjangkit penyakit
tersebut. Di mana tiap tahunnya 1,5 juta orang meninggal akibat penyakit
ini.24 Kapabilitas yang rendah dalam bidan medis menjadi permasalahan
utama dari tidak kemampuan negara-negara di Afrika untuk mengatasi
penyakit tersebut.
Pada masa kolonialisme, pembangunan di Afrika cenderung dilakukan
berdasarkan kebutuhan primer dari penjajah itu sendiri. Seringkali
penjajah hanya memusatkan pembangunan dalam bidang pertanian dan
pertambangan. Pembangunan infrastruktur sendiri dilakukan demi
kelancaran distribusi barang-barang itu tersebut. Selain itu, hasil dari
komoditas-komoditas tersebut sebagian besar diekspor ke Barat, hanya

21 Ibid, hlm. 260.


22 Alex Thomson, An Introduction to African Politics, Routledge: USA, 2010, hal.
188.
23 Ibid, hal. 189.
24 Ibid.
7 | Page

sedikit yang dapat dinikmati oleh penduduk Afrika. Pastinya sebagian


besar keuntungan dari hasil komoditas tersebut dinikmati oleh Barat.25
Spesifikasi produk tertentu yang dilakukan pada masa kolonialisme,
menjadikan Afrika pasca kolonialisme sangat menggantungkan hidupnya
terhadap komoditas-komoditas tertentu.26 Tentunya dalam dunia yang
sangat kompetitif diperlukan diversifikasi produk ekspor agar sebuah
negara dapat bertahan dalam persaingan ekonomi global. Selain itu
ketergantungan yang sangat tinggi terhadap komoditas tertentu
berpotensi pada stagnansi pendapatan negara. Di mana negara tidak
dapat menghasilkan tambahan devisa karena terpaku pada komoditas
tertentu saja.
Permintaan dalam negeri yang sedikit tentunya tidak akan menyerap
seluruh produk yang dihasilkan oleh komoditas tersebut. Maka dari itu,
produk tersebut harus diekspor sebanyak-banyaknya agar negara tidak
mengalami kerugian. Barat menjadi tujuan utama dari produk-produk
tersebut. Karena seperti yang telah kita ketahui, seluruh penjajah negaranegara di Afrika berasal dari Barat yang mewariskan spesifikasi produk
tersebut. Maka tidak heran jika Barat menjadi tujuan utama dari produk
yang dihasilkan oleh komoditas tersebut.27
Perekonomian Afrika lumpuh akibat dari utang yang dilakukan.
Akibatnya pembangunan tidak dapat dilanjutkan karena keuntungan dari
investasi-investasi yang telah dibuat digunakan untuk membayar hutang
luar negeri. Menurunnya jumlah volume perdagangan, kenaikan harga
minyak pada tahun 1970 yang signifikan, serta kenaikan suku bunga di
awal tahun 1980-an menjadi penyebab utama terjadinya krisis utang
tersebut.28
Beban hutang yang sangat besar, memaksa negara-negara di Afrika
menjalankan Structural Adjusment Program. Program ini diperkenalkan
oleh lembaga keuangan internasional untuk meringankan beban hutang
yang dimiliki oleh Afrika. SAP sendiri telah dimulai sejak awal tahun 1980an, Kenya, Malawi, dan Mauritius menjadi negara pertama yang
menjalankan program tersebut. SAP itu sendiri adalah program pinjaman
bersyarat. Negara sebagai peminjam harus menyesuaikan kebijakannya
dengan koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh lembaga keuangan
internasional. Hal ini diperlukan agar negara mendapatkan pinjaman
lanjutan untuk membayar hutang luar negeri mereka.29

25 Ibid, hal. 191.


26 Ibid, hal 192.
27 Ibid.
28 Ibid.
29 Ibid, hal. 197.
8 | Page

Pada tahun 2005, dilakukan perumusan Multilateral Debt Relief


Initiative (MDRI), yang dimana poin utama dari rumusan tersebut adalah
membebaskan Afrika dari hutang luar negeri. Summit Gleneagles yang
dilakukan oleh G8 memberikan bantuan terhadap 17 negara Afrika
termiskin yang memiliki beban hutang yang sangat besar dengan cara
menghapuskan hutang luar negeri mereka terhadap Bank Dunia, IMF, dan
ADF. Bantuan tersebut dapat diperoleh dengan cara melakukan structural
adjusment terhadap kondisi negara tersebut.30 Intinya adalah negaranegara yang menerima bantuan dari MDRI harus melepaskan kedaulatan
mereka. Hal ini dilakukan semata-mata untuk tetap mendapatkan aliran
bantuan hutang. Mekanismenya adalah negara-negara ini harus
menetapkan kebijakan-kebijakan yang disetujui oleh lembaga keuangan
internasional.
3. Transisi dan Kritik terhadap Tren Lama dan Baru
Untuk memahami beberapa konteks ekonomi global di kawasan
Afrika, perlu adanya penimbangan dalam segi ancaman ataupun situasi
dalam konteks datangnya paham kontemporer. Negara-negara di kawasan
Afrika mayoritas menganut sistem sosialis. 31 Untuk Afrika, kapitalisme
global harus dilihat dari segi segi negosiasi global. Ini tidak membantu
Afrika sebanyak Afrika tidak benar-benar mendapatkan keuntungan dari
kapitalisme global dan globalisasi.32
Di Afrika tropis masalah pertama tampaknya kepentingan utama
karena tekanan penduduk di darat, meskipun tumbuh, umumnya belum
parah, sehingga sebagian besar ekonomi tradisional masih memiliki
beberapa kapasitas produktif surplus. Untuk alasan ini kita akan
memusatkan perhatian kita pada pengembangan potensi pola
penyerapan kelebihan di sektor modern. 33 Dalam membangun suatu
tataran sistem pada kawasan Afrika, perlu adanya definisi dalam rangka
menjawab dari alasan-alasan daripada adanya ketimpangan masyarakat
dengan negara, yaitu bukti daripada adanya kemiskinan yang masif.
Hasil dialektika antara paham sosialisme dan adanya globalisme
dunia dalam sudut pandang khusus contohnya yakni pertama, dilihat
sangat bias dalam mendukung capital insentive technique yang dibahas
atas cenderung untuk mempromosikan penggunaan yang sangat khusus
dan akibatnya menahan pertumbuhan permintaan barang modal yang
30 Ibid, hal 195.
31Daniel Don Nanjira, African Foreign Policy and Diplomacy: From Antiquity to
the 21st Century volume one, (Praeger, Santa Barbara, California, 2010) hal.
429.
32Ibid. Hal 431.
33Giovanni Arrighi, dan John S. Saul, Socialism, and Economic Development in Tropical
Africa, The Journal of African Modern Studies vol 6, (Cambridge University Press, Agustus
1968), hal. 145

9 | Page

dapat diproduksi secara lokal. Lain alasan berhubungan lebih langsung


dengan perilaku korporasi internasional modern. Dalam ekonomi nonindustri pasar modal barang begitu kecil; barang-barang tersebut yang
akan diproduksi harus ada alasan yang baik dan percaya bahwa seluruh
ekonomi akan berkembang sedemikian rupa untuk memelihara pasar
padamodal barang.34
Penulis ini yakin bahwa tes fundamental dan tantangan yang
dihadapi Afrika pada tahapan kontemporer adalah apakah semangat,
identitas dan jiwa Afrika yang ada sebelum Eropanisasi yang datan ke
Afrika, dapat direklamasi dan ditebus di abad ke-21. Hal ini kemudian
harus abad untuk pemeriksaan Afrika untuk Afrika! Mengikuti analisis
usaha untuk memberikan kemungkinan tanggapan terhadap tantangan ini
dari Africanness.35
''Pax Africana'' adalah sistem norma yang mengatur perilaku
internasional di Afrika. Norma-norma ini mengatasi kelemahan dan
kerentanan, yang akan terjadi. Namun, terlepas ada dari perubahan dan
perintah yang mungkin membentuk Afrika di masa depan. Norma-norma
juga bertujuan untuk membantu mengatasi dan mencapai dasar
internasional Afrika yang dibutuhkan. '' Pax Africana '' adalah doktrin PanAfrika berakar pada nilai-nilai Afrika Amana dan Ubuntu yang
menghasilkan Pan-Afrikanisme. Amana adalah Hausa (Nigeria) konsep
meliputi keyakinan, kepercayaan, dan kejujuran. Amana adalah diterapkan
secara luas dalam kehidupan tradisional Nigeria utara.36 Secara singkat
bahwasannya adanya kebuntuan-kebuntuan tersebut mengenai adanya
ketimpangan kelas perekonomian dan juga stratifikasi masyarakat.
C. Klasifikasi Ekonomi Neoliberal Berhasil dan Gagal di Afrika
Dalam melihat perkembangan ekonomi Afrika sangat menarik apabila
dilihat dari proses atau sejarah perekonomian yang dialami oleh negaranegara di Afrika. Begitu juga dalam menjelaskan bagian ini, dimana perlu
adanya indikator umum dalam memberi klasifikasi untuk menjelaskan
negara mana yang dapat disebut berhasil dan negara mana yang dapat
disebut gagal. Maka dari itu, pada bagian ini pertama-tama akan
dijelaskan secara singkat bagaimana perjalanan negara-negara di Afrika
melangsungkan hidupnya. Selanjutnya, dari perjalanan sejarah tersebut
dapat ditemukan hal-hal apa saja yang membuat negara di Afrika menjadi
negara yang berhasil atau gagal secara ekonomi. Terakhir, baru akan
dijelaskan beberapa contoh negara yang berhasil dan gagal.
Berbagai tantangan muncul bagi ekonomi negara-negara di Afrika
akibat warisan pra-kolonial dan pasca-kolonial di benua tersebut.
34H. A. Turner, Wage Trends, Wage Policies and Collective Bargaining: the problems for underdevelopedc
Ountries, ( Cambridge, 1965), hal. 21.
35Daniel Don Nanjira, African Foreign Policy and Diplomacy: From Antiquity to the 21st
Century volume one, (Praeger, Santa Barbara, California, 2010) hal. 435

36Ibid. 436
10 | P a g e

Berdasarkan uraian masalah diatas muncul beberapa indikator yang harus


diperhatikan oleh negara-negara di Afrika dalam menciptakan
perokonmian yang baik bagi negaranya :37
1. Pengelolaan masyarakat yang diciptakan oleh konsep nation-state
warisan kolonial dengan baik.
2. Mekanisme kelembagaan pemerintahan yang baik, dimana
didalamnya mengakomodir semua perbedaan yang ada.
3. Versifikasi dan perluasan sistem ekonomi untuk mengurangi
pengaruh sistem monocrop warisan kolonial dan hambatan lain.
4. Hubungan diplomatik yang baik, terutama dengan negara-negara
tetangga (karena terkait isu irredentism).
Berdasarkan tiga indikator tersebut, disimpulkan bahwa satu negara
yang dapat dikatakan ekonominya berhasil menghadapi segala tantangan
dan perubahan yang ada termasuk gelomgang pengaruh sistem ekonomi
neoliberal adalah Afrika Selatan. Dijelaskan oleh Don Najira dalam
bukunya, bahwa masa keemasan Afrika Selatan mulai muncul pasca
runtuhnya sistem Apartheid pada tahun 1994. Keberhasilan negara ini
memecahkan masalah yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi
negara tersebut dapat dibilang tepat. Hal ini karena sejak runtuhnya
sistem Apartheid, Afrika Selatan tidak perlu lagi khawatir akan potensi
embargo atau sanksi ekonomi dalam bentuk lainnya dari negara-negara
yang mengkritik keras keberadaan sistem tersebut.38
Afrika Selatan pasca Apartheid sangat memperhatikan reformasi
departemen
dan
kementrian.
Demokratisasi
seluruh
lembaga
pemerintahan begitu diperhatikan oleh negara ini. Selain itu, peran swasta
dalam bentuk ide yang mendukung kemajuan Afrika Selatan juga tidak
luput dari pemerintah Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
Setidaknya, terdapat tujuh prinsip yang melandasi perumusan kebijakan
Afrika Selatan :39
1. Memperhatikan ketaatan, pengakuan, penghormatan, dan
pemajuan HAM.
2. Demokratisasi di segala badan pemerintahan.
3. Hubungan antar-negara harus didasarkan pada hukum
internasional dan keadilan.
4. Perbedaan dan perselisihan harus diselesaikan melalui
kesepakatan dan kerjasama dan tidak menggunakan jalur
kekerasan.
5. Kebijakan luar negeri Afrika Selatan harus mempromosikan dan
membela kepentingan nasional negara.

37 Ibid., hal. 22-23


38 Daniel Don Nanjira, African Foreign Policy and Diplomacy: From Antiquity to
the 21st Century volume one, (Praeger, Santa Barbara, California, 2010) hal.
308-309
39 Ibid.,
11 | P a g e

6. Pembangunan ekonomi Afrika Selatan harus memberi kontribusi


pada integrasi regional
7. Kebijakan luar negeri Afrika Selatan harus membantu memperluat
segmen dmokrasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Prinsip-prinsip tersebut pada akhirnya membawa Afrika Selatan saat
ini menjadi salah satu adidaya ekonomi di Afrika. Afrika Selatan sendiri
saat ini telah memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan negaranegara di Timur-tengah, Asia/Oceania, Eropa Barat, Eropa Tengah dan
Timur, Amerika Utara, Amerika Latin dan Karibia.40
Selanjutnya, satu contoh negara yang dapat dikatakan tidak berhasil
diantaranya adalah Republik Demokratik Kongo. Sejak kemerdekaannya,
negara yang dikategorikan sebagai salah satu negara LDC (least
developed country) dianggap tidak memiliki kesiapan yang memadai.
Kebijakan Belgia yang buruk pada masa kolonial disebut-sebut sebagai
salah satu penyebab ketidaksiapan tersebut. Pertama, dari segi
pengelolaan masyarakat negara ini dapat dikatakan tidak berhasil karena
terbukti dalam lintasan sejarah, negara ini beberapa kali mengalami
konflik dan perang saudara. Kedua, buruknya sistem pemerintahan yang
diwarnai dengan korupsi yang marak terjadi serta pergantian-pergantian
sistem dari sosialisme pada masa pemerintahan presiden Lumumba.
Dilanjutkan dengan sistem pemerintahan yang pro-barat pada masa
pemerintahan Mobutu, memperlihatkan labilnya penerapan politik di
Kongo. Ketiga, kebijakan-kebijakan ekonomi juga tidak sesuai dan berjalan
baik bagi negara dimana hal ini ditandai dengan besarnya sumber daya
alam yang dimiliki Kongo, seperti sumber daya mineral, minyak bumi dan
agrikultur namun ekonomi negara tersebut tidak dapat tumbuh seperti
semestinya. Hal ini karena maraknya kebijakan yang tidak pro-rakyat dan
lebih mementingkan kepentingan pribadi pemimpin serta maraknya
eksploitasi oleh pihak barat pada masa pemerintahan Mobutu.41
D. Perkembangan Afrika dalam Tradisi Liberal
Predominance of Modernization (tahun 1950an awal
1960an)
Pada tahun 1950an para scholars membawa sebuah pengertian
atau teori yang berbeda atas pembangunanyang ada di Afrika. Hal
tersebut berbeda dengan yang dilakukan sebelumnya oleh para penemu
benua Afrika. Para scholars pada tahun 1950an menyebutnya sebagai
teori modernisasi(mondernization theory).42
Secara garis besar para scholar mengaitkan teori tersebut dalam
memandang Afrika dengan mengacu pada bentuk-bentuk modern,
terutama dalam ekonomi yang dikemukakan oleh pakar ekonomi seperti
40 Ibid.,
41 Ibid., hal. 312-313
42Peter J. Schraeder, African Politics and Society: A Mosaic in Transformation,
Thomson Wadsworth: United States
12 | P a g e

Walt W. Rostow. Dalam aspek politik terjadi peningkatan partisipasi


masyarakat dalam perpolitikan di negara-negara Afrika. Dalam teori
modernisasi, sangat percaya bahwa negara-negara baru Afrika yang
independent akan mengarah pada negara demokratis yang memiliki
industri yang modern. Salah satu pendekatan yang populer dalam teori
modernisasi adalah structural-functionalism.43 Secara garis besar
pendekatan ini menyatakan bahwa seluruh sistem politik di afrika akan
berkembang stabil dalam keadaan multi partai, yang memiliki bentuk
setelah bentuk Amerika Serikat dan negara-negara barat.44
Rise of Modernization Revisionism (akhir 1960an)
Kritik besar yang pertama, ada pada kecenderungan bahwa
modernisasi merupakan proses yang mengarah pada zero sum game. 45
Dalam aspek politik revisionist menekankan pada penolakan yang sama
dalam sistem terutama dalam sistem tradisional. Penolakan disini berarti
ada keputusan sepihak, mengingat kultur tradisional berdampingan
dengan aspek politik. Kritik besar kedua, terletak pada sengketa asumsi
yang menyatakan bahwa sikap tradisional dan lembaga tidak dapat
dipisahkan secara irasional, dengan demikian akan menghambat proses
modernisasi.46Kritik besar ketiga yaitu tentang bagaimana modernisasi
merupakan bentuk unilinear, yang mana karakter tradisional seperti etnik
akan hilang dan digantikan dengan bentuk afiliasi yang lebih modern. 47
Demands for Policy Relevance and Public Policy Research
(pertengahan 1970an 1980an)
Pada kasus ini para scholar mencoba meneliti bagaimana
penaganan masalah manajerial di pemerintahan yang biasa dihadapi di
Afrika. Dari penelitian tersebut menghasilkan dua arah pendekatan yang
berbeda.
Pertama,
pendekatan
politk-ekonomi,
pendekatan
ini
menekankan pada bagaimana pembuat kebijakan harus memiliki sikap
rasional.48 Analisis yang ditekankan ada pada bentuk rasional atau cost
and benefit aktor pengambil kebijakan. Kedua, analisa kebijkan publik,
pendekatan ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk mencari
solusi atas hasil penelitian sebelumnya yang nanti akan digunakan
sebagai solusi bagi kelangsungan publik.49 Dari kedua penelitian tersebut
yang menjadi elemen penting adalah bagaimana akhirnya negara-negara
afrika dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada akhir 1980an negara
43Ibid.
44Ibid., hlm. 304
45Ibid.
46Ibid.
47Ibid., 307
48Ibid., hlm. 312
13 | P a g e

menjadi focal point atas sebuah pengertian mengenai keberhasilan dan


kegagalan kemerdekaan Afrika dari kolonial.50
New Directions (1990 Sekarang)
Pasca perang dingin liberal memiliki arah baru dalam menjelaskan
perkembangan di Afrika. Pertama, adanya minat baru dari para scholar
untuk meneliti Afrika dalam kondisi yang multi partai. 51 Kedua, arah liberal
yang
menekankan
pada
aspek
demokrasi
mampu
mengkaji
perkembangan demokrasi lebih jauh dari masyarakat hingga
pemerintahan. Ketiga, dengan berbagai macam kepentingan politik yang
juga terkait dengan etnis maka dapat dicari solusi yang lebih kreatif,
seperti pemberian otoritas khusus atau desentralisasi.52 Keempat,
sepertihalnya kebanyakan tradisi liberal mengenai hak asasi,
permasalahan gender dan juga etnis merupakan permasalahan sosial
yang memerlukan penelitian lebih besar. 53 Kelima, arah penelitiannya
kepada bagaimana perkembangan negara-negara dalam memfasilitasi
atau justru menghambat sosio-ekonomidan politik-militer di Afrika. 54
Keenam, penelitian mengarah pada dilema sosial-politik yang ada di
Afrika, dan penelitian terakhir mengarah pada kemampuan aktor nonstate yang berada di domestik maupun internasional yang diluar kontrol
negara.55
Daftar Pustaka
Arrighi Giovanni, dan John S. Saul, Socialism, and Economic Development
in Tropical Africa, The Journal of African Modern Studies vol 6,
(Cambridge University Press, Agustus 1968).
Buzan Barry, People State and Fear. The National Security Problem in
International Relations (Brighton: Wheatsheaf, 1983).

49Ibid.
50Ibid., hlm 313
51Ibid., hlm 314
52Ibid., hlm 315
53Ibid.,
54Ibid., hlm 316
55Ibid., hlm 317
14 | P a g e

Clapham, C. 2000.Africa and the international system.

Cambridge:

Cambridge University Press.


Morgenthau Hans J. : Politic Among Nations, Yayasan Obor. Jakarta 1990.
Nanjira Daniel Don, African Foreign Policy and Diplomacy: From Antiquity
to the 21st Century volume one, (Praeger, Santa Barbara, California,
2010).
Nielson Waldemar, the greats powers and Africa (new york: praeger,
1969) and olajide Aluko, ed, Africa and the great powers in the 1980s
(lanham: university press of America, 1987).
OECD,

Development

Assistance

Committee,

1989

Report:

DevelopmentCooperation in the 1990s (Paris: OECD, 1989).


Schraeder

Peter

J.,

African

Politics

and

Society:

Mosaic

in

Transformation, Thomson Wadsworth: United States.


Schrader Peter J., Incrementalism, Crisis and Change: United States
Foreign Policy toward Africa (Cambridge: Cambridge University
Press,1994).
Thomson Alex. An Introduction to African Politics. New York: Routledge.
2000.

15 | P a g e