Anda di halaman 1dari 7

KERJASAMA UNI EROPA-CINA DALAM MENANGANI &

MENANGGULANGI CYBERCRIME

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Dalam


Mata Kuliah Metodologi Penelitian Hubungan Internasional

oleh
Muhammad Darmawan Ardiansyah
NIM: 1112113000007

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015/2016

Pendahuluan
I. Latar Belakang Masalah.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi sangat
pesat sekali di abad ke-21 ini. Perkembangan teknologi dianggap sebagai
sebuah kemajuan yang telah merubah segala aspek kehidupan manusia.
Di negara-negara maju, hampir di seluruh sektor kehidupan telah
terintegrasi dengan teknologi. Contohnya saja sistem perairan, instalasi
listrik, perbankan, sistem transportasi, dan masih banyak lagi sektor
lainnya.
Tujuan utama dari penciptaan teknologi itu sendiri adalah untuk
kemaslahatan

umat

manusia

dalam

menjalankan

segala

aktivitas

kehidupannya, agar dapat berjalan dengan mudah, nyaman, efisien, dan


efektif. Dengan segala kemudahan tersebut banyak dari kita tidak
menyadari bahwa ada sisi negatif yang tersembunyi dibalik pesatnya
perkembangan teknologi. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang
sangat pesat, kejahatan berbasis teknologi pun juga tumbuh dengan
sangat cepat.
Internet ibarat dua sisi mata logam yang saling berlawanan. Ada sisi
yang baik dan sisi yang buruk. Akan tetapi, kebanyakan dari kita tidak
menyadari apa sisi negatif dari internet itu sendiri. Perkembangan internet
yang sangat pesat secara tidak langsung telah menciptakan kejahatan
dalam dimensi yang baru. Dimensi baru kejahatan ini sering disebut
sebagai kejahatan dunia maya atau juga bisa disebut cybercrime.
Cybercrime yang merupakan kejahatan yang dilakukan dalam dunia
maya membuatnya menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi kehidupan
manusia. Pemanfaatan internet sebagai alat kejahatannya, membuat
pelaku kejahatan sangat sulit untuk diidentifikasi keberadaannya. Sangat
mudah bagi mereka untuk memanipulasi kejahatannya agar tidak
terendus serta dapat dengan mudahnya kabur tanpa meninggalkan jejak.

Kejahatan internet ini telah marak terjadi di berbagai belahan dunia.


Akan tetapi, disetiap negara, terutama negara-negara berkembang masih
banyak yang belum menetapkan undang-undang yang dibuat untuk
menjerat pelaku kejahatan ini. sehingga tanpa disadari kejahatan ini
berkembang dengan sangat cepat sekali. Di negara-negara maju sendiri
perkembangan cybercrime juga tumbuh dengan sangat cepat, walaupun
telah banyak sekali undang-undang yang dibuat khusus dalam mengatasi
dan menanggulangi kejahatan tersebut.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang menjadi kiblat
teknologi dunia. Perkembangan dan kemajuan teknologi yang sangat
signifikan membuatnya selalu menjadi negara yang terdepan dalam
bidang apapun. Sejalan dengan perkembangan teknologinya, cybercrimepun meningkat dengan sangat cepat tiap tahunnya. New York Times,
salah satu media terbesar di AS melaporkan bahwa jumlah serangan
malware terus mengalami peningkatan.
Tercatat sejak tahun 2010 hingga tahun 2012 telah terjadi kenaikan
serangan malware sebesar 17%.1 Washington Post, juga melaporkan
bahwa telah terjadi sebuah serangan hacker yang telah meng-hack twitter
yang dimiliki oleh Associated Press. Serangan ini menyebabkan pasar
saham AS merugi sebesar 136 miliar USD hanya dalam kurun waktu
kurang lebih 10 menit.
Pada 15 November 2011 website facebook jatuh akibat dari
penyerangan

yang

dilakukan

oleh

pelaku

cybercrime.

Metro

UK

melaporkan bahwa serangan tersebut dilancarkan melalui linkspam


virus. Apabila pengguna meng-klik website facebook maka yang muncul
bukanlah halaman facebook, melainkan tampilan beberapa gambar
perempuan yang sedang berbuat tidak senonoh.2
1 http://www.nytimes.com/2012/07/27/us/cyberattacks-are-up-national-security-chief-says.html?_r=1&. Diakses
pada tanggal 26 April 2015 pukul 06:09.

2 http://metro.co.uk/2011/11/15/facebook-investigates-virus-displaying-hardcore-porn-on-users-newsfeeds221073/. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 07:40.

Apple yang disebut-sebut sebagai perusahaan gadget terbaik dalam


mengatasi

serangan-serangan

hacker

pun

tidak

mampu

menahan

serangan yang dilakukan terhadap produk buatannya. Dari laporan BBC


menyebutkan bahwa ada sekitar 600 ribu unit komputer Macs yang telah
terinfeksi virus. Virus yang menyerang komputer-komputer ini dikenal
dengan Flashback Trojan. Dan diperkirakan bahwa jumlah komputer yang
terinfeksi akan terus bertambah.3
Kasus-kasus serangan di atas hanyalah contoh dari beribu kasus
cybercrime yang terjadi di AS. Kebanyakan serangan-serangan besar dan
yang mengakibatkan kerusakan yang sangat parah ditujukan kepada
perusahaan-perusahaan

ternama

dan

instansi

pemerintahan.

Dan

motif/tujuan dari serangan besar tersebut adalah sebagai aksi balas


dendam, perlawanan terhadap pemerintah, serta bentuk aksi protes
terhadap sebuah perusahaan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah.
Symantec,

perusahaan

yang

bergerak

dibidang

antivirus

dan

pengamanan sistem komputer melaporkan bahwa ada kenaikan pelaku


kejahatan cybercrime yang sangat signifikan dari tahun 2012 sampai
dengan tahun 2013. Pada tahun 2012 AS menjadi negara kedua setelah
China sebagai negara konsumen cybercrime terbesar yang menghabiskan
total 21 miliar USD.4 Dan pada tahun 2013 AS menjadi negara pertama
konsumen cybercrime terbesar di dunia yang menghabiskan total 38
miliar USD dalam 12 bulan terakhir.5
Cybercrime yang dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan ada
akses internet seringkali membuat para penegak hukum kesulitan untuk
menangkap pelakunya. Maka dari itu, untuk memerangi cybercrime
3 http://www.bbc.com/news/technology-17846185. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:08.
4 http://securityaffairs.co/wordpress/8458/cyber-crime/2012-norton-cybercrime-report-a-worryingscenario.html. Diakses pada tanggal 26 April 2015 pukul 06:46.

5 http://www.symantec.com/about/news/resources/press_kits/detail.jsp?pkid=norton-report-2013. Diakses pada


tanggal 26 April 2015 pukul 06:47.

diperlukan kerjasama antara beberapa pemerintah untuk memudahkan


penangkapan pelaku kejahatan tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena
sifat dari pelanggaran yang dilakukan secara online dan lintas batas
negara dapat mengancam keamanan dan kepentingan banyak negara.
Dimensi kejahatan yang melintasi batas negara memaksa negaranegara untuk melakukan kerjasama baik bilateral maupun multilateral
untuk mencegah dan mengatasi cybercrime, seperti yang dilakukan oleh
China dan Uni Eropa. Presiden Xi Jinping melakukan perjalanan ke Eropa
untuk

melakukan

termasuk

serta

kerjasama

memperbarui

dalam

bidang

kerjasama

China-Uni

penanggulangan

Eropa,

cybercrime.6

Pemerintah Cina mengatakan bahwa permasalahan cybercrime yang


semakin serius dan berbahaya perlu mendapatkan porsi tersendiri untuk
menangani masalah tersebut.
Rencana kerjasama peningkatan cybersecurity dengan Uni Eropa ini
dilakukan untuk memperluas perlindungan serta mempersempit ruang
gerak bagi para pelaku cybercrime ini.7 Hal ini perlu dilakukan demi
melindungi hak-hak individu dalam dunia maya, dan yang paling penting
adalah melindungi kepentingan negara, baik itu berupa informasi,
kebijakan, atau apapun bentuknya yang bersifat rahasia dan sensitif.
Karena jika kejahatan ini tidak ditangani secara serius, maka akan
memberikan dampak yang sangat besar bagi hubungan antar negara
yang mungkin rusak akibat kejahatan tersebut.
Mungkin rusaknya hubungan antara Cina dan AS bisa menjadi salah
satu contoh dampak dari cybercrime yang dapat memperkeruh hubungan
antar negara. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Cina dan AS telah
melakukan kerjasama pencegahan dan penanggulangan cybercrime lebih
dulu daripada dengan Uni Eropa.8 Kerjasama ini dilakukan untuk
meredakan ketegangan di antara dua negara yang sebelumnya saling
6 http://www.scmp.com/news/china/article/1464552/china-co-operate-eu-cybersecurity. Diakses pada tanggal
26 April 2015 pukul 09:54.

7 http://www.nytimes.com/2014/02/28/world/asia/china-announces-new-cybersecurity-push.html. Diakses pada


tanggal 26 April 2015 pukul 10:01.

menuduh adanya aktivitas hacking yang dilakukan oleh salah satu pihak
serta bekerjasama membentuk tim khusus untuk menangani masalah
tersebut.
Akan tetapi kerjasama ini bubar akibat tuduhan yang dilakukan oleh
pemerintah AS terhadap Cina.9 Pemerintah AS menyalahkan dan menuduh
bahwa militer Cina telah melakukan aktivitas hacking terhadap sistem
komputer pemerintah dan pertahanan AS. Di lain sisi, Cina berulang kali
menyatakan dengan tegas menentang segala bentuk aktivitas hacking.
Segala tuduhan dan spekulasi tidak berdasar yang ditujukan AS ke Cina
hanya akan merusak upaya kerjasama di antara dua negara.
Rusaknya

kerjasama

cybersecurity

antara

AS

dan

Cina

tidak

menghentikan langkah AS untuk mengatasi permasalahan cybercrime. Hal


ini terbukti dengan adanya pemberharuan kerjasama cybersecurity antara
AS dan Uni Eropa pada Maret 2014 di Brussels, Belgia. 10 Inti dari
kerjasama ini adalah untuk memperkuat kerjasama sebelumnya serta
berfokus pada pembangunan sistem cybersecurity di negara-negara dunia
ketiga.
Adanya kerjasama cybersecurity antara Uni Eropa dan AS langsung di
respon oleh Cina dengan pembentukan kerjasama cybersecurity dengan
Uni Eropa kurang lebih sebulan kemudian. Dapat dilihat dari pola-pola
kerjasama ini bahwa negara-negara besar seperti AS, Cina, serta negaranegara Uni Eropa memiliki perhatian yang sangat besar terhadap
kejahatan ini. Hal ini membuktikan bahwa cybercrime merupakan
kejahatan yang sangat serius di era modern saat ini.

8 http://www.reuters.com/article/2013/04/13/us-china-us-cyber-idUSBRE93C05T20130413. Diakses pada


tanggal 26 April 2015 pukul 10:18.

9 http://www.nytimes.com/2013/05/07/world/asia/us-accuses-chinas-military-in-cyberattacks.html. Diakses
pada tanggal 26 April 2015 pukul 10:34.

10 https://www.whitehouse.gov/the-press-office/2014/03/26/fact-sheet-us-eu-cyber-cooperation. Diakses pada


tanggal 26 April 2015 pukul 10:53.

Kegagalan kerjasama antara AS dan Cina dalam penanggulangan


kasus cybercrime patut diperhitungkan dengan matang oleh Uni Eropa. AS
sebagai sekutu terdekat Uni Eropa yang merasa menjadi korban dari
kegagalan kerjasama ini tidak membuat Uni Eropa ragu untuk melakukan
kerjasama dengan Cina. Padahal jika dilihat dari kegagalan kerjasama
antara AS dan Cina, banyak resiko besar yang mungkin harus ditanggung
oleh Uni Eropa di kemudian hari jika melanjutkan kerjasama tersebut.
II. Pertanyaan Masalah.
1) Apa motivasi Uni Eropa melakukan kerjasama cybersecurity dengan

Cina?