Anda di halaman 1dari 7

REDEFINISI LINGKUNGAN BINAAN DAN TRADISIONALISME

A. Farid Nazaruddin ST.

Manusia sebagai makhluk yang berkarya

Manusia hidup di dunia dalam hidup dan berkehidupannya selalu mengolah sesuatu
menjadi sebuah karya. Karya inilah yang menjadi dasar kendaraannya dalam
mengarungi kehidupan di dunia ini. Mulai dari memasak, berkendaraan, berkomunikasi,
membunuh, bernaung dan lain sebagainya. Tidak terlepas dari itu manusia mengolah
lingkungan dimana ia berada dan dimana ia hidup supaya manusia dapat melaksanakan
kegiatan sehari-harinya dengan lebih mudah dan cepat-efektif. Pada saat manusia hidup
di lingkungan yang panas ia membuat bangunan yang dapat mereduksi panas, pada
saat manusia hidup di lingkungan yang kering dia mengolah lingkungannya dengan
mengambil air dan mengalirkannya ke lingkungan tersebut. Berbagai tindakan dilakukan
untuk mendapatkan sebuah lingkungan yang nyaman.

Arsitektur dan kota termasuk dalam sebuah konteks lingkungan binaan. Oleh karena itu,
sebuah arsitektur dan kota (seharusnya) akan hidup dan berkembang sesuai tempat
dimana ia berada. Apabila dia berada di wilayah bersalju, maka pengertian dan
pengelolaan dari sebuah lingkungan binaan akan berbeda dengan pengertian dan
pengelolaan lingkungan di wilayah yang kering. Jelas pula bahwa lingkungan binaan
antara pelaksanaan dan pemaknaannya sangat tergantung dimana dia dimaknai dan
dihasilkan. Karya manusia dapat dikelompokkan dalam konteks kebudayaan. Sebuah
lingkungan binaan adalah sebuah karya manusia, dan manusia tidak akan dapat
terlepas dari budayanya. Sebelum kita dapat membahas tentang lingkungan binaan,
tidak ada salahnya kita membahas definisi dari budaya dan konteks yang
mengelilinginya.

Apakah budaya itu? E. K. M. Masinambow (2001) memberikan penjelasan yang lebih


singkat dan jelas tentang hiruk pikuk persepsi kebudayaan yang selama ini terjadi,
meski lebih terhadap teoritis. Ia mengajukan 3 pertanyaan tentang kebudayaan, yaitu:
1. apakah yang dimaksud dengan kebudayaan itu harus dicari pada perilaku atau
pada hal-hal yang berada di belakang perilaku itu – di dalam kehidupan intern
manusia?
2. apakah yang dimaksud dengan kebudayan itu harus dicari pada benda-benda
yang dihasilkan manusia, pada lingkungan biofisik yang dimodifikasi oleh
manusia; atau pada hal-hal dalam kehidupan intern manusiayang mendorongnya
membuat membuat benda-benda itu atau merubah lingkungnan biofisik itu?
3. apakah yang dimaksud dengan kebudayaan itu harus dicari pada lingkungan
alam yang sudah ada, tetapi diberikan “makna tertentu” oleh masyarakat
sehingga mempengaruhi perilaku manusia atau pada “makna” yang diberikan
itu?

Jawaban pada pertanyaan-pertanyaan itu tergantung pada teori tentang kebudayaan


yang dianut. Jika teori itu bersifat mentalistik atau idealistic, dengan sendirinya
kebudayaan itu berada di dalam diri manusia. Sebaliknya jika teori itu bersifat
materialistic atau behavioristik, dengan sendirinya kebudayaan itu adalah keteraturan
pada perilaku dan pada artifak, pada pola pembuatan artifak maupun pola
penggunaannya.
Dahulu, pendapat tentang hakikat kebudayaan merupakan manifestasi dari kehidupan
manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani. Sekarang pendapat itu bergeser
menjadi bahwa kebudayaan adalah manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap
kelompok orang. Manusia selalu merubah alam. Manusia selalu mengutik-utik
lingkungan hidup alamiahnya. Dan itulah yang dinamakan kebudayaan. Tidak terkecuali
tradisi, norma yang diturunkan. Manusia membuat sesuatu dengan tradisi itu, ia
menerimanya, menolaknya dan merubahnya. Kegiatan inilah yang dinamakan
kebudayaan. Jadi setiap orang, tidak terbatas pada para ahli pencipta karya, tetapi juga
setiap orang dan kelompok orang dapat membentuk sebuah kebudayaan. Revolusi
makna kebudayaan telah terjadi.

Dr. Galih Widjil Pangarsa memberikan penjelasan tentang kebudayaan dalam pemikiran
berketuhanan. Dia mencoba mengartikan kembali makna Cultuur yang merupakan akar
kata culture mengolah tanah untuk suatu hasil, kata ini kemudain berkembang untuk
pengolahan tanaman, ternah, mikroorganisme, pola karekteristik perilaku masyarakat,
sebuah gaya ekspresi artistik atau sisoal yang dimiliki golongan tertentu di dalam
aktifitas seni.

Sedangkan budaya berasal dari badaya bertasrif menjadi Al-Mubdi’u, salah satu asma
Allah yang berarti yang Maha Mengawali dan Menjadikan segala sesuatu dari tiada.
Konsep makna harafiah kata budaya menunjukkan akar kata-kata “budi” (akal-budi,
pikiran) dan “daya” (tenaga, kemampuan). Demikian sehingga budaya dapat dimaknai
sebagai kemampuan berakal budi dengan nilai-nilai luhur berketuhanan, untuk
mengawali hidup dengan suatu proses yang adil, harmonis, selaras dalam kedamai-
tentraman yang berbukti pada kesatuan jalinan kehidupan antar makhluk ciptaan Allah.

Nilai Ketuhanan

manusia

hasil karya/ budaya/ nilai yang dikembangkan

ilustrasi 1: konsep kebudayaan sebenarnya (sumber: hasil analisa)

Dalam konsep ini, sudah ada perbedaan tegas antara baik-buruk, benar-salah, adil-
zalim, indah-buruk dan seterusnya. Dan budaya diajukan sebagai kata sifat atau kata
kerja, bukan kata benda.

Dengan dasar budaya tersebut, lingkungan binaan seharusnya adalah sebuah karya
manusia yang sesuai dengan kebaikan tidak keburukan, kebenaran tidak kesalahan,
keadilan bukan kezaliman.

Pemaknaan lingkungan binaan

Lalu apakah lingkungan Binaan itu? Dalam bahasa anglosaxon (inggris) pengertian ini
pun masih berkembang. Demikian pula dalam bahasa lain. Sedangkan dalam bahasa
indonesia, kata kota dan rumah merupakan kata serapan dari bahasa melayu, yang
tersebar dari seluruh nusantara. Ketersebaran ini manjadikan kata tersebut mempunyai
makna sesuai pemahaman masyarakat setempat. Potensi pemaknaan ini sangat luas
apabila dilihat dasar dari bahasa-bahasa yang tidak terkukung oleh pengertian satu
bahasa. Kenusantaraan sangatlah bijaksana, sangat luas dalam pemaknaan dan
pelaksanaan. Kedinamisan masyarakat menghasilkan kedinamisan makna pula. Oleh
karena itu, untuk melihat suatu definisi, sebelumnya kita harus melihat ruang dan waktu
dimana definisi itu berada. Karena manusia bereksistensi dalam waktu.

Manusia Jawa menyebut tempat tinggalnya dengan istilah omah. Kata omah merupakan
bentukan dari dua kata. Om yang diartikan sebagai angkasa dan bersifat laki-laki
(kebapakan), dan mah yang diartikan (tanah) dan bersifat perempuan (keibuan).
Sehingga omah (“rumah”) dimaknai sebagai miniatur dari jagad manusia yang terdiri
Bapa angkasa dan Ibu pertiwi (Pitana 2001:40). Realitas ini menunjukkan pada kita
tentang pemahaman dan sikap manusia Jawa terhadap jagadnya yang oleh Frick
(1997:83) dijelaskan bahwa makrokosmos manusia Jawa adalah lingkungan alam,
sedangkan mikrokosmosnya adalah arsitektur sebagai ruang tempat hidup yang
merupakan gambaran makrokosmos yang tak terhingga. Di Jawa juga terdapat kata lain
dari omah berupa griya. Bagaimana dengan makna kata griya?

Dalam wilayah bahasa Jawa baru, kata `griya' dan `omah' adalah sama artinya, hanya
penggunaannya yang berbeda. Kata griya menunjuk pada tingkatan atau tataran krama
sedangkan kata omah digunakan dalam tingkatan atau tataran krama-ngoko. Tetapi,
menurut Prijotomo (1999) Dari Kawruh Griya berbahasa Jawa menjadi jelas bahwa
`griya' dan `omah' tidak dapat dengan segera dimengerti dan diindonesiakan atau
diterjemahkan menjadi rumah'. Griya atau omah memang di satu sisi dapat dimengerti
sebagai rumah, tapi di sisi yang lain tidak dapat dimengerti sebagai rumah.

Bagaimana arsitektur yang ideal menurut masyarakat Jawa? Selanjutnya Projotomo


(ibid) menjelaskan bahwa arsitektur (Griya dan omah) Jawa yang ideal adalah yang
seperti “bernaung di bawah pohon” Sebuah metafora yang sejauh peninjauan terhadap
pemikiran dan pengkajian terhadap arsitektur Jawa belum pernah dimunculkan. Dua
kata kunci yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam lagi adalah "bernaung" dan
"pohon".

Bernaung, adalah tindakan yang merupakan usaha untuk menghindarkan diri dari
sengatan matahari dan curahan air hujan; bernaung merupakan usaha untuk dapat
terhindar dari cuaca dan iklim yang kurang menguntungkan. Untuk Indonesia yang
hanya memiliki musim kemarau dan musim penghujan, maka iklim bukanlah sebuah
ancaman bagi keselamatan dan hidup manusianya. Iklim di Indonesia tidak mematikan,
tidak mendatangkan kematian. Dengan demikian, bernaung tidaklah tindakan untuk
menghindarkan dan melarikan diri dari iklim; bernaung membiarkan iklim melakukan
tugasnya, sedangkan kita membiarkan diri kita tetap melakukan kontak dengannya.

Bandingkan dengan pemahaman arsitektur dari orang yang berasal dari iklim yang
berbeda dngan di Jawa pada khususnya. Bagi mereka, tempat berlindung yang
terbentuk pada awalnya sangat sederhana dan terus berkembang makin rumit sejalan
dengan perkembangan peradaban manusia. Mulai dari mencari lekukan pada alam
(goa) sampai membuat bangunan dalam bentuk yang rumit, penuh dengan simbol
simbol (Kartono, 1999). Bagi masyarakat dengan iklim yang ekstrim, goa yang
membatasi secara total sebuah hunian adalah satu-satunya tempat manusia dapat
hidup. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian hunian oleh masyarakat jawa.
Apabila dikejar kembali, maka pemaknaan sebuah arsitektur sebagai sebuah lingkungan
binaan manusia sangat terhubung erat dengan konteks dimana ia ada (bereksistensi).
Manusia sebagai makhluk yang dapat mengolah alam (center of the universe) diberi
tanggung jawab untuk dapat merasakan ruang dimana ia berada dan bereksistensi.
Potensi manusia yang berupa akal dan rasa dalam merasakan energi (ruang dan
waktu). Dengan demikian konteks tersebut adalah tempat dan waktu. Pemahaman akan
lingkungan binaan ini akan terus berevolusi sejalan dengan tempat dan waktunya, tetapi
perlu di perhatikan pula bahwa evolusi ini dapat merusak dan dapat pula memperbaiki.
Tentu kita sebagai manusia, ingin pemaknaan dan pelaksanaan sebuah lingkungan
binaan dari suatu dasar kebudayaan ini menjadi lebih baik. Untuk menjaga ini maka,
diperlukan dasar pondasi pemaknaan yang kokoh dan solid sebagai dasar pijakan.
Karena apabila evolusi pemaknaan itu terjadi, maka pondasi artinya lah yang menjaga
evolusi itu menuju ke sesuatu yang lebih baik.

Definisi lingkungan binaan

Setiap manusia mencerna lingkungannya (binaannya) sesuai pemaknaan yang


dilakukanya. Dalam sebuah lingkungan, pemaknaan ini terresonansi dengan
pemaknaan manusia lain. Yang mengakibatkan sebuah lingkungan yang aktif
(Habermas menyebutnya offentleichkeit atau public sphere) dimana perpaduan
pemikiran terjadi dalam suatu ruang. Perpaduan ini terjadi dengan berbagai dampak
pula. Apabila perpaduan makna itu sepaham dalam sebuah komunitas, maka akan
terjadi suatu tujuan bersama dalam sebuah komunitas tersebut. Apabila sebaliknya,
maka ruang itu akan rusak dan terjadi ruang-ruang baru yang individual saling
bertentangan.

Sebuah ruang pula tidak dapat terlepas dengan waktu. Sebuah bentukan massif juga
tidak dapat terlepas dari ruang, dengan demikian juga tidak dapat terlepas dari waktu.
Hal ini termasuk dalam sifat kesemestaan. Dimana terjadi suatu keterpaduan unsur
material seperti bentukan kasat mata dari lingkungan dan im-material seperti rasa yang
didapati oleh manusia dalam lingkungan tersebut. Nilai kesemestaan ini tergantung dari
kemurnian berprosesnya zat ketenagaan hidup dari sesuatu. Apakah sifat keadaannya
dapat dipertahankan dan dipelihara manusia sebagaimana ia diciptakan oleh Allah, atau
tidak (Pangarsa, 2006)

Dari berbagai pemahaman diatas, maka dapat disimpulkan bahwa definisi lingkungan
binaan adalah pemanfaatan dan pengelolaan bersama akan lingkungan yang terpadu
dengan nilai-nilai kesemestaan-kesetempatan berdasarkan akal budi dan nilai-nilai luhur
berketuhanan yang diterima manusia dari Allah SWT.

Tradisionalisme

Dalam dunia arsitektur, terdapat berbagai unsur kemasaan dan kesetempatan yang
membentuk sebuah arsitektur. Mulai dari alam lingkungannya sampai kebudayaan yang
melingkupi sebuah karya. Salah satunya adalah kebijaksanaan dari tradisionalisme
kontekstual. Apakah tradisionalisme itu?

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita hidup di masa kemajuan teknologi yang sangat
pesat dan semakin melesat maju. Seperti perkembangan telepon genggam tahun 2000
dan 2010 yang sangat pesat, demikian pula teknologi-teknologi lainnya, khususnya
dalam ranah arsitektural. Tidak dapat kita pungkiri pula bahwa, beberapa dari teknologi
itu membuat kita tidak dapat terlepas darinya. Tetapi tentu perkembangan teknologi dan
pemikiran itu membuat perubahan yang terjadi di dunia. Dan banyak pula sifat-sifat
tradisional menjadi hilang dan tergerus perkembangan dunia yang semakin
terdigitalisasi.
Apakah kita harus meniru kampung Naga dan kampung Tonggoh di Jawa Barat? Yang
menyadari bahwa kemajuan teknologi itu banyak terjadi tetapi mereka memutuskan
untuk tidak menggunakannya. Memang nilai-nilai kesetempatan mereka sangat terjaga
dengan baik dalam pesatnya zaman. Tetapi tentu konsekuensi keputusan tersebut
menjadikan wilayah tersebut menjadi terbelakang. Apakah benar demikian?

Tentu tidak. Kampung Tonggoh misalnya, memutuskan tidak akan memakai semua
karya manusia yang berhubungan dengan listrik. Mereka menolak total berbagai mesin-
mesin yang meski membantu mereka dalam bercocok tanam. Mereka juga memutuskan
untuk tidak menambah jumlah lantai rumah mereka dan jumlah rumah mereka dalam
satu pemukiman tersebut, bahkan mereka tidak boleh merubah material bangunan yang
mereka pakai, yaitu bambu dan atap alang-alang.

Perkambangan jaman mereka antisipasi dengan membuat kampung Tonggoh menjdi


dua yaitu kampung Tonggoh dalam dan Luar. Siapa yang berhak hidup dalam kampung
Tonggoh dalam merupakan hasil dari seleksi ketat dimana hasilnya adalah sebuah
pemukiman yang eksklusif. Bukan secara kemajuan, kekayaan atau kacanggihan.
Tetapi eksklusif karena kebijaksanaan ilmu mereka. Menjadi seperti pemukiman orang-
orang suci yang akan menjaga kebijaksanaan kesetempatan mereka.

Apakah kita harus membuat sebuah kota yang benar-benar tradisional dan
meletakkannya di tengah-tengah kota modern untuk menjaga kebijaksanaan
kesetempatan kita? Seberapa pentingkah tradisionalisme itu?

Tradisionalisme terletak pada kebijaksanaan ilmu tradisional (dalam hubungan antar


manusia, alam nyata dan gaib, dan tentu, hubungan manusia dengan Allah), bukan
pada bentukan-bentukan budaya saja. Bagaimana arsitektur Jawa menginspirasi kita
untuk lebih menghormati alam, khususnya interaksi alam, pepohonan dan matahari
yang membuat efek pernaungan. Bagaimana kebijaksanaan yang terjaga pada
kampung Naga dan Tonggoh Dalam yang apabila kita menjelajahinya kita akan
terkagum-kagum akan ilmu para pendahulu kita. Bagaimana para biksu di Tibet
memberdayakan sumber daya alam mereka dan mempertahankan peninggalan para
leluhurnya dan berbagai contoh lainnya. Tentu hal ini telah banyak pula diteliti oleh para
akademisi kita. Kita dapat dengan mudah mengambil kebijaksanaan tersbut dan
mengolahnya pada lingkungan binaan sekarang dengan berbagai konsep-konsep
arsitektural yang biasa diproduksi oleh para arsitek dan perancang.

Tetapi, setelah itu apa? Pentingnya alam dan kebijaksanaan dalam mengolahnya
sekarang semakin didukung oleh teknologi-teknologi terbaru. Jadi, bangunan-bangunan
dan lingkungan modern yang perlu ada di pada sebuah lingkungan binaan akan selalu
mempunyai unsur tradisional (yaitu kebijaksanaannya). Hal ini akan lebih mudah apabila
dilakukan mengikuti tren saat ini yaitu GREEN DESIGN.

Dengan green design kita dituntut untuk semakin menghargai alam dan tidak
merusaknya bahkan semakin menghijaukan alam dengan memakai berbagai teknologi
dan kemauan kita untuk menjaga Bumi. Persis seperti pemikiran tradisional kita. Bahwa
alam sangat perlu kita hormati, bahwa hutan tidak boleh ditebang sembarangan, bahwa
air tidak boleh dicemari, bahwa segala kelakuan manusia harus terlebih dahulu izin
kepada Tuhan. Kebijaksanaan itu menjadikan alam terjaga. Inilah yang diharapkan
dalam gerakan Green tersebut.

Sehingga bangunan dan lingkungan binaan dapat memilih antara dua hal.
1. dapat menggunakan berbagai teknologi maju yang mendukung tradisionalisme
untuk mendapatkan lingkungan binaan yang tepat.
2. dapat menggunakan kebijaksanaan arsitektural dan lingkungan tradisional
dengan mengadopsi tata lingkungan tradisional.

Tentu pilihan tersebut mempunyai dua resiko.


1. mahal
2. repot

sebenarnya ada pilihan ketiga yang selama ini dipilih oleh kebanyakan dari para
penentu keputusan terhadap lingkungan binaan kita. Yaitu, tidak menggunakan
teknologi green karena mahal dan tidak menggunakan tata lingkungan tradisional
karena repot. Sehingga alam menjadi semakin rusak dan lingkungan menjadi semakin
marah kepada kita.

Simpulan

Saya merasa perlu mengajak para pembaca untuk tidak hanya menerima dasar
kenyataan terhadap definisi kebudayaan. Kebudayaan yang selama ini kita anggap
sebagai ibu dari arsitektur ternyata sangat menyesatkan dan oleh karena itu menjadikan
arsitektur menjadi rusak. Karena apabila kita menganggap Allah (agama) sebagai hasil
dari ciptaan manusia (yang berarti termasuk dalam kebudayaan), kita akan berada
dalam ranah kesesatan tertinggi, yaitu atheis.

definisi lingkungan binaan adalah pemanfaatan dan pengelolaan bersama akan


lingkungan yang terpadu dengan nilai-nilai kesemestaan-kesetempatan berdasarkan
akal budi dan nilai-nilai luhur berketuhanan yang diterima manusia dari Allah SWT.
Dengan definisi ini, lingkungan binaan akan berbeda sesuai kesetempatan (yaitu
konteks lingkungan dan adaptasi manusia) dan akan sama sesuai kesemestaan (yaitu
kemanusiaan yang menghormati alam). Dan pengolahan itu akan didasarkan nilai-nilai
yang terkndung dalam hati nurani manusia. Karena semakin bersih hati manusia, akan
semakin baik pula lingkungan binaannya.

Hal ini telah dipikirkan oleh para pendahulu kita dalam mengolah lingkungannya.
Sekarang kita menyebutnya tradisional. Tradisionalisme lebih kepada kebijaksanaan.
Tradisionalisme lebih kepada penyerahan diri terhadap masyarakat alam. Sehingga ada
dua cara dalam mengadopsi prinsip tradiional dalam lingkungan binaan yang modern.
Pertama, mengadopsi segala teknologi modern yang medukung gerakan green. Dan
kedua mengadopsi kebijaksanaan tradisional dalam mengolah lingkungannya. Pilihan
tata laksana yang akan selalu berdasarkan hati nurani dan kebutuhan manusia. Ya, hati
nurani adalah salah satu alat terpenting dalam perancangan dan pengolahan arsitektur
dan lingkungan binaan. Sekali lagi, dengan hati yang baik, maka lingkungan akan baik
pula.