Anda di halaman 1dari 3

MATEMATIKA YUNANI AFTER EUCLID

Euclid
Tidak lama setelah Pythagoras meninggal, lahirlah Euclid. Pada era ini matematika lebih
dikenal sebagai sains dan kurang mistik seperti pada jaman Pythagoras. Theorema-theorema
baru ditambahkan: kurva-kurva, lingkaran-lingkaran dan bentuk-bentuk lain dipelajari sama
seperti garis lurus dan bidangbidang datar. Tahun yang disebut di atas hanya prakiraan
karena tidak adanya sumber yang layak dipercaya. Ada sumber yang menyebutkan Euclid
hidup antara tahun 330 SM - 275 SM.
Euclid dapat disebut sebagai matematikawan utama. Dia dikenal karena peninggalannya
berupa karya matematika yang dituang dalam buku The Elements sangatlah monumental.
Buah pikir yang dituangkan ke dalam buku tersebut membuat Euclid dianggap sebagai guru
matematika abadi dan matematikawaan terbesar Yunani.
Pribadi Euclid digambarkan sebagai orang yang baik hati, jujur, sabar dan selalu siap
membantu dan bekerjasama dengan orang lain. Banyak theorema-theorema yang
dijabarkannya merupakan hasil karya pemikir-pemikir sebelumnya termasuk Thales,
Hippokrates dan Pythagoras.
Ada yang menyebutkan bahwa dia adalah anak Naucrates yang lahir di Tyre. Informasi lain
menyebut bahwa Euclid lahir di Megara. Memang diketahui ada nama yang sama, Euclid dan
lahir di Megara, tetapi hal itu terjadi 100 tahun sebelum kelahiran Euclid dan profesi Euclid
dari Megara adalah filsuf. Euclid sendiri lahir di Alexandria. Kesalahan nama ini jamak
terjadi karena pada masa itu banyak orang bernama Euclid.
Karya-Karya
The Elements dapat dikatakan karya fenomenal pada jaman itu. Terdiri dari 13 buku yang
tersusun berdasarkan tema dan topik. Setiap buku diawali dengan definisi, postulat (hanya
untuk buku I), proposisi, theorema sebelum ditutup dengan pembuktian dengan menggunakan
definisi dan postulat yang sudah disebutkan. Buku ini ke luar dari Yunani pada tahun 1482,
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Arab, serta menjadi buku teks geometri dan logika
pada awal tahun 1700-an. Garis besar isi masing-masing buku.
Buku I

: Dasar-dasar geometri: teori segitiga, sejajar dan luas

Buku II

: Aljabar geometri

Buku III

: Teori-teori tentang lingkaran

Buku IV

: Cara membuat garis dan gambar melengkung

Buku V

: Teori tentang proporsi-proporsi abstrak

Buku VI

: Bentuk yang sama dan proporsi-proporsi dalam geometri

Buku VII

: Dasar-dasar teori bilangan

Buku VIII

: Proporsi-proporsi lanjutan dalam teori bilangan

Buku IX

: Teori bilangan

Buku X

: Klasifikasi

Buku XI

: Geometri tiga dimensi

Buku XII

: Mengukur bentuk-bentuk

Buku XIII

: Bentuk-bentuk tri-matra (tiga dimensi)

Apollonius (262 SM 190 SM)


Apollonius dari Perga (bahasa Yunani: ) (sekitar 262 SMsekitar 190 SM) adalah
seorang ahli geometri dan astronom Yunani yang dikenal karena karyanya mengenai irisan
kerucut. Metodologi dan terminologinya yang inovatif, khususnya dalam bidang kerucut,
memengaruhi banyak sarjana sesudahnya termasuk Ptolemaeus, Francesco Maurolico, Isaac
Newton, dan Ren Descartes. Adalah Apollonius yang memberi nama elips, parabola, dan
hiperbola, seperti yang kita kenal sekarang. Hipotesis mengenai eksentrisitas orbit, atau
deferent dan epicycle, untuk menjelaskan pergerakan teramati dari planet-planet dan
perubahan kecepatan Bulan, dipertautkan pada namanya. Teorema Apollonius
mendemonstrasikan bahwa dua model tersebut adalah ekuivalen di bawah parameterparameter yang sesuai. Ptolemaeus menggambarkan teori ini dalam Almagest XII.1. Kawah
Apollonius di Bulan dinamai untuk menghormati jasanya.
Masa mudanya tidak terlalu jelas, tapi diketahui bahwa dia mengalami masa pemerintahan
Ptolemy Euergetes, Ptolemy Philopatus; ada laporan yang menyebut bahwa Apollonius
adalah pengikut Ptolemy Philadelphus.
Karya-karya
Karya-karyanya membawa dampak besar bagi perkembangan matematika. Buku karyanya
yang terkenal, Conics (kerucut), mengenalkan istilah-istilah yang sekarang populer seperti:
parabola, elips dan hiperbola.Disebut dengan kerucut karena irisan dari sebuah kerucut akan
menghasilkan tiga bentuk yang sudah disebut di atas.
Walau sedikit yang diketahui dari kehidupannya, matematikawan ini telah melahirkan karya
yang mashur yaitu Conics, yang membahas konsep yang kita kenal dengan nama parabola,
ellips, dan hiperbola. Apollonius pernah belajar di Aleksandria kepada Euclid, kemudian
mengajar di sana. Setelah itu berkelana ke Pergamum (sekarang Bergama, di prov. Izmir,
Turki) dan berteman baik dengan Eudemus dari Pergamum (bukan Eudemus dari Rhodes).
Buah pena conics ditulis ke dalam delapan buku, tetapi hanya buku kesatu yang masih ada
dalam bahasa Yunani. Tujuh buku yang pertama ada dalam bahasa Arab dan masih bertahan
hingga kini.
Conics terdiri atas 8 buku. Buku I hingga IV berisi pengenalan dasar sifat-sifat dasar irisan
kerucut. Kebanyakan isinya ini telah diketahui oleh Euclid dan Aristaetus. Buku I membahas
hubungan antara diameter dan garis singgung irisan kerucut. Buku II membahas hubungan
hiperbola dengan asimptotnya.
Buku V hingga VII merupakan karya orisinil dari Apollonius. Di dalamnya dibahas garis
normal irisan kerucut dan bagaimana membuatnya dari sebuah titik. Ia memberikan
pernyataan yang mengindikasikan pusat curvature.

Pappus memberikan beberapa informasi mengenai isi keenam buku yang lain dari
Apollonius, yaitu Cutting of a ratio (dalam dua buku), Cutting an area (dalam dua buku), On
determinate section (dalam dua buku), Tangencies (dalam dua buku), Plane loci (dalam dua
buku), dan On verging construction (dalam dua buku). Kebanyakan karya-karya Apollonius
diterjemahkan oleh matematikawan muslim, tetapi hanya beberapa yang dapat bertahan.
Dalam buku Tangencies, Apollonius membahas konstruksi geometri melebihi gurunya,
Euclid. Apollonius menunjukkan bagaimana melukis lingkaran yang menyinggung tiga titik
yang diberikan. Ia juga menunjukkan bagaimana melukis lingkaran yang menyinggung
sebarang tiga bangun, baik titik, garis, maupun lingkaran.
Menurut Hypsicles, Apollonius pernah menulis tentang dodecahedron dan icosahedron.
Marinus juga mengindikasikan karya Apollonius mengenai aksioma dan definisi, sedang
Proclus menyatakan ada karya Apollonius mengenai cylindrical helix. Eutocius menunjuk
buku Quick delivery oleh Apollonius yang memuat pendekatan bilangan . Dalam buku On
the Burning Mirror, Apollonius mendiskusikan sifat-sifat cermin parabola.
Apollonius juga merupakan salah satu pelopor matematika astronomi Yunani, yang
menggunakan model matematika untuk menjelaskan teori-teori planet.
Dhiopantus
Diophantus dari Alexandria kadang-kadang disebut "bapak aljabar ", adalah matematikawan
Yunani yang bermukim di Alexandria dan penulis serangkaian buku yang disebut
Arithmetica, namun karyanya tersebut sudah banyak yang hilang. Teks-teks tersebut
menjelaskan tentang pemecahan persamaan aljabar.
Sedikit yang diketahui tentang kehidupan Diophantus. Dia tinggal di Alexandria, Mesir,
mungkin dari antara tahun 200 dan 214-284 atau 298. Sekitar tahun 250 seorang
matematikawan Yunani yang bermukim di Alexandria melontarkan problem matematika yang
tertera di atas batu nisannya, dalam batu nisannya tertulis: 'Di sini terletak Diophantus,'
keajaiban lihatlah.
Karya-Karya
Diophanus menulis Arithmetica, yang mana isinya merupakan pengembangan aljabar yang
dilakukan dengan membuat beberapa persamaan. Persamaan-persamaan tersebut disebut
persamaan Diophantin, digunakan pada matematika sampai sekarang.
Diophantus menulis lima belas namun hanya enam buku yang dapat dibaca, sisanya ikut
terbakar pada penghancuran perpustakaan besar di Alexandria. Sisa karya Diophantus yang
selamat sekaligus merupakan teks bangsa Yunani yang terakhir yang diterjemahkan. Buku
terjemahan pertama kali dalam bahasa Latin diterbitkan pada tahun 1575. Prestasi Diophantus
merupakan akhir kejayaan Yunani kuno.
Problem kedelapan pada buku kedua tentang cara membagi akar bilangan tertentu menjadi
jumlah dua sisi panjang. Susunan dalam Arithmetica tidak secara sistimatik operasi-operasi
aljabar, fungsi-fungsi aljabar atau solusi terhadap persamaan-persamaan aljabar.