Anda di halaman 1dari 27

Oleh:

Kelompok A3

PRESENTASI
LAPORAN
FIELD LAB
TOPIK KIE
PEMBINAAN
POSYANDU
LANSIA
Puskesmas
Mojolaban,
Sukoharjo

Anggota Kelompok A3

AFIFAH SYIFA KHAIRUNNISA

G 0013007

AMOLA BESTA TALENTA

G 0013025

ASRI KURNIA RAMADHANI

G 0013045

AURA RAZANY

G 0013049

EDBERT WIELIM

G 0013081

ELDAA PUTIK BUNGA MELATI

G 0013083

GERRY
MAIA THALIA GIANI
NIBRAS NOOR FITRI

G 0013099
G 0013147
G 0013175

NIKKO RIZKY AMANDA

G 0013177

SITARESMI RARAS NIRMALA

G 0013219

STEFANUS ERDANA PUTRA

G 0013221

Latar Belakang
Data terbaru menunjukkan jumlah lansia di Indonesia
diperkirakan akan mencapai 9,77% atau sejumlah 23,9
juta jiwa pada tahun 2010 dan meningkat lagi secara
signifikan sebesar 11,4 % atau sebanyak 28,8 juta jiwa
pada tahun 2020.
Isu sentral masalah kependudukan : rendahnya kualitas
SDM lansia yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,al:
konsumsi makanan dan gizi, tingkat kesehatan, tingkat
pendidikan serta pengakuan masyarakat bahwa mereka
masih mempunyai kemampuan kerja dan pendapatan
dari pensiunan yang masih rendah.
Permasalahan penduduk lansia perlu ditangani dengan
strategi antara lain melalui pemenuhan kebutuhan
pangan dan gizi bersama-sama dengan peningkatan
prasarana dan pelayanan kesehatan yang dipusatkan
pada Posyandu.

Latar Belakang

Strategi peningkatan kesehatan lansia ini


ditempuh melalui penurunan angka kesakitan
dan jumlah jenis keluhan lansia.
Penurunan Angka Kesakitan Lansia (AKL) tidak
hanya merupakan tanggung jawab sektor
kesehatan tetapi merupakan tanggung jawab
semua sektor terkait.
Posyandu Lansia merupakan sarana pelayanan
kesehatan dasar untuk meningkatkan kesehatan
para Lansia. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi
(GSPG) juga merupakan wadah lintas sektoral
untuk melaksanakan keterpaduan unsur terkait
dalam rangka mendukung kesehatan para lansia.

Tujuan Pembelajaran
1.

Memahami peran dan fungsi Posyandu Lansia.

2.

Menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS (Kartu Menuju


Sehat) lansia.

3.

Menjelaskan kelainan kelainan yang sering terjadi pada lansia


beserta pencegahan dan pengobatannya.

4.

Memahami tatalaksana diet lansia dan pola hidup sehat lansia.

5.

Melakukan penyuluhan kesehatan komunitas tentang manfaat


Posyandu Lansia dalam meningkatkan kesehatan lansia.

6.

Melakukan pengumpulan dan analisis data tentang program


Posyandu, prevalensi penyakit yang diderita lansia, serta upaya
kuratif dan rehabilitatif.

7.

Melakukan penilaian status depresi lansia dengan menggunakan


GDS (Geriatric Depression Scale) dan MMSE (Mini Mental State
Examination).

8.

Mampu melakukan pengamatan dan penilaian pada Posyandu


Lansia setempat dengan standar program Posyandu Lansia.

DASAR TEORI

Proses
menua
(aging)
adalah
suatu
keadaan alami selalu berjalan dengan
disertai adanya penurunan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling
berinteraksi dan berpotensi menimbulkan
masalah kesehatan secara umum maupun
kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Istilah
Golongan
usia
lanjut
(Lansia)
diperuntukkan bagi mereka yang telah
berusia 60 tahun atau lebih. Sedangkan
geriatri adalah orang usia lanjut yang
disertai dengan pelbagai penyakit kronik.

Lansia rentan memiliki penyakitpenyakit degeneratif karena penurunan


fungsi tubuh. Penyakit-penyakit
tersebut antara lain:
1. Diabetes Mellitus
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik
dengan karakteristik terjadinya hiperglikemia akibat
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduaduanya (Prince and Wilson, 2006).
Secara umum, ada dua tipe DM, yaitu DM tipe 1,
merupakan penyakit autoimun yang dipengaruhi oleh
faktor genetik yang seringkali terjadi pada anakanak, dan DM tipe 2, biasanya timbul pada penderita
dengan usia di atas 40 tahun akibat resistensi
insulin. Dari kedua tipe DM tersebut, DM tipe 2
adalah jenis DM yang paling banyak diderita oleh
masyarakat saat ini.

Menurut
World
Health
Organization
(2008),
penderita DM tipe 2 di Indonesia diperkirakan akan
mengalami peningkatan dari 8,4 juta jiwa pada
tahun 2000, menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun
2030. Peningkatan ini seiring dengan peningkatan
faktor risiko yaitu obesitas, kurang aktivitas fisik,
merokok, dan hiperkolesterol.
Oleh karena DM tipe 2 bersifat kronis dan progresif,
maka seringkali menimbulkan komplikasi pada
berbagai organ sehingga penatalaksanaannya pun
tidaklah mudah. Penatalaksanaan DM tipe 2 yang
ada saat ini adalah berupa perubahan gaya hidup
dan intervensi farmakologis yang memerlukan
tingkat kepatuhan tinggi.

2. HIPERTENSI
Usia lanjut membawa konsekuensi meningkatnya
morbiditas dan mortalitas berbagai penyakit
kardiovaskular.
TDS (tekanan darah sistolik) meningkat sesuai
dengan peningkatan usia, akan tetapi TDD
(tekanan darah diastolik) meningkat seiring
dengan TDS sampai sekitar usia 55 tahun, yang
kemudian menurun oleh karena terjadinya proses
kekakuan arteri akibat aterosklerosis.
Sekitar usia 60 tahun dua pertiga pasien dengan
hipertensi mempunyai hipertensi sistolik terisolasi
(HST), sedangkan di atas 75 tahun tiga perempat
dari seluruh pasien mempunyai hipertensi sistolik

3. OSTEOARTHRITIS

Kegiatan yang Dilakukan

Koordinasi dengan Kepala Puskesmas pada hari


Rabu, 27 April 2016
Kemudian pada hari Rabu, 4 Mei 2016 kami terjun
ke lapangan
Kami dibagi menjadi dua kelompok besar, kelompok
pertama ditempatkan di Posyandu Plumbon dan
kelompok kedua ditempatkan di Posyandu Palur
Kegiatan yang dilakukan di Posyandu Plumbon antara
lain periksa tensi (tekanan darah), berat badan,
kemudian ditanyakan juga mengenai kondisi
kesehatan mereka, dan diakhiri dengan senam lansia
selama kurang lebih 6 menit

Kegiatan di Posyandu Palur juga hampir serupa, yaitu


pengukuran tensi, berat badan, dan cek kesehatan
pada lansia dan juga senam lansia

Pada hari Rabu, 11 Mei 2016 kami mengadakan


presentasi hasil kegiatan, penyerahan laporan,
revisi laporan, serta evaluasi kegiatan.
Hari ketiga kegiatan, yaitu Rabu 18 Mei 2016 kami
kembali melakukan pertemuan dengan pihak
Puskesmas untuk mendiskusikan kekurangan dan
kelebihan pada kegiatan field lab ini yang belum
terbahas selama pertemuan pertama, kedua, dan
ketiga yang kami telah kami lakukan

Senam Lansia

Senam Lansia

Pemeriksaan Tekanan
Darah

Penimbangan
Berat Badan

Pembahasan
Pada saat melakukan kegiatan Field Lab ini kami
melaksanakan beberapa kegiatan, seperti:
1. Koordinasi dengan Kapuskes Mojolaban, Karanganyar
2. Pembekalan dengan Kapuskes dan Instruktur
Puskesmas Mojolaban, Karanganyar
Kami mendapatkan pengarahan dan pembekalan dari dr.
Gunawan dan dr. Diyah Meineni selaku instruktur kami
Materi pengarahan antara lain mengenai lokasi dan wilayah
kerja, serta peralatan dan kelengkapan apa saja yang harus
kami bawa selama kami terjun ke posyandu, cara edukasi
pada lansia yang datang, pembagian kelompok kecil, dan lain
sebagainya

3. Melakukan kegiatan posyandu


Posyandu Plumbon: 29 orang
Posyandu Palur

: 60 orang

Selama kegiatan Posyandu, kami


memeriksa tensi, berat badan, kondisi
kesehatan setiap lansia yang datang
ke posyandu tersebut, dan juga
mengadakan senam

Di Posyandu Plumbon hasil wawancara dan


pemeriksaan setiap lansia dicatat dalam
buku khusus untuk memantau kesehatan
mereka. Setiap lansia yang datang
diberikan vitamin dan suplemen makanan.
Sayangnya di Posyandu Plumbon kami tidak
ikut mencatat hasil pemeriksaan kami ke
dalam KMS lansia. Hal ini dikarenakan
mekanisme yang digunakan oleh kader
sedikit berbeda dari biasanya.

Di Posyandu Palur, hasil wawancara


dan pemeriksaan dari setiap lansia
yang hadir juga dicatat dan dibukukan
di buku khusus yang dibuat oleh
Puskesmas. Lalu setelah itu mereka
diberikan suplemen makanan dan
vitamin sebelum mereka pulang.
Kemudian kami juga ikut mengisi KMS
masing-masing lansia

Di Posyandu Plumbon senam dilaksanakan sembari lansia


duduk. Lansia yang mengikuti senam ini merasa senang.
Salah satu dari mereka mengungkapkan mereka senang
karena dapat bergerak dan membuat mereka berkeringat.
Di posyandu Palur, kami juga melakukan senam selama
kurang lebih 6 menit. Senam disini dilakukan dengan
berdiri dengan kami (kelompok 2 yang berjumlah 6 orang)
bertugas sebagai instruktur senam. Karena lansia yang
mengikuti Posyandu ini sangat banyak, sekitar 60 orang
dan tempat yang digunakan tidak terlalu luas, maka kami
membagi kegiatan senam menjadi empat kelompok.

Simpulan

Terlaksananya kegiatan Field Lab KIE Lansia


ini dengan jumlah lansia yaitu kurang lebih
89 orang di Puskesmas Mojolaban. Dari
hasil pemeriksaan dinyatakan bahwa
masing-masing
posyandu
memiliki
semangat
dan
antusiasme
dalam
melakukan kegiatan posyandu lansia.
Adanya kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya kesehatan lansia.

Saran
Diharapkan materi bisa lebih lengkap lagi dan penyuluhan
sejenis dapat diperbanyak agar dapat meningkatkan
kesadaran mengenai pentingnya kesehatan lanisa yang baik
di daerah Mojolaban Kabupaten Karanganyar.
Adanya peningkatan dari peran serta aktif dari pihak keluarga
dan tenaga kesehatan untuk turut menyehatkan lansia.
Saran bagi puskesmas, sebaiknya meningkatkan frekuensi
penyuluhan tentang lansia sehat.
Adanya follow up dari institusi masyarakat, khususnya dalam
bidang kesehatan (puskesmas) untuk tetap memberi
pengertian mengenai lansia yang sehat.

Terimakasih atas
perhatiannya

Daftar Pustaka

Departemen Sosial Republik Indonesia. (2009). Dukungan


Kelembagaan dalam Kerangka Peningkatan Kesejahteraan Lansia.
Kantor Urusan Pemberdayaan Lansia. Departemen Sosial Republik
Indonesia.
Jakarta. www.depsos.go.id. Diakses 10 Mei 2016.
Folstein, M.F., Folstein, S.E., and McHugh, P.R. (1975). Mini Mental
State: A practical method for grading the cognitive state of
patient for the clinician. Journal of Psychiatrist Research, 12: 189198.
Hanim, D. (2004). Pemberdayaan Perempuan Lansia untuk
Peningkatan Status Gizi. Laporan Penelitian. Surakarta : LPPM
UNS.
Probosuseno. (2007). Mengatasi Isolation pada Lanjut Usia.
www. Geriatric & InternalMedicineConsultation.Medicalzone.
Diakses 7 Mei 2016.
Sri Gati Setiti. (2006). Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan
(Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). www.depsos.go.id.
Diakses 6 Mei 2016