Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kegawatdaruratan merupakan pelayanan professional yang
ditujukan kepada pasien dengan masalah atau risiko yang disertai kondisi
lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Berg, dkk., 2010). Prosedur
tindakan yang dilakukan dikembangkan hingga mampu mencegah
kemungkinan terjadinya kematian dan kecacatan. Kejadian gawat darurat
biasanya

berlangsung

cepat

dan

spontan,

sehingga

tidak

dapat

diprediksikan. Keberhasilan pertolongan bergantung pada proses pelayanan


gawat darurat dalam memberikan bantuan hidup dasar atau BHD (Alkatiri,
2007).
Bantuan hidup dasar merupakan fondasi utama yang dilakukan untuk
menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung. BHD merupakan
tindakan untuk membebaskan jalan nafas, membantu pernafasan, dan
mempertahankan atau mengembalikan sirkulasi darah kembali normal
(Alkatiri, 2007). Tujuan dilakukannya BHD yaitu untuk oksigenasi darurat
secara efektif

pada organ vital seperti otak dan jantung. Tindakan ini

dilakukan melalui pemberian ventilasi buatan dan sirkulasi buatan, hingga


jantung dan paru dapat menghasilkan oksigen kembali secara normal
(Latief, 2009). BHD terdiri dari identifikasi henti jantung, aktivasi Sistem
Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Resusitasi Jantung Paru (RJP)
dini, dan kejut jantung menggunakan automated external defibrillator
(AED) atau alat kejut jantung otomatis (Berg, dkk., 2010).
Resusitasi Jantung Paru atau RJP merupakan serangkaian tindakan
penyelamatan jiwa untuk meningkatkan kemungkinan hidup korban yang
mengalami henti jantung. RJP yang optimal yaitu dengan memberikannya
segera dan seefektif mungkin (Travers, dkk., 2010). Prinsip pemberian RJP
yaitu tekan kuat, tekan cepat, recoil sempurna, dan interupsi minimal (Berg,
dkk., 2010). Pemberian RJP dapat dilakukan oleh siapapun yang berada di

dekat tempat kejadian pasien mengalami henti jantung. Selain henti jantung,
keadaan darurat lainnya yaitu kondisi tersedak.
Tersedak merupakan kondisi seseorang yang mengalami penyumbatan
pada jalan nafas yang disebabkan karena benda asing yang masuk ke saluran
pernafasan. Keadaan tersedak dapat menyebabkan tersumbatnya jalan nafas
hingga kematian, sehingga pengenalan tersedak perlu diketahui segera.
Bantuan bagi korban tersedak dapat dilakukan dengan beberapa cara
ataupun dilakukan sendiri, sehingga penanganan korban tersedak biasanya
berhasil dengan tingkat kelangsungan hidup dapat mencapai 95% (Berg,
dkk., 2010).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka diperlukan bagi setiap orang
untuk mengetahui penatalaksanaan dari pasien henti jantung dan tersedak,
karena keadaan ini merupakan kegawatdaruratan yang membutuhkan
pertolongan segera.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari laporan ini adalah
1. Bagaimana peranan tim darurat medis pada kasus kegawatdaruratan
medis?
2. Apa klasifikasi dari syok dan bagaimana penanganannya?
3. Bagaimana tata laksana jalan nafas pada Basic Life Support?
C. Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah
1. Memahami penanan tim medis pada keadaan gawat darurat
2. Memahami klasifikasi syok beserta prosedur penanganannya
3. Mendeskripsikan dan memahami tata laksana jalan napas pada basic
life support.

D. Manfaat
Manfaat dari laporan ini adalah
1. Mahasiswa dalam perannya sebagai dokter gigi mampu menerapkan
ilmu basic life support untuk menangani pasien yang mengalami syok.

2.

Mahasiswa dalam perannya sebagai tenaga medis mampu


memberikan terapi medikasi dalam bantuan hidup jantung lanjut.

Travers AH, Rea TD, Bobrow BJ, Edelson DP, Berg RA, Sayre MR, et al. Part 4:
CPR Overview: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.
Circulation 2010;122; S676-S684 2.
Berg RA, Hemphill R, Abella BS, Aufderheide TP, Cave DM, Hazinski MF, et al.
Part 5: Adult Basic Life Support: 2010 American Heart Association
Guidelines

for

Cardiopulmonary

Resuscitation

and

Emergency

Cardiovascular Care. Circulation 2010;122; S685-S705


Alkatiri, J., Syakir B. 2007. Resusitasi Jantung Paru. Dalam: Sudoyo, Aru S., dkk
(editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid I. Jakarta: Pusat
Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.
Latief, S.A., 2009, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.