Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

VARIASI SIFAT PADA TANAMAN

Disusun Oleh:
RAHARJA KUNCARA

4411414006

WAHYU IFTITA L

4411414007

ALFAT FANIDYA

4411414011

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

KEGIATAN 3
VARIASI SIFAT PADA TANAMAN

I. VARIABILITAS PADA KACANG MERAH


A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengetahui adanya variasi sifat pada kacang merah
2. Mengetahui variasi ukuran panjang biji kacang merah
B. LANDASAN TEORI
Dalam suatu populasi, perbedaan-perbedaan pada sejumlah
individu selalu dijumpai. Hal ini juga dijumpai pada sejumlah
tanaman maupun hewan. Pada program pemuliaan, variasi dan
identifikasinya merupakan kunci keberhasilan namun dapat pula
menyebabkan keputusasaan dan kegagalan.
Secara teoritis, berdasarkan penyebabnya, variasi dalam
sistem biologi dapat dibagi dalam dua kategori. Yang pertama
adalah variasi yang disebabkan oleh adanya pewarisan sifat atau
pewarisan genetik. Yang kedua ialah variasi yang disebabkan oleh
adanya faktor-faktor lingkungan.
Faktor keturunan atau genetik disebabkan oleh adanya gen
yang akan membawa sifat dasar atau sifat bawaan. Sifat bawaan
ini diwariskan turun temurun dari induk kepada keturunannya.
Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak tampak)
karena faktor lingkungan. Keragaman genetik menjadi perhatian
utama para pemulia tanaman, karena melalui pengelolaan yang
tepat dapat dihasilkan varietas baru yang lebih baik.
Variasi genotip ini dapat dibagi dalam dua kategori yaitu
penurunan karakter secara kualitatif dan kuantitatif. Populasi
karakter kualitatif dan kuantitatif ini, tidak mungkin dijumpai
dalam keadaan saling tumpang tindih.
Sedangkan variasi yang terjadi

karena

lingkungan

disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan yang merupakan faktor


pembentuk akhir suatu organisme. Faktor yang jelas berpengaruh
ialah lama dan intensitas radiasi matahari, frekuensi dan besar
kelembaban yang diterima (dari curah hujan maupun irigasi), dan
zat-zat hara yang diperoleh baik melalui pemupukan atau dari

dalam tanah. Faktor lingkungan lainnya seperti makanan, suhu,


cahaya, kelembaban, curah hujan, derajat keasaman tanaam
(pH)

bersama

faktor

keturunan

(gen)

sangat

berpengaruh

terhadap fenotip. (Weish, 1991)


Variabilitas adalah sifat beda dari organisme dalam satu
spesies atau populasi. Dengan adanya sifat beda akan terjadi
variasi atau keanekaragaman organisme dalam satu spesies,
maka muncullah keanekaragaman hayati. (Widianti dan Aini,
2014)
Keanekaragaman hayati itu sendiri dapat dibedakan menjadi
tiga tingkat, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis,
dan keanekaragaman ekosistem.
a. Keanekaragaman Gen.
Susunan perangkat gen menentukan ciri dan sifat pada
individu

yang

bersangkutan.

Keanekaragaman

susunan

perangkat gen menentukan keanekaragaman individu. Setiap


individu mempunyai

susunan gen yang berbeda dengan

individu lainnya, walaupun termasuk kedalam jenis yang


sama. Variasi susunan gen pada individu-individu yang
termasuk dalam jenis sama akan mengakibatkan adanya
variasi bentuk,

penampilan, dan sifat yang tampak akan

berbeda. Variasi tersebut adalah sebagai keanekaragaman


gen atau individu. Variasi bentuk, penampilan dan sifat antar
individu tanaman padi merupakan contoh keanekaragaman
gen. pada tumbuhan.
Variasi bentuk,
merupakan

contoh

penampilan

antar

keanekaragaman

individu
pada

tikus
hewan.

Keanekaragaman warna bunga pada tanaman mawar. Bentuk,


rasa, warna pada buah mangga, serta keanekaragaman sifat,
warna bulu dan bentuk pial pada ayam, ini semua disebabkan
oleh pengaruh perangkat pembawa sifat yang disebut dengan
gen. Semua makhluk hidup dalam satu spesies/jenis memiliki
perangkat dasar penyusun gen yang sama. Gen merupakan
bagian kromosom yang mengendalikan ciri atau sifat suatu

organisme yang bersifat diturunkan dari induk/orang tua


kepada keturunannya.
Apabila suatu karakter memiliki keragaman genetik
cukup tinggi, maka setiap individu dalam populasi hasilnya
akan tinggi pula, sehingga seleksi akan lebih mudah untuk
mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan. Oleh sebab itu,
informasi

keragaman

genetik

sangat

diperlukan

untuk

memperoleh varietas baru yang diharapkan. (Helyanto et al.,


2000)
b. Keanekaragaman Jenis
Variasi bentuk, penampilaan dan sifat yang terlihat pada
berbagai jenis organisme disebut keanekaragaman jenis.
Sebagai contoh keanekaragaman jenis pada tumbuhan adalah
variasi bentuk, penampilaan dan sifat antara tanaman padi,
jagung dan tebu. Variasi bentuk, penampilan dan sifat antara
ayam, tikus dan kucing sebagai contoh keanekaragaman jenis
pada hewan.
Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis
pada tumbuhan atau hewan, dapat mengamati, antara lain
ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk dan ukuran tubuh,warna,
kebiasaan

hidup

dan

lain-lain.

Contoh,

dalam

keluarga

kacang-kacangan, antara lain; kacang tanah, kacang kapri,


kacang hijau dan kacang buncis. Di antara jenis kacangkacangan tersebut dapat dengan mudah membedakannya,
karena antara mereka ditemukan ciri-ciri yang berbeda antara
ciri satu dengan yang lainnya. Misalnya ukuran tubuh atau
batang (ada yang tinggi dan pendek); kebiasaan hidup
(tumbuh tegak, ada yang merambat), bentuk buah dan biji,
warna biji, jumlah biji, serta rasanya yang berbedan.
c. Keanekaragaman Ekosistem.

Ekosistem adalah berbagai jenis makhluk hidup yang


berinteraksi

dengaan

lingkungaannya.

Lingkungan

yang

dimaksud adalah lingkungan fisik (iklim, air, tanah, udara,


cahaya

suhu

dan

kelembaban)

daan

lingkungan

kimia

(salinitas, keasaman dan mineral). Makhluk hidup disebut


komponen biotik, lingkungan disebut komponen abiotik.
Interaksi dapat terjadi antar komponen biotik atau antara
komponen biotik dengan komponen abiotik.
Suatu tipe ekosistem tertentu mempunyai kombinasi
organisme dan unsur lingkungan yang khas, berbeda dengan
susunan kombinasi faktor-faktor biotik dan abiotik pada ekosistem yang lain.
Perbedaan

yang

ekosistem.

Contoh

macam-macam

demikian

disebut

keanekaragaman

ekosistem

sungai,

keanekaragaman
ekosistem

adalah

ekosistem

kolam,

ekosistem sawah dan ekosistem hutan.


Satu
sederhana

lagi

penyimpangan

muncul

ketika

dari

fenotip

genetika
untuk

Mendelian

suatu

karakter

tergantung pada lingkungan, tidak hanya genotif. Sebatang


pohon tunggal, dengan genotip warisan induknya yang tidak
dapat berubah, memiliki daun dengan berbagai ukuran,
bentuk, dan warna hijau tergantung pada paparan angin dan
matahari. Pada manusia nutrisi mempengaruhi tinggi badan,
olah

raga

memengaruhi

postur

tubuh,

berjemur

sinar

marahari menggelapkan kulit dan pengalaman meningkatkan


kinerja pada tes inteligensia. Bahkan kembar identik, yang
sama

secara

genetik,

mengakumulasikan

perbedaan

fenotipik sebagai akibat dari pengalaman uniknya sebagai


pribadi. (Campbell,2008)

C. METODE
1. ALAT/BAHAN
a. Biji kacang merah 100 biji
b. Cangkang kerang 100 buah

c. Penggaris atau jangka sorong.


2. CARA KERJA

Mengambil 5 biji kacang/cangkang kerang yang


tampak paling pendek dan 5 biji yang tampak paling
panjang

Mengukur panjang ke-10 biji kacang/cangkang


kerang tersebut dan mencatat ukuran kacang yang
paling pendek dan paling panjang
Menentukan range (sebaran) dari ukuran panjang
kacang/cangkang tersebut dengan cara mengurangi
ukuran kacang terpanjang dengan kacang terpendek
(R = b-a)
Menentukan kelompok dari 100 biji kacang/cangkang
kerang dengan rumus K= 3,3 log N (N = banyaknya
biji kacang/cangkang kerang)

Menentukan interval antara kelompok yang satu


dengan yang lainnya menggunakan rumus i

membuat tabel distribusi frekuensi


berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh
pada langkah 3, 4, dan 5
mengukur panjang ke 100 biji kacang
merah/cangkang kerang, mencatat hasil pada
tabel distribusi frekuensi yang ada
membuat histogram untuk dapat melihat secara
jelas variabilitas panjang kacang merah/cangkang
kerang.

D. HASIL
1) Biji Kacang Merah
Tabel 1. hasil pengamatan Kacang Merah
Data kuantitatif
No
.
1
2
3
4
5

5 Kacang terpanjang
16
15
16
16
15

mm
mm
mm
mm
mm

Penentuan Jumlah Kelompok (K):


N=jumlah keseluruhan kacang merah
a. K = 3,3 log N
= 3,3 log 100
= 3,3 (2)
= 6,6
= 7 (pembulatan)
b. Penentuan Range (R) :
R = b-a
= 16,0-11,0
= 5 mm

5 Kacang terpendek
12
11
11
12
11

mm
mm
mm
mm
mm

a = panjang kacang merah terpendek


b = panjang kacang merah terpanjang
c. Penentuan Interval (i) :
R
i = K 1

5
71

5
6

= 0,8
Tabel 2. Frekuensi Hasil Kegiatan dari 100 biji kacang merah
No.

Kelompok

1.
2.
3.
4.
5.

I
II
III
IV
V

Ukuran
(mm)
10,0-10,8
10,9-11,7
11,8-12,6
12,7-13,5
13,6-14,4

6.

VI

14,5-15,3

7.

VII

15,4-16,2
Jumlah

Tabel 3. Histogram

Tally
II
IIIII II
IIIII IIII
IIIII IIIII IIIII III
IIIII IIIII IIIII IIIII IIII
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII
IIIII IIIII IIII
III

Frekuensi
(f)
2
7
9
18
24

fx

10,4
11,3
12,2
13,1
14,0

20,8
79,1
109,8
235,8
336

39

14,9

581,1

3
100

15,8

47,4
1410

Variasi Panjang kacang Merah

frekuensi

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

panjang biji

ukuran (mm)

2) Cangkang Kerang
Tabel 4. Hasil Pengamatan Cangkang Kerang
Data Kuantitatif
N
Cangkang Terpanjang
Cangkang Terpendek
o
1
45
19
2
46
23
3
45
26
4
41
25
5
40
24
Penentuan Jumlah Kelompok (K):
N = jumlah keseluruhan cangkang kerang
a. K = 3,3 log N
= 3,3 log 100
= 3,3 (2)
= 6,6
= 7 (pembulatan)
b. Penentuan Range (R) :
R = b-a
= 46-19
= 27 mm

a = panjang cangkang kerang terpendek


b = panjang cangkang kerang terpanjang
c. Penentuan Interval (i) :
R
i = K 1
27
71

=
=

27
6

= 4,5
Tabel 5. Frekuensi Hasil Kegiatan dari 100 cangkang kerang
N
o

Kelompo
k

II

III

IV

VI

VII

Ukuran
(mm)
19,023,5
23,628,1
28,232,7
32,837,3
37,441,9
42,046,5
46,651,1
JUMLAH

Tabel 6. Histogram

Tally
IIII
IIIII IIIII IIIII IIIII I
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII
IIIII
IIIII IIIII IIIII IIIII
IIIII IIIII II
IIIII IIII
IIIII

Frekuen
si (f)
4
21
30
20
12
9
5
100

X
21,2
5
25,8
5
30,4
5
35,0
5
39,6
5
44,2
5
48,8
5

Fx
85
542,8
5
913,5
350,5
475,8
398,2
5
244,2
5
3010,
15

Variasi Cangkang Kerang

frekuensi

35
30
25
20
15
10
5
0

panjang cangkang kerang

ukuran (mm)

E. PEMBAHASAN
1) Biji kacang merah
Suatu individu dapat memiliki sifat yang berebda meskipun pada dasarnya
berasal dari parietal yang sama. Sifat beda inilah yang menimbulkan adanya suatu
sifat adanya variasi pada individu. Namun fenotif suatu individu bisa saja berbeda
sama dengan fenotif individu dari keturunan lain yang genotifnya sama. Adanya
variasi sifat dalam populasi dapat diterangkan dengan mengonsumsi bahwa yang
mengendalikannya adalah beberapa pasangan gen yang efek-efeknya digabung
bersama (Suryo,1993).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dari pengukuran panjang
kacang merah total

fx
X

1410
100

=14,1

Pada tabel di atas dapat diketahui adanya variabilitas dan adanya sifat beda
dari kacang merah tersebut, dengan adanya sifat beda tersebut maka akan terjadi
variasi/keanekaragaman yang ada pada kacang merah. Variasi ini biasanya
dipengaruhi oleh faktor dari dalam misalnya gen dan faktor dari luar seperti
makanan, suhu, cahaya, dan kelembapan, curah hujan serta derajat keasaman (pH)
akan berpengaruh pada fenotifnya. (Widianti,tuti : 2014)
Pewarisan satu pasang gen sama sekali tidak bergantung pada pewarisan
lainnya (hokum penilain bebas). Demikian juga bila dua pisang gen yang
bersangkutan terdapat pada kromosom-kromosom terpisah atau agak berjauhan

pada kromosom yang sama, beberapa sifat secara adiktif dikendalikan oleh dari
satu pasang alel. Pewarisan filogenik atau kekhasan sifat yang menimbulkan
variasi, sebagai contoh berat tubuh yang cenderung beragam dalam suatu cara
yang sinambung dan suatu ekstrim kepada yang lain dengan sebagian besar
individu mempunyai satu fenotif diantara ekstrim-ekstrimnya (Campbell,2002).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan melakukan pengukuran
pada biji kacang merah didapatkan hasil ukuran kacang merah yang paling
panjang adalah 16 mm dan ukuran paling pendek adalah 11 mm. Jadi R (sebaran)
dari kacang merah tersebut adalah R= 16-11 =5 mm. Selanjutnya adalah
menetukan panjang kelas yang dicari dengan rumus K = 3,3 log N (N=100 biji
kacang merah), didapatkan hasil sebagai berikut:
K = 3,3 log N
K = 3,3 log 100
K = 6,6 6

(dibulatkan ke 7)

Untuk menentukan interval antar kelompok digunakan rumus:


.

i=

R
k1

5
71

5
6

= 0,8

Setelah diketahui R, K dan i, maka diperoleh tabel distribusi frekuensi hasil


pengamatan. Akan tetapi untuk mendapatkan data panjang kacang merah ,
dilakukan pengukuran panjang biji terhadap 100 sampel. Setelah lakukan
perhitungan didapatkan data ukuran panjang biji kacang merah. Dengan
menggunakan tabel histogram dapat kita ketahui bahwa dari pengambilan data
ditunjukkan hasil yang ideal, dimana pada suatu variasi memiliki panjang terendah
dan panjang tertinggi juga nilai rata-rata yang didominasi oleh sebagian populasi.

2) Cangkang Kerang
Suatu individu dapat memiliki sifat yang berebda meskipun pada dasarnya
berasal dari parietal yang sama. Sifat beda inilah yang menimbulkan adanya
suatu sifat adanya variasi pada individu. Namun fenotif suatu individu bisa saja
berbeda sama dengan fenotif individu dari keturunan lain yang genotifnya sama.
Adanya variasi sifat dalam populasi dapat diterangkan dengan mengonsumsi

bahwa yang mengendalikannya adalah beberapa pasangan gen yang efekefeknya digabung bersama (Suryo,1993).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan mengukur panjang
cangkang kerang didapatkan:

fx
X

3010,15
100

Dari tabel di atas dapat

= 30,1015
dapat kita ketahui bahwa cangkang kerang

memiliki variabilitas dan sifat beda baik dari ukuran, bentuk, tekstur maupun
warna.

Dengan

adanya

sifat

beda

tersebut

maka

akan

ada

variasi/keanekaragaman jenis kerang yang ada. Variasi ini biasanya lebih


dipengaruhi oleh faktor dari dalam yaitu gen dari pada faktor lingkungan yang
akan berpengaruh pada fenotifnya.
Pewarisan satu pasang gen sama sekali tidak bergantung pada pewarisan
lainnya (hokum penilain bebas). Demikian juga bila dua pisang gen yang
bersangkutan terdapat pada kromosom-kromosom terpisah atau agak berjauhan
pada kromosom yang sama, beberapa sifat secara adiktif dikendalikan oleh dari
satu pasang alel. Pewarisan filogenik atau kekhasan sifat yang menimbulkan
variasi, sebagai contoh berat tubuh yang cenderung beragam dalam suatu cara
yang sinambung dan suatu ekstrim kepada yang lain dengan sebagian besar
individu mempunyai satu fenotif diantara ekstrim-ekstrimnya (Campbell,2002).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan melakukan pengukuran
pada cangkang kerang didapatkan hasil ukuran cangkang kerang yang paling
panjang adalah 46 mm dan ukuran paling pendek adalah 19 mm. Jadi R (sebaran)
dari kacang merah tersebut adalah R = 46 - 19 = 27 mm. Selanjutnya adalah
menetukan panjang kelas yang dicari dengan rumus K = 3,3 log N (N=100
cangkang kerang), didapatkan hasil sebagai berikut:
K = 3,3 log N
K = 3,3 log 100
K = 6,6 6

(dibulatkan ke 7)

Untuk menentukan interval antar kelompok digunakan rumus:


.

i=

R
k1

27
71

27
6

= 4,5

Setelah diketahui R, K dan i, maka diperoleh tabel distribusi frekuensi hasil


pengamatan. Akan tetapi untuk mendapatkan data panjang cangkang kerang ,
dilakukan pengukuran panjang cangkang kerang terhadap 100 sampel. Setelah
lakukan perhitungan didapatkan data ukuran panjang cangkang kerang. Dengan
menggunakan tabel histogram dapat kita ketahui bahwa dari pengambilan data
ditunjukkan hasil yang ideal, dimana pada suatu variasi memiliki panjang
terendah dan panjang tertinggi juga nilai rata-rata yang didominasi oleh sebagian
populasi.
F. KESIMPULAN
1. Dari 100 biji kacang merah yang diamati terdapat berbagai variasi, ukuran
panjang variasi terbanyak adalah ukuran 11,8 - 12,6 mm sebanyak 35 biji,
sedangkan ukuran terendah berukuran 15,8 - 12,2 mm sebanyak 5 biji.
2. Dari 100 buah cangkang kerang yang diamati terdapat berbagai variasi,
ukuran panjang variasi terbanyak adalah ukuran 28,2 - 32,7 mm sebanyak 30
biji, sedangkan ukuran terendah berukuran 19,0 23,5 mm sebanyak 4 biji.
3. Adanya variasi pada kacang merah disebabkan karena faktor dalam (gen)
ataupun faktor luar atau lingkungan yaitu makanan, suhu, kelembaban,
cahaya, curah hujan dan pH.

JAWABAN PERTANYAAM
1. Frekuensi tertinggi terdapat pada ukuran berapa? Dan ukuran berapa yang
frekuensi terendah?
Jawab: Frekuensi terpanjang pada kacang merah pada panjang 14 mm dengan
jumlah 35 buah dan frekuensi terendah pada kacang merah pada panjang 16 mm
dengan jumlah 3 buah.
2. Berapa ukuran rata-rata panjang kacang merah?
Jawab: Rata-rata panjang kacang merah adalah 14,1 mm
3. Selin variasi ukuran panjang, variasi sifat apa yang dapat saudara jumpai?
Jawab: Variasi sifat yang dapat dilihat selain ukuran panjang adalah bentuk
kacang, warna kacang, bentuk hilus, dan corak kacang.
4. Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari kegiatan ini?
Jawab: Adanya variasi pada kacang merah disebabkan oleh dua faktor, yaitu
faktor dalam (gen) dan faktor luar (lingkungan) yaitu suhu, kelembaban udara,
cahaya, curah hujan dan pH.

KEGIATAN 3
VARIASI SIFAT PADA HEWAN
G. VARIASI SIFAT PADA KUCING

A.

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Dapat menjelaskan tipe-tipe keragaman pada tanaman dan
hewan
2. Menyebutkan dan membedakan sedikitnya tiga cara yang
berbeda untuk suatu karakter tertentu
3. Dapat mendiskripsikan hasil pengamatan tentang variasi
pada tanaman dan hewan
4. Dapat menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil
pengamatan
METODE
3. ALAT/BAHAN
Kucing
Alat tulis, penggaris
4. CARA KERJA
Menentukan jenis tumbuhan/hewan yang akan digunakan
dan juga variasi sifat yang akan diamati, bisa tentang warna,
bentuk, ukuran atau yang lainnya.
Bahan yang diamati sebaiknya jumlahnya cukup banyak
untuk mendapatkan hasil yang memadai
Mengamati sifat yang telah ditentukan dan mencatat dalam
lembar pengamatan

1.
2.
3.

B.

C.

HASIL
Tabel hasil pengamatan

Nama
Hewan

Sifat
Yang
diamati
Bunga
1. Bentuk
Kamboja
ekor
(Plumeri
a
acuminat
a)

Variasi-variasi
yang dijumpai

Jumlah

Keterangan

2. Warna
bulu
3. Mata
4.

D.
E.

PEMBAHASAN
KESIMPULAN
1. Terdapat

jenis

keanekaragaman

gen,

keanekaragaman
keanekaragaman

hayati
spesies,

yaitu
dan

keanekaragaman ekosistem.
2. Terdapat ? variasi sifat beda yang dimiliki kucing ? yaitu
warna bulu, bentuk ekor, mata, ?
3. Variasi sifat yang paling banyak dijumpai pada objek
pengamatan adalah warna bule dan bentuk ekor.

4. Faktor yang menyebabkan terdapatnya variasi sifat tersebut


adalah faktor dari dalam (gen).

DAFTAR PUSTAKA
Brown, Esther M. dan H. Dieter Dellman. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner,
edisi ketiga, hal 108. Jakarta: Universitas Indonesia.
Campbell. 2008. Biologi. Jakarta : Erlangga
Campbell. 2002. Biologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Crowder, L.V. 1990. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Helyanto, B., U.S. Budi, A. Kartamidjaya, D.Sunardi. 2000. Studi parameter
genetik hasil serat dan komponennya pada plasma nutfah rosela. Jurnal
pertanian Tropika 8(1) : 82-87.
Sutatmi, Suryo.1993.Ilmu kedokteran gigi pencegahan .Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Welsh, J.R, 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman.Jakarta :
Erlangga.
Widinti, Tuti dan Noor Aini H.2014. Buku Ajar Genetika.SemarangUNNES Press.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Variasi sifat apa saja yang saudara temukan pada obyek pengamatan saudara?
Jawab : warna bunga, letak mahkota bunga, bentuk daun, dan percabangan batang.
2. Variasi sifat apakah yang paling banyak dijumpai pada obyek pengamatan
saudara?
Jawab :Variasi sifat yang paling banyak dijumpai adalah warna bunga dan letak
mahkota bunga.
3. Menurut saudara apa yang menyebabkan terdapatnya variasi sifat tersebut ?
Jawab : Faktor yang menyebabkan terdapatnya variasi sifat
tersebut adalah faktor dari dalam (gen) dan faktor dari luar
(pengaruh lingkungan).

DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai