Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRIDA

KELOMPOK 7:
1. Wahyu Iftita Leksani
2. Raharja Kuncara
3. Alfath Fanindya

(4411414007)
(4411414006)
(4411414023)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

KEGIATAN 1
SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRID
A. Tujuan
1. Membuktikan adanya prinsip segregasi secara bebas.
2. Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu
perbandingan genotip 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3:1.
3. Dapat menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat) dalam analisis genetika Mendel.

B. Landasan Teori
Genetika (kata serapan dari bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris:
genetics, dibentuk dari kata bahasa Yunani: , genno yang berarti "melahirkan") adalah
cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti
virus dan prion). Secara singkat dapat juga dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang gen
dan segala aspeknya. Istilah "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat
pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang
Genetika ke-3 pada tahun 1906. Gregor Johann Mendell (18221884) ialah seorang biarawan
dan ahli botani yang berasal dari Austria. Ia adalah peletak dasar-dasar teori hereditas atau
pewarisan sifat genetika. Teori yang disebut Hukum Mendell tersebut menjadi dasar
pengembangan genetika modern. Mendel dapat mengembangkan beberapa hukum. Ada dua
hukum yang terkenal, yaitu Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II.
a. Hukum Mendel I atau hukum segregasi dapat dibuktikan denga persilangan monohibrid
(persilangan dengan satu sifat beda).
b. Hukum Mendel II atau hukum pengelompokan secara bebas dapat dibuktikan dengan
persilangan dihibrid (persilangan dengan dua sifat beda). Hal ini berlaku untuk semua
makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, maupun manusia.
Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda, dengan tujuan
mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk
membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan
sel gamet dapat memisah secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi.

Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan


gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan
alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari
induknya. Secara garis besar, hukum segregasi bebas mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya.
Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak dari luar,
dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan
(nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam
gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada gambar 2), alel
dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel
resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet
yang dibentuk pada turunannya.
Menurut Kuswandi (2012) untuk generasi permata (F1 = Fillial) dari persilangan antar
tetua yang beda sifat dihasilkan tanaman yang serupa dengan salah satu tetua. Generasi Fi diselfing untuk menghasilkan generasi F2. Pada F2 terdapat individu dengan sifat yang tidak ada
pada F1. Tetapi serupa dengan tetua/parentnya.
Varietas-varietas yang disilangkan disebut tetua atau parental (P). Biji-biji hasil
persilangan antar parental disebut biji filial-1 (F1). Ciri-ciri F1 dicatat dan bijinya ditanam
kembali. Tanaman yang tumbuh dari bij F1 dibiarkan menyerbuk semdiri untuk menghasilkan
biji generasi berikutnya (F2). Dalam percobaannya Mendel mengamati sampai generasi F7, dan
juga melakukan persilangan antara F1 dengtan salah satu tetuanya (test cross). Hasil percobaan
monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman F1 hanya ciri (sifat) dari alah satu tetua
yang muncul. Pada generasi F2, semua ciri yang dipunyai oleh tetua (P) yang disilangkan
muncul kembali. Ciri sifat tetua yang hilang pada F1 terjadi karena tertutup, kemudian disebut
ciri resesif, dan yang menutupi disebut dominan. Dari seluruh percobaan monohibrid untuk 7
sifat yang diamati, pada F2 terdapat perbandingan yang mendekati 3:1 antara jumlah individu
dengan ciri dominan:resesif.
Salah satu kesimpulan dari percobaan monohibrid, Mendel menyatakan bahwa setiap
sifat organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen. Faktor tersebut kemudian

diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor
(sepasang) untuk masing-masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah 2 alel, satu faktor
berasal dari tetua jantan dan satu lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan tersebut
setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat pembentukkan
gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai
Hukum Mendel I, yaitu hukum segregasi. Perbandingan pada F2 untuk ciri dominan : resesif =
3:1, terjadi karena adanya proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina dan jantan dari
tanaman F1.
Generasi F1 hasil perkawinan monohibrid berupa individu-individu yang fenotipenya
sama, sedang pada generasi F2 akan terlihat adanya nisbah fenotipe 3:1. Adakalanya nisbah
fenotipe mendelian untuk pewarisan monohibrid ini mengalami penyimpangan semu akibat
adanya beberapa peristiwa, misalnya semi dominansi, kodominansi, dan gen letal. Selain itu,
nisbah tersebut sebenarnya hanya merupakan nisbah teoretis yang tidak selalu terpenuhi pada
hasil perkawinan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian menggunakan
metode statistika terhadap besarnya penyimpangan nisbah mendelian. Uji yang lazim dilakukan
adalah uji X2 atau sering disebut juga uji Chi-square.
P

tt

(pendek)
gamet :

TT
(tinggi)

F1

Tt
(tinggi)

F1xF1 :

Tt
(tinggi)

F2

Tt
(tinggi)

PARIENTAL

TT

Tt

Tt

Tt

Hukum Pewarisan Mendel

Gambar 1

Uji Chi-Square berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel
nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel nominal
lainnya (C = Coefisien of contingency). Karakteristik ChiSquare yaitu nilai ChiSquare selalu

positip, terdapat beberapa keluarga distribusi ChiSquare, yaitu distribusi ChiSquare dengan
DK=1, 2, 3, dst dan bentuk distribusi ChiSquare adalah menjulur positip (Widjayanto, 2009)

C. Bahan/Alat
Kancing genetika dua macam warna masing-masing berjumlah 50
D. Langkah Kerja

E.

Hasil
1. Data Kelompok (Sifat yang di silangkan T : Tinggi, t : Pendek )

Kombinasi kancing (kombinasi gen)


Hijau-Hijau
(TT)
Hijau-Hitam
(Tt)

Fenotip
Tinggi

Tinggi

Tally
1
||||| |||||

2
||||| |||||

|
||||| |||||

||
||||| |||||

||||| |||||

||||| |||||

||||| |||

||||| |

Total frekuensi

Rata-rata

11

12

16,5

28

26

27

Hitam-Hitam

Pendek

(tt)
P

tt

||||| |||||

||
TT

(pendek)

(tinggi)

gamet :
F1

||||| |||||

11

12

16,5

Tt
(tinggi)

F1xF1 :

Tt

Tt

(tinggi)
F2

(tinggi)

:
PARIENTAL

TT

Tt

Tt

tt

Rasio genotip = TT : Tt : tt = 16,5 : 27 : 16,5 = 1 : 1,64 : 1


Rasio fenotip = Tinggi : Pendek = 43,5 : 16,5 = 2,64 : 1
Analisis data dengan Chi-Square

a. Genotip
Genotip
TT
Tt
Tt
Total
D = n-1

Fh

Fo

|Fo-Fh|

|FoFh|

25
50
25
100

23
54
23
100

2
4
2
8

4
16
4
24

x =

FoFh
Fh
0,16
0,18
0,16
0,5

D = 3-1
D=2
x hitung = xtabel (0,005)
0,5

= 5,99

x hitung < x tabel , ho diterima


Sehingga percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel I.

b. Fenotipe
2

Fenotipe

Fh

Fo

|Fo-Fh|

|FoFh|

Tinggi
Pendek
Total
D = n-1

75
25
100

77
23
100

3
1
4

9
1
10

x =

FoFh
Fh

0,12
0,013
0,133

D = 2-1
D=1
x hitung = xtabel
0,133

= 3,84

x hitung < x tabel , ho diterima


Sehingga percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel I.
2. Data Kelas
Kelompok
1
2
3
4

Jumlah Genotip

Jumlah Genotip

Jumlah Genotip

Homo - Dominan
26
25
22
26

Hetero
48
50
47
48

Homo - Resesif
26
25
21
26

5
6
7
8
9
10
11
Rata-rata

23
25
23
27
27
25
30
25,36

54
50
54
46
46
50
40
48,45

23
25
23
27
27
25
30
25,27

Analisis data dengan Chi-Square

a. Genotipe

DD
Dd
Dd
Total
D = n-1

Fh

Fo

|Fo-Fh|

|FoFh|

25
50
25
100

25,36
48,45
25,27
99,01

0,36
1,55
0,27
2,18

0,1296
2,4025
0,0729
2.605

Genotip

x =

FoFh
Fh

0,005184
0,04805
0,002916
0,05615

D = 3-1
D=2
x hitung

= xtabel (0,005)

0,05615

= 5,99

x hitung < x tabel , ho diterima


Sehingga percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel I.

b. Fenotipe
2

Fenotipe

Fh

Fo

|Fo-Fh|

|FoFh|

Tinggi
Pendek
Total

75
25
100

73,81
25,27
100

1,19
0,27
4

1,4161
0,0729
1,489

x =

FoFh
Fh

0,018881
0,002916
0,021797

D = n-1
D = 2-1
D=1
x hitung

= xtabel

0,021797

= 3,84

x hitung < x tabel , ho diterima


Sehingga percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel I.

F. Pembahasan
Pada praktikum persilangan Monohibrid dengan tujuan untuk membuktikan adanya
segregasi bebas, perbandingan fenotipe dan genotipe pada Hukum Mendel 1. Percobaan
persilangan monohibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan satu karakter dengan
satu sifat beda.
Pada praktikum simulasi persilangan monohibrid, kami menggunakan kancing genetika
yang berwarna Hitam dan Hijau dengan jumlah masingmasing 50 buah. Kancing genetika
dipisahkan menjadi 25 buah masing masing warna dan dimasukkan kedalam kantong atau saku
yang berbeda untuk menghindari tertukarnya atau tercampurnya kembali kancing kancing
genetika. Lalu, kancing tersebut didambil 1 dari tiap kantong dan diluar ditangkupkan. Setelah
itu, hasil nya ditulis dan dianalisis dengan uji Chi-Square, dalam Hukum Mendel 1 persilangan
monohibrid didapat hasil anakan dengan rasio fenotip tinggi : pendek

rasio yaitu 3 : 1,

sedangkan genotip yang diperoleh adalah 1:2:1 yaitu TT : Tt : tt, hal ini dikarenakan gen-gen
yang sealel memisah.
Kancing genetika warna Hijau dilambangkan dengan (TT) dan warna Hitam
dilambangkan dengan (tt), pada keturunan satu (F1) perkawinan dari keduanya merupakan
gabungan dari kedua gen (Tt) yang dalam fenotipnya bentuk tinggi (percampuran kancing Hijau
dan kancing Hitam). Hasil percobaan persilangan semua monohibrid yang kami lakukan

didapatkan perbandingan genotip yaitu 16,5 : 27 : 16,5. Hasil yang kami peroleh dianalisis
dengan menggunakan penghitungan Chi-Square yang didapatkan hasil bahwa Ho diterima dan
praktikum yang kami lakukan sesuai dengan teori Hukum Mendel I. Sesuai dengan hukum
Mendel I atau hukum segregasi dimana pada persilangan antar keturunan F1 tampak bahwa
perbandingan hasil perkawinan antar faktor dominan dan resesif pada genotipnya adalah 1 : 2 : 1
dan perbandingan fenotipnya adalah 3 : 1.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil persilangan dengan
perbandingan yaitu sebagai berikut:

Rasio Genotipnya = TT : Tt : tt = 16,5 : 27 : 16,5


Rasio Fenotipnya = Tinggi : Pendek = 43,5 : 16,5

Genotip (TT) ini merupakan hasil interaksi dari dua faktor dominan, sedangkan genotip
(tt) merupakan hasil dari interaksi dua faktor resesif, dan (T) digunakan untuk menandakan
warna Hijau dominan dan (t) untuk menandakan warna Hitam resesif. Sehingga hasil yang
terlihat dari keturunan 1 (F1) adalah tinggi, hal ini dipengaruhi karena adanya gemet (T) yang
dominan terhadap gamet (t) yang resesif menjadikan ekspresi gen yang keluar adalah dari gamet
yang dominan. Namun, terkadang juga ada penyimpangan semu yang menyebabkan gamet
resesif lebih mengekpresikan gennya dari pada gamet dominan. Ini biasanya terjadi karena
persilangan dengan saudara sekandung atau dengan sesama alelnya, sehingga mendapatkan
keturunan ke 2 (F2) ada yang mewarisi alel resesif dari kedua parientalnya dan mewarisi gen
yang kurang bagus bersatu pada keturunannya. Kejadian kali ini jarang ditemui karena
kebanyakan yang lebih dijumpai adalah yang normal.
Dalam suatu praktikum jarang ditemukan hasil yang tepat betul dalam sekali percobaan,
karena selalu saja ada penyimpangan. Secara umum kesalahan terjadi karena pada saat
pengambilan secara acak dan memasangkan kancing genetik terjadi kesalahan disebabkan oleh
kurangnya ketelitian dalam pencatatan hasil persilangan, terjadi pengambilan kancing yang lebih
atau kurang dari dalam kantong, dan kurang kompaknya para paraktikan dalam mengambil
kancing, menyebutkan, dan mencatatnya sehingga terdapat perbedaan rasio fenotip dan rasio
genotipnya dengan hukum Mendel.

G. Kesimpulan

Dari hasil yang diperoleh terbukti adanya prinsip segregasi secara bebas pada Hukum
Mendel 1, yaitu pada pemisahan gamet jantan dan betina pada msing-masing kantong

yang kemudian diambil secara acak.


Praktikum genetika kali ini sesuai dengan Hukum Mendel 1 yaitu tentang persilangan

monohibrida.
Dengan bantuan analisis menggunakan Uji Chi-Square dapat diketahui bahwa praktikum
yang telah dilakukan sesuai dengan Hukum Mendel 1.

H. Jawaban Permasalahan
1. Perbandingan genotip : TT : Tt : tt = 16,4 : 27 : 16,5 = 1 : 1,64 : 1
Perbandingan fenotip : Tinggi : Pendek = 43,5 : 16,5 = 2,64 : 1
2. Hasil kelompok kami juga mendapatkan hasil yang sama dengan kelompok kami, yaitu
mendapatkan hasil 1 : 2 : 1.
3. Hasil yang kami peroleh dapat dipercaya kebenarannya, karena hasil yang kami peroleh
sesuai dengan Hukum Mendel 1. Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil
persilangan dengan perbandingan yaitu sebagai berikut:
Rasio Genotipnya = TT : Tt : tt = 16,4 : 27 : 16,5
Rasio Fenotipnya = Tinggi : Pendek = 43,5 : 16,5
4. Diagram Persilangan
P

tt

TT

(pendek)
gamet :
F1

(tinggi)

Tt
(tinggi)

F1xF1 :

Tt
(tinggi)

F2

Tt
(tinggi)

PARIENTAL

TT

Tt

Tt

Tt

DAFTAR PUSTAKA
Baumgardner, john, John Sanford, Weasly Brewer, dkk. (2008) Mendels Accountant : A new
Population Genetics Similation Tools for Studying Mutation and Natural Selection, 87-98
(Diakses tanggal 11 Maret 2016)
Singh, Mankiran, Khalid Siddiqui, Gurmugh Singh.(2010) Modelling Mendels Lows on
Inheritance Computational Biologi and Medicine Sciences , Vol 39, No. 1. (Diakses tanggal 11
Maret 2016)
Galloway,Katelyn.(2014) Cootie Genetics : Simulating Mendels Experiment to Understand The
Law of Inheritance, Vol.76, No. 3, 189-193. (Diakses tanggal 11 Maret 2016)
N.M Laird, C. Lange.(2011)The Fundamentals of Modern Statistical Genetics, 15-30

DOKUMENTASI