Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

APOTEK IMAM BONJOL PONTIANAK

Disusun Oleh:
Muhammad Tri Sutrisno

139005

Nadia Puterina

139005

Ratna Muzdalifa

139005

Yessi Dwisanti

139005

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK


Tahun 2016
1

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrahim
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan
(PKL) yang dilaksanakan di Apotek Imam Bonjol pada tanggal 9 Februari - 9 Maret.
Laporan ini kami susun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program
akhir Diploma III Akademi Farmasi Yarsi Pontianak.
Dengan selesainya penulisan laporan PKL ini penulis mengucapkan terima kasih
yang terhormat kepada:
1.

Ibu Adhisty Kharisma Justicia, M.Sc, Apt selaku Direktur Akademi Farmasi
Yarsi Pontianak sekaligus Pembimbing Apotek di Akademi Farmasi Yarsi

Pontianak
2. Bapak Wahyudi, S.Si, MKM, Apt selaku pengelola Apotek Imam Bonjol
Pontianak.
3. Seluruh karyawan Apotek Imam Bonjol Pontianak dan semua pihak yang
membantu selama PKL.
4. Pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan Praktek Kerja
Lapangan.

Demikian laporan PKL ini disusun, dengan harapan tulisan ini


bermanfaat bagi rekan-rekan sejawat khususnya dan pembaca pada umumnya
untuk usaha peningkatan profesionalisme farmasis di kemudian hari. Kami
menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran pembaca sangat kami harapkan.

Pontianak, Maret 2016


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................vii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan PKL....................................................................................................2
1.3 Manfaat PKL..................................................................................................3
BAB II.....................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................4
2.1 Pengertian Apotek..........................................................................................4
2.2 Tugas dan Fungsi Apotek...............................................................................5
2.3 Persyaratan Apotek.........................................................................................5
2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek...................................................................7
BAB III..................................................................................................................29
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK...................................................29
3.1 Sejarah Apotek.............................................................................................29
3.2 Struktur Apotek dan Personalia....................................................................29
3.3 Lokasi Apotek...............................................................................................31
3.4 Cakupan Layanan Apotek............................................................................31
3.5 Pengelolaan Obat..........................................................................................32
BAB IV..................................................................................................................39
PELAKSANAAN KEGIATAN PKL..................................................................39
4.1 Jenis Dan Bentuk Kegiatan PKL..................................................................39
4.2 Prosedur Kerja..............................................................................................40
4.3 Kendala Yang Dihadapi Dan Upaya Untuk Memecahkannya.....................40

BAB V....................................................................................................................41
KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................41
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................42

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka peningkatan
kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan
kesehatan, selain merupakan tanggung jawab pemerintah juga merupakan hak
bagi masyarakat untuk ikut berperan serta.
Asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah suatu bentuk layanan
langsung seorang apoteker kepada konsumen obat (pasien) dalam menetapkan,
menerapkan dan memantau pemanfaatan obat agar menghasilkan outcome
terapetikyang spesifik. Melalui penerapan asuhan kefarmasian yang memadai
diharapkan masyarakat yang mengonsumsi obat mendapat jaminan kesehatan.
Apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker, semestinya adalah sarana
yang sangat tepat bagi apoteker untuk memberikan asuhan kefarmasian kepada
masyarakat. Secara filosofis, konsumen yang datang ke apotek sejatinya bukan
semata-mata akan membeli obat. Mereka membutuhakan sarana atau masalah
yang berkaitan dengan kesehatan mereka. Bahwa diakhir kunjungannya mereka
membeli obat, dapat dipastikan hal itu terjadi setelah melalui tahap pemberian
asuhan kefarmasian.
Dalam rangka pelaksanaan pendidikan, proses pembelajaran yang terjadi
tidak terbatas didalam kelas saja. Pengajaran yang berlangsung pada pendidikan
ini lebih ditekankan pada pembelajaran yang merobos diluar kelas, bahkan diluar
institusi pendidikan lingkungan kerja alam dan kehidupan masyarakat. Dalam hal

ini PKL (praktek kerja lapangan) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pogram pengajaran serta merupakan wadah yang tepat untuk
mengaplikasikan pengetahuan sikap dan keterampilan (kognitif, afektif dan
psikomotor) yang diperoleh saat mengikuti proses belajar mengajar.
Untuk menghasilkan tenaga ahli madya yang profesional dibidangnya
penyelenggaraan pendidikan terutama PBM perlu terus ditingkatkan dan
dikembangkan terus menerus baik kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu upaya
yang dilakukan adalah dengan membeerikan pengalaman kerja melalui kegiatan
PKL di Apotek.
PKL merupakan sarana pengenalan lapangan pekerjaan bagi mahasiswa
dengan mengikuti kegiatan praktek kerja lapangan inni mahasiswa dapat melihat,
mengetahui, menerima dan menyerap teknologi kesehatan yang ada dimasyarakat.
Dengan kata lain, PKL merupakan masa orientasi bagi mahasiswa dan dapat
digunakan sebagai sarana informasi terhadap dunia pendidikan kesehatan,
sehingga institusi pendidikan kesehatan dapat mengembangkan diri sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

1.2 Tujuan PKL


Adapun tujuan dari PKL Apotek ini adalah:

1. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan keterampilan yang


membentuk kemampuan mahasiswa sebagai bekal untuk memasuki
lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan program pendidikan yang
ditetapkan.

2. Mengenai kegiatan penyelenggaraan program kesehatan masyarakat secara


menyeluruh baik ditinjau dari aspek administrasi, teknis maupun sosial
budaya.

3. Memberikan

kesempatan

kepada

mahasiswa

untuk

mendapatkan

pengalaman kerja yang nyata dan langsung secara terpadu dalam


melaksanakan

kegiatan

pelayanan

kefarmasian

di

Apotek

pada

masyarakat.

4. Menumbuh kembangkan dan memantapkan sikap etis, profesionalisme


dan nasionalisme yang diperlukan mahasiswa untuk memasuki lapangan
kerja sesuai dengan bidangnya.

5. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memasyarakatkan diri


pada suasana atau iklim lingkungan kerja yang sebenarnya.

6. Meninggkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan


teknologi baru dari lapangan kerja ke institusi pendidikan atau sebaliknya.

7. Memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan


mengembangkan

serta

meningkatkan

penyelenggaraan

Akademi Farmasi Yarsi Pontianak.

8. Memberikan kesempatan masuk penempatan kerja.

10

pendidikan

1.3 Manfaat PKL

1. Mahasiswa mampu memahami, menetapkan dan mengembangkan materi


pelajaran yang diperoleh di institusi pendidikan dan ditetapkan pada
lapangan kerja.

2. Mahasiswa mampu mencari alternatif pemecahan masalah kefarmasian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Apotek


Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh apoteker (PP no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13). Apotek adalah
suatu tempat tertentu dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan
farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi yang
dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Perbekalan
kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan

upaya

kesehatan

(Keputusan

Menkes

RI

Nomor

1027/MenKes/SK/IX/2004).
Menurut Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang perubahan
Permenkes No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara
pemberian izin apotek.
Pasal 1 ayat (a) :

11

Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan


kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya
kepada masyarakat.
Pasal 1 ayat (i) :
Perbekalan farmasi adalah obat, bahan obat, obat asli indonesia (obat
tradisional), bahan obat asli indonesia (bahan obat tradisional), alat kesehatan dan
kosmetika.

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek


Berdasarkan PP No. 51 Tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah:
1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.
2. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian.
3. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan
farmasi antara

lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan

kosmetika.
4. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu

Sediaan

Farmasi,

pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau


penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan
obat tradisional.
5. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat
yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
2.3 Persyaratan Apotek
Menurut Kepmenkes 1332/Menkes/SK/X/2002, persyaratan Apotek yaitu:
untuk mendapatkan izin apotek, Apoteker bekerja sama dengan pemilik sarana

12

yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan


termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik
sendiri atau milik pihak lain.
1. Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan
pelayanan komoditi yang lain diluar sediaan farmasi.
2. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain diluar
sediaan farmasi.

Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian Apotek


adalah :
1. Lokasi dan Tempat
Jarak antara Apotek tidak lagi dipersyaratkan, namun sebaiknya
tetap mempertimbangkan segi beli penduduk di sekitar Apotek,
kesehatan lingkungan, keamanan dan mudah dijangkau masyarakat
dengan kendaraan.
2. Bangunan
Bangunan Apotek harus mempunyai luas dan memenuhi
persyaratan yang cukup, serta memenuhi persyaratan teknis sehingga
dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta
memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi.
Bangunan di apotek sekurang-kurangnya terdiri dari :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Ruang tunggu
Ruang Administrasi dan ruang kerja apoteker
Ruang penyimpanan obat
Ruang peracikan dan penyerahan obat
Tempat pencucian obat
Kamar mandi dan toilet
Bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan sumber air yang
memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang baik,alat pemadam
kebakaran yang berfungsi baik, ventilasi dan system sanitasi yang

13

baik dan memenuhi syarat higienis, papan nama yang memuat


nama apotek, nama Apoteker Pengelola Apotek, nomor Surat Izin
Apotek, nomor telepon apotek.
3. Perlengkapan
Perlengkapan apotek yang harus dimiliki yaitu:
a) Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan,
mortir, gelas ukur dan alat lainnya.
b) Perlengkapan dan alat penyimpanan, dan perbekalan farmasi,
seperti lemari obat dan lemari pendingin.
c) Wadah pengemas dan pembungkus, etiket dan plastik pengemas.
d) Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropika dan bahan
beracun.
e) Buku standar Farmakope Indonesia, Informasi Spesialite Obat
Indonesia, Daftar Pelaporan Harga Obat, serta kumpulan peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan apotek.
f) Alat Administrasi, seperti blanko pesanan obat, faktur, kwitansi,
salinan resep, dan lain-lain
2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek
Ketentuan ketentuan umum yang berlaku tentang Ketentuan dan Tata
Cara

pemberian

Izin

Apotek

menurut

pasal

Kepmenkes

No.1332/Menkes/SK/X/2002 adalah sebagai berikut :


1. Permohonan izin apotek ditujukan kepada kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1
2. Dengan menggunakan formulir APT-2, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima
permohonan,dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Badan POM
untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk
melakukan kegiatan.

14

3. Selambat-lambatnya 6 hari setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala


Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
atau Kepala Badan POM melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan
menggunakan contoh formulir APT-3
4. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dan 3 tidak
dilaksanakan, Apoteker. Pemohon dapat membuat pernyataan siap
melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
menggunakan contoh formulir APT-4.
5. Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil
pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat 3, atau pernyataan yang
dimaksud dalam ayat 4, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek dengan menggunakan contoh
formulir APT-5.
6. Dalam hal pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Kepala Badan POM dimaksud ayat 3 masih belum memenuhi
syarat,Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12
hari kerja akan mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan
contoh formulir APT-6.
7. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 6, Apoteker
diberi kesempatan untuk melengkap persyaratan yang belum dipenuhi
selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal penundaan.

2.5 Pengelolaan Apotek

15

Pengelolaan apotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker Pengelola Apotek dalam rangka tugas dan fungsi apotek yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian.
2.5.1 Pengelolaan Obat
Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi perencanaan,
permintaan atau pengadaan, penyimpanan, jumlah persediaan obat dan pelayanan.
Pengeluaran obat memakai sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First
Expired First Out).
a. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat dan
perbekalan kesehatan menentukan jumlah obat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan. Perencanaan obat di apotek umumnya dibuat untuk
mengadakan dan mencukupi persediaan obat di apotek, sehingga dapat
mencukupi permintaan obat melalui resep dokter ataupun penjualan
secara bebas. Perencanaan obat didasarkan atas beberapa faktor, antara

b.

lain:
1) Obat yang paling banyak dipakai.
2) Persediaan terakhir stok barang.
3) Berdasarkan jenis penyakit yang sedang mewabah.
4) Berdasarkan musim dan cuaca.
Permintaan obat atau pengadaan
Permintaan atau pengadaan obat adalah suatu proses pengumpulan
dalam rangka menyediakan obat dan alat kesehatan untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan di apotek. Pengadaan obat ini dilakukan dengan
cara pembelian. Berhasil atau tidaknya usaha banyak tergantung pada
kebijakan pembelian. Cara melakukan pembelian dapat dilakukan antara
lain sebagai berikut:

16

1) Pembelian Secara Kredit


Pembelian yang dilakukan kepada PBF (Pedagang Besar Farmasi)
pada umumnya dilakukan secara kredit, dengan lamanya pembayaran
berkisar antara 14 - 30 hari.
2) Kontan
Pembelian dilakukan secara kontan atau tunai. Biasanya untuk
transaksi obat golongan narkotika dan barang-barang COD (Cash On
Delivery atau dibayar langsung saat barang datang).
3) Konsinyasi/titipan
Dimana apotek menerima titipan barang yang akan dijual dalam
waktu maksimal 3 bulan.
c. Penyimpanan
Dalam penyimpanan obat digolongkan menurut :
1) Disimpan dalam wadah tertutup rapat, untuk obat yang mudah
menguap seperti aether, anaestheticus.
2) Disimpan terlindung dari cahaya untuk obat seperti tablet, kaplet, dan
sirup.
3) Disimpan bersama zat pengering, penyerap lembab (kapur tohor)
seperti kapsul.
4) Disimpan pada suhu kamar (pada suhu 15-30 C) untuk obat seperti
tablet, kaplet, dan sirup.
5) Disimpan pada tempat sejuk (pada suhu 5-15 C) untuk obat seperti
salep mata, cream, ovula,dan suppositoria.
6) Disimpan di tempat dingin (pada suhu 0-5 C) seperti vaksin.
7) Penyimpanan obat narkotika dilakukan dalam lemari khusus sesuai
persyaratan peraturan Menkes No.35 tahun 2009 Khusus untuk
lemari tempat penyimpanan obat narkotika syarat yang tercantum di
pengaturan adalah sebagai berikut:
a) Ukuran lemari : 40x80x100
b) Bahan : kayu atau bahan lain yang kuat.
c) Lemari dibagi menjadi dua fungsi dengan kunci yang berlainan.
Fungsi yang pertama untuk perbekalan dan bahan baku morfin,
petihidin, dan garam-garamnya.

17

d) Lemari khusus narkotika ditempatkan pada dinding tembok atau


lantai, tidak boleh digunakan untuk keperluan lain, tidak boleh
dilihat oleh umum, dan kunci dikuasai oleh penanggung jawab
atau pegawai apotek yang dikuasakan.
8) Penyusunan obat dalam persediaan diatur menurut golongan secara
sistem alfabetis. Dapat pula diatur menurut pabrik. Obat antibiotik
perlu diperhatikan mengenai tanggal kadaluwarsa. Setiap terjadi
mutasi obat segera dicatat dalam kartu stok.
d. Jumlah Persediaan Obat
Tujuan persediaan obat adalah menjaga agar pelayanan obat oleh
apotek dapat berjalan dengan lancar yaitu dengan :
1) Menjaga kemungkinan keterlambatan pemesanan.
2) Menambah penjualan, bila ada pertambahan pemesanan secara
mendadak.
Jumlah stok obat untuk persediaan 1 sampai 2 bulan sesuai
kebijakan apotek masing-masing.
e. Perhitungan Nilai (Harga Obat) Persediaan
Harga obat dalam persediaan dapat ditentukan dengan bermacammacam metode, yaitu :
1) Metode harga standar yaitu merupakan suatu harga yang ditetapkan
lebih dahulu untuk jangka pendek atau bukan untuk jangka waktu
panjang.
2) Metode FIFO (First In First Out), yaitu menurut harga pertama
dibeli jadi meskipun harga sudah naik tetap digunakan harga lama
pada waktu obat dibeli.
3) Metode LIFO (Last In First Out), yaitu menurut harga pembelian
terakhir.
f. Gambaran umum penggolongan obat
Obat yang ada diapotek telah ditetapkan oleh pemerintah menjadi
beberapa golongan.Hal ini dimaksudkan agar dapat mempermudah APA

18

dalam memperoleh,

menyimpan

dan menyerahkannya,

sehingga

pengggunaan menjadi tepat. Penggolongan obat tersebut terdiri dari :


a) Obat bebas
Obat bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa
resep dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika, psikotropika,
obat keras, ataupun obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di DepKes
R.I .Penandaan obat bebas diatur berdasarkan S.K Menkes RI Nomor
2380/A/SK/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan obat
bebas terbatas. Tanda khusus untuk obat bebas yaitu lingkaran bulat
warna hijau dengan garis tepi berwarna hitam.
b) Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada
pemakainya tanpa resep dokter. Obat keras terbatas adalah obat yang
masuk dalam daftar W singkatan dari Waarschuwing artinya
peringatan. Maksudnya obat yang pada penjualannya disertai dengan
peringatan. Syarat-syarat penyerahan obat bebas terbatas adalah
sebagai berikut :
1) Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari
pabriknya atau pembuatnya.
2) Pada penyerahannya oleh

pembuat

atau

penjual

harus

dicantumkan tanda.
3) Tanda tersebut berwarna hitam, berukuran panjang 5 cm, lebar 2
cm dan memuat pemberian berwarna putih.
4) Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan

RI

No.

2380/A/SK/VI/1983 tanda khusus untuk obat bebas terbatas


berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam.
c) Obat keras daftar G
Obat keras atau obat daftar G menurut bahasa Belanda G singkatan
dari Gevaarlijk artinya berbahaya, maksudnya obat dalam

19

golongan ini berbahaya jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep


dokter. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan
atau memasukkan obat-obat keras ditetapkan sebagai berikut :
1) Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembungkus
disebutkan bahwa obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep
dokter.
2) Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata untuk
dipergunakan secara parenteral, baik dengan carasuntikan
maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek
rangkaian asli dan jaringan.
3) Semua obat yang tercantum dalam daftar obat keras: obat itu
sendiri dalam substansi dan semua sediaan yang mengandung
obat itu, terkecuali apabila dibelakang nama obat disebutkan
ketentuan lain, atau ada pengecualian.
4) Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.02396/A/SK/VII/1986 tentang tanda khusus Obat keras daftar
G adalah lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi
berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi.
d) Narkotika dan Psikotropika
Narkotika dan psikotropika adalah obat yang biasa mempengaruhi
keadaan psikis seseorang. Untuk mengelolanya memerlukan cara
khusus.
Pengertian Narkotika menurut undang-undang Nomor 35 tahun 2009
tentang Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi

sampai

menghilangkan

menimbulkan ketergantungan.

20

rasa

nyeri

dan

dapat

g. Cara Pengelolaan Obat Non Narkotika, Narkotik dan Psikotropika


Perbedaan cara pengelolaan obat bebas, bebas terbatas, obat keras
dengan pengelolaan obat narkotika dan psikotropika, yaitu pada :
1) Cara pemesanan : SP untuk obat narkotika dan psikotropika harus
menggunakan SP khusus yang ditangani oleh APA.
2) Cara penyimpanan : lemari untuk obat narkotika dan psikotropika
disimpan pada lemari khusus terpisah dengan obat lainnya,yang
bentuk dan ukuran lemarinya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3) Cara penyerahan : penyerahan untuk obat narkotika dan psikotropika
harus sesuai dengan persyaratan yang telah diatur :
a) Apotek, RS, Puskesmas, Balai pengobatan dengan SP Khusus
narkotika.
b) Dokter, pasien dengan resep asli,lengkap dengan nama alamat
pasien dengan dokternya.
4) Cara pelaporan : Laporan obat narkotika dan psikotropika selain
digunakan untuk kepentingan analisis bisnis internal, tetapi juga
dilaporkan kepada pihak eksternal (Sudin Yankes Dati II/Kodya
dengan tembusan kepada Dinkes Provinsi, Kepala Balai POM, PBF
Kimia Farma).
2.5.2 Pengelolaan Resep
a. Pengertian Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, maupun
dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan
obat bagi pasien yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b. Komponen Resep
Dalam resep harus memuat:
1) Nama, alamat, nomor izin praktek Dokter, Dokter gigi, Dokter
hewan.
2) Tanggal penulisan resep (inscription).
3) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep (invocation).

21

4) Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatur).


5) Tanda tangan atau paraf Dokter penulis resep,sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku (subscriptio).
6) Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep Dokter
hewan.
7) Tanda seru dan paraf Dokter untuk resep yang mengandung obat
yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. (Syamsuni. H,2006)
c. Pelayanan resep
Setelah menerima resep dari pasien, dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1) Memeriksa kelengkapan Resep meliputi: nama dokter, surat izin
praktek (SIP), alamat praktek dokter, tanggal penulisan resep, nama
obat, jumlah obat, cara penggunaan, nama pasien, umur pasien, dan
jenis kelamin pasien.
2) Pemeriksaan kesesuaian farmasetika meliputi : bentuk sediaan, dosis,
potensi, stabilitas, cara dan lama penggunaan obat.
3) Pertimbangan klinik seperti halnya pada efek samping, interaksi, dan
kesesuaian dosis suatu obat.
4) Konsultasi dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada resep
atau obatnya tidak tersedia.

Jika resep yang diterima berupa racikan maka hal-hal yang harus
diperhatikan yaitu sebagai berikut:
1) Pengambilan obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik.
2) Peracikan obat.
3) Pemberian etiket warna putih untuk penggunaan oral atau dalam dan
etiket warna biru untuk pemakain luar.
4) Memasukkan obat kedalam wadah yang sesuai dan terpisah untuk obat
yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan penggunaan yang salah.
Setelah obat sudah disiapkan maka obat tersebut siap untuk diserahkan

22

ke pasien, namun sebelum obat diserahkan kepada pasien harus


dilakukan pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada
etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat. Hal ini sangat
diperlukan dalam upaya penggunaan obat yang rasional oleh pasien.
d. Penyimpanan Resep
Resep yang telah dibuat,disimpan menurut urutan tanggal dan
nomor penerimaan atau pembuatan resep. Resep yang mengandung
narkotik harus terlebih dahulu dipisahkan dari resep lainnya, tandai
dengan garis merah di bawah nama obatnya. Resep yang telah disimpan
selama lebih dari 3 tahun dapat dimusnahkan dengan cara dibakar atau
cara lain yang memadai. Pemusnahan resep dilakukan oleh Apoteker
Pengelola Apotek (APA) bersama dengan sekurang-kurangnya seorang
petugas apotek.
e. Pemusnahan Resep
Pada pemusnahan resep harus dibuat Berita Acara Pemusnahan
(BAP) sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4
ditandatangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang
petugas apotek.
Berita acara pemusnahan itu berisi:
1)
2)
3)
4)

Tanggal pemusnahan resep.


Cara pemusnahan resep.
Jumlah bobot resep yang dimusnahkan dalam satuan kilogram (kg).
Tanggal resep yang terlama dan terbaru yang dimusnahkan.
Pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan dibidang farmasi karena
rusak, dilarang, dan kadaluwarsa dilakukan dengan cara dibakar,
ditanam, atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Badan POM.

23

Pemusnahan tersebut harus dilaporkan oleh APA secara tertulis


kepada Subdinkes/Dinkes setempat dengan mencantumkan:
1) Nama dan alamat apotek.
2) Nama Apoteker Pengelola Apotek.
3) Perincian obat dan perbekalan kesehatan di bidang farmasi yang akan
dimusnahkan.
4) Rencana tanggal dan tempat pemusnahan.
5) Cara pemusnahan.
2.5.3 Administratif
Administratif kegiatannya meliputi, agenda atau pengarsipan dimana
pengaplikasiannya sebagai berikut :
a) Aliran barang masuk berasal dari pembelian (kontan atau kredit)
Pembelian disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan setempat. Jenis obat
yang diperlukan dapat dilihat dari buku data-data obat yang mau dipesan
(defecta untuk pesanan membeli barang serta pengendalian persediaan),
baik dari bagian penerimaan resep atau obat bebas di counter muka
maupun dari petugas gudang.
b) Aliran barang keluar
Setiap barang yang keluar dari gudang, disediakan buku
permintaan barang, yang ditulis oleh seorang asisten apoteker dari
peracikan. Buku tersebut memuat kolom nama barang jumlah yang
diminta, jumlah yang diberikan, sisa persediaan dan keterangan. Dari
kolom sisa persediaan dapat dipakai sebagai alat bantu untuk pengadaan
barang (defecta untuk pesanan membeli barang serta pengendalian
persediaan).
c) Stock opname tahunan
Biasanya diadakan setiap satu sekali pada akhir tahun.Maksudnya
untuk mengetahui untung rugi perusahaan pada tahun tersebut. Untuk obat

24

narkotika,diadakan stock opname tiap bulan sekali dan dilaporkan kepada


Dinas Kesehatan Provinsi. Perlengkapan administrasi terdiri dari blanko
surat pesanan, blanko faktur penjualan, blanko surat penjualan, blanko
salinan resep, blanko laporan narkotika dan psikotropika, buku catatan
pembelian, buku catatan penjualan, buku catatan keuangan, dan kartu stok
obat.

25

BAB III
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK

3.1 Sejarah Apotek


Apotek Imam Bonjol didirikan pada tahun 1982 dan telah mengalami tiga
kali pergantian pengelola apotek yang pertama yaitu Drs. Ruslan Aspan, yang
kedua yaitu Drs. Slamet Sukarno, Apt dan yang ketiga yakni Wahyudi S.Si,
MKM, Apt.
Sejak Apotek Imam Bonjol didirikan, selain menjual obat-obat paten juga
menjual obat-obat generik, alat-alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya.
Visi dan Misi Apotek Imam Bonjol yaitu menjadi Apotek yang dari tahun
ke tahun meningkatkan mutu pelayanan dibidang kefarmasian sehingga menjadi
Apotek pilihan bagi masyarakat.

3.2 Struktur Apotek dan Personalia


Struktur Fungsional

Struktur Apotek
PSA

APA

Bag. Stok Obat


Bag. Pemesanan

Apteker Pendamping
Atau AA

Administrasi

Juru Resep
Kasir

Gambar
Staf dan karyawan di Apotek Imam Bonjol terdiri dari:
26

1.
2.
3.
4.

Apoteker pengelola Apotek


Apoteker pendamping
Ilham Aditama, S.Si, Apt
Tata Usaha/Administrasi
Rudi
Kasir

: Wahyudi, S.Si,MKM, Apt


: - Yossy Yohanes Engka, S.Si, Apt
: - Muhammad Akbar
: - Susi
- Galuh Meidita

Tugas dan wewenang staf dan karyawan di Apotek Imam Bonjol, antara lain:
1. Apoteker Pengelola Apotek (APA), bertugas sebagai:
- Memimpin seluruh kegiatan apotek termasuk mengkoordinir dan
mengawasi kerja bawahannya, mengatur pembagian tugas dan
-

tanggung jawab
Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan apotek

sesuai dengan persyaratan farmasi terutama dalam hal peracikan


Menyimpan buku harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual

sesuai dengan kebijakan harga yang ditetapkan.


Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang yaitu obat, alat
kesehatan dan sebagainya untuk satu periode tertentu sesuai dengan

peraturan yang berlaku


Sebagai pembina dan memberi petunjuk tekhnis farmasi kepada

bawahan terutama dalam hal pemberian informasi kepada pasien


Menambah, menghentikan dan mutasi pegawai serta pemberian dan

kenaikan gaji
2. Apoteker Pendamping Apotek, bertugas sebagai:
3. Tenaga Administrasi, bertugas sebagai:
-

27

3.3 Lokasi Apotek


Lokasi apotek Imam Bonjol yaitu di

jalan Imam Bonjol No. 372

berdampingan dengan Optik Sei Raya tidak jauh dari Masjid Adz-Dzikraa.

3.4 Cakupan Layanan Apotek


Pasien

Penerimaan resep,
pengontrolan dan
pemberian harga

Kasir

Pelayanan

Kontrol dan
penyerahan

Obat Siap

Obat Racikan

Pemberian etiket dan kontrol

Obat non racikan

Gambar 3.2 Jalur Pelayanan Resep

Keterangan:
Pasien datang dan menyerahkan resep ke petugas resep counter, penetapan harga
dan pemberian nomor resep. Resep diserahkan ke Apoteker Pendamping untuk
menghitung jumlah obat yang akan diambil dan penulisan etiket dan copy resep.
Selanjutnya para juru racik menyediakan obat atau meracik sesuai dengan bentuk
sediaan yang diminta. Setelah diracik, dikemas, kemudian resep dan obat yang
telah disiapkan, diserahkan kembali ke Apoteker Pendamping untuk dicek
kembali kebenarannya, kemudian diserahkan kepada petugas resep counter,
diceek kembali dan selanjutnya diserahkan ke pasien disertai dengan KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi).

28

3.5 Pengelolaan Obat


A. Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia apotek Imam Bonjol sudah cukup bagus, ini terlihat
dari kedisiplinan karyawan yang kegiatannya dibagi dalam dua tahap, yaitu :
Pagi hari : 08.00-15.00 WIB
Sore hari : 15.00-21.00 WIB

B. Pengelolaan Perbekalan Farmasi


1) Perencanaan
Perencanaan kebutuhan obat diapotek Imam Bonjol untuk obat
yang cepat laku (fast moving)dilakukan setiap hari, mengingat banyaknya
permintaan obat dan dilihat dari penggunaan obat dari bulan sebelumnya
dari kartu stok. Sedangkan untuk obat dengan penjualan slow movingi
perencanannya dilihat dari jumlah obat yang tersedia terakhir.
2) Pengadaan
Pengadaan obat dan alat kesehatan di apotek Imam Bonjol
dilakukan dengan cara pemesanan kepada PBF yang telah menjadi
langganan. Untuk obat fast moving pengadaannya dilakukan setiap hari
melalui salesman yang datang maupun melalui telepon kepada PBF
dengan menggunakan surat pesanan, berupa surat pesanan bicara, surat
pesanan narkotik, dan surat pesanan psikotropika.
Dalam menemukan PBF perlu memperhatikan harga diskon, bonus
yang ditawarkan, jangka waktu pembayaran, pelayanan yang lebih baik
dan cepat, kwalitas dan kwantitas barang, serta adanya jaminan dari PBF
tentang pengembalian barang yang rusak maupun hampir kadaluwarsa.
Pengadaan barang di apotek Imam Bonjol dilakukan dengan
pembelian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keuangan yang

29

ada. Jika terdapat kekosongan di apotek, dapat pula diatasi dengan bekerja
sama dengan apotek lain dalam hal pembelian obat yang dibutuhkan
secara tiba-tiba, sehingga obat yang dibutuhkan oleh pasien tetap dapat
terpenuhi. Hal ini untuk menjaga apotek sebagai apotek yang lengkap.
Pemesanan obat narkotik melalui PBF Kimia Farma, sedangkan
obat lain selain narkotik dapat dipesan pada PBF Kimia Farma atau PBF
lain. Untuk obat keras ditanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek.
Obat yang dipesan akan diterima oleh petugas apotek yang
ditunjuk disertai dengan penyerahan faktur yang berisi daftar obat-obatan
dan selanjutnya pencatatan.
3) Penerimaan
Barang atau obat yang dipesan kepada suplier dikirim ke apotek
beserta faktur penjualan dari PBF. Petugas penerima barang akan
memeriksa barang/obat berdasarkan jenis dan jumlah sesuai surat pesanan
apotek. Dalam penerimaan barang perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
a. Dibuat nomor urut penerimaan atau nomor gudang.
b. Tanggal penerimaan.
c. Nama suplier atau PBF.
d. Kesesuian antara surat pesanan dengan faktur serta barang yang dikirim.
e. Kondisi barang, tanggal kadaluarsa.
f. Tanda terima barang bila telah sesuai.
Apabila barang yang dipesan telah sesuai dengan yang diminta,
maka petugas apotek yang bertugas atau yang menerima menandatangani
faktur dengan mencantumkan nama, tanggal dan cap apotek. Faktur asli

30

dikembalikan kepada PBF, dan apotek menerima salinan faktur sebagai


arsip.
Obat-obatan, bahan baku, dan alat-alat kesehatan yang diterima
apotek disertai dengan faktur yang dikirimkan oleh PBF, yang merupakan
tanda bukti penerimaan obat-obatan, bahan baku, dan alat kesehatan
apotek. Pada saat penerimaan dilakukan pngecekkan berupa jenis barang,
merk, nama obat, harga satuan dan perhitungannya, pemeriksaan fisik dan
suhu penyimpanan, jumlah barang, masa kadaluarsanya, bila barang yang
datang sesuai dengan Surat Pesanan (SP) faktur yang akan ditanda tangani
oleh APA dan AA disertai dengan NO.SIK dan diberi cap apotek. Obatobatan, bahan baku, dan alat kesehatan yang masuk dicatat didalam kartu
stok barang.
4) Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan mengamankan obat-obatan dan
alat kesehatan agar mutunya tetap terjamin. Dalam penyimpanan obat
digunakan sebagai berikut :
a. Penyimpanan obat dipisahkan sesuai dengan bentuk sediaan, untuk
bahan padat dan cairan dipisahkan
b. Penyimpanan bahan baku dan bahan obat jadi harus dipisahkan
c. Untuk memudahkan pengontrolan obat dan pengambilan obat, obat
disimpan secara alfabetis
d. Alat-alat kesehatan disimpan terpisah dari obat-obatan
e. Obat atau bahan obat yang telah kadaluarsa, disimpan terpisah untuk
dimusnahkan atau dikembalikan kepada PBF
Metode yang digunakan dalam penyimpanan obat, bahan baku dan
alat kesehatan berdasarkan FIFO (First in Frist Out) dan FEFO (First Exp
First Out). FIFO yaitu obat yang pertama masuk dikeluarkan terlebih

31

dahulu,

sedangkan

obat

yang

baru

datang/diterima

dikeluarkan

belakangan. Sedangkan FEFO yaitu obat yang memiliki batas kadaluarsa


lebih dekat dikeluarkan terlebih dahulu dan untuk obat yang memiliki
batas kadaluarsa masih jauh dikeluarkan belakangan. Di Apotek Imam
Bonjol stock opname diloakukan satu tahun sekali.
Sedangkan penyimpanan obat diruang peracikan adalah sebagai
berikut:
a. Obat yang disimpan diruang peracikan disusun didalam laci
b.
c.

berdasarkan urutan abjad


Bahan baku obat disimpan tersendiri dan disusun berdasarkan abjad
Sirup, tetes mata, tetes hidung, tetes telingan, salep mata dan salep

d.
e.
f.
g.

kulit disimpan tersendiri dan disusun sesuai abjad


Alat kesehatan disimpan tersendiri
Obat generik disimpan dalam laci khusus dan diurutkan sesuai abjad
Obat golongan narkotik disimpan dalam lemari tersendiri dan terkunci
Obat keras tertentu (psikotropik) disimpan dalam lemari tersendiri dan

terkunci
h. Obat yang berada diruangan resep counter disimpan berdasarkan
golongan obat dan bentuk sediaan
5) Pencatatan
Barang yang sudah diterima dicatat dalam buku penerimaan
barang, pencatatan dilakukan berdasarkan faktur pembelian. Selanjutnya
faktur pembelian diserahkan kebagian administrasi serta disimpan hingga
waktu jatuh tempo.
6) Pembayaran
Pembayaran yang jatuh tempo dikumpulkan untuk dilunasi
pembayarannya.faktur dapat dilakukan secara konstan maupun kedit,
tergantung pada perjanjian dengan pihak PBF. Sistem pembayaran ini
ditetapkan oleh PBF dan dapat pula diatur dengan perjanjian bersama PBF.
7) Pelaporan

32

Di Apotek Imam Bonjol laporan penggunaan narkotik dibuat setiap


bulan. Laporan ini berisi nama sediaan, persediaan awal bulan pemasukan,
persediaan akhir bulan dan keterangan laporan dibuat 4 rangkap, ditujukan
untuk Kepala Dinas Kesehatan Kota, tembusan untuk Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM dan arsip apotek.
8) Penjualan
Penjualan obat di Apotek Imam Bonjol dengan resep dokter, dan
obat-obat lain dapat dijual tanpa resep dokter, misalnya: obat generik, obat
bebas terbatas dan obat wajib apotek yang generik maupun yang paten dan
alat-alat kesehatan. Di Apotek Imam Bonjol harga obat dengan resep sama
dengan harga obat yang dijual bebas.
9) Pengembalian dan Pemusnahan Menurut UU
Pengembalian obat di Apotek Imam Bonjol dilakukan sesuai
dengan perjanjian dari PBF yang bersangkutan, misalnya ada obat-obatan
tertentu yang sebelum 3 bulan masa expired date harus dikembalikan ke
PBF yang bersangkutan, tetapi untuk obat-obat yang bersegel yang sudah
digunakan tidak bisa dikembalikan, misalnya obat dalam botol yang sudah
terpakai setengahnya. Sehingga setiap periode harus dilakukan pengecekan
terhadap obat dan kartu stok. Dalam periode dan pemusnahan obat harus
dibuat berita acara dan dalam memusnahkan obat psikotropik dan narkotik
dihadari oleh satu orang dari BPOM, satu orang dari Dinas Kesehatan
setempat, Apoteker Pengelola Apotek dan didampingi oleh Apoteker
Pendamping.

33

BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN PKL

4.1 Jenis Dan Bentuk Kegiatan PKL


Adapun bentuk kegiatan yang dilakukan di Apotek Imam Bonjol antara lain:
No
1

Jenis Aktivitas
Mempelajari struktur

Sub Aktivitas
a. Mengetahui struktur organisasi di

organisasi di apotek

apotek
b. Mengetahui tugas pokok dan fungsi

masing-masing struktur di apotek


Mempelajari dokumen a. Mengetahui tentang alur pembukuan di
dan administrasi di

apotek
b. Mengetahui tentang pencatatan kartu

apotek
stok pembuatan dan pengarsipan surat
pemesanan (narkotika, psikotropika
dan obat keras), pembuatan laporan

Mempelajari jenis
obat yang ada

psikotropika dan narkotika


c. Pengamatan faktur obat/barang
a. Mengetahui cara penataan dan
penyimpanan obat
b. Mengetahui beberapa contoh jenis-

diapotek
jenis obat bebas, obat bebas terbatas,
obat keras, obat psikotropik dan obat
4

Mempelajari alur
pengadaaan obat,

narkotik
a. Mengetahui rencana pengadaan obat di
apotek
b. Mengetahui seleksi obat yang akan

perencanaan, seleksi
serta penerimaan dan

dipesan
c. Mengetahui cara pemesanan obat

34

penyimpanan obat
(obat bebas, obat

d. Mengetahui cara penerimaan dan


penyimpanan obat

bebas terbatas, obat


keras, psikotropika
5

dan narkotika)
Mempelajari
pelayanan obat

a. Mengetahui alur pembelian obat untuk


pasien tanpa resep
b. Mengetahui cara melakukan

swamedikasi
6

Melayani resep dokter


serta memberikan
informasi obat

swamedikasi
a. Mengetahui cara membaca resep
b. Mengetahui cara analisis resep
c. Mengetahui cara pengerjaan dan
penyiapan resep obat jadi
d. Mengetahui cara pengerjaan dan
penyiapan resep obat racikan
e. Mengetahui cara menuliskan etiket
yang benar
f. Mengetahui cara memberikan

Mengetahui cara

informasi obat pada pasien


a. Mengetahui cara pengarsipan resep
b. Mengetahui cara dokumentasi resep

pengarsipan,
dokumentasi resep

psikotropika dan narkotika


c. Mengetahui cara pemusnahan resep

dan pemusnahan resep


4.2 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang kami lakukan selama diapotek Imam Bonjol
sebagai berikut:

35

a. BAB V
b. KESIMPULAN DAN SARAN

36

c. DAFTAR PUSTAKA

37

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

38

k.

Lampiran 1 : Denah lokasi bangunan apotek Imam

Bonjol
l.
m.
n.

39

o.

Lampiran 2 : Denah bangunan (lay Out) Apotek Imam Bonjol

p.

40

q.

3 : Etiket
r.

41

s.
t.

u.
v.

w.

x.
y.
z.
aa.
ab.

Etiket Obat Dalam

ac.
ad.

ae.

af.
ag.
ah.
ai.
aj.

Etiket Sirup Obat Dalam

ak.
al.
am.Eti
ket

42

Obat
Luar

43

an.
ao.
ap.

Lampiran 4 : Salinan Resep

aq.

ar.
as.
at.
au.

av.

Lampiran 6 : Surat Pesanan Psikotropika


aw.
ax.
ay.
az.

ba.
bb. Lampiran 7 : Surat Pesanan Obat Prekursor
bc.
bd.
be.

Lampiran 8 : Kartu
bf.
Stock
bg.

Lampiran 8 : Kartu
Stock

bh.

bi.
bj.
O
ba
t
B
eb
as

bk.
bl.
bm.
bn.
bo.
bp.

bq.
br. Narkotika, Prekursor, dan Psikotropika

bs.
bt.
bu.

Lampiran 9 : Faktur

Lampiran 10 :
bv. Obat
Penyimpanan
bw.
bx.
by.

bz.
ca.
cc.
cd.
ce.
cf.
cg.
ch.
ci.

cb.
OTC (Over The Counter)
Generik

Stock Obat

cj.
cl.
cm.
cn.
co.
cp.
cq.
cr.

ck. Obat Narkotika dan Psikotropika

Lampiran 10 :
Penyimpanan Obat

cs.
ct.
cu.
Sirup

Stock Obat Paten

Obat

cv.
cw.
cy.
cz.
da.
db.
dc.
dd.
de.
df.

dh.

cx. Obat Generik

Obat Sirup Generik

dg.

di.

dj. Injeksi, Salep dan Krim


Buku Apotek

dk.

Obat Diabetes

dan Obat Kaleng

dl.
dm.
dn.
do.

dp.
dq.
dr.