Anda di halaman 1dari 5

LTM-5 PERPINDAHAN KALOR

Nama
NPM

: Adlimatul Putri Ilmiyah


: 1406531851

Kelompok : 7 (Tujuh)
Judul pemicu : Perpindahan Kalor Radiasi
Outline

: I. Mekanisme Proses Penghambatan Radiasi Termal


dari Bumi oleh Gas
Rumah Kaca
II. Benda Kelabu

I. Mekanisme Proses Penghambatan Radiasi Termal dari Bumi oleh


Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca merupakan gas-gas yang dapat memicu
meningkatnya panas di permukaan bumi (global warming), gas ini
dapat berupa karbondioksida, uap air, kloroflurokarbon (CFCs), metana
dan nitrogen oksida. Meningkatnya gas rumah kaca tersebut dapat
menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri
diartikan sebagai proses masuknya radiasi dari matahari dan
terjebaknya radiasi tersebut di atmosfer sebagai akibat dari adanya
gas rumah kaca sehingga menaikkan suhu permukaan bumi. Sekitar
70% radiasi yang terjebak memberikan kehangatan bagi makhluk
hidup di bumi. Dengan demikian sebenarnya efek rumah kaca tidaklah
buruk, karena tanpa efek tersebut rata-rata suhu permukaan di bumi
-18oC.
Setiap benda dengan suhu permukaan diatas 0 K memancarkan
radiasi, dan setiap radiasi mempunyai sifat gelombang. Suhu
permukaan menentukan kisaran panjang gelombang energi yang
dipancarkan. Misalnya saja, radiasi dari matahari yang sampai ke bumi
termasuk radiasi dengan panjang gelombang pendek, antara 0,2
sampai dengan 4,0 mikrometer. Sementara itu, radiasi dari permukaan
bumi dalam bentuk gelombang infra merah mempunyai gelombang
lebih panjang yaitu antara 4,0 sampai dengan 100 mikrometemer.
Gas-gas yang membentuk atmosfer seperti uap air dan gas rumah
kaca relatif transparan terhadap radiasi-radiasi bergelombang pendek,
tetapi tidak terlalu transparan terhadap radiasi bergelombang
panjang. Oleh karenanya, gas-gas tersebut membiarkan setengah
radiasi matahari masuk ke permukaan bumi, tetapi menjebak 80-90%
radiasi didalam atmosfer. Radiasi yang terjebak inilah yang memberi
kehangatan bagi semua makhluk hidup di permukaan bumi.

Gambar 1. Proses Efek Rumah Kaca


(sumber : Herawan, Dedi . Ekologi Lingkungan)

Seiring dengan kemajuan zaman yang diawali dengan adanya revolusi industri terjadi
peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Peningkatan ini berasal dari berbagai sumber,
seperti CO2 dari industri, pembangkit listrik, pembakaran bahan bakar fosil dan
transportasi, sedangkan CH4 berasal dari lahan pertanian dan limbah yang tidak diproses.
Gas-gas tersebut menahan lebih banyak radiasi dari yang dibutuhkan oleh bumi dan
hasilnya suhu di permukaan bumi pun naik. Sumbangan emisi gas rumah kaca tertinggi
dihasilkan oleh gas CO2, hampir 55% emisi gas rumah kaca berasal dari gas tersebut.
Gas CH4 hanya berkontribusi sekitar 15%, namun gas ini 21 kali lebih berpotensi
menyebabkan efek rumah kaca daripada gas CO2. Hal ini berdampak pada kerusakan
lapisan ozon dan kenaikan suhu di bumi. Sedangkan gas N 2O memberikan kontribusi
terkecil dari kedua gas sebelumnya, yaitu sekitar 6%. Meskipun kecil kontribusinya
namun potensi terhadap efek rumah kaca paling tinggi, yaitu 296 kali dari CO2.
II. Benda Kelabu
Benda kelabu (grey body) ialah benda yang mempunyai emisivitas monokromatik
yang tidak bergantung dari panjang gelombang. Emisivitas monokromatik didefinisikan
sebagai perbandingan antara daya emisi-monokromatik benda itu dengan daya emisimonokromatik benda hitam pada panjang gelombang dan suhu yang sama. Jadi,

E E b

(1)

Emisivitas total benda itu dapat dihubungkan dengan emisivitas monokromatik


dengan memperhatikan beberapa faktor, sehingga menjadi

Eb

Eb d

T 4

(2)

Eb
di mana
ialah daya emisi benda hitam per satuan panjang gelombang. Jika
terdapat kondisi benda kelabu, artinya = kostan, maka persamaan diatas menjadi
sederhana.

(3)
Emisivitas berbagai benda mungkin berbeda sekali menurut panjang gelombang,
Eb
suhu, dan kondisi permukaan. Hubungan fungsi untuk
diturunkan oleh Planck
dengan menggunkan konsep kuantum untuk energi elektromagnetik. Penurunan itu
Eb

sekarang biasanya dilakukan dengan metode termodinamik statistik, dan


ternyata
berhubungan dengan densitas energi pada persamaan (8-2 Holman et. al) oleh
C1 5
u c
Eb C2 / T
Eb
e
1
4
atau
(4)

di mana
= panjang gelombang ( m) , T = suhu (K), C1 = 3,743 x 108 W.

4
2
4
m /m , C2 = 1,4287 x 10
m.K.
Eb
Grafik
sebagai fungsi suhu dan panjang-gelombang diberikan pada gambar >>
pada lampiran. Perhatikan bahwa puncak kurva pada suhu tinggi tergeser ke arah panjang
gelombang yang lebih pendek. Titik maksimum dalam kurva radiasi dihubungkan oleh
hukum peranjakan atau pergeseran Wein (Weins displacement law).

max T C3

dengan

C3 2897,6 m K

(5)

Adanya pergeseran titik maksimum kurva radiasi itu dapat menjelaskan perubahan
warna yang terjadi kalau benda dipanaskan. Oleh karena pita panjang gelombang yang

dapat dilihat mata terletak antara 0,3 dan 0,7


m, maka hanya sebagian kecil saja
spektrum energi radiasi pada suhu rendah yang dapat diindera mata. Ketika benda
dipanaskan, intensitas maksimum digeser ke arah panjang gelombang pendek, dan tanda
pertama memperlihatkan adanya kenaikan suu menjadi lebih tinggi, warna akan berubah
menjadi lebih terang. Fenomena ini terjadi karena banyak bagian radiasinya yang masuk
daerah tampak.
Fraksi total energi radiasi yang dipancarkan oleh 0 dan diberikan oleh
Eb0
Eb0

Eb d
Eb d

(6)
Persamaan ini dapat ditulis kembali dengan membagi kedua ruas persamaan dengan
T5,sehingga

Eb
C1

5
5
T
(T ) ( eC2 / T 1)

(7)
Sekarang untuk setiap suhu tertentu, integral persamaan fraksi total energi dapat
dinyatakan dengan variable tunggal T. Grafik perbandingan dalam persamaan fraksi
total energi disajikan dalam gambar 8-6 (holman et. al) dan daftar 8.1 (holman et. al.).
Jika kita ingin mendapatkan energi radiasi yang dipancarkan antara panjang gelombang
1 dan 2, maka
Eb
Eb
Eb 1 2 Eb0 0 2 0 1
Eb
Eb0

(8)
Eb0
di mana
ialah radiasi total yang dipancarkan pada keseluruhan panjang
gelombang,
Eb0 T 4
(9)
dan didapatkan dari integrasi rumus distribusi Planck untuk seluruh panjang
gelombang.
Contoh soal
Terdapat 2 buah bidang abu-abu yang keadaannya sbb:
Bidang I : T1 = 1540 ,

= 0,8

Bidang II : T2 = 540 ,

= 0,5

Hitunglah jumlah kalor yang dipindahkan antara bidang I dan bidang II (q = BTU/J. ft 2)
jika kedua bidang sangat luas, tetapi letaknya berdekatan satu dengan yang lain.
Jawaban:
a. Diketahui:
Bidang I : T1 = 1540 = 1999,67 R , 1 = 0,8
Bidang II : T2 = 540 = 999,67 R , 2 = 0,5
A1 = A2 = sangat luas.
Kedua benda berdekatan.
b. Ditanya:
Jumlah perpindahan kalor per satuan luas antara bidang I dan bidang II
c. Asumsi :
Tidak ada energi yang ditransmisikan oleh benda.
Kedua benda berada pada jarak yang sangat dekat (D mendekati nol).
Kedua benda berada pada posisi sejajar satu sama lain.
Kedua benda tidak melihat diri sendiri.
d. Jawaban:

Bidang dengan luas permukaan yang sangat luas (A ) memiliki resistansi


permukaan yang mendekati nol, sehingga akan menyebabkan bidang tersebut
berlaku seperti benda hitam dimana = 1,0.
Dengan mengasumsikan kedua bidang berada pada jarak yang sangat dekat (D
0), maka akan menyebabkan rasio dari

Y
D

dan

X
D

bernilai sangat besar,

yang akan menyebabkan nilai faktor bentuk benda mendekati 1 (F 1).

Gambar 2. Faktor bentuk radiasi antara bidang persegi panjang sejajar.


(Sumber: Holman,JP. Heat transfer edisi keenam)

q= A1 F 12 ( Eb 1E b 2 )
q
4
4
=F 12 ( Eb 1E b 2 )=F 12 ( T 1 T 2 )
A
q
BTU
=( 1 )( 1 ) 0,1714 x 108
( 1999,67 4999,674 ) R 4
2
4
A
Jf t R

q
BTU
=25700
2
A
Jf t

Daftar Pustaka :
Herawan, Dedi. 2006. Ekologi Umum. Tasikmalaya : Universitas Siliwangi Press.
Holman, J.P. 1997. Perpindahan Kalor Edisi Keenam (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.