Anda di halaman 1dari 10

SPESIFIKASI TEKNIS

Pasal 1
1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah :
Kegiatan
: Pembangunan Gedung Pemerintah VI
Nama Kegiatan : Penataan Lingkungan Gedung DPRD
Tahun Anggaran : 2014
1.2 Sarana Bekerja
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus menyediakan :
a. Tenaga kerja/tenaga ahli yang cukup memadai dengan jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan
b. Alat-alat bantu seperti alat-alat pengangkut dan peralatan penunjang lainnya yang
dipergunakan guna kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
c. Penyediaan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap
pekerjaan yang akan dilaksanakan tepat pada waktunya.
1.3 Cara Pelaksanaan
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan ketentuanketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), Gambar Rencana, Berita
Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk dari Konsultan Pengawas dan Pihak
Kegiatan.
Pasal 2
JENIS DAN MUTU BAHAN
Jenis dan Mutu Bahan yang dipakai diutamakan dari Produk Dalam Negeri sesuai
dengan Keputusan Bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri
Perindustrian, dan Menpen :
Nomor
Nomor
Nomor
Tanggal

:
:
:
:

472 / Kab / XII / 1980


813 / Menpen / 1980
064 / Menpen / 1980
23 Desember 1980

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

Pasal 3
PERATURAN TEKNIS YANG DIGUNAKAN
3.1 Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja
dan Syarat-Syarat (RKS) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan dibawah ini
termasuk segala perubahan dan tambahannya yaitu sebagai berikut:
a. Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrasi Teknik Dewan Teknik
Pembangunan Indonesia (DTPI).
b. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
c. Peraturan Muatan Indonesia
d. Ketentuan dan peraturan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan / Instansi Pemerintah
setempat yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
e. Pedoman tata cara Penyelenggaraan Pembangunan Gedung Negara oleh
Departemen Pekerjaan Umum.
f. Undang Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
g. Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi
h. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang /
Jasa Instansi Pemerintah.
i. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor :
S 42 / A / 2000
S 2262 / D2 / 05 / 2000
Tentang Petunjuk Teknis Pengadaan Barang / Jasa Instansi Pemerintah
j. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau
Algemene Voorwaarden Voor De Uitvoering Bij Aanneming Van Openbare
Werken (AV) 1941.
k. Peraturan Konstruksi Beton Indonesia (PKBI 1971).
l. Peraturan Beton Bertulang SK SNI T-15-1991-03
m. Peraturan untuk pemeriksaan bahan bahan bangunan Indonesia (PUBRI 1970).
n. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) 1961.
o. Peraturan Semen Portland Indonesia NI.08
p. Ketentuan peraturan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan / Instansi Pemerintah
setempat.
3.2 Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut diatas berlaku dan mengikat pula :
a. Gambar bestek yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Surat Keputusan Pemimpin Proyek tentang penunjukan Kontraktor.
e. Surat Perintah Kerja (SPK).
2

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

f. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang disetujui Konsultan


Pengawas dan Pihak Proyek.
g. Surat Penawaran beserta lampiran-lampirannya.

4.1

4.2

4.3
4.4

5.1

5.2

5.3

5.4

Pasal 4
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR
Kontraktor wajib meneliti semua Gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat
(RKS) termasuk tambahan dan perubahannya yangdicantumkan dalam Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
Bila Gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS), maka
yang mengikat adalah ketentuan yang ada dalam RKS. Bila suatu gambar berbeda
dengan gambar yang lainnya, maka gambaryang berskala besar yang berlaku.
Bila terdapat perbedaan antara Gambar Skala Besar dengan Gambar Skala Kecil,
maka yang dipakai adalah Gambar Skala Besar.
Bila perbedaan-perbedaan tersebut menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam
pelaksanaan menimbulkan kesalahan, maka kontraktor wajib menanyakan kepada
Pengawas/Direksi dan Kontraktor harus mengikuti keputusannya.
Pasal 5
JADWAL PELAKSANAAN
Sebelum memulai pekerjaan nyata di lapangan, Kontraktor wajib membuat Rencana
Pelaksanaan Pekerjaan dan bagian-bagian pelaksanaan berupa Bar-Chart dan
Curva S.
Rencana kerja tersebut harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi /
Konsultan Pengawas, paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah Surat
Perintah Kerja (SPK) diterima Kontraktor.
Kontraktor wajib memberikan salinan rencana kerja rangkap 4 (empat) kepada
Direksi / Konsultan Pengawas. Satu salinan rencana kerja harus ditempel pada
dinding bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan
pekerjaan (prestasi kerja) di lapangan.
Konsultan Pengawas / Direksi akan menilai prestasi pekerjaan kontraktor
berdasarkan rencana kerja tersebut.

Pasal 6
KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN
6.1 Di lapangan pekerjaan, Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor atau
biasa disebut PELAKSANA LAPANGAN yang cakap untuk memimpin pelaksanaan
pekerjaan di lapangan yang mendapat kuasa penuh dari Kontraktor.
6.2 Dengan adanya pelaksana lapangan, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung
jawab sebagai maupun keseluruhan kewajibannya.
3

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

6.3 Kontraktor wajib memberitahu secara tertulis kepada Direksi dan Konsultan
Pengawas, nama dan jabatan Pelaksana Lapangan untuk mendapat persetujuan.
6.4 Bila dikemudian hari, menurut pendapat Direksi dan Konsultan Pengawas,
Pelaksana Lapangan dianggap kurang mampu atau tidak cakap memimpin
pekerjaan, maka akan diberitahukan kepada Kontraktor secara tertulis untuk
mengganti Pelaksana Lapangan.
Pasal 7
PENJAGAAN KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN
7.1 Kontraktor wajib menjaga keamanan di lapangan terhadap barang-barang milik
Proyek, Pengawas dan milik pihak ketiga yang ada di lapangan.
7.2 Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah dipasang atau belum,
menjadi tanggung jawab kontraktor dan tidak diperhitungkan dalam biaya pekerjaan
tambahan.
7.3 Apabila terjadi kebakaran, kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya baik yang
berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu kontraktor harus
menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan
pada tempat yang mudah dijangkau.
Pasal 8
SITUASI DAN UKURAN
8.1 Situasi
a. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, terutama keadaan tanah, sifat dan
luasnya pekerjaan dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga
penawarannya.
b. Kelalaian atau kekurang telitian Kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alas an
untuk mengajukan tuntutan.
8.2 Ukuran
Ukuran satuan yang digunakan disini semuanya dinyatakan dalam meter dan cm.

9.1
9.2
9.3
9.4

Pasal 9
SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN
Semua bahan bangunan yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang
telah ditentukan.
Konsultan Pengawas berwenang menanyakan asal bahan dan kontraktor wajib
memberitahukan.
Kontraktor wajib memperlihatkan contoh bahan sebelum digunakan. Contoh-contoh
ini harus mendapatkan persetujuan dari pengawas.
Bahan bangunan yang telah didatangkan Kontraktor di lapangan pekerjaan, tetapi
ditolak pemakaiaannya oleh Pengawas, harus segera dikeluarkan dan selanjutnya
4

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

dibongkar atas biaya Kontraktor dalam waktu 2 x 24 jam, terhitung dari jam
penolakan.
9.5 Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan Kontraktor tetapi ditolak oleh
pengawas, maka pekerjaan tersebut harus segera dihentikan dan selanjutnya
dibongkar atas biaya Kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh pengawas.
Pasal 10
PEMERIKASAAN PEKERJAAN
10.1 Sebelum memulai pekerjaan lanjutannya yang apabila pekerjaan ini telah selesai,
akan tetapi belum diperiksa oleh Pengawas, Kontraktor wajib memintakan
persetujuan kepada Konsultan Pengawas. Baru apabila Konsultan Pengawas telah
menyetujui bagian pekerjaan tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaan.
10.2 Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam (dihitung dari diterima
surat permohonan pemeriksaan, tidak dihitung hari raya/libur) tidak dipenuhi oleh
Pengawas, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang
seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui Pengawas, hal ini dikecualikan bila
Konsultan Pengawas minta perpanjangan waktu.
10.3 Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini, Pengawas berhak menyuruh
membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. Biaya
pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggung jawab Kontraktor.

11.1
11.2
11.3

11.4

11.5

Pasal 11
PEKERJAAN TAMBAH KURANG
Tugas mengerjakan pekerjaan tambah/kurang diberitahukan dengan tertulis atau
ditulis dalam buku harian oleh Pengawas serta persetujuan Pemberi Tugas.
Pekerjaan tambah/kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah
tertulis dari Pengawas atau persetujuan Pemberi Tugas.
Biya pekerjaan tambah/kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan
pekerjaan, yang dimasukkan oleh Kontraktor sesuai AV 41 artikel 50 dan 51 yang
pembayarannya diperhitungkan bersama dengan angsuran terakhir.
Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga
satuan yang dimasukkan dalam penawaran harga satuannya akan ditentukan lebih
lanjut oleh pengawas bersama-sama Kontraktor dengan persetujuan pemberi
tugas.
Adanya pekerjaan tambahan tidak dapat dijadikan alasan penyebab kelambatan
penyerahan pekerjaan, tetapi Pengawas / Bimbingan teknik Pembangunan (BPT)
dapat memperhitungkan perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan tambah
tersebut.

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

Pasal 12
LINGKUP PEKERJAAN
12.1 Pekerjaan yang akan dilaksanakan yaitu : Pekerjaan Jalan Aspal ( Lapisan Telpord,
Lapen, Latasir ), Pekerjaan Lantai Beton, Pekerjaan Sal.Air dan Pekerjaan
Kansteen.
12.2 Pekerjaan ini harus diserah terimakan oleh pemborong pada direksi setelah
pekerjaan selesai sama sekali.
Pasal 13
PEKERJAAN PERSIAPAN
13.1 Pembersihan Lokasi
Sebelum melakukan pekerjaan Kontraktor terlebih dahulu harus
membersihkan lokasi dari segala sesuatu yang dapat menggangu
kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan melakukan pembongkaran pada
bagian yang perlu berkenaan dengan pelaksanaan proyek atas biaya
Kontraktor.
Pekerjaan Pengukuran dan Penetapan Peil
Untuk menentukan Feil, Kontraktor bersama-sama dengan Direksi /
Pengawas Lapangan mengadakan pengukuran dan pengawasan patok
patok sesuai dengan Gambar Rencana agar tidak mengganggu
pelaksanaan pekerjaan dan kualitas konstruksi.
Kontraktor wajib membuat papan nama proyek sesuai dengan yang sudah
ditentukan.
Pasal 14
PEKERJAAN TANAH / URUGAN
14.1 Pekerjaan galian tanah untuk perbaikan pondasi, pembuatan pondasi/saluran tidak
disetujui oleh Direksi.
14.2 Pekerjaan galian tanah dilaksanakan untuk semua titik pondasi dan semua
pemasangan lainnya didalam tanah dan lain-lain yang harus dilakukan sesuai
gambar rencana. Tanah kelebihannya digunakan untuk urugan kembali atau
dibuang keluar lokasi.
14.3 Semua kotoran yang mengganggu harus dibersihkan dan disingkirkan
14.4 Untuk galian sedalam yang ditetapkan pada gambar kerja, lebar galian harus 10 cm
lebih dari pasangan arah kiri dan ke kanan galian, kemiringan harus cukup untuk
mencegah longsor tanah.
14.5
Galian tanah tidak boleh dibiarkan sampai lama se-telah pekerjaan disetujui
Direksi segera mulai dengan tahap berikutnya.
6

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

.
Pasal 15
PEKERJAAN JALAN ASPAL
15.1 Lapis Pondasi Telford adalah stuktur pondasi jalan terdiri dari susunan batu pecah
yang disusun di atas permukaan badan jalan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Kegiatan yang dilaksanakan adalah mengadaan material, mengangkut, menyusun,
memadatkan material pondasi yang terdiri dari pasir alas dan batu pecah.
15.2 Lapis Resap Ikat adalah lapisan dari aspal keras, aspal cair atau aspal emulsi yang
digunakan sebagai pengikat lapis fondasi perkerasan tanpa aspal dengan lapisan
beraspal yang di atasnya. Sedangkan Lapis Perekat adalah lapisan dari aspal keras,
aspal cair atau aspal emulsi yang digunakan untuk meningkatkan pelekatan antara
lapisan permukaan perkerasan beraspal dengan lapisan beraspal di atasnya.
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penyemprotan Lapis Resap Ikat atau Lapis
Perekat pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan
lapisan beraspal berikutnya.
15.3 Latasir adalah lapis penutup permukaan jalan yang terdiri atas agregat halus atau
pasir atau campuran keduanya dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan
dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu. Pemilihan Kelas A atau
B terutama tergantung pada gradasi pasir yang digunakan.
15.4 Cara Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan penyusunan batu pondasi jalan dilaksanakan, terlebih dahulu
dihamparkan pasir urug dengan ketebalan sesuai dengan gambar, rata dan padat
kemudian dilakukan Pemasangan Batu Telford yaitu batu pecah uk. 10/15 cm
disusun berdiri, kemudian batu pecah yang lebih kecil uk. 5/7 cm mengisi rongga
diatasnya sehingga rata kemudian digilas dan dipadatkan.
b.Pasir alas, dihampar di atas badan jalan yang telah disiapkan setebal 5 cm padat
c. Batu pokok (batuan utama) ukuran 10 - 15 cm, disusun di atas pasir alas yang telah
dipadatkan.
d.Batu pengunci ukuran 5/7 cm, berfungsi untuk mengunci/mengisi celah-celah
antara batuan pokok sehingga permukaan menjadi relatif rapat, kokoh dan
stabil.
e.Batuan harus memiliki minimal 3 (tiga) bidang pecah.
f. Pasir yang digunakan bersih, bebas dari kotoran-kotoran dan bahan-bahan organik
yang dapat mengganggu kestabilan konstruksi lapis pondasi.
g.Batu tepi disusun di tepi sisi luar lapis pondasi, sebagian batu tertanam di dalam
lapisan tanah dasar;
h.Pasir Alas dihampar dengan ketebalan sesuai dengan kondisi dan keperluan
lapangan, dipadatkan dengan cara disiram dengan air. Penghamparan pasir alas

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

sudah membentuk kelandaian melintang permukaan jalan sesuai kelandaian


rencana.
i. Batuan pokok disusun berdiri bagian yang tajam diletakan pada bagian bawah,
susunan batuan ini diatur sedemikian rupa sehingga membentuk formasi yang
rapat.
j. Batuan pengunci disisipkan pada celah-celah diantara batuan pokok, sehingga
seluruh celah terisi batu tertutup / terkunci oleh batuan ini.
k. Pemadatan dilaksanakan dengan menggunakan Three Wheel Roller atau mesin
gilas roda besi lainnya dengan berat minimal 4-6 ton dan kecepatan bergerak
maksimal 3 Km/jam. Pemadatan dihentikan apabila permukaan sudah cukup rapi,
tidak terdapat celah yang dapat mengganggu kestabilan konstruksi, rapat , kokoh
dan stabil.
l. Semprotkan aspal tack coat 0,8 L / m lalu hamparkan agregat pokok 3/5 cm dan
dipadatkan.
m. Hamparkan agregat 2/3 cm dan padatkan setelah itu semprotan aspal uk. 2,5
kg/ m (prime coat).
n. Hamparkan agregat pengunci split cm dan dipadatkan semprotkan aspal 1,5
kg/m dan gilas taburkan pasir rata-rata 100 m/m.
o. Pemadatan jalan menggunakan mesin gilai seberat 4 ton dengan cara digilas
berulang- ulang.
p.Setelah pekerjaan penyiraman aspal (Prime Coat) selesai kemudian dilanjutkan
dengan penghamparan penutup atau ditutup dengan aspal site setebal 2 cm serta
digilas padat.
q.Pekerjaan Latasir dimulai dengan membersihkan permukaan jalan dari kotorankotoran yang dapat merusak mutu aspal kemudian permukaan dilapisi dengan
tack coat dan selanjutnya hamparkan campuran latasir secara manual dan digilas
/ dipadatkan menggunakan mesin gilas dengan ketebalan sesuai dengan gambar
yang telah ditentukan.
Pasal 16
PEKERJAAN BETON
16.2

Pekerjaan Pengecoran Beton ( Lantai Garasi, Sal.Air dan Kansteen )

a. Ukuran / Volume pekerjaan mengikuti gambar kerja dan Volume yang ada pada RAB
b. Pekerjaan Beton ini menggunakan perbandingan campuran 1 Semen : 3 Pasir : 5
Batu Pecah.
c.

Bahan/Material yang dipakai adalah batu Split uk. 2/3 cm, 1/2 cm dan 0,5-1 cm. batu
harus bersih dan tidak mengandung zat organik yang dapat merusak kualitas beton.
Begitu juga material Pasir yang dipakai harus menggunakan pasir beton yang
berkualitas baik dan bebas dari kotoran yang dapat mengurangi mutu pasir
8

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

d. Untuk menghasilkan kualitas beton yang baik, air yang dipakai harus menggunakan
air yang bersih, tidak mengandung minyak/kadar garam yang tinggi
e. Sebelum memulai pengecoran diatas pasir urug harus dihampar lapisan
plastik/geotekstil (sesuai gambar kerja), yang berfungsi untuk menjaga kadar air
semen dan pekerjaan campuran beton ini harus dilaksanakan menggunakan alat
Concrete Mixer (molen) diaduk hingga rata dan menyatu agar menghasilkan kwalitas
beton yang baik
f.

Papan mal yang digunakan harus dipasang dengan kuat sehingga pada kegiatan
pengecoran papan mal tersebut tidak melengkung.

17.1

17.2

Pasal 17
PERSYARATAN BAHAN BAHAN DASAR BANGUNAN
Semen Portland
Semen Portland harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Semen Portland harus memenuhi persyaratan Standar Industri Indonesia (SII)
serta Standar NI.8 dan harus disetujui oleh Direksi / Pengawas Lapangan.
b. Direksi / Pengawas Lapangan berhak untuk memeriksa semen yang disimpan
didalam gudang pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat
menyatakan untuk menerima atau menolak semen tersebut.
c. Semen harus terlindung dari kelembaban.
d. Gudang / tempat penyimpanan harus cukup besar untuk memuat semen
dalam jumlah besar sehingga tidak menimbulkan kemacetan dalam
penerimaan atau pengeluaran barang / semen.
e. Setiap penerimaan semen harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat
dibedakan dengan penerimaan sebelumnya.
f. Pemakaian semen harus diatur sesuai dengan penerimaan dan zak zak
semen yang kosong harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
g. Pemborong harus mempunyai Kepala Tukang yang berpengalaman dalam
pengelolaan penerimaan dan pengeluaran semen, baik secara teknis maupun
administrasi.
Batu ( Agregat Kasar )
Bahan ini harus berasal dari batu gunung hasil pecahan-pecahan yang bervariasi
ukurannya antara 5-30 mm (disesuaikan dengan ketentuan dalam PBI 1971).
Mempunyai berat jenis minimal 2,40 ton / m3 dan berkekuatan tekan tidak kurang
dari 40 kg/m2, keras,kekar, bersih, penuh, bebas pori-pori dan bebas cacat belahbelah. Sama sekali tidak diperbolehkan untuk mempergunakan batu-batu bulat
berkulit lepas.

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat

17.2

17.4

Pasir ( Agregat Halus )


Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat alkali, bahanbahan yang mengandung organik dan kotoran-kotoran lain yang merusak.
Toleransi jumlah berat substansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5%. Pasir
beton harus memiliki modulus kehalusan antara 2-32 atau sesuai dengan
persyaratan PBI tahun 1971.
Air
Air yang dipakai untuk adukan semen atau pembuatan spesi harus menggunakan
air yang bersih, bebas dari bahan-bahan yang merusak dan memperngaruhi daya
rekat semen serta memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.

17.5

Tidak mengandung minyak/kadar garam yang tinggi dan bagian yang


melayang.
b.
Harus bereaksi netral atau sedikit alkalis-likmus.
c.
Kadar sulfat maksimum 1,5 atau 5 gr/l, kadar Chlor maksimum 1,5% atau
15 gr/l.
d.
Banyaknya KMNO yang diapakai untuk mengoreksi, maksimum 1.000
mg/ltr.
Kayu / Papan Mall
Kayu yang dipakai untuk mall adalah kayu Klas II / III berkualitas baik tanpa cacat,
tidak terdapat mata kayu, sehingga apabila dipasang tidak berkerut-kerut dan
tidak melengkung.
Pasal 18
PENUTUP

18.1 Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini dan pada waktu penjelasan
ternyata diperlukan, maka akan dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan.
18.2 Harga yang ditawarkan dalam pelelangan merupakan biaya lumpsum dan sudah
termasuk pajak-pajak, keuntungan, asuransi pelaksanaan (CAR) dan biaya
perijinan yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan pekerjaan.
18.3 Hal-hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan pemyesuaian dilapangan
akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas dengan Kontraktor dan bila
diperlukan akan dibicarakan bersama Konsultan Pengawas dan Pihak Kegiatan.

10

Rencana Kerja dan Syarat - Syarat