Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penggunaan laptop di kalangan mahasiswa seolah telah menjadi
kewajiban bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas maupun keperluan
lainnya. Hampir setiap hari mahasiswa menggunakan laptop.
Monitor komputer menghasilkan beberapa jenis radiasi, yang
kesemuanya tidak dapat diterima oleh panca indera kita. Adapun
gelombang dan radiasi yang dihasilkan oleh sebuah monitor adalah sinar
X, sinar ultraviolet, gelombang mikro, radiasi elektromagnetik frekuensi
sangat rendah. Studi yang dilakukan American Optometric Association
(AOA) mencetuskan bahwa radiasi komputer dapat menyebabkan
kelelahan mata dan gangguan mata lainnya.Selain itu, menurut dr Anang
Tribowo SPM, mata memiliki batasan untuk melihat sebuah objek yang
ada di depan. Juga, jumlah sinar dan ketajamannya menjadi penyebab
utama mata menjadi cepat lelah. Jika kondisi itu masih terus dipaksakan,
maka dapat memberikan dampak negatif pada otot-otot mata.
Berdasarkan survei yang dilakukan di kelas pendidikan biologi A,
30 dari 37 mahasiswa aktif menggunakan laptop setiap harinya. Tercatat
dari rentang 0-2 jam per hari sejumlah 2 mahasiswa, 3-4 jam per hari
sejumlah 11 mahasiswa, 5-6 jam per hari sejumlah 12 mahasiswa, 7-8
jam per hari sejumlah 5 mahasiswa.

Banyak

dari

mereka

yang

sering

menggunakan

laptop

mengeluhkan berbagai gangguan mata saat menggunakan laptop seperti


mata berair, mata perih, mata kering, mata merah, dan penglihatan kabur.
Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
lamanya penggunaan laptop dengan ketajaman penglihatan mahasiswa
Pendidikan Biologi A 2013.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaiamana keluhan gangguan mata yang dirasakan para mahasiswa?
2. Berapa lama mata pengguna laptop terpapar cahaya monitor?
3. Bagaimana hubungan lama penggunaan laptop dengan ketajaman
penglihatan mahasiswa?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui keluhan-keluhan gangguan mata yang dirasaka oleh
sebagian besar mahasiswa.
2. Mengetahui lama mata pengguna laptop terpapar cahaya monitor.
3. Mengetahui hubungan lama penggunaan laptop dengan ketajaman
penglihatan mata.

D. MANFAAT PENELITIAN
Bagi mahasiswa
Memberikan informasi mengenai lama penggunaan laptop yang
memberikan kemungkinan menurunnya tingkat ketajaman penglihatahan
seseorang, sehingga mahasiswa akan lebih bijak dalam menggunakan
laptop.
E. DEFINISI OPERASIONAL
1. Lama penggunaan laptop diukur dengan satuan jam per hari.
2. Variable terukur antara lain :
Durasi

Intensitas
Radiasi
Jarak
3. Laptop yang digunakan tanpa pelapis screen
4. Ketajaman penglihatan diukur dengan cara Tes Ketajaman
Penglihatan (Visus) menggunakan Optotip Snallen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
1. Tinjauan Umum Tentang Mata
a. Fisiologi Mata
Mata terletak dalam bantalan lemak yang dapat meredam
goncangan. Diameter bola mata manusia 2,5 cm. Mata dapat
bekerja secara efektif menerima cahaya dengan rentang intensitas
yang sangat lebar sekitar 10 milyar cahaya. Mata juga memiliki
sistem pengendali tekanan otomatis yang mempertahankan tekanan
internalnya untuk mempertahankan bentuk bola mata yaitu sekitar
1,6 kPa (12 mmHg).

Sumber: http:www.biotechfordummies.com
Gambar Anatomi Mata
b. Bagian-bagian yang terdapat pada mata manusia diantaranya:
1) Kelopak mata

Kelopak mata merupakan bagian pelindung bola mata karena


berfungsi sebagai proteksi mekanis pada bola mata anterior
yang menyebarkan film air mata ke konjungtiva dan kornea
sehingga dapatmencegah mata menjadi kering (Cameron, et
al, 2006: 15).
2) Retina
Pada retina terdapat sel batang dan sel kerucut. Sel batang
sangat peka terhadap cahaya tetapi tidak dapat membedakan
warna dan berfungsi untuk melihat pada siang hari.
Sedangkan sel kerucut kurang peka terhadap cahaya dan
dapat membedakan warna serta berfungsi untuk melihat pada
malam hari, Selain itu, terdapat dua buah bintik yaitu bintik
kuning (fovea) dan bintik buta (blind spot). Pada fovea
terdapat sejumlah sel saraf kerucut sedangkan pada blind
spot tidak terdapat sel batang maupun sel kerucut. Suatu
objek dapat dilihat dengan jelas apabila bayangan objek
tersebut tepat jatuh pada fovea. Bintik kuning (fovea)
berperan dalam penglihatan untuk melihat objek yang lebih
kecil seperti kegiatan membaca huruf kecil (Cameron, et al,
2006: 20).
3) Lensa
Lensa berbentuk bikonveks dan transparan serta terletak
dibelakang iris dan disokong oleh serabut-serabut halus
zonula. Lensa memiliki pembungkus lentur yang ditopang di
bawah tegangan oleh serat-serat penunjang. Lensa mata

berfungsi untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk


sehingga cahaya yang jatuh tepat difokuskan pada binting
kuning retina. Saat seseorang melihat objek yang jauh, otot
mata yang berfungsi memfokuskan bayangan berelaksasi,
tegangan ini menjaga agar lensa tetap tipis dan berada pada
dayanya yang paling rendah, dan mata berfokus pada objek
jauh. Sedangkat saat seseorang melihat objek yang dekat,
lensa mata akan menebal (Cameron, et al, 2006: 21).
4) Kornea
Kornea memiliki ketebalan 0,5 mm. Kornea memfokuskan
bayangan dengan membiaskan atau membelokkan berkas
cahaya. Besarnya pembiasan (refraksi) bergantung pada
kelengkungan permukaannya dan kecepatan cahaya pada
lensa dibandingkan pada benda sekitar (indeks bias relatif).
Indeks bias hampir konstan untuk semua kornea, tetapi
kelengkungan cukup bervariasi pada setiap orang dan
berperan besar dalam gangguan penglihatan. Apabila kornea
terlalu melengkung, mata akan berpenglihatan dekat. Sedang
jika kelengkungan pada kornea kurang maka mata akan
berpenglihatan jauh. Untuk kelengkungan yang tidak merata
akan menyebabkan astigmatisme (Cameron, et al, 2006:22).
5) Iris
Iris membentuk pupil di bagian tengahnya, suatu celah yang
dapat berubah ukurannya dengan kerja otot sfingter dan

dilator untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke


mata. Iris memiliki lapisan batas anterior yang tersusun dari
fibroblast dan kolagen serta stroma selular dimana otot
sfingter terletak di dalamnya yang dipersarafi oleh sistem
saraf parasimpatis.
6) Pupil
Bulatan hitam yang ada di tengah-tengah adalah pupil. Pupil
dapat mengecil sehubungan dengan fungsinya sebagai
pengatur kebutuhan cahaya yang diperlukan mata untuk
membantu proses penglihatan secara optimal. Dalam
pengamatan iridiologi, pupil yang tertekan ke bawah
merupakan indikasi adanya ketegangan syaraf yang berat.
Selain itu, pupil yang membesar dan melebar merupakan
indikasi kelelahan saraf atau deplesi.
2. Tinjauan Umum Tentang Proses Kerja Mata
Mata adalah alat indera kompleks yang berevolusi dari
bintik-bintik yang peka terhadap sinar pada permukaan invertebrata.
Di dalam wadahnya yang protektif, setiap mata memiliki lapisan
reseptor, sistem lensa yang memfokuskan cahaya ke reseptor
tersebut, serta sistem saraf yang menghantarkan impuls dari reseptor
ke otak (Haeny, 2009). Proses kerja mata manusia diawali dengan
masuknya cahaya melalui bagian kornea, yang kemudian dibiaskan
oleh aqueus humor ke arah pupil. Pada bagian pupil, jumlah cahaya
yang masuk ke dalam mata dikontrol secara otomatis, dimana untuk

jumlah cahaya yang banyak, bukaan pupil akan mengecil sedangkan


untuk jumlah cahaya yang sedikit bukaan pupil akan membesar.
Pupil akan meneruskan cahaya ke bagian lensa mata. Oleh lensa,
cahaya difokuskan ke baian retina melalui vitreous humour. Cahaya
ataupun objek yang telah difokuskan pada retina, merangsang sel
saraf batang dan kerucut untuk bekerja dan hasil kerja ini diteruskan
ke serat saraf optik, ke otak dan kemudian otak bekerja untuk
memberi tanggapan sehingga menghasilkan penglihatan. Sel saraf
batang bekerja untuk penglihatan dalam suasana kurang cahaya,
misalnya pada malam hari. Sedangkan sel saraf kerucut bekerja
untuk penglihatan dalam suasana terang. Misalnya pada siang hari
(Mendrofa, 2003: 19).
3. Tinjauan Umum Tentang Ketajaman Penglihatan
Ketajaman penglihatan adalah derajat

kemampuan

menentukan ciri dan bentuk benda. Ketajaman penglihatan adalah


fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh bermacam-macam
faktor. Factor tersebut termasuk factor optic, misal keadaan
mekanisme pembentukan bayangan di mata atau factor retina
misalnya keadaan sel kerucut dan faktor ransangan termasuk
penerangan, terangnya ransang dan latar belakang, serta lama waktu
ransang (William F. Ganong, 2003: 25).
Visus (vision) adalah tajam penglihatan atau kemampuan
melihat mata (Ilyas, 1988). Pemeriksaan dengan optotip snellen
menghasilkan visus yang dituliskan dengan sebuah bilangan
pecahan, pembilangnya adalah jarak antara orang yang membaca

dengan optotip, sedangkan penyebutnya merupakan jarak orang


normal dapat membaca dengan jelas huruf optotip, untuk persamaan
visus dapat di tulis sebagai berikut :
Visus: d/D
Keterangan :
d = jarak antaraorang yang membaca dengan optotip
D = jarak orang normal dapat membaca dengan jelas huruf
optotip
Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasai antara 6/4
hingga 6/6. Tajam penglihatan maksimum berada pada daerah fovea,
sedangkan beberapa factor seperti penerangan umum, kontras
berbagai uji warna, warna paparan, dan kelainan refraksi mata dapat
mengubah tajam penglihatan (Ilyas, 1997: 30).
Metode klinis untuk menyatakan besarnya tajam penglihatan
menggunakan kartu uji visus Snellen. Biasanya uji yang dipakai
untuk memeriksa mata diletakkan 20 kaki jauhnya dari orang yang
diuji, dan bila orang tersebut dapat melihat huruf-huruf dengan
ukuran yang memang seharusnya dapat dilihat pada jarak 20 kaki,
maka dikatakan penglihatan orang tersebut 20/20 yang merupakan
penglihatan normal. Bila ia hanya dapat melihat huruf-huruf yang
seharusnya mampu dilihat pada jarak 200 kaki, maka dikatakan
penglihatan orang tersebut sebesar 20/200, dengan kata lain metode
klinis yang dipakai untuk menyatakan besarnya tajam penglihatan
dapat menggunakan angka pecahan yang menyatakan rasio antara
kedua jarak, yang juga merupakan rasio tajam penglihatan seseorang
dibandingkan dengan tajam penglihatan pada orang normal.

Gambar Optotip Snellen

Ada
hal

banyak
yang

mempengaruhi
gangguan

bahkan

panurunan ketajaman penglihatan (Anonim, 2007).


a. Genetik
Gangguan atau penurunan ketajaman penglihatan dapat di
sebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Cara pewarisannya
kompleks karena melibatkan banyak variable. Penurunan
ketajaman penglihatan akan bertambah samasa remaja dan tidak
berkurang seiring usia. Hal ini terletak pada bentuk dan fungsi
organ penglihatan. Diketahui bahwa orang tua yang memiliki
sumbu bola mata panjang, kemungkinan besar akan melahirkan
anak-anak yang memiliki sumbu bola mata yang lebih panjang
pula dari anak-anak pada umumnya. Bayangan dari benda yang
terletak jauh akan berfokus di depan retina karena sumbu bola
mata lebih panjang. Untuk setiap mili meter tambahan panjang
sumbu, mata lebih miopik sebesar 3 D.
b. Pengalaman visual

10

Dalam hal ini adanya kejadian berulang yang menyebabkan


bayangan tidak jatuh pada retina, misalnya kebiasaan melihat
benda pada jarak yang terlalu dekat. Melihat disini termasuk saat
membaca, menonton televise atau bekerja di depan computer.
Pada anak-anak sebenarnya mata masih memiliki
kemampuan akomodasi, dimana sekalipun tengah melihat dekat
mata akan menyesuaikan diri untuk tetap dapat malihat secara
focus. Namun, bila hal ini dilakukan secara berulang dan terusmenerus tubuh sendiri akan memunculkan sinyal kimiawi yang
akan memacu perubahan arah pertumbuhan struktur bola mata.
Feknya dinding bila mata anak menjadi lebih lemah dan akhirnya
mudah memanjang. Bila ini terjadi anak akan rentan mengalami
miopi atau dengan bahasa awam mengalami minus.
c. Etnik
Etnis china atau tionghoa diketahui lebih rentan mengalami
miopi. Tak heran hamper 40-50% anak-anak di singapura
berkaca mata. Bahkan, sampai untuk tingkat mahasiswa, 70%
mahasiswa singapura menggunakan kaca mata.
Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan
fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan
untuk mengetahui sebab kelainan mata yang menyebabkan
turunnya tajam penglihatan. Tajam penglihatan perlu di catat
pada setiap mata yang memberikan keluhan gangguan pada
mata. Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang, dapat
dilakukan menggunakan kartu snellen.
Ukuran besarnya kemampuan mata untuk membedakan
bentuk dan rincian benda ditentukan dengan kemampuan melihat

11

benda terkecil yang masih bias dilihat pada jarak tertentu.


Biasanya pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan
melihat kemampuan mata membaca huruf-huruf berbagai ukuran
pada jarak baku untuk kartu. Hasilnya dinyatakan dengan angka
pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan normal. Pada keadaan
ini mata dapat melihat huruf pada jarak 20 kaki yang seharusnya
dapat dilihat pada jarak tersebut.
Mata lelah atau pegal adalah gangguan yang dialami mata
karena otot-ototnya dipaksa bekerja keras terutama saat harus
melihat objek dekatdalam jangka waktu lama. Otot mata sendiri
terdiri dari tiga sel-sel otot eksternal yang mengatur gerakan bola
mata, otot ciliaryang berfungsi memfokuskan lensa mata dan otot
iris yang mengatur sinar yang masuk ke dalam mata. Semua
aktivitas yang berhubungan dengan pemaksaan otot-otot tersebut
untuk bekerja keras, sebagaimana otot-otot yang lain akan bias
mebuat mata mengalami gangguan ini. Gejala mataakan terasa
pegal biasanya muncul setelah beberapa jam kerja. Pada saat otot
mata menjadi letih, mataakan menjadi tidak nyaman atau sakit.
Ini akan dapat mempengaruhi pandangan yang bias menjadi
samar karna terganggu kemampuan untuk focus. Melihat suatu
objek pada jarak yang sama terus-menrus akan dapat
menyebabkan otot-otot mata menjadi lelah, terutama pada orang
yang berkerja pada jarak yang sangat dekat dengan monitor
computer.

Beberapa

factor

penyebab

lain

yang

bias

menyebabkan hal ini adalah kesalahan menggunakan kaca mata

12

atau menggunakan kaca mata yang tidak sesuai, pencahayaan


yang kurang mendukung, masalah-masalah alergi atau mata
kering dan ketidak seimbangan susunan otot mata yang
mengakibatkan mata harus bekerja lebih keras untuk dapat
menangkap objek. Sebuah survey yang di lakukan di AS pernah
menemukan sekitar 90% pengguna komputersecara terusmenerus dengan rata-rata 3 jam seharipernah mengalami mata
lelah (Anonim, 2007).
d. Usia
Menurut NASD (National Aging Safety Database) usia yang
semakin lanjut, mengalami kemunduran dalam kemampuan mata
untuk mendeteksi lingkungan. Hal ini akan meningkatkan risiko
kecelakaan. Di usia 20 tahun, manusia pada umumnya dapat
melihat objek dengan jelas. Sedangkan pada usia 45 tahun
kebutuhan terhadap cahaya empat kali lebih besar. Pada usia 60
tahun, kebutuhan cahaya yang diperlukan untuk melihat jauh
lebih besar dibandingkan usia 45 tahun karena pada usia 45-50
tahun daya akomodasi mata menjadi berkurang.
Daya akomodasi merupakan kemampuan lensa mata untuk
menebal atau menipis sesuai dengan jarak benda yang dilihat
agar bayangan jatuh tepat di retina (Guyton, 1991). Ketajaman
penglihatan berkurang menurut bertambahnya usia. Pada tenaga
kerja berusia lebih dari 40 tahun, visus jarang ditemukan 6/6,
melainkan berkurang (Sumamur, 1996: 54).
Haeny (2009) menyebutkan bahwa semakin tua seseorang,
lensa semakin kehilangan kekenyalan sehingga daya akomodasi

13

makin berkurang dan otot-otot semakin sulit dalam menebalkan


dan menipiskan mata. Sebaliknya, semakin muda seseorang.
Kebutuhan cahaya akan lebih sedikit dibandingkan dengan usia
yang lebih tua dan kecenderungan mengalami kelelahan mata
lebih sedikit. Selain itu, menurut Ilyas (2008) usia juga
berpengaruh terhadap daya akomodasi. Semakin tua usia
seseorang, daya akomodasi akan semakin menurun. Jarak
terdekat dari suatu benda agar dapat dilihat dengan jelas
dikatakan titik dekat atau punktum proksimum. Pada saat ini
mata

berakomodasi

sekuat-kuatnya

atau

berakomodasi

maksimum. Sedangkan jarak terjauh dari benda agar masih dapat


dilihat dengan jelas dapat dikatakan bahwa benda terletak pada
titik jauh atau punktum remotum dan pada saat ini mata tidak
berakomodasi atau lepas akomodasi. Korelasi antara daya
akomodasi dan usia dapat dilihat dalam Tabel berikut :

Tabel
Korelasi antara Usia dan Daya Akomodasi

Umur (Tahun)

Titik Dekat
(cm)

10
20
30
40
50

7
10
14
22
40
14

60

200

Sumber: (Ilyas, 2008)


Computer Vision Syndrome (CVS) adalah salah satu dampak
negative dari pamakaian computer. Menurut The American
Optometric Association gejala yang ditimbulkan oleh CVS
terbagi atas ocular dan non-okular yag timbul setelah bekerja di
depan computer. Gejala CVS yang melibatkan ocular adalah
Asthenopia (Mata lelah), Dry Eye (Mata kering), iritasi mata
(Mata merah dan rasa terbakar), penglihatan buram. Sedangkan
gejala non-okuler berupa sakit kepala, nyeri otot leher dan
punggung.
Pathogenesis terjadinya CVS belum sepenuhnya di ketahui
tetapi secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian: mekanisme
yang berkaitan dengan perubahan permukaan ocular, mekanisme
akomodatif, dan mekanisme yang berkaitan dengan ekstraokular.
Pengguna computer sering mengeluhkan gejala mata kering (dry
eye), mata seperti berpasir dan mata terasa berat setalah berkerja
beberapa waktu didepan computer. Pada CVS, mata kering
adalah penyebab utama kelelahan pada mata. Beberapa factor
yang mempengaruhi terjadinya mata kering diantaranya adalah;
factor lingkungan, seperti penggunaan air kondisioner, kipas
angin, debu, penurunan reflex berkedip, peningkatan paparan
permukaan okuler, produksi air mata yang menurun, penyakit
sistemik atau local yang berkaitan dengan mata kering,
penggunaan lensa kontak dalam waktu yang lama. Huruf pada
layar computer sangat berbeda dengan teks pada kertas karena
15

terbentuk dari titik-titik kecil yang tersususn membentuk huruf


dan angka, telah dibuktikan bahwa mata lebih sulit focus pada
tulisan ini sehingga mata akan terus berakomodasi secara
berulang-ulang

agar

tulisan

menjadi

jelas

yang

akan

menyebabkan mata manjadi kering. Penggunaan computer terusmenerus menurunkan kekuatan akomodasi, perpindahan Near
Point of Convergence (NCP) dan deviasi foria untuk penglihatan
dekat dan menurunnya fungsi konvergen pada orang yang
menggunakan computer, dan penurunan amplitude akomodasi
sebelum dan sesudah bekerja di depan computer. Semua
perubahan pada akomodasai dan vergen dilaporkan terjadi
setelah bekerja di depan komputerdan bersifat reversible pada
akhir hari kerja atau hari libur. Gangguan tajam penglihatan
mempengaruhi organ lain seperti otot. Pengguna computer yang
melihat tulisan tidak jelas pada monitor akan memicu pergerakan
kepala, leher, dan bahu kedepan. Posisi seperti ini akan terus
dipertahankan sampai pengguna computer tersebut merasa nyeri
otot (Idhawati, 2007: 65).
Tajam penglihatan menetukan seberapa jelas pasien dapat
melihat. Pemeriksaan dilakukan dengan dan tanpa kacamata
yang digunakan. Rekaman tajam penglihatan dapat di tentukan
dalam presentasi; efisiensi tajam penglihatan pada penglihatan
sentral jauh (Ilyas, 2003). Tabel (Terlampir) Nilai Tajam
Penglihatan dalam Meter, Kaki dan Desimal.

16

Untuk

menghubungkan

tingkat

kehilangan

ketajaman

penglihatan dengan nilai ketajaman penglihatan jarak jauh


maupun dekat, kita dapat menggunakan referensi dari American
Medical Association yang dapat dilihat pada Tabel (Terlampir).
4. Tinjauan Umum Tentang Kelelahan Mata
Menurut Sumamur (1996) kelelahan mata timbul sebagai
stress intensif pada fungsi-fungsi mata seperti terhadap otot-otot
akomodasi pada pekerjaan yang perlu pengamatan secara teliti atau
terhadap retina sebagai akibat ketidaktepatan kontras. Kelelahan
mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan
indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan
untuk melihat dalam jangka waktu yang lama yang biasanya disertai
dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman (Haeny,2009 : 12).
Kelelahan mata dikenal sebagai tegang mata atau Astenophia
yaitu kelelahan ocular atau ketegangan pada organ visual dimana
terjadi gangguan pada mata dan sakit kepala berhubungan dengan
penggunaan mata secara intensif. Keletihan visual menggambarkan
seluruh gejala gejala yang terjadi sesudah stress berlebihan
terhadap setiap fungsi mata, diantaranya adalah tegang otot siliaris
yang berakomodasi saat memandang objek yang sangat kecil dalam
jarak yang sangat dekat. Menurut Ilyas (2008) terdapat tiga jenis
Astenophia yaitu Astenophia Acomodatif, Astenophia Muscullar, dan
Astenophia Neurastenik. Astenophia yang terjadi pada pekerja di
bagian administrasi tergolong ke dalam Astenophia Acomodatif yang
disebabkan oleh kelelahan otot siliaris akibat daya akomodasi.

17

Gejala-gejala Kelelahan Mata, menurut Ilyas (2008),


kelelahan mata disebabkan oleh stress yang terjadi pada fungsi
penglihatan. Stress pada otot akomodasi dapat terjadi pada saat
seseorang berupaya untuk melihat pada objek berukuran kecil dan
pada jarak yang dekat dalam waktu yang lama. Pada kondisi
demikian, otot-otot mata akan bekerja secara terus menerus dan lebih
dipaksakan. Ketegangan otot-otot pengakomodasi (otot-otot siliar)
makin besar sehingga terjadi peningkatan asam laktat dan sebagai
akibatnya terjadi kelelahan mata, stress pada retina dapat terjadi bila
terdapat kontras yang berlebihan dalam lapangan penglihatan dan
waktu pengamatan yang cukup lama.
Tanda-tanda kelelahan mata diantaranya:
a. Iritasi pada mata (mata pedih, merah, dan mengeluarkan
b.
c.
d.
e.

airmata).
Penglihatan ganda (double vision).
Sakit sekitar mata.
Daya akomodasi menurun.
Menurunnya ketajaman penglihatan, kepekaan terhadap kontras
dan kecepatan persepsi.
Gejala-gejala kelelahan mata diantaranya:

a. Nyeri atau terasa berdenyut di sekitar mata dan di belakang bola


mata.
b. Pandangan

kabur,

pandangan

ganda

dan

susah

dalam

memfokuskan penglihatan.
c. Pada mata dan pelupuk mata terasa perih, kemerahan, sakit dan
mata berair yang merupakan ciri khas terjadinya peradangan
pada mata.

18

d. Sakit kepala, kadang-kadang disertai dengan pusing dan mual


serta terasa pegal-pegal atau terasa capek dan mudah emosi.
e. Keadaan mata yang lelah ini dapat disebabkan oleh bahaya dari
monitor,

koreksi

penglihatan

yang

berkurang,

membaca

dokumen dengan ukuran huruf yang kecil, keadaan kontras yang


tidak seimbang antara teks dan latar belakang, kejapan pada
monitor yang nyata dan mata yang kering.
f. Penglihatan yang kabur dapat disebabkan oleh perubahan
fisilogis (akibat proses penuaan atau penyakit).
Hal ini juga dapat diakibatkan karena melihat benda secara
terus menerus dengan jarak 12 inchi dan membaca dengan cahaya
yang kurang. Mata kering dan iritasi. Keadaan ini terjadi jika
kekurangan

cairan

untuk

menjaga

kelembaban

mata

dan

berkurangnya intensitas refleks kedipan mata. Jumlah kedipan mata


bervariasi sesuai dengan aktivitas yang sedang dilakukan dan akan
berkurang saat sedang berkonsentrasi. Mata menjadi merah dan
berair, disebabkan karena pada saat menggunakan komputer mata
diproyeksikan terus menerus dengan melihat layar monitor sehingga
jumlah kedipan menjadi berkurang.
5. Tinjauan Umum Tentang Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Kelelahan Mata
a. Pencahayaan
Sumamur (1996) menyatakan bahwa pencahayaan yang baik
memungkinkan

tenaga

kerja

melihat

obyek-obyek

yang

dikerjakannya secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang


tidak perlu. Selain itu, penerangan yang buruk dapat berakibat

19

pada kelelahan mata dengan berkurangnya daya dan efisiensi


kerja. Pencahayaan tempat kerja yang memadai baik yang alami
atau buatan memegang peranan yang cukup penting dalam upaya
peningkatan kesehatan, keselamatan dan produktivitas tenaga
kerja. Baik tidaknya pencahayaan di suatu tempat kerja selain
ditentukan

oleh

kuantitas

atau

tingkat

iluminasi

yang

menyebabkan objek dan sekitarnya terlihat jelas tetapi juga oleh


kualitas dari pencahayaan tersebut diantaranya menyangkut arah
dan penyebaran atau distribusi cahaya, tipe dan tingkat kesilauan.
Demikian pula dekorasi tempat kerja khususnya mengenai warna
dari dinding, langit-langit, peralatan kerja ikut menentukan
tingkat penerangan di tempat kerja.
Fungsi utama pencahayaan di tempat kerja adalah untuk
menerangi objek pekerjaan agar terlihat secara jelas, mudah
dikerjakan dengan cepat, dan produktivitas dapat meningkat.
Pencahayaan di tempat kerja harus cukup. Pencahayaan yang
intensitasnya

rendah

(poor

lighting)

akan

menimbulkan

kelelahan, ketegangan mata, dan keluhan pegal di sekitar mata.


Pencahayaan yang intensitasnya kuat akan dapat menimbulkan
kesilauan. Penerangan baik rendah maupun kuat bahkan akan
menimbulkan kecelakaan kerja (Santoso, 2004: 98).
b. Pengukuran Pencahayaan
Pencahayaan diukur dengan menggunakan alat lux meter dan
dinyatakan dalam satuan lux (Sumamur, 1996). Penilaian
pencahayaan, menggunakan alat ukur light meter atau lux meter

20

untuk mengukur intensitas cahaya. Alat ini terdiri atas sebuah


fotosel sensitif yang menimbulkan arus listrik pada cahaya jatuh
pada permukaan sel ini. Pengukuran intensitas penerangan perlu
dilakukan meliputi intensitas penerangan umum dan lokal. Pada
penerangan umum perlu dilakukan di seluruh ruangan tempat
kerja termasuk mesin dan ruangan kosong. Pada penerangan
lokal dilakukan pengukuran di tempat (obyek) yang ingin
diketahui intensitasnya (Santoso, 2004: 102).
Menurut

Sumamur

(1996),

faktor

yang

menentukan

pencahayaan diantaranya:
1) Luminansi
Luminansi (luminance) adalah banyaknya cahaya yang
dipantulkan oleh permukaan obyek. Besaran ini mempunyai
satuan lilin/meter persegi. Semakin besar luminansi suatu
obyek, rincian obyek yang dapat dilihat oleh mata akan
semakin bertambah. Diameter bola mata akan semakin
mengecil sehingga akan meningkatkan kedalaman fokusnya.
2) Kontras
Kontras adalah hubungan antara cahaya yang dipancarkan
oleh suatu obyek dan cahaya dari latar belakang obyek
tersebut. Kontras didefinisikan sebagai selisih antara
luminansi objek dengan latar belakangnya dibagi dengan
luminansi latar belakang. Nilai kontras positif akan diperoleh
jika cahaya yang dipancarkan oleh sebuah obyek lebih besar
disbanding dengan yang dipancarkan oleh latar belakangnya.
Nilai kontras negatif dapat menyebabkan obyek yang

21

sesungguhnya terserap oleh latar belakang, sehingga


menjadi tidak Nampak. Jadi, obyek dapat mempunyai
kontras positif atau negatif tergantung dari luminansi obyek
itu terhadap luminansi latar belakangnya.
3) Kecerahan
Kecerahan (brightness) adalah tanggapan subyektif pada
cahaya. Tidak ada arti khusus dari tingkat kecerahan seperti
pada luminansi dan kontras, tetepi luminansi yang tinggi
berimplikasi pada kecerahan yang tinggi pula.
4) Kesilauan
Kesilauan dapat terjadi apabila perbedaan luminansi melebihi
perbandingan 40:1, namun pada umumnya terjadi karena
keterbatasan kemampuan mata dalam melihat. Permukaan
permukaan tempat kerja perlu dijaga dari kesilauan yang
mungkin dapat mengganggu pekerja.
c. Arah Pencahayaan
Dalam mengatur pencahayaan secara baik, sumber-sumber
cahaya yang cukup jumlahnya sangat berguna. Cahaya-cahaya
dari berbagai arah dapat meniadakan adanya gangguan yang
terjadi oleh bayangan.
d. Nilai Ambang Batas (NAB) Pencahayaan
Menurut Santoso (2004) Nilai Ambang Batas (NAB)
digunakan

sebagai

rekomendasi

dalam

melakukan

penatalaksanaan lingkungan kerja sebagai upaya pencegahan


pada dampak kesehatan. NAB pencahayaan ditetapkan menurut
Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964 tentang syarat-

22

syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat


kerja (pasal 14) sebagai berikut:
1) Pencahayaan yang cukup untuk halaman dan jalan-jalan
dalam lingkungan perusahaan, paling sedikit 20 lux.
2) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang hanya
membedakan barang-barang kasar, paling sedikit 50 lux.
3) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan
barang-barang kecil secara sepintas lalu, paling sedikit 100
lux.
4) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang hanya
membedakan barang-barang kecil yang agak teliti, paling
sedikit 200 lux.
5) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan
secara teliti barang-barang yang kecil dan halus, paling sedikit
300 lux.
6) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan
barang-barang yang halus dengan kontras yang sedang dan
waktu yang lama, paling sedikit 500-1000 lux.
7) Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan
barang-barang yang sangat halus dan kontras yang sangat
kurang untuk waktu yang lama, paling sedikit 1000 lux.
Selain itu, sumber cahaya yang dipergunakan harus
menghasilkan kadar pencahayaan yang tetap dan menyebar
serata mungkin serta tidak boleh berkedip-kedip. Tingkat
penerangan pada tempat-tempat kerja dengan komputer berkisar
antara 300-700 lux seperti berikut:
Tabel

23

Rekomendasi Tingkat Pencahayaan Pada Tempat Kerja dengan


Komputer
Keadaan Pekerja
Kegiatan Komputer dengan

Tingkat Pencahayaan (lux)


< 400

sumber dokumen yang


terbaca jelas

400-500

Kegiatan Komputer dengan


sumber dokumen yang tidak
terbaca jelas
Tugas memasukan data

> 500-700
Sumber: (Grandjean, 1988)

e. Durasi Penggunaan Komputer


Computer Vision Syndrome (CVS) dapat muncul segera
setelah pemakaian komputer dalam jangka waktu lama atau lebih
dari 4 jam. Berbagai gejala yang timbul pada pekerja komputer
yang bekerja dalam waktu lama selain diakibatkan oleh cahaya
yang masuk ke mata, juga diakibatkan karena mata seorang
pekerja komputer berkedip lebih sedikit dibandingkan pekerja
mata normal pekerja biasa sehingga menyebabkan mata menjadi
kering dan terasa panas. Durasi kerja bagi seseorang menentukan
tingkat efisiensi dan produktivitas kerja. Lamanya seseorang
bekerja

sehari

secara

baik

pada

umumnya

6-8

jam.

Memperpanjang jam kerja lebih dari kemampuan tersebut


biasanya tidak disertai efisiensi yang tinggi, bahkan biasanya
terlihat penurunan produktivitas serta kecenderungan untuk
timbulnya kelelahan, penyakit dan kecelakaan. Berdasarkan

24

survei yang dilakukan di Amerika tahun 2004 bahwa lebih dari


143 juta orang Amerika menghabiskan waktu di depan komputer
setiap hari dan rata-rata waktu kerja yang digunakan untuk
bekerja dengan komputer adalah 5,8 jam per hari atau 69% dari
total jam kerja mereka. Suatu pekerjaan yang biasa, tidak terlalu
ringan atau berat, sesudah 4 jam bekerja produktivitasnya akan
menurun. Keadaan ini terutama sejalan dengan menurunnya
kadar gula di dalam darah. Untuk itu, diperlukan waktu istirahat
dan asupan makanan untuk kembali meninggikan kadar bahan
bakar di dalam tubuh.
f. Istirahat mata
Ada tiga jenis istirahat bagi pengguna komputer, diantaranya:
1) Micro break yaitu mengistirahatkan mata selama 10 detik
setiap 10 menit bekerja, dengan cara melihat jauh (minimal 6
meter) diikuti dengan mengedipkan mata secara relaks.
2) Mini break yaitu mengistirahatkan mata setiap setengah jam
selama lima menit dengan cara berdiri dan melakukan
peregangan tubuh. Selain itu, lakukan juga melihat jauh
dengan objek yang berbedabeda.
3) Maxi break yaitu mengistirahatkan mata dengan melakukan
kegiatan seperti jalan-jalan, bangun dari tempat kerja, minum
kopi atau teh dan makan siang.
Setelah bekerja dengan komputer perlu mengistirahatkan
mata sejenak dengan melihat pemandangan yang dapat
menyejukkan mata secara periodik. Istirahat dalam waktu yang
singkat dan sering jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan
istirahat yang lama tetapi jarang (Santoso, 2009). Perubahan

25

fokus pada mata adalah cara lain untuk memberikan otot mata
kesempatan istirahat. Pekerja hanya membutuhkan memandang
ruangan atau ke arah luar jendela beberapa saat dan melihat
objek yang jaraknya kurang lebih 2 kaki (OSHA, 1997). Bila
pekerja terlalu lama melihat dalam jarak dekat maka pekerja
perlu mengalihkan pandangan ke arah yang jauh. Relaksasi atau
istirahat mata selama beberapa saat setiap 30 menit dapat
menurunkan ketegangan dan menjaga mata tetap basah.
Menurut National Institute for Occupational Safety and
Health (NIOSH) perlu dilakukan istirahat selama 15 menit
terhadap pemakaian komputer selama dua jam. Frekuensi
istirahat yang teratur berguna untuk memotong rantai kelelahan
sehingga akan menambah kenyamanan bagi pengguna komputer.
Selain itu, pekerja yang melakukan istirahat 5 menit selama 4
kali sepanjang waktu bekerja dapat mengurangi keluhan
kelelahan mata.
6. Tinjauan Umum Tentang Komputer
Jarak Monitor Komputer
Kelelahan mata dapat terjadi apabila mata difokuskan pada
objek yang berjarak dekat dalam waktu yang lama karena otot-otot
mata harus bekerja lebih keras untuk melihat objek yang berjarak
sangat dekat, terutama jika disertai dengan pencahayaan yang
menyilaukan. Jika seseorang bekerja melihat objek bercahaya di atas
dasar berwarna pada jarak dekat secara terus menerus dalam jangka
waktu tertentu mengakibatkan mata harus berakomodasi dalam

26

jangka waktu yang lama sehingga terjadi penurunan daya akomodasi


mata. Menurut Occupational Safety and Health Association (OSHA)
(1997) pada saat menggunakan komputer jarak antara mata pekerja
dengan layar sekurang-kurangnya adalah 20-40 inch atau sekitar 50100 cm. Monitor yang terlalu dekat dapat mengakibatkan mata
menjadi tegang, cepat lelah, dan potensi ganggguan penglihatan.
Jarak ergonomis antara layar monitor dengan pengguna komputer
berkisar antara 50 cm sampai dengan 60 cm.
7. Tinjuan Umum Tentang Radiasi Komputer
a. Radiasi Monitor
Salah satu peralatan komputer yang berpotensi menimbulkan
gangguan kesehatan adalah monitor. Seperti kita ketahui, layar
monitor memancarkan radiasi atau pemancaran partikel-partikel
elementer dan energi radiasi. Energi radiasi dapat mengeluarkan
elektron dari inti atom sehingga atom menjadi muatan positif dan
disebut ion positif. Sementara itu, elektron yang dikeluarkan
dapat tinggal bebas atau mengikat atom netral lainnya dan
membentuk ion negatif. Hal ini dapat menimbulkan dampak
buruk pada atom-atom di tubuh kita.
Radiasi yang dipancarkan monitor komputer antara lain
berupa:
1) sinar-X
2) sinar ultraviolet
3) gelombang mikro
4) radiasi elektromagnetik frekuensi sangat rendah.
Monitor yang memakai sistem CRT (Cathode Ray tube)
bekerja dengan cara memancarkan elektron-elektron . Elektron
ini menyapu layar dari kiri ke kanan dengan jalur-jalur dari atas

27

ke bawah dalam pola yang disebut raster CRT. Tabung Sinar


Katoda merupakan tabung pembungkus yang dibuat dari kaca
dan mengandung satu susunan penembak elektron dan
mengeluarkan berkas-berkas elektron yang diarahkan pada layar
fluoresen. Bila berkas tersebut terkena cahaya, maka layar
mengeluarkan sinar dengan gelombang yang lebih panjang.
Pancaran elektron ini menimbulkan cahaya yang terang.
Bergantung intensitas pancaran elektron tadi. Cahaya ini sangat
cepat menghilang. Untuk itu pancaran elektron harus tetap
menyapu layar secara teratur untuk mempertahankan bayangan
yang terjadi. Ini biasa disebut penyegaran ulang atau refresh
layar. Monitor umumnya memiliki laju penyegaran (vertical scan
rate) 60 hertz, yang maksudnya layar disegarkan kembali
sebanyak 60 kali per detik. Jika laju penyegaran rendah, maka
akan mengakibatkan layar tampak berkedip. Inilah yang
membuat mata kita lelah.
b. Pengaruh Radiasi Monitor terhadap Kesehatan Mata
Kelelahan mata dan sakit kepala, merupakan keluhan yang
paling banyak dikeluhkan para pemakai komputer, Computer
Vision Sindrome ( CVS ) sendiri merupakan kelelahan mata
yang dapat mengakibatkan sakit kepala, penglihatan seolah
ganda, penglihatan silau terhadap cahaya di waktu malam, dan
berbagai masalah penglihatan lainnya. Mata adalah organ tubuh
yang paling mudah mengalami penyakit akibat kerja, karena
terlalu sering memfokuskan bola mata ke layar monitor.

28

Tampilan layar monitor yang terlalu terang dengan warna


yang panas seperti warna merah, kuning, ungu, oranye akan
lebih mempercepat kelelahan pada mata. Selain dari itu, pantulan
cahaya (silau) pada layar monitor yang berasal dari sumber lain
seperti jendela, lampu penerangan dan lain sebagainya, akan
menambah beban mata. Pencahayaan ruangan kerja juga
berpengaruh pada beban mata. Pemakaian layar monitor yang
tidak ergonomis dapat menyebabkan keluhan pada mata.
Berdasarkan hasil penelitian, 77 % para pemakai layar monitor
akan mengalami keluhan pada mata, mulai dari rasa pegal dan
nyeri pada mata, mata merah, mata berair, sampai pada iritasi
mata bahkan kemungkinan katarak mata.

Bila operator

komputer menggunakan soft lens (lensa mata), kelelahan mata


akan lebih cepat terasa, karena mata yang dalam keadaan
memfokuskan ke layar monitor akan jarang berkedip sehingga
bola mata cepat menjadi kering dan ini menyebabkan timbulnya
gesekan antara lensa dan kelopak mata. Ruang berpendingin
(AC) akan lebih memperparah gesekan tersebut, karena udara
ruangan ber AC akan kering sehingga air mata akan ikut
menguap.
Kemudian terkena Asthenopia, yaitu pupil mata menjadi
lambat bereaksi terhadap cahaya, karena terlalu lama terkena
cahaya yang berlebihan. Disamping astenopia, akibat kerja mata
yang

berlebihan

di

depan

29

komputer

juga

berpotensi

mempengaruhi produktivitas hormon melatonin dalam tubuh.


Hormon ini mulai diproduksi oleh tubuh ketika matahari mulai
tenggelam. Produksi hormon melatonin bertambah pada malam
hari, terutama pada suasana hening dan gelap sehingga
menyebabkan orang mudah tertidur. Namun, produksi hormon ini
berkurang oleh adanya rangsangan dari luar, misalnya cahaya
serta medan elektromagnet. Cahaya maupun pajanan medan
elektromagnet dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang
lama dapat menurunkan produksi hormon melatonin dan
berpotensi menimbulkan berbagai keluhan, termasuk sakit kepala,
pusing, dan keletihan, serta insomnia (susah tidur).
c. Cara Melindungi Mata dari Radiasi Monitor
Pengguna komputer sangat dianjurkan melindungi mata dari
radiasi monitor pada komputer, caranya antara lain :
1. Menggunakan pelindung layar komputer atau filter, pilih layar
komputer yang tingkat radiasinya rendah seperti layar liquid
crystal display (LCD), jaga jarak pandang mata dengan
monitor yakni idealnya 45 cm.
2. Sesuaikan posisi layar komputer dengan mata. Artinya jangan
ketinggian

dan

jangan

terlalu

rendah

karena

bisa

menyebabkan sakit pada leher. Jika posisi monitor ketinggian


dari pandangan mata akan menggangu pasokan udara ke otak.
Untuk itu sebaiknya layar monitor diposisikan sejajar dengan
pandangan mata. Guna mencegah kelelahan mata sebaiknya
tempatkan monitor dengan posisi yang ergonomis. Monitor
harus ditempatkan pada posisi 16-30 inci dari mata,

30

tergantung seberapa besar layar. Umumnya posisi yang


nyaman untuk menatap monitor adalah 20 hingga 26 inci.
3. Bagi pengguna komputer jika jarang mengedipkan mata akan
membuat matanya menjadi kering.

Karena itu sering

berkedip, karena dengan berkedip mata akan mengeluarkan


air mata yang akan menyebar ke seluruh permukaan kornea
untuk menjaga mata tetap lembab dan jernih
4. Hal penting lainnya adalah pencahayaan yang terlalu terang
atau terlalu buram tidak baik bagi kesehatan mata.
Pencahayaan yang terlalu terang akan membuat mata menjadi
silau, sedangkan pencahayaan yang terlalu buram membuat
mata bekerja lebih keras untuk melihat. Hal ini akan membuat
mata menjadi cepat lelah. Untuk itu, cobalah sesuaikan
pencahayaan dan kontras monitor hingga mata bisa melihat
dengan nyaman.
5. Jangan lupa juga untuk menyesuaikan resolusi dengan
karakter di monitor agar dokumen- dokumen mudah dibaca.
Upaya lainnya jangan terus-terusan pandang layar komputer.
Usahakan

sediakan

mengendorkan

waktu

dan

beberapa

mengistirahatkan

menit
mata

untuk
dengan

mengalihkan perhatian. Ini akan mengurangi kepenatan mata


dan otot. Segarkan mata dengan cara memandang ke ruangan
lain atau memandang indahnya langit biru atau tanaman hijau.
B. KERANGKA BERPIKIR
Lama Penggunaan

Genetis

Pengalaman Visual
Jarak Mata dengan Monitor
Ketajaman Penglihatan (Visus)
Etnis
Umur

31

Kecerahan Monitor

32

BAB III
METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN
Pada penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Deskriptif
B. WAKTU DAN TEMPAT
1. Waktu penelitian : Bulan April 2016
2. Tempat Penelitian : FMIPA UNY
C. SUBJEK PENELITIAN
Sepuluhmahasiswa anggota kelas Pendidikan Biologi A angkatan
2013 yang menyatakan mengalami gangguan ketajaman mata ketika
menggunakan laptop lebih dari 5 jam perhari.
D. BAHAN PENELITIAN DAN CARA KERJA
1. Alat dan Bahan
a. Optotip Snellen
b. Alat Penunjuk
c. Angket pengguna laptop
2. Mekanisme kerja
a. Naracoba berdiri pada jarak 6 meter dari optotip snellen
b. Kedua mata naracoba tidak ditutup
c. Penguji menunjuk huruf pada optotip snallen
d. Naracoba menyebutkan huruf yang dilihatnya
e. Melakukan langkah yang sama dengan salah satu mata
ditutup (mata kiri dan kanan)
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
berupa:
1. Teknik Angket (Kuesionare)
2. Teknik Wawancara
3. Teknik Observasi
F. TEKNIK ANALISIS DATA
Pada penelitian ini meggunakan teknik analisis data Deskriptif.

33

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Visus

Normal

Sedang

Berat

Hasil Tes Ketajaman Mata


Tes ketajaman penglihatan dilakukan dengan menggunakan optotip
snellen. Ada tiga kategori untuk tes ketajaman penglihatan dengan
menggunakan optotip snellen yaitu kategori normal, sedang dan berat.
Kategori normal jika hasil tes ketajaman penglihatannya 6/6 sampai 6/9.
Kategori sedang jika hasil tes ketajaman penglihatannya 6/12 sampai 6/30.
Kategori berat jika hasil tes ketajaman penglihatannya 6/60 sampai hanya
melihat lambaian penujuk dan tidak terlihat sama sekali. Tes ini dilakukan
dengan semua naracoba tidak menggunakan kaca mata. Setelah dilakukan
tes ketajaman penglihatan menggunakan optotip snellen diperoleh hasil
sebagai berikut: ketika dilakukan tes dengan kedua mata, maka dari empat
belas naracoba yang masuk kategori normal ada 12 naracoba, yang masuk
kategori sedang tidak ada dan yang masuk kategori berat ada 2 naracoba.
Ketika dilakukan tes dengan satu mata, yaitu mata kanan maka dari empat
belas naracoba yang masuk kategori normal ada 7 naracoba, yang masuk
34

kategori sedang ada 5 naracoba dan yang masuk kategori berat ada 2
naracoba. Ketika dilakukan tes dengan satu mata, yaitu mata kiri maka dari
empat belas naracoba yang masuk kategori normal ada 11 naracoba, yang
masuk kategori sedang ada 1 naracoba dan yang masuk kategori berat ada 2
naracoba. Jadi, dari hasil tes ketajaman penglihatan dapat dilihat antara mata
kanan dengan mata kiri yang lebih banyak mengalami penurunan fungsi
adalah mata kanan. Pada saat dilakukan tes dengan kedua mata hasilnya
lebih baik karena ada kerjasama antara mata kanan dengan mata kiri. Jika
mata kanan sudah bermasalah, maka mata kiri akan membantu di dalam
melihat sehingga ketika dilakukan tes dengan kedua mata maka ketajaman
penglihatannya akan semakin baik.

HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN LAPTOP DENGAN HASIL TES KETAJAMAN

5 jam

6 jam

7 jam

8 jam

Hubungan Lama Penggunaan Laptop dengan Hasil Tes Ketajaman

Hasil

pengisian

angket

tentang

lama

penggunaan

laptop

dikategorikan menjadi 4 yaitu yang menggunakan laptop selama 5 jam, 6


jam, 7 jam dan 8 jam. Tes dilakukan dengan kedua mata, mata kanan dan
35

mata kiri. Hasil tes dikategorikan normal, sedang dan berat. Kategori normal
untuk kedua mata pada penggunaan selama 5 jam 41,7% ; 6 jam 25% ; 7
jam 25% ; 8 jam 8,3%. Mata kanan pada penggunaan selama 5 jam 57,1% ;
6 jam 28,6% ; 7 jam 0% ; 8 jam 14,3%. Mata kiri pada penggunaan selama
5 jam 45,5% ; 6 jam 18,2% ; 7 jam 27,3% ; 8 jam 9,1% . Berdasarkan hasil
yang masuk kategori normal, untuk kedua mata membentuk pola yang
penggunaan 5 jam banyak yang normal dibanding dengan penggunaan 8
jam. Tetapi untuk mata kanan dan mata kiri tidak membentuk pola. Kategori
sedang untuk kedua mata pada penggunaan 5 jam, 6 jam, 7 jam, 8 jam
adalah 0%. Mata kanan pada penggunaan 5 jam 20% ; 6 jam 20% ; 7 jam
60% ; 8 jam 0% . Mata kiri pada penggunaan 5 jam, 7 jam, 8 jam adalah 0%
, untuk 6 jam 100%. Berdasarkan hasil yang masuk kategori sedang baik
kedua mata, mata kanan dan mata kiri tidak membentuk pola. Kategori berat
untuk kedua mata pada penggunaan 5 jam 50% ; 6 jam 50% ; 7 jam dan 8
jam adalah 0%. Mata kanan pada penggunaan 5 jam 50% ; 6 jam 50% ; 7
jam dan 8 jam adalah 0%. Mata kiri pada penggunaan 5 jam 50% ; 6 jam
50% ; 7 jam dan 8 jam adalah 0%. Berdasarkan hasil yang masuk kategori
berat baik kedua mata, mata kanan dan mata kiri terjadi pola yang sama
untuk penggunaan 5 jam dan 6 jam ada 50% tetapi penggunaan 7 jam dan 8
jam 0%.
Semakin

lama

seseorang

menggunakan

laptop

maka

akan

berpengaruh terhadap ketajaman penglihatan. Berbagai gejala yang timbul


pada pekerja komputer yang bekerja dalam waktu yang lama selain
diakibatkan oleh cahaya yang masuk ke bola mata, juga dikarenakan mata

36

seorang pekerja ketika menatap komputer maka kedipan mata berkurang


sebesar 2/3 kali lebih sedikit dibandingkan normal. Berkurangnya kedipan
menyebabkan mata menjadi kering, teriritasi, tegang, lelah dan terasa
terbakar (Wardhana, 1996; Sitzman, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian ini, hasilnya tidak sesuai dengan teori,
hal ini disebabkan karena keperluan di dalam menggunakan laptop berbeda
sehingga radiasi yang diterima mata juga berbeda, ada yang menggunakan
pencegahan misalnya dengan mengonsumsi vitamin A tetapi ada juga yang
tidak.

HUBUNGAN JARAK DENGAN TES HASIL KETAJAMAN

11-20 cm

21-30 cm

31-40 cm

41-50 cm

Hubungan Jarak dengan Hasil Tes Ketajaman


Pada hasil praktikum diperoleh jarak mata naracoba terhadap
laptop yang memenuhi jarak pandang aman minimum terhadap monitor ada
4 naracoba dengan jarak 41-50 cm, sedangkan 10 naracoba jarak pandang

37

ke monitor < 40 cm. Bahkan ada 1 naracoba yang jarak pandang ke monitor
hanya 11-20 cm.
Hasil pengisian

angket

tentang

jarak

penggunaan

laptop

dikategorikan menjadi 4 yaitu yang menggunakan laptop pada jarak 11-20


cm, 21-30 cm, 31-40 cm, dan 41-50 cm. Tes dilakukan dengan kedua mata,
mata kiri dan mata kanan. Hasil tes dikategorikan normal, sedang dan berat.
Kategori normal untuk kedua mata pada penggunaan laptop dengan jarak
11-20 cm 9,0% ; 21-30 cm 18,1% ; 31-40 cm 54,5% ; 41-50 cm 18,1%.
Mata kiri pada penggunaan laptop dengan jarak 11-20 cm 10% ; 21-30 cm
20% ; 31-40 cm 50% ; 41-50 cm 20%. Mata kanan pada penggunaan laptop
dengan jarak 11-20 cm 0% ; 21-30 cm 28,5% ; 31-40 cm 42,8% ; 41-50 cm
28,5%. Berdasarkan hasil yang diperoleh untuk kategori normal yang mana
menurut teori ketajaman penglihatan normal visusnya antara 6/6 ; 6/7,5 ;
dan 6/9. Hasilnya untuk uji visus kedua mata tidak membentuk pola, pada
jarak 11-20 cm ; 21-30 cm ; dan 31-40 cm membentuk pola yang naik, tetapi
pada jarak 40-50 cm presentasenya turun. Untuk pengujian visus mata kiri
dan mata kanan juga tidak membentuk pola.
Kategori sedang untuk kedua mata pada penggunaan laptop dengan
jarak 11-20 cm ; 21-30 cm ; 31-40 cm ; dan 41-50 cm hasilnya sama 0%.
Mata kiri pada penggunaan laptop dengan jarak 11-20 cm 0% ; 21-30 cm
0% ; 31-40 cm 100% ; 41-50 cm 0%. Mata kanan pada penggunaan laptop
dengan jarak 11-20 cm 25% ; 21-30 cm % ; 31-40 cm 75% ; 41-50 cm 0%.
Berdasarkan hasil yang diperoleh untuk kategori sedang baik kedua mata,
mata kiri dan mata kanan hasilnya tidak membentuk pola.
Kategori berat untuk kedua mata pada penggunaan laptop dengan
jarak 11-20 cm 0% ; 21-30 cm 0% ; 31-40 cm 50% ; 41-50 cm 50%. Mata

38

kiri pada penggunaan laptop dengan jarak 11-20 cm 0% ; 21-30 cm 0% ; 3140 cm 50% ; 41-50 cm 50%. Mata kanan pada penggunaan laptop dengan
jarak 11-20 cm 0% ; 21-30 cm 0% ; 31-40 cm 50% ; 41-50 cm 50%.
Berdasarkan hasil yang diperoleh untuk kategori sedang baik kedua mata,
mata kiri dan mata kanan hasilnya tidak membentuk pola.
Seseorang yang sehari-hari bekerja di depan komputer, pasti sering
mengalami gangguan mata, seperti mata lelah, gatal, mata kering, kesulitan
melihat objek tertentu, hingga sakit kepala yang diakibatkan terlalu sering
menatap layar komputer. Seperti organ tubuh lainnya, mata memiliki
keterbatasan adaptasi dan sangat peka terhadap pengaruh lingkungan sekitar.
Pada beberapa kasus, kelelahan mata bisa disebabkan oleh jarak monitor
yang kurang tepat. Jarak pandang aman minimum terhadap monitor
idealnya adalah 45 cm (Budiharto, 2005).
Pada hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori, hal ini bisa
disebabkan oleh aktifitas, keperluan penggunaan laptop, kelainan mata dan
upaya pencegahan dari probandus yang berbeda.

39

HUBUNGAN KONTRAS DENGAN HASIL TES KETAJAMAN MATA

rendah

sedang

tinggi

Hubungan Kontras dengan Hasil Tes Ketajaman


Pada grafik yaitu hubungan kontras dengan hasil tes ketajaman mata
yang tertera diatas dapat ditafsirkan bahwa probandus dengan ketajaman
mata 6/6 6/9 dengan kategori mata normal yang menggunakan kontras
dengan kategori rendah yaitu 10-40% dengan presentase lebih banyak dari
pada yang sedang yaitu 41-80% dimana tidak ada yang menggunakan dalam
kategori kontras tinggi yaitu 81-100% pada ketiga jenis mata yang diuji
yaitu kedua mata, mata kanan, dan mata kiri.
Kemudian pada probandus dengan tes ketajaman mata 6/12 6/20
yaitu kategori sedang dimana matanya mengalami kelainan penglihatan
masih sedang menggunakan ketegori rendah yang lebih banyak dengan
kategori pada mata kanannya sedangkan mata kiri hanya terdapat
penggunaan kategori kontras sedang saja.

40

Selanjutnya dengan probandus yang memiliki tes ketajaman mata


6/30 6/60 yaitu kategori berat dimana mata mengalami kelainan
penglihatan yang cukup berat menggunakan kontras dengan kategori yang
rendah setara dengan kategori yang sedang.
Hal ini dapat diketahui bahwa kontras penggunaan laptop yang biasa
digunakan probandus sudah sesuai dengan teori bahwa ketika penggunaan
dengan luminansi rendah maka akan objek yang dilihat mata akan rendah
pula sehingga diameter bola mata akan semakin membesar dan
merendahkan kedalaman fokusnya dan membuat kontras positif. Hal
tersebut mengindikasikan pula bahwa probandus dengan tes ketajaman
matanya berkategorikan mata normal lebih penggunaan kontras yang rendah
sehingga kesehatan matanya terjaga. Sedangkan probandus dengan
ketajaman mata kategori sedang dan tinggi tidak berpengaruh di kontras
namun karena kelainan mata bukan disebabkan oleh lamanya penggunaan
laptop namun lebih kepada pengaruh cara membaca maupun alasan lainnya.

Keperluan Menggunakan Laptop


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Keperluan

Presentase

Menulis
Membuat Media
Mendesign
Menonton Film
Dan lain-lain
Dari mahasiswa yang diuji aktivitas yang

64,28 %
35,71 %
21,43 %
71,43 %
35,71 %
paling banyak dilakukan

dalam menggunakan laptop ialah untuk keperluan menonton film sebesar


71,43% dan paling jarang dilakukan ialah untuk mendesign sebesar 21,43
%.

41

Menonton film juga merupakan kegiatan yang paling banyak


dilakukan oleh naracoba setelah menulis, dari 14 naracoba 11 diantaranya
suka menggunakan laptop untuk menonton film. Dalam menonton film,
kerja mata akan lebih berat diabanding aktivitas lain. Selain mata melihat
berbagai warna yang mencolok juga harus memperhatikan gambar yang
bergerak sehingga mata berakomodasi sesuai gerakan gambar tersebut.
Akibatnya mata mudah mengalami kelelahan dan dapat mempengaruhi
ketajaman penglihatan seseorang.
Kegiatan menggunakan laptop oleh naracoba juga untuk mendesign,
meskipun hanya 3 naracoba dari 14 naracoba yang menggunakan laptop
untuk mendesign. Saat mendesign sesuatu biasanya seseorang akan sering
memperbesar objek sehingga mata dapat mencermati dengan detil. Namun
perilaku ini dapat mempengaruhi ketajaman mata seseorang jika mata terus
menerus berakomodasi maksimal.
Dari penggunaan laptop diatas dapat mempengaruhi ketajaman
penglihatan bila jarak mata dengan layar laptop terlalu dekat (< 45 cm),
kontras layar terlalu terang (80-100%), ukuran font pada layar terlalu kecil
(<12), terlalu lama menatap layar dll.
Keluhan Mata
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Keluhan
Mata segar
Mata berair
Mata terasa pegal
Mata perih
Mata kering
Penglihatan kabur
Lain-lain

Presentase
35,71 %
35,71 %
21,43 %
14,28 %
42,85 %
0%
21,43%
42

Keluhan mata yang dirasakan naracoba saat menggunakan laptop


yang paling banyak dirasakan ialah mata kering sebesar 42,85% dan yang
tidak dirasakan ialah penglihatan kabur sebesar 0%.
Kelelahan mata merupakan keluhan yang paling banyak dikeluhkan
para pemakai computer. Mata adalah organ tubuh yang paling mudah
mengalami penyakit akibat kerja, karena terlalu sering memfokuskan bola
mata ke layar monitor. Berdasarkan hasil penelitian, 77 % para pemakai
layar monitor akan mengalami keluhan pada mata, mulai dari rasa pegal dan
nyeri pada mata, mata merah, mata berair, sampai pada iritasi mata bahkan
kemungkinan katarak mata.
Mata kering dan iritasi. Keadaan ini terjadi jika kekurangan cairan
untuk menjaga kelembaban mata dan berkurangnya intensitas refleks
kedipan mata. Jumlah kedipan mata bervariasi sesuai dengan aktivitas yang
sedang dilakukan dan akan berkurang saat sedang berkonsentrasi. Mata
menjadi merah dan berair, disebabkan karena pada saat menggunakan
komputer mata diproyeksikan terus menerus dengan melihat layar monitor
sehingga jumlah kedipan menjadi berkurang (Amrizal, 2010: 67).
Kegiatan Preventif
No.
1.
2.
3.
4.

Tindakan preventif
Tidak pernah
Vitamin A
Terapi mata
Lain-lain

43

Presentase
57,14 %
21,43 %
0%
21.43%

Sebesar 57,14% naracoba tidak melakukan kegiatan preventif untuk


kesehatan mata mereka. Dan terdapat 21,43% naracoba mengonsumsi
vitamin A untuk menjaga kesehatan mata. Ada pula tindakan lain yang
dilakukan seperti mengonsumsi buah-buahan dan tidur ketika mata sudah
lelah yakni sebesar 21,43%.
Istirahat sangat dianjurkan mengingat akan kesehatan mata dengan
jangka panjang, mata lebih terawat dan bekerja di depan computer juga
menjadi lebih efektif. Dimana Istirahat yang dianjurkan menurut Anshel
(1996) dalam Nourmayanti (2009) ada tiga jenis istirahat bagi pengguna
komputer, diantaranya:
1) Micro break yaitu mengistirahatkan mata selama 10 detik setiap 10
menit bekerja, dengan cara melihat jauh (minimal 6 meter) diikuti
dengan mengedipkan mata secara relaks.
2) Mini break yaitu mengistirahatkan mata setiap setengah jam selama
lima menit dengan cara berdiri dan melakukan peregangan tubuh.
Selain itu, lakukan juga melihat jauh dengan objek yang berbedabeda.
3) Maxi break yaitu mengistirahatkan mata dengan melakukan kegiatan
seperti jalan-jalan, bangun dari tempat kerja, minum kopi atau teh dan
makan siang.
Setelah bekerja dengan komputer perlu mengistirahatkan mata
sejenak dengan melihat pemandangan yang dapat menyejukkan mata secara
periodik. Istirahat dalam waktu yang singkat dan sering jauh lebih
bermanfaat dibandingkan dengan istirahat yang lama tetapi jarang (Santoso,
2009).

44

Aktivitas Lain
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Aktivitas Lain
Menatap LCD
Menggunakan HP
Membaca
Main Game
Berkendara
Terpapar Debu
Lain-lain

Presentase
64,28 %
100 %
71,43%
35,71 %
64,28 %
42,85%
7,14%

Aktivitas lain selain menggunakan laptop ialah seluruh naracoba


menggunakan hp sebesar 100% dan aktivitas lain-lain sebesar 7,14%.
Penggunaan HP bisa mempengaruhi ketajaman mata, bila kontras pada HP
terlalu tinggi (cerah) dan terlalu lama menatap layar HP. Aktifitas lain-lain
yang dilakukan naracoba yaitu memasak. Memasak dapat mempengaruhi
ketajaman penglihatan bila asap dari kegiatan memasak terlalu banyak dan
menyebabkan mata pedas, perih dll.

45

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikutt:
1. Keluhan - keluhan gangguan mata akibat penggunaan laptop
yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa adalah: mata
berair, mata terasa pegal, mata perih, mata kering, penglihatan
kabur, mata segar,dll.
2. Lama mata pengguna laptop terpapar cahaya monitor berkisar
antara: 5 jam, 6 jam, 7 jam dan 8 jam.
3. Lama penggunaan laptop tidak berhubungan dengan ketajaman
penglihatan mata.
B. SARAN
Walaupun pada penelitian ini lama penggunaan laptop tidak
berhubungan dengan ketajaman penglihatan mata, akan tetapi bagi
pengguna laptop disarankan untuk tidak berlama-lama didepan
monitor supaya kesehatan mata tetap terjaga.

46

47