Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TANAMAN

INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK DAUN Carica papaya

Disusun Oleh :
Puji Hanani

4411413023

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

1. Judul
: Induksi Kalus Embrionik Daun Carica papaya
2. Tujuan
:
Melatih keterampilan mahasiswa dalam menentukan jenis dan konsentrasi ZPT serta
pencahayaan yang optimal untuk induksi kalus dari jaringan daun Carica papaya.
3. Landasan Teori :
Kalus embriogenik merupakan kumpulan sel yang belum sepenuhnya
mengalami diferensiasi dan potensial berkembang menjadi embrio somatik. Kalus
dapat diinduksi dari berbagai jenis organ dalam media dengan penambahan ZPT dan
dalam kodisi fisik (cahaya, suhu) tertentu. Jenis organ, jenis dan konsentrasi ZPT serta
kondisi fisik yang optimal berbeda-beda antar spesies (Rahayu, 2016).
Kalus atau Callus biasanya didefinisikan sebagai jaringan padat yang tidak
terorganisasi tumbuh pada media padat yang berasal dari bagian tertentu dari
tanaman. Kalus secara alamiah merupakan suatu bentu pertahanan dari tumbuhan
terhadap luka dan stress (Bottino, 1981). Kalus mempunyai peran yang penting dalam
kultur jaringan tumbuhan terutama mengambil bagian penting pada tahapan
multifikasi sel. Karena kalus merupakan sel yang tidak terkontrol dan akan terus
membelah maka kalus dapat dijadikan sebagai sumber sel untuk kultur jaringan
tumbuhan yang kemudian dapat dilanjutkan dengan mikropropagasi untuk
mendapatkan tumbuhan yang seragam dalam jumlah yang besar.
Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous (tidak berbentuk atau belum
terdiferensiasi) yang terjadi dari sel sel jaringan yang membelah diri secara terus
menerus secara in vitro atau di dalam tabung dan tidak terorganisasi sehingga
memberikan penampilan sebagai massa sel yang bentuknya tidak teratur. Kalus dapat
diperoleh dari bagian tanaman seperti akar, batang, dan daun. Penelitian pembentukan
kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan oleh Sinnott pada tahun 1960.
Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh zat pengatur tumbuh auksin dan
sitokinin endogen (Dodds & Roberts, 1983). Secara in vivo, kalus pada umumnya
terbentuk pada bekas bekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti
Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus juga
dapat terbentuk sebagai akibat stress (George & Sherrington, 1984). Kalus yang
diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor.

Kalus

adalah

jaringan

meristematik

yang

merupakan

wujud

dari

dediferensiasi. Dalam kultur jaringan menginduksi terbentuknya kalus merupakan


langkah yang penting. Setelah terbentuknya kalus baru diberikan perlakuan /
rangsangan untuk berdiferensiasi membentuk akar atau tunas.
Secara histologi, kalus berasal dari pembelahan berkali kali sel sel
parenkim di sekitar berkas pengangkut dan beberapa elemen penyusun berkas
pengangkut kecuali xilem. Dalam teknik kultur jaringan (in vitro), kalus dapat
diinduksi dengan menambahkan zat pengatur tumbuh yang sesuai pada media kultur,
misalnya auksin dan sitokinin yang disesuaikan. Jika konsentrasi auksin lebih besar
daripada sitokinin maka kalus akan terbentuk, sedangkan jika konsentrasi sitokinin
yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi auksin maka yang terbentuk
bukanlah kalus, melainkan tunas. Selain zat pengatur tumbuh atau hormon
pertumbuhan, penambahan vitamin dan protein juga diperlukan untuk pertumbuhan
kalus. Induksi kalus dalam teknik kultur jaringan tanaman diperlukan untuk
memunculkan keragaman sel somatik di dalam kultur in vitro dan meregenerasikan
sel tersebut menjadi embrio somatic.
Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang
diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat
memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus menerus. Selain itu, tujuan kultur
kalus adalah:

Perbanyak klon tanaman melalui pembentukan organ dan embrio.

Regenerasi varian varian genetika.

Mendapatkan tanaman bebas virus.

Sebagai sumber untuk produksi protoplas.

Sebagai bahan awal untuk kreopreservasi.

Produksi metabolit sekunder.

Biotransformasi

Sel sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang
renggang dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari
potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan

kadang kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular,
parenkim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan
provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk
berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk
plantlet.
Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus
tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh
terpisah pisah menjadi fragmen fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal
dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam macam tergantung dari
jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuning kuningan, putih, hijau,
atau kuning kejingga jingaan. (karena adanya pigmen antosianin ini terdapat pada
kalus kortek umbi wortel). Dalam kultur kalus, kalus homogen yang tersusun atas selsel parenkim jarang dijumpai kecuali pada kultur sel Agave dan Rosa
(Narayanaswany (1977 dalam Dodds & Roberts, 1983). Untuk memperoleh kalus
yang homogen maka harus menggunakan eksplan jaringan yang mempunyai sel sel
yang seragam. Dalam pertumbuhan kalus, citodiferensiasi terjadi untuk membentuk
elemen trachea, buluh tapis, sel gabus, sel sekresi dan trikoma. Kambium dan
periderm sebagai contoh dari proses hitogenesis dari kultur kalus. Anyaman kecil dari
pembelahan sel sel membentuk meristemoid atau nodul vaskular yang nantinya
menjadi pusat dari pembentukan tunas apikal, primordial akar atau embrioid.
Jika suatu eksplan ditanam pada medium yang sesuai, dalam waktu 2 4
minggu (tergantung spesiesnya), akan terbentuk massa kalus yaitu massa amorf yang
tersusun atas sel-sel parenkim berdinding sel tipis yang berkembang dari hasil
proliferasi sel sel jaringan induk. Kalus dapat disubkultur dengan cara mengambil
sebagian kalus dan memindahkannya pada medium baru. Dengan sistem induksi yang
tepat, kalus dapat berkembang menjadi tanaman yang utuh (plantlet).
Kultur kalus dapat dikembangkan dengan menggunakan eksplan yang berasal
dari berbagai sumber, misalnya tunas muda, daun, ujung akar, buah, dan bagian
bunga. Kalus dihasilkan dari lapisan luar sel sel korteks pada eksplan melalui
pembelahan sel sel berulang. Kultur kalus tumbuh berkembang lebih lambat
dibanding kultur yang berasal dari suspensi sel.

Kalus terbentuk melalui tiga tahapan, yaitu induksi, pembelahan sel, dan
diferensiasi. Pembentukan kalus ditentukan sumber eksplan, komposisi nutrisi pada
medium dan faktor lingkungan.eksplan yang berasal dari jaringan meristem
berkembang lebih cepat dibanding jaringan dari sel sel berdinding tipis dan
mengandung lignin. Untuk memelihara kalus, maka perlu dilakukan subkultur secara
berkala, misalnya setiap 30 hari. Sel yang berasal dari tanaman apapun dapat
dibiakkan atau dikulturkan secara aseptic pada atau dalam medium hara. Kultur
biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang
dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2 3 minggu akan berbentuk kalus. Kalus
semacam ini dapat disubkulturkan dengan memindahkan potongan kecil pada medium
agar segar. Proses terbentuknya kalus sampai terjadi diferensiasi berbeda-beda
tergantung macam dan bagian tanaman yang dipakai untuk eksplan, bahan kimia atau
hormon yang terkandung pada media kultur.
Dalam perbanyakan mikro, produksi kalus biasanya dihindari karena dapat
menimbulkan

variasi

dan,

terutama

pada

zona

perakaran,

mengakibatkan

diskontinyuitas dengan sitem berkas pengangkut utama. Kadang kadang eksplan


menghasilkan kalus, bukan tunas baru, khususnya jika diberikan hormon dengan
konsentrasi tinggi pada media. Dalam hal lain, kalus sengaja diinduksi karena
potensinya untuk produksi massal plantlet baru. Faktor pembatasnya adalah sulitnya
menginduksi inisiasi tunas baru, terutama pada tanaman berkayu dan tingginya
kejadian mutasi somatik.
Potensi terbesar penggunaan kultur kalus adalah dimana sel sel kalus dapat
dipisahkan dan diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi embrio somatic. Secara
morphologi, embryo ini mirip dengan yang ada pada biji, tapi tidak seperti embrio
biji, mereka secara genetik bersifat identik dengan tanaman tetua, jadi, segregasi
seksual materi genetik tidak terjadi. Karena 1 milimeter kalus berisi ribuan sel,
masingmasing memiliki kemampuan untuk membentuk embrio, sehingga kecepatan
multiplikasi sangat tinggi.
Kultur kalus dapat dilakukan pada media cair dan embrio berkembang sebagai
individu

terpisah,

sehingga

penanganan

kultur

relatif

mudah.

Kultur kalus bermanfaat untuk mempelajari beberapa aspek dalam metabolisme


tumbuhan dan diferensiasinya, misalnya:

1. Mempelajari aspek nutrisi tanaman


2. Dalam beberapa hal, perlu fase pertumbuhan kalus sebelum regenerasi via
somatic embryogenesis atau organogenesis. Embrio aseksual atau embrio
somatik (somatic embryo) adalah embrio yang terbentuk bukan dari
penyatuan sel sel gamet jantan dan betina atau dengan kata lain embrio
yang terbentuk dari jaringan vegetative / somatik. Embrio ini dapat
terbentuk dari jaringan tanaman yang dikulturkan tanpa melalui proses
yang dikenal dengan nama somatic embryogenesis. Jika proses ini
terbentuk langsung pada eksplan tanpa melalui proses pembentukan kalus
terlebih dahulu, maka prosesnya disebut somatic embryogenesis langsung
(direct somatic embryogenesis).
3. Untuk menghasilkan varian somaklonal (genetic atau epigenetic).
4. Sebagai bahan awal kultur protoplast dan kultur suspensi.
5. Untuk produksi metabolit sekunder dan regulasinya.
6. Transformasi genetik menggunakan teknik biolistik.
7. Digunakan untuk seleksi in-vitro.
Sel sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang
renggang dengan sel sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari
potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan
kadang-kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular,
parenkim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan
provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk
berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk
plantlet. Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus
tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh
terpisah pisah menjadi fragmen-fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal
dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam-macam tergantung dari
jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuning kuningan, putih, hijau,
atau kuning kejingga jingaan. (karena adanya pigmen antosianin ini terdapat pada
kalus kortek umbi wortel).

Pada umumnya untuk eksplan yang mempunyai kambium tidak perlu


penambahan ZPT untuk menginduksi terbentuknya kalus karena secara alamiah pada
jaringan berkambium yang mengalami luka akan tumbuh kalus untuk menutupi luka
yang terbuka. Namun pada kasus lain, keberadaan kambium di dalam eksplan tertentu
dapat menghambat pertumbuhan kalus bila tanpa penambahan zat pengatur tumbuh
eksogen. Penambahan ZPT tersebut dapat satu macam atau lebih tergantung dari jenis
eksplan yang digunakan. Pembelahan sel di dalam eksplan dapat terjadi tergantung
dari ZPT yang digunakan, seperti auksin, sitokinin, auksin dan sitokinin, dan ekstrak
senyawa organik komplek alamiah.
Berdasarkan kebutuhan akan Zat Pengatur Tumbuh untuk membentuk kalus,
jaringan tanaman digolongkan dalam 4 kelompok:
1. Jaringan tanaman yang membutuhkan hanya auksin selain gula dan garamgaram mineral untuk dapat membentuk kalus seperti umbi artichoke.
2. Jaringan yang memerlukan auksin dan sitokinin selain gula dan garamgaram
mineral.
3. Jaringan yang tidak perlu auksin dan sitokinin, hanya gula dan garamgaram
mineral seperti jaringan kambium.
4. Jaringan yang membentuk hanya sitokinin, gula dan garamgaram mineral
seperti parenkim dan xylem akar turnip.
Pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan tergantung
juga dari:
1. Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi
2. Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi
3. Bagian tanaman yang dipakai
4. Jenis tanaman
Kalus dapat diinisiasi dari hampir semua bagian tanaman, tetapi organ yang
berbeda menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Jenis tanaman
yang menghasilkan kalus, meliputi dikotil berdaun lebar, monokotil, gymnospermae,

pakis dan moss. Bagian tanaman seperti embrio muda, hipokotil, kotiledon dan batang
muda merupakan bagian yang mudah untuk dediferensiasi dan menghasilkan kalus.
Pada perbanyakan tanaman hortikultura, dianjurkan melalui tunas aksilair,
karena dapat menghasilkan bibit yang true-to-type (sesuai dengan sifat induknya).
Tunas adventif, terutama yang melalui fase kalus, tidak dianjurkan dalam
perbanyakan tanaman hortikultura, kecuali untuk tujuan seleksi dan variasi. Tunas
adventif langsung, juga menunjukkan kemungkinan variasi, hanya dalam taraf lebih
rendah daripada regenerasi melalui fase kalus.
Suatu sifat yang diamati dalam jaringan yang membentuk kalus adalah bahwa
pembelahan sel tidak terjadi pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya sel di
lapisan perisfer yang membelah terus menerus sedangkan sel-sel di tengah tetap
quiscent. Faktor faktor yang menyebabkan inisiasi pembelahan sel hanya terbatas di
lapisan luar dari jaringan kalus, adalah:
1. Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi
2. Keluarnya gas CO2
3. Kesediaan hara yang lebih banyak
4. Penghambat yang bersifat folatik lebih cepat menguap
5. Cahaya