Anda di halaman 1dari 108

http://tep.fateta.ipb.ac.

id/elearning/media/Teknik%20Pendinginan

Teknik Pendinginan

Mata kuliah Teknik Pendinginan membahas analisis dan disain sistem pendingin, disain
instalasi refrigerasi, penentuan bahan, kapasitas refrigerasi dan kebutuhan energi
peralatan refrigerasi. Sistem pendinginan yang dicakup adalah: kompresi uap, sistem
absorpsi dan termoelektrik dengan aplikasi pada pengkondisian udara, pembekuan dan
penyimpanan dingin.

BAB 1. APLIKASI TEKNIK PENDINGINAN

Tujuan Instruksional Khusus:

Mahasiswa mampu menjelaskan gambaran umum penerapan Teknik Pendinginan untuk


pengkondisian udara, penyimpanan dingin dan pembekuan. Pokok bahasan ini mencakup
sejarah singkat perkembangan sistem refrigerasi, yang meliputi jenis kompresi uap
maupun jenis lainnya, hingga pada penerapannya khususnya dalam bidang pertanian dan
tantangan yang dihadapi oleh industry pendinginan/pembekuan produk pertanian/pangan
dewasa ini.

A. Sejarah Teknik Pendinginan

Sejarah teknik pendinginan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban


manusia di wilayah sub-tropik. Secara alamiah, manusia yang tinggal di wilayah sub-
tropik menyadari bahwa bahan pangan yang mudah rusak ternyata dapat disimpan lebih
lama dan lebih baik pada saat musim dingin dibandingkan dengan pada saat musim
panas. Kesadaran inilah yang memandu manusia pada saat itu mulai memanfaatkan “es
alam” untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan yang mudah rusak.

Penggunaan es alam ini bahkan masih dilakukan hingga abad ke-20, dan bahkan menurut
catatan IIR (Intenational Institute of Refrigeration) hingga awal abad ke-20 penggunaan
es alam masih lebih banyak dibandingkan “es buatan”. Es alam adalah es yang dihasilkan
tanpa peralatan refrigerasi, baik yang diperoleh dari sungai atau danau yang membeku
pada musim dingin atau yang sengaja dibekukan secara alamiah akibat radiasi termal dari
permukaan air ke langit.

Di wilayah dengan kelembaban udara yang rendah, seperti Timur Tengah, sejarah
pendinginan dimulai dengan pendinginan evaporatif, yaitu dengan menggantungkan tikar
basah di depan pintu yang terbuka untuk mengurangi panasnya udara dalam ruangan.
Pada abad ke-15, Leonardo da Vinci telah merancang suatu mesin pendingin evaporatif
ukuran besar. Konon, mesin ini dipersembahkan untuk Beatrice d’Este, istri Duke of
Milan (Pita, 1981). Mesin ini mempunyai roda besar, yang diletakkan di luar istana, dan
digerakkan oleh air (sekali-sekali dibantu oleh budak) dengan katup-katup yang terbuka-
tutup secara otomatis untuk menarik udara ke dalam drum di tengah roda. Udara yang
telah dibersihkan di dalam roda dipaksa keluar melalui pipa kecil dan dialirkan ke dalam
ruangan (Gambar 1-1).

Gambar 1-1. Mesin pendingin evaporatif rancangan Leonardo da Vinci (Pita, 1981)

Perkembangan teknik pendinginan selanjutnya masih terjadi secara tidak sengaja, yaitu
penggunaan larutan air-garam untuk mendapatkan suhu yang lebih rendah. Menurut
catatan Ibn Abi Usaibia, seorang penulis Arab, penggunaan larutan air-garam ini sudah
dilakukan di India sekitar abad ke-4. Garam yang digunakan pada larutan tersebut adalah
potasium nitrat, sebagaimana dicatat oleh seorang dokter Italia bernama Zimara pada
tahun 1530 dan dokter Spanyol bernama Blas Villafranca pada tahun 1550. Fenomena
pencampuran garam pada salju untuk mendapatkan suhu lebih rendah baru dapat
dijelaskan oleh Battista Porta pada tahun 1589 dan Trancredo pada tahun 1607.
Teknik pendinginan mulai berkembang secara ilmiah sejak abad ke-17, dimulai dari
penelitian tentang pemantulan melalui efek panas dan dingin yang dilakukan oleh Robert
Boyle (1627-1691) di Inggris dan Mikhail Lomonossov (1711-1765) di Rusia.
Selanjutnya, penelitian mengenai termometri yang dimulai oleh Galileo dikembangkan
kembali oleh Guillaume Amontons (1663-1705) di Perancis, Isaac Newton (1642-1727)
di Inggris, Daniel Fahrenheit (1686-1736) orang German yang bekerja di Inggris dan
Belanda, René de Réaumur (1683-1757) di Perancis dan Anders Celsius (1701-1744) di
Swedia. Tiga ilmuwan yang disebutkan terakhir merupakan penemu sistem skala
pengukuran suhu, dan masing-masing namanya diabadikan pada sistem skala tersebut
yaitu Fahrenheit, Reaumur dan Celsius. Setelah Anders Celsius menemukan termometer
skala centesimal pada tahun 1742 di Swedia, disepakati bahwa sistem skala yang
digunakan pada Sistem Internasional adalah Celsius.

Gambar 1-2. Robert Boyle

Pada awal abad ke-18, William Cullen (1710-1790) menemukan terjadinya penurunan
suhu pada saat ethyl ether menguap. Cullen, bahkan, pada tahun 1755 berhasil
mendapatkan sedikit es dengan cara menguapkan air di labu uap. Murid dan penerus
Cullen, yaitu seorang Scotland yang bernama Joseph Black (1728-1799) berhasil
menjelaskan pengertian panas dan suhu, sehingga sering dianggap sebagai penemu
kalorimetri. Bidang ini akhirnya dikembangkan dengan sangat baik oleh para ilmuwan
Perancis, seperti Pierre Simon de Laplace (1749-1827), Pierre Dulong (1785-1838),
Alexis Petit (1791-1820), Nicolas Clément-Desormes (1778-1841) dan Victor Regnault
(1810-1878).
B. Perkembangan Mesin Pendingin Sistem Kompresi Uap

Tulisan Sadi Carnot (1796-1832), seorang Perancis, yang sangat terkenal pada tahun
1824 menjadi inspirasi bagi banyak penelitian yang dilakukan mengenai berbagai konsep
termodinamika dan sistem pendinginan, termasuk James Prescot Joule (Inggris, 1818-
1889), Julios von Mayer (Jerman, 1814-1878), Herman von Helmholtz (Jerman, 1821-
1894), Rudolph Clausius (Jerman, 1822-1888), Ludwig Boltzmann (Austria, 1844-1906),
dan William Thomson (Lord Kelvin, Inggris, 1824-1907).

Gambar 1-3. Sadi Carnot

Penemuan-penemuan di atas menjadi awal yang sangat berharga dalam sejarah penemuan
mesin-mesin pendinginan dan zat-zat pendinginnya. Perkembangan ini dimulai dengan
mesin pendingin mekanis, setelah seorang Amerika bernama Oliver Evans (1755-1819)
mampu menjelaskan siklus refrigerasi kompresi uap. Pada tahun 1835, seorang Amerika
lainnya yang bekerja di Inggris yaitu Jacob Perkins (1766-1849) berhasil mendapatkan
paten untuk mesin pendingin temuannya yang bekerja berdasarkan siklus kompresi uap
tersebut.

Gambar 1-4. Siklus Refrigerari Kompresi Uap

Fluida kerja (refrigeran) yang digunakan Perkins pada mesin pendinginnya tersebut
adalah ethyl ether. James Harrison (1816-1893), seorang Skotlandia yang pindah ke
Australia, berhasil membuat mesin pendingin yang dapat bekerja dengan baik pada skala
industrial. Mesin tersebut dipatenkan oleh Harrison pada tahun 1855, 1856, dan 1857.
Mesin pendingin Harrison, yang diproduksi di Inggris, masih menggunakan ethyl ether
sebagai fluida kerja, dan mampu menghasilkan es maupun larutan pendingin (refrigeran
sekunder).

Dengan ditemukannya mesin pendingin sistem kompresi uap, terjadi perkembangan yang
cepat dalam penemuan zat-zat pendingin (refrigeran). Charles Tellier (1828-1913),
seorang Perancis, memperkenalkan penggunaan dimethyl ehter sebagai refigeran. Pada
tahun 1862, Tellier juga meneliti penggunaan amonia (NH3) sebagai refrigeran,
meskipun penggunaannya secara luas pada skala industrial baru dapat dilakukan oleh
seorang Jerman Carl von Linde (1842-1934). Refrigeran amonia masih banyak digunakan
hingga sekarang, khususnya pada industri pembekuan pangan.

Thaddeus Lowe (1832-1913) mulai menggunakan karbon-dioksida (CO2) sebagai


refrigeran. Meskipun sempat ditinggalkan, penggunaan karbon-dioksida belakangan ini
kembali dikembangkan sebagai refrigeran yang ramah lingkungan. Sulfur-dioksida (SO2)
pertama kali digunakan sebagai refrigeran oleh ahli fisika Swiss Raoul Pierre Pictet
(1846-1929), tetapi akhirnya tidak digunakan lagi sesaat sebelum perang dunia II. Metil-
klorida (Ch3Cl) juga digunakan oleh orang Perancis C. Vincent sebagai refrigeran pada
tahun 1878, meskipun akhirnya hilang dari peredaran pada tahnun 1960-an.

Didasarkan pada hasil penelitian Swarts yang dilakukan selama kurun 1893-1907 di
Ghent, suatu tim peneliti Frigidaire Corporation di Amerika, yang dipimpin oleh Thomas
Midgley berhasil mengembangkan refrigeran fluoro-carbon pertama pada tahun 1930.
Refrigeran fluoro-carbon dianggap sebagai refrigeran yang aman karena tidak bersifat
toksik dan tidak mudah terbakar. Refrigeran CFC (chloro-fluoro-carbon) pertama, yaitu
R12 (CF2Cl2) mulai dilepas ke pasar pada tahun 1931, diikuti dengan refrigeran HCFC
(hidro-chloro-fluoro-carbon) pertama, yaitu R22 (CHF2Cl) pada tahun 1934. Pada tahun
1961, campuran azeotropik pertama, yaitu R502 (R22/R115), diperkenalkan ke pasar
sebagai refrigeran.

Refrigeran CFC, khususnya R12, dianggap sebagai zat yang sangat istimewa sebagai
fluida kerja mesin pendingin sistem kompresi uap, hingga pemenang Nobel dari Amerika
(F.S. Rowland dan M.J. Molina) mempublikasikan hasil penelitiannya pada tahun 1974.
Rowland dan Molina menyimpulkan bahwa klorin yang dilepaskan oleh zat halogenasi
hidrokarbon menyebabkan terjadinya perusakan lapisan ozon di angkasa. Untuk
menganggapi temuan ini, pada tahun 1987 telah disepakati Protokol Montreal mengenai
pelarangan penggunaan zat-zat yang bersifat merusak lapisan ozon.

Refrigeran CFC dan HCFC termasuk pada kategori zat perusak ozon, sehingga
penggunaannya sebagai refrigeran juga dilarang. Sebagai gantinya, disarankan
penggunaan HFC (hidro-fluoro-carbon), yaitu refrigeran yang dihalogenasi tapi tidak
diklorinasi. Akan tetapi, refrigeran HFC, baik yang murni (R134a) maupun campurannya
(R410A, R407A, R404A, dll), juga menimbulkan efek lingkungan yaitu pemanasan
global. Pada Protokol Kyoto, yang ditanda-tangani pada 11 Desember 1997, refrigeran
HFC termasuk zat yang dilarang peredarannya karena menyebabkan pemanasan global.
Indonesia, sebagai negara yang ikut meratifikasi Protokol Montreal maupun Protokol
Kyoto, berkewajiban untuk melaksanakan setiap fasal dalam protokol yang disepakati
tersebut.

Gambar 1-5. Kompresor

Kompresor scroll sebenarnya telah dipatenkan oleh seorang Perancis bernama Leon
Creux pada tahun 1905, tetapi baru dapat dikembangkan pada tahun 1970-an. Kompresor
sentrifugal dikembangkan atas dasar penelitian seorang Perancis bernama Auguste
Rateau tahun 1890 dan orang Amerika bernama Willis Carrier tahun 1911. Kompresor
hermetik dikembangkan untuk mengatasi kebocoran refrigeran oleh Father Audiffren
pada tahun 1905 di Perancis, dan digunakan sangat banyak saat ini.

C. Perkembangan Sistem Pendingin Lainnya

Perkembangan sistem pendingin selain sistem kompresi uap dipicu oleh kemajuan yang
dicapai dalam bidang termodinamika yang sangat pesat pada abad ke-19. Kemajuan ini
dimulai dari penelitian mengenai gas oleh ahli fisika Inggris Boyle, disusul oleh Edme
Mariotte (1620-1684), Jacques Charles (1746-1823) dan Louis Joseph Gay-Lussac (1778-
1850), hingga penelitian mengenai mesin uap yang dilakukan oleh orang Skotlandia
bernama James Watt (1736-1819). Ilmuwan Perancis Sadi Carnot (1796-1832) akhirnya
mempublikasikan hasil karyanya yang menjadi inti Hukum Termodinamika Kedua pada
tahun 1824. Berbagai penelitian mengenai teknik pendinginan sangat banyak dilakukan
sebagai dampak dari kemajuan termodinamika ini.

Disamping mesin pendingin sistem kompresi uap, sebagaimana dijelaskan di atas,


berbagai sistem pendingin lain juga ditemukan selama abad ke-19. Salah satu
diantaranya adalah sistem pendingin siklus gas yang muncul akibat penemuan ”mesin
udara” siklus terbuka oleh John Gorrie (1803-1855), seorang dokter Amerika. Gorrie
mematenkan penemuan tersebut setelah berhasil mendiningkan brine ke suhu -7 oC pada
tahun 1850 dan 1851. Alexander Kirk (1830-1892) berhasil mengembangkan mesin
siklus tertutup yang dapat mendinginkan hingga suhu -13 oC pada tahun 1864. Mesin ini
didasarkan pada motor udara panas yang dikembangkan oleh pastor Skotlandia Robert
Stirling pada tahun 1837.
Pada tahun 1834, Ahli fisika Perancis Jean Charles Peltier (1785-1845) menemukan
bahwa aliran arus searah yang melalui jembatan dua logam dapat menyebabkan
pendinginan pada salah satu logam dan pemanasan pada logam lainnya. Sampai tahun
1940-an, sistem termoelektrik hanya dianggap sebagai keingin-tahuan ilmiah, hingga
berkembangnya pengetahuan mengenai semi-konduktor. Akan tetapi, hingga sekarang
penggunaan sistem pendingin termoelektrik secara komersial relatif sangat kecil.

Gambar 1-6. Termoelectric cooling

Salah satu sistem pendingin yang berkembang dengan baik, disamping sistem kompresi
uap, adalah sistem absorbsi. Mesin pendingin sistem absorbsi kontinyu yang pertama
ditemukan pada tahun 1859 oleh seorang Perancis bernama Ferdinand Carré (1824-
1900). Mesin temuan Carré ini menggunakan air sebagai absorber dan amonia sebagai
refrigeran. Sistem absorbsi tak-kontinyu sebenarnya lebih dulu dikembangkan (hasil
temuan saudara Ferdinand Carré yang bernama Edmond Carré pada tahun 1866), tetapi
tidak terlalu berhasil. Pada tahun 1913, seorang Jerman bernama Edmund Altenkirch
berhasil mempelajari dan menjelaskan sifat termodinamik sistem ini dengan rinci. Pada
tahun 1940-an, sistem absorbsi dengan litium-bromida sebagai absorber dan air sebagai
refrigeran berhasil dikembangkan di Amerika, sebagai modifikasi dari sistem yang
dikembangkan oleh Carré. Sistem absorbsi litium-bromida-air ini banyak digunakan
dalam bidang pengkondisian udara.

D. Aplikasi Teknik Pendinginan

Refrigerasi (pendinginan) adalah suatu sistem yang mengambil panas dari suatu benda
atau ruangan yang bersuhu lebih rendah dari lingkungan alamiahnya. Bangsa Romawi
dan Cina mengambil es dan salju untuk digunakan sebagai penyejuk udara saat musim
panas. Bangsa Mesir meletakkan bejana air di atap rumah pada malam hari untuk
mendinginkannya. Terlihat bahwa usaha untuk mendinginkan bahan atau udara telah ada
sejak dahulu. Peradaban yang maju membuat teknik pendinginan semakin berkembang

Gambar 1-7. AC untuk tranportasi

Terdapat dua bidang pendinginan yang saling terkait dalam pendinginan yaitu bidang
refrigerasi dan pengkondisian udara. Aplikasi teknik pendinginan dapat dijumpai di
berbagai bidang. Di bidang industri, pengkondisian udara digunakan untuk mendapatkan
suhu dan kelembaban yang nyaman bagi pekerja.

Beberapa sistem dirancang untuk mendapatkan kondisi udara dimana debu hampir tidak
ada (ruang steril) seperti pada industri elektronika. Industri percetakan perlu udara
dengan tingkat kelembaban tertentu sehingga kertas tidak menggumpal dan tinta cepat
kering. Kelembaban yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya korsleting.
Perkantoran dan perumahan saat ini umum menggunakan AC untuk menambah
kenyamanan ruangan.

Gambar 1-8. AC untuk Gimnaisum

Di negara sub-tropis, pengkondisian juga meliputi pemanasan ruangan saat musim


dingin. Keinginan manusia untuk berkendara dengan nyaman membuat sistem
pendinginan juga dijumpai di mobil dan kendaran angkutan lainnya. Industri pertanian
saat ini umum menggunakan sistem cold chain untuk menjaga mutu produk. Sistem
pendinginan ini biasanya digunakan untuk produk yang mudah busuk dan banyak
mengandung air, seperti daging, sayur dan buah. Untuk mendapatkan umur simpan yang
lebih lama, pembekuan digunakan untuk membekukan produk.
Gambar 1-8. Pendinginan buah

Produk yang dibekukan dapat kembali ke keadaan semula umumnya dengan perlakuan
panas. Di toko-toko, bahan pertanian ini juga ditampilkan pada rak berpendingin
Pendinginan juga dikenal dalam proses pengolahan makanan. Es krim, dibuat dengan
membekukan susu setelah proses pasteurisasi dan pencampuran dilakukan.

Gambar 1-9. Ice cream

Produk pangan lain yang membutukan pendinginan antara lain susu, keju, jus buah.
Industri roti juga menggunakan pendinginan untuk menyimpan adonan roti sehingga roti
lebih cepat disajikan dan mengurangi kerugian toko roti karena adanya adonan yang tidak
dibakar. Industri kimia menggunakan teknik pendinginan untuk memisahkan gas,
pengembunan gas, penghilangan kalor reaksi, pemisahan zat dari campurannya dan untuk
menjaga tekanan. Teknik pendinginan juga digunakan pada bidang lainnya seperti
konstruksi, pembuatan es batu, dan arena olahraga
Gambar 1-10. Produk horitultura di supermarket

E. Tantangan Industri Pendinginan dan Pembekuan Pangan

Teknik refrigerasi adalah teknik pengambilan panas dari suatu benda atau ruangan yang
bersuhu lebih rendah dari lingkungan alamiahnya. Teknik refrigerasi merupakan
penerapan termodinamika dan perpindahan panas/massa, yang termasuk dalam cakupan
bidang konversi energi. Salah satu jenis mesin refrigerasi yang umum digunakan pada
zaman sekarang adalah jenis kompresi uap. Mesin pendingin jenis ini bekerja secara
mekanik dan perpindahan panas dilakukan dengan memanfaatkan sifat refrigeran yang
berubah dari fase cair ke fase gas (uap) kemudian ke fase cair kembali secara berulang.

Proses pendinginan merupakan proses yang populer untuk penyimpanan produk-produk


pertanian. Dengan menurunkan suhu suatu produk, aktivitas enzim dan mikroba yang
ada akan berkurang, sehingga penurunan mutu atau kerusakan dapat dihambat. Pada
buah-buahan atau sayur-sayuran, pengendalian proses pendinginan merupakan faktor
kritis karena dapat menyebabkan chilling injury bila dibawah suhu tertentu. Pembekuan
merupakan pendinginan sampai titik beku air dengan tujuan yang sama. Pada umumnya
produk beku akan mempunyai ketahanan yang lebih lama, namun tidak semua produk
pertanian cocok dengan proses ini.

Gambar 1-11. Chilling injury

Pustaka:

o Pita, E.G., 1981, Air Conditioning Principles and Systems – An Energy


Approach, John Wiley & Sons, Inc.
o Stoecker, W.F., and Jones, J.W., 1987, Refrigeration and Air conditioning,
2nd ed., McGraw-Hill International Edition, Singapore
o Tambunan, A.H., Teknik Pendinginan (diktat kuliah)
o IIR Thematic File, A Brief History of Refrigeration,
http://www.iifiir.org/2endossiers_dossiers_histoire.htm#_ftn

BAB 2. TERMODINAMIKA DAN PINDAH PANAS PADA PENDINGINAN

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan kaitan dan penerapan termodinamika pada perancangan


proses dan instalasi refrigerasi. Cakupan dalam pokok bahasan ini adalah pengulangan
azas-azas termodinamika dan pindah panas serta bagaimana penggunaannya untuk
mempelajari sistem refrigerasi. Pindah panas dalam bentuk konduksi, konveksi dan
radiasi merupakan proses yang berlangsung pada sistem refrigerasi. Sedangkan properti
termodinamika dan siklus Carnot merupakan landasan pemikiran bagi mahasiswa dalam
menganalisa berbagai siklus refrgerasi.

A. Pendahuluan

Proses pendinginan berarti memindahkan panas dari satu lingkungan ke lingkungan


lainnya dengan cara-cara tertentu. Diperlukan analisa termodinamika serta nalisa pindah
panas dan massa untuk mengetahui proses yang terjadi. Dalam analisa ini dibutuhkan
satuan dan besaran tertentu yang umum dikenal sebagai properti termodinamika. Analisa
juga dilakukan berdasarkan suatu pemikiran. Pada proses pendinginan, pemikiran yang
melandasi adalah siklus Carnot.

1. Sistem dan Lingkungan

Termodinamika berhubungan dengan perubahan energi yang terjadi antara sistem dengan
lingkungannya karena adanya suatu proses. Analisa dasar termodinamika diawali dengan
pengertian sistem dan lingkungan. Sistem adalah kegiatan atau proses yang diperhatikan
dalam suatu lingkungan. Lingkungan adalah semua hal di luar sistem. Lingkungan dan
sistem dipisahkan oleh suatu batas sistem. Batas sistem ini dapat berupa batas nyata atau
batas khayal. (Tambunan, 2007)

Sistem termodinamika dapat dibedakan menjadi tiga:

• Sistem terbuka (sistem dengan volume terkendali). Energi dan massa dapat
berpindah melalui batas sistem
• Sistem tertutup (sistem dengan massa terkendali). Hanya energi yang dapat
bepindah
• Sistem terisolasi adalah sistem tertutup yang tidak mengalami kontak, baik
mekanik maupun termal, dengan lingkungannya, sehingga baik energi maupun
materi tidak dapat berpindah melalui batas sistem. (Tambunan, 2007)
2. Hukum Termodinamika

• Analisa termodinamika berpedoman kepada Hukum Termodinamika, yaitu


Hukum pertama dan Kedua Termodinamika. Hukum Termodinamika pertama
menyatakan bahwa energi tak dapat diciptakan atau dimusnahkan, yang berarti
bahwa jumlah energi yang terkandung dalam suatu sistem dan lingkungannya
selalu tetap selama proses berlangsung. Hukum ini juga dapat diartikan bahwa
energi dapat diubah menjadi bentuk energi lain, namun energi yang diubah ini
tidak bisa seluruhnya.

Hukum pertama ini memberikan konsep adanya energi dalam suatu sistem (u). Jumlah
energi dalam suatu benda selalu tetap jika tidak ada panas (q) maupun kerja yang
dilakukan padanya (w). Perubahan energi dalam ditulis sebagai:

....................................(2.1)

Semua energi yang masuk kedalam sistem (panas dan kerja) bertanda positif. Jika kerja
dan panas yang terjadi dikur dalam jangka waktu yang singkat maka persamaan 1 dapat
ditulis menjadi

......................................(2.2)

Kerja dalam proses termodinamika dinyatakan sebagai perkalian antara tekanan dan
perubahan volume.

....................................(2.3)

Jika energi yang terlibat dalam proses hanya energi panas, maka persamaan (2.3) dapat
ditulis sebagai

......................................(2.4)

Penjumlahan energi dalam dengan perkalian tekanan dan perubahan volume disebut
sebagai entalpi (h, kJ/kg)

.......................................(2.5)

• Hukum kedua termodinamika menelaskan apa yang belum dijelaskan pada hukum
pertama, arah terjadinya perubahan. Pada hukum kedua, diperkenalkan suatu
besaran, entropi, yang menyatakan tingkat keacakan atau keteraturan. Hukum
kedua menyatakan bahwa proses akan berlangsung spontan ke arah yang semakin
acak atau ke arah yang mnyebabkan naiknya tingkat entropi sistem dan
lingkungannya. Contohnya pada batang yang berbeda suhu yang didekatkan.
Batang yang panas akan memindahkan energinya ke batang yang lebih dingin
hingga suhu keduanya sama. Tingkat keacakan menjadi lebih tinggi daripada saat
sebelum kedua batang disentuhkan.

Proses yang menuju entropi yang lebih tinggi adalah proses yang tak mampu balik,
karena arah sebaliknya tidak dapat berlangsung secara spontan. Proses yang mampu balik
adalah proses yang berlangsung tanpa perubahan entropi (Δs=0). Jika suatu proses dapat
dikendalikan secara sempurna dan berlangsung secara mampu-balik maka akan
menghasilkan jumlah maksimum energi yang dapat digunakan. Pada kenyataannya, tidak
ada proses yang sesempurna ini karena setiap konversi energi selalu diikuti dengan
kehilangan energi. Entropi suatu sistem secara termodinamik dinyatakan sebagai

……………………… (2.6)

Pada proses adiabatik, dimana tidak ada panas yang berpindah, tidak terjadi perubahan
entropi. Jika pada sistem terjadi reaksi kimia yang mempunyai entalpi perubahan sebesar
DH, maka perpindahan panas antara sistem dengan lingkungan pada tekanan tetap adalah
q=DT.

Definisi entropi secara statistik memungkinkan kita menghitung ketidak-teraturan sistem


secara nyata dengan Persamaan Ludwig Boltzman berikut:

.....................................(2.7)

dimana W adalah banyaknya variasi cara untuk mendapatkan energi sistem melalui
penyusunan atom atau molekul diantara status yang tersedia, sedangkan k adalah tetapan

Boltzman, yaitu (Tambunan, 2007)


Hukum kedua termodinamika menghasilkan konsep eksergi, yang didefinisikan sebagai
energi minimum yang diperlukan oleh, atau energi maksimum yang dapat diambil dari,
suatu proses tertentu. Melalui konsep eksergi, tingkat kegunaan dinyatakan sebagai
bagian energi yang dapat dikonversi menjadi kerja mekanis. Penggunaan kaidah eksergi
dalam analisa pendinginan dijelaskan pada bagian lain.

3. Properti, Status dan Fase Zat

Properti adalah sifat materi yang dapat dikur secara kuantitatif. Kerja dan pindah panas
dapat diukur dan dihitung, namun kedua hal tersebut bukan properti. Properti
termodinamika diukur berdasarkan suatu datum. Terdapat dua datum yang umum
digunakan 00C dan -400C yang diukur pada tekanan 1 atm. Nilai salah satu properti
dapat ditentukan dari dua properti lainnya, misalnya tekanan sebagai fungsi volume
spesifik dan suhu, atau p=p(v,T), dan seterusnya. Properti yang umum digunakan untuk
menyatakan status suatu sistem sederhana (zat murni yang hanya terdiri atas satu
komponen) adalah tekanan (p; satuan Pa), volume spesifik (v; satuan m3/kg), suhu (T;
satuan K), energi dalam spesifik (u; satuan kJ/kg), entalpi spesifik (h; satuan kJ/kg), dan
entropi spesifik (s; satuan kJ/kg). Untuk sistem yang terdiri atas lebih dari satu zat yang
tidak saling bersenyawa, penentuan nilai properti tersebut dapat dilakukan jika komposisi
masing-masing zat di dalam sistem diketahui. (Tambunan, 2007)

Properti dapat digolongkan menjadi properti ekstensif, yaitu jika nilainya berubah akibat
pembagian/pembelahan (seperti massa, volume, dan energi), dan properti intensif, yaitu
jika nilainya tetap meskipun terjadi pembagian/pembelahan (seperti volume jenis,
tekanan dan suhu) (Tambunan, 2007).

Kapasitas panas (c) adalah properti ekstensif yang sering dinyatakan dalam per satuan
massa sehingga disebut sebagai kapasitas panas jenis. Kapasitas panas jenis didefinisikan
sebagai perubahan kandungan panas yang terjadi sebagai akibat perubahan suhu pada
satu satuan massa zat tertentu. Kapasitas panas jenis dapat berupa kapasitas panas jenis
pada volume tetap (cv) dan pada tekanan tetap (cp), sesuai dengan kondisi yang
ditetapkan.
cv dituliskan dalam persamaan:

..............................(2.8)

dan cp dapat dituliskan dengan persamaan:

.............................................................(2.9)

Hubungan antara kapasitas panas jenis suatu gas ideal pada tekanan tetap dengan pada
volume tetap dapat ditentukan jika u, h, dan pV dinyatakan sebagai fungsi T. Bentuk
diferensial persamaan [2-8] terhadap suhu adalah:

..................................................(2.10)

Sehingga, dengan memasukkan persamaan (8) dan (9), serta persamaan gas ideal pV=RT,
akan diperoleh:

........................................(2.11)

Perbandingan kapasitas panas pada tekanan tetap terhadap kapasitas panas pada volume
tetap (cp/cv) sering sangat bermanfaat untuk analisis sistem pendinginan. Untuk gas ideal
nilai rasio kapasitas panas tersebut adalah:

[2.12]
Fasa suatu zat dapat diketahui berdasarkan dua sifat yang berbeda. Jika nilai salah satu
properti berubah maka dikatakan zat tersebut mengalami proses. Sifat yang umum
dipakai adalah tekanan, suhu, dan volume. Ketiga sifat ini dapat digambarkan dalam satu
grafik untuk mengetahui perbedaan fasa suatu zat. Bentuk grafik dapat dilihat pada
gambar 2-1.

Gambar 2.1. Permukaan p-v-T untuk zat yang mengembang pada saat membeku untuk
mengetahui fasa zat.

Gambar diatas dpat diuraikan menjadi grafik dua dimensi untuk kegunaan yang khusus.
Grafik volume-tekanan Status zat dapat ditunjukkan melalui grafik hubungan p, v, dan T,
seperti dapat dilihat pada Gambar 2-2 untuk zat yang mengembang pada saat membeku
(seperti air). Pada diagram tersebut ditunjukkan bidang yang merupakan permukaan p-v-
T dan terdiri atas tiga bidang satu fase (masing-masing: fase padat, fase cair, dan fase
gas), tiga bidang dua fase (masing-masing: bidang padat-cair, cair-gas, dan padat gas),
serta satu garis tiga fase (padat-cair-gas) yang sering juga disebut sebagai garis tripel.
Bidang-bidang tersebut memberi semua kemungkinan keadaan seimbang yang dapat
dicapai oleh suatu zat murni. Pada bidang dua fase, suhu dan tekanan saling terpaut,
sehingga salah satu dapat berubah jika dan hanya jika yang lainnya berubah. Dengan
demikian, pada wilayah ini status tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tekanan dan
suhu, tetapi dapat ditentukan berdasarkan volume jenis dengan suhu atau tekanan.
(a) (b)

(c)
Gambar 2-2. Diagram p-T (a), diagram p-v (b), dan diagram T-v (c) untuk zat yang
mengembang pada saat membeku

Proyeksi permukaan p-v-T terhadap bidang p-v, p-T, dan T-v untuk air ditunjukkan pada
Gambar 2-2. Pertemuan kedua garis jenuh tersebut dikenal dengan titik kritis, dan sering
dinyatakan dalam suhu kritis, tekanan kritis, dan volume jenis kritis. Suhu kritis suatu zat
murni adalah suhu tertinggi pada mana fase cair dan gas dapat berada bersama-sama.
Titik kritik berbagai zat diberikan pada Lampiran 1. Jika permukaan p-v-T diproyeksikan
menjadi bidang p-T maka diperoleh diagram fase, seperti diagram (a) pada kedua gambar
di atas. Pada diagram fase, wilayah dua fase berubah menjadi garis P-C, P-U, dan C-U.
Pertemuan ketiga garis tersebut disebut titik tripel. Titik tripel air berada pada suhu
273.16 oC dan tekanan 0.6113 kPa. Permukaan p-v-T dapat pula diproyeksikan menjadi
bidang p-v dan T-v untuk keperluan tertentu.

Status jenuh (saturation state) adalah status zat saat terjadinya perubahan fase (sejak
mulai hingga berakhir). Fase merujuk kepada sejumlah zat yang mempunyai komposisi
kimia dan struktur fisika yang serba-sama, baik dalam bentuk padatan, cairan, atau uap
(gas). Untuk tujuan keteknikan, fase gas dapat dibagi lagi menjadi uap dan gas
sebenarnya. Pembagian tersebut tidak terlalu tegas dan hanya didasarkan pada derajat
kesesuaiannya pada kaidah gas ideal, dimana uap dianggap sebagai fase gas yang tidak
sesuai dengan kaidah gas ideal. Pada sistem refrigerasi, refrigeran berada pada keadaan
cair atau uap, atau keduanya pada saat yang sama dengan proporsi tertentu. Kebanyakan
refrigeran yang bekerja pada fase gas berada pada kondisi yang sangat dekat dengan garis
jenuh sehingga dapat digolongkan sebagai uap. Pada pembuatan dry-ice (karbon dioksida
padat) ketiga fase tersebut dapat ditemukan secara bersama-sama.

B. Proses dan Siklus Termodinamika

Proses adalah perpindahan zat dari suatu status ke status lainnya yang masing-masing
berada dalam keseimbangan. Sistem yang tidak mengalami perubahan properti terhadap
waktu disebut dalam status mantap (steady state), sedangkan yang mengalami perubahan
disebut status tak-mantap (unsteady-state/transient).

Keadaan seimbang adalah keadaan dimana tidak terjadi lagi perubahan (bersih) dalam
sistem, atau antara sistem dengan lingkungannya. Pada keadaan seimbang, suhu dan
tekanan menjadi seragam dan tidak ada lagi gaya-gaya tak-seimbang yang bekerja di
seluruh sistem. Keseimbangan (equilibrium) secara termodinamik sulit didefinisikan
sehingga sering harus dikelompokkan menjadi beberapa jenis keseimbangan, seperti
keseimbangan mekanik, panas, fase dan kimia. Jika suatu sistem tidak menunjukkan
terjadinya perubahan, maka sistem tersebut dapat dikatakan berada pada status
keseimbangan. Proses nyata umumnya terjadi dalam keadaan tak-seimbang, sehingga
sering didekati dengan keadaan seimbang-semu. Proses seimbang-semu (quasi-
equilibrium process) adalah suatu idealisasi yang menganggap terjadinya perpindahan
sangat kecil dari status keseimbangan.

Uap super panas mempunyai sifat seperti gas jika berada di bawah suhu kritisnya.
Beberapa proses yang dapat terjadi pada pemanasan dan ekspansi uap adalah
sebagaimana yang dijelaskan berikut. Proses volume tetap (isometric) adalah proses
yang bekerja pada satu garis volume sehingga volume akhir sama dengan volume awal
proses. Proses tekanan tetap (isobaric) adalah proses yang bekerja pada satu garis
tekanan sehingga tekanan akhir sama dengan tekanan awal proses. Pada tekanan tertentu
terdapat suhu jenuh yang tertentu pula sehingga di dalam wilayah yang dibatasi oleh garis
jenuh cair dan uap proses tekanan tetap adalah juga proses suhu tetap (isothermic), yaitu
proses yang bekerja pada satu garis suhu. Proses cekik (throtling) terjadi jika terdapat
penyempitan luas penampang aliran. Pada proses ini tekanan akan berkurang akibat
adanya gesekan dalam aliran, dan tidak terjadi kerja maupun perpindahan kalor. Proses
cekik dipergunakan untuk pendinginan dan pengeringan uap.

Pada mesin-mesin refrigerasi, pencekikan refrigeran dilakukan dengan cara


melewatkannya melalui suatu penampang saluran yang menyempit pada katup ekspansi
atau melalui sebuah pipa kapiler yang panjang sehingga terjadi penurunan tekanan.
Dengan proses cekik suhu uap akan turun diikuti dengan peningkatan mutu uap, sebagian
panas sensibel diubah menjadi panas laten dan uap menjadi bersifat super panas.

a. Siklus dan mesin panas

Gambar 2-3 adalah diagram suatu siklus dimana satu satuan massa gas mengalami
pengembangan (ekspansi) dari keadaan 1 ke keadaan 2. Pada saat tersebut kerja dilepas
ke luar sebesar luasan 1-a-2-d-c-1. Pada mesin nyata proses tidak dapat berlangsung
hanya satu arah akan tetapi gas yang berada pada keadaan 2 harus dikembalikan ke
keadaan 1 dengan suatu cara tertentu. Proses dari keadaan 2 ke keadaan 1 disebut
pengempaan (kompresi) dengan memberi kerja kepada gas. Lintasan yang dilalui pada
proses tersebut adalah 2-b-1, dan kerja yang harus diberikan tersebut adalah sebesar
luasan 2-b-1-c-d. Kerja bersih yang dilepaskan dari sistem tersebut adalah :

W = luasan 1-a-2-d-c - luasan 2-b-1-c-d = luasan 1-a-2-b-1 (luasan terarsir), atau :

[2.13]

Gambar 2-3. Suatu siklus tertutup yang digambarkan pada diagram p-v

Dengan demikian, siklus adalah suatu perubahan keadaan yang melingkupi suatu luasan
tertutup di dalam suatu diagram keadaan (p-V, T-s, dll). Jika jumlah panas yang
ditambahkan ke dalam suatu siklus adalah Qi dan jumlah panas yang dilepas adalah Qo
maka kerja yang terjadi pada siklus tersebut dapat juga dituliskan sebagai :

[2.14]

Siklus yang ditunjukkan di atas bekerja searah gerakan jarum jam, panas Qi diterima dan
kerja W dilepas ke luar. Dengan kata lain sebagian dari panas diubah menjadi kerja.
Mesin-mesin panas menghasilkan panas dengan cara tersebut. Mesin panas diharapkan
dapat mengubah sebanyak mungkin panas yang diterima menjadi kerja. Perbandingan
kerja yang dihasilkan dengan panas yang diterima disebut dengan efisiensi termal, yaitu :

[2.15]

b. Siklus terbalik dan mesin pendingin


Jika siklus pada gambar 2.3 bekerja pada arah terbalik (berlawanan arah gerakan jarum
jam) seperti ditunjukkan pada gambar 2.4 maka arah panas dan kerja juga adalah
sebaliknya. Dengan cara demikian, kerja dari luar dikenakan pada gas, sedangkan panas
dapat diambil dari sumber bersuhu rendah sebesar Qo dan dilepas pada sumber bersuhu
tinggi sebesar Qi = W-Qo. Siklus demikian disebut dengan siklus terbalik.

Pada siklus terbalik, panas yang seharusnya mengalir secara alami dari sumber bersuhu
tinggi ke sumber bersuhu rendah, dibalik sehingga panas dari sumber bersuhu rendah
dialirkan ke sumber bersuhu tinggi dengan mengenakan kerja. Siklus terbalik merupakan
dasar kerja suatu mesin pendingin (refrigerator) dan pompa panas (heat pump). Mesin
pendingin adalah mesin yang digunakan untuk mendapatkan suhu dingin, sedangkan
pompa panas adalah mesin yang digunakan untuk memperoleh panas dari sumber
bersuhu rendah. Istilah pompa panas digunakan sebagai analogi suatu pompa air yang
digunakan untuk memperoleh air dari sumber pada lokasi yang lebih rendah. Kinerja
kedua mesin tersebut umumnya dinyatakan dengan tetapan penampilan (coefficient of
performance; COP), yaitu :

Mesin pendingin :

[2.16]

Pompa panas :

[2.17]

Koefisien penampilan di atas dapat digunakan sebagai pembanding standar untuk mesin
pendingin dan pompa panas dalam keadaan nyata.

Gambar 2.4. Siklus terbalik

Contoh Soal 2.1.


Tentukan entalpi dan energi dalam zat karbondioksida yang berada pada keadaan uap
jenuh pada suhu dan tekanan seperti pada contoh soal 1., jika panas laten
penguapannya adalah 320,52 kJ/kg dan volume jenis uap jenuh yang dihasilkan adalah
0,0382 m3/kg.

Jawab:
Panas laten penguapan adalah selisih antara entalpi pada keadaan uap jenuh dengan
entalpi pada keadaan cair jenuh, atau:

Karena Hl = 0, maka Hv = DH + 0 = 320,52 kJ/kg


Energi dalam dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan,
Uv = Hv - pVv = 320,52 - 103 (0,0382) = 282,32 kJ/kg

Contoh soal 2.2

Uap pada tekanan 10 bar dan mutu uap 0.9 dicekik hingga mencapai tekanan 2 bar.
Gunakan tabel uap untuk menentukan mutu uap akhir.

Jawab :
Pada p1 = 10 bar diperoleh T1 = 179.9 oC, hf1 = 762.81 kJ/kg, dan hg1 = 2778.1 kJ/kg
Pada p2 = 2 bar diperoleh T2 = 120.2 oC, hf2 = 504.70 kJ/kg, dan hg2 = 2706.7 kJ/kg
Dengan pers. [1-2] diperoleh h1 = hf1 + x1 (hg1 - hf1) = 762.81 + 0.9 (2015.29) =
2576.57 kJ/kg
Proses cekik terjadi secara adiabatik sehingga h1 = h2 = 2576.57 kJ/kg
Karena h2 < hg2 maka mutu uap x2 = (h2 - hf2)/(hg2 - hf2) = 2071.87/2202.0 = 0.94

• Entalpi. Jika suatu proses pada tekanan tetap dilakukan dengan tanpa adanya kerja
yang dilakukan pada proses tersebut, maka panas yang dipindahkan per unit
massa adalah entalpi zat tersebut. Entalpi selalu ditetapkan berdasarkan satu
datum.
• Entropi, adalah ukuran keteraturan benda atau lingkungan.
• Kerapatan, adalah massa benda setiap unit volume (kg/m3). Kebalikan dari
kerpatan adalah volume spesifik, volume benda setiap unit massa (m3/kg).
• Panas jenis (c), adalah jumlah energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu 1
K setiap 1 kg zat (J/kg.K). Besarnya panas jenis bergantung pada proses yang
dilakukan karenanya dikenal dua macam panas jenis, yaitu panas jenis dalam
tekanan konstan dan volume konstan (cp dan cv).
• Panas laten, adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah fasa 1 kg zat
(J/kg). Pada pemanasan air, saat air mencapai suhu 1000C, proses kenaikan suhu
akan berhenti dan terjadi perubahan fasa air dari cair menjadi gas. Energi yang
dibutuhkan untuk mengubah fasa inilah yang disebut sebagai panas laten suatu
zat.

Siklus carnot pertama kali diperkenalkan oleh Sadi Carnot, ilmuwan Prancis (1796-1832)
yang dikembangkan oleh Clayperon. Siklus Carnot merupakan siklus yang digunakan
untuk analisa mesin panas, dimana untuk menghasilkan kerja, maka kalor dipindahkan
dari suhu tinggi ke suhu rendah. Pada siklus pendinginan, hal ini dibalik, dimana tujuan
akhirnya adalah mendapatkan keadan yang lebih dingin. Pembalikan ini digambarkan
pada gambar berikut

Pada siklus Carnot asli, kerja dihasilkan dari berpindahnya panas dari suhu tinggi ke suhu
rendah. (W = Qh-Ql). Pada mesin pendingin dibutuhkan kerja untuk memindahkan panas
dari suhu rendah ke suhu tinggi (W=Ql-Qh). Efisiensi sutu mesin didefinisikan sebagai
perbandingan hasil kerja dan usaha untuk mengasilkan kerja.

Pada siklus mesin panas efisiensi selalu bernilai kurang dari 1 (efisiensi = W/Qh = 1-
Ql/Qh). Hasil dari siklus pendinginan adalah efek pendinginan yang terjadi (Ql) dan kerja
yang diperlukan adalah sebesar W (Qh-Ql) dan karenanya efisiensi mesin pendingin
selalu lebih besar dari satu (efisiensi= Ql/W)

BAB 3-4. SIKLUS KOMPRESI UAP

Tujuan instruksional khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip kerja sistem pendingin kompresi uap dan
menganalisa performansi mesin pendingin kompresi uap. Pokok bahasan ini mencakup
siklus Carnot dan siklus pendinginan, analisis kinerja mesin pendingin, hingga pada
penggunaan diagram Molier dan Tabel Uap refrigeran. Kebanyakan siklus refrigerasi
yang diaplikasikan di lapangan adalah siklus kompresi uap.

A. Siklus Carnot

Salah satu jenis mesin refrigerasi yang umum digunakan pada zaman sekarang adalah
jenis kompresi uap. Mesin pendingin jenis ini bekerja secara mekanik dan perpindahan
panas dilakukan dengan memanfaatkan sifat refrigeran yang berubah dari fase cair ke
fase gas (uap) dan kembali ke fase cair secara berulang-ulang. Refrigeran mendidih pada
suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan air pada tekanan yang sama. Misalnya,
amonia yang sering digunakan sebagai refrigeran, pada tekanan 1 atmosfir (101.3 kPa)
dapat mendidih pada suhu -33 oC. Suhu titik didih refrigeran dapat diubah dengan cara
mengubah tekanannya, misalnya, untuk menaikkan suhu titik didih amonia menjadi 0 oC,
tekanan harus dinaikkan menjadi 428.5 kPa.Keragaan suatu siklus refrigerasi umumnya
dinyatakan dalam berbagai terminologi, seperti ton refrigerasi, koefisien tampilan, dan
efisiensi refrigerasi. Satu ton refrigerasi didefinisikan sebagai kapasitas pendinginan
yang diserap oleh satu ton es untuk menjadi cair selama 24 jam, yaitu 1357 W (200
Btu/menit) .Istilah ton refrigerasi umum digunakan untuk mesin pendingin berkapasitas
besar.

Berasal dari standar yang digunakan, yaitu panas yang diserap oleh 1 ton (2000 lb) es saat
mencair selama 24 jam. Karena panas laten pencairan es adalah 144 Btu/lb, maka panas
yang diserap (2000 lb X 144 Btu/lb)/(24 jam X 60 menit) adalah 200 Btu/menit.

Siklus Carnot adalah siklus termodinamik ideal yang mampu-balik, yang pada mulanya
digunakan sebagai standar terhadap kemungkinan maksimum konversi energi panas ke
energi mekanik. Dalam bentuk sebaliknya, juga digunakan sebagai standar penampilan
maksimum suatu alat pendingin. Siklus Carnot tidak mungkin diterapkan karena tidak
mungkin mendapatkan suatu siklus yang mutlak mampu-balik di alam nyata, tetapi dapat
dianggap sebagai kriteria pembatas untuk siklus-siklus lainnya.

Siklus Carnot berlangsung dengan suatu urut-urutan yang terdiri atas 4 proses yang
mampu-balik, yaitu dua proses adiabatik dan dua proses isotermik. Gambar 3-1
menunjukkan bagaimana siklus tenaga Carnot bekerja secara sederhana pada sistem gas
di dalam piston, sedangkan Gambar 3-2 menunjukkan proses-proses siklus Carnot yang
dipetakan pada diagram p-v dan diagram T-s.
Ke empat proses tersebut adalah :

Proses 1-2 : Kompresi gas secara adiabatik hingga mencapai suhu tinggi TH

Proses 2-3 : Ekspansi gas secara isotermik pada suhu TH sambil menerima energi sebesar
QH dari lingkungan (reservoir) bersuhu tinggi (TH)
Proses 3-4 : Ekspansi gas secara adiabatik hingga mencapai suhu rendah TC
Proses 4-1 : Kompresi gas secara isotermik hingga mencapai kondisi awalnya sambil
melepas energi sebesar QC ke lingkungan (reservoir) bersuhu rendah (TC)

Kerja yang terjadi selama proses-proses tersebut ditunjukkan dengan luasan di bawah
kurva proses pada diagram p-v. Pada proses 1-2 dan 4-1 kerja diberikan pada sistem
untuk melakukan kompresi, sedangkan pada proses 2-3 dan 3-4 dilepas oleh gas untuk
melakukan pengembangan (ekspansi). Dengan demikian, wilayah yang dibatasi oleh
keempat kurva tersebut merupakan kerja bersih yang terjadi (dilepas oleh sistem) selama
proses dalam satu siklus.

Siklus Carnot yang bekerja sebagai mesin panas mempunyai efisiensi:

......... 3-1

dimana TC dan TH adalah suhu dalam satuan kelvin dan s adalah entropi. Subskrip
"maks" menunjukkan bahwa efisiensi tersebut adalah efisiensi maksimum yang mungkin
terjadi pada siklus tenaga manapun yang bekerja di antara dua sumber panas berbeda
suhu.
Bagan alir siklus Carnot, ditunjukkan pada Gambar 3-1 dan bentuk siklus pada koordinat
p-v dan T-s ditunjukkan pada Gambar 3-2. Gambar 3-2 (a) menunjukkan siklus Carnot
yang bekerja hanya pada satu wilayah fase (fase gas), sedangkan (b) menunjukkan siklus
Carnot yang bekerja pada keadaan jenuh (keadaan cair-uap). Proses yang berlangsung
pada siklus pendinginan Carnot adalah :

Proses 1-2 : Ekspansi gas secara isotermik pada suhu rendah TC sambil menerima energi
QC dari reservoir dingin melalui pindah panas.
Proses 2-3 : Kompresi gas secara adiabatik hingga mencapai suhu tinggi T

Proses 3-4 : Kompresi gas secara isotermik sambil melepas energi QH ke reservoir panas
melalui pindah panas.
Proses 4-1 : Ekspansi gas secara adiabatik hingga mencapai suhu rendah TL

Kerja bersih yang diperlukan selama proses dalam satu siklus adalah daerah yang dibatasi
oleh keempat kurva pada diagram p-v.

Jika siklus Carnot dibalik, akan diperoleh siklus yang menjadi ukuran kinerja maksimum
yang mungkin diperoleh dari suatu mesin pendingin. Dalam hal ini, kerja harus diberikan
pada siklus, zat kerja dikembangkan secara adiabatik dari TH ke TC, menyerap panas
pada TC dengan entropi yang meningkat dari sa ke sb. Selanjutnya, zat kerja dikempa
secara adiabatik dari TC ke TH, melepas panas secara isotermal pada TH dengan entropi
menurun dari sb ke sa. Dengan demikian, siklus Carnot dapat digunakan untuk tiga
tujuan yaitu:

1. mengubah energi panas menjadi energi mekanik (sebagai mesin panas)


2. menggunakan energi mekanik untuk menyerap panas dari suatu tempat dan
melepaskannya di tempat yang diinginkan (sebagai pompa panas)
3. menggunakan energi mekanik untuk menyerap panas dari suatu tempat yang
diinginkan dan membuangnya di tempat lain (sebagai mesin pendingin)

Tujuan (2) dan (3) didasarkan pada siklus Carnot terbalik dan berbeda hanya pada hasil
akhir yang diinginkan. Proses yang berlangsung pada siklus pendinginan dan siklus
pompa panas pada prinsipnya sama dan hanya berbeda pada tujuan akhir proses. Pada
siklus pendinginan yang menjadi tujuan adalah mendapatkan suhu yang lebih rendah dari
lingkungannya, sebaliknya pada siklus pompa panas yang menjadi tujuan akhir adalah
memperoleh suhu yang lebih tinggi dari lingkungannya.

Penampilan mesin pendingin dan pompa panas umumnya dinyatakan dalam koefisien
penampilan (coefficient of performance, COP). Koefisien penampilan (coefficient of
performance, cop) telah digunakan sebagai alat pengukur keefektifan suatu alat dan
didefinisikan sebagai perbandingan antara hasil akhir yang diperoleh dengan kerja bersih
yang harus diberikan. Berdasarkan Gambar 3-2, cop mesin pendinginan adalah,

......... 3-2
untuk pompa panas,

......... 3-3

dan untuk mesin panas,

......... 3-4

Meskipun siklus Carnot sangat efisien bekerja di antara dua sumber panas tertentu dan
sangat berguna sebagai kriteria bagi siklus yang bekerja secara sempurna, terdapat
kelemahan yang sangat jelas jika gas digunakan sebagai refrigeran. Kelemahan-
kelemahan tersebut antara lain adalah :

1. Terjadinya tekanan yang sangat tinggi dan volume yang sangat besar karena
kenaikan tekanan terjadi saat berlangsungnya kompresi isentropik serta saat
proses pelepasan panas secara isotermal.
2. Proses pindah panas dengan menggunakan gas, yaitu media yang mempunyai
kapasitas panas tertentu, tidak mungkin diperoleh di dalam praktek.
3. Diagram p-v siklus yang bekerja dengan menggunakan gas sangat sempit
sehingga sedikit ke-tak-mampubalikan di dalam proses tertentu akan
mengakibatkan peningkatan kerja yang dilakukan yang sangat besar dan
merupakan bagian terbesar kerja bersih siklus tersebut.

Koefisien tampilan menyatakan keefektifan suatu sistem pendingin, yang merupakan


perbandingan antara efek pendinginan bermanfaat terhadap energi bersih yang harus
disediakan dari luar untuk mendapatkan efek pendinginan tersebut.

......... 3-5

Efisiensi refrigerasi menunjukkan kedekatan sistem atau siklus pendingin tersebut dengan
siklus ideal yang mampu-balik, yaitu siklus Carnot.

......... 3-6

B. Siklus Pendinginan Teoritis Dan Nyata

Siklus pendinginan kompresi uap ditunjukkan pada Gambar 3-3. Proses 1-2 adalah
kompresi, 2-3 adalah kondensasi, 3-4 adalah ekspansi, dan 4-1 adalah evaporasi.
Gambar 3-3. Siklus refrigerasi kompresi uap

Siklus pendinginan kompresi uap teoritis, sebagaimana yang umum digunakan,


ditunjukkan pada Gambar 3-4 dalam sistem koordinat p-V, T-s dan p-h, dimana tanda
nomor proses sama dengan pada Gambar 3-5. Proses kompresi yang berlangsung pada
jalur 1-2 disebut kompresi basah, dimana refrigeran yang masuk ke- dan keluar dari
kompresor adalah refrigeran kering dan jenuh (derajat kering uap = 1). Proses kompresi
dapat juga terjadi pada jalur 1'-2' yang disebut dengan kompresi basah karena refrigeran
yang masuk ke kompresor masih mengandung fase cair (derajat kering < 1) dan keluar
dari kompresor dalam keadaan kering dan jenuh. Meskipun koefisien penampilan (cop)
sedikit lebih rendah, pendinginan dengan kompresi kering lebih sering digunakan dengan
alasan kompresor akan lebih aman karena tidak terjadi kemungkinan masuknya refrigeran
cair yang dapat mempengaruhi kerja kompresor. Pada proses kompresi kering, uap
refrigeran yang meninggalkan kompresor dalam keadaan panas-lanjut (superheat)
sehingga kelebihan panas tersebut harus dibuang di kondensor pada tekanan tetap
(tekanan kondensor) dan suhu tetap sebelum dikondensasi menjadi cairan refrigeran
(proses 2-2').

Proses kompresi dianggap berlangsung secara isentropik karena lebih mendekati keadaan
sesungguhnya, meskipun secara teoritis kompresi isotermal lebih disukai karena
membutuhkan kerja yang lebih kecil. Kerja pada proses pencekikan (throtling)
seharusnya dapat didaur-ulang, akan tetapi karena tidak ekonomis jarang dilakukan.

Perbandingan antara siklus kompresi uap teoritis (siklus 1-2'-2''-3-4'-1) dengan siklus
Carnot terbalik (siklus 1-2-3-4-1) ditunjukkan dalam diagram T-s pada Gambar 3-6.
Seperti terlihat pada bagian yang diarsir di dalam gambar, terdapat tiga luasan yang
merupakan perbedaan antara siklus kompresi uap teoritis dengan siklus Carnot terbalik.
Luasan 2-2'-2'' menunjukkan penambahan kerja yang harus diberikan ke kompresor serta
tambahan panas yang harus dilepas di kondensor sebagai akibat kompresi yang tidak
isotermal. Luasan 3-3'-4-3 menunjukkan tambahan kerja ke siklus akibat kerja
pencekikan yang tidak didaur-ulang. Luasan 4-sa-sb-4'-4 menunjukkan kehilangan efek
pendinginan sebagai akibat dari peningkatan entropi karena proses pencekikan. Masih
terdapat perbedaan-perbedaan lain antara siklus kompresi uap teoritik dan nyata, akan
tetapi karena nilainya tidak terlalu besar masih dapat diabaikan dari perhitungan.

Keragaan suatu siklus refrigerasi umumnya dinyatakan dalam berbagai terminologi,


seperti ton refrigerasi, koefisien tampilan, dan efisiensi refrigerasi. Satu ton refrigerasi
didefinisikan sebagai kapasitas pendinginan yang diserap oleh satu ton es untuk menjadi
cair selama 24 jam, yaitu 1357 W (200 Btu/menit) . Istilah ton refrigerasi umum
digunakan untuk mesin pendingin berkapasitas besar.

C. Analisis Kinerja Mesin Pendingin

Analisa terhadap siklus pendinginan kompresi uap dapat dilakukan dengan menggunakan
Gambar 3-7. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, terjadi 4 proses yang membentuk satu
siklus kompresi uap dan terjadi berulang-ulang. Proses dan perubahan keadaan pada
setiap proses yang terjadi adalah :

Gambar 3-7. Analisis siklus pendinginan kompresi uap

Proses 1-2 (kompresi) : Gas refrigeran yang keluar dari evaporator masuk dan dikempa
pada kompresor sehingga menghasilkan gas refrigeran dengan tekanan dan suhu yang
lebih tinggi. Suhu tinggi merupakan akibat dari proses kompresi isentropik.

Proses 2-3 (kondensasi) : Gas refrigeran bertekanan dan bersuhu tinggi dikondensasi dan
menghasilkan refrigeran cair jenuh. Proses yang terjadi adalah pelepasan panas ke
lingkungan. Proses kondensasi bekerja pada tekanan tetap. Pada awal proses suhu gas
refrigeran sedikit mengalami penurunan, selanjutnya terjadi perubahan fase gas menjadi
cair pada suhu tetap.

Proses 3-4 (pencekikan) : Tekanan cairan refrigeran diturunkan dengan menggunakan


katup cekik (expansion valve). Saat terjadi penurunan tekanan, juga terjadi penurunan
suhu dan peningkatan mutu gas refrigeran, sebab dengan penurunan tekanan dan suhu
sebagian refrigeran cair berubah menjadi gas.

Proses 4-1 (penguapan) : Proses penguapan terjadi pada suhu sama, dimana hanya terjadi
perubahan fase refrigeran cair menjadi gas. Panas laten penguapan diambil dari
lingkungan sehingga terjadi pendinginan lingkungan. Besarnya pendinginan yang terjadi
dinyatakan dalam efek pendinginan (ton refrigerasi).

Setiap proses yang terjadi sepanjang siklus dinyatakan dalam besaran-besaran yang dapat
ditentukan secara matematik. Pada Bab Termodinamika Pendinginan telah ditunjukkan
bahwa untuk proses tekanan tetap, seperti terjadi pada proses evaporasi dan kondensasi
dalam mesin pendingin kompresi uap, dQ = dh. Dengan demikian, panas yang diserap
dan digunakan untuk menguapkan refrigeran adalah:

...........................................................
3-7
.

dan panas yang di lepas untuk kondensasi refrigeran adalah,

Qkond = h2 - h3 ......................................... 3-8

Juga telah diketahui bahwa pada proses pencekikan (ekspansi) tidak dilakukan kerja,
sehingga entalpi refrigeran yang masuk dan keluar dari katup ekspansi adalah sama (h1 =
h2). Kualitas uap refrigeran setalah melalui katup cekik menjadi,

...........................................................
3-9
.

Sesuai dengan kaidah kekekalan energi, panas yang dilepas pada kondensor harus sama
dengan panas yang diserap pada evaporator ditambah dengan ekivalen panas dari kerja
kompresi, yaitu :

...........................................................
3-10
.

Dengan memasukkan persamaan [3-8] hingga [3-9] ke persamaan [3-10] diperoleh kerja
kompresi sebesar,

Wkomp = h2 - h1 .......................................... 3-11

dalam hal ini, dianggap tidak terjadi pengambilan dan pelepasan panas dari dan ke
lingkungan selama proses kompresi. Berikut ini adalah beberapa istilah yang umum
digunakan dalam ilmu pendinginan dan besarannya dalam persamaan matematik.
Efek pendinginan, jumlah panas yang diserap oleh refrigeran pada saat melalui
evaporator. Selain panas laten penguapan, efek pendinginan juga mencakup panas yang
diserap akibat terjadinya pemanasan lanjut.

Ton pendinginan (ton of refrigeration) adalah laju penyerapan panas di evaporator, sama
dengan 200 Btu/min (3517 W). Laju aliran refrigeran yang dibutuhkan per ton
pendinginan adalah laju penyerapan panas (W) per ton pendinginan dibagi dengan efek
pendinginan,

...........................................................
3-12
.

Tenaga kompresi teoritis per ton pendinginan untuk proses kompresi adalah perkalian
antara kerja kompresi dengan laju aliran refrigeran per ton pendinginan, yaitu :

...........................................................
3-13
.

Jika yang terjadi adalah kompresi politropik, tenaga kompresi per ton pendinginan
adalah,

...........................................................
3-14
.

Pada kompresi isentropik, n = g = cp/cv . Jika silinder kompresor mempunyai jaket


penutup, sejumlah panas harus dilepaskan ke sistem pendingin kompresor, yang besarnya
:

...........................................................
3-15
.

Tenaga kompresi aktual (nyata) dapat didekati dengan menggunakan nilai n yang
sebenarnya (dengan menggunakan tekanan nyata silinder), dan dengan memasukkan
faktor efisiensi mekanik kompresor. Efisiensi mekanik adalah perbandingan antara
tenaga yang ditunjukkan oleh silinder kompresor dengan tenaga yang dibutuhkan untuk
menggerakkan kompresor.

Koefisien penampilan mesin pendingin siklus kompresi uap dengan kompresi isentropik
adalah,

...........................................................
3-16
.
Panas yang dilepaskan melalui kondensor per ton pendinginan, meliputi panas laten,
panas akibat pemanasan lanjut, dan panas yang berasal dari refrigeran cair, yaitu :

...........................................................
3-17
.

Disamping itu, siklus kompresi uap nyata juga berbeda dalam beberapa hal dengan siklus
kompresi uap teoritis, seperti :

(1) Proses 1-2 (kompresi), sering dianggap berlangsung secara insentropik, akan tetapi
dapat berlangsung tidak isentropik dan tidak juga politropik. Meskipun berlangsung
secara isentropik, dimana dianggap tidak terjadi pertukaran panas antara refrigeran
dengan dinding kompresor, pada kenyataannya suhu dinding silinder kompresor bisa
lebih tinggi dari suhu gas refrigeran yang masuk dan lebih rendah dari suhu gas yang
keluar dari kompresor sehingga menyebabkan perpindahan panas antara dinding
kompresor dengan gas refrigeran.

(2) Selama proses 2-3, refrigeran cair mengalami pendinginan lanjut sebelum memasuki
katup cekik.

(3) Pada proses 4-1, uap refrigeran yang meninggalkan evaporator mengalami pemanasan
lanjut sebelum memasuki kompresor. Pemanasan lanjut tersebut dapat disebabkan oleh
jenis pengendali katup cekik yang digunakan, dimana penyerapan panas dapat terjadi
pada jalur antara evaporator dan kompresor.

(4) Terjadi kehilangan tekanan sepanjang pipa tempat mengalirnya refrigeran.

Penentuan nilai-nilai tersebut di atas dapat dilakukan dengan menggunakan dua alat,
yaitu diagram molier (diagram p-h) dan tabel keadaan refrigeran yang bersangkutan.
Pengenalan dan penggunaan kedua alat tersebut dijelaskan berikut

D. Penggunaan Diagram Molier

Tekanan dan entalpi refrigeran mengalami perubahan pada saat melalui berbagai
komponen mesin pendingin. Pada evaporator dan kondensor, entalpi berubah sementara
tekanan tetap. Pada kompresor terjadi perubahan entalpi bersama-sama dengan
perubahan tekanan, sedangkan pada katup ekspansi terjadi perubahan tekanan dengan
entalpi tetap. Berdasarkan sifat-sifat di atas, telah dikembangkan suatu diagram tekanan-
entalpi (diagram molier) yang dapat digunakan untuk analisa sistem pendinginan
kompresi uap.
Konstruksi diagram mollier untuk
refrigeran R-12ditunjukkan pada
Gambar 3-8. Sumbu mendatar adalah
entalpi sedangkan sumbu tegak adalah
tekanan, sehingga garis-garis mendatar
menunjukkan tekanan sama sedangkan
garis-garis tegak menunjukkan entalpi
sama. Garis melengkung dari kiri
bawah ke kanan atas hingga titik kritis
adalah garis cair jenuh.

Di sebelah kiri garis cair jenuh


refrigeran berada pada keadaan cair
super-dingin atau cair terkondensasi.
Pada garis jenuh refrigeran berada pada
keadaan keseimbangan dengan nilai
mutu uap 0 (nol), artinya seluruh
refrigeran berada pada keadaan cair.
Semakin ke kanan garis cair jenuh nilai
mutu uap refrigeran semakin besar
hingga mencapai nilai 1 (satu) pada
garis uap jenuh, yaitu garis
melengkung dari kanan bawah ke kiri
atas mencapai titik kritis.
Gambar 3-8. Diagram Mollier Di sebelah kanan garis uap jenuh,
refrigeran berada pada keadaan uap
super-panas. Garis suhu sama
ditunjukkan dengan pola khusus seperti
pada penggalan garis yang
dihubungkan dengan huruf "s-u-h-u",
sedangkan garis volume jenis sama dan
garis entropi sama ditunjukkan seperti
pada gambar.

Keseluruhan siklus yang terjadi pada pendingin kompresi uap, mencakup kompresi,
kondensasi, ekspansi, dan evaporasi dapat digambarkan secara mudah pada diagram
tersebut. Gambar 3-9 menunjukkan siklus pendinginan kompresi uap yang bekerja secara
ideal dengan suhu evaporasi Te dan suhu kondensasi Tk

Peletakan siklus di dalam diagram dilakukan dengan memperhatikan sifat tiap proses
yang membentuk siklus tersebut. Proses kompresi (1-2) digambarkan bekerja secara
isentropik, sehingga berada pada garis entropi sama (s).
Proses pengembunan (2-3) bekerja pada keadaan tekanan tetap pada suhu T3, sehingga
berada pada garis mendatar. Pencekikan (3-4) bekerja pada keadaan isentalpik sehingga
merupakan garis tegak lurus entalpi sama, dalam hal ini h3 = h4.

Proses penguapan kembali bekerja pada tekanan tetap tapi pada suhu Tk yang merupakan
perpotongan antara garis pengembunan dengan garis cair jenuh. Nilai h1 merupakan
entalpi pada perpotongan antara garis penguapan garis uap jenuh sedangkan nilai h2
merupakan entalpi pada perpotongan antara garis pengembunan dengan garis entropi (s).

Siklus yang bekerja dengan pendinginan lanjut disajikan pada Gambar 3-10. Di dalam
kondensor gas refrigeran diembunkan hingga seluruhnya menjadi refrigeran cair
(mencapai garis cair jenuh). Pada proses pendinginan lanjut, terjadi pelepasan panas
yang lebih besar dari pada yang dibutuhkan untuk kondensasi sehingga suhu refrigeran
cair yang keluar dari kondensor lebih rendah dari suhu pengembunan Tk dan berada pada
keadaan cair super-dingin (cair terkompresi).

Jika proses lain di dalam siklus sama dengan proses pada siklus ideal, pendinginan lanjut
sebesar ΔT (selisih antara suhu refrigeran cair jenuh Tk dengan suhu refrigeran keluar
dari kondensor T') dapat menyebabkan peningkatan efek pendinginan sebesar Δh = h' -
h3 . ΔT dalam hal ini sering disebut sebagai derajat pendinginan lanjut atau derajat
super-dingin.

Siklus yang bekerja dengan pemanasan lanjut disajikan pada Gambar 3-11. Pemanasan
lanjut terjadi pada evaporator. Pada evaporator terjadi penyerapan panas yang digunakan
untuk menguapkan refrigeran cair yang keluar dari katup cekik pada suhu Te hingga
seluruh refrigeran menjadi uap. Pada proses pemanasan lanjut, panas yang diserap lebih
besar dari pada yang dibutuhkan untuk penguapan dan kelebihan tersebut digunakan
untuk meningkatkan suhu uap, sehingga uap yang keluar dari evaporator berada pada
keadaan uap super-panas. Jika proses lain di dalam siklus sama dengan proses pada
siklus ideal, pemanasan lanjut sebesar ΔT (selisih antara suhu refrigeran keluar dari
evaporator dengan suhu uap jenuh Te ) dapat menyebabkan peningkatan efek
pendinginan sebesar Δh = h1 - h'. ΔT dalam hal ini sering disebut sebagai derajat
pemanasan lanjut atau derajat super-panas. Proses pemanasan lanjut sering juga disebut
dengan proses kompresi kering karena refrigeran yang masuk ke kompresor seluruhnya
dalam keadaan uap (mutu uap = 1). Proses kompresi basah terjadi jika refrigeran yang
keluar dari evaporator dan masuk ke kompresor belum seluruhnya menjadi uap (mutu uap
< 1) akibat dari kurangnya panas yang dapat diserap oleh evaporator

E. Penggunaan Tabel Properti Refrigeran

Pemecahan nyata masalah-masalah termodinamika, khususnya pendinginan, dapat


disederhanakan dengan menggunakan diagram atau tabel sifat termodinamik.
Keberadaan zat dan peralihannya dapat dianalisa dengan menggunakan diagram.
Gambar I-3 (a) adalah diagram tekanan-volume, (b) diagram suhu-entropi, dan (c)
diagram tekanan-entalpi, yang keseluruhannya adalah untuk jenis refrigeran yang
mengkerut pada saat pembekuan. Pada seluruh diagram tersebut, kurva yang membatasi
wilayah fase zat ditunjukkan dengan sistem penomoran yang sama. Garis jenuh cair "3-
4" dan garis jenuh uap "4-6" (umumnya disebut sebagai garis jenuh), bersama garis/titik
tripel "2-3-5", membatasi suatu wilayah dimana ketiga fase (padat, cair dan uap) berada
bersama-sama dalam berbagai komposisi. Perbandingan berat dua fase zat yang
tercampur homogen di dalam wilayah ini dikenal dengan mutu uap. Mutu uap
dinyatakan berdasarkan persamaan berikut :

...........................................................
3-18
.

Contoh soal 3-1

Diketahui suatu campuran homogen antara 10% massa cairan jenuh dengan 90% massa
uap jenuh. Tentukan mutu uap tersebut
Jawab : x = 0.9 / (0.9 + 0.1)
x = 0.9 (mutu uap adalah 0.9)

Pada wilayah di sebelah kiri garis cair jenuh dan di atas suhu titik triple, zat berada pada
keadaan cair super dingin (subcooled liquid), sedangkan di sebelah kanan garis uap jenuh
zat berada pada keadan uap panas-lanjut (superheated vapor). Titik kritis, 4, pada
pertemuan antara garis jenuh cair dan uap, menunjukkan suhu kritis yang mana di atas
suhu tersebut zat tidak dapat dicairkan kembali. Di atas tekanan kritis, panas laten
penguapan menjadi nol, garis batas antara fase cair dan uap lenyap, serta fenomena
penguapan dan kondensasi juga lenyap. Garis jenuh padat, 1-2, bagian bawah dari garis
jenuh uap, 5-6, dan garis triple isotermik, 2-3-5, melingkupi suatu wilayah di mana fase
padat dan uap ada bersama-sama dengan proporsi berbeda.

Di sebelah kiri garis jenuh padat dan di bawah suhu titik triple, zat berada pada keadaan
padat dingin-lanjut. Titik triple pada suhu titik triple, 2-3, adalah rangkaian titik keadaan
yang unik dimana zat dapat berada pada ketiga fase, padat, cair, dan uap, dalam
keseimbangan. Di bawah suhu titik triple, panas yang dibutuhkan untuk mengubah zat
dari fase padat langsung ke fase uap disebut panas laten sublimasi. Pada suhu titik triple,
panas yang dibutuhkan untuk mengubah zat dari fase padat menjadi cair (sepanjang 2-3)
disebut panas laten pencairan, dan di atas suhu tersebut, panas yang dibutuhkan untuk
mengubah zat dari fase cair ke uap disebut panas latent penguapan.

Untuk keperluan teknik status zat dapat lebih mudah ditentukan dengan menggunakan
tabel sifat termodinamik zat. Tabel untuk air sering disebut dengan Tabel Uap (Steam
Table). Tabel sifat termodinamik air dan beberapa zat yang umum digunakan sebagai
refrigeran diberikan pada Lampiran. Cara pembacaan Tabel Uap dijelaskan sebagai
berikut.

• Tabel sifat termodinamik berisi nilai-nilai untuk suhu (T) tekanan (p), volume
jenis (v), panas dalam (u), entalpi (h) dan entropi (s).
• Tabel sifat termodinamik terdiri atas tabel jenuh (Lampiran), tabel super panas
(Lampiran) dan tabel super dingin (Lampiran).
• Tabel jenuh (saturated) dapat dibaca melalui dua cara, yaitu melalui suhu
(Lampiran) dan melalui tekanan (Lampiran). Nilai-nilai pada tabel ini
menunjukkan status zata pada kondisi jenuh yaitu berada pada garis lengkung
pada Gambar I-3. Tabel jenuh berisi nilai sifat pada keadaan terdapat dua fase
(cair dan uap) dalam keseimbangan. Sifat v, u, h dan s mempunyai subskrip "f",
"g", dan "fg". Subskrip "f" berarti keadaan cair jenuh (fluid) ditunjukkan dengan
garis melengkung cembung ke kiri pada Gambar I-3, dimana mutu uap 0.0.
Subskrip "g" berarti uap jenuh (gas) ditunjukkan dengan garis melengkung
cembung ke kanan, dimana mutu uap 1.0. Subskrip "fg" berarti cair-gas
(peralihan fase dari cair ke gas atau dari gas ke cair). Nilai bersubskrip "fg" sama
dengan nilai bersubskrip "g" dikurang nilai bersubskrip "f", atau Zfg = Zg - Zf .
Sebagaimana disebutkan pada bagian terdahulu, tekanan dan suhu pada status
jenuh adalah saling tergantung sehingga pembacaan nilai sifat melalui tabel jenuh
dapat dilakukan hanya dengan menggunakan salah satu nilai sifat yang diketahui,
seperti suhu atau tekanan.
• Nilai sifat zat pada keadaan yang berada di antara kedua garis lengkung (garis
jenuh) dapat dihitung dari table jika mutu uap diketahui dengan menggunakan
persamaan-persamaan berikut :

hx = hf + xhfg
sx = sf + xsfg .................................. 3-19
vx = vf + xvfg

• Beberapa tabel tidak mencantumkan nilai energi dalam sehingga harus dihitung
dengan menggunakan persamaan,

u = h - pv .................................. 3-20

• Tabel super panas (superheated) memberi nilai-nilai sifat zat dalam fase uap yang
mendapat pemanasan lanjut (sebelah kanan garis melengkung cembung ke kanan
pada Gambar I-3). Pembacaan tabel super panas dapat dilakukan jika 2 nilai sifat
diketahui, misalnya tekanan dan suhu. Nilai Tsat yang dicantumkan berdekatan
dengan nilai tekanan menunjukkan suhu jenuh yang bersesuaian dengan tekanan
tersebut. Pada tabel super panas diberikan nilai sifat pada tekanan tertentu dan
suhu lebih besar atau sama dengan suhu jenuh yang bersesuaian dengan tekanan
tersebut.
• Tabel super dingin (subcooled atau compressed liquid) memberi nilai sifat zat
dalam fase cair yang mendapat pendinginan lanjut atau mendapat tekanan lanjut
(sebelah kiri garis melengkung cembung ke kiri pada Gambar I-3). Pembacaan
tabel super dingin sama dengan tabel super panas, kecuali nilai yang tercantum
adalah pada tekanan tertentu dan suhu lebih rendah atau sama dengan suhu jenuh
yang bersesuaian dengan tekanan tersebut.

Pembacaan nilai sifat refrigeran atau zat lain dapat dilakukan dengan cara yang sama
dengan menggunakan tabel yang bersesuaian.
Contoh soal 3-2 :

Uap air berada pada silinder dengan kondisi awal 3.0 MPa dan 300 oC (status 1). Air
tersebut didinginkan pada volume tetap hingga mencapai suhu 200 oC (status 2).
Selanjutnya dikempa pada kondisi isotermal hingga tekanan mencapai 2.5 Mpa (status
3).
(a) Gambarkan proses tersebut pada diagram T-v dan diagram p-v.
(b) Tentukan volume jenis pada status 1,2,3, dan mutu uap pada status 2.
Jawab :

(a) Dengan menggunakan tabel uap diketahui bahwa Suhu T1 (300 oC) lebih besar dari
suhu jenuh pada tekanan p1 (3.0 MPa) yaitu 233.9 oC, sehingga status 1 berada pada
wilayah super panas. Pendinginan pada kondisi volume jenis tetap mengikuti proses
yang tegak lurus dengan sumbu datar "v" diteruskan hingga mencapai garis suhu 200 oC
untuk mendapatkan status 2. Pengempaan isotermal mengikuti proses di sepanjang garis
suhu 200 oC. Pada wilayah dua fase (cair-uap) garis suhu berimpit dengan garis tekanan
hingga mencapai garis jenuh cair. Kemudian dilanjutkan pada garis suhu yang sama
hingga mencapai tekanan 2.5 MPa untuk mendapatkan status 3.

(b) Dari tabel uap super panas diperoleh bahwa volume jenis pada status 1 (v1) adalah
81.1 cm3/kg (dengan memasukkan nilai p=3.0 MPa dan T=300 oC) yang mana harus
sama dengan v2 (volume jenis pada status 2). Dengan memasukkan nilai p=2.5 MPa dan
T=200 oC ke tabel uap super dingin diperoleh nilai v3 = 1.1555 cm3/kg. Mutu uap pada
status 2 (x2) dapat ditentukan melalui volume jenis yaitu dengan mengetahui volume jeni
saat jenuh cair (vf) dan jenuh uap (vg) pada suhu status tersebut (200 oC) yaitu
vv=1.1565 cm3/kg dan vg=124.4 cm3/kg. Diperoleh x2=(81.1-1.156)/(124.4-
1.1565)=0.633

Alat lain yang dapat digunakan untuk menentukan sifat refrigeran selama siklus
pendinginan adalah tabel keadaan refrigeran. Tabel keadaan refrigeran mempunyai
struktur yang sama dengan Tabel Uap untuk air. Tabel tersebut mempunyai 3 bentuk
yaitu tabel jenuh (saturated), tabel super-dingin (compressed liquid), dan tabel super-
panas (superheated qas). Penentuan sifat refrigeran dilakukan dengan memperhatikan
keadaan refrigeran pada titik yang ingin ditentukan sebagaimana diterangkan di atas.
Sifat refrigeran yang berada di sepanjang garis jenuh (garis jenuh cair dan garis jenuh
uap) pada diagram molier ditentukan dengan menggunakan tabel jenuh. Tabel jenuh
dapat digunakan jika salah satu sifat refrigeran (suhu, tekanan, entalpi, entropi, volume
jenis) diketahui. Jika refrigeran berada di antara kedua garis jenuh tersebut, maka sifat
refrigeran ditentukan dengan menggunakan nilai mutu uap seperti dijelaskan pada bagian
terdahulu.

Sifat refrigeran dalam keadaan cair super-dingin (berada di sebelah kiri garis cair jenuh)
ditentukan dengan menggunakan tabel super-dingin, sedangkan sifat refrigeran dalam
keadaan uap super panas (di sebelah kanan garis uap jenuh) ditentukan dengan
menggunakan tabel super-panas. Penggunaan tabel super-dingin dan tabel super-panas
harus memperhatikan derajat super-dingin atau derajat super-panas refrigeran yang
bersangkutan.

SOAL LATIHAN

1. Setengah kilogram amonia cair jenuh dikembangkan melalui katup cekik dari tekanan
kondensor 12.25 kg/cm2 ke tekanan evaporator

2.85 kg/cm2. Tentukan :


a. perubahan volume jenis yang terjadi
b. mutu uap amonia yang keluar dari katup cekik

2. Jika refrigeran pada soal no.1 mengalami pendinginan lanjut sebesar 3 oC, tentukan
mutu uap amonia yang keluar dari katup cekik

3. Suatu mesin pendingin yang menggunakan amonia sebagai refrigeran bekerja pada
suhu pengembunan 30 oC dan suhu penguapan -20 oC. Jika terjadi siklus ideal,
tentukan :
a. efek pendinginan
b. laju aliran massa amonia (dalam kg/menit per ton pendinginan)
c. langkah piston per menit per ton pendinginan
d. kebutuhan tenaga (Hp) per ton pendinginan
e. COP
f. panas yang dilepaskan dari kondensor per menit per ton pendinginan.

4. Suatu sistem pembekuan pangan membutuhkan kapasitas sebesar 20 ton pendinginan


pada suhu evaporator -35 oC dan suhu kondensor 22 oC. Refrigeran yang digunakan
adalah Freon 22 dan mengalami pendinginan lanjut sebesar 3 oC saat keluar dari
kondensor serta pemanasan lanjut sebesar 4 oC saat keluar dari evaporator. Proses
kompresi yang terjadi adalah isentropik. Kompresor yang digunakan mempunyai 6
silinder dengan stroke sama dengan bore dan bekerja pada 1500 rpm. Tentukan :
a. efek pendinginan
b. laju aliran massa refrigeran per menit
c. langkah piston teoritik per menit
d. tenaga teoritik (Hp)
e. COP
f. panas yang dilepas dari kondensor

5. Satu kilogram refrigeran 12 dikembangkan melalui katup cekik dari tekanan 10 bar
menjadi 4 bar. Tentukan a) mutu uap refrigeran pada akhir proses, b) perubahan volume
jenis, dan c) mutu uap akhir jika refrigeran tersebut mengalami pendinginan lanjut 10 oC.

6. Buatlah suatu bentuk umum keseimbangan energi antara refrigeran cair pada keadaan
diam di receiver dengan refrigeran yang memasuki katup ekspansi. Abaikan gesekan
pada pipa.

7. Suatu mesin pendingin kompresi uap dengan refrigeran R-22 beroperasi pada suhu
evaporasi –20 oC dan suhu kondensasi 35 oC.

a. Tentukan suhu refrigeran yang memasuki kondensor


b. Tentukan debit aliran yang diperlukan untuk mendapatkan kapasitas pendinginan
2 ton refrigerasi (1 ton ref.=1357 W).
c. Hitung COP mesin tersebut

Test Formatip

1. Sebuah sistem pendingin dengan siklus kompresi uap standar yang menggunakan
refrigeran tipe R-22 diketahui mempunyai suhu kondensasi 35oC. Apabila setelah
melalui katup ekspansi tekanannya turun sebesar 933.45 kPa, dan jika diketahui laju
aliran refrigeran sebesar 0.315 kg/s tentukan:

• Suhu proses evaporasi


• Kebutuhan daya kompresi dan kapasitas refrigerasi yang dihasilkan (dalam kW).
• COP dari sistem

2. Sebuah sistem pendingin dengan siklus kompresi uap standar yang menggunakan
refrigeran tipe amonia diketahui beroperasi pada suhu kondensasi 34oC dan suhu
evaporasi -30 oC. Jika diketahui laju aliran refrigeran sebesar 0.3 kg/s, dan diasumsikan
bahwa kompresor bekerja secara adiabatik, tentukan:

• Kapasitas refrigerasi yang dihasilkan


• Tekanan hisap dan tekanan buang kompresor
• Suhu refrigeran yang keluar dari kompresor
• Kebutuhan daya kompresi.
• COP

PUSTAKA
Alan, H. Cromer. 1981. Physics For The Sciences. Second edition, Intenational Student
Edition, Mc Graw-Hill International Book Company, Tokyo.
Dossat, R.J. 1981. Principles of Refrigeration. John Willey and Sons, New York.
Hutchinson, F.W. 1957. Thermodynamics of Heat Power Systems. Adison-Wesley.
Lee, J.F and Sears, F.W. 1964. Thermodynamics. Adison Wesley Publishing Co.,
Massachusets.
Moran, M.J., and H.N. Shapiro. 1988. Fundamentals of Engineering Thermodynamics,
John Wiley & Sons. N.Y. USA
Stoker W.F dan Jones, J.W, 1987. Refrigeration and Air Condition. McGraw-Hill Book
Company. Tokyo.

BAB 5. REFRIGERAN

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis refrigerant dan mampu melakukan pemilihan


refrigerant yang tepat. Cakupan dalam pokok bahasan ini meliputi refrigeran primer dan
sekunder, sifat termofisik berbagai refrigeran, perbandingan atribut lingkungan dan
atribut kinerja refigeran.

A. Pendahuluan

Refrigeran adalah fluida kerja yang bersirkulasi dalam siklus refrigerasi. Refrigeran
merupakan komponen terpenting siklus refrigerasi karena refrigeran yang menimbulkan
efek pendinginan dan pemanasan pada mesin refrigerasi. ASHRAE (2005)
mendefinisikan refrigeran sebagai fluida kerja di dalam mesin refrigerasi, pengkondisian
udara, dan sistem pompa kalor. Refrigeran menyerap panas dari satu lokasi dan
membuangnya ke lokasi yang lain, biasanya melalui mekanisme evaporasi dan
kondensasi.

Calm (2002) membagi perkembangan refrigeran dalam 3 periode: Periode pertama, 1830-
an hingga 1930-an, dengan kriteria refrigeran "apa pun yang bekerja di dalam mesin
refrigerasi". Refrigeran yang digunakan dalam periode ini adalah ether, CO2, NH3, SO2,
hidrokarbon, H2O, CCl4, CHCs. Periode ke-dua, 1930-an hingga 1990-an menggunakan
kriteria refrigeran: aman dan tahan lama (durable). Refrigeran pada periode ini adalah
CFCs (Chloro Fluoro Carbons), HCFCs (Hydro Chloro Fluoro Carbons), HFCs (Hydro
Fluoro Carbons), NH3, H2O. Periode ke-tiga, setelah 1990-an, dengan kriteria refrigeran
"ramah lingkungan". Refrigeran pada periode ini adalah HCFCs, NH3, HFCs, H2O,
CO2.
R-134 R-12

Gambar 5-1. Refrigeran

Perkembangan mutakhir di bidang refrigeran utamanya didorong oleh dua masalah


lingkungan, yakni lubang ozon dan pemanasan global. Sifat merusak ozon yang dimiliki
oleh refrigeran utama yang digunakan pada periode ke-dua, yakni CFCs, dikemukakan
oleh Molina dan Rowland (1974) yang kemudian didukung oleh data pengukuran
lapangan oleh Farman dkk. (1985).

Setelah keberadaan lubang ozon di lapisan atmosfer diverifikasi secara saintifik,


perjanjian internasional untuk mengatur dan melarang penggunaan zat-zat perusak ozon
disepakati pada 1987 yang terkenal dengan sebutan Protokol Montreal. CFCs dan HCFCs
merupakan dua refrigeran utama yang dijadwalkan untuk dihapuskan masing-masing
pada tahun 1996 dan 2030 untuk negara-negara maju (United Nation Environment
Programme, 2000). Sedangkan untuk negara-negara berkembang, kedua refrigeran utama
tersebut masing-masing dijadwalkan untuk dihapus (phased-out) pada tahun 2010 (CFCs)
dan 2040 (HCFCs) (Powell, 2002). Pada tahun 1997, Protokol Kyoto mengatur
pembatasan dan pengurangan gas-gas penyebab rumah kaca, termasuk HFCs (United
Nation Framework Convention on Climate Change, 2005).

Powell (2002) menerangkan beberapa syarat yang harus dimiliki oleh refrigeran
pengganti, yakni:

1. Memiliki sifat-sifat termodinamika yang berdekatan dengan refrigeran yang


hendak digantikannya, utamanya pada tekanan maksimum operasi refrigeran baru
yang diharapkan tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan tekanan
refrigeran lama yang ber-klorin.
2. Tidak mudah terbakar.
3. Tidak beracun.
4. Bisa bercampur (miscible) dengan pelumas yang umum digunakan dalam mesin
refrigerasi.
5. Setiap refrigeran CFC hendaknya digantikan oleh satu jenis refrigeran ramah
lingkungan.
Setelah periode CFCs, R22 (HCFC) merupakan refrigeran yang paling banyak digunakan
di dalam mesin refrigerasi dan pengkondisian udara. Saat ini beberapa perusahaan
pembuat mesin-mesin refrigerasi masih menggunakan refrigeran R22 dalam produk-
produk mereka. Meski refrigeran ini, termasuk juga refrigeran jenis HCFCs lainnya,
dijadwalkan untuk dihapuskan pada tahun 2030 (untuk negara maju), namun beberapa
negara Eropa telah mencanangkan jadwal yang lebih progresif, misalnya Swedia telah
melarang penggunaan R22 dan HCFCs lainnya pada mesin refrigerasi baru sejak tahun
1998, sedangkan Denmark dan Jerman mengijinkan penggunaan HCFCs pada mesin-
mesin baru hanya hingga 31 Desember 1999 (Kruse, 2000).

Protokol Montreal memaksa para peneliti dan industri refrigerasi membuat refrigeran
sintetis baru, HFCs (Hydro Fluoro Carbons) untuk menggantikan refrigeran lama yang
ber-klorin yang dituduh menjadi penyebab rusaknya lapisan ozon. Weatherhead dan
Andersen (2006) mengemukakan bahwa sejak 8 tahun terakhir, penipisan kolom lapisan
ozon tidak terjadi lagi. Kedua peneliti ini meyakini akan terjadinya pemulihan lapisan
ozon. Meski demikian, keduanya tidak secara jelas merujuk turunnya penggunaan zat
perusak ozon sebagai penyebab pulihnya lapisan ozon. Powell (2002) menyebutkan
bahwa adanya kerjasama yang sangat baik antara produser refrigeran dan perusahaan
pengguna refrigeran telah memungkinkan terjadinya transisi mulus dari era penggunaan
CFCs secara besar-besaran di 1986 hingga penghapusan dan penggantiannya dengan
R134a di tahun 1996. Banyak kalangan menyebutkan bahwa Protokol Montreal adalah
salah satu perjanjian internasional di bidang lingkungan yang paling berhasil diterapkan.

Gambar 5-2. Kulkas dengan refrigeran non CFC

Saat ini, HCFCs (yang pada dasarnya merupakan pengganti transisional untuk CFCs)
telah memiliki 2 kandidat pengganti, yakni R410A (campuran dengan sifat mendekati
zeotrop) dan R407C (campuran azeotrop) (Kruse, 2000). Hidrokarbon Propana (R290)
juga berpotensi menjadi pengganti R22 (Kruse, 2000). R407C merupakan campuran
antara R32/125/132a dengan komposisi 23/25/52, sedangkan R410A adalah campuran
R32/125 dengan komposisi 50/50 (ASHRAE, 2005). Saat ini, beberapa perusahaan
terkemuka di bidang refrigerasi dan pengkonsian udara telah menggunakan R410A dalam
produk mereka.

Jika Protokol Montreal dan Kyoto dilaksanakan secara penuh dan konsisten, maka secara
umum pada saat ini belum ada pilihan refrigeran komersial selain refrigeran alami.
Meskipun perlu dicatat bahwa baru-baru ini terdapat produsen refrigeran yang
mengklaim keberhasilannya membuat refrigeran yang tidak merusak ozon dan tidak
menimbulkan pemanasan global (ASHRAE, 2006). Beberapa refrigeran alami yang
sudah digunakan pada mesin refrigerasi adalah: amonia (NH3), hidrokarbon (HC),
karbondioksida (CO2), air, dan udara (Riffat dkk., 1997). Kata "alami" menekankan
keberadaan zat-zat tersebut yang berasal dari sumber biologis atapun geologis; meskipun
saat ini beberapa produk refrigeran alami masih didapatkan dari sumber daya alam yang
tidak terbarukan, misalnya hidrokarbon yang didapatkan dari oil-cracking, serta amonia
dan CO2 yang didapatkan dari gas alam (Powell, 2002).

Penggunaan karbondioksida, air, dan udara pada refrigerator komersial masih


memerlukan riset yang mendalam, sedangkan penggunaan amonia dan hidrokarbon,
meskipun sudah cukup banyak dilakukan, masih memiliki peluang riset yang cukup
banyak (Riffat dkk., 1997). Amonia bersifat racun (toxic) dan cukup mudah terbakar,
sedangkan hidrokarbon termasuk dalam zat yang sangat mudah terbakar; oleh karena itu
refrigeran tersebut secara umum sulit digunakan pada sistem ekspansi langsung. Sistem
refrigerasi tak-langsung bisa digunakan untuk mengatasi kelemahan kedua refrigeran
tersebut. Beberapa peneliti berusaha menekan tingkat keterbakaran refrigeran
hidrokarbon dengan cara mencampurkannya bersama refrigeran lain yang tak mudah
terbakar (Pasek dkk., 2006; Sekhar dkk., 2004; Dlugogorsky dkk., 2002). Granryd (2001)
menekankan bahwa pada dasarnya sudah tersedia teknologi untuk meningkatkan
keamanan pada sistem refrigerasi yang menggunakan refrigeran hidrokarbon, namun cara
yang ekonomis untuk membuat sistem tersebut aman dan terbukti dapat digunakan dalam
skala luas masih perlu dikembangkan lebih lanjut.

Refrigeran yang digunakan dalam sistem kompresi uap dikelompokkan menjadi


refrigeran primer. Sedangkan jika fluida digunakan untuk memindahkan panas, maka
fluida ini disebut sebagai refrigeran sekunder. Penggunaan refrigeran saat ini merupakan
isu penting menyangkut pemanasan global. Pada bab ini, akan dijelaskan jenis refrigeran,
sifat, dan penggunaannya saat ini.

B. Refrigeran Primer

Refrigeran primer adalah refrigeran yang digunakan pada sistem kompresi uap.
Refrigeran yang digunakan pada sistem pendinginan kompresi uap harus mempunyai
mempunyai sifat-sifat kimia, fisika, termodinamika tertentu yang sesuai dengan kondisi
penggunaan

1. Jenis Refrigeran
a. Golongan Halokarbon

Refrigeran golongn halokarbon adalah jenis refrigeran yang umum digunakan. Refrigeran
jenis ini meliputi refrigeran yang terdiri dari satu atau lebih dari tiga jenis ion golongan
halogen (klorin, fluorin, dan bromin). Beberapa jenis refrigeran halokarbon yang umum
digunakan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis refrigeran halokarbon

Nama kimia Rumus kimia


Nomor refrigeran
11 Trikloromonofluorometan CCl3F
12 Diklorodifluorometan CCl2F2
13 Monoklorotrifluorometan CClF3
22 Monoklorodifluorometan CHClF2
40 Metil klorida CH3Cl
113 Triklorotrifluoroetan CCl2FCClF2
115 Diklorotetrafluoroetan CClF2CClF2

Sistem penomoran golongan halokarbon adalah sebagai berikut: nomor pertama dari
sebelah kanan menunjukkan jumlah atom florin pada senyawa, nomor kedua dari kanan
menunjukkan satu nilai lebih banyak dari jumlah atau, hidogren pada senyawa dan tiga
digit dari kanan menunjukkan satu nilai lebih sedikit dari jumlah atom karbon.

b. Senyawa Inorganik.

Awalnya, saat pendinginan hanya digunakan untuk tujuan khusus, hanya amoniak dan
karbon dioksida yang dapat digunakan sebagai refrogeran. Saat pendinginan mulai
dikenalkan pada masyarakat, sulfur dioksida, metil klorida dan metilen klorida digunkan
karena sesuai dengan kompresor sentrifugal. Metilrn klorida dan karbon dioksida, karena
faktor keamanannya digunakan untuk sistem pengkondisian udara (AC). Semua
refrigeran ini, selain amonia, tidak digunakan lagi, kecuali pada sistem yang lama.
Amonia mempunyai sifat termal yang baik, dan masih digunakan pada lapangan es
skating.

c. Senyawa Hidrokarbon

Banyak senyawa hidrokarbon yang digunakan sebagai refrigeran, umumnya digunakan


pada industri minyak bumi, seperti metana, etana, propana, etilen, dan isobutilen.
Kesemuanya flammable dan eksplosif. Digolongkan sedikit beracun karena mengandung
efek bius pada tingkat tertentu. Etana, metana, dan etilen digunakan pada pendinginan
suhu ekstra rendah.

Hidrokarbon sebagai refrigerant dalam sistem refrigerasi telah dikenal sejak tahun 1920-
an, sebelum refrigerant sintetik dikenal. Ilmuwan yang tercatat sebagai promotor
hidrokarbon sebagai refrigerant antara lain Linde (1916) dan Ilmuwan Dunia Albert
Einstein (1920). Hidrokarbon kembali diperhitungkan sebagai alternatif pengganti CFC,
setelah aspek lingkungan mengemuka, dan timbulnya permasalahan dalam peralihan dari
CFC ke HFC, dikarenakan perlu adanya penyesuaian perangkat keras, pelumas, serta
perlakuan khusus dalam operasional penggunaan bahan HFC : R-134a ini.

Demikian sulitnya perlakuan R-134a sebagai pengganti R-12 serta masih memiliki
dampak Global Warming Potential (GWP), bahkan Greenpeace suatu LSM di Jerman
yang sebelumnya gencar mendorong peralihan R-12 ke R-134a, kemudian beralih
memperomosikan penggunaan hidrokarbon sebagai refrigeran, seperti GTZ-Technology
yang telah populer di daratan Eropa. Penggunaan refrigeran hidrokarbon terus meluas ke
berbagai negara di kawasan Asia Pasific, dan. dewasa ini telah banyak dikenal berbagai
merek refrigerant yang dihasilkan oleh berbagai negara, seperti yang berasal dari negara :
Inggeris, Perancis, Jerman, Belanda, Kanada, Australia, Amerika, Korea, dan lain-lain,
termasuk Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan gas alam dan minyak bumi, disamping
pemanfaatan sebagai bahan bakar, juga memiliki potensi sebagai negara yang dapat
berkecimpung dalam hal refrigerant hidrokarbon maupun produk-produk ramah
lingkungan berbasis hidrokarbon lainnya seperti : Aerosol propellant, foaming agent,
solvent, dan lain-lain.
Produk refrigerant hidrokarbon MUSI COOL merupakan refrigerant hidrokarbon yang
sudah diproduksi di dalam negeri dengan beberapa grade.

Gambar 5-3. Refrigeran hydrocarbon (Musicool) buatan Pertamina

• MC-12 dan MC-134 sebagai pengganti refrigerant R-12 dan R-134a


MC-12 dan MC-134 merupakan campuran propane dan i-butane dengan
kandungan butane serendah mungkin agar tidak menggangu proses kondensasi
pada sistem pendingin. Refrigerant ini digunakan pada kendaraan bermotor,
kulkas dan dispenser
• MC-22 sebagai pengganti refrigerant R-22 MC-22 digunakan untuk pendingin
ruangan/AC jenis Split, window maupun central. Refrigerant ini memerlukan
kandungan propane yang sangat tinggi yaitu 99,7 % wt dengan impuritis butane
dan olefin yang serendah mungkin atau mendekati nol agar kinerja sistem
pendingin berjalan optimal.
• MC-600 sebagai refrigerant 600a MC-600 mempunyai kandungan i-butane yang
sangat tinggi/dominan atau lebih besar dari 85 % wt dengan kandungan propane
seminim mungkin. Refrigerant 600a saat ini digunakan sebagai media pendingin
pada kulkas, yang beroperasi pada tekanan rendah. Ke depan prospek refrigerant
ini sangat cerah karena kecenderungan penggunaannya tinggi.

d. Azeotrop
Senyawa azeotrop adalah suatu campuran yang tak dapat dipisahkan menjadi senyawa
penyusunnya dengan cara distilasi. Senyawa ini menguap dan mengembun sebagai satu
zat, tidak seperti campuran lainnya. Azeotrop yang paling dikenal adalah R502 yang
merupakan campuran 48.8% R22 dan 51.2% R115. Azeotrop lainnya adalah R-500,
campuran dari 73.8% R-12 dan 26.2% R-152a.
2. Sifat Regfrigeran
Dalam pemilihan refrigeran, sifat refrigeran yang penting antara lain sifat termodinamika,
kimia, dan fisik. Sifat termodinamika yang penting antara lain titik didih, tekanan
penguapan dan pengembunan, tekanan dan suhu kritis, titik beku, volume uap, COP,
tenaga per ton refrigerasi. Sifat kimia berhubungan dengan reaksi refrigeran terhadap
keadaan sekitar, antara lain tidak mudah terbakar, tidak beracun, tidak bereaksi dengan
air, minyak dan bahan konstruksi. Sedangkan sifat fisik refrigeran berhubungan dengan
bahan itu sendiri,antara lain konduktivitas dan kekentalan.
Sifat Refrigeran

• Tekanan penguapan harus cukup tinggi


• Sebaiknya refrigeran memiliki suhu pada tekanan yang lebih tinggi, sehingga
dapat dihindari kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator dan turunnya
efisiensi volumetrik karena naiknya perbandingan kompresi
• Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi, apabila tekanan
pengembunannya terlalu rendah, maka perbandingan kompresinya menjadi lebih
rendah, sehingga penurunan prestasi kondensor dapat dihindarkan, selain itu
dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena
kemungkinan terjadinya kebocoran, kerusakan, ledakan dan sebagainya menjadi
lebih kecil.
• Kalor laten penguapan harus tinggi, refrigeran yang mempunyai kalor laten
penguapan yang tinggi lebih menguntungkan karena untuk kapasitas refrigerasi
yang sama, jumlah refrigeran yang bersirkulasi menjadi lebih kecil
• Volume spesifik ( terutama dalam fasa gas ) yang cukup kecil, Refrigeran dengan
kalor laten penguapan yang besar dan volume spesifik gas yang kecil (berat jenis
yang besar) akan memungkinkan penggunaan kompresor dengan volume langkah
torak yang lebih kecil. Dengan demikian untuk kapasitas refrigerasi yang sama
ukuran unit refrigerasi yang bersangkutan menjadi lebih kecil
• Koefisien prestasi harus tinggi, dari segi karakteristik termodinamika dari
refrigeran, koefisien prestasi merupakan parameter yang terpenting untuk
menentukan biaya operasi
• Konduktivitas termal yang tinggi, konduktivitas termal sangat penting untuk
menentukan karakteristik perpindahan kalor
• Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun fasa gas, dengan turunnya
tahanan aliran refrigeran dalam pipa, kerugian tekanannya akan berkurang
• Konstanta dielektrika dari refrigeran yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta
tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik
• Refrigeran hendaknya stabil dan tidak bereaksi dengan material yang dipakai, jadi
juga tidak menyebabkan korosi
• Refrigeran tidak boleh beracun
• Refrigeran tidak boleh mudah terbakar dan mudah meledak
• Sebaiknya refrigeran menguap pada tekanan sedikit lebih tinggi dari pada tekanan
atmosfir. Dengan demikian dapat dicegah terjadinya kebocoran udara luar masuk
sistem refrigeran karena kemungkinan adanya vakum pada seksi masuk
kompresor (pada tekanan rendah).

Titik didih refrigeran merupakan salah satu faktor yang sangat penting:

• Refrigeran yang memiliki titik didih rendah biasanya dipakai untuk keperluan
operasi pendinginan temperatur rendah (refrigerasi)
• Refrigeran yang memiliki titik didih tinggi digunakan untuk keperluan
pendinginan temperatur tinggi (pendinginan udara)

Titik didih refrigeran merupakan indikator yang menyatakan apakah refrigeran dapat
menguap pada temperatur rendah yang diinginkan, tetapi pada tekanan yang tidak terlalu
rendah. Dari segi termodinamika R12, R22, R500, R502, ammonia dapat dipakai untuk
daerah suhu yang luas, dari keperluan pendinginan udara sampai ke refrigerasi. Sifat
termofisik dari beberapa refrigeran disajikan pada tabel 5.1.
Tabel 5.1. Sifat termofisik beberapa refrigeran
R-12 R-22 R-114 R-500 R-502 R-717 R-718
Parameter
Simbol kimia CCl2F2 CHClF2 CClF2 - - NH3 H20
Berat molekul 120.9 86.5 170.9 99.29 112 17 18
Titik didih (0C, 1 atm) -29.8 -40.8 3.6 -33.3 -45.6 -33.3 100
Titik beku (0C, 1 atm) -157.8 -160.0 -77.8
Cp/Cv (g) 1.13 1.18 1.31 1.40
Suhu kritik (0C) 112.2 96.1 132.8
Tekanan kritik (kPa) 4115.7 4936.1 1423.4
Panas laten penguapan (kJ/kg) 161.7 217.7 1314.2
3. Atribut Lingkungan dan Atribut Kerja
Pemilihan refrigeran lainnya dibuat berdasarkan atribut kerja dan lingkungan. Atribut
kerja refrigeran adalah sifat yang berkaitan dengan penggunaan refrigeran. Sifat ini
dibandingkan dengan beban kerja yang sama atau suhu evaporasi dan suhu kondensasi
yang sama. Sifat yang dibandingkan antra lain COP, efek pendinginan, serta tekanan
kondensasi dan evaporasi. Tabel 5.2 menampilkan atribut kerja bebrapa refrigeran
dengan suhu kondensasi 300C dan suhu evaporasi -150C.
Tabel 5.2. Atribut kerja beberapa refrigeran
Tekanan Tekanan Rasio Efek Laju aliran massa per COP
Refrigeran evaporasi kondensasi tekanan refrigerasi kW refrigerasi (L/det)
(kPa) (kPa) (kJ/kg)
11 20.4 125.5 6.15 155.4 4.9 5.03
12 182.7 744.6 4.08 116.3 0.782 4.70
22 295.8 1192.1 4.03 162.8 0.476 4.66
502 349.6 1308.6 3.74 106.2 0.484 4.37
717 236.5 1166.6 4.93 1103.4 0.462 4.76
Atribut lingkungan suatu refrigeran duhubungkan dengan reaksi refrigeran saat terlepas
di atmosfer. Pada refrigeran halokarbon, atom klorin pada refrigeran akan berikatan
dengan ozon di atmosfer, sehingga menyebabkan terjadinya penipisan ozon yang
menyebabkan pemanasan global. Terdapat tiga jenis atribut lingkungan yang umum
dikenal, GWP, ODP, dan tahun atmosferik.
GWP (Global Warming Potential) adalah ukuran seberapa banyak jumlah gas rumah kaca
yang diperkirakan akan mempengaruhi pemanasan global. GWP merupakan suatu ukuran
relatif yang membandingkan gas yang ingin diketahui nilainya dengan gas CO2 dalam
jumlah yang sama. GWP juga harus diukur dalam waktu yang sama, umumnya diukur
dalam waktu 100 tahun. ODP (Ozone Depletion Pottential) merupakan parameter yang
menyatakan kemampuan suatu refrigeran untuk berikatan dengan ozon di stratosfer.
Umumnya, makin banyak ion klorin dalam suatu refrigeran maka makin tinggi ODPnya.
Siklus hidup menentukan lamanya suatu gas terurai di atmosfer. Atribut lingkungan
beberapa refrigeran ditunjukkan pada tabel 5.3.
Tabel 5.3. Atribut lingkungan refrigeran primer
Tahun atmosferik ODP GWP
Refrigeran
Karbon dioksida 50-200 0 1
Metana 12 + 3 0 21
R-11 50 + 5 1.0 4000
R-12 120 1.0 8500
R-22 13.3 0.055 1700
R-502 - 0.283 5600
R-717 (Amonia) - 0 Tidak ada
C. Refrigeran sekunder
Seperti dijelaskan sebelumnya, refrigeran sekunder merupakan fluida yang membawa
panas dari benda yang didinginkan ke evaporator suatu sistem pendinginan. Suhu
refrigeran sekunder akan berubah saat refrigeran mengambil panas namun tidak berubah
fasa. Air dapat digunakan sebagai refrigeran sekunder, namun hanya untuk kondisi
operasi di atas titik beku air. Refrigeran yang umum digunakan adalah campuran garam
dan air (brine) atau anti beku yang mempunyai titik beku di bawah 00C. Beberapa anti
beku yang umum digunakan adalah campuran air dengan etilen glikol, propiln glikol atau
kalsium klorida. Etilen glikol dapat digunakan dalam industri makanan karena tidak
beracun.
Refrigeran Inorganik Penggunaan
Amonia (NH3) Untuk cold storage, pabrik es, pendinginan bahan pangan
Air (H2O) Pendinginan tipe ejektor
CO2 Sebagai karbondioksida padat atau es kering dan hanya
digunakan untuk refrigerasi angkutan
Refrigeran 11 (CCL3F) Pendinginan dengan kompresor sentrifugal untuk sistem
AC ber-kapasitas besar
Refrigeran 12 (CCL2F) Pendinginan dengan kompresor piston untuk refrigerasi
unit kecil terutama water cooler, kulkas
Refrigeran 22 (CHCLF2) Pendinginan dengan kompresor tipe piston untuk unit
refrigerasi kapasitas besar seperti pengemasan dan central
AC
Refrigeran 502 Untuk bahan pangan beku dalam kabinet, terutama untuk
pendinginan di pasar swalayan
Latihan
a. Berikan masing-masing satu contoh refrigeran dari jenis CFC dan HCFC.
b Jenis refrigeran mana yang lebih ramah terhadap lingkungan (gunakan tiga atribut
lingkungan yang anda ketahui untuk menjelaskan pilihan anda tersebut).
Test Formatip
Jelaskan dengan singkat pendapat anda mengenai penggunaan hidrokarbon (HC) sebagai
refrigeran untuk mesin pendingin/pembeku.
Daftar Pustaka

Musicool refrigerant. http://www.up-3.com/up3.php?page=viewproducts&id=8 diakses


tanggal 6 Pebruari 2008

BAB 6. MESIN PENDINGIN ALTERNATIF

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan menjelaskan prinsip kerja berbagai mesin


pendingin alternatif dan menganalisis performansi mesin pendingin absorpsi. Cakupan
dari pokok bahasan ini rangkuman sistem pendingin non kompresi uap, khusunya sistem
absorpsi dan efek termoelektrik.

A. Sistem Pendinginan Absorbsi

Sejarah mesin pendingin absorbsi dimulai pada abad ke-19 mendahului jenis kompresi
uap dan telah mengalami masa kejayaannya sendiri. Siklus pendinginan absorbsi mirip
dengan siklus pendinginan kompresi uap. Perbedaan utama kedua siklus tersebut adalah
gaya yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan antara tekanan penguapan dan
tekanan kondensasi serta cara perpindahan uap dari wilayah bertekanan rendah ke
wilayah bertekanan tinggi.

Pada sistem pendingin kompresi uap digunakan kompresor, sedangkan pada sistem
pendingin absorbsi digunakan absorber dan generator. Uap bertekanan rendah diserap di
absorber, tekanan ditingkatkan dengan pompa dan pemberian panas di generator sehingga
absorber dan generator dapat menggantikan fungsi kompresor secara mutlak. Untuk
melakukan proses kompresi tersebut, sistem pendingin kompresi uap memerlukan
masukan kerja mekanik sedangkan sistem pendingin absorbsi memerlukan masukan
energi panas. Oleh sebab itu, siklus kompresi uap sering disebut sebagai siklus yang
digerakkan dengan kerja (work-operated) dan siklus absorbsi disebut sebagai siklus yang
digerakkan dengan panas (heat operated). Gambar 6-1 menunjukkan persamaan dan
perbedaan antara siklus kompresi uap dengan siklus absorbsi.

Salah satu keunggulan sistim absorbsi adalah karena menggunakan panas sebagai energi
penggerak. Panas sering disebut sebagai energi tingkat rendah (low level energy) karena
panas merupakan hasil akhir dari perubahan energi dan sering kali tidak didaur ulang.
Pemberian panas dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menggunakan kolektor
surya, biomassa, limbah, atau dengan boiler yang menggunakan energi komersial.

1. Prinsip Kerja Siklus Absorbsi

Dasar siklus absorbsi disajikan pada gambar 6-2. Pada gambar ditunjukkan adanya dua
tingkat tekanan yang bekerja pada sistem, yaitu tekanan rendah yang meliputi proses
penguapan (di evaporator) dan penyerapan (di absorber), dan tekanan tinggi yang
meliputi proses pembentukan uap (di generator) dan pengembunan (di kondensor).
Siklus absorbsi juga menggunakan dua jenis zat yang umumnya berbeda, zat pertama
disebut penyerap sedangkan yang kedua disebut refrigeran. Selanjutnya, efek
pendinginan yang terjadi merupakan akibat dari kombinasi proses pengembunan dan
penguapan kedua zat pada kedua tingkat tekanan tersebut. Proses yang terjadi di
evaporator dan kondensor sama dengan pada siklus kompresi uap
Kerja siklus secara keseluruhan adalah sebagai berikut :

Proses 1-2/1-3 : Larutan encer campuran zat penyerap dengan refrigeran (konsentrasi zat
penyerap rendah) masuk ke generator pada tekanan tinggi. Di generator panas dari
sumber bersuhu tinggi ditambahkan untuk menguapkan dan memisahkan refrigeran dari
zat penyerap, sehingga terdapat uap refrigeran dan larutan pekat zat penyerap. Larutan
pekat campuran zat penyerap mengalir ke absorber dan uap refrigeran mengalir ke
kondensor.

Proses 2-7 : Larutan pekat campuran zat penyerap dengan refrigeran (konsentrasi zat
penyerap tinggi) kembali ke absorber melalui katup cekik. Penggunaan katup cekik
bertujuan untuk mempertahankan perbedaan tekanan antara generator dan absorber.

Proses 3-4 : Di kondensor, uap refrigeran bertekanan dan bersuhu tinggi diembunkan,
panas dilepas ke lingkungan, dan terjadi perubahan fase refrigeran dari uap ke cair. Dari
kondensor dihasilkan refrigeran cair bertekanan tinggi dan bersuhu rendah.

Proses 4-5 : Tekanan tinggi refrigeran cair diturunkan dengan menggunakan katup
cekik (katup ekspansi) dan dihasilkan refrigeran cair bertekanan dan bersuhu rendah yang
selanjutnya dialirkan ke evaporator.
Proses 5-6 : Di evaporator, refrigeran cair mengambil panas dari lingkungan yang
akan didinginkan dan menguap sehingga terjadi uap refrigeran bertekanan rendah.

Proses 6-8/7-8 : Uap refrigeran dari evaporator diserap oleh larutan pekat zat penyerap di
absorber dan membentuk larutan encer zat penyerap. Jika proses penyerapan tersebut
terjadi secara adiabatik, terjadi peningkatan suhu campuran larutan yang pada gilirannya
akan menyebabkan proses penyerapan uap terhenti. Agar proses penyerapan berlangsung
terus-menerus, absorber didinginkan dengan air yang mengambil dan melepaskan panas
tersebut ke lingkungan.

Proses 8-1 : Pompa menerima larutan cair bertekanan rendah dari absorber,
meningkatkan tekanannya, dan mengalirkannya ke generator sehingga proses berulang
secara terus menerus.

2. Analisa Pendinginan Absorbsi

Siklus pendinginan absorbsi pada prinsipnya merupakan kombinasi dari 2 siklus, yaitu
siklus tenaga dan siklus pendinginan, seperti disajikan pada Gambar 6-3. Siklus tenaga
menghasilkan kerja yang dibutuhkan untuk melakukan proses pengempaan (kompresi)
uap yang dihasilkan oleh evaporator. Siklus tenaga menerima panas qg pada suhu Ts,
melepas energi W dalam bentuk kerja ke siklus pendinginan, dan melepas sejumlah qa
energi ke lingkungan dalam bentuk panas pada suhu Ta. Siklus refrigerasi menerima
kerja sebesar W dan menggunakannya untuk memompa sejumlah qe panas pada suhu
pendinginan Tr kemudian melepaskan sejumlah qc panas pada suhu lingkungan Ta.

Dari definisi COP, untuk siklus tenaga berlaku persamaan:

...........................................................
6-1
.

sedangkan untuk siklus pendinginan berlaku,


...........................................................
6-2
.

Koefisien penampilan (COP) siklus absorbsi ideal atau siklus pendinginan yang
digerakkan dengan panas didefinisikan sebagai :

6
...........................................................
-
.
3

Dengan memasukkan persamaan [6-1] dan [6-2] diperoleh koefisien penampilan ideal

...........................................................
6-4
.

Dari persamaan di atas dapat diambil beberapa kecenderungan, yaitu :


- COP meningkat jika Tg meningkat
- COP meningkat jika Te meningkat
- COP menurun jika Ta menurun

Dalam beberapa hal, penggunaan COP untuk melihat penampilan sistem pendinginan
absorbsi tidak menguntungkan karena nilainya sangat rendah dibandingkan dengan COP
sistem pendinginan kompresi uap. Akan tetapi, hal ini tidak mutlak menunjukkan bahwa
penampilan kerja sistem absorbsi lebih rendah dibandingkan sistem kompresi uap karena
definisi keduanya sangat berbeda. COP sistem kompresi uap adalah perbandingan laju
pendinginan terhadap tenaga dalam bentuk kerja yang diberikan pada sistem, sedangkan
pada sistem absorbsi adalah perbandingan terhadap penambahan panas pada generator.
Secara umum, energi dalam bentuk kerja lebih tinggi nilai dan harganya dibandingkan
dalam bentuk panas.

Contoh Soal 1 :

Tentukan COP ideal sistem pendinginan absorbsi yang digerakkan dengan sumber panas
bersuhu 100 oC, suhu pendinginan 5 oC dan suhu lingkungan 30 oC.
Jawab : COP = (5+273.15)(100-30) / (100+273.15)(30-5) = 2.09

Analisis terhadap siklus pendinginan absorbsi sederhana dapat dilakukan dengan


menggunakan Gambar 6-8 sebagai berikut:

a. Keseimbangan massa

Di absorber :

...........................................................
6-5
.
Di generator :

...........................................................
6-6
.
...........................................................
6-7a
.
...........................................................
6-7b
.
...........................................................
6-8
.

Di kondensor dan evaporator :

...........................................................
6-9
.

yaitu massa refrigeran yang mengalir jika konsentrasi zat penyerap yang terkandung pada
refrigeran setelah keluar dari generator (pada titik 4) dianggap nol (keadaan ideal).

b. Keseimbangan energi

Energi masuk = energi keluar :

...........................................................
6-10
.

dimana :

...........................................................
6-11
.
...........................................................
6-12
.
...........................................................
6-13
.
6-
...........................................................
1
.
4
...........................................................
6-15
.

dimana :
h : entalpi (kJ/kg)
m : laju aliran massa (kg/det)
p : tekanan (kPa)
q : energi (kJ/kg)
v : volume jenis larutan (m3/kg)
wp : kerja pompa (kW/kg)
x : konsentrasi penyerap (-)
hp : efisiensi pompa (-)
huruf kecil 1-8 : sesuai dengan gambar 6-8
a : absorber (penyerap) c : campuran
e : evaporator g : generator
k : kondensor r : refrigeran

Contoh soal 2:

Suatu mesin pendingin jenis absorbsi air-LiBr bekerja dengan suhu di generator 100 oC,
kondensor 40 oC, evaporator 10 oC, dan absorber 30 oC. Kapasitas pompa adalah 0,6
kg/det.

Tentukan :
a. laju aliran refrigeran (air) yang melalui kondensor dan evaporator
b. energi masuk/keluar pada generator, kondensor, evaporator, dan
absorber.
c. COP sistem.
Jawab :
a. Keadaan jenuh air murni terjadi di kondensor dan evaporator, sehingga dengan
memasukkan suhu-suhu yang diketahui ke gambar 6-5, diperoleh tekanan uap jenuh
di :

kondensor (Tk = 40 oC) = 7,38 kPa


evaporator (Te = 10 oC) = 1,23 kPa
Uap jenuh di kondensor keluar dari generator pada suhu 100 oC, sehingga konsentrasi
LiBr yang terkandung pada uap air setelah keluar dari generator adalah perpotongan
antara suhu larutan 100 oC dengan suhu jenuh 40 oC, yaitu 66,4 %.

Uap jenuh dari evaporator masuk ke absorber yang berada pada suhu 30 oC, sehingga
meninggalkan absorber dengan konsentrasi LiBr (dengan cara yang sama) sebesar 50
%. Dengan demikian, keseimbangan massa di generator, dapat dituliskan :

Keseimbangan laju massa total : m2 + m4 = m1 = mc = 0,6


Keseimbangan LiBr : m1x1 = m2x2
0,6(0,50) = m2 (0,664)
m2 = m3 = ma = 0,452 kg/det dan
m4 = mr = 0,148 kg/det

Sehingga, laju aliran massa refrigeran yang melalui kondensor dan evaporator adalah
m4 = m5 = m6 = m7 = mr = 0,148 kg/det, sedangkan laju aliran massa penyerap adalah
m2 = m3 = ma = 0,452 kg/det, dan mc = 0,6 kg/det.

b. Entalpi larutan dapat dibaca dari gambar 6-6, yaitu :


h1 = h8 = (pada T = 30 oC dan x1 = 0,50) = -168 kJ/kg
h2 = h3 = (pada T = 100 oC dan x2 = 0,664) = -52 kJ/kg

Entalpi air dan uap air pada keadaan jenuh dapat dibaca dari Tabel Uap pada
Lampiran, yaitu :
h4 (uap jenuh pada T = 100 oC) = 2676,0 kJ/kg
h5 = h6 = (cair jenuh pada T = 40 oC) = 167,5 kJ/kg
h7 (uap jenuh pada T = 10 oC) = 2520,0 kJ/kg

Sehingga laju pertukaran energi yang terjadi adalah :


qg = m2h2 + m4h4 - m1h1 = 0,452(-52) + 0,148(2676,0) - 0,6(-168) = 473,3 kJ
qk = mr(h4 - h5) = 0,148(2676,0 - 167,5) = 371,2 kJ
qa = mrh7 + mah3 - mch8 = 0,148(2520,0) + 0,452(-52) - 0,6(-168) = 450,3 kJ/kg
qe = mr(h7 - h6) = 0,148(2520,0 - 167,5) = 348,2 kJ/kg
c. COP = qe / qg = (348,2) / (473,3) = 0,736
COP ideal sistem dapat dihitung dengan menggunakan Ta rata-rata = (30+40)/2
= 35 oC, yaitu :

................................
6-16
.

3. Kombinasi Refrigeran – Absorber pada Sistem Pendinginan Absorbsi

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh kombinasi refrigeran dengan zat
penyerap untuk layak digunakan pada mesin pendingin absorbsi. Diantaranya adalah :

1. Zat penyerap harus mempunyai nilai afinitas (pertalian) yang kuat dengan uap
refrigeran, dan keduanya harus mempunyai daya larut yang baik pada kisaran
suhu kerja yang diinginkan.
2. Kedua cairan tersebut, baik masing-masing maupun hasil campurannya, harus
aman, stabil, dan tidak korosif.
3. Secara ideal, kemampuan penguapan zat penyerap harus lebih rendah dari
refrigeran sehingga refrigeran yang meninggalkan generator tidak mengandung
zat penyerap
4. Refrigeran harus mempunyai panas laten penguapan yang cukup tinggi sehingga
laju aliran refrigeran yang harus dicapai tidak terlalu tinggi
5. Tekanan kerja kedua zat harus cukup rendah (mendekati tekanan atmosfir) untuk
mengurangi berat alat dan menghindari kebocoran ke lingkungannya

Saat ini, terdapat dua kombinasi refrigeran-zat penyerap yang umum digunakan, yaitu
air-litium bromida (H2O-LiBr) dan amonia-air (NH3-H2O). Pada kombinasi pertama, air
bertindak sebagai refrigeran dan litium bromida sebagai zat penyerap, sedang pada
kombinasi kedua, amonia bertindak sebagai refrigeran dan air sebagai zat penyerap.

a. Sistem Litium Bromida – air

Sistem litium bromida-air banyak digunakan untuk pengkondisian udara dimana suhu
evaporasi berada di atas 0 oC. Litium Bromida (LiBr) adalah suatu kristal garam padat,
yang dapat menyerap uap air. Larutan cair yang terjadi memberi tekanan uap yang
merupakan fungsi suhu dan konsentrasi larutan, seperti ditunjukkan pada Gambar 6-5.
Diagram pada gambar tersebut digunakan pada keadaan jenuh larutan, dimana larutan
berada pada keadaan keseimbangan.

Hubungan antara entalpi dengan persentase Litium-Bromida dalam larutan LiBr pada
berbagai suhu larutan diberikan pada Gambar 6-6. Di bagian kanan bawah Gambar 6-5
dan Gambar 6-6 terdapat batas dimana terjadi kristalisasi larutan LiBr-H2O, yaitu pada
keadaan mana larutan mengalami pemadatan. Proses yang terjadi pada wilayah melewati
batas kristalisasi akan mengakibatkan pembentukan lumpur padat dan penyumbatan
sehingga mengganggu aliran di dalam pipa.
Contoh soal 3:

Air murni pada suhu 40 oC diserap oleh LiBr sehingga menghasilkan larutan dengan
konsentrasi 59 % LiBr di dalam larutan. Tentukan a) tekanan uap air murni (sebelum
pelarutan LiBr), b) suhu dan tekanan uap larutan air larutan
Jawab :

a) Dengan menggunakan Gambar 6-5, tekan uap air murni diperoleh dengan menarik
garis lurus mendatar dari kiri ke kanan, sehingga tekanan uap air pada suhu 40 oC
adalah 7,38 kPa.

b) Suhu larutan merupakan titik potong antara suhu air (40 oC) dengan konsentrasi
larutan (59%) yaitu 80 oC. Tekanan uap larutan diperoleh dengan menarik garis lurus
mendatar ke sumbu tekanan, dan diperoleh nilai 7, 38 kPa (sama dengan tekanan uap
air murni pada suhu 40 oC).

b. Sistem Air – Amonia

Sistem amonia-air digunakan secara luas untuk mesin pendingin berskala kecil
(perumahan) maupun industri, yang mana suhu evaporasi yang dibutuhkan mendekati
atau di bawah 0 oC. Sistem amonia-air mempunyai hampir seluruh kriteria yang
diperlukan di atas, kecuali bahwa zat-zat tersebut dapat bersifat korosif terhadap tembaga
dan alloynya, serta sifat amonia yang sedikit beracun sehingga membatasi
penggunaannya untuk pengkondisian udara.

Kelemahan sistem amonia-air yang paling utama adalah air yang juga mudah menguap
sehingga amonia yang berfungsi sebagai refrigeran masih mengandung uap air pada saat
keluar dari generator dan masuk ke evaporator melalui kondensor. Keadaan ini dapat
menyebabkan uap air meninggalkan panas di evaporator dan meningkatkan suhunya
sehingga menurunkan efek pendinginan. Untuk menghindari hal itu, mesin pendingin
absorbsi dengan sistem amonia-air umumnya dilengkapi dengan rectifier dan analyzer,
seperti ditunjukkan pada Gambar 6-7. Amonia yang masih mengandung uap air dari
generator melalui rectifier, suatu mekanisma yang bekerja seperti kondenser akibat
adanya arus balik uap air dari analyzer. Di sini, uap air yang mempunyai suhu jenuh
yang lebih tinggi diembunkan dan dikembalikan ke generator. Selanjutnya amonia dan
sejumlah kecil uap air diteruskan ke analyzer, dimana uap air dan sebagian kecil amonia
diembunkan dan dikembalikan ke generator melalui rectifier, sedangkan amonia
diteruskan ke kondensor. Analyzer pada prinsipnya adalah suatu kolom distilasi, yang
umumnya menggunakan air pendingin dari kondensor sebagai media pendingin.

Untuk dapat menghitung penampilan panas di dalam siklus pendinginan absorbsi maka
diperlukan data entalpi tiap kombinasi refrigeran-zat penyerap yang digunakan. Diagram
entalpi-konsentrasi sistem amonia-air (NH3-H2O) diberikan pada Lampiran. Perlu
diperhatikan bahwa pada diagram tersebut konsentrasi yang ditunjukkan adalah
konsentrasi NH3 di dalam larutan NH3-H2O, meskipun dalam hal ini amonia berfungsi
sebagai refrigeran dan air sebagai zat penyerap.

B. Efek Termoelektrik

Jika arus dilewatkan melalui suatu termokopel maka akan terjadi 5 efek sebagai berikut:

Efek Seebeck; yaitu efek yang mendefinisikan mekanisme pengukuran suhu dengan
termokopel (Gambar 6-8). Jika dua konduktor A dan B yang berbeda disambungkan dan
kedua ujung sambungan tersebut diletakkan pada suhu yang berbeda, maka akan
dihasilkan gaya gerak listrik (GGL). Sebaliknya, jika GGL tersebut disediakan, maka
akan terjadi suhu berbeda pada kedua ujung tersebut. Hubungan antara beda suhu dengan
GGL tersebut adalah:

Gambar 6-8. Efek Termoelektrik

...........................................................
6-17
.
dimana a adalah daya termoelektrik atau koefieisen Seebeck (V/K)

Efek Joulean; yaitu efek pembentukan panas sebagai akibat dari arus yang mengalir
karena terbentuknya GGL pada efek Seebeck di atas. Panas Joulean yang terbentuk
adalah sebesar:

...........................................................
6-18
.

dimana qj adalah panas joulean (W), I adalah arus (A) dan R adalah total tahanan pada
rangkaian (ohm).

Efek Konduksi; yaitu jika salah satu ujung jembatan termokopel tersebut dipertahankan
pada suhu yang lebih tinggi dari ujung lainnya, maka akan terjadi aliran panas dari ujung
yang lebih panas ke ujung lebih dingin. Efek ini bersifat tak-mampu balik, dan besarnya
adalah:

...........................................................
6-19
.

dimana U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan.

Efek Peltier; jika arus dilewatkan melalui termokopel yang pada mulanya suhu kedua
ujungnya adalah sama, maka sejumlah panas akan dilepas pada salah satu ujungnya dan
sejumlah lain panas akan diserap pada ujung lainnya sehingga terjadi perbedaan suhu
pada kedua ujung tersebut. Perpindahan panas tersebut dipengaruhi oleh arus yang
mengalir, dengan hubungan seperti persamaan:

...........................................................
6-20
.

dimana f adalah koefisien Peltier (volt). Efek Peltier ini menjadi dasar utama system
pendinginan efek termoelektrik.

Efek Thomson; jika arus mengalir melalui konduktor termokopel yang pada mulanya
bersuhu seragam, maka panas Joulean akan menyebabkan gradien suhu sepanjang
termokopel tersebut, dengan hubungan:

...........................................................
6-21
.

dimana t adalah koefisien Thomson (V/K) dan dT/dx adalah gradien suhu yang terjadi
pada konduktor.
Secara termodinamik koefisien Seebeck (a), Peltier (f) dan Thomson (t) adalah saling
berhubungan. Besaran a dan f sangat tergantung pada sifat kedua konduktor pada
termokopel tersebut sehingga harus dinyatakan dalam nilai beda (a = aA - aB dan f = fA -
fB). Dengan demikian, hubungan ketiga koefisien tersebut dapat dinyatakan dengan dua
persamaan berikut:

...........................................................
6-22
.
...........................................................
6-23
.

Efek Peltier di atas dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendinginan dengan memilih secara
tepat dua konduktor berbeda yang akan digunakan. Gambar 2 menunjukkan contoh
skematik system pendingin termoelektrik. Konduktor dipilih sedemikian hingga daya
termoelektrik ap positip dan an negatip. Jembatan dingin direkatkan dengan lempeng
metal atau jenis permukaan pindah panas lainnya, yang kemudian dipaparkan pada ruang
atau benda yang akan didinginkan. Sedangkan jembatan panas direkatkan dengan
permukaan pindah panas untuk dapat melepaskan panas ke atmosfir atau media lain.

Pada kondisi tunak (steady), penyerapan dan pelepasan panas dapat dianggap terjadi
hanya pada jembatan tersebut, dan sifat lain bahan tetap. Dengan demikian,
keseimbangan panas yang terjadi adalah:

...........................................................
6-24
.

...........................................................
6-25
.

Dari persamaan (6-25) diperoleh,

...........................................................
6-26
.

yang menunjukkan bahwa beda suhu (T1 – T0) maksimum terjadi sat efek pendinginan
q0 sama dengan nol. Tenaga batre (w) yang diperlukan sebagai kompensasi kehilangan
daya karena efek Joulean dan counteract pembangkitan daya oleh efek Seebeck, adalah:

...........................................................
6-27
.

Sehingga koefisien penampilan system pendingin tersebut menjadi:


........................................................... 6-
. 28

Untuk system termoelektrik yang mampu balik secara sempurna, tanpa efek Joulean dan
konduksi, maka nilainya akan sama dengan COP siklus Carnot.

Nilai q0, (T1 – T0), dan COP dapat dimaksimalkan, dan nilainya diperoleh dengan
menurunkan masing-masing persamaan yang berkaitan terhadap I dan menyamakan
dengan nol, yaitu:

...........................................................
6-29
.
...........................................................
6-30
.

dimana disebut sebagai figure of merit.

...........................................................
6-31
.

Untuk COP maksimum, maka

...........................................................
6-32
.

dan

...........................................................
6-33
.

Bahan yang digunakan sebagai elemen kopel sitem pendingin termoelektrik adalah
campuran bismuth, tellurium dan antimony sebagai elemen p, dan campuran bismuth,
tellurium dan selenium sebagai elemen n. Nilai parameter elemen termoelektrik tipikal
adalah sebagai berikut:
Daya termoelektrik a = 0.00021 volt/K
Konduktivitas termal k = 0.015 W/cm.K
Resistivitas listrik r = 0.001 ohm.cm
Contact resistance listrik r = 0.00001 ~ 0.0001 ohm.cm2

Latihan

1. Jelaskan beda penggunaan larutan LiBr-H2O terhadap larutan H2O-NH3 pada mesin
pendingin absorbsi. Apakah penggunaan kedua larutan tersebut dapat saling
dipertukarkan?

2. Apakah masing-masing efek berikut berpengaruh positip (meningkatkan kapasitas


pendinginan) atau negatip (mengurangi kapasitas pendinginan) terhadap system
pendinginan termoelektrik, berikan penjelasan singkat terhadap jawaban anda:

• Efek Joulean
• Efek Thomson
• Efek Peltier
• Efek Seebeck dan
• Efek Konduksi

Test Formatip

1. Jelaskan sistem pendinginan termoelektrik dan menurut anda di bidang apa dapat
diaplikasikan?

2. Jelaskan dengan ringkas perbedaan antara mesin pendingin jenis kompresi uap dengan
mesin pendingin jenis absorbsi dari segi a) komponen-komponen utama dan fungsi dari
masing-masing komponen tersebut, b) agen pendingin (refrigeran) yang digunakan.

3. Sebuah pendingin absorpsi yg menggunakan LiBr-H2O, dirancang sedemikian rupa


sehingga panas yang diserap oleh evaporator (qe) = 138 kW pada suhu 5oC. Dengan
suhu absorber 35oC, hitunglah:

• Tentukan konsentrasi larutan yang melewati pompa menuju generator


• Jika laju aliran yang melalui pompa 0.60 kg / detik, hitunglah konsentrasi keluar
generator, apabila laju aliran dari generator ke absorber sebesar 0.54 kg/detik.
• Tentukan suhu kondensor dan suhu generator yang diperlukan serta panas yang
dibuang dari kondensor dan panas yang diserap di generator. (Petunjuk: hitung
dahulu entalpi air keluar kondensor)
• Tentukan COP sistem pendingin tersebut

4. Sistem pendingin absorbsi dengan pasangan refrigeran dan absorber adalah air dan
larutan Li Br. Diagram sistem pendinginan adalah seperti gambar di bawah. Tentukan:

• Diagram P-X-T (Tekanan, konsentrasi dan suhu)


• Massa aliran tiap titik
• Pindah panas tiap komponen sistem pendingin
• COP sistem pendingin
• Apa yang anda ketahui dengan sistem pendinginan absorbsi yang dilengkapi
dengan Heat Exchanger?
• Jelaskan terjadinya kristalisasi dalam sistem pendinginan absorbsi pasangan Air
dan LiBr

BAB 7. KOMPRESOR DAN KATUP EKSPANSI

Tujuan Instruksional khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis kompresor dan katup ekspansi serta


menghitung kinerjanya. Cakupan pokok bahasan ini meliputi jenis-jenis kompresor,
perbandingan kinerja dan efisiensi kompresor, jenis-jenis katup ekspansi, perhitungan
ekspansi pada sistem kapiler

A. Kompresor

Kompresor mengubah uap refrigeran yang masuk pada suhu dan tekanan rendah menjadi
uap bertekanan tinggi. Kompresor juga mengubah suhu refrigeran menjadi lebih tinggi
akibat proses yang bersifat isentropik. Tiga jenis kompresor yang sering digunakan
adalah kompresor torak (reciprocating), sentrifugal dan rotari. Kompresor torak
mempunyai piston yang bergerak maju mundur di dalam suatu silinder, dengan kapasitas
yang bervariasi antara 1 hingga 100 ton pendinginan tiap unit. Kompresor sentrifugal
mempunyai satu impeler sentrifugal dengan beberapa sudu yang berputar dengan
kecepatan tinggi. Kompresor rotari mempunyai satu sirip (vane) yang berputar dalam
satu silinder.
Kompresor torak adalah yang paling umum digunakan, dapat digerakkan oleh motor
listrik atau motor bakar. Parameter penting yang mempengaruhi penampilan kompresor
adalah kapasitas kompresor itu sendiri, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti:

1. langkah (displacement) piston


2. clearance antara kepala piston pada titik mati atas dengan ujung silinder,
3. ukuran katup pemasukan dan pengeluaran,
4. RPM
5. jenis refrigeran,
6. tekanan masukan dan tekanan keluaran.

Seringkali kapasitas kompresor harus dikendalikan untuk mengatasi beban pendinginan


yang tidak tetap, sehingga kompresor sering dioperasikan pada kapasitas di bawah
kapasitas maksimum. Kapasitas kompresor dapat dikendalikan dengan cara:

1. menyalurkan (bypass) uap refrigeran dari sisi tekanan tinggi ke sisi tekanan
rendah kompresor. Salah satu sistem bypass adalah menghubungkan sisi tekanan
tinggi dan sisi tekanan rendah kompresor dengan pipa dan menggunakan katup
solenoid sehingga uap refrigeran langsung dipindahkan ke sisi tekanan rendah.
2. tetap membuka katup pemasukan kompresor sehingga uap refrigeran mengalir
langsung di dalam kompresor,
3. mengendalikan kecepatan (RPM) motor, yaitu dengan menggunakan motor listrik
kecepatan ganda atau menggunakan dua motor listrik yang berkecepatan berbeda.

Gambar 7-1. Konstruksi kompressor torak


Gambar 7-2. Kompressor torak

Gambar 7-3. Kompressor untuk R-22


Gambar 7-4. Kompressor hermetik

Gambar 7-5. Kompressor jenis terbuka

B. Katup Ekspansi

Pada prinsipnya, katup ekspansi adalah alat yang dapat mengendalikan aliran refrigeran
ke evaporator baik secara manual ataupun otomatik. Jenis katup ekspansi yang umum
digunakan dalam mesin pendingin adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 7-7. Bentuk
lain katup ekspansi yang paling sederhana adalah pipa kapiler panjang.

Gambar 7-7. Katup ekspansi termostatik

Besarnya tekanan jatuh yang disebabkan oleh pipa kapiler tersebut dapat dihitung dengan
persamaan Darcy Weisbach, yaitu

7
..............................................................................................
-
.
1

dengan

..............................................................................................
.

dimana: nilai kekasaran relatif pipa (e/d) dan bilangan Reynold (rDv/m). Dalam hal ini, v
adalah laju aliran refrigeran (m/det), L panjang pipa (m) dan D diameter pipa (m).
Test Formatif

1. Mesin pendingin dengan refrigeran R-22 yang beroperasi pada suhu kondensasi 34 oC,
suhu evaporasi -20 oC akan menggunakan katup ekspansi dengan system pipa kapiler
(ID=1.63 mm). Dengan asumsi bahwa viskositas R-22 (m=0.0001823 Pa.s) tetap di
sepanjang pipa, volume jenis (n) dihitung pada keadaan rata-rata, dan factor friksi (f)
dapat dihitung dengan persamaan di bawah, tentukan panjang pipa kapiler yang
diperlukan.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan

• kompresi basah
• kompresi kering

pada mesin pendingin kompresi uap

BAB 8. EVAPORATOR DAN KONDENSOR

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu menghitung kebutuhan evaporator dan kondensor. Cakupan dari


pokok bahasan ini meliputi keseimbangan panas dan massa pada evaporator dan
kondensor, analisis rancangan evaporator dan kondensor serta berbagai jenis evaporator
dan kondensor

A. Pendahuluan

Kondensor dan evaporator adalah jenis dari penukar panas (heat exchanger). Refrigeran
melepaskan panas di kondensor dan menyerap panas di evaporator. Salah satu kalisfikasi
kondensor dan evaporator dilihat dari letak refrigeran (di dlam atau di luar tabung) dan
dari zat pendingin yang digunakan (gas atau cair). Klasifikasi ini dijelaskan pada tabel 1.
Gas yang umum digunakan adalah udara dan air merupakan cairan yang sering digunakan
sebagai zat pendingin.

Tabel 1. Klasifikasi refrigeran di kondensor dan evaporator

Komponen Refrigeran Zat pendingin


Di dalam pipa Gas di luar
Cairan di dalam*
Kondensor Di luar pipa Gas di dalam
Cairan di dalam
Di dalam pipa Gas di luar
Cairan di luar
Evaporator Di luar pipa Gas di dalam*
Cairan di luar

* = jarang digunakan

Evaporator dan kodensor umumnya berbentuk pipa. Perpindahan panas terjadi dari
refrigeran ke dinding dalam ke dinding luar lalu ke zat pendingin. Tidak semua panas
refrigeran dapat diserap oleh zat pendingin karena adanya koefisien pindah panas pada
dinding pipa. Koefisien pindah panas ini dihitung dengan persamaan:

...........................................................
8-1
.

dengan Uo = koefisien pindah panas keseluruhan (W/m2K)


ho = koefisien pindah panas di dalam pipa (W/m2K)
hi = koefisien pindah panas di luar pipa (W/m2K)
x = tebal pipa (m)
Ao = luas pipa luar (m2)
Am = luas rata-rata pipa (m2)
Ai = luas pipa dalam (m2)

Jika cairan berada di dalam pipa, maka koefisien pindah panas di dalam pipa dihitung
dengan:

...........................................................
8-2
.

dengan h = koefisien konveksi (W/m2K)


D = diameter dalam pipa (m)
k = konduktifitas termal fluida (W/mK)
V = kecepatan aliran fluida (m/det)
ρ = rapat massa fluida (kg/m3)
μ = viskositas fluida (Pa.detik)
cp = panas jenis fluida (J/kgK)

Pada heat exchanger dengan fluida yang berbeda (cairan dan gas), karena perbedaan nilai
koefisien konveksi, maka akan terjadi perbedaan perpindahn panas. Untuk
mengantisipasi hal ini, pipa pada bagian fluida yang berupa gas, diperluas permukaannya
dengan penambahan sitip (fin). Karenanya, persamaan koefisien pindah panas
keseluruhan ditulis kembali menjadi:
...........................................................
8-3
.

dengan hf = koefisien konveksi udara (W/m2K)


Ap = luas pipa antara sirip (m2)
Ae = luas sirip (m2)
η = efektifitas sirip
efektifitas sirip bar dihitung dengan persamaan:

...........................................................
8-4
.

...........................................................
8-5
.

dengan L = panjang sirip (m)


k = konduktifitas bahan sirip (W/m)
y = setengah dari tebal sirip (m)
atau menggunakan grafik di bawah. Grafik di bawah digunakan untuk sirip lingkaran.
Pada sirip persegi, luasan sirip persegi diubah menjadi luasan srip lingkaran untuk
mendapatkan diameter sirip.

• Contoh soal: berapakah efektifitas sirip pada sirip persegi yang terbuat dari
alumunium setebal 0.3 mm yang disisipkan pada pipa dengan berdiameter luar 16
mm jika jarak vertikalnyanya 50 mm dan jarak horizontalnya 40 mm. Koefisien
pindah panas udara 65 W/m2K, dan konduktifitas alumunium 202 W/mK.
• Jawab: sirip persegi ini mempunyai luas area yang sama dengan sirip lingkaran
berdiameter 50,4 mm. Setengah tebal dari sirip, y = 0.15 mm.

46.3 m-1

(re - ri)M = (0.0252-0.008)(46.3) = 0.8


dari grafik diketahui, untuk (re - ri)M = 0.8 dan (re - ri) = 25.2/8 =3.15, efektifitas sirip
adalah 0.72

B. Kondensor

Berdasarkan zat pendingin yang digunakan, kondensor dibedakan menjadi kondensor


berpendingin udara dan air. Sedangkan menurut konstruksinya, kondensor berpendingin
air dibagi menjadi shell and tube, double pipe, dan shell and coil condensor. Pada
kondensor udara, dibedakan menjadi kondenser dengan aliran udara paksa dan alami. Di
bawah adalah gambar beberapa jenis kondensor.

Gambar 8.1. Kondensor berpendingin udara

Gambar 8.2. Kondensor berpendingin air

Laju perpindahan panas pada kondensor adalah fungsi dari kapasitas refrigerasi dan suhu
evaporasi serta suhu kondensasi. Kondensor harus dapat membuang panas yang diserap
di evaporator dan yang ditambahkan di kompresor. Istilah yang umum digunakan untuk
menunjukkan tingkat perpindahan panas dari kondenser ke evaporator adalah rasio
pelepasan panas (heat rejection ratio) yang dihitung dengan persamaan:
..............
8-6
.

namun rasio perpindahan panas ini kurang tepat karena tidak memperhitungkan kerja
kompresi. Nilai rasio perpindahan panas ini juga dapat dihitung dengan bantuan grafik di
bawah.

Pada kondensor, terjadi kondensasi pada uap yang mengembun di luar pipa. Koefisien
kondensasi yang terjadi di luar pipa dihitung dengan persamaan:

...........................................................
8-7
.

dengan hct = koefisien kondensasi (W/m2K)


g = percepatan gravitasi (m/s2)
ρ = rapat massa fluida (kg/m3)
hfg = kalor laten penguapan (J/kg)
μ = viskositas kondensat (Pa.detik)
Δt = perbedaan suhu antara kondensat dan pipa (K)
N = jumlah pipa dalam baris vertikal
D = diameter luar pipa (m)
saat kondensor berpendingin air telah digunakan selama beberapa waktu, akan terjadi
pengendapan pada pipa karena adanya kotoran pada fluida yang mengalir. Pengendapan
ini akan mengurangi proses pindah panas dan besarnya disebut

sebagai fouling factor Beberapa perusahan menetapkan fouling factor


sebesar0.000176 m2K/W.Koefisien pindah panas keseluruhan ditulis ulang menjadi:
...........................................................
8-8
.

refrigeran berada dalam keadaan superheat, sebaran suhu digambarkan pada grafik
dibawah. Karena perbedaan penurunan suhu ini, beda temperatur antara refrigeran dan
pendingin dihitung dengan persamaan:

C. Evaporator

Pada banyak sistem pendinginan, refrigeran akan menguap di evaporator dan


mendinginkan fluida yang melalui evaporator. Evaporator ini disebut sebagai direct-
expansion evaporator. Berdasarkan zat yang didinginkan, evaporator dibedakan menjadi
evaporator pendingin udara dan pendingin cairan. Berdasarkan konstruksinya, evaporator
pendingin udara dibedakan menjadi plat, bare tube, dan finned evaporator. Evaporator
plat biasa digunakan pada kulkas rumah. Evaporator pendingin udara ini umumnya
digunakan untuk sistem pengkondisian udara (AC).

Gambar 8-3. Evaporator

Evaporator pendingin cairan umumnya digunakan untuk mendinginkan air, susu, jus, dan
kegunaan industri lainnya. Jenis evaporator yang sering digunakan adalah evaporator
bare-tube karena proses pengambilan panas terjadi langsung dari bahan ke ferigeran.
Terdapat bebrapa tipe evaporator yang sering digunakan, seperti pipa ganda, Baudelot
cooler, tipe tank, shell and coil cooler dan shell and tube cooler.

Contoh soal:

1. Tentukan luasan yang diperlukan bagi kondensasi R-22 dengan kapasitas 80 kW


dengan pendingin udara. Suhu evaporasi 50C dan suhu kondensasi 450C. Air masuk pada
suhu 300C dan keluar pada suhu 350C. Kondenser dengan 42 pipa akan digunakan
dengan penempatan pipa seperto gambar. Tentukan panjang pipa jika diameter dalam dan
luar pipa adalah 14 dan 16 mm.

• Jawaban: penyelesaian desain ini sebagai berikut: tentukan tingkat perpindahan


panas yang diinginkan, koefisien pindah panas masing-masing dan keseluruhan,
lalu hitung luasan dan panjang pipa yang dibutuhkan.
• Laju perpindahan panas, dari gambar 1, dengan asumsi menggunakan kompresor
hermetik, tingkat perpindahan panas pada suhu kondensasi 450C dan suhu
evaporasi 50C adalah 1.27. Laju perpindahan panas pada kondesor q adalah

koefisien kondensasi dihitung dengan persamaan (8-7)


densitas dan kalor laten penguapan pada 450C bisa dilihat pada tabel kalor laten
penguapan.

konduktifitas dan viskositas dari refrigeran cair 450C dilihat dari tabel 5.5
k= 0.0779 W/m.K μ= 0.000180 Pa.s
jumlah rata-rata pipa pada baris vertikal adalah

beda suhu antara uap dan pipa belum diketahui, karenanya Δt diasumsikan 5K dan nilai
ini diperbaiki jika nanti perlu;

= 1528 W/m2K

Tahanan logam. Konduktifitas tembaga adalah 390 W/mK dan resistansi pipa adalah

m2K/W

fouling factor

= 0.000176 m2K/W

koefisien pindah panas dari air. Laju aliran air yang dibutuhkan untuk menyerap panas
dari kondensor dengan kenaikan suhu dari 300C menjadi 350C adalah

dan laju aliran volumenya adalah


kecepatan air melalui pipa V adalah

persamaan (2) dapat digunakan untuk menghitung koefisien pindah panas air dengan
menggunkan sifat 320C.
ρ = 995 kg/m3 μ = 0.000773 Pa.det cp = 4190 J/kgK k = 0.617 W/mK

hw= 1.014(27030)0.8(5.25)0.4=6910 W/m2K

koefisien pindah panas keseluruhan

977 W/m2K

Beda temperatur logaritmik adalah

12.33 0C

Ao = 8.43 m2

Panjang pipa

Panjang = 4.0 m

2. Apabila sebuah pendingin mempunyai daya refrigerasi 1 kW, dengan pembuangan


panas di kondensor 1,3 kW,
• Buatlah skema dari keseimbangan energinya
• Berapakah COP dari sistem pendingin tersebut

Test Formatip

1. Kondensor mesin pendingin dengan refrigeran R-22 yang beroperasi pada suhu
kondensasi 34 oC, suhu evaporasi -20 oC menggunakan sistem penukar panas tubular
aliran berlawanan dengan air sebagai zat pendingin.

• Jika suhu air yang masuk adalah 25 oC dan laju aliran air 2 kg/det, tentukan suhu
air yang keluar dari penukar panas tersebut.
• Jika kondenser tersebut menggunakan pipa berdiameter luar (OD=14 mm), dan
koefisien pindah panas total (U=800 W/m.K), tentukan panjang pipa kondensor
yang diperlukan.
• Tentukan pada jarak berapa dari titik masuk kondensor tersebut keadaan
refrigeran menjadi uap jenuh (x=1).

2. Tentukan total penurunan tekanan yang terjadi pada pipa kondensor jika viskositas R-
22 (m=0.0001823 Pa.s) tetap disepanjang pipa, volume jenis (n) dihitung pada keadaan
rata-rata, dan factor friksi (f) dapat dihitung dengan persamaan di bawah, tentukan
panjang pipa kapiler yang diperlukan.

3. Penukar panas tipe tubular bekerja dengan aliran berlawanan mempunyai nilai
koefisien pindah panas keseluruhan (Uo = 2 kW/m2.K). Fluida 1 masuk pada suhu
60oC, dan fluida 2 masuk pada suhu 20oC. Laju aliran fluida 1 dan 2 masing-masing
adalah 0.3 kg/s dan 0.4 kg/s. Panas jenis (Cp) fluida 1 dan 2 masing-masing adalah 3.2
kJ/kg.K dan 4.19 kJ/kg.K. Tentukan suhu fluida 2 yang keluar dari penukar panas
tersebut jika panjangnya adalah 2 m.

4. Sebuah sistem pendingin dengan siklus kompresi uap standar yang menggunakan
refrigeran R134a diketahui beroperasi pada suhu kondensasi 35.51oC dan suhu evaporasi
-20 oC. Untuk mendapatkan kapasitas pendinginan sebesar 1 ton refrigerasi (3517 W),
dan diasumsikan bahwa kompresor bekerja secara isentropis. Kondensor mesin pendingin
tersebut didinginkan dengan menggunakan penukar panas pipa ganda (double pipe heat
exchanger) aliran berlawanan. Jika fluida pendingin yang dipakai adalah air (Cp=4.2
kJ/kg-K) dengan laju aliran sebesar 1 kg/detik,

• tentukan suhu air yang keluar apabila suhu inlet air 25oC
• gunakan definisi keefektifan (effectiveness) untuk mencari nilai keefektifan
penukar panas

5. Satu mesin pendingin dapat digunakan pada tiga ruangan (dengan tiga evaporator)
secara paralel seperti pada gambar berikut.
• Gambarkan proses pendinginan tersebut pada diagram molier (p-h)
• Jika ketiga evaporator tersebut digunakan secara seri, gambarkan proses
pendinginannya pada diagam molier.
• Jelaskan dengan contoh perhitungan apakah COP mesin pendingin dengan
rangkaian evaporator paralel lebih baik dari pada seri.

BAB 9. PENGKONDISIAN UDARA

Tujuan Instruksional Khusus

Mmahasiswa mampu melakukan perhitungan dan analisis pengkondisian udara. Cakupan


dari pokok bahasan ini adalah prinsip pengkondisian udara, penggunaan diagram
psikrometri, penghitungan beban pendinginan sensibel dan laten.

1. Prinsip Dasar Pengkondisian Udara

Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan dan kesegaran hidup dalam rumah tinggal atau
bangunan – bangunan bertingkat, khususnya di daerah beriklim tropis dengan udara yang
panas dan tingkat kelembaban tinggi, diperlukan usaha untuk mendapatkan udara segar
baik udara segar dari alam dan aliran udaran buatan. Udara yang nyaman mempunyai
kecepatan tidak boleh lebih dari 5 km/jam dengan suhu/ temperatur kurang dari 30°C dan
banyak mengandung O2.

Daerah di Indonesia kebanyakan kurang memberikan kenyamanan karena udaranya


panas (23 -34°C), kotor (berdebu, berasap) dan angin tidak menentu, khususnya pada
bangunan tinggi dimana angin mempunyai kecepatan tinggi. Karena keadaan alam yang
demikian, maka diperlukan suatu cara untuk mendapatkan kenyamanan dengan
menggunakan alat penyegaran udara (air condition).

Pengkondisian udara adalah perlakuan terhadap udara untuk mengatur suhu, kelembaban,
kebersihan dan pendistribusiannya secara serentak guna mencapai kondisi nyaman yang
diperlukan oleh orang yang berada di dalam suatu ruangan. Atau dapat didefinisikan
suatu proses mendinginkan udara sehingga mencapai temperatur dan kelembaban yang
ideal. Sistem pengkondisian udara pada umumnya dibagi menjadi 2 golongan utama :

• Pengkondisian udara untuk kenyamanan kerja


• Pengkondisian udara untuk industri

Sistem pengkondisian udara untuk industri dirancang untuk memperoleh suhu,


kelembaban dan distribusi udara yang sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh proses
serta peralatan yang dipergunakan di dalam ruangan. Dengan adanya pengkondisian
udara ini, diharapkan udara menjadi segar sehingga karyawan dapat bekerja dengan baik,
pasien di rumah sakit menjadi lebih nyaman dan penghuni rumah tinggal menjadi
nyaman

1.b. Komposisi utama sistem pengkondisian udara

Gambar 9.1. Sistem pengkondisian udara

Gambar 9.1. memperlihatkan komponen utama dari skema sistem pengkondisian.

Komponen sistem pengkondisian udara adalah:

a. sistem pembangkit kalor, mesin refrigerasi, menara pendingin dan ketel uap
b. sistem pipa: pipa air dan pipa refrigerasi dan pompa
c. pengkondisian udara: saringan udara, pendingin udara, pemanas udara dan
pelembab udara
d. sistem saluran udara: kipas dan saluran udara
Gambar 9.2 Diagram sistem pengkondisian udara

Prinsip pengkondisian udara adalah kondisi udara dalam ruangan dapat dalam keadaan
sangat dingin, panas, lembab, kering, kecepatan udara tinggi atau tidak ada gerakan
udara. Udara dingin digerakkan oleh Fan masuk reducting (saluran udara) dan melalui
out let (lubang keluar) udara masuk ke dalam ruangan. Udara dari dalam ruangan
kembali ke return out let (grile/ lubang isap) masuk ke ducting return (saluran kembali)
dan melalui filter untuk pembersihan udara masuk melewati celah-celah/ permukaan coil
evaporator (koil pendinginan) dan kembali digerakkan Fan (kipas udara).

2. Psikrometrik untuk Proses Air Conditioning

Psikometrik adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat termodinamika dari udara basah.
Secara umum digunakan untuk mengilustrasikan dan menganalisis perubahan sifat termal
dan karakteristik dari proses dan siklus sistem penyegaran udara (air conditioning).
Diagram psikometrik adalah gambaran dari sifat-sifat termodinamika dari udara basah
dan variasi proses sistem penyegaran udara dan siklus sistem penyegaran udara. Dari
diagram psikometrik akan membantu dalam perhitungan dan menganalis kerja dan
perpindahan energi dari proses dan siklus sistem penyegaran udara. Diagram
psikrometrik ditunjukkan pada Gambar 9.3.

Proses yang terjadi pada udara dapat diganbarkan dalam bagan psikrometrik guna
menjelaskan perubahan sifat-sifat udara yang penting seperti suhu, asio kelembaban dan
entalpi dalm proses-proses tersebut. Beberapa proses dasar dapat ditunjukkan sebagai
berikut

a. Proses Pemanasan dan pendinginan


Gambar 9.4. Pemanasan dan pendinginan sensibel

b. Pelembaban adiabatik dan non adiabatik

Gambar 9.5. menunjukkan proses pelembaban yang dapat bersifat adiabatik (proses 1-2)
atau dengan penambahan kalor (proses 1-3).

Gambar 9.5. Proses pelembaban udara

d. Pendinginan dan pengurangan kelembaban

Proses ini menurunkan suhu bola kering dan rasio kelembaban (Gambar 9.6). Proses
ini terjadi pada koil pendingin atau alat penurun kelembaban.
Gambar 9.6. Pendinginan dan penurunan kelembaban

e. Pengurangan kelembaban kimiawi

Pada proses kimiawi (Gambar 9.7), uap air dari udara diserap atau diadsorbsi oleh
suatu bahan higroskopik. Jika proses tersebut diberi penyekat kalor, sehingga
entalpinya tetap, dan karena kelembabannya turun maka suhu udara tersebut harus
naik.
Gambar 9.7. Proses penurunan kelembaban kimiawi

f. Pencampuran Udara

Gambar 9.8. Skema pencampuran udara

Campuran dua aliran udara adalah proses yang umum di dalam pengkondisian udara.
Gambar 9.8 menunjukkan pencampuran udara antara w1 kg/detik udara dari keadaan
1 dengan w2 kg/detik udara dari keadaan 2. Hasilnya adalah kondisi 3, terlihat pada
grafik psikrometrik dalam Gambar 9.9.
Gambar 9.9. Proses pencampuran udara pada kurva psikrometrik

Persamaan dasar untuk proses pencampuran ini adalah persamaan kesetimbangan energi
dan keseimbangan massa. Persamaan keseimbangan energi adalah:

........................................................................................
9-1
.

Dan persamaan kestimbangan massa air adalah:

9
........................................................................................
-
.
2

Persamaan 9.1 dan 9.2 menunjukkan bahwa entalpi dan rasio kelembaban akhir adalah
rata-rata dari entalpi dan rasio kelembaban udara saat masuk. Suatu pendekatan yang
dilakukan oleh para ahli adalah bahwa suhu dan rasio kelembaban merupakan harga rata-
rata udara masuk. Dengan pendekatan ini, titik yang terdapat pada grafik psikrometrik di
atas menyatakan hasil dari suatu proses pencampuran yang terletak pada garis lurus yang
menghubungkan titik-titik dari kondisi-kondisi pemasukan. Selanjutnya perbandingan
jarak pada garis 1-3 dan 2-3 sama dengan perbandingan laju aliran w2 dan w1.
3. Perhitungan Beban Pendinginan

Tujuan utama sistem pengkondisian udara adalah mempertahankan keadaan udara


didalam ruangan dan meliputi pengaturan temperatur, kelembaban relatif, kecepatan
sirkulasi udara maupun kualitas udara. Sistem pengkondisian udara yang dipasang harus
mempunyai kapasitas pendinginan yang tepat dan dapat dikendalikan sepanjang tahun.
Kapasitas peralatan yang dapat diperhitungkan berdasarkan beban pendinginan setiap
saat yang sebenarnya. Alat pengatur ditentukan berdasarkan kondisi yang diinginkan
untuk mempertahankan selama beban puncak maupun sebagian. Beban puncak maupun
sebagian tidak mungkin dapat diukur sehingga diperlukan prediksi melalui perhitungan
yang mendekati keadaan yang sebenarnya.

Untuk maksud perkiraan tersebut diperlukan survei secara mendalam agar dapat
dilakukan analisis yang teliti terhadap sumber-sumber beban pendinginan. Pemilihan
peralatan yang ekonomis dan perancangan sistem yang tepat dapat dilakukan juga beban
pendinginan sesaat yang sebenarnya dapat dihitung secara teliti.

Beban pendinginan sebenarnya adalah jumlah panas yang dipindahkan oleh sistem
pengkondisian udara setiap hari. Beban pendinginan terdiri atas panas yang berasal dari
ruang dan tambahan panas. Tambahan panas adalah jumlah panas setiap saat yang masuk
kedalam ruang melalui kaca secara radiasi maupun melalui dinding akibat perbedaan
temperatur. Pengaruh penyimpanan energi pada struktur bangunan perlu dipertimbangkan
dalam perhitungan tambahan panas.

Perhitungan beban pendingin dapat diperoleh dari ASHRAE Handbook of Fundamentals.


Tata cara perhitungan ini dapat menghasilkan sistem pengaturan udara yang terlalu besar
yang mengakibatkan kurang efisien dalam pemakaian.
Dengan makin besarnya biaya-biaya pemakaian energi maka makin dirasa perlu
mengadakan optimasi sistem pengaturan udara suatu gedung atau bangunan yang harus
dihitung dari waktu kewaktu secara dinamis.

Didalam kenyataannya kalor yang masuk kedalam gedung tidak tetap, karena faktor-
faktor yang mempengaruhi kalor tersebut juga berubah-ubah. Sebagai contoh temperatur
udara luar (lingkungan) nilainya merupakan fungsi waktu, yaitu maksimum disiang hari
rendah dipagi dan sore hari, sedang minimumnya dimalam hari. Demikian pula
kelengasan udara luar maupun radiasi surya yang mengenai dinding bangunan nilainya
berubah terhadap waktu.

Untuk memperhitungkan pengaruh dari perubahan tersebut sangatlah sulit, bahkan


mungkin tidak praktis untuk dihitung. Oleh karena itu untuk menentukan keadaan tak
lunak (transien) akan dipilih faktor-faktor yang dominan. Disamping itu akan
diperhatikan adanya absorbsi oleh struktur bangunan.

Dasar perhitungan beban pendinginan dilakukan dengan dua cara, yaitu:

• perhitungan beban kalor puncak untuk menetapkan besarnya instalasi


• perhitungan beban kalor sesaat, untuk mengetahui biaya operasi jangka pendek
dan jangka panjang serta untuk mengetahui karakteristik dinamik dari instalasi
yang bersangkutan.

Beban pendinginan merupakan jumlah panas yang dipindahkan oleh suatu sistem
pengkondisian udara. Beban pendinginan terdiri dari panas yang berasal dari ruang
pendingin dan tambahan panas dari bahan atau produk yang akan didinginkan. Tujuan
perhitungan beban pendinginan adalah untuk menduga kapasitas mesin pendingin yang
dibutuhkan untuk dapat mempertahankan keadaan optimal yang diinginkan dalam ruang.

Aspek-aspek fisik yang harus diperhatikan dalam perhitungan beban pendingin antara
lain :
1. Orientasi gedung dengan mempertimbangkan pencahayaan dan pengaruh angin
2. Pengaruh emperan atau tirai jendela dan pantulan oleh tanah
3. Penggunaan ruang
4. Jumlah dan ukuran ruang
5. Beban dan ukuran semua bagian pembatas dinding
6. Jumlah dan aktivitas penghuni
7. Jumlah dan jenis lampu
8. Jumlah dan spesifikasi peralatan kerja
9. Udara infiltrasi dan ventilasi

Beban pendinginan suatu ruang berasal dari dua sumber, yaitu melalui sumber eksternal
dan sumber internal.
a. Sumber panas eksternal antara lain :

• Radiasi surya yang ditransmisikan melaui kaca


• Radiasi surya yang mengenai dinding dan atap, dikonduksikan kedalam ruang
dengan memperhitungkan efek penyimpangan melalui dinding
• Panas Konduksi dan konveksi melalui pintu dan kaca jendela akibat perbedaan
temperatur.
• Panas karena infiltrasi oleh udara akibat pembukaan pintu dan melalui celah-celah
jendela.
• Panas karena ventilasi.

b. Sumber panas internal antara lain :

• Panas karena penghuni


• Panas karena lampu dan peralatan listrik
• Panas yang ditimbulkan oleh peralatan lain

Beban pendinginan total merupakan jumlah beban pendinginan tiap ruang. Beban ruang
tiap jam dipengaruhi oleh perubahan suhu udara luar, perubahan intensitas radiasi, surya
dan efek penyimpanan panas pada struktur/dinding bagian luar bangunan gedung.
Dalam sistem pendingin dikenal dua macam panas atau kalor yaitu panas sensible (panas
yang menyebabkan perubahan temperatur tanpa perubahan fase). Setiap sumber panas
yang dapat menaikkan suhu ruangan ditandai dengan naiknya temperatur bola kering
(Tdb) akan menambah beban panas sensible.

Panas laten yaitu : panas yang menyebabkan perubahan fase tanpa menyebabkan
perubahan temperatur misalnya : kalor penguapan. Setiap sumber panas yang dapat
menambah beban laten. Udara yang dimasukkan kedalam ruangan harus mempunyai
kelembaban rendah agar dapat menyerap uap air (panas laten) dan temperatur yang
rendah agar dapat menyerap panas dari berbagai sumber panas dalam ruangan (panas
sensible), agar kondisi ruangan yang diinginkan dapat dipercepat.

Beban ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Penambahan beban sensible

• Transmisi panas melalui bahan bangunan, melewati atap, dinding, kaca, partisi,
langit-langit dan lantai
• Radiasi sinar matahari
• Panas dari penerangan atau lampu-lampu
• Pancaran panas dari penghuni ruangan
• Panas dari peralatan tambahan dari ruangan
• Panas dari elektromotor

b. Penambahan panas laten

• Panas dari penghuni ruangan


• Panas dari peralatan ruangan

c. Ventilasi dan infiltrasi

• Penambahan panas sensible akibat perbedaan temperatur udara dalam dan luar
• Penambahan panas laten akibat kelembaban udara dalam dan luar

Beban pendinginan puncak (total heat load) adalah total panas yang harus diambil oleh
suatu sistem pendingin. Secara umum terdiri dari

a. Panas konduksi (Q1)


Gambar 9.11. Skema perpindahan panas melalui dinding

Beban panas yang melalui dinding disebut sebagai beban kebocoran dinding, yaitu
banyaknya panas yang bocor menembus dinding ruang dari bagian luar ke dalam.
Karena tidak ada insulasi yang sempurna, maka akan selalu ada beban panas yang
berasal dari luar ke dalam ruangan, karena suhu di dalam ruangan lebih rendah dari
pada suhu di luar ruangan. Gambar 9.11. menunjukkan skema perpindahan panas
melalui dinding..

Panas yang masuk melalui dinding dan atas:

......................................................................................
9-3
.

dimana Q = jumlah panas (W)


U = koefisien perpindahan panas total (W/m2 K)
A = luas permukaan (m2)
 (to-ti) = perbedaan suhu dalam dan luar ruang pendingin (K)

koefisien perpindahan panas total (U) dihitung dengan persamaan:

.........................................
9-4
.

dimana x = tebal bahan insulasi (m)


k = konduktivitas termal bahan (W/m K)
h = koefisien perpindahan panas konveksi (W/m2 K)

b. Field heat (Q2)

Beban kalor yang dibawa oleh produk yang akan didinginkan atau disimpan:

....................................................................................
9-5
.

dimana Q = jumlah panas (KJoule)


m = berat dari produk yang didinginkan (kg)
Cp= panas jenis dari produk di atas titik beku (KJoule/kg K)
ΔT= perubahan suhu produk (K)

c. Panas Respirasi (Q3)

Panas yang diperoleh dari produk sebagai akibat dari proses respirasi.

9
......................................................
-
.
6

d. Beban lampu (Q4)

...................................................................................
9-7
.

e. Service load (Q5)

Service load adalah panas lain yang timbul dalam proses operasi pendinginan seperti
kipas, operator, udara luar ketika pintu dibuka, motor listrik dan panas infiltrasi dari
penyekat dan rak pendingin. Diperkirakan besarnya adalah sekitar 10% dari total
konduksi panas, field heat dan panas respirasi.

Contoh soal:

1. Suatu campuran udara-uap bersuhu bola kering 30 °C dan rasio kelembaban 0.015.
Hitunglah pada dua tekanan barometrik yang berbeda, 85 dan 101 kPa:

a. entalpi udara campuran


b. suhu pengembunanrasio

2. Dalam suatu unit pengkondisian udara, dimasukkan 3.5 m3/detik udara dengan suhu
27°C bola kering, kelembaban relatip 50 persen dan tekanan atmosfir standar. Udara
keluar dengan keadaan suhu bola kering 13°C dan kelembaban relatif 90 persen. Dengan
menggunakan sifat-sifat udara yang terdapat dalam kurva psikrometrik:

a. hitung kapasitas refrigerasi dengan satuan kilowatt


b. tentukan laju pemisahan air dan udara

3. Suatu aliran udara luar dicampur dengan aliran udara balik dalam suatu sistem
pengkondisian udara yang bekerja pada tekanan 101 kPa. Laju aliran udara luar 2
kg/detik bersuhu bola kering 35°C dan suhu bola basah 25°C. Laju udara balik 3 kg/detik
dengan suhu 24°C dan kelembaban relatif 50 persen. Tentukan:

a. entalpi udara campuran


b. rasio kelembaban udara campuran
c. suhu bola kering udara campuran yang ditentukan dari sifat-sifat yang ditunjukkan
dalam bagian a dan b
d. suhu bola kering dengan mengukur suhu bola kering rata-rata arus masuk

4. Udara di dalam suatu ruangan bersuhu 30 oC dan RH 80%. Ukuran ruangan adalah 2
m x 3 m x 3 m. Dengan menggunakan diagram psikrometri tentukan:

• Suhu bola basah ruangan.


• Suhu titik embun ruangan.
• Kelembaban mutlak ruangan.
• Tekanan uap air di dalam ruangan.
• Jumlah panas yang harus dipindahkan dari ruangan tersebut (hint. Tentukan
volume jenis berdasarkan suhu rata-rata udara)

Test Formatip

1. Dapat dipahami apabila kelembaban mutlak di dalam ruang pendingin lebih rendah
daripada kelembaban mutlak lingkungan. Akan tetapi, dapatkah anda jelaskan mengapa
kelembaban relatif (RH) dalam ruang pendingin dapat mempunyai nilai yang lebih
rendah daripada RH lingkungan? (Gunakan skema bagan psikrometrik)

2. Diketahui udara di titik 1 mempunyai kondisi suhu (bola kering): 35oC dengan RH:
60% sedangkan udara di titik 2 mempunyai kondisi kondisi suhu (bola kering): 22oC
dengan RH: 90%. Dengan laju aliran masing-masing 2 kg/detik (dari titik 1) dan 3
kg/detik (dari titik 2) keduanya bercampur di titik 3. Hitunglah suhu (bola kering) dan
RH di titik 3 dengan:
• menggunakan diagram psikrometri, dan gambarkan sketsa pencampuran tersebut
• menggunakan rumus pencampuran udara.

3. Bila udara dengan kondisi Tdb = 30oC dan RH=70% didinginkan sampai kondisi
jenuh, dengan dua cara berikut:

• Didinginkan pada kelembaban mutlak konstan


• Didinginkan secara adiabatik

Berapa suhu udara setelah pendinginan pada (a) dan (b) ?

4. Jika udara yang bersuhu 30oC dengan RH 60%,

• Didinginkan secara adiabatis sampai RH 90%, tentukan suhu udara bola kering,
bola basah dan kelembaban mutlak dan perubahan entalpi
• Didinginkan pada kelembaban mutlak yang konstan sampai kondisi RH 90%,
tentukan suhu bola kering, suhu bola basah dan juga perubahan entalpi

5. Suhu udara yang masuk dalam suatu unit pendingin udara (AC) adalah 27°C bola
kering, RH 50% dan debit 3.5m3/detik. Sedangkan udara yang keluar bersuhu 13°C dan
RH 90%. Dengan menggunakan sifat-sifat udara yang terdapat dalam bagan
psikrometrik, hitung:

• kapasitas pendinginan (kilowatt)


• laju pemisahan air dari udara (kg/detik)

6. Diketahui beban panas sensibel dan laten dalam ruang pendingin single zone secara
berturut-turut adalah 60 dan 6 kW. Ruang tersebut dijaga dalam suhu 18oC dengan RH
50%. Kondisi udara lingkungan adalah suhu 30oC dengan RH =70%. Untuk keperluan
ventilasi digunakan campuran udara lingkungan dengan udara resirkulasi dengan
perbandingan 1:4. Tentukan kondisi udara sebelum melalui koil (evaporator) dan suhu
udara setelah melalui koil.

7. Jika perolehan (beban) panas dalam suatu ruang yang menggunakan pengkondisian
udara zone tunggal adalah sebagai berikut: panas sensibel 60 kW dan panas laten 5 kW.
Kondisi udara yang diinginkan dari ruangan tersebut adalah 25oC dan RH 60%,
sedangkan kondisi udara luar adalah 35oC dan RH 60%. Misalnya syarat ventilasi untuk
ruangan tersebut adalah: udara luar : udara resirkulasi = 1 : 7. Tentukan: (a) suhu udara
masuk koil pendingin dan (b) suhu udara meninggalkan koil pendingin.
BAB 10-11. PENDINGINAN HASIL PERTANIAN

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan prilaku bahan pertanian terhadap proses pendinginan


dan merancang kebutuhan coldstorage untuk keperluan penyimpanan dingin bahan
pertanian. Cakupan dari pokok bahasan ini meliputi analisa data pendinginan, pendugaan
laju dan waktu pendinginan, konsep dasar penyimpanan dingin, perhitungan beban
pendinginan, disain dasar coldstorage

A. Pendahuluan

Kegunaan umum pendinginan adalah untuk pengawetan,


penyimpanan dan distribusi bahan pangan yang rentan rusak.
Kelayakan bahan pangan untuk dikonsumsi dapat diperpanjang
dengan penurunan suhu, karena dapat menurunkan reaksi dan
penguraian kimiawi oleh bakteri. Pendinginan maupun pembekuan
tidak dapat meningkatkan mutu bahan pangan, hasil terbaik yang
dapat diharapkan hanyalah mempertahankan mutu tersebut pada
kondisi terdekat dengan saat akan memulai proses pendinginan.
Hal ini berarti mutu hasil pendinginan sangat dipengaruhi oleh mutu
bahan pada saat awal proses pendinginan.

Untuk dapat mempertahankan mutu bahan pangan, sangat penting diperhatikan proses
penanganan dari mulai bahan pangan tersebut di panen/diolah, disimpan atau pada saat
transportasi sampai ke tangan konsumen. Analisis rantai dingin (cold chain) dapat
digunakan sebagai cara untuk mengetahui apakah bahan pangan tersebut ditangani secara
benar atau tidak.

Skema Cold chain

Penurunan mutu produk segar dapat dipengaruhi oleh :

• Perubahan metabolic seperti penguapan, ethylene, tekstur dan aroma


• Pertumbuhan dan pengembangan
• Transpiration
• Cacat
• Kerusakan Physiologis
• Busuk; pertumbuhan mikroba
Kondisi strowberi setalah 7 hari yang disimpan pada suhu 0, 5, 10 dan 15C

Yang harus diperhatikan dalam melakukan proses pendinginan yang baik adalah :

• Waktu antara panen dan “pre-cooling”


• Jenis karton, palet; ventilasi
• Cara pendinginan dan waktu yang dibolehkan
• Suhu produk sebelum didinginkan
• Suhu produk akhir
• Sanitasi dari sistem pendingin
• Pelihara suhu produk

Dewasa ini dikenal beberapa metode pendinginan untuk bahan pangan, yaitu:

1. Air cooling
Air cooling menggunakan suhu pendingin lebih dari 0°C dengan debit udara 150m3/jam.
Metode pendinginan air cooling dapat digolongkan menjadi:

a. Room cooling
Room cooling biasanya menggunakan ruang dengan insulasi yang dilengkapi dengan alat
pendingin. Umumnya digunakan untuk berbagai macam produk segar tapi kurang efektif
untuk segera memindahkan field heat produk

Cara penyimpanan produk dalam ruangan berpendingin sangat dipengaruhi oleh:

• Debit aliran udara (diusahakan sekitar 100 cfm per ton produk)
• Tumpukan produk
• Ventilasi antar kotak
• Suhu udara terendah
Penerapan metode pendinginan room cooling adalah untuk proses pendinginan produk
pada skala kecil maupun besar

Roo cooling

b. Air forced cooling


Pada pendinginan air forced cooling, udara pendingin didorong dengan kipas. Udara
bersirkulasi dengan kecepatan tinggi 75-90% lebih cepat dibanding room cooling.
Penggunaan air forced cooling harus dengan pengontrolan RH yang berkisar antara 90-
98%. Metode pendinginan ini efektif untuk produk yang dikemas.
Air force cooling

2. Hydrocooling
Pada pendinginan hydrocooling, panas produk dipindahkan melalui media air. Metode ini
banyak digunakan untuk sayuran untuk mempertahankan tekstur dan kesegaran daun dan
dapat digunakan sekaligus untuk membersihkan produk dimana dapat dicampur dengan
klorin sebagai disinfectant. Kelemahannya adalah sering terjadi mechanical injury dan
hanya bisa digunakan untuk komoditi yang tidak sensitif terhadap air. Hydrocooling
untuk sayur biasanya dilakukan setelah dikemas.

Hydrocooling
3. Vacuum Cooling

Pendinginan vakum adalah salah satu metoda yang umum digunakan untuk pra-
pendinginan sayuran berdaun. Efek pendinginan terjadi akibat penguapan cepat sejumlah
air dari bahan yang akan didinginkan pada ruang bertekanan rendah. Panas laten yang
dibutuhkan untuk penguapan tersebut diambil dari produk itu sendiri sehingga terjadi
penurunan panas sensibelnya dan sebagai akibatnya terjadi penurunan suhu. Pendinginan
vakum sangat popular pada pra-pendinginan sayuran berdaun karena dua keunggulannya
yang utama, yaitu laju pendinginan cepat dan sebaran suhu seragam pada seluruh bahan
Efek pendinginan melalui panas laten penguapan. Metode pendinginan vakummerupakan
metod ependinginan yang paling cepat. Tekanan udara di ruang pendinginnya berkisar
4.6 mm Hg. Metode pendinginan vakum banyak diterapkan untuk mendinginkan sayuran
daun seperti lettuce, cabbage, wortel, pepper, jamur, cauliflower.

Vacuum cooling
B. Metode Analisis Data Pendinginan

Kebutuhan industri pendinginan terdiri atas tiga hal, yaitu prosedur analisa data
pendinginan, prosedur penggunaan data pendinginan untuk merancang sistem refrigerasi,
serta pengumpulan data dasar, sifat termofisik, dan sifat pindah panas antara bahan
dengan mesin pendingin, sedemikian sehingga dapat menyediakan informasi yang
dibutuhkan untuk merancang sistem pendingin yang diinginkan. Pada tulisan ini
dijelaskan beberapa metoda analisa dan cara pemilihan metoda yang ada tersebut,
sehingga dapat digunakan oleh para perekayasa bidang refrigerasi dan ahli ilmu pangan
untuk keperluannya masing-masing. Fokus utama diberikan pada proses pendinginan
konduktif.

Pemilihan metoda analisa perlu mempertimbangkan antara pemecahan yang diturunkan


secara pasti atau penggunaan grafik suhu-waktu secara aritmetik. Untuk menuju pada
metoda analisa yang seragam, beberapa hal yang harus dipenuhi oleh suatu metoda
analisis adalah:

• Dapat diterapkan pada kisaran kondisi yang luas, dari pendinginan lambat dengan
udara (air-cooling) hingga pendinginan cepat dengan pencelupan ke dalan cairan
(hydro cooling).
• Mampu menduga waktu pendinginan, serta menganalisa dan mengkorelasikan
data waktu pendinginan tersebut.
• Cukup mudah tetapi akurat untuk dipahami dan digunakan oleh perekayasa
refrigerasi.
• Mengandung pengertian fisik.
• Mempunyai parameter yang minimum, dan variabel atau parameter yang tidak
lebih banyak dari bilangan non-dimensional dalam sistem persamaannya.
• Dapat membantu para perekayasa refrigerasi dan ahli ilmu pangan dalam
mengukur sifat termofisik bahan pangan tertentu.

1. Metode Pemecahan Pasti

Pendinginan dapat dianggap sebagai proses penurunan suhu bahan dari suhu awal ke
suhu tertentu di atas titik beku, yang merupakan proses tak-mantap (unsteady-state).
Salah satu faktor yang penting dalam analisa pindah panas tak-mantap adalah
perbandingan antara tahanan di dalam dengan di luar bahan terhadap perpindahan panas
tersebut, yang dalam bilangan tak-berdimensi dikenal dengan bilangan Biot (NBi =
hcl/k). Dalam hal ini, hc adalah koefisien konveksi panas (W/m2.K), k adalah
konduktivitas panas bahan (W/m.K), dan l adalah dimensi karakteristik bahan (m).
Berdasarkan faktor kunci tersebut, waktu pendinginan dapat diduga dengan tiga
pendekatan, yaitu pendekatan yang mengabaikan tahanan dalam (internal), pendekatan
yang mengabaikan tahanan permukaan, dan pendekatan dengan memperhitungkan
keduanya.

• Pendekatan yang mengabaikan tahanan dalam (internal)

Pendekatan ini menganggap bahwa tahanan terhadap pindah panas pada permukaan jauh
lebih besar daripada di dalam bahan, atau NBi < 0.1. Hal ini dapat terjadi saat
pendinginan/pemanasan bahan dengan konduktivitas panas yang jauh lebih besar dari
pada koefisien konveksi panas di permukaannya. Pada kondisi tersebut, gradien suhu
dalam bahan dapat diabaikan sehingga suhu di pusat bahan hampir sama dengan suhu di
permukaannya. Keseimbangan energi pada suatu benda yang mengalami pendinginan
atau pemanasan secara tak-mantap, dapat dinyatakan dengan persamaan pendinginan
Newton sebagai berikut:

(10-1)

Dengan pemisahan parameter, persamaan (10-1) dapat diintegrasi untuk mendapatkan:

(10-2)

Dengan memasukkan bilangan Biot (NBi = hcl/k) dan Fourier (Fo = at/l2), dimanaa =
k/rCp adalah difusivitas panas bahan (m2/det), ke persamaan (10-2) diperoleh:
(10-3)

• Pendekatan yang mengabaikan tahanan permukaan

Untuk bahan biologik, yang pada umumnya mempunyai konduktivitas panas yang
rendah, maka nilai bilangan Biot akan menjadi lebih besar. Jika konduktivitas tersebut
jauh lebih besar daripada pindah panas konveksi pada permukaan, maka pendugaan harus
didasarkan pada asumsi tahanan dalam jauh lebih besar daripada tahanan permukaan
(NBi > 40). Hal ini menyebabkan laju pendinginan sangat tergantung pada jenis dan
geometri benda yang didinginkan. Perhitungan untuk suatu benda berbentuk lempeng
tak-hingga dapat dikembangkan dari persamaan berikut:

(10-4)
dimana x adalah tebal benda yang didinginkan (m). Persamaan tersebut dapat dipecahkan
menjadi:

(10-5)
Pemecahan untuk bentuk silinder tak-hingga dan bola, masing-masing ditunjukkan pada
persamaan berikut:

Bentuk silinder tak-hingga:

(10-
6)

dimana J0 adalah fungsi Bessel ordo ke-0, J1 adalah fungsi Bessel ordo ke-1, dan Rn
adalah persamaan batas (boundary equation) ordo ke-n.

Bentuk bola:

(10-7)

• Pendekatan yang memperhitungkan tahanan internal dan permukaan

Pendekatan ini digunakan apabila bilangan Biot mempunyai nilai antara 0.1 sampai 40.
Pendekatan ini menyiratkan bahwa kedua tahanan, baik tahanan dalam maupun
permukaan mempunyai nilai yang cukup berarti, sehingga perhitungan dilakukan dengan
mencakup kedua tahanan tersebut. Untuk maksud tersebut, digunakan bagan yang
mempermudah dalam perhitungan pindah panas.

2. Penggunaan Grafik Suhu-Waktu

Metoda grafik suhu-waktu dapat dibagai atas teraan (plot) aritmetik dan teraan
eksponensial terhadap data suhu vs waktu.

a. Teraan Aritmetik.

Dua metoda yang digunakan secara luas untuk menampilkan data pendinginan dengan
metoda teraan aritmetik adalah waktu paruh pendinginan dan laju pendinginan.

• Waktu paruh pendinginan.

Jika sifat dan suhu pendinginan


tetap, maka waktu yang
diperlukan untuk menurunkan
suhu bahan menjadi separuh
dari nilai sebelumnya adalah
tetap. Waktu tersebut disebut
sebagai waktu paruh (th).
Waktu paruh dapat diterapkan
dalam penentuan kebutuhan
waktu untuk menurunkan suhu
75% dari suhu awalnya, yaitu 2
kali waktu paruh (Gambar 10-
1).

• Laju pendinginan.

Jika suhu media pendingin tetap, koefisien pendinginan Cr atau laju spesifik , yang
yang merupakan hasil bagi antara penurunan suhu dengan beda suhu rata-rata logaritmik
dan waktu dapat dihubungkan dengan waktu paruh sebagai berikut :
Cr Z = ln 2 = 0,693

Jika suhu media pendingin tetap, waktu yang diperlukan untuk menurunkan suatu satuan
suhu, atau penurunan suhu yang terjadi selama periode tertentu, dapat dilakukan dengan
pemecahan aljabar atau secara grafik semi-log. Jika suhu pendinginan tidak tetap, suhu
media pendingin harus ditentukan lebih dahulu agar proses pendinginan dapat dibagi
terhadap periode suhu yang mendekati tetap dalam menentukan penurunan suhu tiap
periode waktu tertentu.
Perhitungan waktu paruh atau laju pendinginan hanya memerlukan suhu pendinginan dan
suhu produk pada dua waktu tertentu, dan hanya menggunakan satu parameter, sehingga
perhitungan rancangan sangat sederhana.

b. Teraan Semi-Logaritmik.

Metoda ini didasarkan pada konsep bahwa


teraan data pendinginan konduktif dalam
bentuk log (T-T1) terhadap waktu
membentuk garis lurus (Gambar 10-2).

• Pendinginan Newtonian

Pendinginan Newtonian didasarkan pada hubungan

(10-8)

yang dapat dipecahkan menjadi

atau (10-9)

Teraan log (T-T1) terhadap waktu adalah linier dan garis lurus yang dihasilkan dapat
digambarkan dengan derajat kemiringan K. Pada kasus Newtonian, kesenjangan
perpindahan kalor dari pusat ke permukaan bahan diasumsikan tidak terjadi, meskipun
pada kenyataannya kesenjangan tersebut terjadi. Model pendinginan Newtonian
merupakan dasar analisis pendinginan dengan tumpukan es, atau analisis beban
pendinginan.

• Pendekatan asimptotik
Terdapat dua jenis pemecahan
dengan pendekatan asimptotik.
Pada jenis pertama, proses
pendinginan dipecah menjadi
waktu yang dibutuhkan oleh proses
pendinginan tersebut untuk
memengaruhi pusat bahan, (metoda
Backstrom), atau waktu khayal
dimana pendinginan menjadi
mantap pada laju asimtotiknya
(metoda Rutov), dan periode
berikut dimana proses pendinginan
mendekati logaritmik (Gambar. 10-
3).

Pada metoda Backstrom (10-


10)

Pada metoda Rutov (10-


11)

Pada jenis kedua (metoda Baehr), perpotongan kurva dengan sumbu suhu ditentukan oleh
rasio logaritma (basis e) pengganda tetap dari bagian pertama expansi deret dengan
kuadrat dari akar pertama persamaan nilai batas,(ln j)/ , dan ditentukan sebesar 0.10.

Ketiga metoda pemecahan tersebut memberi pendekatan untuk menyederhanakan


pendugaan titik potong dan garis singgung dari asimptot garis lurus. Ketiga metoda
tersebut, pada dasarnya, lebih bermanfaat untuk menduga laju pendinginan dari pada
untuk mengkolerasikan data pendinginan.

• Pemecahan asimtotik sesungguhnya.

Persamaan (10-12) dapat digunakan untuk menggambarkan proses pemanasan dan


pendinginan bahan pangan dalam bentuk asimtot garis lurus terhadap kurva sebenarnya,
jika data diterakan pada grafik semi-log. Parameter f (dalam satuan menit) adalah waktu
untuk menurunkan suhu 90%, atau waktu yang dibutuhkan untuk melalui satu siklus
logaritma pada bagian linier kurva. Parameter j adalah rasio beda suhu pada titik potong
dengan beda suhu mula-mula yang sebenarnya.
(10-12)

Untuk menggunakan metoda ini, data suhu-waktu dari proses pindah kalor konduksi
dapat diterakan dalam bentuk log ((T-T1)/(To –T1)) terhadap waktu, atau log (T – T1)
terhadap waktu, atau T pada skala log (T – T1) + T1 terhadap waktu, Kemudian, garis
lurus terbaik yang mewakili asimtot dapat ditarik melalui titik data tersebut. Asimtot
dapat dibentuk langsung dari kedua parameter f dan j, dengan asumsi data suhu awal dan
akhir diketahui. Parameter f dan j seperti ditunjukkan pada Tabel 12-1 dapat diterapkan
untuk konfigurasi geometri khusus, dengan catatan hambatan pindah kalor pada
permukaan dapat diabaikan. Jika hambatan pindah kalor permukaan terlalu besar,
parameter f dan j menjadi fungsi bilangan Biot.

Tabel 10-1. Persamaan yang menghubungkan laju pemanasan/pendinginan f, difusivitas


termal a, dimensi objek dan nilai j pada pusat geometri (Pflug dan Blaisdel, 1963)

Persamaan j pada pusat geometri


Bentuk objek
Balok 2.064
Lempeng tak-hingga 1.273
Silinder terhingga 2.040
Silinder tak-hingga 1.602
Bola 2.000

C. Metode Analisis Korelasi Data Pendinginan dan Pendugaan Laju Pendinginan

Pflug dan Blaisdel (1963) juga memberi pemecahan eksak untuk pendekatan yang
mengabaikan tahanan permukaan dalam bentuk deret tak-hingga yang konvergen.
Karena kekonvergenan deret tersebut berlangsung cukup cepat, maka pada nilai waktu
yang cukup besar hanya elemen pertama yang bermakna. Pada kasus lempeng tak hingga,
elemen pertama deret tersebut adalah:

(10-13)
Jika log (T – T1) atau bentuk lain yang sesuai diterakan terhadap waktu, maka persamaan
tersebut akan menghasilkan garis lurus. Pada nilai waktu yang besar, kurva yang dibentuk
dari persamaan (10-13) akan memberi pendekatan yang memadai. Hubungan mendasar
antara teraan suhu semi-log dengan kurva pendinginan berbentuk garis lurus inilah yang
memberi dasar pada peneraan data pindah kalor konduktif transien pada berbagai bentuk
log (T-TI) terhadap waktu dan penarikan garis lurus melalui titik-titik tersebut.
Persamaan diatas terdiri atas tiga bagian menarik. Bagian
merupakan titik potong asimptot garis lurus saat mempertimbangkan suhu pusat lempeng
tak-hingga. Bagian adalah 1,0 pada titik tengah (x = 0), yang mengatur dan
menyesuaikan titik potong untuk kondisi pendinginan yang diukur pada jarak x dari
sumbu koordinat (pusat lempeng tak-hingga berada pada sumbu koordinat). Bagian
eksponen dari persamaan yang memuat fungsi waktu, juga merupakan pemecahan untuk
persamaan dasar (fungsi bilangan Biot), difusivitas termal ( ) dan a2 (kuadrat setengah
ketebalan). Pada teraan log (T - TI) terhadap waktu, - adalah kemiringan
sesungguhnya (tan j) asimtot garis lurus tersebut. Pada tabel 10-2. dicantumkan
perbandingan parameter kurva pendinginan pada pusat bahan untuk berbagai metoda.

Penerapan metoda Rutov agak rumit karena kesulitan dalam mengubah persamaan
menjadi fungsi eksponensial sederhana, sedangkan metoda Backstrom lebih mudah tetapi
kurang teliti. Dari segi perancangan laju pendinginan, metoda Ball dan Olson adalah yang
paling tepat diikuti oleh metoda Baehr, Rutov dan Backstrom. Tetapi, peningkatan
ketepatan tersebut juga diikuti oleh peningkatan kesulitan dan kerumitan penggunaannya.

D. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode

Tiga kategori yang menjadi perhatian adalah metoda peneraan data, penggambaran arah
kurva, dan penanganan fase senjangan waktu.

a. Metoda Peneraan Data, Sistem Koordinat dan Skala

Beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihan metoda peneran data,
termasuk sistem koordinat dan skala adalah:

• Suhu vs waktu, secara aritmetik

• vs. waktu, secara aritmetik

• vs. waktu
• vs. waktu
• T pada skala vs. waktu
Pemilihan sistem koordinat serta sistem skala adalah penting dari sisi kegunaan metoda
analisis. Koordinat persegi menawarkan kesederhanaan dan kemudahan dari sisi
pengguna. Jika data suhu-waktu ditera pada koordinat persegi, kurva yang dihasilkan
dapat digunakan untuk mengkaji irregularitas, maksima atau minima, dan
membandingkannya terhadap data lain yang ditera dengan cara yang sama. Jika kurva
ditera pada koordinat semi-logaritma, beberapa sifat yang tidak tampak pada koordinat
persegi dapat dikaji, dan berbagai informasi dapat digali. Sistem skala pada koordinat
semi-log dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti pada gambar 10-a, b, dan c.

Gambar 10-4a. Gambar 10-4b. Gambar


10-4c.

Persamaan asimtot pada gambar 10-4a. adalah :

(10-14)

Gambar 10-4b :
(10-15)

Gambar 10-4c :
(10-16)

Pada Gambar 10-4a. ditera (T-Tm)/(Ta-Tm) terhadap t, pada Gambar 10-4b (T-Tm)
terhadap t, dan pada Gambar 10-4c ditera T terhadap t. Skala suhu pada Gambar 12-4c
dibentuk dengan menambahkan suhu media pendingin ke nilai skala log. Pada Gambar
10-4c, suhu media pendingin (Tm) dianggap 5°C, sehingga siklus berikutnya bernilai 15
dan 105°C. Dengan cara demikian, data suhu-waktu dapat ditera langsung pada grafik
tersebut. Pada titik-titik data dapat ditarik garis lurus, dan nilai dapat dihitung sebagai
waktu yang dibutuhkan untuk garis tersebut melintasi satu siklus logaritma. Nilai suhu
dimana terjadi perpotongan dengan garis lurus yang ditarik adalah Ta, dan rasio intersep j
= (Ta - TI)/(To - TI).

b. Penggambaran Arah Kurva

Alternatif untuk penggambaran arah kurva adalah kemiringan sebenarnya (tan j),
parameter f, waktu paruh pendinginan Z, parameter K, dan tetapan waktu t. Pada Gambar
10-4, harus disepakati bahwa asimtot kurva pendinginan konduktif adalah garis lurus, dan
jika nilai waktu cukup besar maka asimtot akan berhimpit dengan kurva pendinginan.
Sehingga, berbagai metoda penggambaran arah garis seperti parameter f, waktu paruh Z,
koefisien pendinginan C, tetapan waktu t, atau parameter K, merupakan kemiringan
sebenarnya (tan j). Faktor konversi antar parameter tersebut adalah :
= 2.303/Cr
Cr= 0.693/Z
= 3.32 Z
Pemilihan parameter yang menunjukkan arah asimtot garis lurus tersebut harus dilakukan
berdasarkan kemudahan, untuk mengantisipasi bahwa nilai tersebut akan menjadi alat
yang digunakan untuk membentuk kurva pendinginan dalam menduga waktu
pendinginan. Nilai parameter f dianggap lebih memudahkan, meskipun waktu paruh juga
dapat digunakan, karena telah umum digunakan pada industri pengolahan pangan.

Tabel 10-2. Perbandingan parameter kurva pendingingan pada pusat bahan

Metoda Geometri Pers. dasar Intersepa Kemiringan


(tanø)
Laju semua - 1
pendinginan

Waktu semua - 1
paruh
pending
Pending semua - 1
Newtonian

Leggett and semua - Bump factor


Sutton
Backstrom lempeng

Rutov lempeng

antilog
Rutov silinder

antilog
Rutov bola

antilog
Baehr semua S.d.. Ball and Olson

Ball semua - j

Ball and lempeng


Olson

Ball and silinder


Olson

Ball and bola


Olson

a Nilai intersep ; Sumber: Pflug, I.J., and J.L. Blaisdell (1963)

Hal terpenting dari analisis kurva pendinginan adalah menghubungkan arah asimtot
dengan ukuran bahan yang sedang didinginkan dan dengan karakteristik pindah kalor
eksternal yang dinyatakan dengan bilangan Biot. Hubungan antara rasio dengan
bilangan Biot dapat digunakan untuk pembentukan kurva pendinginan jika karakteristik
pindah kalor, dimensi bahan dan sifat termal bahan diketahui. Kurva pendinginan semi-
log mempunyai sifat yang sangat berguna, misalnya kemiringan kurva pendinginan
asimtotik adalah sama pada setiap titik pengukuran dalam bahan yang mengalami
pendinginan konduktif. Jika pengujian dilakukan dengan ketelitian yang cukup, kurva
asimtotik dapat digunakan untuk menentukan difusivitas termal dan koefisien pindah
panas permukaan.

c. Penanganan Fase Senjangan Awal

Penanganan fase senjangan awal dapat dilakukan dengan alternatif berikut:

• diabaikan (dianggap sama dengan 1,0)


• dianggap sebagai peubah yang tergantung pada bentuk, posisi dan bilangan Biot.
• dimasukkan dalam waktu paruh pertama atau 90% waktu pendinginan.

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4, kurva dapat dilanjutkan hingga memotong


sumbu tegak. Titik perpotongan sama dengan 1,0 hanya jika tidak
terjadi senjangan pindah kalor pada titik pengukuran. Tetapi, pada bahan dengan massa
besar akan terjadi senjangan pendinginan, sehingga arah asimtot biasanya dilaporkan
bersama-sama nilai titik potong tersebut. Jika bilangan Biot diplot terhadap nilai j pada
pusat suatu lempeng akan tampak bahwa jika tahanan permukaan cukup besar maka nilai
j pada pusat mendekati satu, tetapi akan meningkat sesuai dengan pengurangan tahanan
permukaan.

Notasi :
A : luas permukaan bahan (m2)
2a : tebal lempeng tak-hingga (m)
Cp : kalor jenis bahan pada tekanan tetap (J/kg.K)
Cr : laju pendinginan atau koefisien pendinginan (-)
D : diameter bahan berbentuk silinder atau bola
f : waktu yang diperlukan untuk asimtot kurva pendinginan melintasi satu siklus
logaritma, yaitu untuk penurunan, 90% suhu pada bagian linier kurva pendinginan.
h : koefisien pindah kalor permukaan
Jn(Rn) : fungsi Bessel orde ke-n untuk argumen Rn
j : faktor senjangan (Ta - TI)/(To -TI)
K : koefisien yang menunjukkan laju pendinginan
k : konduktivitas termal (J/m.K)
L : panjang karakteristik bahan pada arah aliran fluida (m)
r : jari-jari bola atau silinder (m)
T : suhu (K); To suhu awal, Tm suhu media, Ta suhu awal semu (bagian linier kurva
pendinginan).
t : waktu (det)
x : jarak dari pusat bahan ke titik pengukuran (m)
V : volume bahan pada persamaan pendinginan Newton (m3), atau kecepatan fluida pada
NRe (m/det)
Z : waktu paruh pendinginan
a : difusivitas termal (k/r Cp)
Rn : persamaan boundary akar ke-n
m : viskositas fluida
r : massa jenis (kg/m3)

Latihan

1. Jelaskan salah satu penyebab kenapa dinding suatu ruang penyimpan dingin
(coldstorage) dapat mengalami pengembungan. Apa yang dapat anda lakukan untuk
mengatasi hal tersebut.

2. (a) Jelaskan perbedaan antara pra-pendinginan (precooling) dengan penyimpanan


dingin, (b) Kata kunci yang penting pada pra pendinginan adalah ”sesegera mungkin”
dan ”secepat mungkin”, jelaskan pengertian kedua hal tersebut.

Test Formatip

1. Jelaskan secara singkat mengapa produk pertanian segar mengalami pengerutan jika
disimpan di dalam ruang pendingin
2. Apa yang dimaksud dengan laju pendinginan? Mengapa penting untuk diketahui kalau
kita akan menyimpan produk?

3. Jelaskan dengan singkat dua hal yang perlu anda perhatikan dalam merancang dinding
suatu coldstorage.

4. Jelaskan kenapa pada evaporator mesin pendingin dalam suatu ruang penyimpanan
dingin (coldstorage) sering ditemukan gumpalan es? Kerugian apa yang akan disebabkan
oleh pembentukan es pada koil evaporator dan sebutkan dua hal yang dapat dilakukan
untuk mengatasinya.

5. Suhu koil evaporator di dalam ruang penyimpanan dingin (coldstorage) adalah -25 oC
sedangkan suhu di luar ruangan adalah 27 oC dengan kelembaban 70%. Jika pintu ruang
penyimpan dingin tersebut dibuka dan selama terbuka tersebut 2 kg udara masuk ke
dalam ruangan, tentukan berapa banyak (kg) air yang akan terkondensasi di permukaan
koil tersebut.

6. Dari data pendinginan diketahui bahwa waktu paruh pendinginan suatu produk adalah
40 menit. Suhu awal produk tersebut adalah 28°C dan suhu media pendingin adalah 4°C.

• Tentukan tetapan laju pendinginannya


• Tentukan suhu produk setelah 2 jam pendinginan

7. Markisa dengan ukuran jari-jari 3 cm didinginkan di dalam ruang penyimpan dingin


yang bersuhu 5 oC. Difusivitas panas buah markisa adalah 1,2 X 10-7 m2/det, massa satu
buah markisa adalah 100 gram, dan pada awalnya bersuhu 30 oC.

• Hitung berapa waktu yang diperlukan untuk mendinginkan markisa tersebut ke


suhu 10 oC menggunakan persamaan semi-empirik dengan asumsi bahwa markisa
berbentuk bola.
• Tentukan suhu bahan setelah 1 jam pendinginan (berdasarkan soal butir a)
• Hitung berapa waktu yang diperlukan untuk mendinginkan markisa tersebut ke
suhu 10 oC menggunakan nilai j = 1,8 dan f = 19,6 menit (hasil analisa data
pendinginan)
• Tentukan suhu bahan setelah 1 jam pendinginan (berdasarkan soal butir c)
• Jelaskan perbedaan jawaban yang anda peroleh dengan cara (a) dan (c)

8. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis memerlukan cold storage untuk
keperluan pre cooling sayuran daun yang dipanennya. Tiap hari, luas panen sayuran
adalah 0.8 ha dengan produktivitas 12 ton per ha. Perusahaan menentukan kriteria disain
sebagai berikut: Panjang x lebar x tinggi = 12 x 12 x 3 m. Bahan dinding: concrete 200
mm (k = 1.73 W/m K), Polyurethane 75 mm (k = 0.025 W/m K), dan plester 13 mm (k =
0.72 W/m K). Bahan atap dan lantai : Concrete block 125 mm dan Corkboard 100 mm
(U = 0.383 W/m2 K). Suhu awal produk adalah 30°C dan suhu akhir 5°C dengan lama
pre cooling 12 jam. Beban pekerja adalah 4 orang yang bekerja 4 jam selama 12 jam
waktu pre cooling (Beban orang pada suhu 5°C = 0.242 kW/orang). Sedangkan di dalam
cold storage terdapat lampu 30 watt sebanyak 20 buah yang menyala 4 jam per hari.
Diketahui reaksi panas dari sayuran 0.129 W/kg, panas jenis sayuran 3.77 kJ/kg K.
Hitunglah kapasitas pendinginan dari cold storage yang akan dibuat.

9. Jika 2000 kg produk dengan Cp = 2kJ/kg-K, yang mempunyai suhu awal 30oC, akan
didinginkan menjadi 4oC, berapa panas (kW) yang dikeluarkan dari produk apabila
proses tersebut harus berlangsung dalam 2 jam. Jika untuk proses 4(a) tersebut
digunakan udara bersuhu 2oC, dimana koefisien pindah panasnya 10W/m2-K, dan total
luas permukaan produk 32m2, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
proses pendinginan tersebut?

10. Proses pra-pendinginan apel dianggap berlangsung secara Newtonian, dan mengikuti

persamaan

Jika suhu media pendingin (Tm) yang digunakan adalah 0 oC, suhu awal apel (T0) saat
masuk ke mesin pendingin adalah 25 oC. Dalam waktu setengah jam (t) suhu apel telah
mencapai 15 oC, tentukan:

• Tetapan laju pendinginan (k) dalam satuan -/menit


• Suhu apel setelah 1 jam
• Waktu yang diperlukan agar suhu apel mencapai 5oC.

PUSTAKA
Bird, R.B., Stewart, W.E., Lightfoot, E.N., 1960, Transport Phenomena, Wiley
International Edition, New York, USA
Gaffney, J.J., Baird, C.C., Chau, K.V., 1985, Methods for calculating heat and mass
transfer in fruits and vegetables, Trans. ASHRAE, Vol. 91, pp. 333-352
Heldman, D.R., Singh, R.P., 1981, Food Process Engineering (2nd Edition), AVI
Publishing Co., Connecticut, USA
Pflug, I.J., Blaisdell, J.L., 1963, Methods of analysis of precooling data, ASHRAE
Journal, November, 1963