Anda di halaman 1dari 9

PENGANTAR

E-commerce adalah salah satu contoh yang paling terlihat dari cara di mana informasi dan
teknologi komunikasi dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Selama satu dekade
terakhir, pembuat kebijakan, akademisi dan praktisi setuju bahwa e-commerce adalah unsur
penting bagi kemajuan sosial-ekonomi di negara-negara berkembang. E-commerce mencakup
berbagai kegiatan luasmelalui internet yang melibatkan pertukaran informasi dan data atau
pertukaran berbasis nilai-antara dua pihak atau lebih - mencakup seluruh bisnis (B2B),
konsumen (B2B, B2C, C2C) dan pemerintah (G2B, G2C). Dinamika pergeseran pembangunan
dan konsumsi e-commerce menentukan ruang lingkup dan konteks adopsi e-commerce di negara
berkembang. Dalam mengembangkan negara dengan daya beli yang kurang, mekanisme
pembayaran efisien dan penjual online mengatasi kendala-kendala konvensional dan harga tinggi
penggunaan komputer. Praktik e-commerce di negara berkembang mengandalkan pada informasi
dan konten penyediaan dan konsumsi daripada pembelian online.
Memahami adopsi e-commerce di negara berkembang sering bergantung pada
pengadopsian individu teknologi e-commerce. Sedangkan pengguna di beberapa negara telah
mampu memanfaatkan potensi teknologi informasi untuk berkembang dan menjadi pesaing
utama dalam perekonomian sekarang ini.
Teknologi e-commerce untuk membantu pembangunan, mereka harus diadopsi dan
dipraktekkan di negara-negara berkembang. Ketika membandingkan perilaku pengguna yang
berhubungan dengan IT (termasuk teknologi e-commerce) adopsi di negara-negara berkembang
bervariasi. Kekayaan yang melekat dari fenomena tersebut menimbulkan penyelidikan
keragaman perspektif dan faktor yang berhubungan dengan negara-negara bagaimana
mengembangkan, memahami, dan menerima informasi teknologi.
LATAR BELAKANG TEORI
Secara historis, ada dua aliran paralel konvergen penelitian tentang adopsi TI. Di satu
sisi, penelitian positivis telah terkonsentrasi pada tujuan, statistik yang didominasi model varian
difusi dan adopsi, kedua penelitian interpretivist yanglebih fokus dalam sosiologi dan
fenomenologi pemahaman pengguna pemahaman dan konstruksi realitas. Perspektif interpretif

pada adopsi teknologi dan difusi meneliti interaksi terus-menerus antara pengguna dan
konstruksi subjektif mereka, realitas didorong oleh pengalaman mereka sendiri.
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Variabel berfokus pada persepsi individual teknologi e-commerce
Harapan Kinerja
Harapan kinerja didefinisikan sebagai sejauh mana individu di suatu negara melihat bahwa
adopsi e-commerce akan menawarkan potensi pengembangan. E-commerce telah diunggulkan
sebagai model bisnis yang dapat mengurangi kesenjangan antara negara berkembang dan negara
maju, karena e-commerce umumnya menggunakan internet dalam melakukan bisnis maka dapat
mengurangi banyak hambatan yang ada di dunia bisnis secara fisik. Model e-commerce telah
ditemukan untuk mengurangi biaya transaksi dengan memanfaatkan database onlineyang dapat
diakses ke seluruh dunia. E-commerce juga diyakini dapat meningkatkandaya tawar perusahaan
produsen di negara-negara berkembang sehingga mereka dapat memposisikan diridalam rantai
nilai global. penghematan biaya tersebut dan keuntungan strategis yang diberikan oleh ecommerce.
H1: Harapan Kinerja tentang e-commerce akan memiliki dampak positif pada adopsi ecommerce di negara-negara berkembang dan persepsi tentang manfaat ekonomi akan lebih
terkait dengan harapan kinerja dari pada manfaat sosial atau strategis.
Pengaruh Sosial
Negara-negara berkembang berlomba untuk mengejar ketinggalan dengan negara-negara maju,
dan pengaruh sosial memainkan peran penting dalam memahami perilaku adopsi mereka. Peran
sosial didefinisikan sebagai tingkat dimana individu di negara berkembang memandang
bagaimana orang lain mengadopsi teknologi e-commerce. Pengaruh sosial memiliki beberapa
prose: kepatuhan, identifikasi dan internalisasi.Kepatuhan adalah pengaruh sosial yang
disebabkan oleh ekspektasi penghargaan atau penghindaran risiko bukan karena keyakinan
pribadi. Kurangnya modal dan infrastruktur di negara-negara tersebut sering memaksa negaranegara berkembang untuk meminta modal dan bantuan infrastruktur darinegara-negara lain.
H2: Pengaruh sosial dari kepatuhan, identifikasi dan internalisasi akan memberikan dampak
positifpada adopsi e-commerce di negara berkembang, dengan identifikasi yang paling penting
menentukan pengaruh sosial.
Oportunisme Teknologi

Oportunisme teknologi didefinisikan sebagai kemampuan akal-dan-respon entitas dengan


terhadap teknologi baru. E-commerce adalah kesempatan bagi negara-negara berkembang,
pengguna harus cukup termotivasi untuk merebut kesempatan teknologi untuk mencari ceruk
digital. Oportunisme teknologi juga merupakan refleksi dari bagaimana tingkatproaktif dan
ambisius pengguna di negara-negara berkembang dengan mengadopsi e-commerce. Negaranegara yang memiliki pengguna dengan oportunisme teknologi tinggi lebih baik mampu
mengidentifikasi, mengasimilasi dan mengeksploitasi teknologi baru, yang memungkinkan untuk
memanfaatkan teknologi muncul. Oportunisme teknologi memang akan mencerminkan semangat
dari rasa kewirausahaan.
H3: oportunisme teknologi akan memberikan dampak positif pada adopsi e-commerce antar
pengguna di negara-negara berkembang.
Sebagai contoh, pengguna disebuah negara yang dapat mengagumi, dan hanya menyadari
kurangnya dukungan teknologi atau infrastruktur jaringan.
Menyoroti kondisi fasilitas persepsi oleh para pengguna dari tingkat makro suatu negara
menggambarkan adopsi secara keseluruhan yang bersifat independen dari adopter individu.
Kondisi fasilitator Tating mencerminkan prasyarat objektif untuk mengadopsi e-commerce yang
positif. Dalam sebuah studi kesiapan teknologi global, Kirkman et al. (2002) menggunakan
empat dimensi yang berbeda yang menggambarkan kondisi: kebijakan (lingkungan legislatif),
masyarakat (edukasi dan pelatihan), akses (kemampuan infrastruktur), dan ekonomi
(penggabungan nasional).
Fasilitas terkait kebijakan- menyangkut bisnis secara keseluruhan dan iklim suatu negara.
Fasilitas

terkait

masyarakat-

mendefinisikan

perilaku

adopsi

nasional

dengan

mempertimbangkan demograsi ics, pendidikan dan pelatihan. Fasilitas terkait aksesberhubungan dengan ketersediaan telekomunikasi dan informasi infrastruktur dan ketersediaan
perangkat lunak, layanan hardware, dan ICT. Fasilitas ekonomi- sejauh mana teknologi yang
dipertimbangkan adalah mungkin dimasukkan dan diintegrasikan ke dalam kegiatan ekonomi
suatu negara.
H4: Untuk pengguna di negara-negara berkembang, kondisi memfasilitasi akan bersifat positif
hubungan moderat antara persepsi pengguna terhadap teknologi e-commerce dan e-commerce
adopsi.

Variabel kontrol
Penelitian menggunakan tiga variabel kontrol, yaitu: tingkat privatisasi ICT, PDB, dan GNP.
Privatisasi dapat dikaitkan dengan investasi lebih kompetitif di ICT dan bertindak sebagai
insentif untuk mengumpulkan investasi lebih langsung dan pengetahuan untuk memudahkan
mengadopsi e-commerce. Kekuatan ekonomi secara keselurhan dari suatu negara (GNP) dan
standar penghasilan individu (PDB per kapita) juga diasumsikan mempengaruhi adopsi ecommerce (Kamel, 2005). Sebuah negara dengan sumber daya yang lebih cnderung kondusif
terhadap pengadopsian e-commerce. PDB per kapita dan GNP adalah proxy untuk sumber daya
negara tertentu. Demikian pula, PDB per kapita juga proxy untuk pendapatan konsumen. Dengan
mengendalikan GNP dan GDP per kapita, maa dapat meminimalkan efek dari sumber terkait, dan
ukuran populasi masing-masing spesifik negara. Data GDP dan GNP dikumpulkan dari Bank
Dunia (2006).
METODOLOGI PENELITIAN
Data penelitian ini menggunakan survey lapangan berdasarkan daftar pertanyaan yang diberikan
kepada pengguna e-commerce di negara berkembang dengan bantuan dari beberapa lembaga
PBB (UN) dan LSM. Berdasarkan kriteria, pengguna e-commerce sebanyak 13 dai 67 negara
diidentifikasi berdasarkan pada kesediaan awal mereka untuk berpartisipasi pada penelitian ini.
Proses dimulai awal bulan Juli 2005 dan kurang lebih 3 bulan untuk menyelesaikannya. Email
kemudian dikirim ke masing-masing calon responden dengan penjelasa studi dan permintaan
untuk berpartisipasi, diteruskan dengan rujukan umum dari salah satu anggota senior PBB untuk
mengidentifikasi kredibilitas penelitian. Email yang dikirim ke semua calon responden, dari 713
permintaan yang merespon permintaan ini sekitar 342 calon peserta (48%) dari 51 negara. Secara
umum responden tampak antusias untuk memahami lebih mengenai penelitian ini.
Survey ini dikembangkan dan dikelola dengan menggunakan WebSurveyor 3.0 survey ini
diberikan secara onlinedan dapat diakses antara Desember 2005 dan Februari 2006. Sebuah
email follow-up dikirim 2 minggu kemudian selanjutnya email pengingat dikirim setelah 6
minggu. Jumlah akhir setelah perhitungan terdapat 172 responden dari 37 negara, sekitar 73
lebih rendah dari jumlah awal peserta yang telah bersedia.

Peserta termasuk pengusaha (16%), karyawan swasta (31%), karyawan publik (53%). Jumlah
responden bervariasi antara empat dan enam untuk masing-masing 37 negara. Peneliti
membandingkan sampel responden dengan non-responden di panel pada aspek pengalaman/
keahlian menggunakan komputer, pendapatan, dan jenis kelamin.
Tabel sumber primer
Mengukur
Sumber
Harapan kinerja Venkatesh et al. (2003); Davis et al. (1989); Thompson et al. (1991); Moore
Pengaruh sosial

& Benbasat(1991); Compeau & Higgins (1995


Venkatesh et al. (2003); Davis et al. (1989); Thompson et al. (1991); Moore

Kondisi fasilitas

& Benbasat(1991);
Taylor & Todd (1995); Venkatesh et al. (2003); Thompson et al. (1991);

Technological

Moore &Benbasat (1991); Kirkman et al. (2002)


Srinivasan et al. (2002)

opportunism

ANALISIS DATA
Dalam model prediksi, ekspektasi kinerja, pengaruh sosial dan kondisi memfasilitasi konstruksi
second-order. Model penelitian ini dianalisis dengan menggunakan kuadrat parsial terkecil
(PLS). PLS memungkinkan peneliti untuk menguji model yang digunakan dengan menempatkan
pembatasan minimal dari ukuran sampel atau distribusi residual.

Reliabilitas dinilai dengan menggunakan skor reliabilitas konsistensi internal, dimana

ketika skor lebih besar dari 0.70 menandakan bahwa reliabilitas dapat diterima.
Validitas konvergen dan diskriminan diverifikasi dengan memastikan bahwa hubungan

antara indikator PLS dengan faktor berhipotesis lebih besar daripada faktor lainnya.
rata-rata varians terekstrak (AVE) harus di atas 0.50 dan lebih tinggi dari korelasi dengan

konstruksi lainnya
Akar kuadrat dari AVE untuk semua konstruksi dihitung lebih tinggi dari 0.72 dan lebih
tinggi dari korelasi dengan konstruksi lainnya, agar menunjukkan tingkat yang

memuaskan dari konsistensi internal, konvergen dan validitas diskriminan


Sebagai tindakan pencegahan, anteseden diperiksa untuk multikolinieritas
komponen utama yang dinilai untuk metode bias umum menggunakan uji one-factor

Konstruksi yang berlevel tinggi menggunakan indikator formatif, yaitu indikator yang
independen satu sama lain, bahkan untuk variabel laten yang diwakili. Konstruksi yang berlevel
tinggi diuji dengan menggunakan analisis faktor komponen utama (PCA) untuk model diantara
konstruksi lower-order danhigher-order untuk menentukan bobot masing-masing faktor yang
mendasari (Chin, 1998; Pavlou & Gefen, 2004).
peneliti menggunakan faktor second-order sebagai skala tiga atau empat item dengan
rata-rata tertimbang dari konstruksi first-order; namun, peneliti memastikan bahwa korelasi
antara faktor awal dan rata-rata cukup tinggi untuk menghasilkan hasil yang sama (r> 0.88).
Hasil dari preliminary researchmemberikan dukungan keseluruhan yang kuat untuk model
dimana faktor-faktor laten menyumbang 72% dari proporsi kumulatif Y-variance (adopsi ecommerce yang sebenarnya). Seperti yang ekspektasi, harapan kinerja dan pengaruh sosial
memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap perilaku adopsi.

individu di negara-negara dengan level pendapatan yang lebih tinggi (GDP per kapita)

dan privatisasi lebih besar mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari adopsi e-commerce.
negara berkembang dapat melompati hambatan ekonomi untuk berinovasi dan bersaing

untuk kontribusi pembangunan.


Hal yang perlu diperhatikan dalam mengadopsi e-commerce adalah koneksi jaringan
yang digunakan

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa peneliti menemukan korelasi positif antara
pendapatan per kapita dengan adopsi e-commerce. Hasil dari analisis konstruksi second-order
yang juga menarik adalah ketika kegunaan ekonomi merupakan dimensi yang paling penting dari
harapan kinerja, kepatuhan merupakan dimensi yang paling penting dari pengaruh sosial, dan
akses dan fasilitasi terkait kebijakan merupakan dimensi yang paling penting dari kondisi
memfasilitasi.
HASIL DISKUSI
Penelitian ini mengacu pada sistem informasi, sosiologi, dan ekonomi untuk mengidentifikasi,
mengusulkan secara konseptual, mengoperasionalkan, dan secara empiris menyelidiki adopsi ecommerce di negara berkembang.

Pertama, di negara-negara berkembang, kondisi dapat memfasilitasi dan memainkan


peran katalis dalam adopsi e-commerce yang sebenarnya. Setiap perubahan dalam infrastruktur
merupakan indikasi untuk menunjukkan dukungan. Ketika pengaruh sosial dan harapan kinerja
memainkan peran penting, dengan kondisi memfasilitasi akan memperlancar adopsi e-commerce.
Kedua, dari sudut pandang deskriptif, penelitian ini membantu menelusuri bukti dimensi yang
mendasari penyebab dari adopsi IT. Penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti dengan
menciptakan konstruksi second-orderdengan memisahkan dimensi yang mendasari, membuat
dan / atau menyempurnakan pengukuran, memvalidasi, dan akhirnya melakukan pengujian untuk
menemukan bobot relatif dimensi ini sebagai bagian dari model yang lebih besar. Temuan pada
penelitian ini menyoroti beberapa aspek penting, yaitu:

Harapan kinerja terdiri dari harapan kegunaan ekonomi, sosial atau strategis. Untuk
negara-negara berkembang, persepsi positif dari manfaat ekonomi penting untuk

mengadopsi e-commerce.
kemajuan ekonomi dan kesejahteraan melalui e-commerce sering menimbulkan konflik

dengan dan melampaui kekuatan dari budaya, identitas, dan tradisi.


Negara berkembang mungkin merasa perlu untuk menempatkane-commerce sebagai
kesempatan unik sehingga secara dramatis melejitkan perekonomian mereka dan dengan
meyakini 'invisible hand' Adam Smith dimana kemajuan ekonomi pada akhirnya akan
menciptakan dampak sosial yang positif dengan menjembatani kesenjangan digital dalam
jangka panjang.
Pengaruh sosial dipahami dengan kepatuhan, identifikasi, dan internalisasi, dimana

kepatuhan adalah pengaruh sosial terkuat.negara berkembang adalah penerima bantuan terbesar.
Dampak kepatuhan membingungkan. Jika negara berkembang mengadopsi e-commerce karena
ingin dan bukannya butuh, maka praktik ini hanya sebagai hiasan saja. Contohnya, Negara Saudi
Arabia mengendalikan e-commerce dan internet dengan alasan agama, akan mengurangi
penggunaan dan akses karena takut kehilangan kontrol.
Di Negara berkembang, kebijakan penting untuk mengubah perilaku adopsi. Misalnya
RRC melakukan reformasi pasar dan golden project di tahun 1997 membawanya pada iklim
menguntungkan untuk adopsi e-commerce, dengan persepsi bahwa internet adalah faktor
pemampu. Hal ini memberikan akses yang lebih baik pada masyarakat, meningkatkan dukungan

dan pelatihan, dan menyatukan e-commerce dengan masyarakat. Project golden bridge ini
menciptakan infrastruktur, mengumpulkan pajak online, menciptakan pembayaran online dan
mempersingkat rantai nilai. Studi ini menawarkan 4 implikasi penting:
1. Negara berkembang didorong oleh manfaat ekonomi karena mereka menhubungkan
pengembangan ekonomi dengan kekuatan stratejik.
2. Negara berkembang memandang bahwa teknologi ini akan memberikan konotasi barat,
dan mengembangkan niat positif bahwa neara barat ingin mereka mengadopsi atau
dengan mengadopsi maka akan menaikkan image mereka diantara Negara berkembang.
3. Negara dengan kebijakan IT yang menyenangkan menawarkan lingkungan yang lebih
kondusif, yang akan memunculkan kepercayaan bahwa teknologi akan memberikan
pertumbuhan infrastruktur.
4. Dengan kondisi fasilitas positif, menjanjikan keberhasilan e-commerce.
Peran moderat kondisi yang memfasilitasi menambah petunjuk penting untuk memahami adopsi
e-commerce yang nyata di Negara berkembang. Mekanisme adopsi berubah jika kita mengubah
fokus ke lingkup global. Adopsi e-commerce yang tepat akan memberikan gagasan bahwa
internet adalah penyeimbang.
KETERBATASAN, REFLEKSI, DAN KESIMPULAN
1. Studi ini mencoba memahami perilaku user mengadopsi e-commerce di Negara
berkembang. Sampel mungkin tidak mewakili populasi. Studi didasarkan pada panel ad
hoc yang diidentifikasi oleh agensi, sehingga masalah terkait bias dapat dikurangi.
2. Penggunaan UTAUT untuk menilai keputusan adopsi memiliki keterbatasan dimana
kemungkinan alasan adopsi bisa dkarenakan faktor lain yang tidak diprtimbangkan oleh
UTAUT.
3. Studi mencoba membangun model sebab-akibat adopsi e-commerce tetapi menjalankan
investigasi lintas seksional. Studi ini menggabungkan faktor-faktor yang cenderung
menjelaskan varians yang membutuhkan pertukaran faktor.
4. Lingkup dan kontek adopsi e-commerce di negara berkembang. Hasil studi digerakkan
oleh persepsi kesenjangan dan kondisi sosio-ekonomi. Adopsi di negara berkembang
berliku-liku dan lambat sehingga hasilnya ambigu.
5. Banyak berbagai jenis negara dibawah nama negara berkembang, tetapi terdapat varians
yang besar di antara negara-negara ini.

SISTEM TEKNOLOGI INFORMASI


A preliminary study of e-commerce adoption
in developing countries
Dosen: Syaiful Ali, MIS., Ph.D., Ak., CA

Kelompok 3:
Alberta Vinanci R.
(15/391593/PEK/21039)
Diana Putri
(15/391615/PEK/21061)
Hesti Sri Budiastuti
(15/391639/PEK/21085)
Kisty Mincahyawati
(15/391646/PEK/21092)
M.Amrullah Reza Putra Tara
(15/391675/PEK/21121)
Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
2016