Anda di halaman 1dari 19

Mekanisme Kerja Hormon Insulin

A. Definisi, Ciri-ciri, Fungsi, dan Klasifikasi Hormon


Hormon adalah zat kimia yang terbentuk dalam satu organ atau bagian tubuh dan
dibawa dalam darah ke organ atau bagian di mana mereka menghasilkan efek fungsional.
Hormon membawa pesan dari kelenjar kepada sel-sel untuk mempertahankan tingkat bahan
kimia dalam aliran darah yang mencapai homeostasis.
Hormon memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.

Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah sangat

2.
3.
4.

kecil.
Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat di sel-sel target.
Memiliki pengaruh mengaktifkan enzim khusus.
Memiliki pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target, tetapi dapat pula memengaruhi
beberapa sel target yang berlainan.
Istilah Hormon berasal dari kata Yunani horman yang berarti menggairahkan,
membangkitkan, atau menggerakkan. Hal ini mencerminkan peran hormon yang bertindak
sebagai katalis untuk perubahan kimia lainnya pada tingkat sel yang diperlukan untuk
pertumbuhan, perkembangan, dan energi. Hormon beredar bebas dalam aliran darah,
menunggu untuk dikenali oleh sel target yang menjadi tujuan mereka. Sel target memiliki
reseptor yang hanya dapat diaktifkan dengan jenis hormon tertentu. Setelah diaktifkan, sel
tahu untuk memulai fungsi tertentu, misalnya mengaktifkan gen atau memproduksi energi
kembali.
Berdasarkan senyawa kimia pembentuknya, hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok sebagai berikut.

1.

Peptida/protein
Hormon peptida memiliki tiga sampai lebih dari 200 residu asam amino, termasuk
hipotalamus dan pituitari, demikian juga insulin dan glokagon dari pankreas. Kelompok

2.

hormon ini disekresikan oleh sebagian besar kelenjar endokrin.


Amina
Hormon amina yaitu senyawa-senyawa kecil yang larut di dalam air, terdiri dari kelompok
amino, termasuk adrenalin dari medulla adrenal dan hormon-hormon tiroid. Kelompok

3.

hormon ini disekresikan oleh kelenjar tiroid dan medula adrenal.


Steroid
Hormon steroid berasal dari kolesterol dan disekresikan oleh korteks adrenal vertebrata

(androgen dan estrogen), ovarium, testis, dan plasenta. (Lehninger, 1982; Soewoto:2009)
B. Hormon Insulin
1. Definisi, Struktur, dan Fungsi Insulin

Insulin merupakan sejenis hormon peptida yang dihasilkan oleh sel beta dari
Langerhans pankreas. Sel beta adalah sejenis sel yang terdapat dalam kelompok sel yang
digelar membentuk pepulau (islet of) Langerhans dalam pankreas (Indah: 2004,
Wilcox:2005).

Struktur asam amino insulin manusia


Sumber: http://www.bio.davidson.edu
Insulin memiliki struktur dipeptide yang tersusun atas dua rantai asam amino yang
dihubungkan oleh jembatan disulfide. Jembatan tersebut menghubungkan struktur helix
terminal N-C dari rantai asam amino yang satu (A) dengan struktur sentral helix rantai asam
amino lainnya (B). Insulin memiliki 51 asam amino dengan berat molekul 5802. Rantai A
memiliki 21 asam amino dan selebihnya dimiliki oleh rantai B (Wilcox, 2005).
Fungsi utama insulin ialah pengawalan keseimbangan tahap glukosa dalam darah dan
bertindak meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel badan. Kegagalan badan untuk
menghasilkan insulin akan menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam dan digunakan
oleh sel-sel tubuh. Peningkatan glukosa dalam darah akan menyebabkan penyakit kencing
manis yang dikenal sebagai diabetes melitus (Indah, 2004).
2. Reseptor insulin
Reseptor adalah molekul pengenal spesifik dari sel tempat hormon berikatan sebelum
memulai efek biologisnya. Reseptor dapat ditemukan pada permukaan (membran plasma)
ataupun intraseluler. Interaksi hormon dengan reseptor permukaan sel akan memberikan
sinyal pembentukan senyawa. Reseptor insulin berupa heterotetramer (22) yang mana
terikat lewat ikatan disulfida yang multipel (Indah, 2004). Djoko, dkk (2010) menambahkan
bahwa reseptor insulin merupakan reseptor tirosin kinase. Reseptor insulin memediasi
aktivitasnya dengan memfosforilasi tirosin pada protein di dalam sel. Protein substrat yang

difosforilasi oleh reseptor insulin termasuk protein yang disebut IRS-1 atau Insulin Receptor
Substrate 1. Terfosforilasinya ikatan IRS-1 akan meningkatkan afinitas molekul transporter
glukosa di membran luar jaringan yang responsif terhadap insulin seperti sel otot dan jaringan
lemak, sehingga meningkatkan masuknya glukosa ke dalam sel.
Reseptor insulin dikode oleh gen yang disebut gen IRS 1. Gen IRS 1 ini terletak pada
kromosom 2q3536.1 yang terdiri 2 ekson yang mengandung 64.538 basa. Kodon 927
terletak pada ekson 1. Molekul protein IRS 1 terdiri atas 1.242 residu asam amino dengan
berat molekul 131.592 kDa. Fungsi gen tersebut adalah menyandi sintesis protein IRS 1 yang
diekspresikan secara luas pada jaringan yang peka insulin, yaitu otot skelet, hepar, jaringan
adiposa, dan sel beta pankreas (Djoko, dkk:2010).
3. Biosintesis Insulin
Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada
retikulum endoplasma kasar oleh sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin
mengalami pemecahan sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam
gelembung-gelembung (secretory vesicles) dalam sel tersebut. Di sini, dengan bantuan enzim
peptidase, proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C (C-peptide) yang keduanya sudah
siap untuk disekresikan secara bersamaan melalui membran sel (Manaf:2006).
4. Sekresi insulin
Sekresi insulin adalah proses yang membutuhkan energi dan melibatkan sistem
mikrotubulus mikrofilamen dalam sel pulau Langerhans. Sejumlah perantara (mediator)
terlibat dalam proses pelepasan insulin. Insulin disekresikan dalam sel normal sebagai
reaksi terhadap stimulus glukosa dengan mode bifasik dengan lonjakan dini (fase awal) yang
diikuti dengan peningkatan sekresi insulin secara progresif (fase kedua) sepanjang ada
stimulus hiperglikemik.
Setelah adanya rangsangan oleh molekul glukosa. Tahap pertama sekresi insulin adalah
proses glukosa (masuk ke dalam sel) melewati membran sel. Glukosa masuk ke dalam sel
secara difusi dengan bantuan GLUT-2 glucose transporter. Glucose transporter adalah
senyawa asam amino yang terdapat di dalam berbagai sel yang berperan dalam proses
metabolisme glukosa yang berfungsi sebagai kendaraan pengangkut glukosa masuk dari
luar kedalam sel jaringan tubuh. Kemudian intraseluler glukosa dimetabolisme (glikolisis dan
fosforilasi) membentuk ATP. Molekul ATP yang terbentuk, dibutuhkan untuk tahap
selanjutnya yakni proses mengaktifkan penutupan K channel pada membran sel.
Pembentukan ATP yang telah berlangsung akan mengakibatkan terjadinya peningkatan rasio
ATP/ADP dan kadar glukosa intraseluler yang tinggi menyebabkan depolarisasi membran sel

serta menginduksi penutupan KATP channel pada permukaan sel. Kemudian diikuti oleh
tahap pembukaan Cell-surface voltage dependent Calsium channels (Ca channel). Keadaan
inilah yang memungkinkan masuknya ion Ca ke dalam sel sehingga menyebabkan
peningkatan kadar ion Ca intrasel dan memicu exocytosis insulin. Selanjutnya molekul
insulin masuk ke dalam sirkulasi darah terikat dengan reseptor. Ikatan insulin dan reseptornya
membutuhkan GLUT-4 glucose transporter untuk dapat masuk ke dalam sel otot danjaringan
lemak, serta uptake glukosa dengan efisien, yang akhirnya menurunkan kadar glukosa dalam
plasma (Manaf:2006).
Sekresi insulin
Sumber: http://eprints.undip.ac.id
Berikut beberapa faktor yang memengaruhi sekresi insulin.
a.

Glukosa
Peningkatan konsentrasi glukosa dalam plasma merupakan faktor fisiologik paling penting
yang mengatur sekresi insulin. Konsentrasi ambang bagi sekresi tersebut adalah kadar
glukosa puasa plasma (80-100 mg/dl) dan respon maksimal diperoleh pada kadar glukosa
yang berkisar dari 300 hingga 500 mg/dl. Dua buah mekanisme yang berbeda pernah
dikemukakan untuk menjelaskan bagaimana glukosa mengatur sekresi insulin. Salah satu
hipotesis mengatakan bahwa pengikatan glukosa dengan reseptor yang kemungkinan terletak
pada membran sel

akan mengaktifkan mekanisme pelepasan. Hipotesis kedua

mengemukakan bahwa metabolit intrasel atau kecepatan aliran metabolit lewat suatu lintasan
seperti jalan pintas pentosa fosfat, siklus asam sitrat atau pun lintasan glikolisis turut terlibat.
b.

Ada bukti lewat eksperimen yang mendukung kedua posisi.


Faktor hormonal
Sejumlah hormon mempengaruhi pelepasan insulin. Preparat agonis adrenergik, khususnya
epinefrin menghambat pelepasan insulin, bahkan setelah proses pelepasan ini dirangsang oleh
glukosa. Preparat agonis adrenergik merangsang pelepasan insulin, yang mungkin dengan
cara meningkatkan cAMP intrasel. Pajanan yang terus menerus dengan hormon pertumbuhan,
kortisol, laktogen plasenta, estrogen dan progestin dalam jumlah yang berlebihan juga akan
meningkatkan sekresi insulin. Karena itu, sekresi insulin meningkat jelas selama trimester

c.

terakhir kehamilan.
Preparat farmakologi
Banyak obat merangsang sekresi insulin, tetapi senyawa sulfonilurea digunakan paling sering
untuk pengobatan pada manusia.
5. Mekanisme Kerja Insulin

Insulin berperan penting dalam pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan


oleh sel pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena portal, yang
kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Efek kerja insulin
yaitu membantu transpor glukosa dari darah ke dalam sel. Akibatnya, glukosa darah akan
meningkat dan kebutuhan energi sel tubuh akan terpenuhi. Warta Medika (2008) memaparkan
bahwa saat dan setelah makan, karbohidrat yang kita konsumsi akan segera dipecah menjadi
gula dan masuk aliran darah dalam bentuk glukosa. Glukosa adalah senyawa siap pakai untuk
menghasilkan energi. Ketika keadaan normal, tingginya kadar glukosa setelah makan akan
direspon oleh kelenjar pankreas dengan memproduksi hormon insulin. Adanya insulin,
glukosa akan segera masuk ke dalam sel Selain itu, dengan bantuan insulin, kadar glukosa
yang lebih dari kebutuhan akan disimpan di dalam hati (liver) dalam bentuk glikogen. Jika
kadar glukosa darah turun, misalnya saat puasa atau di antara dua waktu makan, glikogen
akan dipecah kembali menjadi glukosa untuk memenuhi kebutuhan energi.
Di samping itu, insulin juga memiliki pengaruh terhadap metabolisme, baik
metabolisme karbohidrat, lipid, maupun protein, serta mineral. Insulin akan meningkatkan
lipolisis, serta meningkatkan transpor asam amino masuk ke dalam sel. insulin juga berperan
dalam modulasi transkripsi, sintesis DNA, dan replikasi.
C. Defisiensi Insulin
Jika jumlah insulin dalam tubuh seseorang sedikit, sel-sel tubuh akan kekurangan bahan
sumber energi sehingga tidak dapat memproduksi energi sebagaimana seharusnya. Berikut
beberapa kelainan yang dapat terjadi jika seseorang kekurangan insulin.
1. Kelainan pada pankreas sehingga insulin tidak dapat diproduksi. Keadaan ini disebut penyakit
diabetes tipe 1.
2.

Pankreas tetap dapat menghasilkan insulin, tetapi jumlahnya tidak memadai, atau jumlah
produksi insulin masih normal, tetapi sel tubuh tidak dapat menggunakannya (resisten).
Keadaan terakhir ini disebut diabetes tipe 2 (Warta Medika, 2008).
Diabetes tipe 1 maupun tipe 2, sama-sama mengakibatkan meningkatnya kadar glukosa
dalam darah. Jika keadaan ini berlangsung lama dan tidak diobati, akan timbul berbagai
komplikasi seperti kebutaan, kerusakan saraf, kerusakan ginjal, dan luka yang tidak kunjung
sembuh. Penderita diabetes tipe 1 biasanya mutlak membutuhkan insulin. Berbeda halnya
dengan diabetes tipe 2. Insulin baru diberikan jika obat-obatan antidiabetes sudah tidak
mempan lagi (Warta Medika, 2008).
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, insulin dapat diperoleh dari
luar tubuh dan diproduksi secara massal melalui rekayasa genetika. Pada tahun 1978, para

ilmuwan dari Genetch dan Duerte California Medical Center berhasil melakukan kloning gen
untuk insulin manusia. Dua tahun berikutnya, para peneliti berhasil memasukkan gen
manusia, yaitu gen pengkode produksi protein interferon ke dalam bakteri. Tahun 1982, US
FDA menyetujui obat pertama hasil rekayasa genetika yaitu insulin yang diproduksi oleh
bakteri.
D. Daftar Pustaka
Davidson. 2002. My Favorite Protein: Insulin, diakses dari http://www.bio.davidson.edu pada
tanggal 14 Juli 2013.
Djoko, dkk. 2010. Protein Reseptor Tirosin Kinase (Insulin Reseptor Substrate 1 (IRS 1)), diakses
dari http://id.shvoong.com pada tanggal 15 Juli 2013.
Hafiz, Soewoto. 2009. Hormon-hormon yang Berperan dalam Proses Metabolisme. Dep. Biokimia
dan Biologi Molekuler F.K.U.I
Indah, Mutiara. 2004. Mekanisme Kerja Hormon. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara,
diakses dari http://www.usu.ac.id pada tanggal 31 Mei 2010.
Lehninger, A.L. 1982. Dasar Dasar Biokimia. Erlangga. Jakarta.
Manaf, Asman. 2006. Insulin: Mekanisme Sekresi dan Aspek Metabolisme. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Hal 1890, diakses
dari http://www.scribd.com pada tanggal 15 Juli 2013.
Prabawati, R. K. 2012. Mekanisme seluler dan Molekuler Resistensi Insulin. Program
Pascasarjana Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
Warta Medika. 2008. Peran Hormon Insulin, diakses dari http://www.wartamedika.com pada
tanggal 31 Mei 2010.
Wilcox, Gisela. 2005. Insulin and Insulin Resistance. Clin Biochem Rev. 2005 May: 26(2): 19-39.
Http://eprints.undip.ac.id/30688/3/Bab_2.pdf

HORMON YANG TERKAIT DALAM KEBUTUHAN NUTRISI


A. Hormon Insulin
1. Pengertian
Insulin adalah hormon yang mengatur pusat untuk metabolisme karbohidrat
dan lemak dalam tubuh. Insulin menyebabkan sel-sel di hati, otot, dan jaringan
lemak untuk mengambil glukosa dari darah, menyimpannya sebagai glikogen di
hati dan otot.
Insulin menghentikan penggunaan lemak sebagai sumber energi dengan
menghambat pelepasan glukagon. Dengan pengecualian dari diabetes mellitus dan
sindrom gangguan metabolisme Metabolik, insulin diberikan dalam tubuh dalam
proporsi konstan untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah, yang
sebaliknya akan menjadi racun. Ketika kadar glukosa darah turun di bawah
tingkat tertentu, tubuh mulai menggunakan gula disimpan sebagai sumber energi
melalui glikogenolisis, yang memecah glikogen yang tersimpan di hati dan otot
menjadi glukosa, yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Seperti tingkat adalahekanisme metabolisme pusat kontrol, statusnya juga
digunakan sebagai sinyal kontrol untuk sistem tubuh lainnya (seperti penyerapan
asam amino oleh sel-sel tubuh). Selain itu, memiliki beberapa efek anabolik lain di
seluruh tubuh.

2. Fungsi
Fungsi insulin yang mengikat :
Aktivitas hormon
binding protein
Proses metabolisme glukosa

generasi metabolit prekursor dan energi


respons fase-akut
permukaan sel reseptor transduksi sinyal terkait
sel-sel sinyal
kematian sel
glukosa transportasi
negatif dari proses regulasi protein katabolik
positif regulasi dari proses biosintesis oksida nitrat
negatif regulasi vasodilatasi
positif regulasi vasodilatasi
alpha-beta sel T aktivasi
regulasi sekresi protein
positif regulasi sekresi sitokin
positif regulasi nitrat oksida sintase kegiatan
3. Mekanisme kerja/ fisiologi
Mekanisme kerja insulin dimulai dengan berikatnya insulin dengan reseptor
glikoprotein yang spesifik pada permukaan sel sasaran. Reseptor ini terdiri dari
2 subunit yaitu:
a. Subunit yang besar dengan BM 130.000 yang meluas ekstraseluler terlibat
pada pengikatan molekul insulin.
b. Subunit yang lebih kecil dengan BM 90.000 yang dominan di dalam
sitoplasma mengandung suatu kinase yang akan teraktivasi pada pengikatan
insulin dengan akibat fosforilasi terhadap subunit itu sendiri (autofosforilasi).
Kelainan reseptor insulin dalam jumlah, afinitas ataupun keduanya akan
berpengaruh terhadap kerja insulin. Down Regulation adalah fenomena dimana
jumlah ikatan reseptor insulin jadi berkurang sebagai respon terhadap kadar
insulin dalam sirkulasi yang meninggi kronik, contohnya pada keadaan adanya

korsitol dalam jumlah berlebihan. Sebaiknya jika kadar insulin rendah, maka
ikatan reseptor akan mengalami peningkatan. Kondisi ini terlihat pada keadaan
latihan fisik dan puasa
4. Pengaturan sekresi
Sekresi insulin terutama di atur oleh konsentrasi glukosa darah. akan tetapi
asam amino darah dan faktor-faktor lain juga memengang peranan penting.
seperti kita akan lihat.
Perangsang Sekresi Insulin Oleh Glukosa Darah.
Kadar glukosa darah normal waktu puasa adalah 80 sampai 90 mg/100 ml
kecepatan sekresi insulin minumun. Waktu konsentrasi glukosa darah meningkat
di atas 100 mg/100 ml darah, kecepatan sekresi insulin meningkat cepat
mencapai puncaknya yaitu 10 sampai 20 kalitingkat basal konsentrasi glukosa
darah antara 300 dan 400 ml,jadi peningkatan sekresi insulin akibat rangsangan
glukosa adalah dramatis dalam kecepatan dan sangat tingginya kadar sekresi
yang di capai. selanjutnya penghentian sekresi insulin hampir sama cepat terjadi
dalam beberapamenit setelah pengurangan konsentrasi glukosa darah kembali ke
tingkat puasa.
5. Kelainan sekresi/ efek
Jika disuntikkan dosis yang cukup besar dari insulin sintetis itu terjadi
penurunan pada tingkat gula dalam tubuh-jadi, ia mulai mengganggu hipo-glicemic,
yang ditandai dengan kelemahan total, kaki gemetar, kebocoran konsentrasi,
berlebihan keringat. Itu mungkin memiliki efek hilangnya hati nurani yang dapat
menyebabkan koma. Penelitian ini membuktikan bahwa dalam kasus administrasi
yang benar dari insulin, dikombinasikan dengan hormon lain, meningkatkan
perubahan energi pada hal itu mempercepat membangun kembali, itu adalah
meningkatkan kapasitas asimilasi makanan dan nafsu makan.
Pada bentuk glicemic hipo-dimoderasi, dalam tubuh manusia berlangsung
reaksi-defensif mengintensifkan dalam sekresi hormon tumbuh. Dalam beberapa
kasus tingkat bisa meningkat hingga 5-7 kali dibandingkan dengan tingkat normal.
Penggunaan steroid anabolik mengintensifkan aksi insulin sintetik: itu adalah

sintesis matriks intensifyed protein, AND dan ARN. Ini adalah mempercepat
tindakan siklus pentophosphatyc, di mana sintesis protein terjadi.
B. Hormon Glukagon
1. Pengertian
Glukagon adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh pankreas, meningkatkan
kadar glukosa darah.
Glukosa disimpan dalam hati dalam bentuk glikogen, yang merupakan patiseperti polimer rantai terdiri dari molekul glukosa. Sel-sel hati (hepatosit)
memiliki reseptor glukagon. Ketika glukagon mengikat pada reseptor glukagon,
sel-sel hati mengubah glikogen menjadi polimer molekul glukosa individu, dan
melepaskan mereka ke dalam aliran darah, dalam proses yang dikenal sebagai
glikogenolisis. Seperti toko-toko menjadi habis, glukagon kemudian mendorong
hati untuk mensintesis glukosa tambahan oleh glukoneogenesis. Glukagon
mematikan glikolisis di hati, menyebabkan intermediet glikolisis akan shuttled
untuk glukoneogenesis.
2. Fungsi
Fungsi molekul reseptor yang mengikat :
Aktivitas hormon
glukagon reseptor yang mengikat
Komponen seluler
ekstraseluler wilayah
ekstraseluler wilayah
ruang ekstraseluler
fraksi larut
sitoplasma
membran plasma

membran plasma
Proses biologis
proses metabolisme cadangan energi
sinyal transduksi
G-protein reseptor ditambah protein signaling jalur
G-protein signaling, ditambah dengan utusan cAMP kedua nukleotida
perilaku makan
proliferasi sel
negatif pengaturan nafsu makan
regulasi sekresi insulin
seluler respon terhadap stimulus glukagon
3. Mekanisme kerja/ fisiologi
berperan menaikkan kadar gula yang rendah, dan cara kerja hormon ini
merupakan kebalikan hormon insulin.
Hormon yang dikeluarkan oleh pankreas yang berguna untuk meningkatkan kadar
glukosa darah.
Glukagon memiliki efek yang berkebalikan dengan insulin. Insulin dikenal sebagai
hormon yang menurunkan kadar glukosa darah.
Pankreas melepaskan glukagon bila kadar gula darah (glukosa) terlalu rendah.
Glukagon menyebabkan hati mengubah cadangan glikogen menjadi glukosa yang
kemudian dilepaskan ke aliran darah.
Glukagon dan insulin merupakan bagian dari sistem umpan balik yang membuat
kadar glukosa darah berada pada tingkatan yang stabil
4. Pengaturan sekresi
Peningkatan sekresi glukagon disebabkan oleh:
* Penurunan glukosa plasma (tidak langsung)
* Peningkatan katekolamin - norepinefrin dan epinefrin
* Asam amino plasma Peningkatan (untuk melindungi dari hipoglikemia jika
semua protein-makanan dikonsumsi)
* Sistem saraf simpatis
* Asetilkolin

* Cholecystokinin

Penurunan sekresi (penghambatan) dari glukagon disebabkan oleh:


* Somatostatin
* Insulin (melalui GABA)
* Peningkatan asam lemak bebas dan asam keto ke dalam darah
* Peningkatan produksi urea
5. Kelainan sekresi/efek
Efeknya adalah berlawanan dari insulin, yang menurunkan kadar glukosa darah
. Pankreas melepaskan glukagon ketika gula darah (glukosa) tingkat jatuh terlalu
rendah. Glukagon menyebabkan hati untuk mengubah glikogen yang disimpan
menjadi glukosa, yang dilepaskan ke dalam aliran darah. Kadar glukosa darah yang
tinggi merangsang pelepasan insulin. Insulin memungkinkan glukosa yang akan
diambil dan digunakan oleh jaringan tergantung insulin. Jadi, glukagon dan insulin
adalah bagian dari sistem umpan balik yang membuat kadar glukosa darah pada
tingkat yang stabil. Glukagon milik keluarga beberapa hormon lain yang terkait.
C. Hormon Pertumbuhan (Growth Hormone)
1. Pengertian
Hormon pertumbuhan (GH) adalah hormon peptida yang merangsang
pertumbuhan, reproduksi sel dan regenerasi pada manusia dan hewan lainnya.
Hormon pertumbuhan adalah asam 191-amino rantai polipeptida tunggal yang
disintesis, disimpan, dan disekresi oleh sel-sel somatotroph dalam sayap lateral
kelenjar hipofisis anterior. Somatotropin (STH) mengacu pada hormon
pertumbuhan 1 diproduksi secara alami dalam hewan, sedangkan somatropin
merujuk pada hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh teknologi DNA
rekombinan.

2. Fungsi
Hormon pertumbuhan digunakan sebagai obat resep dalam pengobatan untuk
mengobati gangguan pertumbuhan anak dan defisiensi hormon pertumbuhan
dewasa.
3. Mekanisme kerja/fisiologi
Hormon pertumbuhan manusia (HGH) adalah hormon yang bertanggung jawab
atas pertumbuhan manusia sejak dari kecil sampai dia tumbuh besar. Setelah
manusia sudah bertumbuh besar, bukan berarti hormon ini tidak berguna, akan
tetapi hormon ini bertugas untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada kondisi
yang prima. Kelenjar yang bertanggung jawab untuk memproduksi HGH adalah
kelenjar pituitary.
HGH yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary pertama-tama mengalir melalui
pembuluh darah menuju ke organ hati. Di dalam hati, HGH dirubah menjadi IGF 1
(insulinlike Growth Factor 1). Lalu melalui peredaran darah pula, IGF 1 dialirkan
keseluruh organ-organ yang ada di tubuh manusia. IGF 1 inilah yang bertanggung
jawab untuk memelihara seluruh organ-organ di dalam tubuh manusia. Oleh
karena terpeliharanya organ-organ di dalam tubuh manusia, maka system
imunisasi di dalam tubuh manusia juga ikut terpelihara. Tidak heran mengapa
seseorang pada usia muda yang dimana produksi HGH-nya masih banyak, mereka
lebih tahan terhadap serangan penyakit dan hampir tidak dijumpai adanya
penyakit-penyakit yang biasa ditemukan pada orang yang sudah berumur cukup
tua.
Hormon Pertumbuhan Manusia akan berkurang seiring dengan pertambahan usia.
Pada umur 60 tahun volume Hormon Pertumbuhan hanya tinggal sebesar 25% jika
dibandingkan dengan usia 21 tahun. Faktor-faktor yang membuat proses penuaan
manusia jauh lebih cepat dari yang seharusnya adalah factor pola hidup yang
tidak sehat.
Ramuan alami yang berfungsi untuk merangsang Kelenjar Pituitary agar terus
memproduksi Hormon Pertumbuhan, sehingga terjadi perbaikan system
metabolisme tubuh, regenerasi sel, maka akan terjadi Pembalikan Usia Biologis
serta juga meningkatkan aktivitas seksual serta stamina, dan juga meningkatkan
kekebalan tubuh. KANDUNGAN MELIA BIYANG
1. Kolustrum (susu awal)
2. Vitamin B Kompleks
3. Asam Amino
4. Calsium

4. Pengaturan sekresi
Sekresi hormon pertumbuhan secara fisiologis diatur oleh hipotalamus.
Hipotalamus menghasilkan faktor penglepas hormon pertumbuhan (GHRF growth hormone releasing factor) yg merangsang sekresi hormon pertumbuhan.
Selain itu dalam hipotalamus juga dijumpai somatostatin (GH-RIH -growth
hormone releasing inhibitory hormone) yang menghambat sekresi beberapa
hormon antara lain hormon pertumbuhan. Dg demikian hipotalamus memegang
peran dwifungsi dalam pengaturan hormon ini.
Pada waktu istirahat sebelum makan pagi kadar hormon pertumbuhan 1-2 ng/mt,
sedangkan pada keadaan puasa sampai 60 jam, meningkat perlahan mencapal 8
ng/ml. Kadar Ini selalu meningkat segera setelah seseorang tertidur. Pada orang
dewasa kadar hormon pertumbuhan meningkat terutama hanya waktu tidur;
sedangkan pada remaja juga meningkat waktu bangun. Kadar pada anak dan
remaja lebih tinggi dibanding kadar pada dewasa. Pada anak, hipoglikemia
merupakan perangsang yg kuat shg menyebabkan kadar hormon pertumbuhan
meningkat. Pada hipoglikemia karena insulin misalnya, kadar hormon pertumbuhan
dpt mencapai 50 ng/ml.
Kerja fisik, stress dan rangsangan emosi merupakan perangsangan (stimulus)
fisiologis utk meningkatkan sekresi hormon ini.
Sekresi hormon pertumbuhan yg berlebihan dpt ditekan dg pemberian agonis
dopamin. Dopamin diketahui merangsang sekresi hormon pertumbuhan pada
orang normal, tetapi pada akromegali dopamin justru menghambat sekresi
hormon tsb. Bromokriptin, suatu agonis dopamin derivat ergot, dipakai utk
menekan sekresi hormon pertumbuhan pada penderita tumor hipofisis. Efek
bromokriptin tidak segera terlihat, penurunan kadar hormon dalam darah terjadi
setelah pengobatan dalam jangka panjang. Sekresj hormon pertumbuhan kembali
berlebihan setelah pemberian bromokriptin dihentikan. Bromokriptin juga
menekan sekresi prolaktin yg berlebihan yg terjadi pada tumor hipofisis.
Antagonis serotonin (5-HT) misalnya siproheptadin dan metergolin, antagonis
adrenergik misalnya fentolamin, juga dpt menghambat sekresi hormon
pertumbuhan, tetapi efeknya lemah dan tidak konsisten. Somatostatin meskipun
dpt menghambat sekresi hormon pertumbuhan, tidak digunakan utk pengobatan
akromegali terutama karena menghambat sekresi hormon-hormon lain.
5. Kelainan sekresi/efek
Ada 2 efek yang mempengaruhi :
1.

Efek langsung adalah hasil dari hormon pertumbuhan yang mengikat reseptor
pada sel target. Sel-sel lemak (adiposit), misalnya, memiliki reseptor hormon

pertumbuhan, dan hormon pertumbuhan merangsang mereka untuk memecah


trigliserida dan menekan kemampuan mereka untuk mengambil dan mengumpulkan
beredar lipid.
2. Efek tidak langsung yang dimediasi terutama oleh insulin-seperti faktor
pertumbuhan-I (IGF-I), suatu hormon yang disekresikan dari hati dan jaringan
lain sebagai respon terhadap hormon pertumbuhan. Mayoritas pertumbuhan
mempromosikan efek dari hormon pertumbuhan sebenarnya karena IGF-I yang
bekerja pada sel target.
D. Hormon Tiroksin (Thyroxine)
1. Pengertian
Tiroksin adalah hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Ini
mendorong sintesis protein (blending) dan pertumbuhan, dan juga membantu
mengatur metabolisme tubuh.
Tiroksin diproduksi oleh kelenjar tiroid dengan cara yang sangat kompleks.
Ketika tingkat tiroksin dalam darah adalah rendah, hipotalamus otak (bagian dari
otak yang mengatur fungsi tubuh) menghasilkan hormon thyrotropin-releasing.
Hal ini merangsang kelenjar pituitary untuk menghasilkan Thyrotropin.
Thyrotropin adalah hormon thyroid-stimulating hormone (TSH) yang
menggairahkan kelenjar tiroid. Ketika tingkat tiroksin dalam darah adalah tinggi,
hipotalamus melepaskan hormon yang menghambat produksi TSH.
2. Fungsi
Fungsi hormone tiroksin yaitu mengatur pertukaran zat (metabolisme) di dalam
tubuh serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara mental.
3. Mekanisme kerja/ fisiologi
a. Reseptor : alat untuk menerima rangsang
b. Efektor : alat untuk menanggapi rangsang berupa otot dan kelenjar
c. Sel Saraf Sensoris : serabut saraf yang membawa rangsang ke otak

d. Sel saraf Motorik : serabut saraf yang membawa rangsang dari otak
e. Sel Saraf Konektor : sel saraf motorik atau sel saraf satu dengan sel saraf lain.
4. Pengaturan sekresi

Hormon masuk ke dalam sel dan berikatan dengan protein pembawa


Protein membawa hormone ke dalam inti sel
Reseptor dilepaskan untuk digunakan kembali
Hormon berinteraksi secara bolak balik dengan AND pada kromosom
Interaksi hormone mengaktifkan gen dan memproduksi messenger ARM (mRNA)
mRNA keluar dari kromosom dan memulai pembentukan protein (biasanya enzim) pada

robosom. Enzim yang baru dibentuk inilah melakukan perintah


5. Kelainan sekresi/ efek
P e n g e l o l a a n k e l a i n a n k e l e n j a r t i r o i d d i l a k u k a n d e n g a n m e l a k u k a n uji kadar
hormon TSH dan tiroksin bebas, didasari atas patofisiologi yangterjadi, sehingga
akan didapatkan pengelolaan menyeluruh.Diagnosis dari penyakit tiroid telah
banyak disederhanakan dengandikembangkannya assay yang peka untuk TSH dan
tiroksin bebas. Suatu peningkatan TSH dan tiroksin bebas yang rendah
menetapkan diagnosis darihipotiroidisme, dan TSH yang tersupresi dan FT
yang meningkatmenetapkan diagnosis dari hipertiroidisme
E. Hormon Kortisol (Cortisol)
1. Pengertian
Kortisol (hidrokortison) adalah hormon steroid, lebih khusus glukokortikoid,
yang diproduksi oleh kelenjar adrenal .
Hal ini dirilis dalam respon terhadap stres dan tingkat rendah glukokortikoid
darah.
2. Fungsi
Fungsi utama dalam tubuh :
* Meningkatkan gula darah melalui glukoneogenesis
* Menekan sistem kekebalan tubuh
* Membantu dalam metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat
3. Mekanisme kerja/fisiologi
4. Pengaturan sekresi

5. Kelainan sekresi/efek
F. Hormon SS somatostatin
1. Pengetian
Somatostatin (SS) adalah peptida yang dihasilkan oleh beberapa jaringan
tubuh, termasuk hipotalamus. Somatostatin menghambat pelepasan hormon
pertumbuhan dalam menanggapi peningkatan GHRH dan faktor-faktor stimulasi
lain seperti konsentrasi glukosa darah rendah.
2. Fungsi
3. Mekanisme kerja/fisiologi
4. Pengaturan sekresi
5. Kelainan sekresi / efek

Efek pada kelenjar hipofisis


Somatostatin bernama untuk efek menghambat sekresi hormon pertumbuhan
dari kelenjar pituitari. Eksperimental, semua rangsangan yang dikenal untuk
sekresi hormon pertumbuhan yang ditekan oleh administrasi somatostatin

Efek pada Pankrea


memiliki efek dalam sekresi eksokrin pankreas menekan, menghambat enzim
oleh sekresi cholecystokinin-dirangsang dan secretin-dirangsang sekresi
bikarbonat

Efek pada saluran pencernaan


Somatostatin disekresikan oleh sel-sel epitel tersebar di GI, dan oleh neuron
dalam sistem saraf enterik. Ini telah ditunjukkan untuk menghambat sekresi
dari banyak hormon GI lain, termasuk gastrin, cholecystokinin, secretin dan
peptida usus vasoaktif. Selain efek langsung menghambat sekresi hormon GI
lainnya, somatostatin memiliki berbagai efek penghambatan lain pada saluran
pencernaan, yang mungkin mencerminkan efek pada hormon lainnya, ditambah
beberapa efek langsung tambahan. Somatostatin menekan sekresi asam lambung
dan pepsin, menurunkan laju pengosongan lambung, dan mengurangi kontraksi

otot polos dan aliran darah di dalam usus. Secara kolektif, kegiatan ini
tampaknya memiliki efek keseluruhan penurunan tingkat penyerapan gizi.

Efek pada Sistem Saraf


Somatostatin sering disebut sebagai memiliki aktivitas neuromodulatory
dalam sistim saraf pusat, dan tampaknya memiliki berbagai efek kompleks pada
transmisi saraf.Somatostatin dan analog sintetik yang digunakan secara klinis
untuk mengobati berbagai neoplasma. Hal ini juga digunakan dalam untuk
mengobati gigantisme dan akromegali, karena kemampuannya untuk menghambat
sekresi hormon pertumbuhan.

G. Hormon Epinefrin/ Norepinefrin


1. Pengertian
Norepinefrin (INN) (disingkat norepi atau NE) adalah nama AS untuk
noradrenalin (BAN) (disingkat NA atau NAD), sebuah katekolamin dengan peran
ganda termasuk sebagai hormon dan neurotransmitter. Daerah tubuh yang
menghasilkan, atau yang dipengaruhi oleh norepinefrin digambarkan sebagai
noradrenergik. Noradrenalin istilah (dari bahasa Latin) dan norepinefrin (berasal
dari bahasa Yunani) yang dipertukarkan, dengan noradrenalin menjadi nama umum
di sebagian besar dunia.
2. Fungsi
sebagai neurotransmitter dilepaskan dari neuron simpatis yang mempengaruhi
jantung. Peningkatan norepinefrin dari saraf simpatik meningkatkan laju
kontraksi
Sebagai hormon stres, norepinefrin mempengaruhi bagian otak, seperti amigdala,
di mana perhatian dan tanggapan dikendalikan
Ketika norepinefrin bertindak sebagai obat, sehingga meningkatkan tekanan
darah dengan meningkatkan tonus vaskular (ketegangan otot) melalui -

adrenergik reseptor aktivasi, hal ini menyebabkan refleks kompensasi yang


mengakibatkan penurunan denyut jantung
3. Mekanisme kerja/ fisiologi
Mengurangi kecepatan absorbsi dari anestesi lokal sehingga reaksi toksis yang
serius oleh karena kadar maximum obat anestesi lokal di dalam darah yang sangat
tinggi dapat dicegah.
Menyebabkan penyerapan obat anestesi lokal terjadi secara perlahan,hal ini dapat
memperpanjang masa kerja anestesi lokal dan juga dapat meningkatkan frekuensi
keberhasilan blokade saraf.
Menghentikan perdarahan kapiler akibat pembedahan
4. Pengaturan sekresi
Epinefrin disekresikan di bawah pengendalian sistem persarafan simpatis. Dapat meningkat
dalan keadaan dimana individu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Pengeluaran yang
bertambah akan meningkatkan tekanan darah untuk melawan shok yang disebabkan oleh
situasi darurat.
Sekresi hormon ini terjadi dengan meningkatan kerja sistem pernafasan yang mengakibatkan
paru-paru bekerja ekstra untuk mengambil oksigen lebih banyak hingga meningkatkan juga
peredaran darah di seluruh bagian tubuh mulai dari otot-otot hingga ke otak, dan peningkatan
tersebut disebutkan beberapa riset bisa naik mencapai 300% melebihi batas normal.
Akibatnya, bukan jantung saja yang dapat terasa berdebar, namun keseluruhan sistem tubuh
termasuk pengeluaran keringat juga akan meningkat dengan cepat. Aliran darah di kulit akan
berkurang untuk dialihkan ke organ lain yang lebih penting sehingga orang-orang yang
menghadapi stress biasanya gampang berkeringat, dimana dalam pengertian awam sering
disebut keringat dingin. Sekresi ini menaikkan konsentrasi gula darah dengan menaikkan
kecepatan glikogenolisis di dalam liver. Rangsangan sekresi epinefrin bisa berupa stres fisik
atau emosional yang bersifat neurogenik
5. Kelainan sekresi / efek
hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau
intensitas cahaya yang tinggi. Reaksi yang sering dirasakan adalah frekuensi detak jantung
meningkat, keringat dingin dan keterkejutan/shok.
hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau
intensitas cahaya yang tinggi. Reaksi yang sering dirasakan adalah frekuensi detak jantung
meningkat, keringat dingin dan keterkejutan.