Anda di halaman 1dari 21

2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan Mengenai Ruptur Uteri
1. Pengertian
Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim
akibat dilampauinya daya regang miomentrium. ( buku acuan
nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal ) Rupture
uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau
dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral (
Obstetri dan Ginekologi).
Terjadinya rupture uteri pada seorang ibu hamil atau sedang
bersalin masih merupakan suatu bahaya besar yang mengancam
jiwanya dan janinnya. Kematian ibu dan anak karena rupture uteri
masih tinggi. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai
dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti afrika dan asia.
Angka ini sebenarnya dapat diperkecil bila ada pengertian dari para
ibu dan masyarakat. Prenatal care, pimpinan partus yang baik,
disamping fasilitas pengangkutan dari daerah-daerah periver dan
penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting.
Ibu-ibu yang telah melakukan pengangkatan rahim, biasanya
merasa dirinya tidak sempurna lagi dan perasaan takut diceraikan
oleh suaminya. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat serta
tindakan yang jitu juga penting, misalnya menguasai teknik operasi.
2. Penyebab (Etiologi)
Penyebab (etiologi) dari ruptur uteri adalah sebagai berikut :
a. Riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus
b. Induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan
yang lama
c. Presentasi abnormal ( terutama terjadi penipisan pada segmen
bawah uterus).
Penyebabnya dibagi menjadi 2:
a. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat, misalnya pada
bekas SC, miomektomi, perforasi waktu kuretase, histerorafia,
pelepasan plasenta secara manual

b. Karena peregangan yang luar biasa pada rahim, misalnya pada


panggul sempit atau kelainan bentuk panggul, janin besar
seperti janin penderita DM, hidrops fetalis, post maturitas dan
grande multipara.
Rupture uteri vioventa (traumatika), karena tindakan dan trauma
lain seperti;
a. ekstraksi forsef
b. Versi dan ekstraksi
c. Embriotomi
d. Versi brakston hicks
e. Sindroma tolakan (pushing sindrom)
f. Manual plasenta
g. Curetase
h. Ekspresi kisteler/cred
i. Pemberian pitosin tanpa indikasi dan pengawasan
j. Trauma tumpul dan tajam dari luar
3. Patofisiologi
Pada umumnya uterus dibagi atas 2 bagian besar corpus uteri
dans ervik uteri. Batas keduanya disebut ishmus uteri pada rahim
yang tidak hamil. Bila kehamilan sudah kira-kira kurang lebih dari
20 minggu, dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran
kavum uteri, maka mulailan terbentuk SBR ishmus ini. Batas antara
korpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari
bandl. Lingkaran bandl ini dianggap fisiologi bila terdapat pada 2
sampai 3 jari diatas simpisis, bila meninggi, kita harus waspada
terhadap kemungkinan adanya rupture uteri mengancam (RUM).
Rupture uteri terutama disebabkan oleh peregangna yang luar
biasa dari uterus. Sedangkan uterus yang sudah cacat, mudah
dimengerti, karena adanya lokus minoris resisten. Pada waktu
inpartu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif
dan servik menjadi lunak (efacement dan pembukaan). Bila oleh
sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedang korpus
uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat) maka SBR
yang pasif ini akan tertarik keatas, menjadi bertambah reggang dan
tipis. Lingkaran bandl ikut meninggi, sehingga sewaktu-waktu

terjadi robekan pada SBR tadi. Dalam hal terjadinya rupture uteri
jangan dilupakan peranan dari anchoring apparrtus untuk memfiksir
uterus yaitu ligamentum rotunda, ligamentum sacro uterina dan
jaringan parametra.
4. Tanda tanda Dan Gejala
Diagnosisi dan gejala klinis:
Gejala rupture uteri mengancam
a. Dalam tanya jawab dikatakan telah ditolong atau didorong oleh
dukun atau bidan, partus sudah lama berlangsung.
b. Pasien nampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan
nyeri diperut. Pada setiap datangnya his pasien memegang
perutnya dan mengerang kesakitan, bahkan meminta supaya
anaknya secepatnya dikeluarkan.
c. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya.
d. Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged
laboura), yaitu mutut kering, lidah kering dan halus badan panas
(demam).
e. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus
menerus.
f. Ligamentum rotundum teraba seperrti kawat listrik yang tegang,
tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduannya.
g. Pada

waktu

datangnya

his,

korpus

uteri

teraba

keras

(hipertonik) sedangkan sbr teraba tipis dan nyeri kalau ditekan.


h. Penilaian korpus dan sbr nampak lingkaran bandl sebagai
lekukan melintang yang bertambah lama bertambah tinggi,
menunjukkan sbr yang semakin tipis dan teregang.sering
lingkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih yang
penuh untuk itu lakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat
peregangan dan tipisnya sbr didinding belakang sehingga tidak
dapat kita periksa. Misalnya terjadi pada asinklintismus posterior
atau letak tulang ubun-ubun belakang.

i. Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga


tertarik dan teregang keatas, terjadi robekan-robekan kecil pada
kandung kemih, maka pada kateterisasi ada hematuria.
j. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur
(asfiksia).
k. Pada pemeriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari
obstruksi, seperti edema portio, vagina, vulva dan kaput kepala
janin yang besar.
Gejala-gejala rupture uteri:
a. Anamnesis dan infeksi
1) Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan
yang luar biasa, menjerit seolah-olah perutnya sedang
dirobek kemudian jadi gelisah, takut, pucat, keluar keringat
dingin sampai kolaps.
2) Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.
3) Muntah-muntah karena rangsangan peritoneum
4) Syok nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak
teratur
5) Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tidak begitu
banyak, lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah
jauh turun dan menyumbat jalan lahir.
6) kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ketungkai
bawah dan dibahu.
7) Kontraksi uterus biasanya hilang.
8) Mula-mula

terdapat

defans

muskuler

kemudian

perut

menjadi kembung dan meteoristis (paralisis khusus).


b. Palpasi
1) Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya
emfisema subkutan.
2) Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari
PAP.

3) Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada


dirongga perut, maka teraba bagian-bagian janin langsung
dibawah kulit perut, dan di sampingnya kadang-kadang
teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa.
4) Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek
c. Auskultasi
Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi
beberapa menit setelah rupture, apalagi kalau plasenta juga ikut
terlepas dan masuk kerongga perut.
d. Pemeriksaan dalam
1) Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun kebawah,
dengan mudah dapat didorong keatas, dan ini disertai
keluarnya darah pervaginam yang agak banyak.
2) Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan
pada dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat
melalui robekan tadi maka dapat diraba usus, omentum dan
bagian-bagian janin
3) Kateterisasi hematuri yang hebat menandakan adanya
robekan pada kandung kemih.
4) Catatan :
a) Gejala rupture uteri incomplit tidak sehebat komplit
b) Rupture uteri yang terjadi oleh karena cacat uterus
biasanya tidak didahului oleh uteri mengancam
c) Sangat penting untuk diingat lakukanlah selalu eksplorasi
yang teliti dan hati-hati sebagai kerja tim setelah
mengerjakan

sesuatu

operative

delivery,

misalnya

sesudah versi ekstraksi, ekstraksi vakum atau forsef,


embriotomi dan lain-lain
5. Komplikasi
Komplikasi yang paling menakutkan dan dapat mengancam
hidup ibu dan janin adalah ruptura uteri. Ruptura uteri pada jaringan

parut dapat dijumpai secara jelas atau tersembunyi. Secara


anatomis, ruptura uteri dibagi menjadi ruptura uteri komplit
(symptomatic rupture) dan dehisens (asymptomatic rupture). Pada
ruptura uteri komplit, terjadi diskontinuitas dinding uterus berupa
robekan hingga lapisan serosa uterus dan membran khorioamnion.
Sedangkan disebut dehisens bila terjadi robekan jaringan parut
uterus tanpa robekan lapisan serosa uterus, dan tidak terjadi
perdarahan.
Ketika ruptura uteri terjadi, histerektomi, transfusi darah masif,
asfiksia neonatus, kematian ibu dan janin dapat terjadi. Tanda
ruptura uteri yang paling sering terjadi adalah pola denyut jantung
janin yang tidak menjamin, dengan deselerasi memanjang.
Deselerasi lambat, variabel, bradikardi, atau denyut jantung hilang
sama sekali juga dapat terjadi. Gejala dan tanda lain termasuk
nyeri uterus atau perut, hilangnya stasion bagian terbawah janin,
perdarahan pervaginam, hipotensi.
Angka ruptura uteri pada VBAC < 1 %, pada wanita yang
menjalani seksio elektif ulang tanpa persalinan masih mempunyai
risiko 0,03 0,2 %. Dari wanita yang menjalani VBAC, angka
ruptura uteri sangat bervariasi tergantung faktor risiko yang ada.
Adapun risiko ruptura uteri adalah sebagai berikut 10 :
a.
Jenis parut uterus
b.
Penutupan uterus satu lapis atau dua lapis
c.
Jumlah SS sebelumnya
d.
Riwayat persalinan pervaginam
e.
Jarak kelahiran
f.
Usia ibu
g.
Demam pasca seksio
h.
Ketebalan segmen bawah uterus ( SBU )12
Diperlukan upaya untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi
ruptura uteri, yaitu:
a. Anamnesis yang teliti mengenai riwayat persalinan sebelumnya,
jumlah

SS,

riwayat

persalinan

pervaginam,

kehamilan, riwayat demam pasca SS serta usia ibu.

jarak

antar

b. Faktor - faktor yang berhubungan dengan kehamilan sekarang


: makrosomia, usia kehamilan, kehamilan ganda, ketebalan
segmen bawah uterus, presentasi janin.
c. Faktor yang berhubungan dengan penatalaksanaan persalinan :
induksi

dan

augmentasi,

maupun

kemungkinan

adanya

disfungsi pada persalinan.


d. Pemantauan penatalaksanaan VBAC terhadap tanda ancaman
ruptura uteri seperti takikardi ibu, nyeri suprasimpisis dan
hematuria.
e. Kemampuan mengadakan operasi dalam waktu kurang lebih 30
menit bila terjadi ancaman ruptura uteri
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Umum
Takikardi dan hipotensi merupakan indikasi dari kehilangan
darah akut, biasanya perdarahan eksterna dan perdarahan intra
abdomen
Pemeriksaan Abdomen
Sewaktu persalinan, kontur uterus yang

abnormal

atau

perubahan kontur uterus yang tiba-tiba dapat menunjukkan adanya


ekstrusi janin. Fundus uteri dapat terkontraksi dan erat dengan
bagian-bagian janin yang terpalpasi dekat dinding abdomen diatas
fundus yang berkontraksi. Kontraksi uterus dapat berhenti dengan
mendadak dan bunyi jantung janin tiba-tiba menghilang. Sewaktu
atau segera melahirkan, abdomen sering sangat lunak, disertai
dengan

nyeri

lepas

mengindikasikan

adanya

perdarahan

intraperitoneum.
Pemeriksaan Pelvis
Menjelang kelahiran, bagian presentasi mengalami regresi dan
tidak lagi terpalpasi melalui vagina bila janin telah mengalami
ekstrusi ke dalam rongga peritoneum. Perdarahan pervaginam
mungkin hebat.

Ruptur uteri setelah melahirkan dikenali melalui eksplorasi


manual segmen uterus bagian bawah dan kavum uteri. Segmen
uterus bagian bawah merupakan tempat yang paling lazim dari
ruptur. Apabila robekannya lengkap, jari-jari pemeriksa dapat
melalui tempat ruptur langsung ke dalam rongga peritoneum, yang
dapat dikenali melalui :
a. Permukaan serosa uterus yang halus dan licin
b. Adanya usus dan ommentum
c. jari-jari dan tangan dapat digerakkan dengan bebas
Tes Laboratorium
Hitung Darah lengkap dan Apusan Darah. Batas dasar hemoglobin
dan nilai hematokrit dapat tidak menjelaskan banyaknya kehilangan
darah.
Urinalisis :
Hematuria sering menunjukkan adanya hubungan denga perlukaan
kandung kemih.
Golongan Darah dan Rhesus
4 sampai 6 unit darah dipersiapkan untuk tranfusi bila diperlukan

7. Penatalaksanaan
Ruptura uteri merupakan malapetaka untuk ibu maupun janin
oleh karena itu tindakan pencegahan sangat penting dilakukan
setiap ibu bersalin yang disangka akan mengalami distosia, karena
kelainan letak janin, atau pernah mengalami tindakan operatif pada
uterus seperti seksio sesarea, memektomi dan lain-lain, harus
diawali dengan cermat. Hal ini perlu dilakukan agar tindakan dapat
segera dilakukan jika timbul gejala-gejala ruptura uteri membakar,
sehingga ruptura uteri dicegah terjadinya pada waktu yang tepat.
8. Penanganan

10

a. Pertolongan yang tepat untuk ruptura uteri adalah laporotomi


sebelumnya penderita diberi trasfusi darah atau sekurangkurangnya infus cairan garam fisiologik/ringer laktat untuk
mencegah terjadinnya syok hipovolemik.
b. Umumyna histerektomi dilakukan setelah janin yang berada
dalam rongga perut dikeluarkan. Penjahitan luka robekan hanya
dilakukan pada kasus-kasus khusus, dimana pinggir robekan
masih segar dan rata, serta tidak terlihat adanya tanda-tanda
infeksi dan tidak terdapat jaringan yang rapuh dan nekrosis.
Histerorofi pada ibu-ibu yang sudah mempunyai cukup anak
dianjurkan untuk dilakkan pula tubektomi pada kedua tuba
(primary), sedang bagi ibu-ibu yang belum mempunyai anak
atau belum merasa lengkap keluarganya dianjurkan untuk orang
pada persalinan berikutnya untuk dilakukan seksio sesaria
primer.
Gejala dan tanda ruptura uteri sangat ber variasi.
Secara klasik, ruptura uteri ditandai dengan nyeri abdomen
akut dan perdarahan pervaginam berwarna merah segar serta
keadaan janin yang memburuk.

Gejala ruptura uteri iminen :


a. Lingkaran retraksi patologis Bandl
b. Hiperventilasi
c. Gelisah cemas
d. Takikardia
Setelah terjadi ruptura uteri, nyeri abdomen hilang untuk
sementara waktu dan setelah itu penderita mengeluh adanya rasa
nyeri yang merata dan disertai dengan gejala dan tanda:
a. Abnormalitas detik jantung janin (gawat janin sampai mati)
b. Pasien jatuh kedalam syok

11

c. Bagian terendah janin mudah didorong keatas


d. Bagian janin mudah diraba melalui palpasi abdomen
e. Contour janin dapat dilihat melalui inspeksi abdomen
Bila sudah diagnosa dugaan ruptura uteri sudah ditegakkan
maka tindakan yang harus diambil adalah segera memperbaiki
keadaan umum pasien ( resusitasi cairan dan persiapan tranfusi )
dan persiapan tindakan laparotomi atau persiapan rujukan ke
sarana fasilitas yang lebih lengkap.
Sebagai bentuk tindakan definitif maka bila tobekan melintang
dan tidak mengenai daerah yang luas dapat dipertimbangkan
tindakan histerorafia; namun bila robekan uterus mengenai jaringan
yang sangat luas serta sudah banyak bagian yang nekrotik maka
tindakan terbaik adalah histerektomi.
9. Pencegahan
Resiko absolut terjadinya ruptura uteri dalam kehamilan sangat
rendah namun sangat bervariasi tergantung pada kelompok
tertentu :
a. Kasus uterus utuh
b. Uterus dengan kelainan kongenital
c. Uterus normal pasca miomektomi
d. Uterus normal dengan riwayat sectio caesar satu kali
e. Uterus normal dengan riwayat sectio lebih dari satu kali
Pasien dengan uterus normal dan utuh memiliki resiko
mengalami ruptura uteri paling kecil ( 0.013% atau 1 : 7449
kehamilan )
Strategi pencegahan kejadian ruptura uteri langsung adalah
dengan memperkecil jumlah pasien dengan resiko ; kriteria pasien
dengan resiko tinggi ruptura uteri adalah:
a. Persalinan dengan SC lebih dari satu kali
b. Riwayat SC classic ( midline uterine incision )
c. Riwayat SC dengan jenis low vertical incision

12

d. LSCS dengan jahitan uterus satu lapis


e. SC dilakukan kurang dari 2 tahun
f. LSCS pada uterus dengan kelainan kongenital
g. Riwayat SC tanpa riwayat persalinan spontan per vaginam
h. Induksi atau akselerasi persalinan pada pasien dengan riwayat
SC
i. Riwayat SC dengan janin makrosomia
j. Riwayat miomektomi per laparoskop atau laparotomi
Ibu hamil dengan 1 kriteria diatas akan memiliki resiko 200 kali
lebih besar dibandingkan ibu hamil umumnya
10. Asuhan Kebidanan
Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek
legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan
keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang
perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan
Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar
dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode
perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang
dapat menentukan kualitas asuhan keperawatan (askep) yang
diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian
Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga
lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan
keperawatan

secara

tepat

dan

ilmiah

diharapkan

mampu

meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia


a. Segera hubungi dokter, konsultan, ahli anestesi, dan staff kamar
operasi buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no
16: satu oleh larutan elektrolit, misalnya oleh larutan rimger
laktat dan yang lain oleh tranfusi darah. ( jaga agar jalur ini tetap
tebuka dengan mengalirkan saline normal, sampai darah
didapatkan ).

13

b. Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito,


perkiraan jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan
c. Berikan oksigen
d. Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera
(laparatomi dan histerektomi)
e. Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan
tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena.
B. Pembahasan Mengenai Distosia Bahu
1. Pengertian
Distosia bahu adalah kegagalan persalinan bahu setelah kepala
lahir, dengan mencoba salah satu metode persalinan bahu
(Manuaba, 2001).
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan
manuver obstetric oleh karena dengan tarikan bisa kearah
belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi
(Prawirohardjo, 2009).
Distosia bahu merupakan kegawat daruratan obstetric karena
terbatasnya waktu persalinan, terjadi trauma janin,dan kompikasi
pada ibunya, kejadiannya sulit diperkirakan setelah kepala lahir,
kepala seperti kura-kura dan persalinan bahu mengalami kesulitan
(Manuaba, 2001)
.
2. Etiologi
Distosia bahu disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
a. Obesitas ibu pertambahan berat badan yang berlebihan
b. Bayi berukuran besar
c. Riwayat saudara kandung yang besar dan diabetes pada ibu
(Hakimi, 2003).
Faktor Penyebab Distosia
a. Distosia karena kelainan his
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia
uteri hipertonik.
b. Inersia Uteri Hipotonik

14

Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah/tidak adekuat


untuk melakukan pembukaan servik atau mendorong anak
keluar.disini kekuatan his lemah dan frekuensi jarang.sering
dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik
seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat
hidramnion

atau

kehamilan

kembar

atau

makrosomia,

grandemultipara atau primipara, serta penderita pada keadaan


emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan
serviks,fase

laten

atau

fase

aktif

maupun

pada

kala

pengeluaran.
c. Inersia uteri hipotonik terbagi dua yaitu:
1) Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten, sejak awal telah terjadi
his yang tidak adekuat/kelemahan his yang timbul sejak dari
permulaan

persalinan.

Sehingga

sering

sulit

untuk

memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan


inpartu atau belum.
2) Inersia uteri sekunder
Terjadi pada fase aktik kala I atau kala II. Permulaan his
baik,

kemudian

pada

keadaan

selanjutnya

terdapat

gangguan atau kelainan.


3) Inersia Uteri Hipertonik
4) Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar kadang
sampai melebihi normal namun tidak ada koordinasi
kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus,
sehingga

tidak

efisien

untuk

membuka

serviks,

dari

mendorong bayi keluar.


d. Distosia karena kelainan letak
1) Letak sungsang
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan
kepala difundus uteri dan bokong dibawah cavum uteri.

15

Macam-macam letak sungsang:


a) Letak bokong murni (frank breech), letakbokong dengan
kedua tungkai terangkat keatas.
b) Letak sungsang sempurna (complete breech), kedua kaki
ada disamping bokong danletak bokong kaki sempurna.
c) Letak sungsang tidaksempurna (incomplete breech),
selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau
lutut.
Etiologi letak sungsang :
a) Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada : pada
panggul sempit, hidrocepalus, anencefalus, placenta
previa, tumor.
b) Janin mudah bergerak : pada hidramnion, multipara,
janin kecil (premature).
c) Gemelii
d) Kelainan uterus : mioma uteri
e) Janin sudah lama mati
f) Sebab yang tidak diketahui
2) Prolaps tali pusat
Yaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian
terendah janin setelah ketuban pecah. Bila ketuban belum
pecah disebut tali pusat terdepan.
Pada keadaan prolap tali pusat (tali pusat menumbung)
timbul bahaya besar, tali pusat terjepit pada waktu bagian
janin turun dalam panggul sehingga menyebabkan asfiksia
pada janin.
Prolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban
pecah bagian terdepan janin masih berada diatas PAPdan
tidak

seluruhnya

menutup

persalinan.
e. Distosia karena jalan lahir

seperti

yang

terjadi

pada

16

Distosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan karena


adanya kelainan pada jaringan keras / tulang panggul, atau
kelainan pada jaringan lunak panggul.
1) Distosia karena kelainan panggul/bagian keras dapat berupa
a) Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid
misalnya panggul jenis Naegele, Robert dan lain-lain.
b) Kelainan

ukuran

panggul.

Panggul

sempit

pelvic

contaction panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2


cm kurang dari ukuran yang normal. Kesempitan panggul
bias pada: kesempitan atas panggul dianggap sempit
apabila cephalopelvic kurang dari 10 cm atau diameter
transversa kurang dari 12 cm. Diagnosis (CD) maka inlet
dianggap sempit bila CD kurang dari 11,5 cm.
Kesempitan indepelvic , Diameter interspinarum 9 cm.
kalau diameter transversa ditambah diameter sagitalis
posterior kurang dari 13,5 cm. kesempitan indepelvic hanya
dapat dipastikan dengan RO- pelvimetri.
Kesempitan outlet , kalau diameter transversa atau
diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm. ukuran ratarata panggul wanita normal: a) pintu atas panggul (pelvic
inlet), diameter transversa (DTI+13,5 cm, conjugate vera 12
cm, jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22 cm. b) pintu
tengah panggul distasium spinarum 10,5 cm, diameter
anterior posterior 11 cm, jumlah rata-rata kedua diameter
minimal 20cm. c) pintu bawah panggul diameter anterior 7,5
cm. distansia intertuberosum 10,5 cm.
2) Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan servik uteri, vagina, selaput dara dan
keadaan lain pada jalan lahir yang menghalangi lancarnya
persalinan.
3. Tanda Dan Gejala Terjadinya Distosia Bahu

17

a. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan


ekstensi. Pada distosia bahu kepala akan tertarik kedalam dan
tidak dapat mengalami putar paksi luar normal.
b. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk
dan besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien yang
biasanya juga obese.
c. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksi lateral dan traksi
tidak melahirkan bahu.
4. Komplikasi
a. Pada janin
1) Meninggal, Intrapartum atau neonatal
2) Paralisis plexus brachialis
3) Fraktur klavikula
4) Hipoksia janin, dengan atau tanpa kerusakan neurologis
permanen
5) Fraktura humerus
b. Pada ibu:
1) terjadi Robekan di perineum derajat III atau IV
2) Perdarahan pasca persalinan
3) Rupture uteri (Hakimi, 2003).
5. Faktor Resiko
Faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian distosia bahu
yaitu:
a. Maternal
1) Kelainan anatomi panggul
2) Diabetes Gestasional
3) Kehamilan postmatur
4) Riwayat distosia bahu
5) Tubuh ibu pendek
6) Ibu obesitas
b. Fetal

18

1) Makrosomia
2) Distosia bahu sebelumnya (chapman,2006)
6. Pencegahan
Upaya pencegahan distosia bahu dan cidera yang dapat
ditimbulkannya dapat dilakukan dengan cara:
a. Tawarkan untuk melakukan bedah sesar pada persalinan
vaginal beresiko tinggi janin luar biasa besar(>5 kg) janin sangat
besar(>4,5 kg) dengan ibu diabetes janin besar(>4 kg) dengan
riwayat distosia bahu pada persalinan sebelumnya kala II yang
memanjang dengan janin besar.
b. Identifikasi dan obati diabetes pada ibu
c. Selalu bersiap bila waktu-waktu terjadi
d. Kenali adanya distosia bahu seawal mungkin menekan
suprapubis atau fundus dan traksi berpotensi meningkatkan
cidera pada janin.
e. Perhatikan waktu dan segera minta pertolongan begitu distosia
bahu diketahui, bantuan diperlukan untuk membuatan posisi
Mcrobert, pertolongan persalinan, resusitasi bayi dan tindakan
anestesi (bila perlu).
7. Diagnosis Distosia Bahu
Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya:
a. Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tepat berada dekat vulva
b. Dagu tertarik dan menekan perineum
c. Tarikan pada kepala gagal, melahirkan bahu yang terperangkap
dibelakang simfisis pubis.
8. Penanganan Distosia Bahu
Diperlukan

seorang

asisten

untuk

membantu

sehingga

bersegeralah minta bantuan, jangan melakukan tarikan atau


dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah
masuk kepanggul, bahu posterior yang belum melewati pintu atas
panggul akan semakin sulit dilahirkan tarikan pada kepala, untuk

19

mengendorkan ketegangan yang menyulit bahu posterior masuk


panggul tersebut dapat dilakukan episiotomy yang luas, posisi
Mcrobert, atau posisi dada-lutut, dorongan pada fundus juga tidak
diperkenankan

karena

akan

semakin

menyulit

bahu

untuk

dilahirkan dan beresiko menimbulkan rupture uteri, disamping


perlunya asisiten dan pemahaman yang baik tentang mekanisme
persalinan, keberhasilan pertolongan dengan distosia bahu juga
ditentukan oleh waktu setelah kepala lahir akan terjadi penurunan
PH arteri umbilikalis dengan lalu 0,04 unit/menit. Dengan demikian
pada bayi sebelumnya tidak mengalami hipoksia tersedia waktu
antara 4-5 menit untuk melakukan manuver melahirkan bahu
sebelum terjadi cidera hipoksik pada otak.
Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah
sebagai berikut diagnosis :
a. Hentikan fraksi pada kepala, segera memanggil bantuan
b. Manuver Mcrobert, posisi Mcrobert, episiotomy bila perlu,
tekanan suprapubik, tarikan kepala.
c. Manuver Rubin (posisi tetap Mcrobert, rotasikan bahu, tekanan
suprapubik tarikan kepala)
d. Lahirkan bahu posterior, atau posisi merangkak, atau maneuver
wood.
Langkah-langkah tindakan cara pertolongan distosia bahu
antara lain:
a. Langkah pertama : Manuver Mcrobert
Maneuver Mcrobert dimulai dengan memosisikan ibu dalam
posisi Mcrobert yaitu ibu terlentang memfleksikan kedua paha
sehingga lutut menjadi sedekat mungkin kedada dan rotasikan
kedua kaki kearah luar (abduksi), lakukan episiotomy yang
cukup lebar, gabungan episiotomy dan posisi Mcrobert akan
mempermudah bahu posterior melewati promontorium dan
masuk kedalam panggul, mintalah asisten untuk menekan

20

suprasimfisis

kearah

posterior

menggunakan

pangkal

tangannya untuk menekan bahu anterior agar mau masuk


dibaeak simfisis sementara itu dilakukan tarikan pada kepala
janin kearah postero kaudal dengan mantap, langkah tersebut
sakan melahirkan bahu anterior, hindari tarikan yang berlebihan
karna akan mencederai pleksus brakhialis setelah bahu anterior
dilahirkan.langkah
persalinan

selanjutnya

presentasi

sama

kepala

dengan

maneuver

pertolongan
ini

cukup

sederhana,aman dan dapat mengatasi sebagian besar distosia


bahu derajat ringan sampai sedang (Prawirohardjo,2009).
b. Langkah ke Dua : Manuver Rubin
Oleh karna anteroposterior pintu atas panggul lebih sempit
dari pada diameter oblik atau tranvernya, maka apabila bahu
dalam anteroposterior perlu diubah menjadi posisi oblik atau
tranversanya untuk memudahkan melahirkannya tidak boleh
melakukan putaran pada kepala atau leher bayi untuk
mengubah posisi bahu yang dapat dilakukan adalah memutar
bahu secara langsung atau melakukan tekanan suprapubik
kearah

dorsal,

pada

umumnya

sulit

menjangkau

bahu

anterior,sehingga pemutaran lebih mudah dilakukan pada bahu


posteriornya,masih dalam posisi Mcrobert masukkan tangan
pada bagian posterior vagina,tekanlah pada daerah ketiak bayi
sehingga bahu berputar menjadi posisi oblik/tranversa lebih
menguntungkan bila pemutaran itu kearah yangmembuat
punggung bayi menghadap kearah anterior (Manuver Rubin
anterior) oleh karna kekuatan tarikan yang diperlukan untuk
melahirkannya lebih rendah dibandingkan dengan posisi bahu
anteros atau punggung bayi menghadap kearah posterior,ketika
dilakukan penekanan suprapubik pada posisi punggung janin
anterior

akan

membuat

bahu

lebih

anduksi

sehingga

diameternya mengecil,d engan bantuan tekanan simpra simfisis

21

kearah posterior, lakukan tarikan kepala kearah postero kaudal


dengan

mantap

untuk

melahirkan

bahu

anterior

(Prawirohardjo,2009).
c. Langkah ke Tiga : Manuver Wood (Melahirkan bahu posterior,
posisi merangkak)
Melahirkan bahu posterior dilakukan pertama kali dengan
mengidentifikasi dulu posisi punggung bayi masukkan tangan
penolong yang bersebrangan dengan punggung bayi (punggung
kanan berarti tangan kanan, punggung kiri berarti tangan kiri)
kevagina temukan bahu posterior, telusuri tangan atas dan
buatlah sendi siku menjadi fleksi (bisa dilakukan dengan
menekan fossa kubiti) peganglah lengan bawah dan buatlah
gerakan mengusap kearah dada bayi langkah ini akan membuat
bahu posterior lahir dan memberikan ruang cukup bagi bahu
anterior masuk kebawah simfisis,dengan bantuan tekanan
suprasimfisis kearah posterior, lakukan tarikan kepala kearah
postero kaudal dengan mantap untuk melahirkan bahu anterior.
Maneuver Wood: manfaat posisi merangkak didasarkan
asumsi

fleksibilitas

sandi

sakroiliaka

bisa

meningkatkan

diameter sagital pintu atas panggul sebesar 1-2 cm dan


pengaruh gravitasi akan membantu bahu posterior melewati
promontorium

pada

posisi

telentang

atau litotomi sandi

sakroiliaka menjadi terbatas mobilitasnya pasien menopang


tubuhnya dengan kedua tangan dan kedua lututnya pada
manuverin,bahu posterior dilahirkan terlebih dahulu dengan
melakukan tarikan kepala bahu melalui panggul ternyata tidak
dalam gerak lurus, tetapi berputar sebagai aliran sakrup,
berdasarkan hal itu memutar bahu akan mempermudah
melahirkannya,

maneuver

woods

dilakukan

dengan

menggunakan 2 jari tangan bersebrangan dengan punggung


bayi yang diletakkan dibagian depan bahu posterior menjadi

22

bahu anterior dan posisinya berada dibawah akralis pubis,


sedangkan bahu anterior memasuki pintu atas panggul dan
berubah menjadi bahu posterior dalam posisi seperti itu, bahu
anterior akan mudah dapat dilahirkan.