Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN FARMASI KLINIK

RENAL COLIK

Disusun oleh :
MUH. ASRI, S.Farm.

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


INSTALASI FARMASI RS BETHESDA YOGYAKARTA
PERIODE FEBRUARI-MARET 2016

A. PENDAHULUAN
Renal colic merupakan nyeri pinggang akut dan parah yang disebabkan
oleh adanya batu di ureter atau di pelviureteric junction (urolitiasis) (National
Institute for Health and Care Excellence, 2009). Renal colic biasa ditandai
dengan timbulnya tiba-tiba nyeri di pinggang kolik. Tingkat keparahan rasa sakit
tergantung pada derajat obstruksi dan ukuran batu (Kallidonis, P., Liourdi, D.,
Liatsikos, E., 2011).
B. GAMBARAN KLINIS
Keluhan nyeri ini bersifat akut sehingga harus didiagnosis dengan cepat
dan penatalaksanaan yang tepat. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan
dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis atau labium disertai
dengan atau tanpa keluhan mual, muntah, disuria atau hematuria. Nyeri ini
biasanya disebabkan oleh obstruksi saluran kemih akibat urolitiasis, bekuan
darah, infark renal, pielonefritis akut (Kallidonis, P., Liourdi, D., Liatsikos, E.,
2011).
Renal colic yang disebabkan karena adanya batu, adalah penyebab umum
morbiditas. Posisi batu ini tidak hanya berkaitan dengan lokasi, tetapi juga
berkaitan dengan radiasi rasa sakit (Kallidonis, P., Liourdi, D., Liatsikos, E.,
2011). Batu terbentuk di tubulus ginjal dan sistem pengumpulan ketika ambang
jenuh tercapai untuk konstituen yang bersangkutan. Hal ini tergantung pada
sejumlah faktor, termasuk konsentrasi urin, yang pH urin dan konsentrasi sitrat.
Pada umumnya, renal colic sering dikaitkan dengan mual dan muntah yang
disebabkan persarafan splanchnic dari renal capsul dan usus, selain itu pasien
tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari duduk, tidur,
kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap tidak nyeri.
(Kallidonis, P., Liourdi, D., Liatsikos, E., 2011).

C. FAKTOR RESIKO
1. Pasien dengan volume urine yang rendah, hiperkalsiuria, hipositraturia,
hiperoxaluria, urin pH rendah, sistinuria
2. Penyakit yang berkaitan dengan pembentukan batu, seperti hiperparatiroid,
gout, hipertensi, renal tubular acidosis, dll.
3. Pengobatan yang berkaitan dengan pembentukan batu seperti kalsium atau
suplemen vitamin D, protease inhibitor, diuretik
(National Institute for Health and Care Excellence, 2009)
D. DIAGNOSIS
Untuk memastikan diagnosis renal colic, dapat diketahu melalui :
1. Gejala utama, yaitu rasa nyeri hebat di pinggang yang terjadi selama
beberapa menit atau jam. Rasa nyeri ini biasa disertai mual, muntah,
meningkatnya frekuensi buang air kecil, oliguria, hematuria
2. Melakukan tes urin, adanya eritrosit di dalam urin (hematuria), adanya
nitrit, leukosit esterase di dalam urin.
3. imaging, diantaranya non-contrast CT scan (NCCT), USG. Imaging ini
memiliki sensitivitas tinggi yang dapat mengetahui keberadaan batu.
(National Institute for Health and Care Excellence, 2009)
E. PENATALAKSANAAN
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien renal colic adalah :
1. Mengurangi rasa nyeri
2. Untuk mencegah komplikasi
3. Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
a. Non Farmakologi
Menganjurkan asupan cairan yaitu air putih sehari minimal 2 liter
untuk mempertahankan warna urin, yaitu kuning bening. Pengaturan
makanan dan minuman yang mengandung tinggi kalsium, oksalat. Pasien
pun juga diedukasi untuk memonitor gejala, kepatuhan minum obat,
menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga ringan secara teratur,
mengurangi faktor resiko.
b. Farmakologi
1. Analgesik parenteral untuk kerja cepat pada nyeri akut
- Diklofenak 75 mg i.m, pemberian kedua adalah 30 menit setelah

pemberian pertama
Pemberian opioid, apabila diklofenak tidak dapat mengontrol nyeri,

misalnya Diamorphine
Diamorphine : 5 mg i.m atau s.c atau 1,25 2,5 mg i.v
2. Antiemetik untuk mual muntah
- Metoklopramid
10 mg i.m. pengurangan dosis hingga 25-50% pada pasien dengan
-

gangguan ginjal sedang atau parah


Cyclizine : 50 mg i.m
Prochlorperazine : 12,5 mg i.m. pengurangan dosis hingga 50% pada

penderita gangguan ginjal parah


3. Pemberian analgesik dan antiemetik apabila gejala sudah berkurang :
- Untuk nyeri :
NSAID seperti diklofenak, yang dapat diberikan secara oral atau rectal
Apabila NSAID tidak dapat mengontrol nyeri, maka diberikan
-

parasetamol opioid (seperti tramadol, kodein)


Untuk mual muntah
Metoclopramide (10mg 3xsehari selama 5 hari), Domperidone (1020mg, 3-4 kali sehari), Prochlorperazine (akut : dosis awal 20mg
kemudian 10 mg setelah 2 jam, untuk pencegahan : 5-10 mg, 2 atau 3
kali sehari), atau Cyclzine (50mg, 3 kali sehari).
(National Institute for Health and Care Excellence, 2009)
KASUS

A. DEMOGRAFI PASIEN
Ruang/ Kelas/No Kamar : C / III /3D
Nama dokter
: dr. S, Sp.PD
Nama pasien
: Ny. P
Umur (thn)
: 53
Tanggal masuk : 13 Maret 2016
Tanggal Keluar : 19 Maret 2016
Hamil/tidak
: tidak
TB(cm)
: 150
BB (Kg)
: 65

Penanggung
: Yulianto Santoso
Asuransi
: Sosmed
RM
: 16-XX-XX-XX
Reg
: 02-XX-XX-XX
Jenis kelamin : Perempuan
Ras
: Indonesia
Menyusui/tidak: IBW/ABW/BSA: -

Keluhan utama

nyeri pinggang sebelah kiri hari yang lalu

nyeri pinggang kanan, b.a.k lancar, mual

Diagnosa Sementara:

Renal colic

Diagnosis kerja :

Urolitiasis

Kondisi Klinis Awal


KU

Sedang
GCS

V
E
N

5
4

Tekanan Darah (mmHg)


Nadi (x/menit)

Respirasi (x/Menit)

180/100

Nyeri
Psiokologis

100

Risiko Jatum
20

Fungsional
Skala nyeri : 5

Ya
Tenang
Tidak
Mandiri

Riwayat Penyakit Sekarang

nyeri pinggang sebelah kiri sejak tadi sore


muntah(+)

Riwayat Penyakit dahulu

Nyeri pada perut

Riwayat keluarga

Tidak ada

Riwayat pengobatan

:
:

Alergi obat/ makanan/Efek samping Obat:


Pekerjaan
Kegiatan Sehari-hari

Lupa
Tidak ada
Ibu rumah tangga
Membantu suami Jualaan jus dan minuman
dirumah dan membuat serabutan

Kondisi Lingkuan Sosial

Pasien

tinggal

digondolayu,

yogyakarta

lingkungan yang pada penduduk. pasien setiap


harinya membantu suaminya berjualan jus dan
membuat tempura. Pasien pernah mengalami
nyeri punggung beberapa tahun lalu.
Pasien mengatakan kondisi keluarganya baik-

Kondisi Lingkungan Keluarga

baik saja dan berjalan secara harmonis. AnakTinggal Bersama siapa?

anak pasien semuanya peduli sama pasien.


Pasien tinggal bersama suami dan 3 anaknya

Pola hidup

serta 4 cucunya.
sebelum merasakan sakit, pasien sering
minum kopi dan merokok. Dan biasanya
pasien menghabiskan 1 bungkus rokok dalam
sehari

atau

16

batang,

pasien

juga

mengatakan sering menahan kencing dan juga


sering banyak duduk, jarang berolahraga.
Pasien suka mengkonsumsi air minum yang
Pola makan

dimasak sendiri.
Pola makan pasien tidak teratur dan sering

Pola istirahat

makan-makan ringan.
Pasien istirahat tidak menentu tergantung
kegiatan sehari-hari, jika banyak pekerjaan
biasanya pasien tidak beristirahat dan begitu
sebaliknya.

B. SURAT PENGANTAR DIRAWAT


IGD/Klinik
tanggal
Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan
Infus
Obat-obat yang diberikan

IGD
13 maret 2016
Hemoglobin, ureum Creatinin, GDS
USG
RL + Tramadol inj II
Nama obat
Dosis
Rute Pemberian
Remopain
Primperan
Urispas

2 x 30mg/ml
2 x 10mg/ml
3 x 1 200 mg

IV
IV
Oral

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
No.

Jenis Pemeriksaan

Normal

Hasil tgl
15/3/2016

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Hemoglobin
Leukosit
Eosinofil
Basofil
Limfosit
Netrofil
Monosit
Hematokrit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

14
15

Ureum
Creatinin

16

GDS

Pemeriksaan darah Lengkap


(11,7-15,5) g/dL
(4,50 11,5) ribu/ mmk
24 %
0,0-1,0%
18,0 70,0 %
50,0-70,0%
2,0 -8,0 %
35,0 49,0 %
4,2-5,4 juta/mmk
11,5 14,5 fl
80 90
32 36
150 450 ribu/mmk
Fungsi Ginjal
20-43 mg/dl
0,55 1,02 mg/dl
Lain-lain
70-140

14,3 g/dL
14,54 ribu/ mmk
0.7%
0.3%
13.5 %
80.6 %
4.9 %
43.1%
5,02 juta/mmk
85.9 fl
29.7 pg
34.6
339 ribu /mmk
23.1 mg/dl
0.7 mg/dl
142

Pasien melakukan tes USG dan dari pengakuan pasien, dokter mengatakan ada batu
kecil di ginjal. Dan untuk memastikan lagi bahwa ada batu ginjal maka dokter
melakukan pemeriksaan BNO-IVP.

D. TANDA VITAL PASIEN


Tanda

Nilai

Vital

Normal

Tanggal Pengamatan
14/3

130/8
Tekanan
Darah
(mmHg)

Suhu (oC)

90/60-

n (x/menit)

130/8
0

17/3

110/70

18/3

120/8
0

19/3
110/80

Pagi

120/70

110/70

Siang

Sore

140/90

160/100

140/90

120/80

120/80

malam

36,4

36,5

36,5

36,1

36,9

36,5

Pagi

36,8

36

36,5

37

36,3

36,7

36,1

Siang

0,7

36,5

36,3

36,7

36,7

37,2

Sore

36,2

36,4

36,9

37

Malam

84

88

84

80

80

84

Pagi

80

84

78

68

84

86

Siang

84

80

80

84

82

Sore

88

88

82

76

Malam

20

20

20

22

20

18

Pagi

20

19

22

20

20

20

Siang

20

20

21

20

20

Sore

20

20

20

20

Malam

140/90

60-100

(x/menit)

Pernapasa

160/90

16/3

110/90

Denyut
nadi

0
120/8

15/3

Keterangan

16-24

E. CATATAN PERJALANAN PENYAKIT (Rawat Inap)


Tanggal

Kondisi Klinis

Obat yang
diberikan
- Infu

13/3

Pukul 20.05 Masuk IGD dengan keluhan nyeri pinggang

Perawat

kiri, mual dan muntah

s+

Melakukan tes USG (ada batu kecil di ginjal)

Tra
mad
ol
inj
-

II
Inj.
Re
mop
ain
2x
30
mg/
ml

Kalt
rope
n
100
-

mg
Uris
pas
200
mg

14/3

S = nyeri pinggang berkurang tapi masih nyeri

Infuse RL

Perawat

O = KU sedang, Skala nyeri 3, kesadaran CM

Urispas 3 x 200 mg

A = nyeri akut

Ciproploxacin 2x500

P = intervensi lanjut

mg

Ketoprofen 2x100mg
15/3

S = nyeri berkurang

Omeprasole 1x30mg
Ciproploxacin 2x500

Dokter

O = KU baik

mg

A = Urolitiasis Sinitra

Ketoprofen 2x100mg

16/3

P = tindak lanjut
S = nyeri setelah operasi

Amlodipin 1x10mg
Ceftriaxone
2x1G

Perawat

O = Post URS, KU sedang, kesadaran CM

Ciproploxacin 2x500

A = nyeri akut

mg

P = Tindak lanjut

Asam

Traneksamat

inj 2x1 IV (IBS)


Keterolac
2x30mg/ml
Ketoprofen 2x100mg
Amlodipin 1x10mg
17/3

18/3

19/2

S = nyeri luka post operasi

Ciproploxacin 2x500

O = KU sedang, posisi hati-hati

mg

A = nyeri akut

Amlodipin 1x10mg

P = intervensi lanjut
S = nyeri berkurang

Infus RL

O = KU sedang

Ciproploxacin 2x500

A = nyeri akut

mg

P = Intervensi lanjut

Amlodipin 1x10mg

Pasien sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini

Meloxicam 1x15mg
Ciproploxacin 2x500
mg

G. PENGOBATAN DAN PROFIL OBAT PASIEN


a. Parenteral
No

Nama Obat

Aturan
pakai

Injeksi
1

Remopain

2 x 1 amp

30mg/ml
2.

3.

4.

5.

Primperan
10mg/ml

18/3/2016
SI SO

STOP

I
2x1 amp

STOP

D
2x1 gram

1 gram

IV

Asam

2x1 amp

Traneksamat

IV

30mg/ml

13/3/2016
Si So M
I
D

Ceftriaxone

Ketorolac

Tanggal Pemberian Obat


16/3/2016
17/3/2016
Si So M
P SI SO M

I
B

STOP

STOP

STOP

S
I
B
S
I

2x1 amp

B
S

b. Non Parenteral
No

Aturan

Nama Obat

pakai

Urispas

3x200 mg

2.

Ciproploxacin

2x500 mg

3.

Ketoprofen

2x100 mg

4.

Omeprasole

1x30 mg

5.

Amlodipin

1x10 mg

6.

Moloxicam

13/3/2016
P si so m

14/3/2016
si so m

Tanggal Pemberian Obat


15/3/2016
16/3/2016
P si so m p si so m

Keterangan
Indikasi : analgesik tingkat moderat sampai severe

(Ketorolac

Mekanisme aksi :

tromethamine)

20

08

20

08

20

08

20

08

20

10

17

21

21

Menghambat sintesis prostaglandin

Kontraindikasi : hipersensitif ketorolac, aspirin, atau NSAID lainnya,


memiliki riwayat peptic ulcer, Selama kehamilan, persalinan, melahirkan
atau laktasi, riwayat asma.

1
p

STOP

1x15 mg

Obat
Inj. Remopain

17/3/2016
p si so m

STOP
STOP

20

08

08

08

Efek samping :
>10% CNS : pusing
Gastrointestinal : nyeri, dyspepsia, nausea
>1% to 10% :
Cardiovascular : edema, hipertensi
CNS : gelisah
Gastrointestinal : diare, konstipasi, vomiting
Interaksi obat : warfarin, metotreksat, ACE inhibitor, obat
antiepilepsi, obat psikoaktif.
Dosis : 30 mg sebagai dosis tunggal atau 30 mg tiap 6 jam
(maksimal untuk dosis harian adalah 120 mg). tidak boleh
digunakan lebih dari 5 hari
Inj. Rantin

Indikasi : tukak lambung, mengurangi gejala refluk esofagitis,

(Ranitidin Hcl)

hipersekresi patologis
Mekanisme aksi : menghambat kerja histamine secara kompetitif pada
reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung
Kontraindikasi : penderita yang hipersensitif terhadap ranitidin

Efek samping :
Sakit kepala, diare, mual, muntah, takikardia, bradikardia
Interaksi obat : pemberian bersama warfarin dapat meningkatkan
atau menurunkan waktu protrombin
Dosis : I.V.: intermitten bolus : 50 mg tiap 6-8 jam
Levofloxacin

Indikasi : Sinusitis maksilaris akut, bronkitis kronik dg eksaserbasi akut


dr bronkitis kronis, pneumonia yg didapat dr lingkungan, infeksi kulit &
struktur kulit tanpa komplikasi, ISK, pielnefritis.
Kontraindikasi

Epilepsi,

riwayat

ggn

tendon,

anak&remaja,

hamil&laktasi

Efek samping : Diare, mual, kembung, pruritus, ruam kulit, nyeri


abdomen, pusing, dispepsia, insomnia, muntah, anoreksia,
ansietas, konstipasi, edema, lelah, sakit kepala, keringat

berlebihan, gelisah
Interaksi obat : Teofilin, warfarin, siklosporin, digoksin, AINS,
obat antidiabetik oral.
Dosis : 250-500 mg 1 x/hr selama 7-14 hr

H. ASESMEN dan PEMBAHASAN


Pasien Ibu P berusia 53 tahun adalah seorang ibu rumah tangga. Pasien ini
Masuk Rumah Sakit Bethesda tanggal 13 Maret 2016 dan keluar dari Rumah Sakit
tanggal 19 Maret 2016. Statusnya adalah menikah, agama Islam, suaminya seorang
wirausaha, dan memiliki 3 orang anak yang sudah bekerja dan 4 orang cucu yang
tinggal bersamnya. Penanggung di Rumah Sakit adalah yulianto santoso (anak).
Pasien mengatakan bahwa semua anak-anaknya peduli terhadapnya. Pasien memiliki
kebiasaan yaitu merokok , makan makanan ringan, suka minum kopi torabika dan
sering mengkonsumsi sayur hijau seperti bayam dan kangkung. Pasien merupakan
perokok aktif yang dimana pasien dapat menghabiskan 1 bungkus rokok yang isinya
per bungkus 16 batang dalam sehari dan konsumsi kopinya 2 kali sehari atau lebih.
Pasien Ibu P mengaku tidak memiliki alergi terhadap makanan maupun obat. Pasien
sehari-hari membantu suaminya dirumah berjulan jus dan membuat tempuran yang
diambilnya disebuah pabri yang ada didekat rumahnya dan mengolahnya sendiri
dirumah. pasien juga mengatakan bahwa memiliki kebiasaan sering menahan untuk
BAK, selalu duduk dan jarang berolahraga.
Ibu P masuk ke IGD Rumah Sakit pada tanggal 13 Maret 2016 pada malam
hari dengan keluhan utama merasakan nyeri di bagian pinggang kiri dan menyebar
kebagian perut sejak tadi sore, selain itu pasien juga merasakan mual dan muntah
serta kepala terasa pusing. Pasien tidak ada masalah dalam proses pencernaannya
baik itu BAB dan BAK semua lancar.
Riwayat penyakit dahulu pernah mengalami nyeri pinggang sebelah kiri
beberapa tahun yang lalu dan dibawa kerumah sakit terdekat yang berada didekat
rumahnya. Pasien hanya mendapatkan pengobatan rawat jalan oleh dokter. Pasien
mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter baru 2 kali denga alasan pasien sudah
merasa tidak sakit lagi sehingga memutuskan untuk berhenti menggunakan obat
tersebut, pasien lupa nama obat yang pernah digunakan. Pada tanggal 13 Maret 2016,
Ibu J merasakan nyeri pinggang lagi dibagian kiri perut dan merasa kesakitan hingga
ke bagian perut sejak tadi sore . Kemudian pasien dilarikan ke IGD Rumah Sakit

Bethesda kemudian disarankan untuk rawat inap dan pada saat itu juga tanggal 14
Maret 2016 pindah ke Ruang C. Pada hari pertama dipindah ke Ruang C, ibu P sudah
merasa membaik karena telah mendapat obat untuk menghilangkan rasa nyerinya
pada saat di IGD.
Di IGD pasien mendapatkan obat remopain 30mg/ml diberikan 2x1,
Primperan 10mg/ml 1x1 secara intravena dan uruspas 200 mg secara oral
Pada tanggal 14 maret 2016 tepatnya di ruang C, pasien mendapatkan
pengobatan Urispas 200 mg. Pasien mengatakan sudah merasa membaik dan nyeri
dibagian pinggang sudah berkurang. Pasien mengatakan bahwa tadi pagi telah
dilakukan pemeriksaan USG abdomen hari. Pada malam hari TD pasien 140/90
mmHg dan obat yang diberikan ciproploxacin 500mg, ketoprofen 100 mg,
omeprasole 30 mg.
Pada tanggal 15 maret 2016, pasien sudah merasakan membaik dan tidak
merasakan tidak nyeri lagi dibagian pinggangnya. Pasien mengatakan bahwa
berdasarkan hasil laboratorium kemarin dokter mengatakan ada infeksi disaluran
pencernaan. Dan sejak tadi malam telah mendapatkan ciproploxacin 500mg,
ketoprofen 100 mg, omeprasole 30 mg dan hari ini tetap dilanjutkan. Pasien juga
mengatakan dokter akan melakukan pemeriksaan lanjut BNO-IVP dan hari ini pasien
disuruh untuk puasa. Berdasarkan Suhu, respirasi dan nadinya normal sedangkan
tekanan darahnya semakin meningkat menjadi 160/90, dan turun lagi 110/90 dan
malamnya naik lagi 160/100 (sehingga diberikan amlodipin 10 mg).
Pada tanggal 16 maret 2016, pasien merasakan pegal-pegal dibagian
punggung, pasien mengatakan karena terlalu banyak tidur. Dan merasakan nyeri berat
kemarin malamnya. Saat dokter visite, dokter akan melakukan pengakatan batu ginjal
yang selam ini membuat ibu merasa kesakitan. Dan hari ini pukul 14.00 akan
dilakukan URS pengangkatan batu ginjal, sehingga pasien diharuskan puasa sejak
pukul 08.00 tadi pagi atau setelah minum obat.
Pada tanggal 17 maret, pasien masih merasakan nyeri post operasi
pengangkatan batu ginjal, dokter menyarankan untuk tidak banyak bergerak dulu,

tidur harus terlentang dan buang BAK memalui kateter. Selain itu, dokter
menyarankan untuk banyak minum air putih agar batu ginjal yang masih ada di
tubuhnya ibu bisa keluar, tidak boleh minum kopi, tidak boleh dan makan makanan
yang pedas. Kalau ibu patuh maka hari sabtu 19 maret ibu boleh pulang. kata
dokter. Pasien mendapatkan terapi obat ciproploxacin 500 mg, amlodipin 10 mg dan
meloxicam 15 mg. TD, suhu, nadi dan respirasinya normal.
Pada tanggal 18 maret, pasien mulai merasa membaik dan sudah bisa
menggerakan tubuhnya kekanan dan kekiri serta duduk, tetapi pasien belum bisa
kekamar mandi karena masih menggunakan kateter. Pasien belum pernah BAB
selama pasien dirawat di rumah sakit. Pasien sudah tidak merasakan nyeri lagi
dibagian perut. Pasien mengatakan sudah boleh pulang besok.
J. CARE PLAN PROCESS
Klinis
Renal colic

Terapi
DTP (DRPs)
Ciproploxacin sepsi :
ketoprofen
500 mg

Plan
Sebaiknya ketoprofen

R/

R/ Ketoprofen

dan

ciproploxacin

diberikan pada waktu

yang signifikan yang dapat

yang

meningkatkan

sehingga obat tidak

risiko

stimulasi SSP dan kejankejan


R/ Amlodipin

dan

ciproflocacin ada interasi

sehingga

yang

tinggi

berinteraksi.

harus

dimonitoring secara ketat.


appropriateness:
pasien memiliki tekanan
darah

berbeda

Menanyakan kepada
perawat bahwa pasien

dari

memiliki TD tinggi,

tanggal 14-15 maret tetapi

tolong hubungi dokter

tidak mendapatkan terapi

untuk

obat untuk menurunkan TD

obat yang tepat.


Melaporkan kepada

R/ Urispas 200 mg efektivitas:


pasien mendapatkan obat
secara oral pada hal pasien

memberikan

dokter
menghentikan

untuk
dan

dalam keadaan mual dan

menggantikan

obat

muntah

tersebut dengan obat


injeksi

dengan

indikasi yang sema.


Karena
pasien
keluhan
muntah
tidak

melihat
memiliki
mual

dan

sehingga
efektif

bila

diberikan secara oral.

K. Konseling :
1. Menyampaikan cara minum obat terutama yang antibiotik
2. Menyampaikan informasi efek samping dari obat tersebut sehingga ketika
terjadi ESO tersebut pasiet tidak takut dan tetap patuh meminum obat.
3. Menyampaikan jika ada obat yang tidak cocok atau menimbulkan efek yang
memperparah pasien untuk segera menghentikan obatnya dan segera
konsultasi kedokter.
4. Menyampaikan penyebab dari sakit yang pasien rasakan yaitu karena kebiasan
buruknya yang sering menahan BAK agar lebih peduli lagi dengan kesehatan
dan meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk BAK.
5. Menyampaikan kepada pasien untuk tetap menjaga pola hidup sehat yang
yaitu, mengatur asupan makan, terutama yang mengandung tinggi kalsium,
oksalat, vitamin C, kurangi garam dan juga pantangan makanan dari dokter
6. Menyampaikan kepada pasien untuk tidak merokok.
7. Menyarankan kepada pasien untuk selalu cek darah rutin dan asam urat di
puskesmas atau Rumah Sakit.
8. Menyampaikan kepada pasien untuk tetap menjaga asupan cairan yaitu air
putih minimal 2 liter dalam sehari
9. Menyampaikan juga kepada pasien untuk tidak banyak duduk dan sering
berolahraga.

DAFTAR PUSTAKA
American Pharmacist Association, 2012, Drug Information Handbook, Lexi-Comps
Reference Handbook, USA.
National Institute for Health and Care Excellence, 2009, Renal Colic Acute,
http://cks.nice.org.uk/renal-colic-acute, diakses tanggal 20 Februari 2014
Kallidonis, P., Liourdi, D., Liatsikos, E., 2011, Medical Treatment For Renal Colic
and Stone Expulsion, European Urology Supplement, Greece