Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH SEMINAR KELAS

PEMANFAATAN LAHAN MARGINAL KAWASAN PESISIR SELATAN


PULAU JAWA (PANTAI BUGEL, KULONPROGO)

Oleh :
Muhammad Darussalam Teguh
12/331585/PN/12696
Program Studi Ilmu Tanah
Dosen Pembimbing : Dr. Agr. Cahyo Wulandari, SP., MP

JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

PEMANFAATAN LAHAN MARGINAL KAWASAN PESISIR SELATAN


PULAU JAWA (PANTAI BUGEL, KULONPROGO)

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini di Indonesia lahan pertanian tanaman pangan mengalami
penyempitan akibat konversi lahan menjadi lahan non pertanian seperti
pemukiman, industri, transportasi, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat
menjadi dasar pentingnya ekstensifikasi pertanian dengan pemanfaatan
lahan marginal seperti lahan pasir pantai.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang berjumlah sekitar 17.508 pulau,
mempunyai wilayah pantai cukup luas dengan aneka manfaat bagi kehidupan
manusia maupun bagi penyangga antara ekosistem darat dan laut. Bentuk
lahan wilayah pantai terdiri atas wilayah pantai berlumpur, wilayah pantai
berpasir.
Mengingat masalah tersebut, salah satu alternatif yang dapat dilakukan
adalah perluasan areal pertanian ke arah lahan marjinal. Lahan marjinal
merupakan lahan yang bermasalah dan mempunyai faktor pembatas
tinggi untuk tanaman. Salah satu lahan marjinal yang memiliki potensi
tinggi untuk dikembangkan di Indonesia adalah lahan pantai, sebab
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beribu-ribu pulau
sehingga memiliki pantai yang sangat luas. Indonesia memiliki panjang
garis pantai mencapai 106.000 km dengan potensi luas lahan 1.060.000
ha, secara umum termasuk lahan marginal. Berjuta-juta hektar lahan
marginal tersebut tersebar di beberapa pulau, prospeknya baik untuk
pengembangan pertanian namun sekarang ini belum dikelola dengan
baik. Lahan pantai memiliki beberapa kendala apabila akan digunakan
sebagai lahan pertanian antara lain lahannya yang berupa pasir, kesuburan
tanahnya yang rendah, intensitas cahaya matahari yang tinggi dan
kecepatan angin yang tinggi.
Usaha di bidang budidaya pertanian pada awalnya/umumnya dilaksanakan
pada lahan yang tidak mempunyai karakteristik keterbatasan prasyarat

budidaya pertanian atau lahan yang sesuai dengan kebutuhan lahan usaha
tani. Nampaknya makin hari lahan yang tersedia bagi usaha tani makin
terbatas sebagai lahan yang sesuai harapan bertani. Mengingat luasnya lahan
kawasan pantai di Indonesia, perlu ada pemikiran yang jitu dalam
memanfaatkan lahan kawasan pantai bagi usaha budidaya pertanian. Kawasan
pesisir menjadikan alternatif bagi usaha budidaya pertanian dengan segala
konsekuensi agar keterbatasannya dapat teratasi dengan input teknologi.
Lahan pantai memiliki berberapa kendala apabila akan digunakan sebagai
lahan pertanian antara lain lahannya yang berupa pasir, kesuburan tanahnya
yang rendah, intensitas cahaya matahari yang tinggi dan kecepatan angin
yang tinggi. Untuk itu dibutuhkan suatu teknologi (manipulasi) lahan agar
lahan pantai dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Dalam jangka
panjang, pengembangan lahan pertanian di lahan marjinal untuk lahan
pertanian diharapkan dapat memecahkan masalah ketahanan pangan.
B. Tujuan
1. Mengetahui proses terbentuknya endapan pasir di pesisir Selatan Jawa,
khusus Pantai Bugel, Kulonprogo.
2. Mengetahui kondisi lahan pasir Pantai Bugel.
3. Mengetahui manipulasi lahan agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian.

II. PEMBAHASAN

A. Proses Terbentuknya Endapan Pasir Di Kulonprogo


Di daerah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY) terdapat endapan pasir besi yang keberadaannya
cukup melimpah. Keberadaannya dikatakan sepanjang 22 Km dari hilir Sungai
Bogowonto sampai hilir Sungai Progo dengan cadangan sebesar 605 juta ton.
Pasir besi merupakan produk dari proses pelapukan fisika dan kimia dari batuan
berkomposisi andesitik hingga basaltik.
Wilayah pantai selatan Kulon Progo merupakan dataran pantai yang
berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Wilayah ini merupakan daerah hilir
dari beberapa sungai besar yang mengalir di daerah Kulon Progo seperti Sungai
Progo, Sungai Serang, dan Sungai Bogowonto. Pada daerah tersebut sepanjang
dataran pantainya berupa endapan pasir besi.
Dari hasil studi pustaka sungai-sungai yang mengalir di daerah pantai
selatan khususnya daerah sekitar Kulon Progo berhulu dari gunungapi yang
memiliki material bersifat andesitik, seperti Gunungapi Merapi, Gunungapi
Merbabu, Gunungapi Sumbing, dan Gunungapi Sundoro. Selain itu formasi
batuan berumur tersier juga menunjukkan adanya material yang berkomposisi
andesitik seperti formasi Nglanggran dan Kebobutak, serta batuan terobosan.
Keberadaan gunungapi dan terobosan (intrusi) yang menghasilkan material
bersifat andesitik pada daerah ini diakibatkan oleh kondisi geologi Pulau Jawa
yang terletak pada zona subduksi antara lempeng benua Indo-Australia dengan
lempeng samudra Hindia. Tumbukan antara kedua lempeng ini mengakibatkan
magmatisme yang menghasilkan magma yang bersifat andesitik sebagai akibat
dari pencampuran hasil partial melting dari lempeng benua yang bersifat asam
dengan lempeng samudra yang bersifat basa. Magmatisme tersebut kemudian
muncul ke permukaan dalam bentuk gunungapi dan intrusi.
Sungai yang memiliki peran besar dalam terbentuknya endapan pasir besi di
daerah Kulon Progo adalah Sungai Progo. Sungai ini berhulu pada Gunungapi
Sundoro dan Gunungapi Sumbing di daerah Jawa Tengah. Di daerah Magelang,
sungai ini bersatu dengan Sungai Elo yang berhulu pada Gunung Merbabu. Pada
daerah yang lebih jauh dari hulu, Sungai Progo menjadi muara dari beberapa
sungai yang berhulu pada Gunung Merapi. Hal ini menunjukkan hulu dari sungai
ini mengerosi dan mentransport material-material dari beberapa gunungapi

tersebut. Sebagaimana dalam geologi regional daerah sekitar, beberapa gunungapi


tersebut memiliki komposisi yang bersifat andesitik (Rahardjo, 1955).

Gambar 1. Peta endapan pasir besi Kulon Progo


Selain Sungai Progo, di bagian timur daerah Kulon Progo juga mengalir
Sungai Opak yang merupakan gabungaan dari Sungai Oyo yang mengalir dari
daerah Surakarta melewati formasi Nglanggeran dan formasi Semilir. Sungai
Opak juga merupakan muara dari sungai-sungai yang berhulu pada Gunung
Merapi khususnya yang mengalir ke arah selatan.
Di bagian barat daerah Kulon Progo juga mengalir Sungai Serang dan
Sungai Bogowonto yang berhulu pada formasi Kebobutak dan intrusi andesit serta
dasit di bagian utara Kulon Progo. Aliran permukaan dalam hal ini sungai akan
menyebabkan proses pelapukan dan erosi pada material yang dilewatinya. Proses
pelapukan yang terjadi bisa bersifat sebagai pelapukan fisik dan pelapukan
kimiawi. Pelapukan fisika akan mengakibatkan material mengalami disintegrasi
menjadi pecahan atau fragmen. Sedangkan pelapukan kimia akan mengakibatkan
perubahan susunan kimia pada mineral-mineral penyusun material.
Sungai-sungai pada dearah Kulon Progo berhulu dan mengalir pada daerah
volkanik yang memiliki material yang berkomposisi andesitik maka proses
pelapukan dan erosi serta pembentukan mineral seperti di atas akan terjadi pada
sungai ini. Hasil dari proses tersebut akhirnya akan tertransport dan terendapkan

ketika sungai mencapai hilir yaitu Samudra Hindia. Proses yang menyebabkan
endapan pasir besi di Kulon Progo tersebar di sepanjang pantai tentunya adalah
akibat gelombang dari Samudra Hindia yang kuat. Gelombang menghempaskan
partikel-partikel endapan ke pantai kemudian air membawa partikel-partikel
ringan kembali sehingga terpisah dari partikel berat. Mineral-mineral yang
mengandung Fe seperti magnetit, hematit, ilmenit, biotit, olivin, hornblend, dan
piroksen termasuk partikel berat sehingga mineral-mineral tersebut akan
terendapkan di pantai membentuk pasir besi dengan mineral lain seperti
corundum, kuarsa, dan vanadium.

Gambar 2. Peta Sungai Progo dan Sungai Opak


Apabila dilihat pada peta lokasi diatas, dapat dilihat bahwa ada satu sungai
utama yang besar yang menoreh bukit-bukit dan gunung-gunung dan akhirnya
membawa material dari gunung-gunung api yang masih aktif, yaitu Sungai Progo.
Sungai Progo merupakan sungai utama yang membawa hasil gerusan materialmaterial vulkanik yang berasal dari Gunung Merapi - Merbabu. Juga hasil
penorehan di gunung-gunung Sidoro disebelah barat laut.
Bongkahan-bongkahan serta pasir -pasir itu dibawa oleh sungai-sungai
tersebut dari puncak gunung kemudian terbawa menjadi pecahan sebagai kerikil
dan pecah menjadi butiran-butiran pasir-pasir. Sebagian pasir tersebut ada yang
terendapkan dan ada yang terbawa arus sungai menuju laut.

B. Lahan Marginal Kawasan Pesisir Bugel


Marginalisasi tergantung pada interaksi aspek fisik, lingkungan, sosial dan
ekonomi. Ini berarti bahwa pengabaian dapat terjadi di mana-mana, bahkan di
daerah dengan potensi hasil tinggi, dan bahkan dalam situasi ekonomi yang
memuaskan. Lahan marjinal yang karakteristiknya oleh penggunaan lahan yang
berada di kelayakan ekonomi rendah, kelayakan ekonomi ditentukan oleh
alternatif di tangan untuk sarana produksi yang berbeda. Jadi, lahan marginal tidak
selalu ditandai dengan penggunaan masukan yang rendah (Strijker, 2005).
Lahan pesisir sesuai dengan ciri-cirinya adalah sebagai tanah pasiran,
dimana dapat dikategorikan tanah regosol. Menurut Darmawijaya (1992),
tanah regosal di sepanjang pantai di beberapa tempat, diantaranya Cilacap,
Parangtritis, adalah berupa bukit bukit pasir terbentuk dari pasir pasir pantai
berasal dari abu vulkanik oleh gaya angin yang bersifat deflasi dan akumulasi.
Tanah ini mempunyai ciri ciri diantaranya bertekstur kasar, mudah diolah,
gaya menahan air rendah, permeabilitas baik, dan makin tua teksturnya makin
halus dan permeabilitas makin kurang baik.

Gambar 3. Kondisi lahan pasir Bugel


Lahan pasir pantai adalah tanah yang berada di antara pertemuan
daratan dan lautan baik dalam kondisi kering maupun dalam keadaan terendam
air yang dipengaruhi oleh salah satu sifat laut seperti pasang surut, angin laut,
dan perembasan air asin. Selain itu juga dipengaruhi oleh proses alami yang
terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. Lahan pasir pantai
yang terdapat di DIY merupakan gumuk-gumuk pasir. Karakteristik lahan di
gumuk pasir wilayah ini adalah tanah bertekstur pasir, struktur berbutir
tunggal, daya simpan lengasnya rendah, status kesuburannya rendah, evaporasi
tinggi, dan tiupan angin laut kencang (Kertonegoro, 2003 cit. Shiddieq et al.,

2007). Hasil analisis sifat fisika dan kimia tanah pasir pantai Bugel, Kulon
Progo, D.I. Yogyakarta tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisis sifat fisika dan kimia tanah pasir pantai Bugel, Kulon
Progo, D.I. Yogyakarta
No

Sifat-sifat tanah

Nilai besaran/harkat

1.

Daya hantar listrik (DHL) (mS)

0,07-0,22 (sangat rendah)

2.

Kadar bahan organik (%)

<1 (sangat rendah)

3.

Kandungan N-total (%)

0,05-0,08 (sangat rendah)

4.

Kandungan P-tersedia (ppm)

100-150 (sangat tinggi)

5.

Kandungan K-tersedia (cmol/1kg)

0,09-0,2 (sangat rendah)

6.

Kandungan Ca tersedia (cmol/1kg)

0,2-0,6 (sangat rendah)

7.

Kapasitas Pertukaran Kation (cmol/1kg)

4-5 (sangat rendah)

8.

Kandungan fraksi pasir (%)

> 95

9.

Kandungan fraksi debu (%)

<3

10. Kandungan fraksi lempung (%)

<3

11. Kelas tekstur tanah (USDA)


Sumber : Yudono, et al., 2002 cit. Kastono 2007.

Pasir

Analisis tanah pasir pantai menunjukkan bahwa tanah ini didominasi oleh
fraksi pasir (> 95%), sedang fraksi debu dan lempung masing-masing di bawah
3%. Bahan organik tanah pasir sangat rendah (<1%) dan sebagai konsekuensinya
tanah ini mempunyai sifat menyangga ion (unsur hara) dan kemampuan
menyekap air juga rendah (KPK 4,0 - 5,0 cmol/kg). Kandungan N-total 0,050,08%, P total 100 - 150 ppm, Ca-tersedia 0,2 - 0,6 cmol/kg, K-tersedia 0,09 0,2 cmol/kg, Mg-tersedia 0,2-0,6 cmol/kg, dan DHL sangat rendah yakni 0,07
- 0,22. Di samping itu, tanah pasir memiliki sifat fisik sebagai berikut:
tekstur pasir, struktur butiran sampai kersai, drainasi baik, konsistensi lepas lepas, permeabilitas sangat cepat (150 cm/jam), berat volume 1,58 mg/m3,
kapasitas lapangan 2,3 - 4,10%, titik layu permanen 0,75 - 1,05%, lengas tersedia
1,55 - 3,05%, pori makro 20,32% dan pori mikro 2,04% (Yudono et al.,
2002 cit. Kastono 2007).
Tanah pasir pantai merupakan tanah muda (baru) yang dalam klasifikasi
USDA termasuk ordo Entisol pantai, tepatnya subordo Psamment dan grup
Udipsamment (Soil Survey, 1998). Udipsamment pada umumnya belum

mengalami perkembangan horizon, bertekstur kasar, struktur kersai atau


berbutir tunggal, konsistensi lepas-lepas sampai gembur dan kandungan
bahan organik rendah. Di Indonesia tanah ini dijumpai di Ciherang dan
sekitar Yogyakarta dan daerah-daerah sekitar pantai (Darmawijaya, 1992)
Struktur lepas pada tanah ini menyebabkan rentan terhadap erosi angin maupun
air. Permukaan lahan pasir pantai sering berubah mengikuti arah angin kencang
(13-15 m/detik). Kondisi tersebut menunjukkan masih banyaknya faktor
pembatas pertumbuhan sehingga sangat kurang menguntungkan bagi
pertumbuhan tanaman, guna mengubah kondisi lahan mendekati optimal bagi
pertumbuhan tanaman, khususnya komoditas hortikultura (Mulyanto et al.,
2001).
Lahan pasir pantai Bugel mempunyai ciri ciri dengan tingkat daya hantar
listrik (DHL) yang rendah, berkisar 0,07 - 0,22. Hal ini disebabkan karena,
kawasan Kulonprogo merupakan kawasan yang diapit oleh dua sungai besar, yaitu
Sungai Progo dan Sungai Opak. Dimana pasir yang berada di pantai Bugel ini
berasal dari Hulu kedua sungai tersebut yaitu gunung berapi yang mengeluarkan
material vulkanik. Sehingga material vulkanik tersebut mengalami pencucian serta
terjadi pengenceran dengan gelombang Samudera Hindia.
C. Kendala Lahan Pantai Bugel
Kendala utama dalam pemanfaatan tanah pasir yaitu miskin mineral,
lempung, bahan organik dan tekstur yang kasar. Tekstur yang kasar dan struktur
berbutir tunggal menyebabkan tanah ini bersifat porus, aerasinya besar, dan
kecepatan infiltrasinya tinggi. Keadaan tersebut menyebabkan pupuk yang
diberikan mudah terlindi. Pada umumnya udipsamment mempunyai bahan induk
dari gunung berapi cukup kaya unsur hara tetapi kekurangan unsur N. Akan
tetapi unsur hara tersebut masih dalam bentuk yang tidak tersedia bagi
tanaman karena belum mengalami pelapukan lebih lanjut. Untuk
mempercepat proses pelapukan tersebut diperlukan pemupukan dengan
bahan organik yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau (Munir, 1996).
Rendahnya luas permukaan tanah menyebabkan kemampuan
mengabsorbsi dan menyimpan air, batas plastis dan cairnya makin rendah.
Kapasitas pertukaran kation (KPK) dipengaruhi oleh jumlah muatan negatif
pada permukaan jerapan. Jumlah muatan negatif ditentukan oleh luas

permukaan, sehingga kapasitas pertukaran kation tergantung pada tekstur tanah,


kandungan bahan organik,dan mineral lempung. Makin kasar tekstur tanahnya,
makin rendah luas permukaannya dan makin rendah kapasitas pertukaran
kationnya. Muatan negatif dapat berasal dari bahan organik maka peranan bahan
organik sangat menentukan besarnya nilai kapasitas pertukaran kation.
Rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah pasiran menyebabkan suasana
lingkungan yang kurang sesuai bagi perkembangbiakan mikroorganisme.
Selain permasalahan mengenai sifat-sifat tanah pasiran, faktor iklim di
daerah pantai juga berpengaruh besar terhadap keberhasilan pengelolaan
tanaman. Keberhasilan produksi tanaman mensyaratkan sumber daya iklim
seperti penyinaran, matahari, CO2, dan air secara efisien. Pentingnya
pengelolaan air terhadap ketersediaan N dalam tanah, pada kondisi kelebihan
atau kekurangan air. Kelebihan air dapat membatasi hasil tanaman, demikian
juga responnya terhadap N akan terbatasi. Tingginya intensitas sinar matahari
yang sampai ke permukaan tanah menyebabkan tingginya suhu udara dan tanah,
sehingga memacu laju evapotranspirasi semakin besar. Adanya angin dengan
kecepatan tinggi dan membawa kadar garam tinggi secara terus menerus akan
merusak maupun mematikan tanaman baik langsung maupun tidak langsung.
Terbukanya lahan menyebabkan suhu 0 permukaan tanah mencapai
55-60oC selama kurang lebih 4-6 bulan dalam setahun. Struktur lepas
pada tanah ini menyebabkan rentan terhadap erosi angin maupun air.
Permukaan lahan pasir pantai sering berubah mengikuti arah angin kencang
(13-15 m/detik). Kondisi tersebut di atas menunjukkan masih banyaknya faktor
pembatas pertumbuhan sehingga sangat kurang menguntungkan bagi
pertumbuhan tanaman. Oleh karena perlu dilakukan upaya modifikasi
lahan dan lingkungan mikroklimat pertanaman guna mengubah kondisi
lahan mendekati optimal bagi pertumbuhan tanaman, khususnya komoditas
hortikultura.
D. Pengembangan Kawasan Pesisir Bugel
Kendala-kendala itu dapat diatasi dengan memanfaatkan teknologi yang
spesifik lokasi penanaman. Contohnya tanah pasir pantai memiliki perkolasi atau

aliran air dalam tanah 250 kali lebih tinggi dibanding tanah lempung. Hal itu
dapat diatasi dengan memberi lapisan kedap air seperti bentonit dan vertisol atau
tanah lempung.
Dalam Yuwono (2009) dijelaskan bahwa lahan pasir pantai merupakan lahan
marjinal dengan ciri-ciri antara lain tekstur berupa pasiran, struktur lepas-lepas,
kandungan hara rendah, kemampuan menukar kation rendah, daya menyimpan air
rendah, suhu tanah di siang hari sangat tinggi, kecepatan angin, dan laju evaporasi
sangat tinggi. Kemudian upaya untuk perbaikan sifat-sifat tanah dan lingkungan
mikro sangat diperlukan, antara lain misalnya dengan penyiraman yang teratur,
penggunaan mulsa penutup tanah, penggunaan pemecah angin (wind breaker),
penggunaan bahan pembenah tanah, penggunaan lapisan kedap, dan pemberian
pupuk (baik organik maupun anorganik). Adanya penambahan lempung, pupuk
kandang, juga jerami membuat air yang disiramkan menjadikan tanah pasir yang
awalnya sangat porus menjadi lebih mampu menahan air.
Dalam pembudidayaan tanaman di lahan pasir pantai perlu diusahakan
agar kondisi lingkungan tetap terjaga, meskipun kondisi fisik lahan pasir
tersebut diharapkan kualitasnya meningkat. Pupuk organik per satuan berat
biasamya memiliki kandungan hara yang lebih rendah dibandingkan pupuk
anorganik. Oleh karena itu, perakitan varietas unggul spesifik lahan pasir pantai
yang efisien hara berbasis pupuk organik merupakan langkah yang sangat tepat.
Peluang pemanfaatan teknologi di lahan kawasan pesisir diantaranya
berupa teknologi perbaikan sifat fisik, kimiawi dan organisme tanah agar interaksi
tanah air tanaman dapat terwujud dengan baik. Wujud teknologi lain adalah
interaksi antara tanaman dan atmosfir, karena di lahan kawasan pantai yang perlu
mendapatkan perhatian adalah tersedianya cukup energi matahari dan energi angin
(Gunadi, 2002).
Menurut Shiddieq, dkk., (2007), beberapa usaha agar budidaya sayuran
dapat dilaksanakan di lahan marjinal pasiran pantai Kulon Progo, petani harus
dapat mengatasi permasalahan yang ada di lahan pasir pantai yaitu dengan cara,
1) Membuat pematah angin dengan menanam cemara udang, glireside, atau
membuat pagar dari daun kelapa, bertujuan untuk mengurangi kecepatan angin
dan kadar garam serta memperbaiki iklim mikro yang mempunyai arti penting

bagi kehidupan tanaman sayuran.


2) Menggunakan bahan pembenah tanah dari pupuk kandang, tanah lempung dan
jerami untuk mengurangi kecepatan kehilangan lengas, mengurangi suhu tanah
pada zona perarakanan dan permukaan tanah, menekan gulma, mengurangi
evaporasi/evapotranspirasi, memperbaiki sistem penyerapan hara, mengurangi
pelindiaan/pencucian hara, meningkatkan aktivitas jasad renik tanah,
meningkatkan kesuburan kimiawi/fisik dan biologis. Selain itu bahan
pembenah ini juga dapat menekan runoff dan erosi angin.
3) Membuat bak renteng untuk efisiensi tenaga penyiraman.
4) Menanam komoditas sayuran yang bernilai ekonomis toleran dengan kondisi
kering dan suhu tinggi, berumur pendek (cabai, bawang merah, caisim, slada
keriting, semangka dan terong).
5) Memperbaiki kesuburan tanah dengan pupuk organik dan anorganik.
6) Konservasi tanah dan air dengan cara pengelolaan tanah dangkal, minimum
tilage, penggunaan pupuk anorganik terbatas.
Lahan pantai memiliki berberapa kendala apabila akan digunakan
sebagai lahan pertanian antara lain lahannya yang berupa pasir, kesuburan
tanahnya yang rendah, intensitas cahaya matahari yang tinggi dan
kecepatan angin yang tinggi. Untuk itu dibutuhkan suatu manipulasi lahan
agar lahan pantai dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Manipulasi
yang dapat dilakukan antara lain:
1. Penggunaan Mulsa

Gambar 4. Penggunaan mulsa di lahan pasir pantai


Penggunaan mulsa pada permukaan tanah bertujuan untuk mengurangi
kehilangan air dari tanah. Mulsa permukaan tanah dapat menggunakan
lembaran plastik, jerami padi atau sisa-sisa tanaman lainnya. Pemasangan
mulsa plastik di lahan pasir pantai berbeda dari pemasangan mulsa di lahan
sawah. Pemasangan mulsa di lahan pasir dengan bentuk cekung ditengah.

Bentuk cekung bertujuan agar air hujan atau penyiraman masuk ke dalam
tanah. Penggunaan mulsa ini sangat penting dilahan pantai karena dapat
menghemat lengas tanah sehngga kebutuhan lengas untuk tanaman
terutama pada musim kemarau diharapkan dapat tercukupi. Dari hasil
penelitian pemberian mulsa glerecidea dan jerami padi sebanyak 20-30
ton dapat meningkatkan hasil pada tanaman jagung di lahan pantai, selain
itu pemberian mulsa berupa pangkasan tanaman ternyata juga lebih efektif
sebagai mulsa dibandingkan dengan pemberian pupuk hijau (Putri, 2011).
2. Pemberian bahan organik
Bahan organik yang dapat diberikan di lahan pasir pantai dapat berupa
pupuk kandang (sapi, kambing/domba dan unggas), kompos, pupuk hijau,
dan blotong. Pemberian bahan organik dapat dilakukan dengan cara
mencampur bahan organik ke dalam tanah atau pemberian bahan organik
di permukaan tanah di sekitar tanaman. Bahan organik dapat diberikan
ke lahan dalam kondisi sudah matang atau mentah.

Gambar 5. Pemberian bahan organik di bedengan lahan pasir pantai


Pemberian bahan organik dalam kondisi mentah bertujuan untuk
mengurangi pelindian, sehingga dekomposisi bahan organik mentah akan
terjadi sinkronisasi pelepasan hara dengan kebutuhan hara bagi tanaman.
Kebutuhan bahan organik pada lahan pasiran lebih banyak dari lahan
konvensional yaitu sekitar 15 20 ton. Penelitian menunjukkan bahwa
pemberian pupuk kandang sebanyak 20 ton dapat menekan penggunaan
NPK menjadi 200 kg/ ha (Putri, 2011).
Penggunaan kompos dapat untuk meningkatkan porositas, aerasi,
komposisi mikroorganisme tanah, meningkatkan daya ikat tanah terhadap
air, mencegah lapisan kering pada tanah, dan menghemat pemakaian
pupuk kimia (Murbandono, 2002 cit. Siahaan 2012).
Blotong adalah limbah industri yang dihasilkan oleh pabrik gula

dari proses klarifikasi nira tebu. Blotong mempunyai potensi yang besar
sebagai pupuk organik karena disamping berfungsi sebagai sumber hara
yang cukup lengkap, juga dapat membantu memperbaiki sifat-sifat tanah.
Blotong juga dapat membantu meningkatkan aktivitas mikrobia tanah,
terutama pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik rendah.
Penambahan blotong ke dalam tanah akan meningkatkan jumlah C
organik dalam tanah (Triwahyuningsih, 1997).
Blotong atau dikenal dengan sebutan filter press mud secara
umum mempunyai bentuk berupa serpihan serat-serat tebu yang mempunyai
komposisi humus, N-total, C/N, PIO3, KIO, CaO, dan MgO3 cukup baik
untuk dijadikan bahan pupuk organik. Blotong dapat memperbaiki fisik
tanah, khususnya meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan laju
pencucian hara dan memperbaiki drainase tanah (Santoso et al.,2003 cit.
Kurniawan 2009).
3. Penggunaan bahan-bahan halus

Gambar 6. Pemberian lumpur pada lahan pasir


Penggunaan bahan halus di lahan pasir pantai dapat memanfaatkan tanah
lempung, abu vulkan, endapan saluran sungai, kolam waduk. Penggunaan
bahan halus bertujuan untuk meningkatkan jumlah koloid dalam tanah,
khususnya penambahan fraksi lempung. Peningkatan jumlah bahan halus
dalam tanah akan bermanfaat terhadap peningkatan hara dan air.
4. Penggunaan Lapisan Kedap
Penggunaan lapisan kedap bertujuan untuk menghalangi infiltrasi air, sehingga
air lebih lama tertahan dalam tanah pasir pantai. Lapisan kedap dapat
memanfaatkan lembaran plastik, aspal, bitumen, lempung, pemampatan,

semen. Lapisan kedap dibuat dengan cara menggali tanah terlebih dahulu
kemudian lapisan dihamparkan, selanjutnya diatas lapisan kedap diberi tanah.
Dampak positif adanya penambahan bahan-bahan tersebut adalah (a)
struktur tanah pasir dapat berubah membentuk agregat tanah yang mampu
meningkatkan daya simpan lengas dan hara yang dibutuhkan tanaman, serta
meningkatkan aktivitas populasi mikrobia tanah yang menguntungkan
tanaman, (b) menekan laju evapotranspirasi dan memperbaiki porositas tanah,
(c) meningkatkan produksi tanaman dan pendapatan petani terutama dengan
adanya penghematan biaya tenaga kerja dan bahan bakar untuk penyiraman
(Kastono, 2007).
5. Penggunaan Pemecah Angin

Gambar 7. Pematah angin sementara


Penggunaan pemecah angin bertujuan untuk mengurangi kecepatan
angin dalam pertanaman lahan

pasir. Pemecah angin dapat dibedakan

menjadi 2 macam yaitu pemecah angin sementara dan permanent.


Pemecah angin sementara dapat memanfaatkan anyaman daun tebu atau
kelapa, kasa nilon dan lembaran plastik. Sedangkan pemecah angin
permanent dapat memanfaatkan tanaman yang berupa tumbuhan tahunan
yang umurnya panjang dan dapat diatur pertumbuhannya. Jenis tumbuhan
yang dapat digunakan, misalnya kelapa, Accasia, Glerecidae, sengon,
lamtoro, bunga turi, cemara laut dan pandan.

Gambar 8. Pematah angin permanen


6. Penggunaan Pembenah Tanah
Bahan pembenah tanah alami adalah emulsi aspal, lateks, skim lateks,
kapur pertanian, batuan fosfat alam, blotong,

dan

zeolit (Dariah, 2007),

tanah lempung (Grumusol dan Latosol) (Kertonegoro, 2000),

lumpur

sungai dan limbah karbit (Rajiman, 2010). Tujuan penggunaan bahan


pembenah tanah adalah :
a. Memperbaiki agregat tanah,
b. Meningkatkan kapasitas tanah menahan air (water holding capacity),
c. Meningkatkan kapasitas pertukaran kation (KPK) tanah
d. Memperbaiki ketersediaan unsur hara tertentu.

Gambar 9. Pemberian bahan pembenah tanah


Keterangan.
a. Bahan pembenah tanah terdiri dari campuran lempung 30 ton/ha, pupuk
kandang 20 ton/ha.
b. Lapisan tanah diantara a dan c, kedalaman bervariasi 15cm, 30 cm dan 45
cm, tergantung pada kedalaman lapisan semipermeabel.
c. Bahan pembenah tanah terdiri dari campuran bentonit dan pasir (bentonit 15
% dan pasir 85 %) tebal 2 cm sebagai lapisan semipermeabel (Shiddieq dan
Sulakhudin, 2009).
Pemanfaatan pembenah tanah harus memprioritaskan pada bahan-bahan
yang murah, bersifat insitu, dan terbarukan. Pada kesempatan ini, pembenah
tanah yang akan dibicarakan banyak menyangkut bahan alami. Pembenah
tanah secara alami dapat diambil dari lingkungan sekitar lahan atau dari
daerah lain. Pembenah tanah yang biasa digunakan di lahan pasir pantai
berupa bahan berlempung dan atau bahan organik.

Kunci utama perbaikan lahan pasir pantai adalah peningkatan ketersediaan


hara dan air, sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil pertanaman.
Salah satu usaha pengelolaan lahan pasir pantai adalah pemberian pembenah
tanah. Pembenah tanah dapat memanfaatkan bahan lokal yang tersedia cukup,
realistis, mudah, terbarukan dan praktis. Pemberian pembenah tanah telah
nyata meningkatkan kualitas tanah serta ketersediaan air bagi tanaman.
Penggunaan teknologi tersebut memungkinkan lahan pasir pantai untuk
diberdayakan menjadi sentra produksi hortikultura dan perbenihan.
7. Penggunaan sistem lorong

Gambar 10. Pertanian sistem lorong


Alternatif lain dalam teknologi budidaya yang dapat diterapkan untuk
lahan pantai adalah sistem penanaman lorong (alley cropping). Sistem
penanaman lorong merupakan sistem penanaman dengan menanam pohonpohon kecil dan semak dalam jalur-jalur yang agak lebar dan penanaman
tanaman semusim di antara jalur-jalur tersebut sehingga membentuk
lorong-lorong. Tanaman lorong biasanya merupakan tanaman pupuk hijau
atau legume tree seperti tanaman Glericidae. Di lahan pantai, budidaya
lorong diterapkan untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti intensitas
matahari, erosi permukaan oleh angin, dan laju evapotranspirasi. Selain itu,
dapat juga berfungsi sebagai pematah angin sehingga mereduksi
kecepatannya.
8. Pengaturan Irigasi

Gambar 11. Irigasi tetes pada lahan pasir pantai

Gambar 12. Sumur renteng dalam irigasi


Ketersediaan air irigasi di lahan pantai yang terbatas mengakibatkan
perlunya upaya untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air irigasi sehingga
dapat mengurangi pemborosan dalam penggunaan air irigasi. Irigasi dilahan
pantai selama ini dilakukan dengan cara penyiraman dan penggunaan
sumur renteng. Sedangkan untuk mengurangi kehilangan air siraman dan
mempertahankan lengas, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan penggunaan lembaran plastik yang ditanam pada jeluk 30 cm. Hal
ini dimaksudkan untuk menciptakan suatu lapisan kedap guna mencegah
atau menghambat agar air irigasi yang diberikan dapat ditahan oleh lapisan
tersebut sehingga efisiensi pemanfaatan air oleh tanaman dapat ditingkatkan.
Dalam pengelolaan lahan pantai selain harus menggunakan berbagai
teknologi untuk memanipulasi lahan, kita juga harus memperhatikan pula
kelestarian lingkungan di lahan pantai, hal ini dilakukan terutama terhadap
sumber daya air tawar yang sangat penting bagi pertanian lahan pantai.
Jangan sampai menggunakan air tanah secara berlebihan karena dapat
menyebabkan intrusi air laut ke daratan, untuk itu manajemen untuk
mempertahankan kelengasan sangat penting terutama dalah hal untuk
mengawetkan keberadaan sumber air tawar di pantai. Selain itu dalam
pelaksanaan pertanian lahan pantai harus pula memperhatikan kehidupan

sosial para warganya, jangan sampai cara-cara budidaya yang ada bertentangan
dengan adat istiadat warga sekitarnya (Putri, 2011).
E. Hasil Budidaya Tanaman Hortikultura di Pantai Bugel
Menanam tanaman hortikultura di lahan pasir pantai banyak
dipraktekkan di pantai selatan Yogyakarta, sekitar pantai Bugel. Komoditas
pertanian yang telah dikembangkan di kawasan pasir pantai selatan antara
lain bawang merah, cabai, sawi, bayam, kol, buah naga, semangka, melon,
dan pepaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya pendapatan yang
menguntungkan dari beberapa komoditas lokal misalnya padi, kacang tanah,
jagung, ubikayu, juga sawi hijau. Produktivitas bawang merah di lahan pantai
Bugel mencapai 13,96 ton/ha/musim tanam, sedangkan di lahan sawah mencapai
20,27 ton/ha/musim tanam. Sehingga usaha budidaya sayuran di lahan pasir
pantai berdampak pada perubahan status sosial ekonomi masyarakat lebih baik.

Gambar 13. Produktivitas Bawang Merah


Pemanfaatan lahan pasir pantai untuk perbenihan diharapkan dapat
mendukung penyediaan benih unggul bermutu dengan 6 tepat, yaitu tepat varietas,
jumlah, mutu, waktu, lokasi/tempat dan harga, termasuk bawang merah. Kondisi
6 tepat ini dapat diwujudkan di lahan pasir pantai dengan pengelolaan yang
memadai. Karena hasil benih bawang merah lahan pasir pantai memenuhi syarat
untuk benih, bahkan benih lahan pasir pantai memiliki kualitas yang lebih unggul
dibandingkan lahan sawah. Di lahan pasir pantai dimungkinkan untuk menanam
bawang merah 4 kali tanam yaitu 2 kali pada musim kemarau dan 2 kali pada
musim penghujan.
F. Dampak Negatif Pertanian di Pantai Bugel
1. Berkurangnya peran gumuk pasir

Gumuk pasir berasal dari vulkanik merapi yang dalam proses alamiah
menjadi pasir, terbawa arus sungai sampai ke laut, menepi karena mengikuti
arus ombak, kemudian dengan bantuan angin pasir-pasir hitam itu menyebar
di daratan dan pada akhirnya memenuhi seluruh pantai di wilayah Kabupaten
Bantul dan Kulon Progo. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun.
Salah satu fungsi gumuk pasir adalah memperlambat/melenyapkan laju
air bah karena air tersebut terserap oleh pasir bila terjadi air laut pasang atau
tsunami. Gumuk pasir memiliki fungsi ekologis yang penting, misalnya untuk
mencegah intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah. Hal itu sudah
terbukti ketika pada bulan Juli tahun 2006 terjadi gempa dan tsunami dari
Pangandaran, tsunami tersebut sampai ke kawasan pantai Parangtritis, akan
tetapi air tsunami tidak sampai desa karena adanya gumuk pasir tersebut.

Gambar 14. Gumuk Pasir Pesisir Kulonprogo


Di zaman yang semakin modern ini, gumuk pasir tak luput dari perhatian,
banyak sekali kegiatan yang memanfaatkan latar gumuk pasir. Seiring
berjalannya waktu, muncul pula kegiatan-kegiatan yang mengusik
eksistensinya, yang semakin parah adalah kegiatan tersebut mengancam
hingga merusak lingkungan dan ekosistem gumuk pasir. Bahkan, kegiatan
positif pun bisa merusak jika tidak mengindahkan etika alam yang ada
termasuk kegiatan pertanian serta pembuatan tambak udang di sekitar gumuk
pasir tersebut.
Dengan demikian gumuk pasir terancam punah. Mungkin tak sampai 5
tahun jika kita membiarkan ini tanpa tindakan memberhentikan kegiatankegiatan yang merusak gumuk, kita tak akan melihat lai pasir sisir, pasir bulan
sabit, pagut, dan masih banyak lagi ekosistem dan vegetasi alami di gumuk
pasir yang menjadi fenomena tersebut (Wijaya, 2015).
2. Terjadinya residu pupuk anorganik

Penggunaan pupuk kimia anorganik yang tidak terkendali menjadi salah


satu penyebab penurunan kualitas kesuburan fisik dan kimia tanah. Keadaan
ini semakin diperparah oleh kegiatan pertanian secara terus-menerus (intensif),
sedang pengembalian ke tanah pertanian hanya berupa pupuk kimia Urea,
TSP, dan KCl (unsur N, P, K saja), bahkan pada keadaan ekstrim hanya unsur
N lewat pemberian pupuk Urea saja dan hanya sangat sedikit unsur-unsur
organik yang dikembalikan ke dalam tanah. Hal ini mengakibatkan
terdegradasinya daya dukung dan kualitas tanah pertanian di Indonesia,
sehingga produktivitas lahan semakin turun.
Penumpukan sisa atau residu pupuk kimia anorganik merupakan salah satu
penyebab utama mengerasnya tanah-tanah pertanian. Keadaan ini banyak
terjadi di sentra-sentra pertanian terutama di Pulau Jawa. Residu pupuk kimia
anorganik di dalam tanah ini mengakibatkan terhambatnya proses
dekomposisi secara alami oleh mikrobia di dalam tanah. Hal ini dikarenakan
sifat bahan kimia anorganik yang lebih sukar terurai daripada sisa bahan
organik. Jika tanah semakin keras maka tanah semakin tidak responsif
terhadap pupuk kimia anorganik, sehingga berapapun banyaknya tanah diberi
pupuk kimia an-organik hasilnya tetap tidak optimal. Mengerasnya tanah
pertanian juga akan mengakibatkan porositas tanah menurun, sehingga
ketersediaan oksigen bagi tanaman maupun mikrobia tanah menjadi sangat
berkurang. Dampak lainnya adalah terhadap pertumbuhan tanaman.
Terbatasnya penyebaran akar dan terhambatnya suplai oksigen ke akar
mengakibatkan fungsi akar tidak optimal, yang pada gilirannya menurunkan
produktivitas tanaman (Anonim, 2013).
Salikin (2003) menyebutkan bahwa sekitar 50% nitrogen, 40% - 75%
potassium, dan 5% - 25% fosfat mengendap di lahan pertanian, pada tubuh
perairan, dan air tanah. Apabila akumulasi pupuk N dalam tanah semakin
banyak, maka penyerapan N bagi tanaman akan semankin tinggi, namun
apabila N mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi pada tanaman akan
menyebabkan tanaman tersebut mengalami plasmolisis. Hal ini dikarenakan N
merupakan salah satu unsur penyusun klorofil, apabila N terkandung dalam

klorofil cukup banyak makan klorofil dapat mengalami pembengkakan hingga


pecah dan akan menurunkan proses fotosintesis tanaman.

III.

KESIMPULAN

1. Lahan pasir pantai merupakan lahan yang mempunyai tanah bertekstur pasir,
struktur berbutir tunggal, daya simpan lengasnya rendah, status kesuburannya
rendah, evaporasi tinggi, dan tiupan angin laut kencang.
2. Proses yang menyebabkan endapan pasir besi di Kulon Progo tersebar di
sepanjang pantai berasal dari endapan vulkanik gunung Merapi yang terbawa
aliran sungai dan terhempas oleh gelombang dari Samudra Hindia yang kuat.

3. Manipulasi lahan agar lahan pantai dapat dimanfaatkan sebagai lahan


pertanian. Manipulasi yang dapat dilakukan antara lain penggunaan mulsa,
pemberian bahan organik, penggunaan bahan-bahan halus, penggunaan lapisan
kedap, penggunaan pemecah angin, penggunaan pembenah tanah, penggunaan
sistem lorong, serta hidrologi dan irigasi.
4. Dampak negatif pertanian dilahan pasir pantai yaitu berkurangnya peran
gumuk pasir dan terjadinya residu pupuk anorganik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Dampak Negatif Penggunaan Pupuk Kimia Pabrik.
<http://pengaruh-pupuk.blogspot.com/2013/03/dampak-negatifpenggunaan-pupuk-kimia.html> Diakses pada 23 Juni 2015.
Darmawidjaya, Isa. 1992. Klasifikasi Tanah. Balai Penelitian Teh dan Kina.
Dariah A. 2007. Bahan Pembenah Tanah : Prospek dan Kendala
Pemanfaatannya . Sinar Tani edisi 16 Mei 2007, Jakarta.
Gunadi, Sunarto. 2002. Teknologi Pemanfaatan Lahan Marjinal. Jurnal
Tekonologi Lingkungan 3 : 232-236.
Kastono, D., D. Shiddeq., Tohari., Endang dan Saparso. 2007. Pengaruh

Pemberian Lapis Kedap Bentonit, Frequensi dan Volume Pengairan


Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah di Lahan Pasir Pantai.
Kongres HITI ke IX, Yogyakarta, 5-7 Desember 2007.
Kertonegoro, B. D. 2001. Gumuk Pasir Pantai Di D.I. Yogyakarta : Potensi
dan Pemanfaatannya untuk Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar
Nasional Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Untuk Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan. Universitas Wangsa Manggala pada tanggal 02 Oktober
2001.
Kurniawan, A. 2009. Pengaruh Tanah Lempung dan Blotong yang Diperkaya dan
Digranulasikan terhadap Sifat Fisika dan Kimia Tanah serta
Pertumbuhan Tebu pada Psamment Kabupaten Purworejo. Fakultas
Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Mulyanto, D., S. Purwanti, Sukirno, B. Djadmo, Suhatmini, dan Mulyadi, 2001.
Design Pengembangan Sayuran Lahan Pasir Pantai. Laporan Kerjasama
Fakultas Pertanian UGM dengan Dinas Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Yogyakarta.
Munir, M. 1996. Tanah - Tanah Utama di Indonesia. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Putri, Fiadini. 2011. Bertani di Lahan Pasir Pantai. BBPP Lembang, Lembang.
Rahardjo, Wartono. 1955. Peta Geologi Lembar Yogyakarta 1:100.000, Jawa.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, Bandung.
Rajiman., 2010. Pemanfaatan Bahan Pembenah Tanah Lokal dalam Upaya
Peningkatan Produksi Benih bawang Merah di Lahan Pasir Pantai Kulon
Progo. Disertasi. Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta.
Shiddieq, D., Bambang, D.K., Wayan Sudana dan Ai Dariah. 2007. Optimalisasi
Lahan Pasir Pantai Bugel Kulon Progo untuk Pengembangan Tanaman
Hortikultura. Dengan Teknologi Inovatif Berwawasan Agribisnis.
Kerjasama antara PL2M-UGM dan Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian DEPTAN, Jakarta.
Shiddieq, D. dan Sulakhudin. 2009. Teknologi Inovatif Budidaya Sayuran Di
Lahan Pasir Pantai Kulonprogo Dalam Mendukung Ketahanan Pangan.
Workshop Nasional Pengembangan Diversifikasi Konsumsi Pangan dalam
Mendukung Ketahanan Pangan Menuju Masyarakat Sehat dan Produktif.
Diselenggarakan Oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Semarang,
Semarang.
Siahaan, R. M. H. 2012. Pengaruh Takaran Kompos Sampah Pasar terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Hitam (Glycine max (L) Merill). Fakultas
Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soil Survey Staff. 1998. Kunci Taksonomi Tanah Edisi Kedua. Balai Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
Strijke, D. (2005) Marginal lands in Europe-causes of decline. Basic and Applied
Ecology 6 : 99 - 106.
Triwahyuningsih, N. 1997. Pengaruh pemberian pupuk organik blotong terhadap
pertumbuhan akar dan hasil jagung (Zea mays, L) pada tanah pasir
pantai. Agr UMY 5 (3) : 1-5.
Wijaya, Surya. 2015. Gumuk Pasir, Apakah Nilai Manfaat Lebih Baik Dari Nilai
Aset?. <http://secangkircoklatkopi.blogspot.com/2015/04/gumuk-pasirapakah-nilai-manfaat-lebih.html> Diakses pada 23 Juni 2015.
Yuwono, N.W. 2009. Membangun Kesuburan Tanah di Lahan Marginal. Jurnal
Ilmu Tanah dan Lingkungan 9 (2) : 137-141.

LAMPIRAN
PERTANYAAN
1. Hani Farah Adiba
Dalam penggunaan bahan pembenah dengan memanfaatkan skim lateks.
Bagaimana pemberian skim lateks pada lahan pasir pantai?
Jawab.
Skim lateks merupakan lembaran karet yang sangat tipis dimanfaatkan pada
lahan pasir pantai yang berfungsi untuk menahan air atau sebagai lapisan
kedap, sehingga air tidak cepat masuk kedalam tanah akibat infiltrasi yang
cepat, mengingat lahan pasir pantai yang bersifat porus. Pemberian skim lateks

dapat dilakukan dengan menggali lahan pasir pantai hingga kedalaman 45 cm,
kemudian skim lateks yang berupa lembaran tadi di masukan pada lahan yang
telah digali, kemudian ditutup kembali dengan pasir.
2. Fajar Dwi Cahyoko
Dalam manipulasi lahan pasir pantai untuk lahan pertanian, digunakan bahan
organik. Bagaimana pengaplikasian bahan organik di lahan pasir pantai Bugel?
Jawab.
Bahan organik yang diberikan pada lahan pasir pantai dapat berupa pupuk
kandang, kompos, serta endapan lumpur sungai atau waduk. Kebutuhan bahan
organik pada lahan pasiran lebih banyak dari lahan konvensional. Pemberian
bahan organik dilahan pasir pantai yaitu sekitar 15 20 ton/Ha. Penelitian
menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sebanyak 20 ton/Ha dapat
menekan penggunaan NPK menjadi 200 kg/ ha.
3. Jonathan De Santo
Dalam penggunaan bahan pembenah, memanfaatkan lempung serta bentonit.
Berapa kombinasi lempung dan bentonit yang diberikan ke lahan pasir pantai?
Jawab.
Lempung merupakan bahan pembenah yang sangat penting dalam
pemanfaatan lahan pasir pantai sebagai lahan pertanian. Lempung yang
diberikan merupakan lempung tipe 2:1 yang berupa montmorillonit seperti
pada tanah vertisol. Pemberian bentonit pada lahan pasir pantai dapat
dilakukan dengan mencampur bentonit tersebut dengan pasir dengan
perbandingan Bentonit : pasir sebesar 15% : 85%, yang dibenamkan pada tanah
dengan tebal sekitar 2 cm.
4. Hendri Yuda Winanto
Mekanisme residu pupuk anorganik terutama pupuk N pada lahan pasir pantai?
Jawab.
Residu pupuk kimia anorganik di dalam tanah ini mengakibatkan terhambatnya
proses dekomposisi secara alami oleh mikrobia di dalam tanah. Hal ini
dikarenakan sifat bahan kimia anorganik yang lebih sukar terurai daripada sisa
bahan organik. Pupuk anorganik mengalami leaching atau pelindian yang
sangat besar di lahan pasir pantai, sehingga akan menyebaban pencemaran
pada air di lahan pasir pantai, dan membuat mikrobia akan mati akibat dari

pelindian pupuk anorganik. Selain itu, residu pupuk anorganik akan


menyebabkan penumpukan nitrat yang dapat menghambat mikrobia melakukan
proses dekomposisi dalam tanah. Dimana mikrobia tersebut berfungsi untuk
mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Menyebabkan terbatasnya
penyebaran akar dan terhambatnya suplai oksigen ke akar sehingga fungsi akar
tidak optimal dan akan menurunkan produktivitas tanaman.