Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Hari/tanggal: Sabtu, 27 Februari 2015

Manajemen Lab. Mutu Pagan

Dosen

: Dwi Yuni Hastati STP, DEA

Daftar Bahaya dan Penilaian Risiko


di Labiratorium Mikrobiologi
Kelompok 6 A/ P1

Dio Suciana Putri


Gyo Alif Utama

J3E114033
J3E114008

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen,


pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat
untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali.
Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya
laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium
komputer, dan laboratorium bahasa.
Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat
dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat
merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun
dan lain-lain. Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat
yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan
dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan
suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.
Manajarmen laboratorium adalah usaha untuk mengelola Laboratorium.
Bagaimana suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat diteentukan oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alatalat lab yang canggih, dengan staf propesional yang terampil belum tentudapat
beroperasi dengan baik, jik tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium
yang baik. Oleh karena itu, manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium.
Suatu manajemen labyang baik memiliki system organisasi yang baik,
uraian kerja (job description) yang jelas, pemanfaatan fasilitas yang efektif,
efisien, disiplin, dan administrasi yang baik pula. Bagaimana mengelola Lab
dengan baik menjadi tujuan utama, sehingga semua dikelola oleh Kepala
Laboratorium yang ahli, terampil di bidangnya dan berdedikasi tinggi serta penuh
tanggung jawab, termasuk peranan tenaga laborannya yang bertanggung jawab
atas semua kegiatan operasional yang dilakukan di Laboratorium masing-masing.
Keamanan dan keselamatan Laboratorium, serta keselamatan kerja di
Laboratorium merupakan faktor penting dalam pengelolaan (manajemen)
laboratorium.
Hal yang perlu diperhatikan dari penanggung jawab kegiatan
laboratorium. Penanggung jawab pelaksana kegiaatan tidak boleh membiarkan
praktikan melakukan kegiatan tanpa pengawasan dan bimbingannya, terutama
kepada praktikan yang masih dalam proses belajar. Oleh karena itu, penanggung
jawab pelaksana kegiatan Laboratorium harus bertanggung jawab atas keamanan
dan keselamatan Laboratorium pada umumnya serta keselamatan kerja praktikan.
Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana
dalam struktur organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang
berfungsi sebagai pengarah dan penasehat. Board of Management terdiri atas para

senior/profesor yang mempunyai kompetensi dengan kegiatan laboratorium yang


bersangkutan.
Laboratorium Mikrobiologi merupakan laboratorium bergerak dalam
bidang Pelayanan Masyarakat berupa Pemeriksaan Mikrobiologi Diagnostik
untuk pasien. Pasien dapat merupakan mahasiswa maupun staf di lingkungan
Universitas Brawijaya maupun pihak dari luar lingkungan Universitas Brawijaya.
Tujuan dari kegiatan pelayanan adalah untuk mendukung proses diagnosis
terhadap pasien / sampel yang dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi. Selain itu,
kegiatan tersebut juga dilakukan sebagai screening untuk penyakit-penyakit
infeksi tertentu yang bersifat kontagius dalam komunitas.
1.2 Tujuan
Untuk menganalisis bahaya yang terjadi pada laboratorium mikrobiologi
serta meminimalisir bahaya tersebut. Selanjutnya mengetahui pencegahan apabila
terjadi bahaya dan resiko yang terjadi.

2.2 Pembahasan

Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah


identifikasi bahaya kesehatan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi faktor-faktor
risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik, kimia, biologi, ergonomik, maupun
psikologi yang terpajan pada pekerja. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini
diperlukan pengamatan terhadap proses kegiatan produksi, bahan baku yang
digunakan, bahan atau barang yang dihasilkan termasuk hasil samping proses
produksi, serta limbah yang terbentuk proses produksi. Pada kasus terkait dengan
bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan material safety data sheets (MSDS)
untuk setiap bahan kimia yang digunakan, pengelompokan bahan kimia menurut
jenis bahan aktif yang terkandung, mengidentifikasi bahan pelarut yang
digunakan, dan bahan inert yang menyertai, termasuk efek toksiknya.
Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara simultan, sangat
mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin juga menjadi
kurang berbahaya. Sebagai contoh, lingkungan kerja yang bising dan secara
bersamaan terdapat pajanan/ paparan toluen, maka ketulian akibat bising akan
lebih mudah terjadi.
Proses penilaian pajanan merupakan bentuk evaluasi kualitatif dan
kuantitatif terhadap pola pajanan/ paparan kelompok pekerja yang bekerja di
tempat dan pekerjaan tertentu dengan jenis pajanan risiko kesehatan yang sama.
Kelompok itu dikenal juga dengan similar exposure group (kelompok pekerja
dengan pajanan yang sama). N Penilaian pajanan harus memenuhi tingkat akurasi
yang adekuat dengan tidak hanya mengukur konsentrasi atau intensitas pajanan,
tetapi juga faktor lain.
Pengukuran dan pemantauan konsentrasi dan
intensitas secara kuantitatif saja tidak cukup, karena pengaruhnya terhadap
kesehatan dipengaruhi oleh faktor lain itu. Faktor tersebut perlu dipertimbangkan
untuk menilai potensial faktor risiko (bahaya/hazards) yang dapat menjadi nyata
dalam situasi tertentu.
Risiko adalah probabilitas suatu bahaya menjadi nyata, yang ditentukan
oleh frekuensi dan durasi pajanan, aktivitas kerja, serta upaya yang telah
dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian tingkat pajanan. Termasuk yang
perlu diperhatikan juga adalah perilaku bekerja, higiene perorangan, serta
kebiasaan selama bekerja yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Hirarki Pengendalian Risiko merupakan suatu urutan-urutan dalam pencegahan
dan pengendalian risiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa tingkatan
secara berurutan. Salah satunya dengan membuat rencana pengendalian antara
lain :
a.Eliminasi(Elimination)

Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yang bersifat permanen


dan harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. Eliminasi
dapat dicapai dengan memindahkan obyek kerja atau sistem kerja yang
berhubungan dengan tempat kerja yang tidak dapat diterima oleh ketentuan,
peraturan atau standar baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang Batas
(NAB) yang diperkenankan. Cara pengendalian yang baik dilakukan adalah
dengan eliminasi karena potensi bahaya dapat ditiadakan.
b.Substitusi (Substitution)
Cara pengendalian substitusi adalah dengan menggantikan bahan-bahan
dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang
kurang berbahaya atau yang lebih aman.
c. Rekayasa Teknik (Engineering Control)
Pengendalian rekayasa teknik termasuk merubah struktur obyek kerja
untuk mencegah seseorang terpapar potensi bahaya.
d.Isolasi (Isolation)
Cara pengendalian yang dilakukan dengan memisahkan seseorang
dari obyek kerja.
e.Pengendalian Administrasi (Admistration Control)
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyediakan suatu sistem
kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya
yang tergantung dari perilaku pekerjanya dan memerlukan pengawasan yang
teratur untuk dipatuhinya pengendalian administrasi ini.
f. Alat Pelindung Diri (Administration Control)
Alat pelindung diri yang digunakan untuk membatasi antara terpaparnya
tubuh dengan potensi bahaya yang diterima oleh tubuh
Pada laboratorium mikrobiologi yang akan melakukan suatu uji
mikrobiologi diperlukan beberapa persiapan, mulai dari mikroskop dan alat-alat
yang akan dipakai. Peralatan yang dipakai memungkinkan adanya potensi bahaya
dan juga resiko yang ditimbulkan dari peralatan tersebut. Kegiatan yang dilakukan
di laboratorium mikrobiologi seperti penggunaan mikroskop, penggunaan
mikroskop memiliki potensi bahaya seperti terjatuh dan mempunyai resiko yang
dapat menimbulkan tulang patah, penanggulangan yang dilakukan ialah membuat
lemari sejajar dengan posisi tubuh, pengambilan mikroskop secara berhati-hati,
saat pengambilan keadaan tangan kering, dan penggunaan safety shoes.
Kemudian penggunaan bunsen saat melakukan uji mikrobiologi yang
menimbulkan bahaya terjatuh atau mungkin tumpahnya spiritus, resiko dari

bahaya tersebut dapat menimbulkan kebakaran. Penanggulangan yang dilakukan


yaitu mengikuti intruksi cara penggunaan Bunsen dan menyediakan APAR di
tempat pengujian.
Sebelum melakukan uji praktikan harus mempersiapkan peralatan yang
hampir keseluruhan peralatan berbahan gelas. Pada saat pengambilan maupun
pembersihan alat bahaya terjatuh mungkin dapat terjadi dengan resiko luka
ringan. Penanggulangan yang dapat dilakukan secara administrative adalah
penempatan alat yang jauh dari tepi meja agar resiko tersenggol dan menyebabkan
terjatuh dapat diminimalisir, lalu dengan menggunakan sepatu dan jaslab.
Pada saat pembuatan media baik dalam pemanasan maupun penuangan
media, menggunakan suhu tinggi dapat menimbulkan resiko iritasi kulit dan luka
bakar ringan. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan cara
administrative dengan menggunakan lap pada saat penuangan media, selalu
mengecek suhu pemanasan, dan menggunakan sarung tangan anti panas.
Selanjutnya saat inokulasi mikroba dengan menggunakan ose, bahaya
yang ditimbulkan adalah iritasi kulit pada saat kontak dengan ose panas yang
menyebabkan kulit melepuh. Penanggulangannya memenggunakan ose pada
batang dan tidak menyentuh kawat yang panas dan selalu berhati-hati dalam
penggunaan serta memakai APD berupa sarung tangan. Selanjutnya bahaya yang
ditimbulkan juga dari kontaminasi mikroba patogen menyebabkan keracunan,
penanggulangan yang dapat dilakukan ialah tidak melakukan kegiatan yang dapat
mengkontaminasi contohnya tidak berbicara, tidak banyak bergerak dan tidak
menggunakan benda yang berbahan logam serta menggunakan APD seperti
memakai hairnet, masker, sarung tangan dan safety shoes.
Penggunaan Hotplate saat tangan kontak dengan hotplate panas dapat
menimbulkan luka bakar ringan, penanggulangan yang dapat dilakukan yaitu
berhati-hati dan mengikuti instruksi penggunaan hotplate serta APD dengan
menyiapkan salep.
Selanjutnya setelah selesai melakukan pengujian dilakukan pembersihan
ruangan dengan cara pengepalan lantai, bahaya yang ditimbulkan terjatuh yang
menyebabkan luka ringan/kseleo. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah
menunggu lantai sampai kering dan memakai sepatu karet.
Saat melakukan dekontaminasi kemungkinan kontaminasi dapat terjadi
yang menyebabkan keracunan dan pencemaran lingkungan. Penanggulangan yang
dapat dilakukan adalah membuang media kultur tidak sembarangan dan
membuang ditempat khusus, APD yang digunakan adalah masker dan sarung
tangan.

Lalu dengan menggunakan autoklaf dengan suhu tinggi dapat


menimbulkan ledakan apabila tidak diawasi penggunaannya. Penanggulangannya
diletakkan ditempat terpisah dan diawasi oleh staf ahli, mengikuti instruksi
penggunaan autoklaf, dan memakai APD jas lab dan sarung tangan.
Pada penilaian resiko yang sudah dianalisis dan diidentifikasi, yang jarang
sekali terjadi adalah pada kegiatan pembuatan media, inokulasi dan juga
penggunaan autoklaf. Hal ini dapat terjadi karena pada kegiatan tersebut sudah
memiliki instruksi kerja yang sudah diberitahukan sebelum melakukan kegiatan
tersebut, dan pada penggunaan autoklaf juga sudah memiliki staf ahli untuk
mengoprasikan penggunaan alat tersebut. Untuk kategori jarang terjadi adalah
pada kegiatan penggunaan mikroskop, persiapan peralatan berbahan gelas,
pembuatan media, inokulasi, pembersihan ruangan, dan dekontaminasi. Hal ini
terjadi karena kegiatan-kegiatan tersebut masih tergolong kegiatan yang jarang
terjadi pada saat pengujian mikrobiologi di laboratorium. Sedangkan untuk
kemungkinan kegiatan yang mungkin saja terjadi adalah pada saat penuangan
bunsen dan penggunaan hotplate. Hal ini karena pada saat pengujian mikrobiologi
yang dilakukan di laboratorium mikrobiologi sering sekali terjadi karena kurang
telitinya praktikan.
Penilaian resiko selanjutnya yang menimbulkan konsekuensi bisa diobati
adalah persiapan peralatan berbahan gelas, pembuatan media, inokulasi,
penggunaan hotplate, dan pembersihan ruangan karena dampak yang ditimbulkan
tidak terlau serius dan dapat diberi pertolongan pertama. Kemudian konsekuensi
bencana adalah kegiatan penggunaan bunsen dan penggunaan autoklaf. Hal ini
terjadi karena dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan kerusakan yang
cukup parah seperti ledakan dan luka berat. Dan untuk konsekuensi fatal adalah
pada saat penggunaan mikroskop. Hal ini terjadi karena dapat menimbulkan rasa
sakit pada tubuh dan memerlukan pengobatan dari dokter. Sedangkan untuk
konsekuensi fatal adalah pada kegiatan dekontaminasi. Hal ini karena pada saat
dekontaminasi harus dilakukan dengan benar, jika tidak akan menimbulkan
kerusakan lingkungan maupun akan membahayakan orang yang melakukan
dekontaminasi,seperti keracunan, sehingga harus dilakukan dengan hati-hati dan
benar.
Penentuan resiko yang dengan penilaiam low, medium dan High
didapatkan dari hasil pencocokan aatau penyilangan dari data kemungkinan dan
konsekuensi yang diperoleh. Dari hasil data yang diperoleh, yang mendapatkan
resiko low adalah persiapan peralatan berbahan gelas, inolkulasi, penggunaan dan
penggunaan autoklaf. Untuk data resiko medium, adalah pada kegiatan
penggunaann mikroskop. Sedangkan untuk resiko high, adalah kegiatan
penggunaan bunsen, dekontaminasi dan penggunaan autoklaf.

3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan utama
dari program keselamatan dan kesehatan kerja adalah memberikan perlindungan
kepada pekerja dari bahaya kesehatan dan keselamatan yang berhubungan dengan
lingkungan kerja. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan mengelola risiko yang
teridentifikasi di lingkungan kerja.
3.2 Saran
Untuk pengendalian bahaya yang ditimbulkan dari alat, bahan serta
lingkungan kerja diperlukan SOP dan IK (Instruksi Kerja) yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Asri.2014.Makalah
Manajemen

Perencanaan

Pengelolaan

Laboratorium

Laboratorium.

(Online

http://asrie02.blogspot.co.id/2014/03/manajemenlaboratorium.html, (diakses pada tanggal 25 Februari 2016)


Budiono S. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Bunga
Rampai Hiperkes dan Keselamatan. Semarang, 2005.
Sukarso. 2005.

Pengertian Dan Fungsi Laboratorium. (Online

http://wanmustafa. wordpress.com/2011/06/12/pengertiandan-fungsi-laboratorium/,
Februari 2016)

(diakses

pada

tanggal

25