Anda di halaman 1dari 14

PERAN GURU DALAM

MELAKSANAKAN
PROGRAM PENCEGAHAN
MEROKOK PADA PELAJAR

Disampaikan pada saat workshop guru


Jakarta,
Desember 2012

Tahapan Perilaku Merokok


Perpatory

Initiation

Mendapatka
n gambaran
yang
menyenang
kan
mengenai
merokok
dengan cara
mendengar,
melihat atau
dari hasil
bacaan
Timbul
minat untuk
merokok

Perintisan
merokok
Apakah
seseorang
akan
meneruskan
atau tidak
terhadap
perilaku
merokok

Becoming a
Smoker
Mengkonsu
msi empat
batang per
hari

Maintance
of Smoking
Merokok
sudah
menjadi
salah satu
bagian cara
pengaturan
diri (self
regulating)
Memperoleh
efek
psikologis
yang
menyenang
kan

Program Pendidikan
Penanganan Perilaku
Merokok di Sekolah
Meningkatkan
pengetahuan siswa
tentang bahaya
merokok

Meningkatkan
pengetahuan siswa
tentang bagaimana
mengatasi
pengaruh teman
sebaya

Memberikan
ketrampilan yang
penting dalam
kehidupan
(membuat
keputusan)

Mempromosikan
berhenti merokok di
kalangan guru
sebagai tokoh
panutan

Membantu siswa
untuk mengetahui
praktek-praktek
pemasaran rokok

APA YANG MESTI DILAKUKAN GURU UNTUK


MEWUJUDKAN PROGRAM PENCEGAHAN
MEROKOK DI KALANGAN PELAJAR

Memberikan teladan kepada pelajar untuk tidak merokok


Mengintegrasikan pengajaran pengetahuan bahaya dan
resiko merokok dalam kegiatan belajar mengajar
Meminta masukan dengan semua stakeholder tentang
kebijakan pencegahan merokok di kalangan pelajar
Merumuskan program pencegahan merokok di kalangan
pelajar, termasuk pembuatan aturan Kawasan Tanpa
Rokok di Sekolah
Membuat tanda larangan merokok di sekolah
Mensosialisasikan kepada seluruh warga sekolah, bahwa
sekolah adalah KAWASAN TANPA ROKOK (KTR)
Monitoting dan Evaluasi dengan seluruh stakeholder
mengenai kebijakan pencegahan merokok di kalangan
pelajar secara berkala.

tema, jargon dan citra


remaja

Permainan Anak-anak

Murah dan dapat dibeli dimana saja

Perokok anak dan perempuan


meningkat
Jumlah perokok aktif perempuan
meningkat 4 kali lipat. Pada tahun
1995 ada 1,1 juta meningkat
menjadi 4,8 juta pada tahun 2007.
Perokok anak usia 10 -14 tahun
meningkat 6 kali lipat. Pada tahun
1995 sejumlah 71.100 orang
meningkat menjadi 426.200 pada
tahun 2010.
Perokok anak usia 5 9 tahun

Anak dan perempuan


sebagai perokok pasif
Analisis Promkes Kemenkes RI menunjukkan

- Prevalensi perokok pasif pada perempuan


66%
- Prevalensi pperokok pasif pada
perempuan berstatus kawin yaitu 70,4%,
- Prevalensi perokok pasif pada balita
sebesar 69,5%,
- Prevalensi perokok pasif anak umur 5-9
tahun sebesar 70,6%,
- Prevalensi perokok pasaif umur 10-14

Best practise dari negara


lain
Kawasan Tanpa Rokok melindungi
bukan perokok
Peringatan Kesehatan bergambar
pada bungkus rokok Edukasi
bahaya rokok
Cukai rokok tinggi, harga rokok
mahal membatasi akses rokok
Pelarangan Iklan, promosi dan
sponsor rokok mencegah dan
membatasi akses rokok

Bagaimana Indonesia ?
Tidak ratifikasi Framework Convention on
Tobacco Control (FCTC), walaupun terlibat
dalam penyusunan
RUU Pengendalian tembakau dipending
RPP belum juga ditandatangani
KTR : bermasalah dalam implementasi,
Cukai rokok : masih rendah, 47 %
Peringatan Kesehatan Bergambar : RPP
belum ditandatangani
Iklan, promosi dan sponsor rokok bebas
tanpa pengendalian

Inisiatif daerah untuk


melindungi anak dan
perempuan

Perda/pergub Kawasan Tanpa Rokok


69 kota/kab/prop : Padang Panjang,
Pontianak, Palembang, Bogor, Bukit
tinggi, Payakumbuh, Jakarta, Prop
Bali dll
Perda Pelarangan Iklan Rokok di luar
ruang : Padang Panjang, Bogor,
Payakumbuh, Bukit Tinggi,

Memberikan kepastian hukum untuk melindungi


pelajar dan remaja dari bahaya rokok

Mendorong dan mendukung Pemerintah untuk


melindungi pelajar dan remaja dari bahaya
rokok
Memberikan edukasi tentang pengetahuan
bahaya dan resiko merokok
Membuat kebijakan sekolah tentang larang
merokok
Edukasi lingkungan
Menjadikan rumah sebagai kawasan tanpa rokok

Pemerintah dan
Pengambil
Kebijakan
Masyarakat
Sekolah
Individu dan
Keluarga

Apa yang bisa kita lakukan?

TERIMAKASIH