Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

MANAJEMEN SEKOLAH
(AMPC 2804)
MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH
(MPMBS)
Dosen Pengasuh :
Dr. H. M. Zaini, M.Pd
Oleh :
Kelompok VIII
Adelita Indria Putri

(A1C213024)

Fitria Wulandari

(A1C213024)

Khairunnida Rahma

(A1C213022)

Lily Eliyani

(A1C213235)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
AGUSTUS 2015

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan Petunjuk serta Hidayah-Nya, kami sebagai penulis dapat
menyelesaikan Makalah mata kuliah Manajemen Sekolah.
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dan
dorongan dari berbagi pihak. Untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Bapak Dr. H. M. Zaini, M.Pd selaku dosen pembimbing Mata Kuliah
Manajemen Sekolah.
2. Orang tua yang telah memberikan dorongan baik material maupun
spiritual.
3. Seluruh rekan mahasiswa yang mengikuti Mata Kuliah Manajemen
Sekolah.
Kami sebagai penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini dikarenakan terbatasnya
pengetahuan, dan kemampuan kami sebagai penyusun. Walaupun demikian kami
telah berusaha dengan kemampuan yang ada untuk dapat menyelesaikan makalah
ini dengan sebaik - baiknya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan. Amin Ya Rabbal Alamin
Banjarmasin, Agustus 2015
Penyusun
Kelompok VIII

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................
Daftar Isi..................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................
1.4 Metode Penulisan................................................................................
............................................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS)............................................................................................
2.2 Tujuan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
............................................................................................................
2.3 Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
............................................................................................................
2.4 Perbedaan Pola Manajemen Lama dan Baru......................................
2.5 Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu berbasis sekolah
(MPMBS) ...........................................................................................
2.6 Tahap-tahap Pelaksanaan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS)..............................................................................
2.7 Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS)...............................................................
............................................................................................................
15
2.8 Penyusunan Program dan Pelaporan Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS)...............................................................
............................................................................................................
15

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ....................................................................................... .
............................................................................................................
21
3.2 Saran ................................................................................................. .
21

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
23

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia
adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan,
khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum
nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan
buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana
pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian,
berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti.
Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu
pendidikan yang cukup

menggembirakan, namun sebagian lainnya masih

memprihatinkan.
Fenomena di atas diantaranya disebabkan, pertama: karena selama ini
penyelenggaraan pendidikan terlalu memusatkan pada input pendidikan dan
kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan
sangat menentukan output pendidikan.

Kedua: penyelenggaran pendidikan

nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah


sebagai penyelenggaraan pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi
dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi
sekolah setempat. Sekolah lebih merupakan subordinasi birokrasi diatasnya
sehingga

mereka

kehilangan

kemandirian,

keluwesan,

motivasi,

kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk


peningkatan

mutu

pendidikan

sebagai

salah

satu

tujuan

pendidikan

nasional. Ketiga: peran serta warga sekolah khususnya guru dan peran serta
masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama

ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan,
partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan
dana. Sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan hasil
pelaksananaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa,
sebagai salah satu

unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan

(stakeholder).
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu
dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi
penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis
pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa latar belakang manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
(MPMBS)?
2. Apa tujuan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS)?
3. Apa saja konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS)?
4. Bagaimana perbedaan pola manajemen lama dan baru ?
5. Apa saja karakteristik manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
(MPMBS)?
6. Bagaimana tahap-tahap pelaksanaan manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah (MPMBS)?
7. Bagaimana monitoring dan evaluasi dalam manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah (MPMBS)?
8. Bagaimana penyusunan program dan pelaporan manajemen peningkatan
mutu berbasis sekolah (MPMBS)?
1.3 Tujuan
Tujuan pembelajaran berdasarkan rumusan masalah tersebut adalah:
1. Untuk menjelaskan latar belakang manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah (MPMBS).
2. Untuk menjelaskan tujuan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
(MPMBS).
3. Untuk menjelaskan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
(MPMBS).
4. Untuk menjelaskan perbedaan pola manajemen lama dan baru.

5. Untuk menjelaskan karakteristik manajemen peningkatan mutu berbasis


sekolah (MPMBS).
6. Untuk menjelaskan tahap-tahap pelaksanaan manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah (MPMBS).
7. Untuk menjelaskan monitoring

dan

evaluasi

dalam

manajemen

peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).


8. Untuk menjelaskan penyusunan program dan pelaporan manajemen
peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).
1.4 Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini kami mengunakan metode diskripsi dan
kepustakaan yakni membaca dari sumber buku dan internet yang telah disesuaikan
dengan pokok bahasan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Latar Belakang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah


(MPMBS)

a. Pengertian Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)


Belakangan ini dunia pendidikan di Indonesia telah berupaya untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu upaya yang nampak dilakukan
adalah dengan menggalakkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
(MPMBS), yang lebih dikenal dengan istilah manajemen berbasis sekolah
(MBS). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada
peningkatan mutu pendidikan, secara otonomi direncanakan, diorganisasikan,
dilaksanakan, dan dievaluasi melibatkan semua stakeholder sekolah.
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) juga dapat
didefinisikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih
besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan
keputusan secara partisipatif untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau
untuk

mencapai

tujuan

mutu

sekolah

dalam

kerangka

pendidikan

nasional. Oleh karena itu, esensi MPMBS adalah otonomi sekolah dan
pengambilan keputusan partisipasif untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
Secara operasional MPMBS dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses
pendayagunaan keseluruhan komponen pendidikan dalam rangka peningkatan
mutu pendidikan yang diupayakan sendiri oleh kepala sekolah bersama semua
pihak yang terkait atau berkepentingan dengan mutu pendidikan.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2001:3)
mendefinisikan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah sebagai
sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada
sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan
secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah,
karyawan, orang tua siswa dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu
sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.
Definisi MPMBS yang dikemukakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar
dan Menengah memberikan pemahaman bahwa inti dari MPMBS adalah
pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong

pengambilan keputusan partisipatif dengan melibatkan secara langsung semua


warga sekolah.
b. Sejarah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Di Indonesia latar belakang munculnya MBS tidak jauh berbeda dengan
Negara-Negara maju yang lebih dulu menerapkannya. Perbedaan yang
mencolok hanya lambatnya kesadaran para pengambil kebijakan pendidikan
di Indonesia. Negara maju sudah banyak mengadakan reformasi pendidikan
pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an, sementara Indonesia reformasi
pendidikan tersebut terjadi 30 tahun kemudian.
Di Indonesia munculnya gagasan MBS sejalan dengan pelaksanaan
otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah.
Pengelolaan pendidikan di Indonesia selama ini sangat bersifat sentralistik, di
mana pusat sangat dominan dalam pengambilan keputusan, sebaliknya daerah
dan sekolah bersifat fasif hanya sebagai penerima dan pelaksana perintah
pusat. Pola kerja sentralistik itu sering mengakibatkan adanya kesenjangan
antara kebutuhan ril sekolah dengan perintah dengan perintah atau apa yang
digariskan oleh pusat. Sistem sentralistik dinilai kurang bisa memberikan
pelayanan yang efektif dan tidak mampu menjamin kesinambungan kegiatan
lokal. Oleh karena itu perlu adanya formula baru dalam pengelolaan
pendidikan di Indonesia. Formula baru itu memungkinkan sekolah memiliki
otonomi yang seluas-luasnya, yang menuntut peran serta masyarakat secara
optimal. Dengan dasar inilah muncul penerapan MBS di Indonesia.
Penerapan MBS di Indonesia diawali dengan dikeluarkannya undangundang No.25 tahun 2000 tentang Rencana Strategis Pembangunan Nasional
tahun 2000-2004. Konsep MBS ini kemudian tertuang dengan jelas dalam
undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 51 Yaitu :
1. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah.

2. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip


otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan.
Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia menggunakan model
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) muncul
karena beberapa alasan antara lain, pertama, sekolah lebih mengetahui
kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah
dapat mengoptimalkan pemampaatan sumber daya yang tersedia untuk
memajukan sekolahnya. Kedua sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.
Ketiga, keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan
keputusan dapat mencipatakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
MBS adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar
kepada sekolah, fleksibilitas kepada sekolah dan mendorong partisipasi
secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu
sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Oleh Karena itu MBS di Indonesia
merupakan pola baru dalam di dunia pendidikan yang diharapkan dapat
memberikan angin segar terhadap peningkatan mutu pendidikan.
c. Landasan Hukum Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS)
Otonomisasi sekolah yang dipayungi oleh Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) diamanatkan oleh bebarapa dasar hukum di antaranya:
1. Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional (Propenas) secara jelas menyebutkan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) merupakan pola pembinaan sekolah/lembaga pendidikan
di Indonesia.
2. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal
(51) ayat (1)secara tegas dinyatakan "Pengelolaan satuan pendidikan anak
usia

dini,

pendidikan

dasar,

dan

pendidikan

menengah

dilaksanakan, berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan


prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah."

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah,


bahwa secara langsung atau tidak, daerah dan sekolah memiliki
kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan secara otonomi dan
4.

bertanggung jawab.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 pasal (3) Badan Hukum Pendidikan
menyatakan bahwa Badan Hukum Pendidikan bertujuan memajukan
pendidikan

nasional

dengan

menerapkan

Manajemen

Berbasis

Sekolah/Madrasaah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dan


otonomisasi perguruan tinggi pada jenjang pendidikan tinggi.
2.2 Tujuan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Adapun tujuan dari pelaksanaan Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah
dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat

dalam

penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.


3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan
pemerintah tentang mutu sekolah.
4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah untuk pencapaian
mutu pendidikan yang diharapkan.
5. Memberdayakan potensi sekolah yang ada agar menghasilkan lulusan yang
berhasil guna dan berdaya guna.
Sedangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2001:
4) mengutarakan bahwa Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
dianggap perlu diterapkan di Indonesia dengan alasan sebagai berikut:
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
bagi dirinya sehingga ia dapat mengoptimalkanpemanfaatan sumber daya
yang tersedia untuk memajukan sekolahnya;
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input
pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses
pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta
didik;

3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk


memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu
apa yang terbaik bagi sekolahnya;
4. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana
dikontrol oleh masyarakat setempat;
5. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan
keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masingmasing
kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada
umumnya, sehingga ia akan berupaya semaksimal mungkin untuk
melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah
direncanakan;
6. Sekolah

dapat

sekolahsekolahlain

melakukan
untuk

persaingan

meningkatkan

yang

mutu

sehat

pendidikan

dengan
melalui

upayaupaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat


dan pemerintah daerah setempat;
7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan
yang berubah dengan cepat.

2.3 Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)


Seperti telah diuraikan di depan bahwa MPMBS adalah model manajemen
baru yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan
keluwesan kepada sekolah untuk mengelola sumber daya dan mendorong
sekolah meningkatkan partisipasi warganya untuk mencapai tujuan mutu sekolah
dalam kerangka pendidikan nasional. Oleh karenanya esensi atau konsep dasar
dari Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) adalah otonomi
sekolah, fleksibelitas dan partisipasi untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan/kemandirian yaitu kemandirian
dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, dan merdeka tidak tergantung.
Kemandirian dalam program dan pendanaan merupakantolok ukur utama

kemandirian sekolah. Bagi sekolah yang akan menerapkan MBS perlu


menyiapkan persyaratan berikut. Persyaratan berikut bukan dimaksudkan untuk
menghambat sekolah yang tidak memenuhinya. Namun persyaratan berikut lebih
merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan
MBS. Jika suatu sekolah hanya memenuhi sebagaian persyaratan, maka sekolah
tersebut tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan berikut.
Persyaratan berikut bukan harga mati, akan tetapi lebih merupakan petunjuk
yang masih terbuka untuk dimodifikasi, dikurangi atau ditambah sesuai dengan
karateristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. Adapun persyaratan-persyaratan
yang dimaksud adalah :
1. Kapasitas kelembagaaan yang memadai untuk menerapkan MBS, seperti
misalnya manajemen sekolah yang memadai, kesipan sumberdaya manusia
dan sumberdaya selebihnya (dana peralatan, perlengkapan, bahan dsb.).
2. Budaya yang kondusif bagi penyelenggaraan MBS yaitu penghargaan
terhadap perbedaan pendapat, menjungjung tinggi hak asasi manusia,
musyawarah mufakat dapat dilaksanakan, demokrasi pendidikan dapat
ditumbuhkan, masyarakat dapat disadarkan akan pentingya pendidikan, dan
masyarakat dapat digerakkan untuk mendukung MBS. Sekolah memiliki
kemampuan membuat kebijakan, rencana dan program sekolah untuk
menyelenggarakan MBS. Sekolah memiliki system untuk mempromosikan
akuntanbilitas sekolah terhadap publik, sehingga sekolah akan merupakan
bagian dari masyarakat dan bukannya sekolah berada dimasyarakat.
Dukungan pemerintah pusat dan daerah yang ditunjukkan oleh
pemberian pengarahan dan pembimbingan, baik dalam bentuk pedoman
pelaksanaan, petunjuk pelaksanaan, dan lain-lain yang diperlukan untuk
kelancaran penyelenggaraan MBS.

2.4 Perbedaan Pola Manajemen Lama dan Baru


Terdapat perbedaan yang mendasar antara pola lama dengan pola baru
manajemen pendidikan. Pada pola lama manajemen pendidikan, tugas dan
fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program daripada mengambil
inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang
dibuat sendiri oleh sekolah. Sementara itu, pada pola baru manajemen

pendidikan sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan


lembaganya, pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan
partsisipasi masyarakat makin besar, sekolah lebih luwes dalam mengelola
lembaganya,

pendekatan

profesionalisme

lebih

diutamakan

daripada

pendekatan birokrasi, pengelolaan sekolah lebih desentralistik, perubahan


sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar
sekolah, regulasi pendidikan lebih sederhana, peranan pusat bergeser dari
mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi,
dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko, penggunaan uang lebih
efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun
depan

(efficiency-based

informasi

terbagi

ke

budgeting),
semua

lebih

warga

mengutamakan

sekolah,

lebih

teamwork,

mengutamakan

pemberdayaan, dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien.

2.5 Karakteristik

Manajemen

Peningkatan

Mutu

berbasis

sekolah

(MPMBS)
MPMBS memiliki karakteristik yang harus dipahami oleh sekolah yang
menerapkan. Jika sekolah ingin sukses, maka sekolah harus memiliki
karakteristik MPMBS yang diharapkan. Berbicara karakteristik MPMBS
tidak terlepas dari karakteristik sekolah yang efektif. Jika MPMBS
merupakan wadahnya, maka karakteristik MPMBS merupakan isinya.
Dengan

memandang

karakteristik

MPMBS

sebagai

sistem,

uraian

karakteristik MPMBS didasarkan atas input, proses, dan output.


1. Input Pendidikan
Input adalah sesuatu yang harus tersedia untuk berlangsungnya proses.
Input juga disebut sesuatu yang berpengaruh terhadap proses. Input
merupakan prasyarat proses. Input terbagi empat yaitu input SDM, input
sumber daya, input manajemen, dan input harapan. Input SDM meliputi:
kepala sekolah, guru, pengawas, staf TU, dan siswa. Input sumber daya
lainnya meliputi: peralatan, perlengkapan, uang, dan bahan. Input perangkat

(manajemen) meliputi:struktur organisasi, peraturan perundang-undangan,


deskripsi tugas, kurikulum, rencana, dan program. Input harapan meliputi:
visi, misi, strategi, tujuan, dan sasaran sekolah. Input pendidikan meliputi:
(1) memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas;
(2) sumberdaya tersedia dan siap;
(3) staf yang kompeten dan berdekasi tinggi;
(4) memiliki harapan prestasi yang tinggi,
(5) fokus pada pelanggan (khususnya siswa),
(6) manajemen (Depdiknas, 2002).
Tinggi rendahnya mutu input tergantung kesiapan input. Makin tinggi
kesiapan input, makin tinggi pula mutu input. Kesiapan input sangat
diperlukan agar proses berjalan dengan baik. Proses bermutu tinggi bila
pengkoordinasian, penyerasian input harmonis sehingga mampu menciptakan
situasi belajar yang menyenangkan, mampu mendorong motivasi belajar, dan
benar-benar memberdayakan siswa. Memberdayakaan siswa mengandung
makna siswa menguasai iptek yang diajarkan, menghayati, mengamalkan, dan
mampu belajar cara belajar (mampu mengembangkan dirinya). Output
bermutu

tinggi

bila

sekolah

menghasilkan

prestasi

akademik

dan

nonakademik siswa, dan prestasi lainnya seperti yang telah diungkapkan di


atas.
2. Proses Pendidikan
Proses ialah berubahnya sesuatu (input) menjadi sesuatu yang lain
(output). Di tingkat sekolah, proses meliputi pelaksanaan administrasi dalam
arti proses (fungsi) dan administrasi dalam arti sempit.
Sekolah yang efektif memiliki :
a. PBM yang efektivitasnya tinggi;
b. kepemimpinan sekolah yang kuat;
c. lingkungan sekolah yang aman dan tertib;
d. penggelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif;
e. memiliki budaya mutu;

f. memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis;


g. memiliki kewenangan (kemandirian);
h. partisipasi stakeholder tinggi;
i. memiliki keterbukaan manajemen;
j. memiliki kemauan dan kemampuan untuk berubah (psikologis dan fisik);
k. melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan;
l. responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan;
m. komunikasi yang baik;
n. memiliki akuntabilitas; dan
o. sekolah memiliki sustainabilitas (Depdiknas, 2002).
3. Output yang Diharapkan
Output pendidikan adalah kinerja (prestasi) sekolah. Kinerja sekolah
dihasilkan dari proses pendidikan. Output pendidikan dinyatakan tinggi jika
prestasi sekolah tinggi dalam hal:
(1)

Prestasi akademik siswa berupa nilai ulangan umum, Nilai Ujian Akhir
Nasional (NUAN), Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), lomba
karya ilmiah remaja, lomba Bahasa Inggris, Lomba Fisika, Lomba
Matematika;

(2)

Prestasi nonakademik siswa seperti imtaq, kejujuran, kerjasama, rasa


kasih

sayang,

keingintahuan,

solidaritas,

toleransi,

kedisiplinan,

kerajinan, prestasi olahraga, kesopanan, olahraga, kesenian,


kepramukaan, keterampilan, harga diri, dan kegiatan ekstrakurikuler
lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh tahapan kegiatan yang saling
mempengaruhi

(proses)

yaitu

perencanaan,

pelaksanaan,

dan

pengawasan; dan
(3)

Prestasi lainnya seperti kinerja sekolah dan guru meningkat, kepuasan,


kepemimpinan kepala sekolah handal, jumlah peserta didik yang
berminat masuk ke sekolah meningkat, jumlah putus sekolah menurun,
guru dan tenaga tata usaha yang pindah dan berhenti berkurang, peserta
didik dan guru serta tenaga tata usaha yang tidak hadir berkurang,

hubungan sekolah-masyarakat meningkat, dan kepuasan stakeholder


meningkat.
2.6 Tahap-tahap Pelaksanaan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah
(MPMBS)
Tahapan pelaksanaan MPMBS bersifat umum dan luwes. Tahapan
MPMBS dibuat dengan tujuan untuk:
(1) Membantu sekolah agar MPMBS dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien;
(2) Membantu sekolah dalam menyusun rencana dan program-programnya
untuk mendapatkan dukungan dana dari sponsor kompeten, dan
(3) Melakukan uji coba pelaksanaan konsep MPMBS
Adapun Tahap-tahap Pelaksanaan MPMBS yaitu :
1. Mensosialisasikan konsep MPMBS
Mensosialisasikan konsep MPMBS ke seluruh stakeholder yang terkait
melalui pelatihan, workshop, semiloka, diskusi, forum ilmiah, dan media
massa. Dalam sosialisasi tersebut, dijelaskan apa, mengapa, dan bagaimana
konsep MPMBS diselenggarakan. Kepala sekolah membaca dan membentuk
budaya MPMBS di sekolahnya masing-masing (Depdiknas, 2002).
2. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Sekolah (Tujuan
Situasional Sekolah)
Sekolah yang melaksanakan MPMBS harus membuat rencana
pengembangan sekolah. Rencana pengembangan sekolah pada umumnya
mencakup perumusan visi, misi, tujuan sekolah dan strategi pelaksanaannya.
Sedangkan rencana kerja tahunan sekolah pada umumnya meliputi
pengidentifikasian sasaran sekolah (tujuan situasional sekolah), pemilihan
fungsi-fungsi sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah
diidentifikasi, analisis SWOT, langkah-langkah pemecahan persoalan, dan
penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Berikut diuraikan

secara singkat mengenai perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah
(tujuan situasional sekolah).
a. Visi
Setiap sekolah harus memiliki visi. Visi adalah wawasan yang menjadi
sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk memandu perumusan misi
sekolah. Dengan kata lain, visi adalah pandangan jauh ke depan kemana
sekolah akan dibawa. Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh
sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup
dan perkembangannya.
Contoh visi sekolah: Unggul dalam prestasi berdasarkan imtaq.
Indikator visi:
(1) unggul dalam NEM
(2) unggul dalam persaingan ke pendidikan di atasnya
(3) unggul dalam lomba karya ilmiah remaja
(4) unggul dalam lomba kreativitas
(5) unggul dalam lomba kesenian
(6) unggul dalam lomba olahraga
(7) unggul dalam disiplin
(8) unggul dalam aktivitas keagamaan, dan
(9) unggul dalam kepedulian sosial.
b. Misi
Misi adalah tindakan mewujudkan visi. Dalam merumuskan misi, harus
dipertimbangkan tugas pokok sekolah dan kepentingan stakeholders. Contoh
misi:
(1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif.
(2) Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh
warga sekolah.
(3) Mendorong dan membantu siswa mengenali potensi dirinya.
(4) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga
budaya bangsa.

c. Tujuan
Tujuan ialah sesuatu yang akan dicapai/dihasilkan sekolah. Jika misi
berjangka waktu lebih dari 5 tahun, maka tujuan berjangka waktu 3-5
tahun.Contoh, sebuah sekolah telah menetapkan 9 indikator visi, tetapi
tujuannya sampai 2005 baru mencakup 5 indikator visi sehingga tujuannya
menjadi sebagai berikut.
(1) Tahun 2008 nilai peningkatan prestasi meningkat 0,1
(2) Tahun 2008 proporsi lulusan melanjutkan ke sekolah unggul minimal 30%
(3) Tahun 2008 memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi finalis LKIR
Nasional
(4) Tahun 2008 memiliki tim olah raga mampu menjadi finalis tingkat
propinsi minimal 2 cabang olah raga.
(5) Tahun 2008 memiliki tim kesenian yang mampu tampil di tingkat propinsi
minimal 5 kali tampil.
d. Sasaran (Tujuan Situasional)
Sasaran

ialah

penjabaran

tujuan.

Sasaran

harus

mengandung

peningkatan baik mutu, produktivitas, efektivitas, maupun efisiensi. Sasaran


berjangka waktu satu tahun. Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif,
sasaran harus SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, and Time
bounding). Walaupun sasaran merupakan penjabaran tujuan, namun dalam
penentuan

sasaran

yang

mana

dan

berapa

besarnya

harus

tetap

memperhatikan tantangan nyata yang dihadapi sekolah. Meskipun sasaran


sekolah dirumuskan dari tantangan nyata sekolah, namun perumusan sasaran
harus mengacu pada visi, misi, dan tujuan sekolah karena visi, misi, dan
tujuan sekolah merupakan sumber pengertian dalam merumuskan sasaran
sekolah. Karena itu, sebelum merumuskan sasaran, harus lebih dahulu
merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah
3. Mengidentifikasi Fungsi - fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai
Sasaran

Setelah

sasaran

ditetapkan

maka

langkah

berikutnya

adalah

mengidentifikasi fungsi-fungsi yang digunakan untuk mencapai sasaran yang


masih perlu diteliti tingkat kesiapannya antara lain fungsi manajemen seperti
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program sekolah.
4.

Melakukan Analisis SWOT


Analisis SWOT dilakukan untuk mengenali tingkat kesiapan sekolah
untuk mencapai sasaran sekolah. Kekuatan adalah faktor dari dalam sekolah
yang mendorong pencapaian sasaran. Peluang adalah faktor dari luar sekolah
yang mendorong pencapaian sasaran. Kelemahan adalah faktor dari dalam
sekolah yang menghambat pencapaian sasaran.

5.

Alternatif Langkah Pemecahan Masalah


Dari hasil analisis SWOT dapat dilakukan tindakan yang diperlukan
untuk merubah fungsi yang tidak siap menjadi siap. Tindakan ini disebut
langkah- langkah pemecahan persoalan, yang pada hakekatnya merupakan
tindakan mengatasi kelemahan menjadi kekuatan, dan ancaman menjadi
peluang.
6.

Menyusun Rencana dan Program Sekolah


Rencana peningkatan mutu meliputi jangka pendek, menengah, dan
panjang serta program-program untuk merealisasikan rencana tersebut.
Karena sekolah selalu terbatas sumber dayanya, maka perlu ditetapkan skala
prioritas. Rencana harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang: siapa
yang melakukan, apa yang dilakukan, bilamana dilakukan, di mana
dilakukan, bagaimana melakukan dan bagaimana biayanya. Hal ini untuk
memudahkan pelaksanaan dan dukungan moral maupun finansial dari
stakeholders. Hal pokok yang perlu diperhatikan oleh sekolah dalam
menyusun rencana adalah keterbukaan kepada stakeholders khususnya orangtua/Dewan Sekolah. Jika rencana merupakan deskripsi hasil yang diharapkan
dan dapat digunakan untuk keperluan penyelenggaraan kegiatan sekolah,

maka program adalah alokasi sumber daya sekolah ke dalam kegiatan


menurut jadwal waktu dan tata laksana yang sinkron. Dengan kata lain,
program adalah bentuk dokumen yang menggambarkan langkah mewujudkan
sinkronisasi dalam ketatalaksanaan (Depdiknas,2002).
7. Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu
Sekolah hendaknya: (1) proaktif melaksanakan rencana yang sudah
disetujui

stakeholders;

(2)

mendayagunakan

sumberdaya

pendidikan

semaksimal mungkin, (3) menggunakan pengalaman-pengalaman yang


efektif, teori-teori yang cocok untuk meningkatkan mutu; (4) bebas
mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program karena
itu harus bebas dari keterikatan birokratis yang biasanya menghambat
penyelenggaraan pendidikan; (5) menerapkan konsep belajar tuntas (mastery
learning). Artinya siswa harus menguasai materi pelajaran secara utuh dan
bertahap sebelum melanjutkan pembelajaran ke topik-topik lain. Untuk
menghindari berbagai penyimpangan kepala sekolah harus melakukan
supervisi dan monitoring kegiatan-kegiatan peningkatan mutu. Kepala
sekolah sebagai manajer dan leader berhak mengarahkan, mendukung, dan
menegur jika akan terjadi dan terjadi penyimpangan. Tetapi, arahan,
dukungan, dan teguran tersebut jangan sampai membuat warga sekolah
menjadi amat terkekang sehingga sasaran tidak tercapai (Depdiknas, 2002).
8. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan
Evaluasi pelaksanaan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program.
Sekolah perlu melakukan evaluasi pelaksanaan program baik jangka pendek,
menengah, maupun jangka panjang. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap
akhir catur wulan. Jangka menengah setiap akhir tahun. Jangka panjang setiap
akhir lima tahun. Dalam melakukan evaluasi kepala sekolah harus melibatkan
stakeholders.Sebelum melakukan evaluasi perlu disepakati sejak awal
indikator-indikator keberhasilan setiap program. Hasil evaluasi perlu dibuat
laporannya yang terdiri laporan teknis dan keuangan Jika sekolah melakukan

upaya-upaya penambahan pendapatan, maka pendapatan tambahan itu harus


dilaporkan

sebagai

bentuk

pertangungjawaban

(akuntabilitas)

yang

dikirimkan kepada atasan dan dewan sekolah.


10. Sasaran Baru
Hasil evaluasi pelaksanaan dapat dipakai untuk alat perbaikan kinerja
program yang akan datang. Hasil evaluasi merupakan umpan balik atau
masukan bagi sekolah dan orang tua siswa untuk merumuskan sasaran
program baru untuk tahun yang akan datang. Bila dianggap berhasil maka
sasaran dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuan sumber daya yang
tersedia. Jika gagal maka sasaran dapat saja tetap seperti sedia kala, namun
dilakukan perbaikan strategi dan mekanisme pelaksanaan kegiatan. Setelah
sasaran baru ditetapkan, selanjutnya dilaksanakan analisis SWOT untuk
mengetahui tingkat kesiapan masing- masing fungsi manajemen dalam
sekolah sehingga dapat diketahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman dalam rangka penyusunan rencana dan program baru.
2.7 Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS)
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional mengamanatkan Pengendalian dan Evaluasi terhadap
pelaksanaan rencana pembangunan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 39
Tahun 2006, disebutkan bahwa monitoring merupakan suatu kegiatan
mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga
perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau
informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi
landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan.
Tindakan tersebut diperlukan seandainya hasil pengamatan menunjukkan
adanya hal atau kondisi yang tidak sesuai dengan yang direncanakan semula.
Tujuan Monitoring untuk mengamati/mengetahui

perkembangan dan

kemajuan,

identifikasi

dan

permasalahan

serta

antisipasinya/upaya

pemecahannya.
Definisi

Evaluasi

menurut

OECD,

disebutkan

bahwa

Evaluasi

merupakan proses menentukan nilai atau pentingnya suatu kegiatan,


kebijakan, atau program. Evaluasi merupakan sebuah penilaian yang
seobyektif dan sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang
direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Hal-hal
yang harus dievaluasi yaitu proyek, program, kebijakan, organisasi, sector,
tematik, dan bantuan Negara.
Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan
(input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.
Evaluasi merupakan merupakan kegiatan yang menilai hasil yang diperoleh
selama kegiatan pemantauan berlangsung. Evaluasi bertujuan untuk melihat
tingkat keberhasilan pengelolaan kegiatan, melalui kajian terhadap manajemen
dan output pelaksanaannya serta permasalahan yang dihadapi, untuk
selanjutnya menjadi bahan evaluasi kinerja program dan kegiatan selanjutnya.
Bentuk evaluasi berupa pengkajian terhadap manajemen dan output
pelaksanaannya serta permasalahan yang dihadapi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Monitoring lebih menekankan kepada
proses

pelaksanaan

MPMBS:

pembuatan

keputusan,

pengelolaan

kelembagaan, pengelolaan program, pengelolaan PBM dan evaluasi.


Sedangkan evaluasi lebih menekankan pada tagihan teradap hasil MPMBS;
perbandingan sasaran yang telah diterapkan dengan hasil yang dicapai,
2.8 Penyusunan Program dan Pelaporan Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS)
Berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut, sekolah
bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana untuk jangka
pendek, menengah, dan panjang, beserta program-programnya untuk
merealisasikan rencana tersebut. Sekolah tidak selalu memiliki sumberdaya
yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bagi pelaksanaan MPMBS,

sehingga perlu dibuat skala prioritas untuk jangka pendek, menengah, dan
panjang. Rencana yang dibuat harus menjelaskan secara detail dan lugas
tentang: aspek-aspek mutu yang ingin dicapai, kegiatan-kegiatan yang harus
dilakukan, siapa yang harus melaksanakan, kapan dan dimana dilaksanakan,
dan berapa biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan
tersebut. Hal ini diperlukan untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan
dan memperoleh dukungan dari pemerintah maupun dari orangtua siswa, baik
dukungan pemikiran, moral, material maupun finansial untuk melaksanakan
rencana peningkatan mutu pendidikan tersebut. Rencana yang dimaksud
harus juga memuat rencana anggaran biaya (rencana biaya) yang diperlukan
untuk merealisasikan rencana sekolah. Hal pokok yang perlu diperhatikan
oleh sekolah dalam penyusunan rencana adalah keterbukaan kepada semua
pihak yang menjadi stakeholder pendidikan, khususnya orangtua siswa dan
masyarakat (BP3/Komite Sekolah) pada umumnya. Dengan cara demikian
akan diperoleh kejelasan, berapa kemampuan sekolah dan pemerintah untuk
menanggung biaya rencana ini, dan berapa sisanya yang harus ditanggung
oleh orangtua peserta didik dan masyarakat sekitar. Dengan keterbukaan
rencana ini, maka kemungkinan kesulitan memperoleh sumber dana untuk
melaksanakan rencana ini bisa dihindari. Dengan kata lain, program adalah
bentuk dokumen untuk menggambarkan langkah mewujudkan sinkronisasi
dalam ketatalaksanaan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) MPMBS ialah model manajemen pendidikan yang otonomi lebih besar
kepada sekolah, memberikan fleksibilitas (keluwesan) kepada sekolah, dan
mendorong partisipasi secara langsung stakeholder untuk meningkatkan
mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2) Tujuan umum MPMBS adalah untuk memandirikan atau memberdayakan
sekolah.
3) Konsep dasar dari Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS) adalah otonomi sekolah, fleksibelitas dan partisipasi untuk
mencapai sasaran mutu sekolah.
4) Pada pola lama manajemen pendidikan, tugas dan fungsi sekolah lebih

pada melaksanakan program daripada mengambil inisiatif merumuskan


dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh
sekolah. Sementara itu, pada pola baru manajemen pendidikan sekolah
memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya,
pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi
masyarakat makin besar dan sekolah lebih luwes dalam mengelola
lembaganya.
5) Karakteristik MPMBS didasarkan atas output, proses, dan input.
6) Ada 10 Tahapan dalam Pelaksanaan MPMBS
7) Monitoring dan evaluasi dalam MPMBS bertujuan untuk memberi
masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MPMBS baik
konteks, input, proses, output, maupun outcome (Depdiknas, 2002).
8) Dalam penyusunan program dan pelaporan MPMBS sekolah bersamasama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana dalam hal aspekaspek mutu, kegiatan-kegiatan, siapa yang harus melaksanakan, kapan dan
dimana dilaksanakan, dan biaya yang diperlukan
3.2 Saran

Sebaiknya para pengembang mutu pendidikan khususnya guru dan kepala


sekolah, dalam merumuskan visi dan misi di sekolah, agar indikator
keberhasilan visi mudah diketahui maka rumusan visi dan misi tersebut sebisa
mungkin di buat realistis dan sesuai dengan kebutuhan sekolah, agar nantinya
tidak terjadi kerancuan dalam perumusan program-program pencapaian mutu
sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta:


Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen.
Depdiknas. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga
Kependidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
http://perencanaan.ipdn.ac.id/kajian-perencanaan/kajian
perencanaan/monitoringdanevaluasi (Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
http://baimforeducation.blogspot.com/2013/05/manajemen-peningkatan-mutuberbasis.html (Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/1972052
82005011-NUR_AEDI/1-3/Pengelolaan_Sekolah_Berbasis_Mutu.pdf
(Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195405271987031
-MOHAMAD_SUGIARMIN/PENGAJARAN_MODUL_2.pdf (Diakses
pada tanggal 5 Juli 2015)
http://materiinside.blogspot.com/2014/06/manajemen-peningkatan-mutu-berbasissekolah.html (Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
https://www.academia.edu/9156487/Manajemen_Berbasis_Sekolah_MBS_
(Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
Slamet PH, 2001. Manajemen Berbasis Sekolah. Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan
No. 27. http//www.pdk.go.id/jurnal/27/manajemen-berbasis-sekolah.html
(Diakses pada tanggal 5 Juli 2015)
Syarifuddin, 2002, Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan, Konsep,
Strategi, Dan Aplikasi. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.