Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan
dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Studi etnobotani tidak
hanya mengenai data botani taksonomis saja, tetapi juga menyangkut
pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa tinjauan interpretasi
dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia
dengan tanaman, serta menyangkut pemanfaatan tanaman tersebut lebih
diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam.
Menurut Martin (1998) etnobotani merujuk pada kajian interaksi antara
manusia, dengan tumbuhan. Kajian ini merupakan bentuk deskriptif dari
pendokumentasian pengetahuan botani tradisional yang dimiliki masyarakat
setempat yang meliputi kajian botani, kajian etnoekologi, kajian
etnofarmakologi, kajian etnoantropologi, kajian etnoekonomi, kajian
etnoekosistem, kajian etnolinguistik dan kajian etnokonservasi.
Etnofarmakologi meletakkan tumpuan yang tinggi ke atas hal
kandungan perobatan dalam ramuan yang dihasilkan oleh penduduk
setempat. Pendekatan ini, yang menggabungkan perspektif kimia, botani,
dan antropologi, memerlukan ahli etnofarmakologi membagikan waktu di
antara kerja laboratorium dan lapangan.
Ahli etnofarmakologi biasanya mendapatkan pengalaman praktek yang
banyak dalam bidang antropologi dan linguistic sepanjang waktu pada saat
bekerja di lapangan, pada saat ahli farmakognosis dan ahli kimia 35
mendapatkan hasil yang diinginkan, biasanya hal tersebut membutuhkan
waktu di laboratotium dan sebagian besar tidak sependapat mengenai tata
cara penggunaan tumbuhan dan hewan oleh penduduk setempat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang sudah tercantum diatas, maka rumusan
masalah sebagai berikut :
1.

Apa Komponen yang Dijumpai Dalam Tumbuhan Pada Kajian EtnoFarmakologi ?

2.

Bagaimana Tahap Pengumpulan Sampel Kajian Etno-Farmakologi?

3.

Bagaimana Tahap Pengujian Pada Kajian Etno-Farmakologi?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan


Adapun tujuan dan manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk Mengetahui Komponen yang Dijumpai dalam Tumbuhan Pada
Kajian Etno-Farmakologi.
2. Untuk Mengetahui Tahap

Pengumpulan

Sampel

Kajian

Etno-

Farmakologi.
3. Untuk Mengetahui Tahap Pengujian Pada Kajian Etno-Farmakologi.
1.4 Metode penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan dengan melihat
literatur terkait dari berbagai macam sumber, baik sumber yang berasal dari
buku maupun dari situs internet.

BAB II

II.1 Komponen yang Dijumpai Dalam Tumbuhan


Untuk tumbuh membesar dan membiak, tumbuhan memerlukan unsurunsur tertentu dalam jumlah yang relatif banyak, ini disebut makronutrien.
Beberapa unsure ini diperoleh di udara dan di air seperti hydrogen, karbon,
dan oksigen. Elemen lain yang juga penting termasuk potasium, fosforus dan
nitrogen dan bisa diperoleh dari dalam tanah. Makronutrien juga termasuk
molekul kompleks seperti asid asam amino, gula dan karbohidrat yang bias
dibuat oleh organisme hidup.
Unsur-unsur esensial, yang mana diperlukan dalam jumlah yang sedikit
untuk pertumbuhan tumbuhan disebut mikronutrien. Ini termasuk beberapa
logam berat seperti tembaga, mangan , zink, besi, kobalt dan bahan-bahan lain
yang diambil dari dalam tanah. Apabila tumbuhan mati dan mengurai, ia
membebaskan makronutrien dan mikronutrien ke lingkungan. Penyelidik yang
mengkaji agrosistem berminat untuk mengenal pasti kuantitas nutrien ini
dalam spesies tumbuhan yang berbeda, terutama yang digunakan sebagai baja
asli.
Beberapa komponen awalnya disebut metabolit primer, dihasilkan oleh
kebanyakan tumbuhan karena ia berguna untuk proses biokimia yang
menunjang pertumbuhan, fotosintesis, respirasi, pembuangan, dan proses
proses asas yang lain.Bahan-bahan yang termasuk ialah karbophidrat, protein,
lemak dan asid nukleik, yang mana berupa komponen asas dalam nutrien
manusia. Ahli fisiologi tumbuhan mengkaji kegunaan metabolit primer ini dan
juga bahan- bahan lain termasuk hormon dan enzim tentang bagaimana
tumbuhan berinteraksi dengannya untuk berfungsi. Asid nukleik yang disebut
DNA dan RNA membawa kode genetic yang membentuk satu pelan asas yang
mendasari semua proses yang berlaku 34 dalam tumbuhan. Ahli genetic
tumbuhan menyelidiki bagaimana tumbuhan diklatur oleh bahan genetic asa
ini dan juga protein yang dihasilkan.
Walaupun metabolit primer secara relatif sama dari segi struktur dan
terdapat dalam kebanyakan tumbuhan, metabolit sekunder biasanya yang

bertanggung jawab untuk ciri bau, warna, rasa dan keperluan tumbuhan obat
adalah sangat bermacam-macam dan tersebar ke seluruh alam tumbuhan
dalam pola yang khas. Walaupun beberapa darinya berupa hasil buangan dari
proses fisiologi, kebanyakan sebagian ini membantu tumbuhan beradaptasi
untuk keadaan lingkungan, persaingan dengan tumbuhan lain, dan juga
menjaga tumbuhan dari serangan oleh serangga dan hewan atau menarik
organisme lain yang berperanan dalam pembungaan, penyebaran buah atau
perlindungannya. Sebagai contoh, minyak pati membantu mengurangi
kehilangan air pada tumbuhan yang tumbuh di zona gersang, menolak
serangga dan menghalangi hewan yang merenggutnya. Setengah alkaloid,
sebagian yang mempunyai rasa pahit yang seringkali beracun, menolak
pemangsa. Bagi tumbuhan yang tumbuh di kawasan yang tanahnya tidak
subur dan tidak boleh memindahkan nitrogen atau mengambilnya dari bakteri,
alkaloid berfungsi sebagai stor bagi nitrogen.Bahan bahan demikian dan
banyak lagi komponen sekunder menjadi focus utama kepada ahli kimia hasil
awal, ahli farmakoknosis dan ahli etnofarmakologi.
Fitokimia bandingan, kajian tentang taburan metabolit primer dan
sekunder dalam alam tumbuhan, memandu pencarian bukan hanya komponen
tumbuhan baru tetapi juga kode tentang dedah yang telah diketahui. Ia juga
merupakan perkara utama bagi setengah ahli sistematik botani, disebut ahli
kemotaksonomi, yang berusaha untuk menerangkan hubungan antara taksontakson botani yang berbeda, dari susunan aturan yang berbagai dengan melihat
kehadiran atau ketidakhadiran setengah bahan-bahan fitokimia yang tertentu.
Sebagai contoh, pada suatu ketika ahli taksonomi tidak pasti dalam order
botani yang manakah terletaknya famili kaktus, satu komponen yang
mencirikan tumbuhan dalam Famili Centrospermae. Banyak contoh serupa
telah membolehkan ahli sistematik untuk mengesahkan atau mengubah suatu
pengkelasan terkini bagi tumbuhan.
Etnofarmakologi meletakkan tumpuan yang tinggi ke atas hal kandungan
perobatan dalam ramuan yang dihasilkan oleh penduduk setempat. Pendekatan
ini, yang menggabungkan perspektif kimia, botani, dan antropologi,

memerlukan ahli etnofarmakologi membagikan waktu di antara kerja


laboratorium dan lapangan. Ahli etnofarmakologi biasanya mendapatkan
pengalaman praktek yang banyak dalam bidang antropologi dan linguistic
sepanjang waktu pada saat bekerja di lapangan, pada saat ahli farmakognosis
dan ahli kimia 35 mendapatkan hasil yang diinginkan, biasanya hal tersebut
membutuhkan waktu di laboratotium dan sebagian besar tidak sependapat
mengenai tata cara penggunaan tumbuhan dan hewan oleh penduduk
setempat.
II.2 Pengumpulan Sampel
Sebelum

melakukan

pengumpulan

tumbuhan

obat-obatan

untuk

dianalisis di laboratorium, perlu ditetapkan manfaat dari contoh yang akan


dilakukan. Keputusan ini sangat penting untuk bekerja di kawasan tropika,
yang mana antara tumbuhan dan komponen sekunder kedua-duanya adalah
lebih sebagai pembanding dalam zon temperat.
Setengah dari proyek penyelidikan memerlukan penyampelan anggota
tumbuhan, dengan cara mengambil apa saja jenis tumbuhan yang
dikumpulkan dalam kuantitas dan kualitas yang cukup. Keuntungan dari
pendekatan ini adalah kita dapat mengumpulkan sekaligus penyampelan
berbagai jenis tumbuhan dengan cepat. Akan tetapi ada juga keburukan dari
metode ini, yaitu kita mungkin hanya akan mengambil sebagian kecil spesies
saja yang menunjukkan aktivitas biologi atau farmakologi.
Komponen sekunder yang khusus, seperti flavonoid tertentu biasanya
ditemui dalam kumpulan tumbuhan yang berhubungan saja. Sebagai contoh,
jenis flavonoid yang dikenal sebagai isoflavon umumnya di jumpai dalam
spesies Familia Fabaceae. Dari 5500 jenis alkanoid yang diketahui, sebagian
besar tergolong dalam satu genus atau subfamily. Hanya satu jenis alkanoid
saja yang telah dijumpai dalam familia Bombaceae yang telah diuji, tetapi
Solanaceae, Rubiaceae dan Ranunculaceae adalah merupakan sumber bagi
beratus jenis bentuk yang ada.
Cara yang kedua untuk mempertinggi tingkat keberhasilan adalah dengan
menggunakan cara etnofarmakologi, dengan memilih tumbuhan yang sering
digunakan sebagai obat-obatan oleh penduduk setempat. Ini adalah

merupakan suatu pendekatan yang sering digunakan oleh kebanyakan ahli


etnobotani karena merupakan cara yang paling bagus atau tetap untuk
menguji keselamatan dari obat-obatan setempat dan dapat dipastikan melalui
analisis fitokimia dan farmakologi.
Terdapat persamaan yang berarti di antara cara etnofarmakologi dan
kemotaksonomi dalam aspek pemilihan tumbuhan. John Brett dalam
penelitiannya tentang obat Maya, telah mendapatkan bahwa dalam satu
tumbuhan famili telah diketahui bahwa sebagian besar kimia yang aktif
secara

farmakologi-seperti

Solanaceae,

Asteraceae,

Rosaceae

dan

Ranuculaceae telah terwakili dengan banyaknya farmakopeie dalam Maya.


Cara etnofarmakologi sangat bermanfaat apabila mencari komponen
yang berarti untuk merawat kesehatan. Hipotesis ini patut diuji terlebih
dahulu dalam kawasan multietnik sebelum di terima sebagai peraturan yang
absolute.
Satu kaedah etnofarmakologi terlihat jelas digunakan apabila melihat
beberapa jenis tumbuhan yang berguna. Sebagai contohnya anda dapat
menganalisis mengenai keterkaitan antara kandungan makanan dalam
tumbuhan dan makanan manusia dengan memilih tumbuhan yang dimakan
oleh penduduk setempat. Begitu juga bila ingin mengukur besar kandungan
makronutrien dan mikronutrien yang diberikan kepada agroekosistem maka
kumpulkan tumbuhan yang digunakan sebagai kompos oleh petani setempat.
A. Secara umum etnobotani diantaranya mengkaji tentang :
Teknik antropologi manusia mencakup observasi dan survay secara
bertahap untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif tentang
tumbuhan yang digunakan dan cara penggunaannya, di samping itu kajian
metode taksonomi yang penting untuk mendapatkan keakuratan data
dalam penyelidikan tanaman. Selain itu juga menggunakan teknik
kebahasaan dan analisis beberapa simbol-simbol dalam kealamian. Selain
itu metode arkeobotani merupakan sesuatu yang penting dalam
mempelajari prasejarah.
1. Kualitatif dan kuantitatif
Kualitatif
merupakan

sesuatu

gambaran

metode

untuk

mendeskripsikan suatu proses penelitian yang berhubungan dengan

tumbuhan yang berkhasiat dalam farmakologi. Yang mana pendataan


menggunakan teknik interview dengan pedoman wawancara. Contohnya
pada tumbuhan tersebut bagian apa yang digunakan.
Kuantitatif merupakan metode pengumpulan data dengan teknik
hitungan atau angka, dan analisis perhitungannya menggunakan statistik.
Contohnya yaitu penggunaan kadar dosis pada obat-obatan, yang
efektifnya kadarnya berapa.
2. Sosial budaya
Merupakan sesuatu keadaan yang terjadi pada masyarakat lokal, yang
berhubungan dengan kepercayaan atau kebiasaan masyarakat secara turun
temurun dalam menggunakan tumbuhan tertentu yang berhubungan
dengan kajian obat-obatan atau penyembuhan penyakit. Contohnya : daun
sirih untuk mengobati mimisan dan pucuk daun pisang sebagai
penyembuh luka.
3. Observasi dan kuantitatif pada penelitian
Merupakan mengambil langsung sampel di lokasi, kemudian
melakukan pengujian pembuktian di laboratorium riset. Contohnya
tanaman yang bermanfaat untuk obat diare yaitu jambu biji kemudian
dilakukan pengujian terhadap bakteri E. Coli karena diare disebabkan oleh
bakteri E.Coli.
4. Linguistik
Asal mula pemberian nama terhadap suatu tumbuhan dan makna dari
pemberian nama. Contohnya, tapak liman, karena bentuk daunnya menjari
seperti telapak tangan. Hambin buah, karena memiliki buah yang
menggantung pada tangkai daun.
II.3 Pengujian
Uji coba produk meliputi uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil
dan uji coba lapangan adalah sebagai berikut.
a. Uji Coba Perorangan.
Subjek uji coba perorangan terdiri dari 5 orang mahasiswa semester IV,
Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Nusa Cendana yang sedang
menempuh matakuliah Botani Tumbuhan Tinggi (BTT). Uji coba perorangan
bertujuan untuk mengidentifikasi kemenarikan dan kekurangan buku referensi

dan memperoleh tanggapan dari mahasiswa tentang data yang terdapat di


dalam buku referensi, yaitu berupa materi dan isi teks bacaan serta sajian
buku.
b. Uji Coba Kelompok Kecil.
Uji coba kelompok kecil dilakukan terhadap 10 mahasiswa semester IV,
Program Studi Pendidikan Biologi yang sedang menempuh matakuliah Botani
Tumbuhan Tinggi (BTT).Uji coba kelompok kecil bertujuan untuk memeriksa
kesalahan-kesalahan yang mungkin terlewatkan pada uji coba perorangan
serta meninjau ulang perbaikan yang telah dilakukan dari hasil uji coba
perorangan.
c. Uji Coba Lapangan.
Subjek uji coba lapangan terdiri dari 20 mahasiswa semester IV, Program
Studi Pendidikan Biologi yang sedang menempuh matakuliah Botani
Tumbuhan Tinggi (BTT).Uji coba bertujuan untuk mengetahui pengetahuan
mahasiswa setelah mempelajari etnobotani cendana melalui buku referensi
yang diberikan.
d. Uji Skrining
Skrining farmakologi suatu metode pendekatan untuk menganalisa efek
farmakodinamik, menganalisa efek toksisitas dan melihat khasiat dan manfaat
bahan alam sebaai obat
Skrining fitokimia serbuk simplisia dan sampel dalam bentuk basah
meliputi

pemeriksaan

kandungan

senyawa

alkaloid,

flavonoid,

terpenoid/steroid, tanin dan saponin menurut prosedur yang telah dilakukan


oleh Harbone (Harbone, 1987) dan Depkes (Depkes, 1995).
1.

Pemeriksaan Alkaloid

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 gram kemudian ditambahkan 1


ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air
selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk
test alkaloida sebagai berikut:

a.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi

Bouchardat, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna


coklat sampai hitam.
b.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes pereaksi

Dragendorff, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna merah atau


jingga.
c.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes larutan pereaksi

Mayer, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan menggumpal


berwarna putih atau kuning.
d.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi Wagner,

reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna coklat.


Prosedur yang sama juga dilakukan untuk sampel dalam bentuk basah.
2.

Pemeriksaan Flavonoid

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 gram lalu ditambahkan 10 ml


metanol, direfluks selama 10 menit, disaring panas-panas melalui kertas
saring. Filtrat diencerkan dengan 10 ml air suling, setelah dingin ditambahkan
5 ml eter, dikocok hatihati, lalu didiamkan sebentar.Lapisan metanolnya
diambil, diuapkan pada temperatur 400C, sisanya dilarutkan dalam 5 ml etil
asetat, disaring. Filtratnya digunakan untuk uji flavonoida dengan cara
berikut :
a.

Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya

dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan 0,5 gram serbuk seng dan
2 ml asam klorida 2 N, didiamkan selama 1 menit, kemudian ditambahkan 10
tetes asam klorida pekat. Jika dalam waktu 2-5 menit terjadi warna merah
intensif menunjukkan adanya flavonoida
b.

Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya

dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan 0,1 gram serbuk


magnesium dan 10 tetes asam klorida pekat. Jika terjadi warna merah jingga
sampai warna merah ungu menunjukkan adanya flavonoida.

c.

Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya

dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan pereaksi NaOH 10%.


Jika terjadi warna biru violet menunjukkan adanya flavonoida.
d.

Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya

dilarutkan dengan 2 ml etanol 95%, lalu ditambahkan pereaksi FeCl3 1%. Jika
terjadi warna hitam menunjukkan adanya flavonoida.
e.

Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya

dilarutkan dengan 2 ml etanol 95% lalu ditambahkan pereaksi H2SO4 pekat.


Jika terjadi warna hijau kekuning-kuningan menunjukkan adanya flavonoida.
3.

Pemeriksaan Terpenoid/Steroid

Sebanyak 1 gram serbuk simplisia disari dengan 20 ml eter selama 2 jam,


disaring kemudian dilakukan pemeriksaan pada masing-masing pereaksi
dengan prosedur sebagai berikut:
a.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes pereaksi Salkowsky

(H2SO4 pekat). Apabila terbentuk warna merah menunjukkan adanya


terpenoida/steroida.
b.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi

Liebermann-Bouchard. Apabila terbentuk warna ungu atau merah yang


berubah menjadi

biru ungu atau biru hijau menunjukkan

adanya

terpenoida/steroida.
c.

Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi cerium

sulfat 1%. Apabila terbentuk warna coklat menunjukkan adanya terpenoida/


steroida. Prosedur yang sama juga dilakukan untuk sampel dalam bentuk
basah.
4.

Pemeriksaan Tanin

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 1 gram, disari dengan 10 ml air


suling

lalu

disaring.Filtrat

diencerkan

dengan

air

sampai

tidak

berwarna.Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan dengan 1-2 tetes


pereaksi besi (III) klorida 1%.Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau
kehitaman menunjukkan adanya tanin. Prosedur yang sama juga dilakukan
untuk sampel dalam bentuk basah.

10

5.

Pemeriksaan Saponin

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 gram dan dimasukkan ke dalam


tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan, kemudian
dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang
stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes
asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin. Prosedur yang sama juga
dilakukan untuk sampel dalam bentuk basah.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
1.

Beberapa komponen awalnya disebut metabolit primer, dihasilkan


oleh kebanyakan tumbuhan karena ia berguna untuk proses biokimia
yang menunjang pertumbuhan, fotosintesis, respirasi, pembuangan, dan
proses proses asas yang lain

2.

Etno-Farmakologi merupakan suatu pendekatan yang sering


digunakan oleh kebanyakan ahli etnobotani karena merupakan cara yang

11

paling bagus atau tetap untuk menguji keselamatan dari obat-obatan


setempat dan dapat dipastikan melalui analisis fitokimia dan farmakologi.
3.

Uji coba produk meliputi uji coba perorangan, uji coba kelompok
kecil dan uji coba lapangan

III.2 Saran
Dengan hasil penulisan makalah yang telah kami buat diharapkan
adanya penelitian lebih lanjut mengenai manfaat-manfaat baik dalam segi
ekonomi atau kandungan-kandungan kimia yang terkandung dalam tanaman
yang dapat membuat tanaman digunakan masyarakat sebagai obat alternatif
tradisional yang sering kali mereka manfaatkan di daerah mereka. Oleh
karena itu, hasil-hasil penelitian nantinya yang di dapatkan mengenai
manfaat dan kandungan kimia yang ada pada tanaman ini dapat
disosialisasikan, khususnya kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Cronquist, Arthur. 1981. An Integrated System of Classification of
Flowering Plants. Columbia University Press. New York
Dharmono,

2008.

Bahan Ajar

Etnobotani. Universitasa

Lambung

Mangkurat press: Banjarmasin


Setiadi, Eriawan. Tahap pengumpulan dan pengujian sampel. www.bisnisholisticonline.com. (Diakses tanggal 13 Maret 2016)

12

13