Anda di halaman 1dari 2

5 Jenis Emosi yang Meninggalkan Jejak di

Kulit
Banyak orang mengatakan bahwa tertawa dan perasaan senang adalah obat
terbaik dari kondisi tubuh tertentu. Sebuah studi menunjukkan bahwa perasaan
lainnya dapat mempengaruhi tubuh dan kulit seseorang baik itu positif maupun
negatif.
Seperti dilansir dailyglow, Selasa (14/8/12), cari tahu bagaimana perasaan
seseorang dapat meninggalkan jejak pada kulitnya:
1. Stres
Dari semua jenis emosi, stres adalah musuh terbesar terhadap kesehatan kulit
seseorang. Stres dapat menyebabkan seseorang kelihatan jauh lebih tua dari
usia sebenarnya. Hal tersebut disebabkan karena stimulator terbesar dari
hormon kortisol mengalir bebas pada saat stres.
Hormon kortisol yang mengalir bebas pada setiap organ dapat membuat kerja
pembuluh darah menjadi lebih rentan oleh gangguan. Akibatnya sel-sel kulit baru
tidak dapat terbentuk dengan cepat, pergantian sel melambat dan menyebabkan
penuaan lebih dini.
Selama masa stres, seseorang juga cenderung lebih tergoda terhadap makanan
dan minuman yang tidak sehat yang memberikan efek buruk terhadap
kesehatan kulit. Seseorang mungkin juga kurang memperhatikan perawatan kulit
ketika sedang stres.
Kombinasi dari pola makan yang buruk dan perawatan kulit yang tidak teratur
dapat membuat jerawat tumbuh dengan mudah.
2. Marah
Suasana hati yang mudah sekali marah dapat membuat kulit lebih cepat keriput.
Kemarahan membuat otot-otot wajah menjadi tegang, yang akan berubah
menjadi kerutan keriput dari waktu ke waktu.
Ketika seseorang marah, hormon kortisol menghambur dan menghambat
produksi kolagen, yaitu unsur penting dalam penyembuhan kulit. Jika produksi
kolagen melambat juga dapat menyebabkan kulit lebih cepat keriput.
3. Kesedihan

Seperti kemarahan, kesedihan juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit.


Kesedihan yang berulang-ulang hingga menimbulkan depresi dapat
menyebabkan keriput.
Penelitian menunjukkan bahwa ekspresi wajah memberikan efek yang kuat pada
kulit. Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatric Research,
pasien depresi yang tidak berhasil diobati dengan antidepresan diberi suntikan
botox di dahinya untuk mencegah alis berkerut.
Depresi jangka panjang memiliki efek yang buruk pada kulit, karena bahan kimia
yang terkait dengan kondisi ini dapat mencegah tubuh memperbaiki peradangan
pada sel. Hormon-hormon penyebab depresi dapat mempengaruhi tidur,
menyebabkan mata bengkak dan kulit kusam.
4. Malu
Rasa malu bisa bergerak dari otak ke kulit, ketika reseptor neuropeptida pada
kulit menerima pesan yang menyebabkan seseorang tersipu malu. Sistem saraf
simpatik ini dapat menyebabkan kulit seseorang yang malu menjadi memerah.
Kulit seseorang yang mudah sekali memerah disebabkan oleh kondisi
bengkaknya pembuluh darah kronis yang dikenal dengan rosacea, menurut
National Rosacea Society.
Namun, hal ini bukanlah masalah serius karena warna merah tersebut biasanya
menyebar ke seluruh tubuh dan bukan hanya wajah dan biasanya disebabkan
oleh faktor eksternal seperti suhu atau makanan pedas.
5. Takut
Ketika seseorang merasa terancam atau ketakutan, otak akan memerintahkan
sinyal kelenjar adrenal untuk melepaskan epinefrin atau yang lebih dikenal
sebagai adrenalin. Akibatnya, terjadi peningkatan kecepatan denyut jantung dan
darah mengalir ke otot lebih cepat.
Adrenalin juga mempengaruhi beberapa aliran darah pada kulit dan wajah serta
menyempitkan pembuluh darah di kulit untuk mengontrol dan membatasi
perdarahan jika terluka. Bahan kimia yang dilepaskan ketika seseorang sedang
ketakutan dapat menyebabkan kulit terlihat pucat dan kusam.