Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Menurut PPNI (2006), pelayanan keperawatan adalah salah satu faktor terpenting dalam
pemberian pelayanan kesehatan klien di rumah sakit, oleh karena itu profesi keperawatan
harus sejalan dengan kualitas asuhan yang diberikan. Pengembangan ilmu dan teknologi
memungkinkan perawat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam rangka
menerapkan asuhan bagi klien dengan kebutuhan yang kompleks. Pelayanan keperawatan di
rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh yang
merupakan salah satu tolak ukur bagi keberhasilan pencapaian tujuan rumah sakit.
Pelaksanaan pelayanan keperawatan suatu rumah sakit tak akan berjalan dengan baik apabila
manajemen proses keperawatan yang dilaksanakan tidak terstruktur dengan baik pula
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk
memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam, 2007) Manajemen
keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan
untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan serta mengawasi sumber- sumber yang
ada baik SDM, alat, maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang
efektif, baik kepada pasien, keluarga dan masyarakat.
.
Komponen utama dalam manajemen keparawatan adalah fokus pada sumber daya
manusia dan materi secara efektif dan tujuannya untuk meningkatkan serta mempertahankan
kualitas pelayanan keperawatan, untuk kepuasan pasien melalui peningkatan produktifitas
dan kualitas kerja perawat. Pengkajian yang dilakukan menggunakan metode 5M + 1E yaitu
man, media, methode, machnie, material dan environment.
Rumah sakit umum Siloam (RSUS) merupakan salah satu rumah sakit umum swasta
yang berada di kota Tangerang. RSUS mempunyai visi yakni international quality, scale,
reach, godly compassion dan misi yakni the trusted destination of choice for holistic, word
class healthcare, health education, dan research. Nilai-nilai yang dianut di RSUS yaitu love,
caring, integrity, honesty, emphaty, compassion, dan profesionalism. Mahasiswa-mahasiswi
1

program profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Pelita Harapan, melaksanakan
praktik manajemen keperawatan di RSUS ruang surgikal yang adalah ruang rawat inap
dewasa untuk pasien pre operasi dan post operasi serta untuk one day care. Di ruang surgikal
terdapat 56 kapasitas tempat tidur yang terbagi dalam hole B, C untuk one day care, dan
hole F sampai G untuk surgikal.
1.2 TUJUAN PENULISAN
a. Menerapkan konsep, teori, dan prinsip manajemen keperawatan dalam pengelolaan
pelayanan keperawatan dan pelayanan pengelolaan manajemen asuhan keperawatan pada
klien di tingkat unit atau ruang rawat di suatu tatanan pelayanan kesehatan.
b. Berpikir kritis di dalam menganalisa situasi dan masalah di dalam praktek keperawatan.
c. Berperan sebagai agen pembaharuan dan model peran dalam kepemimpinan dan
pengelolaan pelayanan keperawatan professional tingkat dasar.
d. Mengidentifkasi tantangan permasalahan yang akan dihadapi oleh kepala ruangan dan
mendiskusikan hal-hal apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
1.3 MANFAAT PENULISAN
a. Rumah sakit umum Siloam adalah sebagai bahan informasi tambahan dan masukan
dalam rangka untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dalam pelayanan rumah
sakit dan kualitas manajemen di setiap ruangan.
b. Ruangan surgikal adalah sebagai masukan dan informasi kepada perawat ruangan untuk
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
terutama dalam efektifitas pengisian pengkajian keperawatan.
c. Mahasiswa Keperawatan adalah sebagai pembelajaran ini bagi mahasiswa praktik untuk
meningkatkan pengetahuan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif
kepada pasien.
d. Masyarakat adalah untuk meningkatkan kepuasan dalam pemberian pelayanan asuhan
keperawatan di unit rawat inap.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. INTERNATIONAL PATIENT SAFETY GOAL
Menurut The Joint Commisions Patient Safety 2013 tujuannya adalah untuk
3

meningkatkan

perkembangan

spesifik

keselamatan

pasien.

Tujuan

tersebut

menitikberatkan pada isu-isu didalam pelayanan kesehatan serta menjabarkan solusi


berbasis buku/ahli sebagai upaya untuk mengatasinya. Menerapkan suatu sistem
pelayanan kesehatan yang berbobot merupakan hal-hal potensial yang penting guna
menyediakan suatu wujud pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi.
Berikut adalah penjabaran International Pasient Safety Goals:
1. Identifikasi pasien secara tepat
a. Menggunakan mininal dua identifikasi pasien yaitu nama, tanggal lahir dan
nomor rekam medis pasien
b. Identifikasi dilakukan saat pemberian obat (6 benar pemberian obat), darah atau
produk darah
c. Identifikasi dilakukan saat melakukan pengambilan darah, spesimen lain dan
prosedur medis
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
a. Perintah lengkap,lisan dan via telepon,atau hasil tes dicatat si penerima
b. Perintah lengkap, lisan dan via telepon, atau hasil tes dibaca ulang si penerima
c. Perintah dan hasil tes dikonfirmasikan oleh individu si pemberi perintah atau
hasil tes
d. Penerima perintah menandatangani catatan perintah dan memberi tanda read
back dengan tinta atau tanda merah
e. Verifikasi oleh pemberi perintah dalam waktu 1 x 24 jam
3. Meningkatkan keamanan penggunaan obat-obatan high alert
a. Elektrolit konsentrat tidak boleh ada di unit perawatan pasien kecuali jika secara
klinis diperlukan seperti Nacl 3%, KCL, Bicnat, dan jika diperlukan harus
disiapkan oleh farmasi.
b. Obat dengan konsentrasi tinggi yang disimpan di unit perawatan pasien misalnya
insulin, harus diberi label merah dan disimpan sedemikian rupa hingga tidak
mudah diakses
4. Memastikan benar pasien, lokasi, dan prosedur pembedahan
a. Rumah sakit menggunakan tanda yang langsung dikenali untuk mengidentifikasi
lokasi pembedahan dan melibatkan pasien dalam proses pemberian tanda (site
4

marking)
b. Read back sebelum operasi untuk memverifikasi apakah lokasinya, prosedur,
dan pasien sudah benar dan bahwa seluruh dokumen dan peralatan yang
dibutuhkan sudah ada, tepat, dan fungsional.
5. Mengurangi resiko infeksi karena pelayanan kesehatan
Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air atau bahan yang berbasis
alkohol saat:
1) Sebelum menyentuh pasien
2) Sebelum melakukan tindakan aseptik
3) Setelah terpapar cairan pasien
4) Setelah menyentuh pasien
5) Setelah menyentuh lingkungan pasien
6. Mengurangi resiko cidera pasien akibat jatuh
a. Melakukan pengkajian resiko jatuh saat pasien baru masuk dan pengkajian ulang
setiap ada perubahan kondisi pasien
b. Pasang gelang resiko jatuh dan tanda resiko jatuh di meja atau dekat kepala
pasien
c. Pastikan posisi posisi tempat tidur paling rendah, pagar pengaman tempat tidur
terpasang, bel dekat dengan pasien, rem tempat tidur terkunci, lantai tidak basah
dan penerangan cukup.
d. Berikan edukasi pada keluarga

B. KEAMANAN PENGOBATAN
Obat merupakan salah satu bentuk intervensi klinis yang paling sering digunakan dalam
bidang perawatan kesehatan. Masalah keamanan pengobatan juga terkait salah satu IPSG
yaitu IPSG pertama.
Karena obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat menjadi
salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat adalah mata rantai terakhir dalam
proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung jawab bahwa obat itu
5

diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum. Bila ada obat yang diberikan
kepada pasien, hal itu harus menjadi bagian integral dari rencana keperawatan. Perawat
yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien terhadap pengobatan. Misalnya,
pasien yang sukar menelan, muntah atau tidak dapat minum obat tertentu (dalam bentuk
kapsul). Faktor gangguan visual, pendengaran, intelektual atau motorik, yang mungkin
menyebabkan pasien sukar makan obat, harus dipertimbangkan. Rencana perawatan
harus mencangkup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil pengkajian,
pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja, dan program
dokter (PPNI, 2010)
Terdapat istilah/prinsip enam benar dalam keamanan pemberian obat. Para tenaga
kesehatan harus menerapkan aturan ini demi menghindari kesalah pengobatan.
Enam benar terdiri dari:
1. Benar obat.
Selalu membaca dengan seksama label yang tertera pada obat. Memperhatikan nama
obat ketika memberikannya atau meminumnya.
a. Apakah benar obat adalah yang diresepkan dokter
b. Apakah obat merupakan obat generiknya
2. Benar dosis
Selalu memeriksa dosis obat yang akan diberikan
c. Berapa tablet atau dosis yang diperlukan dalam sehari
d. Berapa kali dalam sehari obat diberikan
e. Berapa lama pasien harus mengkonsumsi obat itu

3. Benar waktu
Diperhatikan kapan atau jam obat harus diberikan dan apakah obat diberikan sebelum
makan, saat makan, atau setelah makan.
4. Benar rute pemberian
Selalu memperhatikan bagaimana atau dengan apa obat diberikan apakah diminum,
diinjeksi baik IV, IM atau SC atau topikal
5. Benar pasien
6

Selalu memastikan bahwa obat yang diberikan untuk pasien yang benar dengan cara
identifikasi pasien (IPSG 1).
6. Benar dokumentasi
a. Mencatat nama pasien, nama obat, dosis, cara, dan waktu pemberian obat
b. Mencantumkan nama/ inisial dan paraf
c. Mencatat keluhan pasien
d. Mencatat penolakan pasien
e. Mencatat jumlah cairan yang digunakan untuk melarutkan obat (pada pasien yang
memerlukan pembatasan cairan
f. Mencatat segera setelah memberikan obat
Selain prindip enam benar perlu dilakukan pula standar precaution yaitu:
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan obat
b. Menggunakan sarung tangan saat memberikan obat pada pasien dengan diagnosa
tertentu
c. Membuang jarum suntik bekas pada tempat khusus dalam keadaan terbuka

C. METODE ASUHAN KEPERAWATAN


Asuhan keperawatan merupakan titik sentral dalam pelayanan keperawatan, oleh karena itu manajemen asuhan keperawatan yang
benar akan meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan. Salah satu faktor yang menentukan dalam manajemen tersebut
adalah bagaimana asuhan keperawatan diberikan oleh perawat melalui berbagai pendekatan model asuhan keperawatan yang
diberikan. Penetapan dan keberhasilan model pemberian asuhan keperawatan yang digunakan di suatu rumah sakit sangat
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah bagaimana pemahaman perawat tentang model-model asuhan keperawatan
tersebut. Terdapat beberapa metode pemberian asuhan keperawatan yaitu :
No

Metode Penugasan

.
1.

Metode Fungsional

Definisi
Menurut
(2005),

Arwani
metode

&

Kelebihan
Supriyatno

fungsional

ini

efisien, namun penugasan seperti ini

Perawat terampil untuk

tugas /pekerjaan tertentu.

kepuasan kerja bagi perawat

kepada pasien maupun perawat.

setelah selesai tugas.

Pelayanan keperawatan
terpilah-pilah sehingga
proses keperawatan sulit

Mudah memperoleh

tidak dapat memberikan kepuasan


Keberhasilan asuhan keperawatan

Kekurangan

dilakukan.

Apabila pekerjaan selesai


cenderung meninggalkan

Kekurangan tenaga yang

secara menyeluruh tidak bisa dicapai

ahli dapat diganti dengan

klien dan melakukan tugas

dengan metode ini karena asuhan

tenaga yang kurang

non keperawatan.

keperawatan yang diberikan kepada

berpengalaman untuk satu

pasien terpisah-pisah sesuai dengan

tugas yang sederhana.

tugas

yang

dibebankan

kepada

perawat. Di samping itu, asuhan

Memudahkan kepala
ruangan untuk mengawasi staf

Kepuasan kerja
keseluruhan sulit dicapai dan
sulit diidentifikasi
kontribusinya terhadap

keperawatan yang diberikan tidak


8

profesional
masalah

yang

pasien.

berdasarkan

Perawat

atau peserta didik yang praktek

senior

cenderung akan sibuk dengan tugas-

untuk keterampilan tertentu.

tugas administrasi dan manajerial,


sementara

asuhan

keperawatan

Lebih sedikit membutuhkan

Perawat hanya melihat


asuhan keperawatan sebagai

perawat

kepada pasien dipercayakan kepada


perawat junior

pelayanan.

keterampilan saja.

Tugas-tugas mudah

Tidak efektif

dijelaskan dan diberikan

Membosankan

Komunikasi minimal

Pasien akan dirawat oleh

Para pekerja lebih mudah


menyesuaikan tugas

2.

Metode Kasus

Menurut
metode

Sitorus
ini

satu

(2006),

pada

perawat

akan

Tugas cepat selesai


Setiap perawat ditugaskan
untuk melayani seluruh

perawat yang berbeda untuk

kebutuhan pasien pada saat

setiap shift, dan tidak ada

kepada seorang klien secara total

dinas sehingga memenuhi

jaminan bahwa pasien akan

dalam satu periode dinas. Jumlah

kebutuhan pasien secara

dirawat oleh orang yang

klien yang dirawat oleh satu perawat

komprehensif

sama pada hari berikutnya

memberikan

bergantung

asuhan

pada

keperawatan

kemampuan

Satu pasien satu perawat,

perawat tersebut dan kompleksnya

dan hal ini umumnya

kebutuhan klien.

dilaksanakan untuk perawat


privat atau untuk keperawatan
khusus seperti: isolasi,

3.

Metode Alokasi

Yaitu

pengorganisasian

intensive care
Fokus keperawatan sesuai

Beban kerja tinggi


9

Klien/Keperawatan

pelayanan/asuhan

Total

untuk satu atau beberapa klien oleh


satu

orang

keperawatan

perawat

pada

dengan kebutuhan klien.

saat

bertugas/jaga selama periode waktu


tertentu atau sampai klien pulang.

terutama jika jumlah klien


banyak sehingga tugas rutin

Memberikan kesempatan
untuk melakukan keperawatan

yang

yang komprehensif.

sederhana terlewatkan.

Memotivasi perawat untuk

Pendelegasian perawatan

Kepala ruangan bertanggung jawab

selalu bersama kien selama

klien hanya sebagian selama

dalam

dan

bertugas, non keperawatan

perawat penanggung

menerima semua laporan tentang

dapat dilakukan oleh yang

jawab klien bertugas.

pelayanan keperawatan klien.

bukan perawat.

pembagian

tugas

Mendukung penerapan
proses keperawatan.

Kepuasan tugas secara


keseluruhan dapat dicapai.

Metode Tim

Metode tim merupakan pemberian

Keperawatan/

asuhan keperawatan, yaitu seorang

dengan kebutuhan objektif

waktu sehingga pada situasi

Keperawatan

perawat

pasien sehingga pasien merasa

sibuk rapat tim ditiadakan

Kelompok

sekelompok

puas.

atau terburu-buru sehingga

dalam

profesional
tenaga

memberikan

memimpin
keperawatan
asuhan

asuhan keperawatan sesuai

dapat meningkatkan

Rapat tim memerlukan

dapat mengakibatkan

keperawatan pada sekelompok klien

kerjasama dan koordinasi

komunikasi dan koordinasi

melalui

perawat dalam melaksanakan

antar anggota tim terganggu

tugas,

sehingga kelancaran tugas

upaya

kooperatif

dan

kolaboratif. Namun pada metode ini,

10

kesinambungan asuhan keperawatan

terhambat.

memungkinkan adanya

belum optimal sehingga para pakar

transfer of knowledge dan

mengembangkan

transfer of experiences di antara

terampil dan belum

keperawatan primer (Douglas,1992

perawat dalam memberikan

berpengalaman selalu

dalam Nursalam 2007).

asuhan keperawatan

tergantung atau berlindung

metode

kepada anggota tim yang

meningkatkan pengetahuan

mampu atau ketua tim.

serta keterampilan dan motivasi


perawat dalam memberikan

asuhan keperawatan

Konflik atau perbedaan

Membutuhkan banyak
kerjasama dan komunikasi

interpersonal

Tidak efektif bila


pengaturan tidak baik

Memberi kepuasan anggota


tim dalam hubungan

Akontabilitas dalam tim


kabur.

pendapat antar staf daapt


ditekan melalui rapat tim.

Perawat yang belum

Membingungkan bila
komposisi tim sering dirubah

Memungkinkan menyatukan
kemampuan anggota tim yang
berbeda-beda dengan aman dan
efektif.

Metode

Menurut Nursalam (2007), metode

Memberikan kepuasan pada


pasien & perawat
Hanya ada satu perawat yang

Hanya dapat dilakukan


11

Keperawatan

penugasan di mana satu orang

bertanggung jawab dalam

Primer/Utama

perawat bertanggung jawab penuh

perencanaan dan koordinasi

(Primary Nursing)

selama 24 jam terhadap asuhan

asuhan keperawatan

dibandingkan metode lain

Jangkauan observasi setiap

karena lebih banyak

perawat 4-6 klien

menggunakan perawat

Perawat primer bertanggung

profesional.

keperawatan

pasien

mulai

dari

pasien masuk sampai keluar rumah


sakit. Metode primer ini ditandai

dengan adanya keterkaitan kuat dan


terus-menerus antara pasien dan
perawat

yang

merencanakan,
koordinasi

ditugaskan
melakukan,

asuhan

jawab selama 24 jam

untuk
dan

keperawatan

Perawat harus mampu


mengimbangi kemajuan

diberikan lebih awal

teknologi

Rencana asuhan keperawatan

kesehatan/kedokteran

kewenangan

Memungkinkan asuhan
keperawatan yang

Perawat anggota dapat


merasa kehilangan

berjalan parallel

Biaya relatif lebih tinggi

Rencana pulang klien dapat

dan rencana medik dapat

selama pasien dirawat.

oleh perawat profesional

Masalah komunikasi

komprehensif dengan
pertanggungjawaban yang
jelas.

Memberikan kepuasan kerja


bagi perawat

Memberikan kepuasan bagi


klien dan keluarga yang
menerima asuhan keperawatan
12

Metode Modular
Metode modular merupakan bentuk

Lebih mencerminkan

otonomi
Memfasilitasi pelayanan

variasi dari metode keperawatan


primer, dengan perawat profesional
dan perawat non-profesional bekerja
sama dalam memberikan asuhan
keperawatan, disamping itu karena
dua

atau

tiga

orang

perawat

bertanggung jawab atas sekelompok

keperawatan

menggunakan metode

modifikasi

primer , satu tim terdiri dari 2


penuh

pada

banyak sehingga tugas rutin

dengan pertanggungjawaban

yang

yang jelas.

sederhana terlewatkan.

Memungkinkan pencapaian

perawat penanggung

Konflik atau perbedaan

Memberi kepuasan anggota

jawab klien bertugas

Biaya relatif lebih tinggi

tim dalam hubungan

dibandingkan metode lain

interpersonal

karena lebih banyak


menggunakan perawat

Memungkinkan menyatukan
berbeda-beda dengan aman dan
efektif.

Hanya dapat dilakukan


oleh perawat profesional

profesional.

kemampuan anggota tim yang

(Arwani & Supriyatno, 2005)

Pendelegasian perawatan
klien hanya sebagian selama

ini efektif untuk belajar.

sekelompok

pasien berkisar 8 hingga 12 orang

komprehensif dan holistik

ditekan melalui rapat tim, cara

hingga 3 perawat memiliki tanggung


jawab

terutama jika jumlah klien

pendapat antar staf daapt

dengan

Beban kerja tinggi

keperawatan yang

proses keperawatan

kecil pasien. Dalam memberikan


asuhan

Produktif karena kerjasama,


komunikasi dan moral

Perawat harus mampu


mengimbangi kemajuan
teknologi
kesehatan/kedokteran
13

Model praktek keperawatan

Perawat anggota dapat

profesional dapat dilakukan

merasa kehilangan

atau diterapkan.

kewenangan

Memberikan kepuasan kerja

Masalah komunikasi

Moral perawat

bagi perawat

Memberikan kepuasan bagi


klien dan keluarga yang
menerima asuhan keperawatan

Lebih mencerminkan
otonomi

Metode Kasus

Yaitu pengorganisasian

pelayanan/asuhan keperawatan

dimana perawat mampu


memberikan asuhan keperawatan

Perawat memberikan asuhan


keperawatan kepada seorang pasien

perawatan
Sederhana dan langsung

profesional melakukan

Garis pertanggung jawaban

tugas non profesional

jelas

mencakup seluruh aspek


keperawatan yg dibutuhkan.

Menurunkan dana

Kebutuhan pasien cepat

perawat non profesional

terpenuhi

Memudahkan perencanaan

Tidak dapat dikerjakan

Membingungkan

tugas

secara menyeluruh, untuk


mengetahui apa yang harus
14

dilakukan pada pasien dengan baik.


Dalam metode ini dituntut kualitas
serta kuantitas yang tinggi dari
perawat, sehingga metode ini sesuai
jika digunakan untuk ruangan ICU
ataupun ICCU.

15

BAB III
ANALISA SITUASI
Lantai empat Rumah Sakit Umum Siloam terdiri dari 84 kapasitas tempat tidur yang dibagi
menjadi tiga ruang yaitu ruang pediatrik, ruang surgical dan ruang one day care. Ruang One
Day care terdiri dari hole B dan C, ruang surgical terdiri dari hole D sampai G sedangkan
ruang pediatrik terdiri dari hole H dan I.
Tenaga kesehatan di ruangan ini terdiri dari dokter umum, perawat, assisten perawat (HCA).
Jumlah tenaga keperawatan di ruang pediatrik sebanyak sembilan orang, di ruang surgical
dan one day care sebanyak 30 perawat. Khusus ruang surgical dan one day care, terdapat
perawat dengan tingkat pendidikan S1 keperawatan sebanyak satu orang, Ners sebanyak
tujuh orang dan D3 keperawatan sebanyak 21 orang. Metode asuhan keperawatan yang
digunakan adalah metode alokasi pasien. Pembagian kerja perawat menggunakan sistem
rasio dimana jumlah perawat yang bertugas dalam satu shift dibagi dengan jumlah pasien
yang ada. Ratio jumlah perawat yang berdinas di ruangan surgikal RSUS yaitu dinas pagi
1:7, dinas sore 1:7, dinas malam 1:10.
Telah dilakukan pengkajian yaitu pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan
kuisioner selama empat hari khusus di ruang surgical. Hasil pengkajian yang menjadi
perhatian observer adalah pertama tentang metode asuhan keperawatan, kedua tentang
pelaksanaan IPSG terutama IPSG 1, 5 dan 6, dan ketiga tentang enam benar pemberian obat
dengan hasil pengkajian di bawah ini. Pengkajian dengan observasi dilakukan dengan cara
satu mahasiswa mengikuti satu perawat tiap shift pagi dan siang. Mahasiswa mengobservasi
semua tindakan keperawatan yang dilakukan oleh perawat tersebut apakah sesuai dengan
SOP atau tidak. Sebelumnya mahasiswa menanyakan terlebih dahulu tindakan keperawatan
yang akan dilakukan oleh perawat tersebut kemudian mahasiswa membaca SOP tentang
tindakan yang akan dilakukan sehingga bisa mengetahui tindakan yang dilakukan sesuai
atau tidak. Pengkajian dengan wawancara dilakukan kepada HN, PP dan PA, begitu juga
dengan pengkajian menggunakan kuisioner diberikan kepada HN, PP dan PA.
Berdasarkan hasil observasi pada 16 PA (59,2%) dari total keseluruhan 27 PA, tidak
16

melaksanakan enam benar pemberian obat dan IPSG terutama IPSG 1, 5 dan 6. Hasil
wawancara dengan dua PP (66%) dari tiga PP di ruang surgical tentang metode asuhan
keperawatan, mereka mengatakan bahwa metode asuhan keperawatan yang digunakan saat
ini masih membingungkan dan tidak jelas. Begitu juga dengan hasil wawancara dengan 14
PA (51,8%), mereka mengatakan bahwa metode yang digunakan sekarang tidak jelas.

17