Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia modal dan teknologi menempati posisi yang


amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa. Penggunaan
sumber daya manusia, modal dan teknologi secara ekstensif telah banyak
ditinggalkan orang.
Sebaliknya, pola itu bergeser menuju penggunaan secara lebih
intensif dari semua sumber-sumber ekonomi. Sumber-sumber ekonomi
yang digerakkan secara efektif memerlukan keterampilan organisatoris dan
teknis sehingga mempunyai tingkat hasil guna yang tinggi. Artinya, hasil
yang diperoleh seimbang dengan masukan yang diolah. Melalui berbagai
perbaikan cara kerja, pemborosan waktu, tenaga dan berbagai input lainnya
akan bisa dikurangi sejauh mungkin. Hasilnya tentu akan lebih baik dan
banyak hal yang bisa dihemat. Yang jelas, waktu tak terbuang sia-sia,
tenaga dikerahkan secara efektif dan pencapaian tujuan usaha bisa
terselenggara dengan baik, efektif dan efisien.
Rendahnya produktivitas sering kali dikaitkan dengan tingkat
pendidikan. Diasumsikan makin tinggi tingkat pendidikan sesorang, makin
tinggi pula tingkat produktivitas yang mungkin dapat dicapainya. Karena
ini barangkali, kemampuan membaca dan menulis merupakan salah satu
elemen penting tahap-tahap awal program industrialisasi (Wie, 1995). Pada
tingkat industrialisasi yang lebih tinggi dibutuhkan ketrampilan teknik yang
lebih maju.

BAB II
PRODUKTIVITAS SALAH SATU FAKTOR PENENTUAN
BAGI PEMBANGUNAN SOSIAL DAN EKONOMI

1. Peranan dan Pentingnya Produktivitas


Pentingnya produktivitas kerja mencakup banyak hal, dimulai dari
produktivitas tenaga kerja, produktivitas organisasi, produktivitas modal,
produktivitas pemasaran, produktivitas produksi, produktivitas keuangan
dan produktivitas produk. Pada tahap awal revolusi industri di negaranegara Eropah, perhatian lebih banyak tertuju pada bidang produktivitas
tenaga kerja, produktivitas produksi dan produktivitas pemasaran.
Sedangkan di negara Jepang, perhatian peningkatan produktivitas tertuju
pada produktivitas tenaga kerja dan produktivitas organisasi, sehingga
keharmonisan

kepentingan

buruh

dan

majikan

dipelihara

dengan

baik. Pentingnya arti produktivitas dalam meningkatkan kesejahteraan


telah disadari secara universal, tidak ada jenis kegiatan manusia yang tidak
mendapatkan keuntungan dari produktivitas yang ditingkatkan sebagai
kekuatan untuk menghasilkan lebih banyak barang-barang maupun jasa,
peningkatan produktivitas juga menghasilkan peningkatan langsung pada
standar hidup yang berada dibawah kondisi distribusi yang sama dari
perolehan produktivitas yang sesuai dengan masukan tenaga kerja.Sayang
sekali produktivitas sering dikaitkan secara paksa, acuh tak acuh terhadap
kualitas hidup dan pengaruh yang membahakan bagi lingkungan. Misalnya,
nasionalisasi tidak manusiawi.

Bagi banyak orang meningkatkan produktivitas berarti bekerja lebih giat


dan cepat, mengurangi mutu barang, kerja dan kehidupan, meningkatkan
penganguran dan semacmnya. Kita tidak memberikan andil dengan
pandangan-pandangan yang pesimistis ini. Secara umum diyakini bahwa
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, upah yang wajar serta
untuk meningkatkan kondisi-kodisi kerja perlulah mempertimbangkan
produktivitas sebagai faktor penyumbang terbesar.Karena manusia adalah
sumber penting dan tujuan dari pembangunan kita harus meningkatkan
produktivitas bukan atas beban biaya mereka tapi atas beban biaya dari
waktu yang terbuang, pengurangan pegawai, birokrasi yang tidak perlu dan
sebagainya.

2. Pengertian Produktivitas
Jika membicarakan masalah produktivitas muncullah satu situasi
yang pradoksial (bertentangan), karena belum ada kesepakatan umum
tentang maksud pengertian produktivitas serta kriterianya dalam mengukur
petunjuk-petunjuk produktivitas. Dan tak ada konsepsi, metode penerapan
maupun cara pengukuran yang bebas kritik.
Secara umum, produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata
maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya (ILO, 1979). Greenberg
yang dikutip oleh Sinungan (1985) mengartikan produktivitas sebagai
perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi
totalitas masukan selama periode tersebut.
Pengertian lain produktivitas adalah sebagai tingkatan efisiensi
dalam

memproduksi

barang-barang

atau

jasa-jasa:

Produktivitas

mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber-sumber dalam


memproduksi barang-barang.

Produktivitas juga diartikan sebagai :


a.

perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil.

b.

Perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan


masukan yang dinyatakan dalam satu-satuan (unit) umum.

Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja


yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang
digunakan atau jam-jam kerja orang.
Persoalan

pencapaian

suatu

definisi

produktivitas

yang

mendetail bukanlah masalah produktivitas itu sendiri, namun suatu masalah


diluar produktivitas yang merupakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran
manajemen dalam sistem dan organisasinya dimana tujuan yang berbeda
memerlukan pendekatan yang berbeda pula untuk mendefinisikan
produktivitas.
Misalnya, hasil-hasil penelitian diantara menejer dan ahli serikat
buruh beberapa perusahaan Amerika menunjukkan bahwa menejermenejernya (78%) dan pimpinan-pimpinan serikat buruh (70%) sebagian
besar tidak hanya menerapkan definisi produktivitas yang kuantitatif.
Dilain pihak banyak mengaitkan produktivitas dengan organisasi-organisasi
individual dan meliputi konsepsi yang lebih luas dan kualitatif. Pada
hakikatnya, melalui produktivitas, manajemen dan para penentu kebijakan
serikat

buruh

mengarhkan

efektifitas

dan

pelaksanaan

organisasi

perseorangan secara menyeluruh, yang mencakup sedikit gambaran jelas


seperti tidak adanya rintangan dan kesulitan tingkatan pembalikan, ketidak
hadiran dan bahkan kepuasan langganan. Dengan dikemukakan konsepsi
produktivitas yang lebih luas ini maka dapatlah dipahami bahwa para
pembuat kebijaksanaan mengetahui batas antara pekerja, kepuasan para
langganan dan produktivitas.

Namun

demikian

para

pemimpin

serikat

buruh

terlebih

dahulu

memperhatikan pengeluaran yang nyata, yang menjelaskan alasan kerugian


usaha

peningkatan

produktivitas

yang

mungkin

menguntungkan

manajemennya bukannya pekerja yang diperlukan.


Dalam berbagai referensi terdapat banyak sekali pengertian mengenai
produktivitas, yang dapat kita kelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas tidak lain
ialahratio dari pada apa yang dihasilkan (out put) terhadap keseluruhan
peralatan produksi yang dipergunakan (input).
b.

Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu


mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari
pada kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.
c. Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga
faktor esensial, yakni: investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan
teknologi serta riset; manajemen; dan tenaga kerja.
Disamping ketiga pengertian tersebut dalam doktrin pada konferensi

Oslo, 1984, tercantum definisi umum produktivitas semesta yaitu:


Produktivitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan
untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak
manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit.
Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan
tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang
produktivitas untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien, dam tetap
menjaga adanya kualitas yang tinggi. Produktivitas mengikutsertakan
pendayagunaan secara terpadu sumber daya manusia dan keterampilan,

barang modal teknologi, manajemen, informasi, energi, dan sumber-sumber


lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup untuk
seluruh masyarakat, melalui konsep produktivitas semesta total.
Produktivitas mempunyai pengertiannya lebih luas dari ilmu pengetahuan,
teknologi dan teknik manajemen, yaitu sebagai suatu philosopi dan sikap
mental yang timbul dari motivasi yang kuat dari masyarakat, yang secara
terus menerus berusaha meningkatkan kualitas kehidupan.

BAB III
KONSEPSI PRODUKTIVITAS

Peningkatan

produktivitas

dan

efisiensi

merupakan

sumber

pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.


Sebaliknya, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan
unsur penting dalam menjaga kesinambungan peningkatan produktivitas
jangka panjang. Dengan demikian, pertumbuhan dan produktivitas bukan
dua hal yang terpisah atau memiliki hubungan satu arah, melainkan
keduanya adalah saling tergantung dengan pola hubungan yang dinamis,
tidak mekanistik, non linear dan kompleks.
Secara makro, sumber pertumbuhan dapat dikelompokkan kedalam unsur
berikut:.

Pertama, peningkatan stok modal sebagai hasil akumulasi dari proses


pembangunan yang terus berlangsung. Proses akumulasi ini merupakan
hasil dari proses investasi.
Kedua,

peningkatan jumlah tenaga kerja juga memberikan kontribusi

terhadap pertumbuhan ekonomi.


Ketiga,

peningkatan produktivitas merupakan sumber pertumbuhan yang

bukan disebabkan oleh peningkatan penggunaan jumlah dari input atau


sumber daya, melainkan disebabkan oleh peningkatan kualitasnya.
Dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama, pertumbuhan output
akan meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua sumber daya
tersebut meningkat.Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat dirinci,
pengukuran kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi sering
dihadapkan pada berbagai kesulitan. Disamping itu, kedudukan manusia,
baik sebagai tenaga kerja kasar maupun sebagai manajer, dari suatu
aktivitas produksi tentunya juga tidak sama dengan mesin atau alat produksi
lainnya. Seperti diketahui bahwa output dari setiap aktivitas ekonomi
tergantung pada manusia yang melaksanakan aktivitas tersebut, maka
sumber daya manusia merupakan sumber daya utama dalam pembangunan.
Sejalan dengan fenomena ini, konsep produktivitas yang dimaksud adalah
produktivitas tenaga kerja. Tentu saja, produktivitas tenaga kerja ini
dipengaruhi, dikondisikan atau bahkan ditentukan oleh ketersediaan faktor
produksi komplementernya seperti alat dan mesin. Namun demikian konsep
produktivitas adalah mengacu pada konsep produktivitas sumber daya
manusia.Secara umum konsep produktivitas adalah suatu perbandingan
antara keluaran (output) dan masukan (input) persatuan waktu.

Produktivitas dapat dikatakan meningkat apabila:


1.

Jumlah produksi/keluaran meningkat dengan jumlah masukan/sumber

daya yang sama.


2.

Jumlah produksi/keluaran sama atau meningkat dengan jumlah

masukan/sumber daya lebih kecil dan,


3.

Produksi/keluaran meningkat diperoleh dengan penambahan sumber

daya yang relatif kecil (soeripto, 1989; Chew, 1991 dan pheasant, 1991).

Konsep tersebut tentunya dapat dipakai didalam menghitung


produktivitas disemua sektor kegiatan. Menurut Manuaba (1992a)
peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya
segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya manusia
(do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the
thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan
dari tingkat efisiensi dan efektifitas kerja secara total.

BAB IV
PENGUKURAN PRODUKTIVITAS

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen yang


penting

disemua

tingkatan

ekonomi.

Dibeberapa Negara

maupun

perusahaan pada akhir-akhir ini telah terjadi kenaikan minat pada


pengukuran produktivitas. Karena itu sudah saatnya kita membicarakan
alasan mengapa kita harus mengukur produktivitas.
1.

Mengapa Mengukur Produktivitas


Pada tingkat sektoral dan nasional, produktivitas menunjukkan

kegunaannya dalam membantu evaluasi penampilan, perncanaan, kebijakan


pendapatan, upah dan harga melalui identifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi

distribusi

pendapatan,

membandingkan

sektor-sektor

ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan bantuan,


menentukan tingkar pertumbuhan suatu sektor atau ekonomi, mengetahui
pengaruh perdagangan internasional terhadap perkembangan ekonomi dan
seterusnya.
Pada tingkat perusahaan, pengukuran produktivitas terutama
digunakan sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan memdorong
efisiensi produksi.
Pertama, dengan pemberitahuan awal, instalasi dan pelaksanaan
suatu sistem pengukuran, akan meninggikan kesadaran pegawai dan
minatnya pada tingkat dan rangkaian produktivitas.
Kedua, diskusi tentang gambaran-gambaran yang berasal dari
metode-metode yang relatif kasar ataupun dari data yang kurang memenuhi

syarat sekalipun, ternyata memberi dasar bagi penganalisaan proses yang


konstruktif atas produktif.
Manfaat lain yang diperoleh dari pengukuran produktivitas
mungkin terlihat pada penempatan perusahaan yang tetap seperti dalam
menentukan target/sasaran tujuan yang nyata dan pertukaran informasi
antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap masalahmasalah yang saling berkaitan. Pengamatan atas perubahan-perubahan dari
gambaran data yang diperoleh sering nilai diagnostik yang menunjuk pada
kemacetan dan rintangan dalam meningkatkan penampilan oraganisasi.
Satu keuntungan dari pengukuran produktivitas adalah pembayaran staf.
Gambaran data melengkapi suatu dasar bagi andil manfaat atas penmpilan
yang ditingkatkan.

2. Metode-Metode Pokok Pengukuran Produktivitas


Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang
dapat dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda:
1.

Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan


pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan apakah
pelaksanaan

sekarang

mengetengahkan

apakah

ini

memuaskan,

meningkat

atau

namun
berkurang

hanya
serta

tingkatannya.
2.

Perbandingan pelakasanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi,


proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti itu menunjukkan
pencapaian relatif.

3.

Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah


yang terbaik sebagai memusatkan perhatian pada sasaran/tujuan.

Untuk

menyusun

perbandingan-perbandingan

ini

perlulah

mempertimbangkan tingkatan daftar susunan dan perbandingan pengukuran


produktivitas.
Paling sedikit ada 2 jenis tingkat perbandingan yang berbeda, yakni
produktivitas total dan produktivitas parsial.
1.

Produktivitas Total adalah perbandingan antara total keluaran


(output) dengan total masukan (input) persatuan waktu. Dalam
penghitungan produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga kerja,
kapital, bahan, energi) tehadap total keluaran harus diperhitungkan.
Hasil Total
Prouktivitas Total =
Masukan Total

2.

Produktivitas parsial adalah perbandingan dari keluaran dengan satu


jenis masukan atau input persatuan waktu, seperti upah tenaga kerja,
kapital, bahan, energi, beban kerja, dll.
Hasil parsial
Prouktivitas Parsial =
Masukan Total

BAB V
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA

Sebuah perusahaan atau sistem produksi lainnya menerapkan


kombinasi kebijakan, rencana sumber-sumber dan metodenya dalam
memenuhi kebutuhan dan tujuan khususnya. Kombinasi-kombinasi
kebijakan ini dituangkan melalui dan dengan bentuan faktor-faktor
produktivitas internal dan eksternal. Pada tingkat perusahaan, faktor-faktor
tersebut hampir seluruhnya direflesikan dalam sumber pokok, yakni:
manusia dan bahan-bahan atau melalui :
Sumber manusia.
Energi sumber mineral
Tenaga kerja

Manajemen dan organisasi

Modal pokok, bahan mentah

Contoh: Pengaruh faktor-faktor seperti pendidikan dan latihan terlihat pada


keahlian dan sikap pekerja. Kemajuan teknologi dan litbang jika
direalisasikan pada tingkat perusahaan hanyalah melalui tenaga kerja
trampil, perlengkapan serta manajemen yang lebih baik, dengan kata lain
melalui sumber-sumber manusia dan material. Faktor-faktor lingkungan
seperti siklus perdagangan, ekonomi skala serta kondisi melalui tenaga

kerja (pekerja lapangan dan pekerja kantor tata usaha maupun


manajemennya) dan modal.
Jadi peningkatan produktivitas terutama berkaitan dengan tiga jenis sumber:
Modal (Perlengkapan, material, energi, tanah dan
bangunan)
Tenaga kerja.
Manjemen dan organisasi.

1. Perlengkapan, Material, Dan Tenaga/Energi


Sebuah perbandingan dari hasil perjam kerja manusia melalui
waktu dipengaruhi oleh volume, variasi dan hasil tahunan modal tetap.
Kualitas, unsur peralatan serta tingkat keseragamannya seringkali berat
timbangannya dalam mengukur produktivitas organisasi.
Pada umumnya

metode-metode

perintah

kerja

untuk

penggunaan yang lebih baik dari peralatan, dapat disarankan:


Pemilihan daya guna peralatan yang cocok.
Penjadwalan daya guna mesin.
Pengaturan pelayanan dan perawatan mesin.
Melatih dan memberikan pelajaran pada pekerja operasional.
Faktor pertumbuhan produktivitas yang sangat penting adalah
material dan tenaga. Penggunaan bahan baku yang terbuang rata-rata
mencapai sekitar 40% dari biaya produksi nasional secara keseluruhan,
jika kita mempertimbangkan tenaga maupun bahan baku, maka
gambaran ini meningkat dalam jumlah yang besar. Latihan operator
yang sedikit, penataan yang kurang baik serta ruang gedung yang tidak

cukup, dapat memperburuk masalah penanganan bahan-bahan dan


mengarah kepada perubahan gerak dan berakibat.
Tujuan yang paling penting haruslah dengan merancang metodemetode untuk memproduksi jumlah hasil produksi yang sama dengan
energi material yang sedikit serta mengganti material maupun alat-alat
dengan biaya lebih rendah atau mungkin lebih memproduksi barang
lebih dari jumlah bahan yang sama.
Meningkatkan produtivitas juga tegantung pada pemilihan
bahan-bahan maupun daya guna secara optimal. Setiap material
mempunyai harga dan kualitas sendiri yang pemilihan yang tepat akan
mempengruhi produkitivitas.

2. Angkatan Kerja
Salah satu area potensial tertinggi dalam peningkatan
produktivitas adalah mengurangi jam kerja yang tidak efektif. Lamanya
buruh bekerja, dan proporsi penempatan waktu yang produktif sangat
tergantung kepada cara pengaturan, latihan, pengaturan dan motivasinya.
Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa waktu yang produktif
berkisar 25% sampai 30% sedangkan yang tidak produktif karena
kejelekan manajemennya kadang-kadang mencapai 50% lebih dan
sisanya disebabkan adanya pekerjaan yang sia-sia ataupun karena sikap
pekerjaannya.
a. Struktur Waktu Kerja
Analisa dan studi yang berhati-hati terhadap semua komponen
dan penggunaan waktu yang tidak efektif menyebabkan manajemen
dan pengawasan mampu mengurangi sebab-sebab utama dari kerugian

waktu serta membantu merencanakan teknik-teknik peningkatan


produktivitas bagi kepentingan individu atau kelompok pelaksanaan.
b. Peningkatan Efektifitas Dari Waktu Kerja
Masalah berikutnya adalah cara melaksanakan teknik peningkatan
produktivitas

menggunakan

manajemen,

penambahan

material,

perencanaan dan organisasi kerja yang lebih baik, latihan dan


pendidikan,

kepuasan

tugas

serta

faktor-faktor

lain

yang

mempengaruhi kualitas tenaga kerja maupun memanfaatkan cadangancadangan.


Kesempatan utama dalam meningkatkan produktivitas manusia
terletak pada kemampuan individu sikap individu dalam bekerja serta
manajemen maupun organisasi kerja dengan kata lain, dalam mengkaji
produktivitas pekerja individual paling sedikit kita harus menjawab
dari pertanyaan pokoknya: mampukah buruh bekerja lebih baik dan
tertarikkah pekerja untuk bekerja lebih giat?
Untuk menjawab kita harus mengecek dua kelompok syarat bagi
produktivitas perorangan yang tinggi.
Yang pertama sedikitnya meliputi:

Tingkat pendidikan dan keahlian.

Jenis teknologi dan hasil produksi.

Kondisi kerja.

Kesehatan, kemampuan fisik dan mental.

Kelompok kedua mencakup:

Sikap (terhadap tugas), teman sejawat dan pengawas).

Keaneka ragaman tugas.

Sistem insentif (sistem upah dan bonus).

Kepuasan kerja keamanan kerja.

Kepastian pekerjaan.

Perspektif dari ambisi dan promosi.

Jadi setiap tindakan perencanaan peningkatan produktivitas individual


paling sedikit mencakup tiga tahap berikut ini:
1.

Mengenai faktor makro utama bagi peningkatan


produktivitas.

2.

mengukur pentingnya setiap faktor dan menentukan


prioritasnya.

3.

merncanakan sistem tahap-tahap untuk meningkatkan


kemampuan pekerja dan memperbaiki sikap mereka sebagai
sumber utama produktivitas.

c. Insentif (Perangsang)
Yang paling penting, program peningkatan produktivitas yang
berhasil itu ditandai dengan adanya andil yang luas dari keuangan
dan tunjangan-tunjangan lain diseluruh organisasi. Setiap
pembayaran kepada perorangan harus ditentukan oleh andilnya bagi
produktivitas, sedangkan kenaikan pembayaran harus dianugerahkan
teruatama berdasarkan hasil produktivitas.
Untuk menjadi seorang motivator yang efektif pemberian bonus
cara yang sederhana mungkin, sehingga penerima segera dapat
mengetahui berapa rupiah yag dia peroleh dari upayanya. Bentuk
pemberian bonus yang berorientasi pada penampilan adalah proyek
pemberian bonus, dimana hasil kerja yang baik segera diberi hadiah
dengan bonus yang sesuai. Hal tersebut lebih aktif dibandingkan

menunggu berapa bulan tanpa pemberitahuan yang nyata sampai saat


pemberian bonus diakhir tahun ketika suasana semua menrima
akan membuang semua pengaruh motivasi selama tahun berjalan.
Penghargaan serta penggunaan motivator yang tepat akan
menimbulkan suasana kondutif atau berakibat kepada produktivitas
yang lebih tinggi. Semua itu mencakup sistem pemberian insentif
dan usaha-usaha manambah kepuasab kerja melalui sarana yang
beraneka macam.

BAB VI
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA

Banyak faktor yang dapat mempengruhi tinggi rendahnya


produktivitas kerja. Soedirman (1986) dan tarwaka (1991) merinci faktor
yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum.
1. Motivasi.
Motivasi merupakan keuatan atau motor pendorong kegiatan
seseorang kearah tujuan tertentu dan melibatkan segala kemampuan yang
didmiliki untuk mencapainya.
Karyawan didalam proses produksi adalah sebagai manusia (individu)
sudah barang tentu memiliki identifikasi tersendiri antara lain sebagai
berikut:
Tabiat/watak
Siakap laku/penampilan

Kebutuhan
Keinginan
Cita-cita/kepentingan-kepentingan lainnya
Kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk oleh keadaan aslinya
Keadaan lingkungan dan pengalaman karyawan itu sendiri
Karena setiap karyawan memiliki identifikasi yang berlainan
sebagai akibat dari latar belakang pendidikan, pengalaman dan lingkungan
masyarakat yang beranekan ragam, maka ini akan terbawa juga dalam
hubungan kerjanya sehingga akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku
karyawan tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya.
Demikian pula pengusaha juga mempunyai latar belakang budaya
dan pandangan falsafah serta pengalaman dalam menjalankan perusahaan
yang berlain-lainan sehingga berpengaruh di dalam melaksanakan pola
hubungan kerja dengan karyawan.
Pada hakikatnya motivasi karyawan dan pengusaha berbeda karena
adanya perbedaan kepantingan maka perlu diciptakan motivasi yang searah
untuk mencpai tujuan bersama dalam rangka kelangsungan usaha dan
ketenaga kerjaan, sehingga apa yang menajdi kehendak dan cita-cita kedua
belah pihak dapat diwujudkan.
Dengan demikian karyawan akan mengetahui fungsi, peranan dana
tanggung jawab dilingkungan kerjanya dan dilain pihak pengusaha perlu
menumbuhkan iklim kerja yang sehat dimana hak dan kewajiban karyawan
diatur sedemikian rupa selaras dengan fungsi, peranan dan tanggung jawab
karyawan sehingga dapat mendorong motivasi kerja kearah partisipasi
karyawan terhadap perusahaan.
Iklim kerja yang sehat dapat mendorong sikap keterbukaan baik
dari pihak karyawan maupun dari pihak pengusaha sehingga mampu

menumbuhkan motivasi kerja yang searah antara karyawan dan pengusaha


dalam rangka menciptakan ketentraman kerja dan kelangsungan usaha
kearah peningkatan produksi dan prosuktivitas kerja.
a.

Faktor-faktor Motivasi Kerja


Untuk mendapatkan motivasi kerja yang dibutuhkan suatu

landasan yaitu terdaptnya suatu motivator. Dan hal ini merupakan hasil
suatu pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang dalam perencanaan dan
program yang terpadu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sesuai
dengan keadaan eksteren dan interen.
Adapun yang dibutuhkan oleh motivator adalah sebagai berikut:

Pencapain penyelesaian tugas yang berhasil berdasarkan tujuan dan


sasaran.

Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan sasaran yang telah


ditetapkan.

Sifat dan ruang lingkup pekerjaan itu sendiri (pekerjaan yang


menarik dan memberi harapan ).

Adanya peningkatan (kemajuan).

Adanya tanggung jawab.

Adanya administrasi dan manajemen serta kebijaksanaan


pemerintah.

Supervisi.

Hubungan antara perseorangan.

Kondisi kerja

Gaji

Status

Keselamatan dan Kesehatan kerja.

b. Usaha-usaha Peningkatan Motivasi Kerja


Untuk pencapaian tujuan diatas, maka perlu adanya pembinaan
sikap

laku

yang

meliputi

seluruh

pelaku

produksi.

Pemerintah,

pengusaha/organisasi pengusaha, karyawan/organisasi karyawan dengan


cara sebagai berikut:
1)

Intern Perusahaan
a. penjabaran dan penanaman pengertian serta tumbuhnya sikap laku
dan pengamalan konsep Tri Dharma.

Rumongso handarbeni (saling ikut memiliki).

Melu Hangrungkebi (ikut serta memelihara, mempertahankan


dan melestarikan).

Mulat seriro hangroso wani (terus menerus mawasdiri).

b. Secara fisik, maka sarana-sarana motivatif yang langsung berkaitan


dengan kerja dan tenaga kerja diusahakan peningkatan menurut
kemampuan dan situasi-situasi perusahaan
2)

Ekstern perusahaan

Penanaman kesadaran bermasyarakat dan kesadaran bernegara antara lain


melalui penataran P4.
2. Kedisplinan
Disiplin merupakan sikap mental yang tecermin dalam perbuatan
tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau
ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang
berlaku. Disiplin dapat pula diartikan sebagai pengendalian diri agar tidak
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan falsafah dan moral Pancasila

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa disiplin mengacu pada
pola tingkah laku dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang
sudah menjadi norma, etik, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat.
2. Adanya prilaku yang dikendalikan.
3. Adanya ketaatan (obedience)

Dari ciri-ciri pola tingkah laku pribadi disiplin, jelaslah bahwa disiplin
membutuhkan pengorbanan, baik itu perasaan, waktu, kenikmatan dan lainlain. Disiplin bukanlah tujuan, melainkan sarana yang ikut memainkan
peranan dalam pencapaian tujuan. Manusia sukses adalah manusia yang
mampu mengatur, mengendalikan diri yang menyangkut pengaturan cara
hidup dan mengatur cara kerja. Maka erat hubungannya antara manusia
sukses dengan pribadi disiplin. Mengingat eratnya hubungan disiplin
dengan produktivitas maka disiplin mempunyai peran sentral dalam
membentuk pola kerja dan etos kerja produktif.
Disiplin mempunyai pengertian yang berbeda-beda dan dari
berbagai pengertian itu dapat kita sarikan beberapa hal sebagai berikut:
a.

Kata disiplin (terminologis) berasal dari kata latin: disciplina yang


berartipengajaran,

latihan dan

sebagainya

(berawal

dari

kata discipulus yaitu sorang yang belajar). Jadi secara etimologis ada
hubungan pengertian antara discipline dengan disciple (Inggris) yang
berarti murid, pengikut yang setia, ajaran atau aliran.
b.

Latihan yang mengembangkan pengedalian diri, watak atau ketertiban


dan efisiensi.

c.

Kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap ketentuan dan


peraturan pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang berlaku dala
masyarakat.

d.

Penghukuman (punishment) yang dilakukan melalui koreksi dan


latihan

untuk

mencapai

prilaku

yang

dikendalikan

(controlled

behaviour).
Dengan rumusan-rumusan tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa, disiplinadalah sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau
tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau
ketaatan (obedience) terhadap peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan
yang ditetapkan baik oleh pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang
berlaku dalam masyarakat untu tujuan tertentu.
Disiplin dapat pula diartikan pengendalian diri agar tidak
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan falsafah dan moral
Pancasila. Disiplin

nasionaladalah

suatu

kondisi

yang

merupakan

perwujudan sikap mental dan perilaku suatu bangsa ditinjau dari aspek
kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan, peraturan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
3. Etos Kerja.
Etos kerja merupakan salah satu faktor penentu produktivitas,
karena etos kerja merupakan pandangan untuk menilai sejauh mana kita
melakukan suatu pekerjaan dan terus berupaya untuk mencapai hasil yang
terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Usaha untuk mengembangkan etos kerja yang produktif pada dasarnya
mengarah pada peningkatan produktivitas yang bykan saja produktivitas
individu melainkan juga produktivitas masyarakat secara keseluruhan.

Untuk itu dapat ditempuh berbagai langkah seperti:


a.

Peningkatan produktivitas melalui penumbuhan etos kerja, dapat


dilakukan lewat pendidikan yang terarah. Pendidikan harus mengarah
kepada pembentukan sikap mental pembangunan, sikap atau watak
positif sebagai manusia pemabangunan bercirikan inisiatif, kreatif,
berani mengambil resiko, sistematis dan skeptis.

b.

Sistem

pendidikan

perlu

disesuaikan

dengan

kebutuhan

pembangunan yang memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan


serta sekaligus dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, kualitas
dan efisiensi kerja. Berbagai pendidikan kejuruan dan politeknik perlu
diperluas dan ditingkatkan mutunya.
c.

Dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan sebaiknya


nilai budaya Indonesia terus dikembangkan dan dibina guna
mempertebal rasa harga diri dan kebangsaan dan memperkokoh
kesatuan.

d.

Disiplin nasional harus terus dibina dan dikembangkan untuk


memperoleh rasa sikap mental manusia yang produtif .

e.

Menggalakkan

partisipasi

masyarakat,

maningkatkan

dan

mendorong agar terjadi perubahan dalam masyarakat tentang tingkah


laku, sikap serta psikologi masyarakat.
f.

Menumbuhkan motivasi kerja, dari sudut pandang pekerja, kerja


berarti pengorbanan \, baik untuk pengorbanan waktu senggang dan
kenikmatan hidup lainnya, sementara itu upah merupakan ganti rugi
dari segala pengorbanannya itu.

Usaha-usaha

diatas

harus

terus

dilakukan

secara

teratur

dan

berkesinambungan untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan


langkah ini perlu direalisasikan apabila tujuan-tujuan yang diahrapkan
untuk membentuk sikap mental dan etos kerja yang produktif sebagai faktor
dominan masyarakat pembangunan dalam menuju tahap tinggal landas.

4. Keterampilan.
Faktor keterampilan baik keterampilan teknis maupun manajerial
sangat menentukan tingkat pencapaian produktivitas. Dengan demikian
setiap individu selalu dituntut untuk terampil dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) teruatama dalam perubahan teknologi
mutakhir.
5. Pendidikan.
Tingkat pendidikan harus selalu dikembangkan baik melalui jalur
pendidikan formal maupun informal. Karena setiap penggunaan teknologi
hanya akan dapat kita kuasai dengan pengetahuan, keterampilan dan
kemampuan yang handal.
Disamping faktor tersebut diatas, manuaba (1992) mengemukakan
bahwa faktor alat, cara dan lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap
produktivitas yang tinggi, maka faktor tersebut harus betul-betul serasi
terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia pekerja.
Dalam pendidikan maka kita mengenal tiga faktor yang
memberikan dasar penting untuk pengembangan disiplin ialah sebagai
berikut:
a.

Pendidikan umum dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

b.

Pendidikan politik guna membudayakan kehidupan berdasarkan


konstitusi, dwmokrasi pancasila dan hukum kesadaran hukum kunci
penting untuk menegakkan disiplin.

c.

Pendidikan Agama yang menuju kepada pengendalian diri (self


control) yang merupakan hakikat disiplin, nilai agama tidak boleh
dipisahkan dari setiap aktivitas manusia peranan nilai-nilai keagamaan
itu juga dijadikan bagian penting dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara, mengamalkan nilai kebenaran agama

yang diarahkan membina disiplin nasional itu wajib, sebagaimana


manusia Indonesia mengamalkan Pancasila.

BAB VII
PENUTUP

Produktivitas bukanlah suatu perhitungan kuantitas, tetapi seperti


diterangkan

dalam

bab-bab

terdahulu,

adalah

suatu

ratio,

suatu

perbandingan dan merupakan suatu pengukuran matematis dari suatu


tingkat efisiensi. Produksi berkaitan dengan kuantitas, sedangkan
produktivitas adalah hasil persatuan dari suatu input (masukan). Jadi
merupakan perbandingan antara output (hasil) dan input (masukan).

DAFTAR PUSTAKA
Sinungan,

Muchdarsyah,

2005, Produktivitas

Apa

dan

Bagaimana. Jakarta, Bumi Aksara


Tarwaka, dkk, 2004, Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan
produktivitas. Surakarta. Uniba Press.
Artikel dari Internet

http://www.bung-hatta.info/content.php?article.202 (Produktivitas
Tenaga Kerja Dari Perspektif Sosial)

Antoni.,

Student

Ph.D

Fakulti

Universiti

Kebangsaan

Malaysia, 2007, Gaya Kepemimpinan Dan Produktivitas Kerja,

Rahardi Ramelan, Konsepsi Dan Strategi Peningkatan Produktivitas


Nasional Pd Seminar Gerakan Produktivitas Nasional pada tanggal 13
Juli 1994 di Departemen Tenaga Kerja RI, Jakarta.