Anda di halaman 1dari 9

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS HUKUM

Pengantar Ilmu Hukum


Pelarangan Tenaga Kerja Dibawah Umur di Indonesia
Oleh :
Pandu Wisnumurti
13/348930/HK/19605
Yogyakarta
2013

Pernyataan
Dengan ini saya menyatakan bahwa mini paper yang saya buat adalah asli buatan saya sendiri
dan bukan merupakan hasil plagiasi karya orang lain. Atas pernyataan ini saya bersedia dimintai
pertanggungjawaban apabila di kemudian hari ditemukan plagiasi.

Yogyakarta 25 November 2013

Pandu Wisnumurti
13/348930/HK/19605

A. Latar Belakang
Pada saat ini tidak jarang bahkan sering kita melihat anak dibawah umur bekerja sebagai
seorang pengantar koran , penjual makanan di pinggir jalan bahkan ada juga yang jadi buruh di
pabrik. Pada usia yang terhitung masih muda tersebut seharusnya mereka dapat menikmati masa
mudanya dengan bermain dengan teman sebayanya atau belajar dengan tenang di sekolah dan
bukannya malah bekerja yang seharusnya menjadi tanggungan orang dewasa.
Memang banyak faktor yang mempengaruhi anak-anak dibawah umur tersebut untuk bekerja
seperti orang tua yang tidak mencukupi kehidupan sehari-hari atau karena tidak punya biaya
untuk melanjutkan pendidikan sehingga dengan terpaksa mereka harus bekerja demi mencari
sesuap nasi, tapi itu semua seharusnya bukanlah menjadi masalah karena sudah banyak bantuan
dari pemerintah untuk rakyat miskin.
Terlepas dari semua bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah , tetap saja masih banyak
tenaga kerja dibawah umur di Indonesia bahkan mereka diantara para pekerja dibawah umur
tersebut ada yang dijadikan TKI di luar negri secara illegal. Disinilah peran pemerintah untuk
melakukan tindakan dengan kebijakan-kebijakannya untuk mengurangi angka tenaga kerja di
bawah umur.
Terkadang juga banyak perusahaan yang tidak hanya melanggar ketentuan dalam undangundang ketenagakerjaan dengan mempekerjakan anak dibawah umur tapi juga seringkali terjadi
tindak kekerasan yang menimpa pada pekerja-pekerja anak dibawah umur tersebut.
Sebenarnya di Indonesia sudah ada undang-undang yang mengatur ketenagakerjaan yaitu
Undang-undang no. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang dimana beberapa pasal dalam
undang-undang tersebut mengatur tentang tenaga kerja dibawah umur namun meskipun begitu
masih banyak saja hal-hal yang terjadi di sekitar kita yang menyimpang dari undang-undang
tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penerapan larangan tenaga kerja dibawah umur di Indonesia ?
C. Pembahasan
Kasus tentang tenaga kerja dibawah umur sebenernya sangatlah banyak di Indonesia. Hal ini
tentulah harus menjadi perhatian bagi pemerintah untuk melindungi hak-hak bagi anak yang
dibawah umur tersebut. Namun lebih memprihatinkan lagi ada sebuah industri yang
mempekerjakan tenaga kerja dibawah umur secara tidak layak. Hal ini terjadi pada sebuah pabrik
pembuatan alumunium balok dan kuali di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan
Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Sekap Buruh, Pabrik Panci di Sepatan Digerebek


Sabtu, 04 Mei 2013
Kepolisian Resor Kota Tangerang menggerebek sebuah pabrik pembuatan alumunium
balok dan kuali di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten
Tangerang.
Pabrik yang diduga illegal ini dilaporkan telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia
seperti menyiksa dan menyekap karyawan, mempekerjakan karyawan di bawah umur, dan para
karyawan tersebut tidak diberi upah yang standar. "Pabrik ini sudah beroperasi 1,5 tahun, tapi
memperlakukan karyawannya sangat tidak manusiawi," ujar Kepala Satuan Reserse dan
Kriminal Polres Kota Tangerang Shinto kepada Tempo, Sabtu, 4 Mei 2013.
Usaha yang dimiliki oleh JK, 40 tahun itu digerebek polisi pada Jumat petang, 3 Mei
2013 kemarin. Di lokasi, polisi menemukan beberapa fakta soal usaha industri rumahan tersebut,
yaitu tempat usaha industri tidak memiliki izin industri dari Pemerintah Kabupaten Tangerang,
tempat istirahat buruh berupa ruang tertutup seluas 8 meter x 6 meter tanpa ranjang tempat tidur,
hanya alas tikar, kondisi pengab, lembab, gelap, serta kamar mandi yang kondisinya kotor dan
jorok karena tidak terawat.

"Dompet dan HP yang dibawa buruh ketika awal bekerja disita oleh JK dan disimpan
istrinya tanpa argumentasi yang jelas," kata Shinto. "Buruh yang sudah bekerja dua bulan
dijanjikan akan mendapat upah sebesar Rp 600 ribu perbulan. "Tapi gaji tidak diberikan,"
katanya.
Saat penggerebekan, polisi juga menemukan enam orang buruh yang sedang disekap
dengan kondisi ruangan dikunci dari luar. Kondisi para buruh tersebut sangat memprihatinkan.
Pakaian yang dikenakan kumal, compang-camping karena berbulan-bulan tidak ganti. "Kondisi
tubuh buruh juga tidak terawat. Rambut cokelat, kelopak mata gelap, berpenyakit kulit (kurap
dan gatal-gatal), terlihat tidak sehat," kata Shinto.
Para buruh tersebut mengaku diperlakukan tidak manusiwi. Hak-hak terkait kesehatan
dan hak untuk berkomunikasi diabaikan oleh pemilik usaha tersebut. Polisi juga menemukan
empat orang buruh yang masih berusia di bawah 17 tahun dengan status masih anak-anak.
Analisis kasus dan pembahasan
Kasus di atas sudah jelas merupakan pelanggaran terhadap undang-undang
ketenagakerjaan. Hal itu bisa dilihat dari pabrik panci yang memekerjakan anak dibawah umur
dan memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Adapun pengertian anak menurut UU No. 13
Tahun 2003 adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun. Hal ini berarti
bahwa usia antara 15 (lima belas) tahun dan 18 (delapan belas) tahun adalah masih berstatus
sebagai anak.1
Pada kasus diatas tidak hanya melanggar ketentuan pada undang-undang ketenagakerjaan
tapi juga sudah menyangkut pada pelanggaran Hak Asasi Manusia dan juga undang-undang
perlindungan anak.
Dalam Undang-undang ketenagakerjaan perusahaan dilarang untuk mempekerjakan anak,
yang berumur antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (tahun) untuk melakukan pekerjaan
ringan sepanjang tidak menganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental ,dan sosial2.
1 Rusli, Hardijan. 2004. HUKUM KETENAGAKERJAAN 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal 103
2 Pasal 68 dan 69 ayat 1 UU No.13 Tahun 2003

Berdasarkan hal tersebut maka perusahaan pabrik tersebut telah melanggar ketentuan
yang ada pada undang-undang ketenagakerjaan dimana mereka mensekap beberapa pekerjanya
yang dibawah umur lalu dikunci dari luar dan dibiarkan tidak terurus. Hal ini tentu dapat
menyebabkan gangguan perkembangan dan kesehatan fisik,mental ,dan social para pekerja
tersebut.
Perusahaan sebenarnya boleh saja mempekerjakan anak dibawah umur namun itupun
hanya untuk melakukan pekerjaan ringan dan tidak mempengaruhi kondisi fisiknya dan harus
memenuhi persyaratan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Izin tertulis dari orang tua atau wali


Perjanjian kerja antara pengusaha atau wali
Waktu kerja maksimum tiga jam
Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah
Keselamatan dan kesehatan kerja
Adanya hubungan kerja yang jelas
Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Selain memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut perusahaan tentu tidak boleh


sembarangan menempatkan pekerja dibawah umur tersebut karena dikhawatirkan mengganggu
perkembangan fisik, mental, dan social. Adapun pekerjaan-pekerjaan yang terburuk bagi anak
meliputi :
1. Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya
2. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk
pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno atau perjudian
3. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk
produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zak adiktif
lainnya.
4. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak3
Dalam kasus diatas tentu pabrik panci tersebut sudah melanggar poin pertama dan poin
kedua dimana pabrik tersebut secara tidak langsung melakukan pekerjaan dalam bentuk
perbudakan dimana para pekerja dibawah umurnya diperlakukan secara tidak manusiawi. Lalu

3 Pasal 74 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003

dengan perlakuan tersebut maka dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, dan moral
pekerja dibawah umur tersebut dimana hal ini melanggar poin nomor empat.
Akibat dari pabrik panci yang telah mepekerjakan anak pada pekerjaan yang terburuk maka
orang yang telah mempekerjakan anak tersebut bisa di jatuhi sanksi pidana penjara paling
singkat dua tahun dan paling lama lima tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000.000,dan paling banyak Rp 500.000.000,-.4
Selain melanggar beberapa aturan seperti yang telah dijelaskan diatas pabrik panci milik JK
tersebut juga telah melanggar peraturan tentang upah untuk para pekerjanya. Seperti yang telah
disebutkan diatas pabrik panci tersebut memberikan upah dibawah upah minimum bahkan tidak
memberi upah sama sekali.
Berdasarkan wacana diatas maka kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa pabrik panci
tersebut sengaja memberi upah minimum bahkan tidak memberi upah. Seperti penjelasan
sebelumnya maka perusahaan tersebut telah melanggar salah satu persyaratan untuk
mempekerjakan anak dibawah umur tepatnya pada poin ke-tujuh yaitu Menerima upah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Padahal mungkin saja pabrik panci tersebut mampu untuk membayar para pekerjanya
sesuai dengan standar upah minimum. Sehingga pabrik panci tersebut tidak bisa melakukan
penangguhan ke Menaker.
Penangguhan pelaksanaan upah minimum bagi perusahaan yang tidak mampu
dimaksudkan untuk membebaskan perusahaan tersebut yang bersangkutan melaksanakan upah
minimum dalam kurun waktu tertentu.5 Namun bila masa penangguhannya telah berakhir maka
perusahaan tersebut haruslah membayar sesuai standar upah minimum.

4 Pasal 183 UU no.13 tahun 2003


5 Rusli, Hardijan. 2004. HUKUM KETENAGAKERJAAN 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Hal 120

Sebagaimana kita tahu bahwa pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum
dapat melakukan penangguhan dengan tata caranya diatur dengan keputusan Menaker.6 Akibat
hukum yang ditimbulkan oleh pengusaha yang tidak membayar pekerjanya sesuai dengan
ketentuan upah minimum adalah sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) Tahun dan paling
lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah).7

D. Kesimpulan
Dalam Kasus ini, Pabrik panci tersebut telah melakukan pelanggaran Undang undang nomor
13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan berupa meperkerjakan anak dibawah umur sebagai buruh
terlebih lagi pabrik panci tersebut mempekerjakan pekerja dibawah umur dan beberapa pekerja
lainnya dengan upah yang tidak sesuai dan juga memperlakukannya dengan tidak layak.
Para pelaku pabrik itupun sudah sepantasnya untuk di hukum secara berat karena para pelaku
usaha pabri panci tersebut telah melakukan berbagai tindakan yang tidak manusiawi sehingga
mereka bisa dijerat dengan ancaman pasal berlapis.
E. Saran
Melihat banyaknya kasus perusahaan yang mempekerjakan anak dibawah umur yang tidak
sesuai ketentuan pada undang-undang, pemerintah sebaiknya bisa mensosialisasikan undangundang ketenagakerjaan terlebih tentang pekerja anak dibawah umur. Hal ini dimaksudkan agar
perusahaan mengerti prosedur-prosedur dalam mempekerjakan anak dibawah umur. Pemerintah
juga harus bertindak secara tegas bagi para pengusaha yang melakukan pelanggaran
mempekerjakan anak dibawah umur yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang.

6 Rusli, Hardijan. 2004. HUKUM KETENAGAKERJAAN 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia.


Hal 120
7 Pasal 185 UU No. 13 Tahun 2003

Daftar Pustaka
Muharam, Hidayat. 2006. Panduan Memahami Hukum Ketenagakerjaan serta Pelaksanaannya di
Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti
Rusli, Hardijan. 2004. HUKUM KETENAGAKERJAAN 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia.
http://www.tempo.co/read/news/2013/05/04/064477916/Pabrik-Kuali-di-Sepatan-Digerebek