Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HASIL UJIAN PENYAKIT DALAM

PHYSICAL EXAMINATION (PE)

Oleh :
ANDI NUR IZZATI BINTI DOLAR, SKH

B94144103

Dosen Penguji :
Drh. Retno Wulansari, M.Si, Ph.D
Dr. Drh. R. P. Agus Lelana, Sp. MP, M.Si

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

FORMULIR PEMERIKSAAN FISIK HEWAN


(PHYSICAL EXAMINATION FORM)
Tanggal pemeriksaan

: 31 Maret 2016

Anamnesis
Berdasarkan anamnesa yang diperoleh, sapi telah melahirkan satu kali, pada saat post
partus mengalami pendarahan dan sudah diberikan pengobatan oleh paramedis. Produksi susu
9 liter perhari.
Signalament
Nama
Jenis hewan
Ras/ Breed
Warna bulu dan kulit
Jenis kelamin
Umur
Berat badan
Tanda khusus

: Sapi II
: Sapi
: Friesien Holstein
: Putih hitam
: Betina
: 3 Tahun
: 400 kg
: Tidak ada

Status Present
Keadaan Umum
Perawatan
Habitus/tingkah laku
Temperamen
Gizi
Pertumbuhan Badan
Body Condition Score
Sikap berdiri
Suhu tubuh
Frekuensi nadi
Frekuensi napas

: Baik
: Tulang punggung lurus / jinak
: Jinak
: Baik
: Baik
: 2.7
: Tegak pada keempat kaki
: 39,6 oC
: 100 kali/menit
: 56 kali/menit

Adaptasi Lingkungan

: Baik

Kepala dan Leher


Inspeksi
Ekspresi wajah
Pertulangan kepala
Posisi tegak telinga
Posisi kepala
Palpasi
Turgor kulit
Kondisi kulit

Mata dan Orbita Kiri

: Tenang
: Simetris, tegas
: Tegak sejajar ke samping
: Sejajar dengan tulang punggung
: 3 detik
: Baik

Palpebrae
Cilia
Konjungtiva
Membrana nictitans

: Membuka dan menutup sempurna


: Melengkung ke arah luar
: Pucat, lembab
: Tersembunyi

Mata dan Orbita Kanan


Palpebrae
Cilia
Konjungtiva
Membrana nictitans

: Membuka dan menutup sempurna


: Melengkung ke arah luar
: Pucat, lembab
: Tersembunyi

Bola Mata Kiri


Sclera
Kornea
Iris
Limbus
Pupil
Refleks pupil
Vasa injeksio

: Putih
: Bening
: Tidak ada perlekatan
: Rata
: Tidak ada kelainan
: Ada
: Tidak ada

Bola Mata Kanan


Sclera
Kornea
Iris
Limbus
Pupil
Refleks pupil
Vasa injeksio

: Putih
: Bening
: Tidak ada perlekatan
: Rata
: Tidak ada kelainan
: Ada
: Tidak ada

Hidung dan Sinus Hidung : Lembab, tidak ada sumbatan, tidak ada leleran
Mulut dan Rongga Mulut
Rusak/luka bibir
Mukosa
Gigi-geligi
Lidah
CRT

: Tidak ada
: Pucat
: Gigi lengkap
: Pucat, kasar, tidak ada perlukaan
: 2 detik

Telinga
Posisi telinga
Bau
Permukaan
Refleks panggilan

: Tegak sejajar ke samping


: Bau khas serumen
: Halus, rata, tidak ada perlukaan
: Ada

Leher

Perototan
Trachea
Esofagus
Ln. Retropharyngealis

: Simetris
: Teraba, tidak ada refleks batuk
: Teraba, kosong
: Simetris, kenyal, suhu sama dengan daerah sekitar.

Thoraks (Sistem Pernafasan)


Inspeksi
Bentuk rongga thoraks
: Simetris
Tipe Pernafasan
: Abdominal
Ritme
: Aritmis
Intensitas
: Dangkal
Frekuensi
: 56 kali/menit
Palpasi
Penekanan rongga thoraks : Tidak ada rasa sakit
Palpasi intercostal
: Tidak ada rasa sakit
Perkusi
Lapangan paru-paru
: Ada perluasan
Gema perkusi
: Nyaring sampai costae ke 12, redup di costae 5-7
Auskultasi
Suara pernafasan
: Suara vesikular inspirasi meningkat dan pendek
Suara ikutan
: Tidak ada
Thoraks (Sistem Peredaran Darah)
Inspeksi
Ictus cordis
: Tidak ada
Pulsus jugularis
: Negatif
Perkusi
Lapangan jantung
: Tidak ada perluasan
Auskultasi
Frekuensi
: 100 kali/menit
Intensitas
: Kuat
Ritme
: Ritmis (Teratur)
Suara sistolik & diastolik
: Terdengar jelas
Suara ekstrasistolik
: Tidak ada
Lapangan jantung
: Tidak ada perluasan
Sinkron pulsus & jantung
: Sinkron
Uji-Uji Lain
Uji alu
Uji gumba

: Tidak ada respon sakit


: Positif (Ada respon sakit, kepala menjulur ke depan)

Abdomen dan Organ Pencernaan yang Berkaitan


Inspeksi
Besarnya
: Proporsional (kiri lebih besar dari kanan)
Bentuknya
: Asimetris
Legok lapar
: Ada
Suara peristaltik lambung
: Tidak ada kelainan

Palpasi
Tegangan isi perut
Frekuensi gerakan rumen

: Tidak tegang
: 7x / 5 menit

Auskultasi
Rumen
Peristaltik usus

: Terdengar suara motilitas rumen


: Terdengar suara peristaltik usus, tidak ada peningkatan

Anus
Sekitar anus
Refleks spinchter ani
Kebersihan daerah perineal

: Sedikit kotor
: Ada
: Sedikit kotor

Perkemihan dan Kelamin (Urogenitalis)


Betina
Mukosa vagina
: Pucat, ada ulkus
Kelenjar mamae
- Besar
- Letak
- Bentuk
- Kesimetrisan
- Konsistensi kelenjar
Alat Gerak
Inpeksi
Perototan kaki depan
Perototan kaki belakang
Spasmus otot
Tremor
Sudut persendian
Cara bergerak-berjalan
Palpasi
Struktur Pertulangan
Kaki kiri depan
Kaki kanan depan
Kaki kiri belakang
Kaki kanan belakang
Konsistensi pertulangan
Reaksi saat palpasi

Letak rasa sakit


Digit
Kestabilan pelvis

: Proporsional
: Inguinal
: Seragam
: Simetris
: Kenyal

: Simetris, memerah pada daerah pertumbuhan kuku


: Ada abses di tarsus kaki belakang kanan dan kiri, memerah
pada pertumbuhan kuku
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada perubahan
: Inkoordinatif

: Kompak, kokoh
: Kompak, kokoh
: Kompak, kokoh
: Kompak, kokoh
: Keras
: Ada rasa sakit di daerah digit kaki kiri depan (dekat
pertumbuhan kuku), sakit pada kaki belakang daerah sendi
(pada bagian yang meradang/abses)
: Ada rasa sakit dibagian heel kaki kiri depan, persendian tarsus
kaki belakang kanan dan kiri
: Pertumbuhan kuku tidak rata pada kaki kiri depan

Konformasi
Kesimetrisan

: Jelas stabil
: Simetris

Diagnosa
Prognosa
Terapi

: Emfisema pulmonum, Laminitis, Pododermatitis


: Infausta
:-

PEMBAHASAN
Seekor sapi Friesien Holstein (FH) berumur sekitar 3 tahun dan berdasarkan
anamnesa sapi sudah melahirkan satu kali dan saat post partus mengalami pendarahan dan
sudah diberikan pengobatan oleh paramedis. Produksi susu sebanyak 9 liter perhari. Sapi
memiliki perawatan, gizi dan pertumbuhan badan yang baik. Berdasarkan pemeriksaan fisik
keadaan umum sapi menunjukkan kondisi tubuh yang berada dalam kondisi kurang baik. Hal
ini ditunjukkan dengan kondisi suhu tubuh berada di atas kisaran normal sapi, yaitu 39.6C
(normal: 38.5C-39.3C) (Subronto 2003). Sementara frekuensi nafas dan denyut jantung
juga berada di batas normal yaitu frekuensi nafas 56x/menit (normal: 20x-40x/menit)
(Sugeng 2000) dan frekuensi denyut jantung 100x/menit (40x-70x/menit) (Tilley dan Smith
2000). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju pernafasan antara lain spesies hewan,
umur, suhu tubuh, jenis kelamin, status kesehatan, ukuran tubuh, aktivitas, penggunaan obatobatan, kualitas udara, dan suhu lingkungan.
Pemeriksaan sistem integumen memiliki turgor kulit yang buruk yaitu lebih 3 detik
yang menunjukkan sapi mengalami dehidrasi. Dehidrasi adalah gangguan dalam
keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai
dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Pada pemeriksaan sistem hemodinamika
menunjukkan kelainan dimana mukosa sapi yang pucat pada konjungtiva, mukosa hidung,
lidah, mukosa mulut dan mukosa vagina serta Capillary Refill Time (CRT) lebih dari 2 detik.
Kepucatan umum atau anemia pada mukosa sapi ini disebabkan oleh penurunan kapasitas
angkut oksigen yang muncul sebagai respon sekunder akibat penyakit atau gangguan fungsi
organ. Pada sapi ini kepucatan disebabkan oleh gangguan pada organ respirasi. Pemeriksaan
indera penglihatan, pendengaran dan sistem pertahanan tubuh tidak ditemukan adanya
kelainan.
Pemeriksaan sistem respirasi ditemukan adanya ketidakteraturan ritme pernafasan
dengan intensitas dangkal dan frekuensi di atas kisaran normal. Kondisi ini disertai dengan
adanya dispnoe inspiration dengan gejala klinis terkadang menjulurkan leher dan kepala ke
depan dan membutuhkan waktu inspirasi yang lebih lama. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Widodo et al. (2011) terkait gejala-gejala klinis hewan yang menderita dispnoe inspiration.
Selain itu kelainan ditemukan saat dilakukan perkusi lapangan paru-paru. Terdapat perluasan
di paru-paru kiri dimana terdengar nyaring sampai os costae ke 12. Gema perkusi juga
terdengar redup pada paru-paru kiri bagian dorsal intercostalis 5, 6 dan 7. Suara nyaring
diluar dari wilayah normalnya diindikasikan terjadinya emfisema atau pneumothoraks
(Jackson dan Cockcroft 2002). Bentuk rongga thoraks yang tidak simetris dan suara perkusi

paru-paru seperti suara logam tidak ditemukan pada sapi sehingga dugaan pneumothoraks
dapat dieliminasi. Auskultasi suara pernafasan terdengar suara vesicular inspirasi meningkat
dan pendek dengan intensitas denyut jantung yang kuat dan frekuensi jantung yaitu
100x/menit berada di atas batas normal. Menurut Andrews et al. (2004) intensitas pernafasan
dangkal dan intensitas jantung kuat bisa disebabkan adanya penyakit pulmonary, kondisi
metabolic acidosis dan toksemia. Gerakan pernafasan secara menyeluruh dengan gerakan
abdominal mengindikasikan terjadi kesakitan pada daerah thoraks seperti pada kasus penyakit
pulmonary, dan pneumonia (Jackson dan Cockcroft 2002).
Beberapa pengujian dengan tujuan tertentu dilakukan untuk melihat reaksi sakit yang
timbul. Saat dilakukan uji gumba, sapi terlihat menjulurkan kepala ke depan dan terlihat sapi
berontak. Beberapa penyakit yang dapat diduga pada reaksi menjulurkan kepala ke depan
adalah laminitis, pododermatitis, emfisema pulmonum sebelah kiri, pleuritis, perikarditis dan
retikulitis. Untuk membedakan penyakit tersebut dilakukan uji-uji lain seperti uji alu,
penekanan rongga thoraks dan penekanan intercostalis menunjukkan hasil negatif sehingga
dugaan penyakit pleuritis, perikarditis dan retikulits dapat dieliminasi. Pemeriksaan pada
ekstremitas kaki sapi terlihat kemerahan pada coronary band dikeempat-empat kaki serta
perubahan pada dinding kuku kaki kiri depan dan saat dipalpasi ada rasa sakit dibagian sole
sehingga sapi diagnosa mengalami laminitis dan pododermatitis. Berdasarkan hasil
pemeriksaan fisik dan temuan klinis yang dilihat, diagnosa lebih mengerucut pada penyakit
emfisema pulmonum, laminitis dan pododermatitis.
Emfisema pulmonum adalah keadaan pembesaran paru-paru yang disebabkan oleh
pengembangan alveoli secara berlebihan yang disertai atau tanpa disertai robeknya dinding
alveoli tergantung kerusakan alveoli. Emfisema dicirikan dengan adanya dispnoe, hyperpnoe,
ekspiratorik, dan mudah mengalami kelelahan (Subronto 2003). Dilatasi alveolar yang
berlebihan karena terjadi peregangan yang berlebihan pada penyangga dan jaringan elastic
dari parenkhim paru-paru. Penumpukan udara menyebabkan desakan yang akhirnya alveoli
rupture. Emfisema pulmonum biasanya disebabkan oleh agen alergi dan toksin. Emfisema
pulmonum biasanya dapat terjadi secara primer maupun sekunder (Subronto 2003).
Emfisema primer disebabkan trauma pada alveoli secara langsung seperti kerusakan rongga
thoraks. Emfisema sekunder merupakan penyakit ikutan pada saluran pernapasan, radang
paru-paru (pneumonia), bronchitis dan pengaruh pakan.
Beberapa macam penyebab terjadinya pneumonia di sapi, antara lain agen virus,
fungi, dan bakteri. Agen virus yang dapat menginfeksi di antaranya Parainfluenza-3 (PI-3),
Bovine Respiratory Syncytial Virus (BRSV), dan Bovine Viral Diarrhea (BVD). PI-3 dan
BRSV merupakan jenis virus yang paling banyak menyerang. Kemudian jenis fungi yang
paling sering menyerang, yaitu Mycoplasma sp. Beberapa jenis bakteri yang sering
ditemukan antara lain Mannheimia haemolytica, Pasteurella multocida dan Histophilus
somni (Potter 2007).
Patogenesa terjadinya pneumonia akibat deposisi agen infeksius memasuki jaringan
paru-paru secara inhalasi, hematogen atau limfogen. Saluran pernafasan dan parenkhim paruparu mencegah masuknya agen yang berbahaya, menetralisir serta menyingkirkannya. Agen

infeksius yang mudah terbawa oleh udara menginfeksi secara mudah melalui aerosol masuk
kedalam paru-paru. Kasus ini terlihat pada kondisi sanitasi kandang dan kepadatan kandang
memicu terjadinya pneumonia dan emfisema pulmonum. Kotoran yang tidak dibersihkan
menyebakan kondisi kandang yang lembab menyebabkan agen-agen infeksi memasuki
jaringan paru-paru. Kejadian akut biasanya disebabkan oleh bakteri Pasteurela sp dan
Mycoplasma sp. Kondisi kandang kotor terlihat dari tumpukan feses dan urin yang
menggenang menyebabkan bau ammonia yang menguap sehingga menyengat dan
menyebabkan iritasi saluran pernafasan. Radostits et al. (2007) menyatakan sapi yang
mengalami iritasi pernafasan oleh bahan kimia akut (gas klorin) dapat memicu emfisema
pulmonum.
Proses peradangan tergantung pada jenis agen yang menginfeksi, virulensi, dan
jumlah agen infeksius yang berhasil memasuki jaringan. Infeksi secara hematogen dan
limfogen menyebabkan terbentuknya fokus-fokus radang yang letaknya tersebar pada
berbagai lobus paru-paru. Kejadian akut biasanya disebabkan oleh bakteri Pasteurela sp. dan
Mycoplasma sp., sedangkan yang disebabkan bakteri Mycobacterium sp. kebanyakan bersifat
kronis dengan pembentukan granuloma. Agen infeksius yang disebabkan oleh viral
berlangsung subklinis yang memerlukan faktor lain dalam patogenesisnya yaitu kerja sama
dengan bakteri patogen lain maupun pengelolaan peternakan dan lingkungan yang jelek
(Potter 2007).
Radang paru-paru akan menyebabkan terjadinya hipoksia karena terjadi gangguan
pada pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Kompensasi dari hal tersebut hewan akan
meningkatkan frekuensi dan intensitas pernafasan. Karena adanya rasa sakit ketika bernafas
disebabkan meningkatnya kepekaan jaringan yang mengalami radang pernapasan
berlangsung cepat dan dangkal (Potter 2007). Kapasitas paru-paru akan berkurang pada
keadaan pneumonia. Sebagai kompensasi hal tersebut, maka intensitas pernapasan akan
ditingkatkan menjadi lebih dalam untuk mengatasi kondisi hipoksia akibat terganggunya
proses pertukaran udara di dalam paru-paru. Hal tersebut ditemukan pada kasus ini.
Kompensasi lainnya untuk memenuhi kebutuhan oksigen terjadinya pelebaran alveoli yang
menyebabkan distensi dan rupturenya dinding alveoli.
Paru-paru sapi mempunyai tingkat pembagian ruangan yang lebih besar dari pada
hewan lain. Hal ini memungkinkan terjadinya hipoksia perifer pada jalannya udara sehingga
jalannya udara menjadi terhambat. Hal ini mengakibatkan penurunan aktifitas fagositosis dan
retensi multifikasi agen-agen infeksius. Disamping itu, karena makrofag alveolar jumlahnya
rendah pada paru-paru sapi, maka mekanisme pembersihan paru-paru tidak seefektif hewan
lain. Demikian pula tingkat typical bioactivity dari lysozyme mukus respirasi pada sapi yang
rendah, memungkinkan sapi lebih mudah menderita infeksi saluran pernafasan dibandingkan
spesies hewan lainnya (Cordes et al. 2005).
Faktor predisposisi terjadinya pneumonia adalah faktor lingkungan seperti kondisi
lingkungan yang menyebabkan stress pada sapi (temperatur tinggi, kepadatan, transportasi)
dan biosekuriti kandang. Kondisi stress menyebabkan kerja sistem imun akan tertekan
sehingga hewan akan lebih rentan terkena penyakit. Pengawasan pada sapi yang masih sehat

sangatlah penting, sapi dengan pneumonia sebaiknya ditempatkan dikandang yang bersih,
hangat, dan ventilasi yang baik. Terapi yang dapat diberikan pada sapi yang menderita
pneumonia adalah dengan pemberian antibiotik dan anti inflamasi. Antibiotik yang biasa
digunakan pada terapi awal adalah tertrasiklin. Jika hal tersebut dianggap kurang efektif
maka dapat diberikan antibiotik dari golongan cephalosporin (ceftriaxone, cefotaxime,
ceftazidime, atau cefepime) atau fluoroquinolon (Maas 2008).
Kombinasi tilmicosin and oxytetracycline dapat mengobati pneumonia akut (Musser
et al. 1996). Dosis oxytetracycline dihydrate 16-20 mg/kg berat badan secara intramuscular
dan macrolide tilmicosin 10-15 mg/kg berat badan secara subcutan. Selain itu, hewan dapat
diberikan flunixin meglumin sebagai terapi anti inflamasi yang merupakan non-steroidal antiinflamatory drugs (NSAIDS) untuk mempercepat proses persembuhan hewan (Maas 2008).
Pengobatan akan lebih efektif apabila diketahui penyebab pneumonia secara pasti (Cordes et
al. 2005). Pengobatan emfisema pulmonum dapat diberikan antihistamin atau kortikosteroid
karena kondisi emfisema pulmonum terkait dengan atypical interstitial.
Kelainan selanjutnya yaitu pada kaki menunjukkan sapi tersebut mengalami laminitis.
Laminitis merupakan peradangan yang terjadi pada lamina dan corium dari dinding kuku
(Bergsten 2003). Menurut Kloosterman (2007), laminitis merupakan gangguan yang sering
terjadi pada sapi perah dengan tingkat kejadian lebih dari 80% yang menyebabkan
ketidaknyamanan. Efek laminitis pada sapi perah sebagian besar terlihat pada permukaan
kuku, sole dan white line. Gangguan lamina pada dinding dorsal kuku menyebabkan kuku
melengkung (buckled toe).
Laminitis dikategorikan menjadi tiga bentuk yaitu akut, subakut dan kronis. Laminitis
akut terjadi dalam jangka waktu pendek. Laminitis subakut merupakan bentuk paling umum
yang terjadi pada sapi perah, terutama terjadi pada kondisi menjelang partus. Laminitis kronis
merupakan hasil dari laminitis akut dan atau subakut. Laminitis kronis ditunjukkan dengan
adanya deformasi pada dinding dorsal kuku berupa melengkung atau biasa disebut buckled
toe. Kondisi laminitis pada sapi di lapangan dengan kondisi pertumbuhan kuku seperti
geriting atau tidak rata ini menunjukkan bahwa laminitis telah berjalan kronis (Kloosterman
2007).
Nutrisi berperan penting terhadap terjadinya laminitis, namun kondisi kandang,
breeding, body condition, beban penyangga terhadap kuku juga merupakan faktor penting
(Kloosterman 2007). Laminitis sering terjadi pada kondisi menjelang partus, hal ini
dipengaruhi oleh faktor manajemen. Pemotongan kuku sekitar dua bulan sebelum partus
dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kepincangan akibat laminitis postpartus. Kondisi
ini terjadi kasus ini dimana dengan body condition score (BCS) 2.75 dari 5, dan keadaan
kandang cukup kotor serta lantai tidak dialasi dengan karet.
Laminitis disebabkan oleh multifaktor salah satunya manajemen nutrisi, metabolisme,
gangguan pencernaan, perubahan hormon postpartus, laktasi, serta penyakit infeksius seperti
mastitis, metritis, footrot. Selain itu faktor-faktor lain penyebab laminitis yaitu kondisi
lingkungan kandang (lantai yang kasar, kepadatan kandang), kondisi tubuh, berat badan,
struktur kaki yang dapat mempengaruhi peningkatan beban berat dan stres (Nocek 1996).

Laminitis yang terjadi pada kasus ini disebabkan oleh manajemen nutrisi yang kurang
baik terhadap sapi bunting disertai dengan manajemen kandang yang buruk (lantai kandang
tidak dialasi karet). Selain itu, laminitis pada sapi ini juga didukung oleh pneumonia kronis
yang berjalan cukup lama sehingga terjadinya emfisema pulmonum. Emfisema tersebut
menyebabkan pelepasan toksin dan produk inflamasi ke dalam aliran darah. Pakan yang
diberikan pada sapi bunting di lapangan ini yaitu berupa konsentrat, rumput dan gedebog
pisang, namun frekuensi pemberian tidak diketahui. Menurut Kloosterman (2007), sapi dalam
keadaan post partus harus dipastikan mengkonsumsi serat yang cukup dan memiliki asupan
bahan kering yang baik. Kualitas pakan juga menjadi penting, pakan yang berjamur dapat
menjadi faktor risiko (pembentukan histamin), selain itu kualitas konsentrat yang digunakan
pada total mix ration (TMR) juga harus tinggi. Pemberian jumlah pakan yang tidak cukup
pada kasus ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara konsentrat dan serat.
Menurut Greenough (2012), ketidakseimbangan konsentrat dan serat dengan
karbohidrat yang tinggi dalam rumen memicu peningkatan bakteri Streptococcus bovis dan
Lactobacillus spp. Peningkatan bakteri ini menyebabkan penurunan pH dan menginduksi
terjadinya rumen asidosis, sehingga menyebabkan bakteri Gram negatif mati dan melepaskan
endotoksin secara vasoaktif. Selain endotoksin, produk inflamasi dari emfisema pada sapi
yang dilepas ke dalam pembuluh darah juga memicu tubuh untuk mengeluarkan histamin
sebagai reaksi perubahan dan ketidakseimbangan. Pengeluaran histamin oleh tubuh memicu
pembuluh darah mengalami vasokonstriksi/vasodilatasi yang berakibat pada kaki dan kuku
sebagai penyangga tubuh akan tertekan. Peningkatan tekanan darah akan menyebabkan
perembesan pembuluh darah di bagian bawah digit dan lama-lama akan menjadi rusak.
Kerusakan pembuluh darah ini akan menyebabkan nutrisi yang mencapai epidermis
berkurang sehingga terjadi kerusakan pada stratum germinativum epidermis. Selanjutnya
terjadi degenerasi corium dan pemecahan daerah lamina. Os phalanx distal yang berhubungan
dengan corium dan dinding dorsal kuku dapat menyebabkan kompresi jaringan lunak
sehingga sangat rentan terhadap kerusakan. Hal ini dapat menyebabkan hemoragi, trombosis,
dan berkembang menjadi oedema dan iskhemia yang mengakibatkan terjadinya daerah
nekrotik pada kaki dalam kaitannya dengan perubahan anatomi dan manifestasi klinis dari
berbagai bentuk laminitis (Nocek 1996).
Laminitis ini sering dikelirukan dengan pododermatitis. Pododermatitis merupakan
peradangan pada jaringan antara toe, di sekitar coronary dan heels. Reaksi peradangan pada
pododermatitis diikuti oleh nekrosis dan pengelupasan pada bagian kuku, sehingga sering
dikenal dengan penyakit busuk pada kaki, kuku dan hoof. Pada beberapa kasus kejadian
pododermatitis dapat berlanjut dan kembali normal, namun juga sering berlanjut menjadi
arthritis, nekrosis dan laminitis (McIntosh 1938). Pada kasus ini kaki belakang sapi diduga
mengalami pododermatitis. Hal ini dapat dilihat dari peradangan pada daerah kulit bagian
atas kuku kaki belakang kanan dan kiri.
Menurut Bergsten (2003), pencegahan terhadap laminitis yaitu dengan cara
memperbaiki manajemen pakan untuk mengurangi risiko asidosis, mengendalikan penyakit
parturient, memperbaiki manajemen kandang dengan menggantikan penggunaan lantai yang
terbuat dari beton dengan pemberian karet, serta kebersihan kandang. Tidak terdapat

pengobatan khusus untuk lamintis, namun dapat menggunakan NSAID untuk mengurangi
rasa sakit. Kuku yang tumbuh berlebihan harus dilakukan pemotongan secara terus-menerus
(Stokka et al. 2011).

SARAN
Pada kasus ini perlu dilakukan perbaikkan dalam pola pemeliharaan sapi tersebut
untuk mencegah dan mengendalikan penyakit yang diderita sapi seperti manajemen kandang,
manajemen pakan serta manajemen kesehatan dan sanitasi.
Manajemen kandang
- Menggantikan penggunaan lantai kasar yang terbuat dari beton dengan pemberian karet
untuk mencegah kuku sapi luka dan memudahkan kotoran sapi dibersihkan. Menurut
Kloosterman (2007) Alas kaki yang keras berdampak pada penekanan lapisan kuku dan
menyebabkan tulang jari ketiga terbenam dan menekan lapisan korium yang dapat
menyebabkan terjadinya laminitis.
- Menyediakan kandang yang bersih, hangat dan ventilasi yang baik serta tidak terlalu
padat. Kondisi kandang yang terlalu padat dapat menimbulkan stress, kelembaban yang
tinggi, ventilasi yang buruk, sanitasi yang kurang baik sehingga dapat menyebabkan
kerja imun tubuh tertekan sehingga sapi akan lebih rentan terhadap penyakit.
- Menyediakan lahan terbuka agar sapi dapat dilepas untuk exercise. Tujuan dilakukan
exercise pada ternak adalah untuk memperoleh sinar matahari yang cukup, memperkuat
perototan, memperlancar peredaran darah, mencegah terjadinya retensio plasenta,
prolaps uteri dan terjadinya distokia pada ternak yang baru melahirkan (Cole 1991).
- Tempat pakan dan minum dipisah agar menghindari hadirnya bakteri patogen dan
jamur.
- Menyediakan gudang pakan yang tidak jauh dari kandang dengan keadaan tertutup agar
pakan terhindar dari debu dan spora jamur.
Manajemen pakan
- Sapi diberikan pakan berkualitas baik dengan menyeimbangkan pemberian konsentrat
dan serat. Menurut Greenoughh (2012), ketidakseimbangan konsentrat dan serat dengan
karbohidrat yang tinggi dalam rumen dapat memicu peningkatan bakteri Streptococcus
bovis dan Lactobacillus spp. Peningkatan bakteri ini menyebabkan penurunan pH dan
menginduksi terjadinya rumen asidosis.
- Hijauan sebaiknya dipotong-potong atau dicacah untuk memudahkan sapi makan dan
melancarkan proses pencernaan sapi.
Manajemen kesehatan dan sanitasi
- Hewan yang sakit di pisahkan dengan yang sihat dan ditempatkan di kandang yang
bersih, hangat dan ventilasi yang baik.
- Perbaikan sanitasi dan manajemen kandang dimana bak tempat air minum sebisa
mungkin dibersihkan untuk menghindari bakteri patogen.
- Kotoran feses sentiasa dibersihkan dan tidak dibiarkan menumpuk agar menghindari
bau ammonia yang dapat menguap sehingga menyengat dan menyebabkan iritasi
saluran pernafasan. Radostits et al. (2007) menyatakan sapi yang mengalami iritasi
pernafasan oleh bahan kimia akut dapat memicu emfisema pulmonum.

Terapi yang dapat diberikan pada sapi yang menderita emfisema pulmonum adalah
dengan pemberian antibiotik dan anti inflamasi. Antibiotik yang biasa digunakan pada
terapi awal adalah tertrasiklin. Jika hal tersebut dianggap kurang efektif maka dapat
diberikan antibiotik dari golongan cephalosporin (ceftriaxone, cefotaxime,
ceftazidime, atau cefepime) atau fluoroquinolon (Maas 2008).
- Penanganan masalah laminitis pada sapi adalah dengan melakukan trimming
(pemotongan kuku), pemberian antiinflamasi, dan analgesik (Kloosterman 2007).
- Terapi laminitis juga dapat dilakukan dengan perendaman kuku dalam larutan CuSO4
5%, penggunaan antibiotika seperti penisilin 20.000 IU, sulfamethazine 200 mg/kg
bobot badan dengan rute intravena, serta pemberian flunixin meglumine atau
phenylbutazone untuk pereda nyeri dan antiinflamasi (Aiello 2000)

DAFTAR PUSTAKA
Aiello SE. 2000. The Merck Veterinary Manual. Edisi ke-8. Pennsylvania (US): Merc & Co,
Inc.
Andrews AH, Blowey RW, Boyd H, Eddy RG. 2004. Bovine Medicine Diseases and
Husbandry of Cattle. 2nd Edition. Iowa (US): Blackwell Pub
Bergsten C. 2003. Causes, Ris Factors, and Prevention and Related Claw Lesions. Acta vet
scand. 98: 157-166.
Cordes DO, Dodd DC, OHara PJ. 2005. Pneumonia in cattle. New Zealand Vet J 12(5): 101104.
Greenough PR. 2012. Laminitis in cattle [internet]. [diunduh 2016 April 04]. Tersedia pada:
http://www.merckvetmanual.com/mvm/musculoskeletal_sys
tem/lameness_in_cattle/laminitis_in_cattle.html
Jackson PG, Cockcroft PD. 2002. Clinical Examination of Farm Animals. Iowa(US):
Blackwell Science Ltd.
Kloosterman P. 2007. Laminitis-Prevention, diagnosis and Treatment. WCDS Advances in
dairy Technology. 19: 157-166.
Maas J. Treating pneumonia in beef cattle. [Internet]. [diunduh 23 Agustus 2015]. Tersedia
pada: http://www.vetmed.ucdavis.edu/vetext/local-assets/pdfs
McIntosh RA. 1938. Infectious Pododermatitis of Cattle. Canadian Journal of Comparative
Medicine. 2(9): 257-259.
Musser J, Mechor GD, Grhn YT, Dubovi EJ dan Shin S. 1996. Comparison of tilmicosin
with long-acting oxytetracycline for treatment of respiratory tract disease in calves. J
Am Vet Med Assoc. 208(1):102-106
Nocek JE. 1996. The Link Between Nutrition, Acidosis, Laminitis and Environment
[internet].
[diunduh
2016
April
04].
Tersdia
pada:
http://www.wcds.ca/proc/1996/wcd96049.htm
Potter T. 2007. Calf Pneumonia. UK Vet 12(1).
Radostits OM, Gay CC, Hinchcliff KW, Constable PD. 2007. Veterinary Medicine: A
Textbook of the Diseases of Cattle, Horses, Sheep, Pigs, and Goats, 10th Edition.
London (GB): Saunders Elsevier.

Stokka G, Smith JF, Dunham JR, Anne TV. 2011. Lameness in Dairy Cattle [internet].
[diunduh
2016
April
05].
Tersedia
pada:
http://www.extension.
org/pages/10855/lameness-in-dairy-cattle#.VZm3qrV8tG0
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak 1 (Mammalia). Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sugeng YB. 2000. Ternak Potong dan Kerja. Edisi I. Jakarta: CV Swadaya.
Widodo S, Lelana RP. 2011. Sistem sirkulasi. Dalam Diagnostik Hewan Kecil . Bogor : IPB
Press.

Anda mungkin juga menyukai