Anda di halaman 1dari 35

TOKSIKOLOGI

BAB I
TOKSIKOLOGI
A. SEJARAH TOKSIKOLOGI
Sejak perkembangan peradaban manusia dalam mencari
makanan, tentu telah mencoba beragam bahan baik botani, nabati,
maupun dari mineral. Melalui pengalamannya ini ia mengenal
makanan, yang aman dan berbaya. Dalam kontek ini kata makanan
dikonotasikan ke dalam bahan yang aman bagi tubuhnya jika
disantap, bermanfaat serta diperlukan oleh tubuh agar dapat hidup
atau menjalankan fungsinya.
Sedangkan kata racun merupakan istilah yang digunakan
untuk menjelaskan dan mengambarkan berbagai bahan zat kimia
yang dengan jelas berbahaya bagi badan. Kata racun toxic adalah
bersaral dari bahasa Yunani, yaitu dari akar kata tox, dimana dalam
bahasa Yunani berarti panah. Dimana panah pada saat itu
digunakan sebagai senjata dalam peperangan, yang selalu pada anak
panahnya terdapat racun. Di dalam Papyrus Ebers (1552 B.C.)
orang Mesir kuno memuat informasi lengkap tentang pengobatan dan
obat. Di Papyrus ini juga memuat ramuan untuk racun, seperti
antimon (Sb), tembaga, timbal, hiosiamus, opium, terpentine, dan
verdigris (kerak hijau pada permukaan tembaga). Sedangkan di India
(500 - 600 B.C.) di dalam Charaka Samhita disebutkan, bahwa
tembaga, besi, emas, timbal, perak, seng, bersifat sebagai racun, dan
di dalam Susrata Samhita banyak menulis racun dari makanan,
tananaman, hewan, dan penangkal racun gigitan ular.
Hippocrates (460-370 B.C.), dikenal sebagai

bapak

kedokteran, disamping itu dia juga dikenal sebagai toksikolog


dijamannya. Dia banyak menulis racun bisa ular dan di dalam
TOKSIKOLOGI SSP 1

TOKSIKOLOGI
bukunya juga menggambarkan, bahwa orang Mesir kuno telah
memiliki pengetahuan penangkal racun, yaitu dengan menghambat
laju penyerapan racun dari saluran pencernaan. Disamping banyak
lagi nama besar toksikolog pada jaman ini, terdapat satu nama yang
perlu mendapat catatan disini, yaitu besar pada jaman Mesir dan
Romawi kuno adalah Pendacious Dioscorides (A.D. 50), dikenal
sebagai bapak Materia Medika, adalah seorang dokter tentara. Di
dalam bukunya dia mengelompokkan racun dari tanaman, hewan, dan
mineral.
Hal ini membuktikan, bahwa efek berbahaya (toksik) yang
ditimbulkan oleh zat racun (tokson) telah dikenal oleh manusia sejak
awal perkembangan beradaban manusia. Oleh manusia efek toksik ini
banyak dimanfaatkan untuk tujuan seperti membunuh atau bunuh
diri. Untuk mencegah keracunan, orang senantiasa berusaha
menemukan

dan

mengembangkan

upaya

pencegahan

atau

menawarkan racun. Usaha ini seiring dengan perkembangan


toksikologi itu sendiri. Namun, evaluasi yang lebih kritis terhadap
usaha ini baru dimulai oleh Maimonides (1135 - 1204) dalam
bukunya yang terkenal Racun dan Andotumnya.
Sumbangan yang lebih penting bagi kemajuan toksikologi
terjadi dalam abad ke-16 dan sesudahnya. Paracelcius adalah nama
samaran dari Philippus Aureolus Theophratus Bombast von
Hohenheim (1493-1541), toksikolog besar, yang pertama kali
meletakkan konsep dasar dasar dari toksikologi. Dalam postulatnya
menyatakan: Semua zat adalah racun dan tidak ada zat yang tidak
beracun, hanya dosis yang membuatnya menjadi tidak beracun.
Pernyataan ini menjadi dasar bagi konsep hubungan dosis reseptor
dan indeks terapi yang berkembang dikemudian hari.

TOKSIKOLOGI SSP 2

TOKSIKOLOGI
Sebelum masa Renaissance dan meluas sampai periode itu,
orang-orang ltalia dengan faham pragmatismenya (memandang
sesuatu berdasarkan gunanya) telah membawa seni meracun ke
puncaknya. Pada masa ini tukang racun telah menjadi satu bagian
yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, sedikitnya sebagai
alat politik. Catatan-catatan dari dewan seperti Florence, dan
terutama dewan 10 dari Venice, yang bernama buruk. Berisi banyak
kesaksian mengenai pemakaian racun secara politik. Korban-korban
disebut namanya, harga-harga dibuat, kontrak dicatat, dan apabila
pembunuhan telah selesai, pembayaran dilaksakanakan. Catatan
"Factum" sering terlihat sesudah masuk kedalam arsip-arsip,
menunjukkan keberhasilan penyelesaian dari jual beli tersebut.
Orang lain yang sumbangannya ketoksikologi telah aman
melalui tahun-tahun itu adalah Moses bin Maimon atau Maimonides
(1135-1204). Sebagai tambahan menjadi ahli fisika yang mampu dan
cukup dihormati, maimonides adalah juga seorang penulis yang
produktif. Bukunya yang berjudul racun-racun dan antidotumdotumnya berisi satu petunjuk pertolongan ke pengobatan keracunankeracunan kecelakaan dan disengaja dan gigitan-gigitan serangga,
ular dan anjing gila. Maimonides menyarankan pengisapan
diterapkan ke sengatan serangga atau gigitan binatang sebagai satu
cara pengeluaran racun, dan menyarankan penerapan satu pengikatan
yang ketat diatas satu luka pada satu anggota gerak. Dia juga
mencatat bahwa penyerapan toksin-toksin dari lambung dapat
ditunda oleh pemberian bahan-bahan berminyak seperti susu, keju
atau krem. Sebagai pengamat pengamat yang kritis dan hati-hati,
Maimonides menolak sejumlah obat-obat yang terkenal pada waktu

TOKSIKOLOGI SSP 3

TOKSIKOLOGI
itu sesudah mendapati bahwa mereka tidak effektif dan menyebutkan
terhadap kemanjuran yang lain.
Matthieu Joseph Bonaventura Orfila dikenal sebagai bapak
toksikologi modern. Ia adalah orang Spayol yang terlahir di pulau
Minorca, yang hidup antara tahun 1787 sampai tahun 1853. Pada
awak karirnya ia mempelajari kimia dan matematika, dan selanjutnya
mempelajari ilmu kedokteran di Paris. Dalam tulisannya (1814-1815)
mengembangkan hubungan sistematik antara suatu informasi kimia
dan biologi tentang racun. Dia adalah orang pertama, yang
menjelaskan nilai pentingnya analisis kimia guna membuktikan
bahwa simtomatologi yang ada berkaitan dengan adanya zat kimia
tertentu di dalam badan. Orfila juga merancang berbagai metode
untuk mendeteksi racun dan menunjukkan pentingnya analisis kimia
sebagai bukti hukum pada kasus kematian akibat keracunan. Orfila
bekerja sebagai ahli medikolegal di Sorbonne di Paris. Orfila
memainkan peranan penting pada kasus La Farge (kasus pembunuhan
dengan arsen) di Paris, dengan metode analisis arsen, ia
membuktikan kematian diakibatkan oleh keracuanan arsen. M.J.B.
Orfila dikenal sebagai bapak toksikologi modern karena minatnya
terpusat pada efek tokson, selain itu karena ia memperkenalkan
metodologi kuantitatif ke dalam studi aksi tokson pada hewan,
pendekatan ini melahirkan suatu bidang toksikologi modern, yaitu
toksikologi forensik. Dalam bukunya Traite des poison, terbit pada
tahun 1814, dia membagi racun menjadi enam kelompok, yaitu:
corrosives, astringents, acrids, stupefying or narcotic, narcoticacid,
dan septica atau putreficants.
Dalam abad ke 20 : perkembangan toksikologi terjadi cepat.
Pada satu pihak, disana ada beberapa mengenai agent-agent toksik
dan agent terapi yang bertindak sebagai titik awal untuk pemahamanTOKSIKOLOGI SSP 4

TOKSIKOLOGI
pemahaman dasar dari mekanisme, misalnya perkembangan oleh
Rudolf Peter dkk (1945) mengenai Dimercaprol (DAL) sebagai satu
antidotum ke Arsen yang dikandung gas-gas perang dan pemahamanpemahaman mengenai mekanisme kerja BAL atas Arsen-arsen
organic oleh Carl Voegtlin dkk (1923). Dipihak lain, disana ada
perkembangan-perkembangan yang mengarah ke penemuan dan
pemahaman zat-zat toksik untuk penggunaan oleh manusia, seperti
penemuan dan pemahaman DDT oleh Paul Muller dan penemuan dan
pemahaman dari senyawa-senyawa insektisida organo fosfat oleh
Willy lange dan Germard Schrader. Toksikologi berkembang cepat
mengikuti semakin halusnya tehnik-tehnik analisa ini.

TOKSIKOLOGI SSP 5

TOKSIKOLOGI

B. PENGERTIAN TOKSIKOLOGI
Toksikologi adalah
studi mengenai efek yang tidak
diinginkan dari zat-zat kimia terhadap organisme hidup. Gabungan
antara berbagai efek potensial yang merugikan serta terdapatnya
keanekargaman bahan kimia di lingkungan membuat toksikologi
sangat luas cakupannya.
Pencegahan keracunan memerlukan perhitungan terhadap
toxicity (toksisitas), hazard ( bahaya), risk (resiko), dan safety
(keamanan).
1) Toxicity (toksisitas) merupakan istilah relatif yang biasa
dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan
lainnya. Adalah biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia
lebih toksik daripada zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang
informatif, kecuali jika pernyataan tersebut melibatkan informasi
tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan
juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya.
Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi seharusnya dari sudut
telaah tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem
biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek berbahaya zat
kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya itu
terjadi.
2) Hazard suatu kimia berarti kemungkinan zat kimia tersebut
untuk menimbulkan cidera, sedangakn dalam bahasa indonesia
hazard

diterjemahkan

sebagai

bahaya.

Hazard

berbeda

pengertiannya dengan toksisitas, yang berarti deksripsi dan


kuantifikasi sifat-sifat toksik suatu zat kimia. Hazard dapat
berbeda tergantung cara pemaparan zat kimia tersebut. zat X
dalam bentuk cair misalnya akan lebih berbahaya (hazardous)
dari pada bentuk butiran karena lebih mudah menempel di kulit
TOKSIKOLOGI SSP 6

TOKSIKOLOGI
dan diserap. Suatu zat kimia dalam bentuk gas menimbulkan
hazard lebih besar daripada bentuk cair, karena dapat menyebar
luas di udara dan mengenai banyak orang sekaligus. Namun bila
gas disimpan dalm tangki dengan baik atau dalam ruangan sejuk
maka hazard akan menjadi lebih kecil.
3) Risk didefinisikan sebagai besarnya kemungkinan suatu zat kimia

untuk menimbulkan keracuanan. Hal ini terutama tergantung dari


besarnya dosis yang masuk ke dalam tubuh. Peningkatan dosis
ditentukan oleh tingginya konsentrasi, lama dan seringnya
pemaparan seta cara masuknya zat tersebut kedalam tubuh.
Semakin besar pemaparan terhadap zat kimia semakin besar pula
resiko keracunan.
4) Keamanan suatu xenobiotik perhitungannya sukar dipahami. Hal

ini disebabkan perlu memperhitungkan keamanan dengan


menerapkan faktor keamanan, yang kadang kala merupakan
estimasi yang sering berlebihan. Menusia tidak dapat dipakai
sebagai hewan percobaan untuk menilai xenobiotik seperti
biasanya perhitungan harus didasarkan harus disasarkan estimasi
toksisitas dan bahaya terhadap suatu zat kimia melalui data yang
diperoleh hewan percobaan. Karena pada perbedaan antara sifat
manusia dengan hewan percobaan maka harus diperhitungkan
faktor keamanan yang menurut konsensus ilmish sebesar 100.
Hal ini menyebabkan diterimanya standar pemaparan seperti:
Acceptable Daily Intake (ADI), Tolerable Weekly Intake (TWI),
dan Maximal Allowable Concentration, Tolerance Level, dan
sebagainya.
Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan
sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek
TOKSIKOLOGI SSP 7

TOKSIKOLOGI
toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem
biologik lainnya. Ia dapat juga membahas penilaian kuantitatif
tentang berat dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan
terpejannya (exposed) makhluk tadi.
Apabila zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka
kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan
efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu
organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis,
konsentrasi racun di reseptor tempat kerja, sifat zat tersebut,
kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap
organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila
menggunakan istilah

toksik

atau toksisitas, maka perlu untuk

mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek berbahaya itu


timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat
kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau
penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme.
Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa dipergunakan
dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan lainnya. Adalah
biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia lebih toksik daripada
zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang informatif, kecuali jika
pernyataan tersebut melibatkan informasi tentang mekanisme biologi
yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat
kimia tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi
seharusnya dari sudut telaah tentang berbagai efek zat kimia atas
berbagai sistem biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek
berbahaya zat kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya
itu terjadi.

TOKSIKOLOGI SSP 8

TOKSIKOLOGI
Pada umumnya efek berbahaya / efek farmakologik timbul
apabila terjadi interaksi antara zat kimia (tokson atau zat aktif
biologis) dengan reseptor. Terdapat dua aspek yang harus
diperhatikan dalam mempelajari interakasi antara zat kimia dengan
organisme hidup, yaitu kerja farmakon pada suatu organisme (aspek
farmakodinamik / toksodinamik) dan pengaruh organisme terhadap
zat aktif (aspek farmakokinetik / toksokinetik) aspek ini akan lebih
detail dibahas pada sub bahasan kerja toksik. Telah dipostulatkan
oleh Paracelcius, bahwa sifat toksik suatu tokson sangat ditentukan
oleh dosis (konsentrasi tokson pada reseptornya). Artinya kehadiran
suatu zat yang berpotensial toksik di dalam suatu organisme belum
tentu menghasilkan juga keracunan. Misal insektisida rumah tangga
(DDT) dalam dosis tertentu tidak akan menimbulkan efek yang
berbahaya bagi manusia, namun pada dosis tersebut memberikan
efek yang mematikan bagi serangga. Hal ini disebabkan karena
konsentrasi tersebut berada jauh dibawah konsentrasi minimal efek
pada manusia. Namun sebaliknya apabila kita terpejan oleh DDT
dalam waktu yang relatif lama, dimana telah diketahui bahwa sifat
DDT yang sangat sukar terurai dilingkungan dan sangat lipofil, akan
terjadi penyerapan DDT dari lingkungan ke dalam tubuh dalam
waktu

relatif

lama.

Karena

sifat

fisikokimia

dari

DDT,

mengakibatkan DDT akan terakumulasi (tertimbun) dalam waktu


yang lama di jaringan lemak. Sehingga apabila batas konsentrasi
toksiknya terlampaui, barulah akan muncul efek toksik. Efek atau
kerja toksik seperti ini lebih dikenal dengan efek toksik yang bersifat
kronis.

TOKSIKOLOGI SSP 9

TOKSIKOLOGI

BAB II
SISTEM SARAF PUSAT
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan
bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme
sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur.
Kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas terhadap stimulus,
dan konduktivitas, atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respons
terhadap stimulasi, diatur oleh sistem saraf dalam tiga cara utama: Input
sensorik. Sistem saraf menerima sensasi atau stimulus melalui reseptor,
yang terletak di tubuh baik eksternal (reseptor somatic) maupun internal
(reseptor viseral).
Sistem saraf pusat merupakan pusat pengaturan informasi. Seluruh
aktivitas tubuh dikendalikan oleh sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat
terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Otak dilindungi oleh
tengkorak dan sumsum tulang belakang dilindungi oleh ruas-ruas tulang
belakang. Otak dan sumsum tulang belakang dibungkus oleh selaput
meningia yang melindungi sistem saraf halus, membawa pembuluh darah,
dan dengan mensekresi sejenis cairan yang disebut cairan serebrospinal,
selaput meningia dapat memperkecil benturan dan guncangan. Meningia
terdiri atas tiga lapisan, yaitu piamater, arachnoid, dan duramater.
A. OTAK
Otak merupakan pusat saraf yang terletak di dalam rongga
tengkorak. Otak manusia terdiri atas dua belahan, yaitu otak kiri dan
kanan. Otak kiri mengendalikan tubuh bagian kanan. Sebaliknya, otak
kanan mengendalikan tubuh bagian kiri. Hal ini terjadi karena pindah
silang pada jalur-jalur spinal. Otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu
otak besar, otak tengah, otak kecil, dan sumsum lanjutan.
1

TOKSIKOLOGI SSP 0

TOKSIKOLOGI

1) Otak besar (cerebrum)


Otak besar pada manusia dewasa memiliki volume sekitar
1500 cm3. Permukaan otak berlipat-lipat sehingga dapat memuat
jutaan neuron. Bagian luar otak berisi neuron sehingga berwarna
kelabu (substansia grissea). Sedangkan, otak bagian dalam berisi
neurit dan dendrit sehingga berwarna putih (substansia alba). Otak
besar merupakan pusat ingatan, kesadaran, kecerdasan, dan
kemauan. Selain itu, otak besar juga merupakan sumber semua
kegiatan yang manusia sadari. Otak besar terbagi menjadi empat
bagian, yaitu:
bagian depan : pusat gerakan otot
bagian tengah : pusat perkembangan

ingatan

dan

kecerdasan
bagian samping : pusat pendengaran
bagian belakang : pusat penglihatan
2) Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah merupakan bagian otak yang terletak di antara
pons vasoli dan diensefalon. Otak tengah berhubungan dengan
sistem penglihatan dan pendengaran. Di bagian depan dari otak
tengah terdapat:
1

TOKSIKOLOGI SSP 1

TOKSIKOLOGI

Talamus, yaitu bagian yang menjalankan pemisahan pertama


impuls yang tiba dan mengarahkan impuls ke bagian cerebrum
yang berbeda, serta mengarahkan sebagian dari impuls ke

sumsum tulang belakang.


Hipotalamus, yaitu bagian yang mengatur suhu tubuh, selera

makan, dan keseimbangan cairan tubuh.


3) Otak kecil (cerebelum)
Otak kecil terletak di bawah otak besar, di dalam rongga
tengkorak bagian belakang. Fungsi otak kecil adalah untuk
mengatur keseimbangan tubuh, posisi tubuh, dan gerakan otot yang
disadari. Bagian kiri dan bagian kanan otak kecil dihubungkan oleh
suatu penghubung yang disebut jembatan varol, seperti otak besar.
Bagian luar otak kecil (korteks) berwarna kelabu dan bagian dalam
(medula) berwarna putih.
4) Sumsum lanjutan (medula oblongata)
Sumsum lanjutan terdapat di muka otak kecil dan di bawah
otak besar, dan merupakan perpanjangan dari sumsum tulang
belakang. Bagian dalamnya berisi neuron sehingga berwarna
kelabu. Sedangkan, bagian luarnya berwarna putih karena berisi
neurit dan dendrit. Fungsi sumsum lanjutan adalah sebagai pengatur
pernapasan, gerakan jantung, dan gerak alat pencernaan.

TOKSIKOLOGI SSP 2

TOKSIKOLOGI
B. SUMSUM TULANG BELAKANG (MEDULA SPINALIS)

Sumsum tulang belakang dilindungi atau berada di dalam ruasruas tulang belakang. Bagian luarnya berwarna putih dan bagian dalam
berwarna kelabu. Sumsum tulang belakang terletak memanjang dari
ruas-ruas leher sampai ruas pinggang yang kedua. Selaput otak juga
menyelaputi sumsum tulang belakang.
Fungsi sumsum tulang belakang, yaitu:
Pusat perantara antara susunan saraf tepi dan otak.
Menghantarkan impuls menuju atau dari otak.
Mengatur gerak refleks tubuh.
Penampang melintang sumsum tulang belakang terlihat seperti
gambar kupu-kupu dengan warna kelabu, berisi neuron. Rangsang
disampaikan ke otot lewat serabut saraf sensorik. Sedangkan,
tanggapan dari pusat ke efektor disampaikan lewat serabut saraf
motorik. Serabut saraf tersebut terdapat di sumsum tulang belakang.

TOKSIKOLOGI SSP 3

TOKSIKOLOGI

BAB III
OBAT SUSUNAN SARAF PUSAT
Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang
merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain :
mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu
dengan lingkungan sekitarnya.
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang
serebrum medula dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks
otak-depan oleh se-nyawa stimulan SSP akan meningkatkan kewaspadaan,
pengurangan kelelahan pikiran dan semangat bertambah. Contoh senyawa
stimulan SSP yaitu kafein dan amfetamin.
Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral dan
sistem saraf tepi (SST). Pada sistem syaraf pusat, rangsang seperti sakit,
panas, rasa, cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian
dilanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang. Rasa sakit disebabkan oleh
perangsangan rasa sakit diotak besar. Sedangkan analgetik narkotik menekan
reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut. Sistem syaraf pusat
dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik,
misalnya sedatif hipnotik. Obat yang dapat merangsang SSP disebut
analeptika.
Obat obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan
efek farmakodinamiknya dibagi atas dua golongan besar yaitu :

Merangsang atau menstimulasi yang secara langsung maupun tidak


langsung merangsang aktivitas otak, sumsum tulang belakang beserta
syarafnya.
1

TOKSIKOLOGI SSP 4

TOKSIKOLOGI

Menghambat atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak


lansung memblokir proses proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum
tulang belakang dan saraf- sarafnya.
Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang

sangat luas (merangsang atau menghambat secara spesifik atau secara


umum). Kelompok obat memperlihatkan selektifitas yang jelas misalnya
analgesik antipiretik khusus mempengaruhi pusat pengatur suhu pusat nyeri
tanpa pengaruh jelas.
A. KLASIFIKASI SISTEM SARAF PUSAT
Obat yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa
golongan besar, yaitu:
Psikofarmaka (psikotropika), yang meliputi Psikoleptika (menekan
atau menghambat fungsi-fungsi tertentu dari SSP seperti hipnotika,
sedativa dan tranquillizers, dan antipsikotika); Psiko-analeptika
(menstimulasi seluruh SSP, yakni antidepresiva dan psikostimulansia

(wekamin)).
Untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, MS (multiple

sclerosis), dan penyakit Parkinson.


Jenis yang memblokir perasaan sakit: analgetika, anestetika umum,

dan lokal.
Jenis obat vertigo dan obat migrain (Tjay, 2002).
Umumnya semua obat yang bekerja pada SSP menimbulkan

efeknya dengan mengubah sejumlah tahapan dalam hantaran kimia sinap


(tergantung kerja transmitter)

B. OBAT PERANGSANG SISTEM SARAF PUSAT


Banyank obat-obat yang dapat merangsang system saraf pusat
(SSP), tetapi yang pemakaiannya disetujui secara medis terbatas hanya
pada pengobatan narkolepsi, gangguan penurunan perhatian (GPP) pada
1

TOKSIKOLOGI SSP 5

TOKSIKOLOGI
anak-anak, obesitas, dan pemulihan distress pernapasan. Kelompok
utama dari perangsang SSP adalah amfetamin dan kefein yang
merangsang korteks serebri dari otak, analeptic dan kafein yang bekerja
pada batang otak dan medulla untuk merangsang pernapasan, dan obatobat yang menimbulkan anoreksia yang bekerja pada tingkat tertentu
pada korteks serebri dan hipotalamus untuk menekan napsu makan.
Amfetamin dan obat-obat yang menimbulkan anoreksia yang berkaitan
telah banyak disalah gunakan. Pemakaian amfetamin jangka panjang
dapat menimbulkan ketergantungan psikologis dan toleransi, suatu
keadaan dimana semakin tinggi dosis obat yang diperlukan untuk
menghasilkan respons awal. Peningkatan dosis obat yang bertahap dan
kemudian tiba-tiba dihentikan dapat menimbulkan depresi dan gejalagejala putus obat. Obat Perangsang Sistem Saraf Pusat antara lain :
1) AMFETAMIN
Indikasi
: Untuk narkolepsi, gangguan penurunan
Efek samping

perhatian
: Euforia dan kesiagaan, tidak dapat tidur,
gelisah, tremor, iritabilitas dan beberapa
masalah

Farmakokinetik

kardiovaskuler

(Tachicardia,

palpitasi, aritmia, dll)


: waktu paruh 4-30 jam, diekskresikan lebih

cepat pada urin asam daripada urin basa


Reaksi yang merugikan : menimbulkan efek- efek yang buruk pada
sistem
Dosis

saraf

pusat,

kardiovaskuler,

gastroinstestinal, dan endokrin.


: Dewasa 5-20 mg, Anak > 6 th : 2,5-5
mg/hari

2) METILFENIDAT

TOKSIKOLOGI SSP 6

TOKSIKOLOGI
Indikasi

: pengobatan depresi mental, pengobatan


keracunan

depresan

SSP,

syndrom

hiperkinetik pada anak.


insomnia, mual, iritabilitas,

Efek samping

nyeri

Kontraindikasi
Farmakokinetik

abdomen, nyeri kepala, Tachicardia.


: hipertiroidisme, penyakit ginjal.
: diabsorbsikan melalui saluran cerna dan
diekskresikan melalui urin, dan waktu

Farmakodinamik

paruh plasma antara 1-2 jam


: mula- mula :0,5 1 jam P : 1 3 jam,

L : 4-8 jam.
Reaksi yang merugikan : takikardia, palpitasi, meningkatkan
Dosis Anak
Dosis Dewasa
3) KAFEIN
Indikasi

hiperaktivitas.
: 0.25 mg/kgBB/hr
: 10 mg 3x/hr
:

menghilangkan

rasa

kantuk,

menimbulkan daya pikir yang cepat,


perangsang
fasomotor,

pusat
untuk

pernafasan

dan

merangsang

Efek samping

pernafasan pada apnea bayi prematur


: sukar tidur, gelisah, tremor, tachicardia,

Kontraindikasi

pernafasan lebih cepat


: diabetes, kegemukan, hiperlipidemia,
gangguan

Farmakokinetik

migren,

sering

gelisah

(anxious ).
: kafein didistribusikan keseluruh tubuh
dan diabsorbsikan dengan cepat setelah
pemberian, waktu paruh 3-7 jam,

Reaksi yang merugikan

diekskresikan melalui urin


: dalam jumlah yang lebih dari 500 mg
akan mempengaruhi SSP dan jantung.
1

TOKSIKOLOGI SSP 7

TOKSIKOLOGI
Dosis pemberian

: apnea pada bayi : 2.5-5 mg/kgBB/hr,


keracunan

obat depresan
4) NIKETAMID
Indikasi
Efek samping
Farmakokinetik

: 0.5-1 gr kafein Na-Benzoat


: merangsang pusat pernafasan
: pada dosis berlebihan menimbulkan kejang
: diabsorbsi dari segala tempat pemberian tapi
lebih efektif dari IV

Dosis
5) DOKSAPRAM
Indikasi
Efek samping
Farmakokinetik
Dosis

: 1-3 ml untuk perangsang pernafasan


: perangsang pernafasan
: hipertensi, tachicardia, aritmia, otot kaku,
muntah
: mempunyai masa kerja singkat dalam SSP
: 0.5-1.5 mg/kgBB secara IV

C. JENIS JENIS OBAT SISTEM SARAF PUSAT


1) Obat Anestetik :
Obat anaestetik adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan
rasa sakit dalam bermacam-macam tindakan operasi.
a. Anestetik Lokal : Obat yang merintangi secara reversible
penerusan impuls-impuls syaraf ke SSP (susunan syaraf pusat)
pada kegunaan lokal dengan demikian dapat menghilangkan rasa
nyeri, gatal-gatal, panas atau dingin.
Penggunaan
Anestetik lokal umumnya digunakan secara parenteral misalnya
pembedahan kecil dimana pemakaian anestetik umum tidak
dibutuhkan. Anestetik local dibagi menjadi 3 jenis :
anestetik permukaan, digunakan secara local untu melawan
rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau tablet hisap untuk
menghilangkan rasa nyeri di mulut atau leher, tetes mata
untuk mengukur tekana okuler mata atau mengeluarkan benda
1

TOKSIKOLOGI SSP 8

TOKSIKOLOGI
asing di mata, salep untuk menghilangkan rasa nyeri akibat

luka bakar dan suppositoria untuk penderita ambient/ wasir.


Anestetik filtrasi yaitu suntikan yang diberikan ditempat yang
dibius ujung-ujung sarafnya, misalnya pada daerah kulit dan

gusi
Anestetik

blok

atau

penyaluran

saraf

yaitu

dengan

penyuntikan disuatu tempat dimana banyak saraf terkumpul


sehingga mencapai daerah anestesi yang luas misalnya pada
pergelangan tangan atau kaki.
Obat obat anestetik local umumnya yang dipakai adalah
garam kloridanya yang mudah larut dalam air.
Persyaratan anestetik lokal
Anestetik local dikatakan ideal apabila memiliki beberapa
persyaratan sebagai berikut :

tidak merangsang jaringan


tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan

saraf sentral
toksisitas sistemis rendah
efektif pada penyuntikan dan penggunaan local
mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu

cukup lama
larut dalam air dengan menghasilakan larutan yang stabil dan
tahan pemanasan

Efek samping
Efek samping dari pengguna anestetik local terjadi akibat
khasiat dari kardiodepresifnya ( menekan fungsi jantung ),
mengakibatkan hipersensitasi berupa dermatitis alergi.

TOKSIKOLOGI SSP 9

TOKSIKOLOGI
b. Anestetika Umum : Obat yang dapat menimbulkan suatu keadaan
depresi pada pusat-pusat syaraf tertentu yang bersifat reversible,
dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan.
Beberapa syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu anestetik
umum :
berbau enak dan tidak merangsang selaput lender
mula kerja cepat tanpa efek samping
sadar kembalinya tanpa kejang
berkhasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot

seluruhnya
Tidak menambah

pendarahan

kapiler

selama

waktu

pembedahan
Efek samping
Hampir semua anestetik inhalasi mengakibatkan sejumlah
efek samping yang terpenting diantaranya adalah :
Menekan pernafasa, paling kecil pada N2O, eter dan

trikloretiken
Mengurangi

metoksifluran yang paling ringan pada eter


Merusak hati, oleh karena sudah tidak digunakan lagi seperti

kontraksi

jantung,

terutama

haloten

dan

senyawa klor
Merusak ginjal, khususnya metoksifluran
2) Obat Hipnotik dan Sedatif
Hipnotik atau obat tidur berasal dari kata hynops yang berarti
tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi
dapat

mempertinggi

keinginan

tubuh

normal

untuk

tidur,

mempermudah atu menyebabkan tidur. Sedangkan sedative adalah


obat obat yang menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa
menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah
kejang-kejang. Yang termasuk golongan obat sedative-hipnotik

TOKSIKOLOGI SSP 0

TOKSIKOLOGI
adalah: Ethanol (alcohol),Barbiturate,fenobarbital,Benzodiazepam,
methaqualon.
Efek samping
Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yng mirip
dengan morfin antara lain :

Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, contihnya

flurazepam, kloralhidrat, dan paraldehida.


Tekanan darah menurun, contohnya golongan barbiturate.
Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya seperti mual,
perasaan ringan di kepala dan pikiran kacau, contohnya golongan

benzodiazepine dan barbiturat.


Berakumulasi di jaringan lemak karena umumnya hipnotik

bersifat lipofil.
3) Obat Psikofarmaka / psikotropik
Obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada
susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku, dan digunakan untuk terapi gangguan
psikiatrik.
Efek samping

Gejala ekstrapiramidal yaitu kejang muka, tremor dan kaku


anggota gerak karena disebabkan kekurangan kadar dopamine

dalam otak.
Sedative disebabkan

mengantuk,lelah dan pikiran keruh.


Diskenesiatarda, yaitu gerakan tidak sengaja terutama pada otot

muka (bibir, dan rahang )


Hipotensi, disebabkan adanya blockade reseptor alfa adrenergic

dan vasolidasi.
Efek anti kolinergik dengan cirri-ciri mulut kering, obstipasi dan

efek

anti

histamine

antara

lain

gangguan penglihatan.
2

TOKSIKOLOGI SSP 1

TOKSIKOLOGI

Efek anti serotonin menyebabkan gemuk karena menstimulasi

nafsu makan
Galaktore yaitu meluapnya ASI karena menstimulasi produksi

ASI secara berlebihan.


4) Obat Antikonvulsan
Obat mencegah & mengobati bangkitan epilepsi.
Contoh : Diazepam, Fenitoin,Fenobarbital, Karbamazepin,
Klonazepam.
5) Obat Analgetik atau obat penghalang nyeri
Obat atau zat-zat yang mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Sedangkan bila menurunkan
panas disebut Antipiretika.
Atas kerja farmakologisnya, analgetik dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu:
a. Analgetik Perifer (non narkotik), analgetik ini tidak dipengaruhi
system saraf pusat. Semua analgetik perifer memiliki khasiat
sebagai anti piretik yaitu menurunkan suhu. Terdiri dari obatobat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
b. Analgetik Narkotik, Khusus digunakan untuk menghalau rasa
nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
6) Antipiretik
Antipiretik adalah zat-zat yg dapat mengurangi suhu tubuh.
7) Obat Antimigrain
Obat yang mengobati penyakit berciri serangan-serangan
berkala dari nyeri hebat pada satu sisi.
8) Obat Anti Reumatik
Obat yang digunakan untuk mengobati atau menghilangkan
rasa nyeri pada sendi/otot, disebut juga anti encok. Efek samping
berupa gangguan lambung usus, perdarahan tersembunyi (okult ),
pusing, tremor dan lain-lain. Obat generiknya Indomestasin,
fenilbutazon, dan piroksikam.
9) Obat Anti Depresan
2

TOKSIKOLOGI SSP 2

TOKSIKOLOGI
Obat

yang

dapat

memperbaiki

suasana

jiwa

dapat

menghilangkan atau meringankan gejala-gejala keadaan murung


yang tidak disebabkan oleh kesulitan sosial, ekonomi dan obatobatan serta penyakit.
10) Neuroleptika
Obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis (jiwa) tertentu
tanpa menekan fungsi-fungsi umum seperti berfikir dan berkelakuan
normal. Obat ini digunakan pada gangguan (infusiensi) cerebral
seperti mudah lupa, kurang konsentrasi dan vertigo. Gejalanya dapat
berupa kelemahan ingatan jangka pendek dan konsentrasi, vertigo,
kuping berdengung, jari-jari dingin, dan depresi.
11) Obat Antiepileptika
Obat yang dapat menghentikan penyakit ayan, yaitu suatu
penyakit gangguan syaraf yang ditimbul secara tiba-tiba dan berkala,
adakalanya disertai perubahan-perubahan kesadaran.
Penyebab antiepileptika : pelepasan muatan listrik yang cepat,
mendadak dan berlebihan pada neuron-neuron tertentu dalam otak
yang diakibatkan oleh luka di otak( abses, tumor, anteriosklerosis ),
keracunan timah hitam dan pengaruh obat-obat tertentu yang dapat
memprovokasi serangan epilepsi.
12) Obat Parkinson (penyakit gemetaran )
Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkison
yang ditandai dengan gejala tremor, kaku otot,gangguan gaya
berjalan, gannguan kognitif, persepsi, dan daya ingat. Penyakit ini
terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dan sel-sel otak
sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmitter yaitu
dopamin.

TOKSIKOLOGI SSP 3

TOKSIKOLOGI

BAB IV
TOKSIKOLOGI SUSUNAN SARAF
PUSAT
A. MEKANISME TOKSIKOLOGI OBAT SSP
Overdosis obat SSP dapat mengganggu keseimbangan antara
eksitantasi dan inhibisi di otak, ini terjadi karena penghambatan atau
penekanan saraf perangsangan. Sejak lama diduga efek pada SSP
berdasarkan melarutnya lewat membran iipid. Efek overdosis obat ssp
terhadap berbagai saraf berbeda karena perbedaan distribusi fosfoliid
dan kolesterol di membran tidak seragam. Data eksperimental
menyokong dugaan mekanisme kerja obat ssp.
Obat ssp seperti baebiturat mudah sekali larut dalam air dan sangat
potensial untuk menghambat sistem saraf pusat terutama dalam aktifitas
sistem retikular. Aktifitas dari obat ssp dapat menjadi toksik ketika
pemakaiannya over dosis.
Beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa over dosis obar ssp
berpengaruh langsung pada membran saraf neuron dan tidak pada
sinapsisnya (persambungan saraf). Pada daerah membran tersebut obat
ssp mengganggu transport ion. Pada penelitian invitro menunjukkan
bahwa ion Na+, K+, ATP ase dihambat oleh etanol. Pada konsentrasi 5
10% etanol memblok kemampuan neuron dalam impuls listrik,
konsentrasi tersebut jauh lebih tinggi daripada konsentrasi etanol dalam
sistem saraf pusat secara invivo.
Pengaruh obat ssp pada sistem saraf pusat berbanding langsung
dengan konsentrasi dalam darah. Daerah otak yang dihambat pertama
kali ialah sistem retikuler aktif. Hal tersebut menyebabkan terganggunya
2

TOKSIKOLOGI SSP 4

TOKSIKOLOGI
sistem motorik dan kemampuan dalam berpikir. Disamping itu pengaruh
hambatan pada daerah serebral kortek mengakibatkan terjadinya
kelainan tingkah laku. Gangguan kelainan tingkah laku ini bergantung
pada individu, tetapi pada umumnya penderita turun daya ingatnya.
Gangguan pada sistem saraf pusat ini sangat bervariasi biasanya
berurutan dari bagian kortek yang terganggu dan merambat ke bagian
medula.
B. ABSORPSI DAN DISTRIBUSI
Obat ssp diabsorpsi dalam jumlah yang sedikit melalui mukosa
mulut dan lambung. Sebagian besar (80%) diabsorpsi di usus halus dan
sisanya diabsorpsi di kolon. Kecepatan absorpsi tergantung pada takaran
dan konsentrasi obat ssp dalam minuman yang diberikan serta
vaskularisasi dan motalitas dan pengisisan lambung dan usus. Bila
konsentrasi optimal obat ssp diminum dan dimasukkan ke dalam
lambung kosong, kadar puncak dalam darah 30-90 menit sesudahnya.
Obat ssp mudah berdifusi dan distribusinya dalam jaringan sesuai
dengan kadar air jaringan tersebut. Semakin hidrofil jaringan semakin
tinggi kadarnya. Biasanya dalam 12 jam telah tercapai kesimbangan
kadar obat ssp dalam darah, usus, dan jaringan lunak. Konsentrasi dalam
otak, sedikit lebih besar dari pada dalam darah.
C. METABOLISME
Obat ssp akan dimetabolisme oleh tubuh terutama dalam hati oleh
enzim obat sspdehidrogenase (ADH) dan koenzim nikotinamid-adenindinukleotida (NAD) menjadi asetaldehid dan kemudian oleh enzim
aldehida dehidrogenase (ALDH) diubah menjadi asam asetat. Asam
asetat dioksidasi menjadi CO2 dan H2O. Piruvat, levulosa (fruktosa),
gliseraldehida (metabolit dari levulosa) dan alanina akan mempercepat
metabolisme obat ssp.
2

TOKSIKOLOGI SSP 5

TOKSIKOLOGI
Kadar obat dalma darah kemudian akan menurun dengan
kecepatan yang sangat bervariasi (12-20 mg% per jam), biasanya
penurunan kadar tersebut dianggap rata-rata 15 mg% atau 14 mg%
setiap jam. Pada over dosis obat, yang telah dipercepat metabolismenya,
eliminasi obat dapat mencapai 40 mg% per jam.
Hepatosit memiliki tiga jalur metabolisme obat ssp, yang masingmasing terletak pada bagian yang berlainan. Jalur yang pertama adalah
jalur obat ssp dehidrogenase (ADH) yang terletak pada sitosol atau
bagian cair dari sel. Dalam keadaan fisiologik, ADH memetabolisir obat
ssp yang berasal dari fermentasi dalam saluran cerna dan juga untuk
proses dehidrogenase steroid dan omega oksidasi asam lemak. ADH
memecah obat ssp, yang selanjutnya akan diuraikan menjadi asetat.
Asetat akan terurai lebih lanjut menjadi H2O dan CO2.
Jalur kedua ialah melalui Microsomal Ethanol Oxydizing System
(MEOS)

yang

terletak

dalam

retikulum

endoplasma.

Dengan

pertolongan tiga komponen mikrosom yaitu sitokrom P-450, reduktase,


dan lesitin, obat diuraikan. Jalur ketiga melalui enzim katalase yang
terdapat dalam peroksisom (peroxysome). Hidrogen yang dihasilkan dari
metabolisme obat dapat mengubah keadaan redoks, yang pada
pemakaian obat yang lama dapat mengecil. Perubahan ini dapat
menimbulkan perubahan metabolisme lemak dan karbohidrat, mungkin
menyebabkan bertambahnya jaringan kolagen dan dalam keadaan
tertentu

dapat

menghambat

sintesa

protein.

Perubahan

redoks

menimbulkan perubahan dari piruvat ke laktat yang menyebabkan


terjadinya hiperlaktasidemia. Bila sebelumnya sudah terdapat kadar
laktat yang tinggi karena sebab lain, bisa terjadi hiperurikemia. Serangan
kejang pada delirium tremens juga meningkatkan kadar asam urat dalam

TOKSIKOLOGI SSP 6

TOKSIKOLOGI
darah. Pada pasien gout, obat ssp dapat meningkatkan produksi asam
urat sehingga kadarnya dalam darah makin meningkat.
Meningkatnya rasio NADH/NAD akan meningkatkan pula
konsentrasi alfa gliserofosfat yang akan meningkatkan akumulasi
trigliserida dengan menangkap asam lemak dalam hepar. (NAD=
Nicotinamide Adenine Dinucleotide; NADH = reduced NAD.) lemak
dalam hepar berasal dari tiga sumber: dari makanan, dari jaringan lemak
yang diangkut ke hepar sebagai Free Fatty Acid (FFA), dan dari hasil
sintesis oleh hepar sendiri. Oksidasi obat ssp dalam hepar menyebabkan
berkurangnya oksidasi lemak dan meningkatnya lipogenesis dalam
hepar.
D. EKSKRESI
Obat ssp yang dikonsumsi secara berlebihan akan dikeluarkan
dalam bentuk utuh melalui urin, keringat dan udara napas. Dari jumlah
ini sebagian besar dikeluarkan melalui urin (90%).
E. PENGARUH OBAT SSP DALAM TUBUH
1) Sistem Saraf Pusat
Sistem Saraf Pusat sebagai depresan susunan saraf pusat, obat
ssp mengikuti hukum tekanan ke bawah, karena itu yang pertama
kali diinhibisi adalah korteks serebral, kemudian serebelum, medula
spinalis dan pusat medula. Otak dan sistem saraf pusat merupakan
bagian yang terkena dampak kerusakan pertama akibat konsumsi
obat ssp berlebihan. Timbulnya kerusakan ini ditandai dengan
gejala-gejala seperti sulit berkonsentrasi, berkurangnya daya ingat,
serta mempercepat kepikunan. Suatu penelitian yang diterbitkan
dalam jurnal Amerika Archives of Neurology menyatakan bahwa
konsumsi obat ssp berlebihan dapat memperkecil volume otak
manusia. Semakin banyak obat ssp yang diminum maka semakin
kecil volume otaknya.
2) Intake Akut
2

TOKSIKOLOGI SSP 7

TOKSIKOLOGI
Pada konsumsi dalam jumlah sedikit, obat efek yang bagus.
Konsumsi dalam jumlah banyak, obat ssp menimbulkan perilaku
lebih meledak-ledak. Kontrol diri menjadi hilang dan penguasaan
diri menjadi berkurang. Obat ssp bekerja dengan menekan
mekanisme kontrol inhibisi dan aktivasi sistem retikular. Jika obat
ssp dalam jumlah besar dikonsumsi dalam jangka waktu pendek,
akan berlanjut pada kehilangan kesadaran dan sensasi mati rasa.
Kematian dapat terjadi akibat gagal nafas dan gagal jantung.
3) Sistem Kardiovaskuler
Obat ssp mengakibatkan dilatasi dari pembuluh darah kulit
dan sensasi hangat. Obat ssp juga berperan didalam

proses

vasokonstriksi di kulit pada respon terhadap suhu dingin. Panas


tubuh hilang secara tiba-tiba dan temperatur menurun secara
menetap. Pada level

toksik, mekanisme regulasi temperatur

hipotalamus menjadi tertekan dan menurunya temperatur tubuh


menjadi nyata. Untuk alasan ini, konsumsi obat ssp dengan alasan
agar tubuh tetap hangat selama cuaca dingin secara jelas tidak dapat
diterima. Penggunaan obat ssp berlebih dalam jangka panjang dapat
berkontribusi pada gangguan tekanan darah tinggi, penyakit
jantung, dan gagal jantung. Minum dalm jumlah sedikit pun dapat
rnenyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur.
4) Saluran Pencernaan
Obat ssp menstimulasi produksi dari asam lambung yang kaya
akan asam dan pepsin. Karena itu konsumsi obat ssp adalah
kontraindikasi pada orang dengan kelainan asam-pepsin yang tidak
diobati. Sebagai tambahan, obat ssp melepaskan histamin yang
nantinya akan menyebabkan pengeluaran asam lambung. Efek ini
tidak diblok oleh atropin hingga dapat disimpulkan bahwa obat ssp
dalam jumlah sedikit menstimulasi rasa lapar dan membantu
2

TOKSIKOLOGI SSP 8

TOKSIKOLOGI
pencernaan tetapi jumlah yang banyak bisa menyebabkan
pencernaan terhambat. Obat ssp juga dapat membuat pengeluaran
gas dari lambung. Obat ssp dapat mengganggu saluran pencernaan
yang dilaluinya dengan merusak sel-sel pada sistem pencernaan
sehingga penyerapan dan penghancuran nutrisi terganggu. Sebagian
kanker kerongkongan, kanker laring, dan kanker mulut berkaitan
dengan obat ssp.
5) Ginjal
Mengkonsumsi obat ssp secara akut meningkatkan ekskresi
amonium melalui ginjal .Dalam keadaan normal, ginjal berfungsi
mengatur keseimbangan air, asam basa, dan beberapa hormon dan
mineral

tubuh.

Konsumsi

minuman

berobat

ssp

dapat

mempengaruhi fungsi keseimbangan di ginjal dan merusak organ


ini. Pasien yang mengalami gangguan dalam asidifikasi ginjal akan
cenderung mengalami koma hepatikum. Ini disebabkan karena
meningkatnya pembentukan amonia dalam ginjal dan meningkatnya
amonia ke dalam pembuluh darah. Obat ssp dapat mengubah respon
hipotalamus terhadap perubahan osmolalitas plasma. Dalam
keadaan normal, bila osmolalitas plasma meningkat maka hormon
antidiuretik dalam plasma meningkat pula sehingga mengurangi
produksi urine. Kadar obat ssp yang meningkat secara akut akan
memperbanyak urine, sedangkan saat putus obat ssp, akan bekerja
pengaruh antidiuretik.
6) Hati
Organ yang bekerja paling keras untuk mengeluarkan racun
obat ssp di dalam tubuh dilakukan oleh hati. Karena kerja yang
terlalu berat, maka hati bisa mengalami gangguan seperti
penumpukan lemak di hati serta penyakit sirosis hati. Pemakaian
obat

ssp

yang

lama

akan

menimbulkan

perubahan

pada
2

TOKSIKOLOGI SSP 9

TOKSIKOLOGI
mitokondria, yang menyebabkan berkurangnya kapasitas untuk
oksidasi lemak. Semua yang tersebut di atas menyebabkan
terjadinya perlemakan hati (fatty lever). Perubahan pada MEOS
yang disebabkan pemakaian obat ssp yang berlangsung lama dapat
menginduksi
meningkatkan

dan

meningkatkan

lipoprotein

dan

metabolisme

menyebabkan

obat-obatan,
hiperlipidemia,

berkurangnya penimbunan vitamin A dalam hepar, meningkatkan


aktivasi senyawa hepatotoksik, termasuk obat-obatan dan zat
karsinogen. Walaupun jarang, obat ssp juga dapat menyebabkan
terjadinya hipoglikemia (karena menghambat glukoneogenesis) dan
ketoasidosis.
Obat ssp juga menghambat sintesis protein. Asetaldehida
mempengaruhi mikrotubulus sehingga hapatosit menggembung.
Sebaliknya, sintesis kolagen bertambah sehingga menambah
jaringan fibrotik. Itulah sebabnya 8-20% peminum obat ssp yang
kronik dalam jumlah banyak mengalami sirosis hepatis.Sirosis hati
merupakan jaringan parut atau bekas luka yang menggantikan selsel hati yang sehat sehingga kerja dan fungsi hati terganggu.
7) Pankreas
Penyalahgunaan obat ssp baik secara akut maupun kronis
dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur dan fungsi
pankreas, yaitu perubahan pada membran sel, meningkatkan
fluiditasnya dan mengubah permeabilitasnya terhadap ion, asam
amino, dan senyawa lain yang penting untuk metabolisme sel.
Melalui mekanisme neurohumoral, obat ssp mengubah sekresi
kelenjar eksokrin pankreas. Obat ssp dapat menyebabkan nekrosis
akut, edema akut, pankreatitis akut, kronik maupun asimtomatik,
mungkin melaui aktivasi zimogen yang tidak memadai.
3

TOKSIKOLOGI SSP 0

TOKSIKOLOGI

8) Otot
Miopatia obat sspika akut adalah suatu sindroma nekrosis otot
secara tiba-tiba pada seorang yang secara terus-menerus minum
obat ssp (binges drinking). Ditandai dengan adanya rasa nyeri pada
otot, mioglobinuria, dan meningkatnya serum kreatin kinase.
Miopatia obat sspika kronis ditandai dengan adanya kelemahan
otot-otot proksimal dan atrofi otot-otot. Miopatia obat sspika ini
mungkin disebabkan gangguan keseimbangan elektrolit, yaitu
turunya kadar kalium, turunnya kadar fosfat dalam darah, serta
adanya defisiensi magnesium.
9) Darah
Obat ssp secara langsung merusak sumsum tulang, terutama
prekursor eritrosit dan prekursor leukosit, sehingga menimbulkan
anemia dan leukopenia. Pada pemakaian obat ssp yang kronis,
anemia disebabkan kurang gizi dan anemia hemolitika yang terjadi
karena kerusakan pada hepar. Obat ssp juga secara langsung
menghambat

pembentukan

trombosit

serta

mempengaruhi

fungsinya sehingga memperpanjang waktu pendarahan. Hal ini


diperhebat apabila ada defisiensi asam folat dan splenomegalia.
Pada pemakaian obat ssp yang kronis, defisiensi vitamin K dan
faktor koagulasi terjadi sebagai akibat sirosis hepatis, bukan sematamata karena obat ssp itu sendiri.
10) Kelenjar Endokrin
Efek obat ssp terhadap kelenjar endokrin yang paling jelas
ialah terjadinya hipogonadisme pada pria. Obat ssp melalui
pengaruhnya pada testes dan hipotalamus mengurangi produksi
testeron. Feminisasi pada pemakai obat ssp kronis disebabkan
3

TOKSIKOLOGI SSP 1

TOKSIKOLOGI
hipogonadisme tersebut di atas dan juga karena terganggunya fungsi
hepar akibat obat ssp, yaitu terganggunya kemampuan untuk
memecah hormon estrogen. Pada beberapa peminum obat ssp kronis
dapat dijumpai gejala mirip sindroma Cushing. Hal tersebut
kemungkinan disebabkan efek stimulasi obat ssp terhadap sekresi
cortisol pada waktu intoksikasi maupun waktu putus obat ssp, yang
bekerja melaui ACTH atau langsung pada kelenjar adrenalis. Aksis
hipofisis paling kurang mendapat pengaruh dari obat ssp. Tetapi,
pada penyakit hepar karena obat ssp, konversi T4 ke T3 menurun,
sedangkan konversi T3 ke T4 meningkat. Thyroid binding protein
juga berkurang. Kedua hal tersebut menyebabkan perubahan pada
pemeriksaan darah tetapi secara klinis tidak sampai menimbulkan
hipotiroidisme.
F. EFEK YANG DITIMBULKAN DARI PENGGUNAAN OBAT SSP
1) Efek Obat Ssp Berdasarkan Kadar Obat Ssp Dalam Darah
0,01-0,05% efek depresan dari obat ssp mulai bekerja.
Peminum akan mengalami sensasi positif, seperti perasaan rileks dan
kegembiraan (euforia). Pada kadar ini peminum obat ssp masih
terlihat normal-normal saja.
0,06-0,10% syaraf-syaraf motorik mulai terpengaruh. Mulai
terlihat perbedaan dalam berjalan, pergerakan tangan dan berbicara.
Peminum juga terlihat gembira, banyak bicara, dan kewaspadaan
berkurang. Di beberapa negara, kadar mabuk didefinisikan sebagai
kadar obat ssp yang mencapai 0,08-0,10% di dalam darah.
0,11-0,20% syaraf motorik seseorang sudah mulai lumpuh,
keadaan emosi orang tersebut mulai terganggu, terjadi penurunan
ingatan dan pemahaman, berkurangnya respon dan tanggapan, serta
koordinasi otot terganggu.

TOKSIKOLOGI SSP 2

TOKSIKOLOGI
0,21-0,40% pada fase ini keseimbangan dan kesadaran
lemah, bisa ter jadi kolaps atau peminum pingsan. Peminum tidak
mampu berdiri atau berjalan, muntah-muntah, kehilangan kesadaran,
dan sulit bereaksi terhadap rangsangan dari luar.
0,4 sampai 0,5% peminum akan berada dalam keadaan
pingsan, kehilangan refleks, bahkan koma. Beberapa bagian di otak
yang mengatur detak jantung dan pernafasan akan sangat terganggu
sehingga dapat menimbulkan kematian.
2) Hangover
Rasa nyeri yang biasanya menyerang setelah mengkonsumsi
obat ssp berlebihan. Gejala hangover umumnya muncul sekitar 4
sampai 6 jam setelah meminum obat ssp dan hilang sekitar 48
sampai 72 jam setelah meminum minuman yang terakhir. Gejalagejala yang berhubungan dengan hangover adalah sakit kepala,
kelelahan, sakit perut, mudah marah, penilaian lemah, dan sensitif
terhadap cahaya.
3) Jackpot (muntah)
lni terjadi akibat kadar asam lambung berlebih di dalam perut
yang dipicu oleh obat ssp. Lewat muntah, obat ssp dan racun yang
ada di dalam perut akan berkurang dan dikeluarkan. Tapi terlalu
banyak muntah juga dapat menyebabkan lambung teriritasi oleh
asam sehingga timbul nyeri di perut.
4) Sakit Kepala
Obat ssp menyebabkan terjadinya dehidrasi atau hilangnya
cairan tubuh, sehingga tubuh mencoba mengganti air yang hilang
dengan mengambil air termasuk dari otak. Akibatnya volume otak
menjadi menciut dan menyebabkan rasa sakit kepala.
5) Sering berkemih
Dehidrasi setelah minum obat ssp salah satunya terjadi karena
peminum menjadi lebih sering berkemih atau buang air kecil.
3

TOKSIKOLOGI SSP 3

TOKSIKOLOGI
Dengan minum obat ssp maka tubuh akan membuang cairan tubuh
empat kali lebih banyak dibanding kondisi normal. Selain itu, akibat
dehidrasi mulut dan tenggorokan pun terasa kering.
6) Kanker
Obat ssp dapat meningkatkan risiko kanker di beberapa bagian
tubuh tertentu, melalui berbagai mekanisme. Salah satunya, obat ssp
mengaktifkan enzim-enzim tertentu yang mampu memproduksi
senyawa penyebab kanker. Selain di saluran pencernaan, kanker juga
dapat terjadi pada hati, paru, dan tenggorokan.
7) Gangguan Reproduksi
Obat ssp dapat mengganggu keseimbangan hormon yang
membawa pada gangguan siklus menstruasi dan ketidaksuburan.
Penting sekali diingat. bahwa konsumsi obat ssp pada kehamilan
sangatlah berbahaya. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya
keguguran, atau bisa juga terjadi sindrom obat ssp pada bayi yang
dilahirkan seperti pertumbuhan yang lamban, kecacatan, gangguan
pada organ bayi atau bahkan kematian dalam kandungan.

TOKSIKOLOGI SSP 4

TOKSIKOLOGI

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pom. 2000. Siker Informasi Keracunan. Pedoman Penatalaksanaan
Keracunan Untuk Rumah Sakit. Jakarta: Badan Pom
Kee, Joyce L Dan Hayes, Evelyn R. 1996. Farmakologi, Pendekatan Proses
Keperawatan: EGC, Jakarta.
Muschleir. 1991. Dinamika Obat Edisi Kelima. Penerbit ITB. Bandung
Tan, Hoan, Tjay Dan Raharja, Kirana. 1991. Obat-Obat Penting, Edisi
Keempat. Jakarta

TOKSIKOLOGI SSP 5