Anda di halaman 1dari 6

SEJARAH SINGKAT LGBT DI INDONESIA

LGBT di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada yang menyebut
dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak menyebut fenomena LGBT ini
sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90an, dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang.
"Organisasi LGBT di Indonesia terbesar dan tertua di Asia, dari tahun 1992. Mereka
berani keluar, saat ini setelah 25 tahun. ungkap Ketua Divisi Kajian Aliansi Cinta
Keluarga Indonesia (AILA) Dinar Kania.
Jadi, secara kronologis, perkembangan LGBT ini sesungguhnya telah dimulai sejak
era 1960-an. Kalau dulu terkenal Sentul dan Kantil, kini sebutannya adalah Buci dan
Femme. Cikal bakal organisasi dan avokasi LGBT di Indonesia sudah berdiri lama.
Salah satunya organisasi jadul bernama: Hiwad, Himpunan Wadam Djakarta. Wadam,
wanita Adam, mengganti istilah banci dan bencong. Namun, organisasi Wimad
diprotes MUI.
Kemudian pada 1982, pelaku homo mendirikan Lambda Indonesia. Pada 1986 berdiri
Perlesin, Persatuan Lesbian Indonesia. Pada tahun yang sama, berdiri juga pokja
GAYa Nusantara, kelompok kerja Lesbian dan Gay Nusantara.sementara era 1990-an
semakin banyak organisasi yang berdiri.
Pendirian organisasi mereka berkedok emansipasi, merujuk emansipasi wanita.
Mereka juga mendirikan media sebagai publikasi. Ada beberapa media yang didirikan
sebagai wadah komunikasi antar-LGBT.
Pada 1993, dihelat Kongres Lesbi dan Gay disingkat KLG 1, di Jogja. Dua tahun
berikutnya, digelar kongres serupa. Pada 1995, KLG II diadakan di Bandung. KLG
III di Bali (1997). Organisasi LGBT mulai menyeruak ke sejumlah daerah, di
antaranya Surabaya, Medan, dan Ambon. Namun, pendataan jumlah pelakunya
lemah.

LGBT DAN IDEOLOGI NEGARA INDONESIA

MPR RI mengambil sikap terhadap isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan
transgender). LGBT dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila dan prinsip
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Badan Sosialisasi MPR mensinyalir ideologi tersebut bergerak secara transnasional.
Pertama, ideologi yang mengedepankan individualisme, kapitalisme, dengan modus
operandinya untuk menjadikan bangsa ini menganut paham neoliberalisme. Salah
satu bukti paham individualisme yang muncul adalah fenomena LGBT.
Kedua, berkembangnya radikalisme agama, radikalisme internasional yang ingin
menjadikan negara ini menjadi negara dengan dasar salah satu agama.
Setiap fenomena sosial politik kemasyarakatan yang berkembang di tengah-tengah
masyarakat, memiliki parameter, yakni Pancasila. Dengan demikian, sebagai
pedoman berbangsa dan bernegara, tentu atas dasar falsafah Ketuhanan.
Segala perilaku kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaaan, dan kenegaraan juga
tidak boleh menyimpang. Apalagi, bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan.
"Yang pasti setiap fenomena yang berkembang tidak boleh bertentangan dengan
Pancasila. LGBT sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila dan prinsip
Ketuhanan yang Maha Esa," jelas Ketua Badan Sosialisasi MPR, Ahmad Basarah.

Wakil Ketua Komisi VIII, Deding Ishak,menegaskan kelompok Lesbian Gay Biseks
dan Transgender memiliki hak dasar sebagai individu.
Namun, Deding mengingatkan segala aktivitas dan program-program LGBT harus
disesuaikan dengan undang-undang.
Intinya,semua komunitas atau organisasi kemasyarakatan boleh beroperasi sepanjang
tidak bertentangan terhadap Pancasila
Deding mengaku sebagai sebuah fakta sosiologis, kaum LGBT ada di Indonesia.
maka merujuk Pancasila dan UUD 1945, negara wajib melindungi seluruh tumpah
darah termasuk WNI.
Akan tetapi, dia mengingatkan ideologi Indonesia yakni falsafah Pancasila tentu saja
berlandaskan agama.

Deding kemudian mengutip bunyi pasal mengenai HAM, dalam pelaksanannya tidak
boleh bertentangan terhadap Pancasila.
"Mereka kita rangkul dan luruskan sebab ada pemahaman yang salah, sebab ideologi
kita adalah pancasila falsafah agama," tambahnya.
Sementara itu anggota Komisi IV DPR Hermanto juga mengutarakan, paham lesbian,
gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bertentangan dengan ideologi bangsa
Indonesia. Pancasila, terutama sila pertama dan kedua,yang menekankan adanya nilai
agama dan adab.
"Jika LGBT merupakan suatu paham yang minta dilegalkan, jelas bertentangan
dengan Pancasila"tuturnya.

Alasannya adalah :
(-) terkait sila pertama Ketuhanan Yang Esa, rujukannya adalah kitab suci Alquran
yang menyatakan karakter manusia hanya ada dua: laki-laki dan perempuan.
Demikian juga, dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia hanya ada dua jenis
kelamin.
Karena itu, jika ada pasangan sejenis yang minta dilegalkan, akan merusak tatanan
yang ada. Petugas Kantor Urusan Agama akan sulit, wali nikah juga bingung
menentukan.
(-) kemudian, pada sila kedua berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Pertanyannya, apakah LGBT merupakan paham yang beradab atau memenuhi nilai
keadaban?" katanya.
Dalam LGBT terkandung paham kebebasan dan itu bertentangan dengan adab
ketimuran. Jika ditinjau dari perspektif kemanusiaan, juga bertentangan, terutama saat
ada kelompok minoritas yang minta diakui keberadaannya. Apalagi, kalau minta
disahkan dengan undang-undang. "Jelas tidak adil karena sifat undang-undang adalah
'lex generalis' (berlaku umum), jelas ini berlebihan," kata dia.
Ia menilai, jika perilaku LGBT tetap dibiarkan, dikhawatirkan tidak hanya pelaku
yang mendapat imbas, tapi semua masyarakat bisa terkena dampak. Solusinya, jika
itu penyakit, harus dirangkul dan diobati secara medis. Namun, kalau itu suatu
paham, itu jelas bertentangan dengan Pancasila.

Ia menambahkan, ada kepentingan asing yang ingin meliberalkan pergaulan sosial


masyarakat Indonesia melalui LGBT. "Jelas ini berbahaya."

LGBT Bertentangan dengan Agama dan Budaya

Di negara Indonesia, komunitas LGBT belum bisa diterima masyarakat. Tidak


sedikit masyarakat berpandangan miring dari benci, kotor, serta jijik sampai
mengucilkan dan menjauhi mereka kelompok masyarakat yang justru pro
terhadap komunitas ini. Salah satu bentuk pengaplikasiannya terbentuk
beberapa LSM seperti Swara Srikandi di Jakarta, LGBT Gaya Nusantara, LGBT
Arus Pelangi, Lentera Sahaja dan Indonesian Gay Society di Yogyakarta.
Wasekjen Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Nasaruddin Umar mengatakan kawin
sejenis tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan kepribadian ajaran agama di
Indonesia. Apapun alasannya itu tidak sesuai kepribadian bangsa dan umat beragama
di Indonesia, Termasuk penggunaan alasan Hak Asasi Manusia. (HAM), Hak azasi
umat beragama untuk menjaga nilai-nilai agama juga wajib dihormati. HAM itu ada
pada setiap orang, jadi jangan atas nama HAM minoritas, HAM mayoritas diinjakinjak. Pemerintah harus menegakkan hukum secara tegas. Pendekatan pendidikan
juga diperlukan untuk mencegah terjadinya perkawinan sejenis. Kalau sampai ada
legalitas perkawinan sejenis akan ada persoalan tersendiri yang timbul.
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir menegaskan, kelompok
LGBT, tidak boleh masuk kampus, hal itu tidak sesuai dengan norma-norma yang
ada dan melarang semua kegiatan LGBT di semua perguruan tinggi yang berada di
bawah Kemenristek Dikti.Terkait dengan keberadaan SGRC yang mengatasnamakan
UI, telah menghubungi Rektor UI ternyata pihak UI pun melarang dan menyatakan
kegiatan tersebut tidak ada izinnya dan bukan merupakan bagian dari UI.
Anggota Komisi X DPR, Dwita Ria Gunadi mengecam kampus yang mengizinkan
kelompok LGBT melakukan sosialiasi di kampus-kampus. LGBT itu tidak sesuai
baik dari nilai agama maupun adat dan budaya di Indonesia. Selain itu juga mendapat
laporan dari mahasiswa, di Lampung yang di salah satu kampusnya, kelompok LGBT
mengadakan sosialisasi, bahkan salah seorang dosennya dengan terang-terangan
sudah memproklamirkan diri di media sosial untuk terus mengkampanyekan LGBT.
Mereka itu dalam aksinya, memberikan pemahaman bahwa perilaku seks
menyimpang adalah hak asasi, sehingga masyarakat harus menerima mereka. Padahal
sudah jelas bahwa mereka harus disembuhkan bukan malah mengadakan kegiatankegiatan untuk menggalang dukungan supaya diterima oleh masyarakat.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Hasyim Muzadi mengatakan, polemik


LGBT, tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan HAM dan demokrasi. Pendekatan
yang benar adalah melalui rehabilitasi. Pada hakikatnya LGBT merupakan kelainan
seksual dalam peri kehidupan seseorang, sebagaimana juga bisa terjadi di bidang
yang lain, maka pendekatan yang benar adalah prevensi dan rehabilitasi sehingga
seseorang bisa kembali normal. Prevensi dapat dilakukan sejak masa kanak-kanak
sebagai penangkal dini apabila terdapat gejala kelainan seksual dengan cara
psikoterapi, penyadaran, dan latihan-latihan agar kelainan seks itu tidak berkembang.
Sedangkan proses rehabilitasi diperlukan untuk mereka yang sudah terlanjur menjadi
bagian dari kelainan tersebut. Sesulit apapun proses rehabilitasi ini harus dilakukan,
agar jumlah LGBT tidak membesar. Yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat
umum tidak boleh menjauhi mereka secara diskriminatif karena sesungguhnya
mereka sendiri juga tidak menyukai kelainan tersebut. Legalisasi yang dilakukan oleh
negara-negara barat terhadap LGBT tidak berangkat dari norma etika dan agama, tapi
semata karena pendekatan sekularis ateistik. Apabila di Indonesia secara sengaja dan
terencana ada kampanye pengembangan LGBT maka hal tersebut merupakan bahaya
terhadap budaya dan tata sosial agamis di Indonesia.
Keberadaan kelompok LGBT dikhawatirkan telah tersebar di berbagai daerah di
Indonesia dan harus diwaspadai oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan
lainnya. Untuk meminimalisir berkembangnya kelompok tersebut, peran orangtua,
sangat penting untuk mengawasi kegiatan khususnya keluarga mereka sendiri agar
tidak terjerumus dalam komunitasnya. Yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat
umum tidak boleh menjauhi mereka secara diskriminatif karena sesungguhnya
mereka sendiri juga tidak menyukai kelainan tersebut.
Legalisasi yang dilakukan oleh negara-negara barat terhadap LGBT tidak berangkat
dari norma etika dan agama, tapi semata karena pendekatan hak azasi manusia.
Apabila di Indonesia secara sengaja dan terencana ada kampanye pengembangan
LGBT maka hal tersebut merupakan bahaya terhadap budaya dan tata sosial agamis
di Indonesia dan harus ditindak tegas.
LGBT sebagai gerakan yang diorganisir harus dilarang di negara kita atau pemerintah
tidak boleh melegalkannya. menjamurnya mereka memberi pengaruh tidak baik
terhadap mental dan moral generasi bangsa yang lambat-laun bisa mempengaruhi
perilaku masyarakat. LGBT bertentangan dengan nilai-nilai agama, kepribadian dan
budaya bangsa Indonesia serta Pancasila. Kebebasan yang mereka salahartikan dan
merupakan gejala kejiwaan yang harus disembuhkan.
Mengimbau kepada pers dan media massa, termasuk media sosial, untuk berperan
aktif dalam menjaga dan melindungi ketahanan keluarga dan kehidupan masyarakat
Indonesia dari bahaya komunitas LGBT. Organisasi keagamaan juga harus berperan

aktif agar dapat mencegah dan membantu menyelamatkan generasi bangsa yang
terlanjur menempuh jalan sebagai LGBT untuk kembali ke jalan yang benar.
Dengan berperannya semua elemen yang ada dimasyarakat di harapkan komunitas
LGBT tidak dapat berkembang dan akhirnya masyarakat kita yang telah salah jalan
kembali kepada jalan yang benar sesuai dengan ajaran agama dan adat istiadat
masyarakat Indonesia.