Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

TANAMAN ASPARAGUS PADA DAS (Daerah Aliran Sungai) KONTO


Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Praktikum
Mata Kuliah Pertanian Berlanjut Aspek Tanah

Disusun oleh: Kelompok 1


Anggota
1. Kinanthi Aprilia I.
2. Safarina Ubaydiyyah
3. Rustin Eka Sevtya y.
4. Gabreilla Diah P.
5. Iswatin Iftitah E. M.
6. Dame Gultom
7. Dewi Sitanggang
8. Yosephine Siahaan
9. Ummu Fatkhiyatul Afriza
10. Ghafrin Aqsath

135040100111046
135040100111047
135040100111057
135040100111072
135040100111097
135040100111128
135040100111148
135040100111154
135040101111001
135040101111004

Kelas K

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asparagus adalah suatu jenis sayuran dari satu spesies tumbuhan
genus Asparagus. Asparagus telah digunakan sejak lama sebagai bahan
makanan karena rasanya yang sedap dan sifat diuretiknya. Dengan adanya

sifat diuretik tersebut, asparagus berkhasiat untuk memperlancar saluran urin


sehingga mampu memperbaiki kinerja ginjal. Sayuran ini termasuk jenis
sayuran mahal yang biasanya hanya tersedia di restoran dan hotel. Oleh
karena itu, sayuran ini kurang begitu dikenal di kalangan masyarakat
menengah ke bawah. Namun demikian, prospek pengembangan Asparagus ini
cukup baik karena sayuran ini banyak diminati oleh masyarakat luar negeri
sehingga ekspor komoditas asparagus dapat meningkatkan devisa negara serta
memberikan keuntungan bagi petani. Kondisi iklim Indonesia mendukung
untuk dilakukannya pemanenan asparagus sepanjang tahun. Hal tersebut
berbeda dengan tanaman asparagus yang dikembangkan di negara dengan
iklim subtropis (Kustara dalam Afifah, 1995). Pada tahun 2004 Indonesia
berperan sebagai negara pengekspor asparagus segar walaupun dalam jumlah
yang tidak besar, yakni hanya 2,118 ton, dengan negara tujuan adalah
Malaysia. (BPS, 2004). Sedangkan dilihat dari segi impor Indonesia masih
banyak mengimpor asparagus yang berasal dari lain Jepang, Korea, Cina,
Thailand, Australia, New Zeland, Amerika, Mexico, Perancis, dan Jerman.
Peningkatan impor terlihat sangat signifikan dari 9.235 kg pada tahun 2003
menjadi 94.119 kg pada tahun 2006 (BPS, 2008).
Makalah ini akan mengkaji strategi yang dapat disesuaikan dengan
praktek untuk memelihara dan mengintensifkan habitat baik di dalam tanah
maupun di atas tanah sehingga hasil produksi dapat maksimal tanpa
mengabaikan aspek ekologis tanah. Pendekatan ekologi menghimbau untuk
merancang lahan pertanaman dengan memanfaatkan keuntungan kekuatan
sistem alam itu sendiri. Hampir semua praktek tersebut dilakukan sebelum,
dan selama, penanaman tanaman dengan sasaran untuk mencegah masalah
dengan mengembangkan satu atau lebih dari ketiga keseluruhan strategi dasar
tersebut. Namun demikian, jika anda telah mempraktekkan managamen
preventif, di tempat yang sama masih ada juga praktek-praktek managemen
rutin yang dilakukan petani selama musim tanam berjalan.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah


sebagai berikut di bawah ini.
1. Bagaimana teknis budidaya mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen
dari komoditi asparagus yang dilakukan petani saat ini?
2. Apa saja permasalahan sistem budidaya tanaman asparagus dari praktekpraktek petani selama ini?
3. Bagaimana petani menyelesaikan masalah tersebut selama ini?
4. Apa saja solusi yang dapat diberikan terhadap berbagai permasalahan yang
dialami petani tersebut?
5. Apa saja rancangan kegiatan-kegiatan perbaikan habitat pertanaman baik
diatas dan didalam tanah yang dapat dilakukan?
6. Teknologi apa yang bisa ditawarkan?
7. Apa saja kegiatan yang perlu dilakuan dalam
biodiversitas
biodiversitas?

dengan

memperhatikan

sepuluh

mengkonservasi

prinsip

konservasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DAS KONTO
Sub DAS Konto Hulu, Kabupaten Malang, merupakan daerah yang
memiliki potensi untuk daerah pertanian, perkebunan, peternakan. Namun
dengan semakin banyaknya penduduk yang ada di sana membuat
permasalahan baru yaitu masalah ketersediaan air. Sebenarnya ada potensi
mata air yang dapat digunakan sebagai irigasi namun ternyata sulit dijangkau.
Daerah aliran sungai DAS Konto memiliki luasan sekitar 23.701 ha
yang berada di Kecamatan Ngantang dan Kecamatan Pujon (Aini, dkk, 2010).
Pada tahun 1990 dan tahun 2000 dapat diketahui melalui data dari badan
statistic bahwa telah terjadi peningkatan jumlah penduduk yang cukup tinggi
dari 587 jiwa/ km 3

pada tahun 1990 menjadi 657 jiwa/ km 3

di tahun

2000. Akibat dari adanya penigktan penduduk ini, maka terjadi alih fungsi
hutan menjadi penggunaan lahan lain. Sehingga terjadi penurunan luasan
daerah di DAS Konto.
Pada daerah DAS Konto ini ditemukan beberapa tutupan lahan, di
antaranya agroforestri berbasis kopi dan hutan tanaman industry yang
berbasis pinus, dammar, dan mahoni. Agroforestri khususnya yang kompleks
memiliki kondisi biofisik paling mendekati kondisi hutan sehingga lebih
berpotensi untuk memelihara biodiversitas pohon dan hewan paksa alih guna
hutan bila dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur yang ada
(Stamps dan Limit dalam Burges, 1999).
2.2 Kondisi Tanah di DAS Konto
Daerah DAS Konto berada di daerah pegunungan Kawi, kelud, Butak,
dan Gunung Anjasmoro. Tanah yang ada di daerah DAS Konto hulu
tergolong tanah muda yang dalam klasifikasi taksonominya masuk ke dalam
ordo Entisols (Litosols). Tanah tersebut sudah berkembang lebih lanjut seperti
ordo Mollisols dan Alfisols (Aini, dkk, 2010).

2.3 Asparagus
Sayuran merupakan salah satu tanaman yang digolongkan ke dalam
holtikultura selain buah-buahan, tanaman hias, bumbu-bumbu masak dan tanaman
obat-obatan. Selain itu asparagus memiliki harga jual yang tinggi dibandingkan
dengan yang lain. Asparagus merupakan sumber terbaik asam folat nabati, sangat
rendah kalori, tidak mengandung lemak atau kolesterol, serta mengandung sangat
sedikit natrium (Rubatzky, 1999)
Iklim di Indonesia sebenarnya mendukung untuk dilakukan pemanenan
asparagus sepanjang tahun. Pada tahun 2004 Indonesia berperan sebagai Negara
pengespor asparagus segar yang julah tidak begitu besar yaitu 2, 118 ton dengan
negara tujuan Malaysia (BPS, 2004).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Teknis Budidaya Mulai Dari Persiapan Lahan Hingga Pasca Panen
Dari Komoditi Asparagus
Asparagus merupakan jenis sayuran yang dikonsumsi bagian batang
muda atau tunasnya. Asparagus ini banyak di jumpai di daerah dataran tingg
dan di Indonesia sendiri masih sangat jarang di temui.
Berikut merupakan cara budidaya asparagus :
a) Perendaman
Perendaman benih dalam air dingin dengan suhu 27 derajat
celcius. Dalam proses tersebut jangan lupa untuk mengganti air dingin
sebanyak 2-3 kali. Hal ini di lakukan untuk menjaga ketersediaan
oksigen yang ada dalam benih tanaman tersebut.
b) Proses Persemaian Tanaman Asparagus
Sebelum melakukan persemaian sebaiknya kita memilih lahan
terlebih dahulu dengan memilih lahan yang memiliki drainase yang
baik. Dalam hal pemilihan asparagus, dianjurkan agar tidak
menggunakan kembali lahan bekas tanaman asparagus sebelumnya.
Kemudian membuat bedengan dengan ukuran 120 cm dengan tinggi 40
cm. kemudian melakukan penyemaian benih dengan jarak 15 x 10 cm.
kedalaman masing-masing lubang untuk penanaman adalah 2,5 cm saja.
Dengan pengisian satu lubang tanam, berisi satu biji.
c) Perawatan Tanaman Asparagus
Perawatan tanaman Asparagus ini adalah diantaranya dengan
pencegahan tanaman dari hama juga penyakit tanaman. Usaha
perawatan lainnya adalah pembubunan yang dilakukan setelah 1 bulan
proses penanaman. Proses ini dilakukan sebanyak 2-4 minggu sekali.
Selain itu juga dilakukan proses pemangkasan setelah induk dari
tanaman ini membentuk batang dengan jumlah 8-10 buah. Batang yang
lain di pangkas saja. Batang yang dipelihara cukup 3-5 batang saja.
d) Pemanenan
Tanaman Asparagus ini baru bisa dipanen setelah umur
tanamnya mecapai 8-9 bulan. Panen Asparagus ini dilakukan dengan

memotong rebung dan kemudian menimbun kembali sekeliling


tanaman dengan tanah. Cara panennya adalah dengan memotongi
batang yang muda. Alasan memotong batang yang muda ini adalah agar
tidak merusak sistem perakaran tanaman yang nantinya akan dijadikan
sebagai indukan untuk tanaman ini.
e) Proses Pasca Panen
Proses pasca panen disini ada beberapa proses yang harus
dilakukan sebelum asparagus di distribusikan kepada konsumen
diantaranya:
Proses pendinginan
Penyimpanan asparagus ini dilakukan dibawah suhu 15
derajat celcius dan diatas titik beku biasanya dikenal dengan
(chilling storage). Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran
memerlukan suhu yang optimum berguna untuk mempertahankan
mutu dan kesegaran.
Cara lain apabila asparagus tidak langsung didistribusikan
maka asparagus disimpan dalam ruangan khusus dengan suhu antara
0-10 derajat celcius. Proses tersebut memiliki tujuan agar asparagus
memiliki rasa yang lebih manis dan memiliki ketahanan yang cukup
lama. Bagian atas asparagus dibungkus kertas dan diikat dengan tali,
kemudian dimasukan ke dalam bak khusus yang diisi dengan air
setinggi kuranglebih 5 cm dengan posisi berdiri hingga bagian
bawahnya terendam air.
Proses Pengemasan
Pengemasan asparagus menggunakan Styrofoam dan plastic
wrap. Pertama potong sedikit ujung bawah asparagus yang terendam
air lalu ditimbang kuranglebih 250 gram. Kemudian disusun rapi
dalam Styrofoam dan selanjutnya wrapping dengan rapi.
3.2 IdentifikasI Serta Analisis Permasalahan System Budidaya Asparagus
Dari Praktek Praktek Petani Selama Ini Guna Menuju Pengembangan
Pertanian Berbasis Ekologi
Asparagus merupakan salah satu jenis sayuran daerah subtropis yang
bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Daerah penanaman asparagus di

Indonesia meliputi brastagi (sumut) bukit tinggi (sumbar) curub (Bengkulu),


puncak, selabintana lembang dan pangalengan (jabar) baturaden, dieng,
temanggung kopeng dan tawangmangu (jawa tengah) kaliurang (DIY) tretes
,selekta, batu dan pegunungan ijen (jatim) bedugul (bali). Masalah utama
yang dihadapi para petani asparagus yaitu belum tersedianya benih yang
sesuai dengan lingkungan setempat dan sesuai dengan teknik budidaya yang
diterapkan. Terdapat

beberapa varietas asparagus yaitu seperti (Broock

Improved, Mary Washington, jersy giant, Glory Van Broenskwijk, locullus)


yang berasal dari Negara Amerika, Belanda, Jerman dsb. Sehingga untuk
mengenai permasalahan utama dalam membudayakan asparagus yaitu
berasal dari benihnya itu sendiri karena benih merupakan awal mula untuk
membudidayakan suatu komoditas. Seperti yang kita ketahui bahwa di
Indonesia khusnya tanaman asparagus, masih belom banyak masyarakat
yang mengetahui bahkan mencicipi berbagai olahan asparagus itu sendiri.
Namun dalam jangka panjang dapat diprediksikan bahwa untuk
membudidayakan asparagus akan menguntungkan petani di Indonesia.
Tanaman asparagus itu sendiri memiliki karakteristik yang cukup sesuai jika
di tanaman di daerah Indonesia. Untuk teknik budidaya tanaman asparagus
itu sendiri terdiri dari beberapa hal yaitu:
1. Persiapan bibit
Untuk persiapan bibit terdapat beberapa step yaitu persemaian
lalu perendaman benih selama 1-2 hari untuk menyeleksi benih yang
berkualitas baik selanjutnya benih disemai dengan jarak tanam 15x10
dengan kedalaman 2,5 cm dan dimasukan kesetiap lubang 1 biji laldu
disirama seperlunya. Sehingga terjadi beberapa kesalahn dari kurangnya
ketelitian petani yaitu saat perawatan persemaian sehingga terdapat
beberapa hama dan penyakit pada benih asparagus tersebut. Setelah itu
seleksi dan pencabutan benih hal yang harus di perhatikan yaitu bibit
yang sudah di cabut harus cepat ditanam,sebelum penanaman.
2. Persiapan lahan
Sebelumnya lahan harus digemburkan dahulu lalu diberikan
pupuk kandang.Setelah itu membuat parit dengan kedalaman 15-20 cm

untuk drainase tanaman asparagus. Serta menggunakan jarak tanamn


40-50 cm.
3. Penanaman
Penanaman dilakukan jika bibit sudah berumur 5-6 bulan.
4. Pemeliharaan
Hal yang harus diperhatiakan yaitu pembubunan yang dilakukan
jika

tunas

mulai

berkembang

hal

tersebut

dilakukan

untuk

memperkokoh tegaknya tanaman,memperbanyak system perakaran


sehingga hasil rebung bisa lebih banyak serta saat musim hujan parit
harus diperdalam karena asparagus kurang suka pada genangan yang
berlebih. Setelah itu pemangkasan pada batang yang terserang hama
dan penyakit.
Dapat

disimpulkan

bahwa

dalam

budidaya

asparagus

perlu

memperhatikan ketelitian dari petani khusnya Indonesia karena tanman


asparagus ini sendiri bukan tanaman asli Indonesia. Sehingga memungkinkan
terjadi kesalahan dalam membudidayakan tanaman ini yaitu seperti yang
sudah dijelaskan pada tahap persiapan bibit harus diseleksi dengan baik agar
nantinya mengasilkan tanaman yang baik juga. Selain itu tanaman asparagus
sendiri tidak terlalu menyukai genangan air yang berlebih sehingga pada saat
musim hujan lebih baik mendalamkan parit yang sudah dibuat. Dengan
demikian diharapkan petani di Indonesia mau membudidayakan tanaman
asparagus serta untuk para peneliti dapat menciptakan benih asparagus yang
berkualitas dan cocok ditanaman di daerah Indonesia.

3.3 Penyelesaian Petani atas Masalah Saat Ini


Kendala dan solusi petani asparagus daerah Pelaga, Kecamatan Petang,
Kabupaten Badung:
a) Masih ada keraguan beberapa petani, berkaitan dengan pengembangan
komoditas baru yang sebelumnya juga sering diintroduksikan kepada
petani, namun akhirnya mengalami kesulitan dalam pemasaran. Oleh

karena itu, untuk pengembangan Asparagus ini telah disusun program


yang utuh dari hulu sampai hilir, sehingga tidak sampai terjadi kesulitan
dalam pemasaran produk.
b) Sebagai komoditas unggul, tanaman Asparagus memerlukan input biaya
yang relatif besar dibandingkan dengan sayuran lokal. Hal ini
memerlukan perubahan pola pikir pada petani, mengingat modal yang
dimiliki petani sangat terbatas. Oleh karena itu, petani harus paham
dengan analisis usahatani, dan yang paling tepat adalah belajar dari
mereka yang sudah berhasil. Khusus untuk modal usaha, telah disiapkan
oleh koperasi.
c) Adanya iming-iming dari tengkulak yang mau membeli produk dengan
harga yang lebih mahal. Hal ini akan dapat mengacaukan peran koperasi,
oleh karena itu diperlukan komitmen anggota untuk tidak goyah terhadap
iming-iming tersebut. Dari catatan pengalaman yang ada, ternyata imingiming harga yang lebih mahal hanya ditawarkan pada saat produksi
sedang turun.
d) Masih adanya ketergantungan bibit unggul dari luar negeri, untuk
keberlanjutan dan pengembangan usaha. Terhadap masalah ini, Pemda
Badung telah mengupayakan untuk membeli calon bibit F-1 yang
kemudian dapat diperbanyak untuk kebutuhan bibit sampai 4 tahun
berikutnya. Di samping itu, dijajagi juga peluang kerjasama pembibitan
secara mandiri dengan Perguruan Tinggi di Bali. (Dolyanta, 2009)
Pada daerah Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung bahwa
ternyata petani pada daerah tersebut telah menanam asparagus lebih dari satu
tahun, dengan demikian petani pada daerah tersebut sedikit banyak telah
mengalami masalah dan dapat mengatasi masalah dari bertani asparagus itu
sendiri. Dapat diketahui bahwa terdapat berbagai masalah yang dihadapai
petani daerah Pelaga, Kecamatan Petang, Bandung tersebut seperti yang telah
dipaparkan diatas. Dapat diketahui bahwa pada daerah tersebut memperoleh
bantuan dari berbagai pihak terkait untuk meningkatkan produktivitas petani
tanaman asparagus.
Minimnya informasi dapat diatasi dengan memberdayakan lembaga
sekitar untuk ikut serta dalam menggali dan memberi informasi kepada petani

sehingga dapat diterima dan diterapkan dengan baik oleh para petani itu
sendiri. Oleh karena itu, peran pemerintah dan lembaga baik masyarakat
maupun pihak swasta seharusnya juga dapat ikut andil dalam mengenalkan
penanaman asparagus daerah DAS Konto. Karena dapat dikatakan asparagus
tersebut memiliki nilai jual yang tinggi dan memiliki prospek serta pasar yang
menjanjikan untuk dijual ke supermarket, hotel, restoran, bahkan ekspor.
Dengan informasi yang memadahi dan kemampuan serta lingkungan yang
mendukung, dengan adanya budidaya asparagus pada daerah aliran sungai
konto dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat serta tanah
sekitar dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar serta semaksimal mungkin.
3.4 Kajian Buku: Building Soils For Better Crops: Sustainable Soil
Management by Fred Magdoff and Harold van Es.
Solusi

terhadap

permasalahan-permasalahan

dalam

penanaman

tanaman Asparagus di daerah Das Konto, Malang seperti hal nya dalam buku
Building Soils For Better Crops: Sustainable Soil Management by Fred
Magdoff and Harold van Es. Seperti yang diketahui bahwa pengelolaan Desa
Das Konto mempunyai arti sebagai pengelolaan dan adalokasi sumberdaya
alam di daerah aliran sungai termasuk pencegahan banjir dan erosi, serta
perlindungan nilai keindahana yang berkaitan dengan sumberdaya. Termasuk
di dalam pengelolaan DAS adalah identifikasi keterkaitan antara daerah hulu
dan hilir suatu DAS, dimana dalam prakteknya perlu mempertimbangkan
aspek-aspek social, ekonomi dan budaya dan kelembagaan yang beroperasi di
dalam dan diluar aliran sungai yang bersangkutan. (Asdak, 2002:5)
Salah satu permasalahan penanaman tanaman asparagus di desa DAS
Konto adalah alih tata guna lahan pertanian. Dimana pada awalnya di daerah
DAS Konto ini merupakan kawasan hutan alami. Akan tetapi mengalami
perubahan mejadi kawasan agroforestry. Dan saat ini kebanyakan digunakan
hanya untuk menanam tanaman semusim. Hal ini berbahaya bagi ekologi dan
kesuburan tanah jika hanya ditanam tanaman yang sama di DAS Konto. Salah
satu penyelesaian yang dapat digunakan adalah melakukan rotasi tanaman
seperti yang tertuang dalam buku Building Soils For Better Crops:

Sustainable Soil Management by Fred Magdoff and Harold van Es. Rotasi
tanaman yang digunakan seperti menanam tanaman legume. Atau
menggunakan tumpang sari dengan legume. Berdasarkan hasil peneletian
menyatakan bahwa penanamna rotasi tanaman maupun tumpang saari jauh
lebih baik dibandingkan dengan monokultur. Akar tanaman degnan
mycorhizae akan lebih mampu dalma mengatasi seranagn jamur, nematoda
parasit, dan lainnya.
Menggunakan penutup tanah secara organik berupa sisa-sisa tanaman
seperti seresah. Hal ini dilakukan untuk tetap mempertahankan agregat
tanahnya. Hujan yang turun tidka langsung menghantam tanah. Penutup tanah
ini juga diharapkan mampu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah.
Penutup tanah ini dapat juga berfungsi sebagai pengatur suhu dalam tanah
dan menjaga kelembapan tanah serta mengurangi penguapan yang berlebihan.
Penutup tanah ini juga dapat diguunakan untuk memperkecil tumbuhnya
gulma atau tanmana pengganggu lain yang dapat merusak tanaman
Asparagus. Tutupun lahan organik dapat ditemui atau diperoleh oleh para
petani dengna mudah sehingga tidak memerlukan biaya yang banyak dalam
penggunaannya.
Permasalahan di daerah DAS Konto utnuk penanaman Asparagus juga
terletak pada kemiringan dan tingkat erosinya. Kemiringan lahan DAS Konto
mencapai 8% - 45%. Dengna demikian, untuk penanaman Asparagus, dapat
dilakukan dengan membetuk bedengan dimana disekitar bedengan akan
dibuat parit penampungna air. Parit ini digunakan untuk menggenang air yang
akan digunakan untuk mengairi tanaman Asparagus. Parit ini dapat
bermanfaat sebagai penampung air saat hujan sehingga hujan yang jatuh tidak
sampai menggenangi bagian atas tanaman Asparagus yang mungkin dapat
menyebabkan pembusukan tanaman. Model pembuatan bedengan akan
dibangun dengan melawan arah

kemiringa. Hal ini dilakukan untuk

mencegah terjadinya erosi serta mampu menahan air yang jatuh dari dan
mengurangi terbawanya tanah dari atas permukaan tanaman.
Dalam budidaya Asparagus, sesuai dengan yang tercantum dalam
buku Building Soils For Better Crops: Sustainable Soil Management by Fred

Magdoff and Harold van Es, dalam melakukan pencegahan hama penyakit
tanaman Asparagus dapat dilakukan secara alami dengan memanfaatkan
ekosistem di daerah itu sendiri. Seperti pemanfaatan musuh alami.
Penggunaan musuh alami akan lebih baik dan bersifat berkelanjutan
dibandingkan menggunakan bahan-bahan kimia seperti pestisida. Hal ini akan
mampu merusak ekosistem karena ada sekelompok yang menghilang dari
sistem ekosistem itu. Dimana dalam sistem ekosistem tersebut saling
berhungan antara satu dengan yang lain.
3.5 Rancangan Kegiatan Perbaikan Habitat Pertanaman
Dalam melakukan upaya pembudidayaan tanaman Asparagus di
wilayah DAS Konto, banyak upaya yang harus dilakukan agar tanaman
asparagus dapat tumbuh dengan baik di daerah tersebut. Hal ini disebabkan
suhu daerah DAS Konto berbeda dengan syarat tumbuh tanaman asparagus
dimana suhu daerah DAS Konto adalah sebesar 20-29C sedangkan syarat
tumbuh tanaman tersebut adalah dalam rentang suhu 15-21C. Maka dari itu
perlu adanya perbaikan habitat baik di dalam maupun di atas tanah sebelum
asparagus ditanam di daerah tersebut. Rancangan kegiatan perbaikan yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Pemberian pupuk kandang sebelum penanaman
Tanah yang mengandung bahan organik yang banyak kerapkali
mempengaruhi produksi tanaman asparagus. Oleh karena itu hendaknya
tanah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya yakni dengan cara melakukan
pengolahan tanah atau melakukan pembajakan tanah serta adanya
penambahan pupuk kandang/kompos dengan jumlah 30-40 ton per ha.
2) Penggunaan sistem irigasi yang tepat guna.
Habitat yang ditujukan untuk penanaman tanaman asparagus
memiliki suhu yang tinggi, sehingga perlu adanya upaya irigasi yang lebih
optimal untuk tanaman ini dimana irigasi yang digunakan adalah irigasi
permukaan. Irigasi dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai yang
berada dekat dengan lahan. Irigasi ini dialirkan ke dalam parit-parit tegalan
dengan lebar 30-45 cm dan panjang disesuaikan dengan keadaan lahan
yang sudah dibentuk di awal sebelum dilakukannya penanaman. Air yang

sudah dialirkan dapat dibiarkan tergenang sampai beberapa jam sehingga


tanah menjadi lembab dan tanaman dapat menyerap unsur hara dengan
baik. Sistem irigasi untuk tanaman asparagus ini dapat dilakukan sekali
atau dua kali dalam seminggu sehingga lahan tidak kering.
3) Penggunaan mulsa untuk mengurangi evapotranspirasi
Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, kelembapan
dalam tanah akan semakin terjaga sehingga lahan budidaya asparagus
tidak mengalami kekeringan serta benih gulma juga akan sangat terhalang.
Akibatnya tanaman asparagus akan bebas tumbuh tanpa kompetisi dengan
gulma dalam penyerapan hara mineral tanah. Tidak adanya kompetisi
dengan gulma tersebut akan membantu tanaman untuk dapat tumbuh
dengan baik tanpa kekurangan unsur hara.
4) Pemupukan di masa penanaman
Pemupukan dilakukan untuk menambah unsure hara yang
dibutuhkan oleh tanaman.Pupuk susulan yang diberikan dapat berupa Urea
(10 garm per tanaman), ZA (15 gram per tanaman). Dilakukan setiap 14
atau 21 hari sejak bibit mulai tumbuh. Jumlah pupuk disesuaikan dengan
tingkat pertumbuhan tanaman, makin dewasa pertumbuhannya makin
banyak pemakaiannya.
3.6 Teknologi Budidaya Tanaman Asparagus
Tanaman Asparagus merupakan tanaman asli Eropa dan Asia.
Asparagus ditemukan tumbuh liar di Eropa, Afrika Barat Laut, Asia ke Timur
sampai Iran. Asparagus dibudidayakan lebih dari 2000 tahun lalu dan
digunakan sebagai makanan dan obat-obatan oleh bangsa Yunani dan Roma.
Ada dua jenis rebung Asparagus, yaitu yang berwarna putih dan yang
berwarna hijau. Bagian yang dikonsumsi adalah rebung muda. Asparagus
penghasil rebung, sebenarnya juga sudah sejak jaman Belanda tumbuh di
kawasan dataran tinggi, namun fungsinya untuk dipanen daunnya sebagai
tanaman hias. Sebenarnya, Asparagus yang ditanam untuk diambil daunnya,
adalah jenis Asparagus setactus yang marambat. Asparagus jenis ini banyak
ditanam di teras rumah dan dirambatkan dengan tali, kawat atau kayu. Selain
itu masih ada Asparagus densiflorus dan Asparagus umbellatus yang banyak
dijadikan elemen taman karena bentuk tajuknya yang tebal dan indah mirip

ekor tupai. Juga Asparagus falcatus yang daunnya besar-besar hingga sepintas
tidak tampak sebagai Asparagus.
Tanaman Asparagus

merupakan

tanaman

tahunan. Asparagus

memiliki batang dalam tanah (rizoma), yang akan menumbuhkan rebung.


Sementara batang yang tampak di luar tanah merupakan tempat tumbuhnya
cabang, ranting dan daun. Daun Asparagus berbentuk jarum. Sepintas
tanaman Asparagus penghasil rebung ini mirip dengan cemara. Namun tinggi
tanaman hanya sekitar 1 m, dengan diameter batang hanya 1 cm. Di
Indonesia, Asparagus cocok dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian
antara 600 sd. 1700 m. dpl. Pembibitan Asparagus dapat dilakukan secara
vegetatif dengan kultur jaringan, anakan yang berasal dari tunas maupun
setek, serta secara generatif dari biji. Berikut adalah teknologi bududaya
tanaman Asparagus yang dapat dilakukan.
A. Pembibitan
Dalam pembibitan dengan biji terdapat 5 tahap, yaitu :
1. Perendaman benih
Asparagus berbuah buni berbentuk bulat dengan diameter 0,5
cm. Warna buah hijau ketika masih muda dan akan berubah menjadi
cokelat kehitaman ketika telah tua. Buah masak ditandai dengan
warna hitam serta lembeknya kulit buah dengan daging buahnya yang
sangat tipis. Biji Asparagus berwarna hitam dengan kulit biji sangat
keras.

Untuk

mempercepat

perkecambahan

perlu

dilakukan

perendaman biji dalam air dingin ( suhu 27 C) yang dicampur dengan


zat perangsang tumbuh (ZPT), selama 24 48 jam. Selama itu air
rendaman diganti 2 -3 kali untuk menjaga suhu serta ketersediaan
oksigen. Dengan perendaman demikian, perkecambahan benih bisa
berlangsung lebih cepat, dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi. Biji
yang mengambang pada saat perendaman dibuang. Setelah 24 48
jam perendaman, benih ditiriskan.
Biji diambil dari tanaman yang cukup tua, lebih dari 2 tahun.
Biji yang tua atau kering akan bewarna hitam.. Bibit asparagus dapat

dipindah kekebun apabila perakaran sudah cukup kuat, tinggi pohon


sudah lebih dari 30 cm, umur kira-kira 6-8 bulan
2. Persemaian
Lahan persemaian dipilih lahan yang berdrainase baik, bukan
bekas lahan tanaman Asparagus, tanahnya gembur, subur dan berpasir.
Tanah diolah, diberi pupuk dasar dan Furadan 3G untuk menghindari
hama. Bedengan dibuat dengan lebar 120 cm, tinggi 20 25 cm, lebar
parit 40 cm dengan kedalaman 40 cm. Benih disemai dengan jarak
1510 cm, dengan kedalaman 2,5 cm, setiap 1 lubang ditanam 1 biji.
Di atas permukaan tanah ditutup jerami atau sekam kemudian disiram
secukupnya. Perkecambahan benih bisa 2-6 minggu tergantung suhu,
kelembaban tanah dan kedalaman tanam. Pada suhu di bawah 20o C,
perkecambahan berlangsung sangat lambat. Tanaman ini sesuai
ditanam di tanah yang mempunyai pH di antara 5.5 hingga 6.7.
3. Perawatan persemaian
Meliputi pencegahan hama dan penyakit dilakukan seawal
mungkin.
4. Pemupukan
Sewaktu masih dipersemaian setiap 20 30 hari dilakukan
pemupukan menggunakan pupuk kandang.
5. Seleksi dan Pencabutan benih
Pemindahan bibit dari pembibitan ke lapangan umur 5-6 bulan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemindahan bibit diantaranya
bibit yang akan dipindahkan adalah bibit yang sehat. Bibit yang sudah
dicabut harus segera ditanam; dan sebelum penanaman akar dipotong,
disisakan 20 cm, dan pucuk tanaman dipangkas hingga tinggi tanaman
hanya 20 cm.
B. Pengolahan Tanah
Kemudian selain pembibitan dilakukan pengolahan tanah di lahan
pertanaman dimana sebelum penanaman, lahan yang akan ditanami
Asparagus dibajak dalam dan merata. Dibuat parit dengan kedalaman 15
20 cm untuk tempat tanaman dan jarak antar parit 1,25 1,5 m. Pada

awal tanam tidak digunakan pupuk kimia, tetapi menggunakan pupuk


kandang.
C. Penanaman
Jarak tanam di lapangan 40 50 cm. Penanaman dilakukan pada
pagi hari sekitar jam 9 atau pada sore hari sekitar jam 4. Jangan
membiarkan akar tanaman mengering sebelum ditanaman, Metode tanam
bervariasi tergantung iklim dan kondisi tanah, Untuk iklim hangat dan
tanah dengan irigasi baik, gali parit 8 inci dalamnya dan lebar 12 inchi,
sebarkan kompos atau kotoran sapi pada bawah parit dan tutupi dengan
1-2 inchi tanah. Jarak tanam 18 inchi dan tutupi 2 inchi tanah saat tuna
baru tumbuh keatas, setelah itu isi parit dengan tanah biasa. Untuk daerah
dengan cuaca hujan tinggi, tanam akar hingga ujung tanaman berada 1-2
inchi dibawah permukaan tanah. Lalu akar kemudian ditutupi 5-6 inchi
tanah, sehingga saat meningkatkan ketinggian tanah, pasang papan
sepanjang parit yang ada. Akar aspargus menyebar dengan luas, sehingga
beri jarak tanam 4-6 kaki.
D. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman Asparagus meliputi :
1. Pembumbunan
Apabila

tunas

sudah

mulai

tumbuh,

dapat

dilakukan

pembumbunan. Caranya, kira-kira sebulan setelah tanam, pembumbunan


awal dimulai, tidak perlu tinggi-tinggi, tapi sedikit demi sedikit
disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Pembumbunan dilakukan
setiap 2 4 minggu sekali, sehingga lama kelamaan setelah umur 9 bulan,
tempat tanaman yang semula berupa parit, sekarang berubah menjadi
guludan, sebaliknya yang semula guludan berubah menjadi parit dan
tanaman tingginya sudah mencapai 1 M. Semula dalamnya parit 30 cm,
tingginya guludan 30 cm, setelah dibumbun, akar asparagus akan
terbenam sedalam 60 cm, ini merupakan ukuran panjangya rebung
asparagus yang dipanen. Pada musim hujan, parit diperdalam. Hal ini
karena Asparagus tidak menyukai genangan air. Pembumbunan dilakukan
sekaligus dengan penyiangan dan pemanenan rebung.

2. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan setelah induk tanaman membentuk 8 10
batang, selebihnya dipangkas. Setelah mendekati masa panen batang yang
dipelihara cukup 3 5 batang saja, selebihnya dipotong sebagai rebung
asparagus.. Pemangkasan juga dilakukan pada cabang dan batang yang
terserang hama atau penyakit. Rebung baru bisa dinikmati setelah berumur
8-9 bulan atau 2-3 bulan setelah pemindahan dari pembibitan.
3. Pengairan dan drainase
Dilakukan dengan cara menggenangi parit (di-Leb) setinggi
setengah dari tinggi guludan, ditunggu hingga air meresap sampai atas,
kemudian sisa air dibuang. Pengairan pada musim kemarau dilakukan tiap
1 minggu sekali.
4. Pemupukan susulan
Hal ini dikarenakan peranan pupuk kandang yang sangat penting
dalam sistem pertanian ramah lingkungan dan kebutuhan yang banyak.
Kebutuhan pupuk kandang per hektar adalah 30 ton atau 1500 karung.
Sehingga kebutuhan pupuk kandang untuk lahan seluas 9800 m2 adalah
29,4 ton atau 1.470 karung. Selain pupuk kandang, dalam usahatani
Asparagus ramah lingkungan juga dibutuhkan pupuk cair. Pupuk cair
berfungsi sebagai pupuk daun dan batang. Pupuk cair yang digunakan
adalah versiganic. Pestisida yang digunakan sebaiknya adalah pestisida
organik atau biopestisida. Jerami digunakan dalam usahatani Asparagus
ramah lingkungan sebagai pengganti plasik mulsa. Kebutuhan jerami per
hektar adalah 10 truk.
5. Pengelolaan hama dan penyakit
Tanaman induk yang mati karena terkena hama atau penyakit
dipotong dan diganti dengan cara membesarkan batang yang tumbuh
normal. Hama yang sering dijumpai adalah ulat grayak dan ulat tanah yang
menyerang selama periode transisi musim kemarau ke musim hujan,
sedangkan penyakit yang menyerang dari golongan jamur. Pengendalian
hama dan penyakit dilakukan secara mekanik selama serangan belum

terlalu berat. Aplikasi pestisida dilakukan jika serangan sudah cukup berat.
Pestisida yang digunakan adalah pestisida organik (Daun Tembakau).
Jamur Fusarium, merupakan penyakit yang paling umum pada
asparagus, dapat diperkecil dengan menanam varietas yang tolerant.
Penelitian menunjukkan kemunculan Fusarium lebih sering pada tanaman
muda. Penelitian juga menunjukkan bahwa memperpanjang periode panen
terlalu lama, yang akan memperlemah akar, sangat berperan dalam infeksi
Fusarium. Kerak-kerak lebih sering terjadi pada daerah dengan
kelembaban tinggi pada iklim hangat yang menyebabkan kerak coklat
yang muncul pada pucuk dan cabang. Serangga: Aphib Asparagus eropa
(Brahycolus asparagi), menyebabkan produksi spears berkurang dengan
drastis, saat serangga ini memakan tanaman, menginjeksi racun yang
menyebabkan bibit mengecil dan mati, tanaman tua yang terinfeksi
mengalami dwarfisme, dan melepas tunas prematur dan kemungkinan
kematian. Dapat dibasmi dengan pestisida organik. Asparagus beetle
(kumbang asparagus) memangsa asparagus yang masih muda, mampu
dibasmi dengan pestisida. Cicada dan Centipede (kaki seribu) juga
merupakan pest bagi asparagus.
E. Panen
Panen dapat dilakukan mulai umur 8-9 bulan atau 2 3 bulan
setelah pemindahan. Panen dilakukan dengan memotong rebung dan
kemudian menimbun kembali sekeliling tanaman dengan tanah/kompos.
Cara panen dengan memotong batang muda merupakan cara yang lebih
baik, karena cara tersebut tidak merusak sistem perakaran tanaman yang
dijadikan indukan. Pemanenan daun Asparagus (juga rebungnya),
dilakukan dengan interval 1 sd. 1,5 bulan di kawasan tropis, sementara di
kawasan sub tropis antara 1,5 sd. 2 bulan. Biasanya sampai dengan umur 9
bulan rebungnya masih kecil-kecil dan produksinya hanya 10 kg per
hektar. Tapi apabila sudah berumur 2,5 4 tahun produksi sudah 50 kg per
hektar. Jika panen pertama dilakukan pada umur 3 bulan setelah

pemindahan, maka penen kedua pada umur 4 bulan dengan interval panen
2 hari sekali, bulan kelima dan seterusnya dapat dipanen setiap hari.
3.7 Kegiatan yang Perlu Dilakuan Dalam Mengkonservasi Biodiversitas
dengan Memperhatikan Sepuluh Prinsip Konservasi Biodiversitas
dalam Landscape Pertanian Di Buku Farming With Nature
Metode yang kerap diterapkan petani pada konservasi pertanian antara
lain metode vegetatif dan metode sipil teknis. Metoda vegetatif yaitu metoda
konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup
tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman
serta penggunaan pupuk organik dan mulsa.
1. Pendekatan Vegetatif
a) Melakukan Sistem Pertanaman Lorong
Sistem pertanaman lorong ialah suatu sistem di mana
tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman
pagar.Sangat

bermanfaat

dalam

mengurangi

laju

limpasan

permukaan dan erosi, dan merupakan sumber bahan organik dan hara
terutama N untuk tanaman lorong.Teknik budidaya lorong telah lama
dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik
konservasi tanah dan air untuk pengembangan sistem pertanian
berkelanjutan pada lahan kering di daerah tropika basah, namun
belum diterapkan secara meluas oleh petani.
b) Melakukan Sistem Pertanaman Strip Rumput
Sistem Pertanaman Strip Rumput ialah sistem pertanaman
yang hampir sama dengan pertanaman lorong, tetapi tanaman
pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur
dengan lebar strip 0,5 m atau lebih. Semakin lebar strip semakin
efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan
ternak.Penanaman

Rumput

Makanan

Ternak

didalam

jalur/strip.Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak


penanaman dibuat selang-seling agar rumput dapat tumbuh baik,
usahakan penanamannya pada awal musim hujan.Selain itu tempat
jalur rumput sebaiknya ditengah antara barisan tanaman pokok.

c) Melakukan Tanaman Penutup Tanah


Merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan
dengan tanaman pokok.. Tanaman penutup tanah berperan: (1)
menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh
dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik
tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3)
melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah.
Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya
kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan
aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah,
sehingga mengurangi erosi.
d) Memberi Mulsa
Mulsa ialah bahan-bahan (sisa-sisa panen, plastik, dan lainlain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan
tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan (evaporasi) serta
melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir hujan yang akan
mengurangi kepadatan tanah. Macam Mulsa dapat berupa, mulsa
sisa tanaman, lembaran plasti dan mulsa batu.Mulsa sisa tanaman ini
terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung),
pangkasan

dari

tanaman

pagar,

daun-daun

dan

ranting

tanaman.Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan


tanah setebal 2-5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.
e) Pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam (landscape)
Pengelompokan

tanaman

dalam

suatu

bentang

alam

(landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama, sehingga irigasi


dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik ini
dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki
kebutuhan air yang sama dalam satu landscape. Pengelompokkan
tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan
pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai
kebutuhan tanaman, sehingga air dapat dihemat.Hal ini dapat

dijadikan sebagai dasar dalam pemberian air irigasi yang sesuai


dengan kebutuhan, sehingga dapat hemat air.
f) Penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah.
Teknik

konservasi

air

ini

dilakukan

dengan

cara

mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman


alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi
di masing-masing daerah. Sebagai contoh, tanaman jagung yang
hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam
sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan Pada
daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkelerengan tinggi,
tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.
2. Pendekatan Sipil Teknis
a) Pembuatan teras pada lahan dengan lereng yang curam.
Pembuatan teras dilakukan, jika budidaya tanaman dilakukan
pada lahan dengan kemiringan > 8%.Namun demikian, budidaya
tanaman semusim sebaiknya menghindari daerah berlereng curam.
Jenis-jenis teras untuk konservasi air juga merupakan teras untuk
konservasi tanah, antara lain: teras gulud, teras buntu (rorak), teras
kredit, teras individu, teras datar, teras batu, teras bangku, SPA, dan
hillside ditches.
b) Wind break
Wind break dibuat untuk mengurangi kecepatan angin
sehingga mengurangi kehilangan air melalui permukaan tanah dan
tanaman selama irigasi (evapotranspirasi).
c) Pemanenan Air hujan
Pemanenan air hujan merupakan salah satu alternatif dalam
menyimpan air hujan pada musim penghujan, dan untuk dapat
digunakan pada musim kemarau.
d) Teknik pemanenan air yang telah dilakukan di Indonesia, antara lain
embung dan channel reservoir. Embung merupakan suatu bangunan
konservasi air yang berbentuk kolam untuk menampung air hujan
dan air limpahan atau rembesan di lahan sawah tadah hujan

berdrainase baik.Teknik konservasi air dengan embung banyak


diterapkan di lahan tadah hujan bercurah hujan rendah.
e) Dam Parit : adalah suatu cara mengumpulkan atau membendung
aliran air pada suatu parit dengan tujuan untuk menampung aliran air
permukaan, sehingga dapat digunakan untuk mengairi lahan di
sekitarnya. Dam parit dapat menurunkan aliran permukaan, erosi,
dan sedimentasi.

BAB IV
PENUTUP
a. Kesimpulan
Asparagus merupakan salah satu jenis sayuran daerah subtropis yang
bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Asparagus merupakan jenis sayuran
yang dikonsumsi bagian batang muda atau tunasnya. Di Indonesia, Asparagus
cocok dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian antara 600 sd. 1700 m.
dpl. Daerah penanaman asparagus di Indonesia meliputi Brastagi (Sumatra
Utara), Bukit Tinggi (Sumatra Barat) Curub (Bengkulu), Puncak, Selabintana,
Lembang, dan Pangalengan (Jawa Barat) Baturaden, Dieng, Temanggung
Kopeng dan Tawangmangu (Jawa Tengah) Kaliurang (DIY) Tretes ,Selekta,
Batu dan Pegunungan Ijen (Jawa Timur) Bedugul (Bali). Namun, masih ada
keraguan beberapa petani untuk budidaya Asparagus seperti petani
mengalami kesulitan dalam pemasaran produk, modal yang dimiliki petani
sangat terbatas, adanya iming-iming dari tengkulak yang mau membeli
produk dengan harga yang lebih mahal, masih adanya ketergantungan bibit
unggul dari luar negeri, dan minimnya informasi petani.
b. Saran
Seharusnya adanya peran pemerintah dan lembaga baik masyarakat
maupun pihak swasta untuk ikut andil dalam mengenalkan penanaman
asparagus. Petani juga harus paham dengan analisis usahatani, serta adanya
informasi yang memadai untuk petani, sehingga dengan adanya budidaya
asparagus di Indonesia dapat membantu meningkatkan perekonomian
masyarakat karena asparagus memiliki nilai jual yang tinggi dan memiliki
prospek serta pasar yang menjanjikan.

DAFTAR PUSTAKA
Aini FK, dkk. 2010. Studi biodiversitas: Apakah Agroforestri mampu
Mengkonservasi Keanekaragaman hayati di DAS KONTO? Working
paper 119. Bogor, Indonesia. World Agroforestri Centre (ICRAF)
South Asia Program.
Anonimus.

2013.

Teknik

Budidaya

Asparagus.

http://www.bbpp-

lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/587-teknikbudidaya-asparagus-asparagus-officinalis. Diakses pada tanggal 27


September 2015 pukul 14:24
Anynomous. 2013. Bisnis Hobi Tanaman. Infotanam.blogspot.co.id. Diakses pada
Minggu 27 September 2015 pukul 14.40
BPS. 2004. Ekspor Menurut Negara Tujuan. Jakarta: Badan Pusat Statistik
Dolyanta, I Made. 2009. Pengembangan Potensi Pertanian di Badung Utara
(Asparagus

Ditanam

Ekonomi

Mapan).

http://119.82.227.77/~k5513724/asset/artikel_images/versi_web.pdf.
diakses pada tanggal 10 Oktober 2015 pukul 15:09
Muizzun

Siti.

2012.

Teknologi

Pascapanen

Asparagus.

Muizzunnisak12.blogspot.co.id. Diakses pada Minggu, 27 september


2015 pukul 14.45.
Rubatzky, VE., Mas, Y. 1999. Sayuran Dunia: Prinsip, Produksi dan Gizi. Jilid
Ketiga. Jakarta
Stamps dan Limit dalam Burges. 1999. Worldagroforestry.org/sea/Publication.
Bogor