Anda di halaman 1dari 10

Universitas Kristen Krida Wacana

Fakultas Kedokteran
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510.
Telephone : (021) 5694-2061,fax : (021) 563-1731
Plastisitas Otak dan Mekanisme Apoptosis
Florensia Nani

Pendahuluan
Plastisitas merupakan salah satu kemampuan otak yang sangat penting, yang melingkupi
berbagai kapabilitas otak, termasuk kemampuan untuk beradapatasi terhadap perubahan
lingkungan dan penyimpanan memori dalam proses belajar. Karena itu anak-anak bisa belajar
lebih cepat daripada dewasa, termasuk diantaranya bahkan pemulihan dari cedera otak yang
lebih cepat. Otak tidak hanya tumbuh dan berubah sebagai fungsi perkembangan saja,tetapi juga
bisa mempertahankan plastisitas yang cukup baik dalam kehidupan.Sekali blok bangunan otak
berada ditempatnya dan koneksinya nyaman,otak akan melanjutkan interaksi dengan dirinya
sendiri dan lingkungannya. Apoptosis adalah mekanisme kematian sel yang terprogram yang
pentingdalam berbagai proses biologi. Berbeda dengan nekrosis, yang merupakan bentuk
kematian sel sebagai akibat sel yang terluka akut, apoptosis terjadi dalam proses yangdiatur
sedemikian rupa yang secara umum memberi keuntungan selama siklus kehidupan suatu
organisme. stilah program kematian sel digunakan untuk menekankan bahwa hal ini merupakan
proses perkembangan aktif. Faktor yang mengaktivasi sistim kematian sel tampaknya
berhubungan dengan beberapa cara kompetisi antar neuron hingga dicapai jumlah yang terbatas.

Definisi Plastisitas Otak


Plastisitas otak (neuroplasticity) adalah kemampuan otak melakukan reorganisasi dalam
bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf. Plastisitas merupakan sifat yang menunjukkan
kapasitas otak untuk berubah dan beradabtasi terhadap kebutuhan fungsional. Mekanisme ini
termasuk perubahan kimia saraf (neurochemical), penerimaan saraf (neuroreceptive) , perubahan
struktur neuron saraf dan organisasi otak. Plastisitas juga terjadi pada proses perkembangan dan
kematangan sistem saraf.6
Untuk memberikan gambaran tentang plastisitas, maka penulis memberikan ilustrasi
dengan membandingkan antara sifat plastisitas dan elastisitas. Suatu benda dengan bentuk awal
segi empat jika diberi intervensi atau dimanipulasi untuk membentuk segi tiga, maka pada saat
proses dilakukan benda berbentuk segi tiga akan tetapi pada akhirnya benda tersebut akan
kembali pada bentuk awalnya, hal ini disebut sebagai kemampuan elestisitas.
Jika bentuk awal suatu benda berbentuk segi empat kemudian diberikan intervensi untuk
membentuk segi tiga, maka pada saat proses dilakukan benda akan membentuk segi tiga dan juga
menjadi bentuk akhir dari benda tersebut, hal ini disebut sebagai kemampuan plastisitas.
Dengan demikian jelas bahwa sifat elastisitas berbeda dengan sifat plastisitas. Sifat
elastik artinya kemampuan suatu benda untuk dapat kembali pada bentuk asalnya, sedangkan
sifat plastisitas menunjukkan kemampuan benda untuk berubah kedalam bentuk yang lain.
Nilai positif dari adanya sifat plastisitas adalah pada pasien stroke menjadi potensi untuk dapat
dikembangkan dan dibentuk sehingga dapat menghasilkan gerak yang fungsional dan normal.
Nilai negatif dari adanya sufat plastisitas adalah jika metode yang diberikan tidak tepat, maka
akan terbentuk pola yang tidak tepat pula.1,2
Mekanisme plastisitas
Ada beberapa mekanisme dimana terjadinya plastisitas.Beberapa dari mekanisme ini
sangat mengandalkan lingkungan.proses ini terjadi terutama(meskipun tidak penuh) terjadi
selama perkembangan kehamilan dimana gen sangat berperan.Kelebihan produksi awal sinaps
memungkinkan otak menjadi lebih plastis mempertahankan sinapsis yang fungsional dan

menghilangkan yang nonfungsional/tidak diperlukan melalui apoptosis dan pemangkasan.Ada 2


macam plastisitas yang terjadi dan didorong oleh lingkungan:1-3
1. Experience-expectant plasticity
Perkembangan sistem komunikasi otakmembutuhkan kabel yang rumit di antara sistem
otak yang bervariasi.Dalam rangka untuk berkembang secara normal,beberapa sistem
membutuhkan input lingkungan yang spesifik.Jenis ini didorong oleh plastisitas
lingkungan yang disebut Experience-expectant plasticity.Perkembangan normal tidak
terjadi tanpa pengalaman-pengalaman ini,mereka dianggap umum untuk semua anggota
spesies.Sebagai contoh,sistem visual berkembang normal jika sistem visual yang utuh
terkena lingkungan visual yang normal.Pada kasus ini,input visual telah diperkkirakan di
lingkungan.Kurangnya input ini bisa mempunyai efek utama pada perkembangan,mulai
dari kurangnya visi dan persepsi.Dengan demikian proses lingkungan di dorong juga
tergantung factor genetik.
2. Experience-dependent plasticity
Berbeda dengan experience-expectant plasticity,experience dependent plasticity
melibatkan adaptasi otak terhadap informasi pada lingkungan yang unik untuk setiap
individu pada seluruh spesies.Satu mekanisme utama dari experience-dependent
plasticity adalah synaptogenesis dan pemangkasan terus menerus dan terjadi sepanjang
hisup.
Dalam experience-expectant plasticity waktu merupakan hal yang sangat penting dalam
pembelajaran tapi dalam experience-dependent plasticity pembelajaran bisa dilakukan dalam
beberapa waktu.
Sebagai contoh:dalam pembuatan kue,perkembangan keterampilan tangan diperlukan
untuk membuat kue (experience-expectant plasticity) tetapi pembelajaran membaca instruksi
pada bagaimana membuat kue sangat penting(experience-dependent plasticity).
Fungsi Neuroplasticity Dalam Proses Mengingat
Ketika kita memperoleh suatu informasi yang baru, informasi itu diterima didalam otak
kita pertama kali sebagai informasi yang bersifat sementara.

Otak akan menentukan apakah informasi tersebut bersifat penting atau tidak.Pengulangan
informasi atau pengalaman yang sering terulang, meningkatkanjumlah koneksi untuk dapat
memasuki informasi tersebut pada derajatinformasi kekal dalam otak.
Aplikasi dari Neuroplasticity , yaitu menghapus informasi yang tidakdiperlukan oleh
otak, dengan menghadirkan informasi-informasi baru dalam sebuah ingatan.6
Fungsi Neuroplasticity Dalam Memperbaiki Kerusakan atau Kecacatan Otak
Neuroplasticity adalah penyimpanan bagus pada kerusakan atau cacat otak; tanpanya,
kehilangan fungsi tidak dapat pernah dicapai kembali, juga tidak dapat merusak proses yang
pernah diharapkan dapat membaik. Plasticity membolehkan otak untuk membangun ulang
koneksi yang, karena luka berat, penyakit, atau genetik yang malang, telah dihasilkan dalam
penurunan kemampuan. Ini juga membolehkan kita untuk mengganti selama kerusakan atau
disfungsi jalur neural dengan memperkuat atau mengubah jalur kita yang tersisa. Sedangkan
proses ini mungkin terjadi dalam sejumlah cara apapun, ilmuan telah mengidentifikasi lebih dari
empat pola plasticity yang terlihat bekerja baik dalam situasi yang berbeda. Sebagai contoh,
kasus dalam kesehatan sel di sekitar daerah luka pada otak mengubah fungsinya, bahkan
bentuknya, jadi ketika mengerjakan tugas dan memindah sinyal yang sebelumnya disepakati
dengan neuron yang sekarang terluka pada daerah yang luka. Proses ini, disebut perluasan
fungsi peta, berakibat dalam mengubah sejumlah permukaan daerah otak yang didekikasikan
untuk mengirim dan menerima sinyal dari beberapa bagian khusus pada tubuh. Sel otak dapat
juga mengenali adanya jalur synaptic; bentuk plasticity ini, diketahui sebagai sebagai pengganti
kepalsuan, membolehkan jalur siap dibangun yang bersebelahan dengan daerah yang rusak
untuk menanggapi perubahan dalam tubuh yang disebabkan oleh hilangnya fungsi dalam
beberapa daerah lainnya. Sebelum proses neuroplastic lainnya, homologous region adoption,
membolehkan satu seluruh daerah otak untuk mengendalikan fungsi dari daerah otak yang jauh
lainnya (satu tidak dengan segera bersebelahan dengan daerah pengganti, seperti dalam perluasan
peta fungsi) yang telah dirusak. Dan, akhirnya, neuroplasticity dapat terjadi dalam bentuk cross
model reassignment, yang membolehkan satu jenis input panca indera untuk secara keseluruhan
mengganti kerusakan lainnya. Cross-model reassignment membolehkan otak bagi individual
yang buta, dalam belajar membaca Braille, dan akhirnya proses input penglihatan pada tulisan,
tergantikan dengan indra peraba melalui Braille (memperbaharui indera peraba dan juga
4

memindahkan tanggung jawab penglihatan dalam daerah otak yang dihubungkan dengan
membaca ). Satu atau beberapa respon neuroplastic ini memungkinkan kita untuk sembuh,
terkadang dengan kelengkapan yang ajaib, dari kepala yang terluka, penyakit otak, atau cacat
cognitif.4
Seiring perkembangan sel,terdapat kelebihan produksi yang sangat besar dari neuron.Sel
yang diproduksi kira-kira setengahnya mati karena berbagai faktor.Salah satu faktor terkait pada
kematian sel adalah apoptosis atau kematian sel yang diprogram.Sel yang dikeluarkan dengan
cara menyusut dan kemudian diserap kedalam sel yang lain.Faktor utama yang mengatur
apoptosis adalah kehadiran faktor neutropik yang merupakan protein yang mempromosikan
perkembangan neuronal dan aksonal serta kelangsungan hidup.Ketika nuetropin terlalu
rendah,molekul dalam memicu degenerasi sel.4

Kesalahan dan Konsekuensi


Kesalahan apoptosis dapat dikaitkan dengan segala konsekuensi yang mendalam seperti
keterbelakangan mental,kelainan emosi dan prilaku.ketika kita memahami akibat dari
pengurangan jumlah neuron melalui aktivitas apoptosis,kita tidak tahu berkurangnya
saraf apoptosis.Sebagai contoh,pada kasus down syndrome,penelitian menunjukkan
bahwa pengurangan jumlah neuron ini disebabkan peningkatan apoptosis.Neuron
merupakan dasar komunikasi,pengurangan dalam jumlah keseluruhan memiliki dampak
yang besar pada fungsi mental.Tanpa neuron tidak ada akson,dendrit atau sinaps yang

membawa komunikasi di otak.


Pemangkasan Sinaps
Hilangnya neuron melalui apoptosis dengan mengurangi jumlah sinaps.Ada mekanisme
lain mengarah pada hilangnya sinaps (tanpa hilangnya neuron).Ini sangat penting karena

ada kelebihan produksi sinaps pada penambahan kelebihan produksi neuron.


Perubahan anatomi
Perubahan anatomi karena pemangkasan sinaps terlihat terutama pada tingkat
molekul.Sedangkan perubahan kepadatan otak karena pemangkasan dapat dilihat dengan
teknik pencitraan struktural.

Pengertian apoptosis
Apoptosis adalah mekanisme kematian sel yang terprogram yang penting dalam berbagai
proses biologi. Berbeda dengan nekrosis, yang merupakan bentuk kematian sel sebagai akibat sel
5

yang terluka akut, apoptosis terjadi dalam proses yang diatur sedemikian rupa yang secara umum
memberi keuntungan selama siklus kehidupan suatu organism. Contohnya adalah pada
diferensiasi jari manusia selama perkembangan embrio membutuhkan sel-sel di antara jari-jari
untuk apoptosis sehingga jari-jari dapat terpisah. Sejak awal tahun 1990, penelitian mengenai
apoptosis berkembang dengan pesat. Penelitian mengenai apoptosis dimulai dengan studi pada
Caenorhabditis elegans. Cacing dewasa memiliki 1000 sel, di mana selama perkembangannya
ada 131 sel yang mati. Ada 2 bentuk mutasi ditemukan yaitu ced 3 dan ced 4. Sekuen ced 3
homolog dengan Interleukin Converting Enzyme (ICE) yang dibutuhkan untuk aktivasi
proteolitik dari prekursor interleukin 1, di mana selama aktivasi ada hormone tertentu yang
dilepaskan oleh sel imun tertentu yang dapat memacu terjadinya inflamasi. Hal ini menunjukkan
bahwa proteolisis dibutuhkan untuk apoptosis.5
Peranan apoptosis
Apoptosis memiliki peranan penting dalam fenomena biologis, proses apoptosis yang
tidak sempurna dapat menyebabkan timbulnya penyakit yang sangat bervariasi. Terlalu banyak
apoptosis menyebabkan sel mengalami kekacauan, sebagaimana terlalu sedikit apoptosis juga
menyebabkan proliferasi sel yang tidak terkontrol (kanker). Beberapa contoh penyakit yang
ditimbulkan karena apoptosis yang tidak sempurna antara lain:7
a) Penyakit autoimun disebabkan karena sel T/B yang autoreaktif terus menerus.
b) Neurodegeneration, seperti pada penyakit Alzheimer dan Parkinson, akibat dari apoptosis
prematur yang berlebihan pada neuron di otak. Neuron yang tersisa tidak mempunyai
kemampuan untuk meregenerasi sel yang hilang.
c) Stroke iskemik, aliran darah ke bagian-bagian tertentu dari otak dibatasi sehingga dapat
menyebabkan kematian sel saraf melalui peningkatan apoptosis.
d) Kanker, sel tumor kehilangan kemampuannya untuk melaksanakan apoptosis sehingga
proliferasi sel meningkat.
Fungsi apoptosis
A. Sel yang rusak atau terinfeksi
Apoptosis dapat terjadi secara langsung ketika sel yang rusak tidak bisa diperbaiki lagi
atau terinfeksi oleh virus. Keputusan untuk melakukan apoptosis dapat berasal dari sel itu
sendiri, dari jaringan di sekitarnya, atau dari sel yang merupakan bagian system imun.
6

Jika kemampuan sel untuk ber-apoptosis rusak atau jika inisiasi apotosis dihambat, sel
yang rusak dapat terus membelah tanpa batas, berkembang menjadi kanker.
B. Respon terhadap stress atau kerusakan DNA
Kondisi stress sebagaimana kerusakan DNA sel yang disebabkan senyawa toksik atau
pemaparan sinar ultraviolet atau radiasi ionisasi (sinar gamma atau sinar X), dapat
menginduksi sel untuk memulai proses apoptosis. Contohnya pada kerusakan genom
dalam inti sel, adanya enzim PARP-1 memacu terjadinya apoptosis. Enzim ini memiliki
peranan penting dalam menjaga integritas genom, tetapi aktivasinya secara berlebihan
dapat menghabiskan ATP, sehingga dapat mengubah proses kematian sel menjadi
nekrosis (kematian sel yang tidak terprogram).
C. Homeostasis
Homeostasis adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh organisme yang
dibutuhkan organisme hidup untuk menjaga keadaan internalnya dalam batas tertentu.
Homeostasis tercapai saat tingkat mitosis (proliferasi) dalam jaringan seimbang dengan
kematian sel. Jika keseimbangan ini terganggu dapat terjadi :
1. sel membelah lebih cepat dari sel mati.
2. sel membelah lebih lambat dari sel mati.
Mekanisme apoptosis
Mekanisme apoptosis sangat kompleks dan rumit. Secara garis besarnya apoptosis dibagi
menjadi 4 tahap, yaitu :
1. Signal Penginduksi Apoptosis
Apoptosis tidak memerlukan suatu proses transkripsi atau translasi. Molecular machine
yang dibutuhkan untuk kematian sel dianggap mengalami dormansi dan hanya
memerlukan aktivasi yang cepat. Signal yang menginduksi apoptosis bias berasal dari
ekstraseluler dan intraseluler. Signal ekstraseluler contohnya hormon hormon. Hormon
tiroksin menginduksi apoptosis pada ekor tadpole. Apoptosis juga bisa dipicu oleh
kurangnya signal yang dibutuhkan sel untuk bertahan hidup seperti growth factor. Sel
lain, sel berhubungan dengan sel yang berdekatan juga bisa memberikan signal untuk
apoptosis. Signal intraseluler misalnya radiasi ionisasi, kerusakan karena oksidasi radikal
bebas, dan gangguan pada siklus sel. Kedua jalur penginduksi tersebut bertemu di dalam
sel, berubah menjadi family protein pengeksekusi utama yang dikenal sebagai caspase.
Sel yang berbeda memberikan respon yang berbeda terhadap penginduksi apoptosis.
7

Misalnya sel splenic limfosit akan mengalami apoptosis saat terpapar radiasi ionisasi,
sedangkan sel myocyte tidak mengalami apoptosis untuk pemaparan yang sama
2. Regulator Molekuler dari Apoptosis
Signal kematian dihubungkan dengan pelaksanaan apoptosis oleh tahap integrasi atau
pengaturan. Pada tahap ini terdapat molekul regulator positif atau negatif yang dapat
menghambat, memacu, mencegah apoptosis sehingga menentukan apakah sel tetap hidup
atau mengalami apoptosis (mati). Apoptosis diperantarai oleh famili protease yang
disebut caspase, yang diaktifkan melalui proteolisis dari bentuk prekursor inaktifnya
(zymogen). Caspase merupakan endoprotease yang memiliki sisi aktif Cys (C) dan
membelah pada terminal C pada residu Asp, oleh karena itu dikenal sebagai Caspases
(Cys containing Asp specific protease). Saat ini telah ditemukan 13 anggota famili
caspases pada manusia. Beberapa anggota famili caspase yang terlibat dalam apoptosis
dibedakan menjadi 2 golongan.
3. Mitocondrial Pathway
Riset mengindikasi keterlibatan mitokondria dalam jalur apoptotis. Sitokrom c, suatu
heme protein yang bertindak sebagai suatu pembawa elektron dalam fosforilasi oksidasi
mitokondria, pemberhenti elektron cytochrome C oxidase atau kompleks IV, keluar
intermembran dan mengikat protein sitoplasmik yang disebut Apaf-1. Yang kemudian
mengaktikan suatu inisiator caspase-9 di sitoplasma.7
4. Tahap Fagositosis
Sel yang terfragmentasi menjadi apoptotic body mengeluarkan signal eat me yang
dikenali oleh fagosit. Ada 2 macam fagosit, yaitu :
Fagosit professional, contohnya sel makrofag.
Fagosit semiprofesional, sel tetangga dari sel yang mengalani apoptosis.
Adanya sel-sel fagosit ini dapat menjamin tidak timbulnya respon inflamasi setelah
terjadinya apoptosis. Sel fagosit juga harus dihilangkan setelah aktif bekerja. Sel imun
aktif mulai mengekspresikan Fas beberapa hari setelah aktivasi, mentargetkannya untuk
eliminasi. Beberapa sel yang stress dapat mengekspresikan Fas dan FasL lalu digunakan
untuk bunuh diri. Akan tetapi sebagian besar hanya dapat mengekspresikan Fas,
sedangkan FasL diekspresikan terutama oleh sel T aktif.7

Kesimpulan
Plastisitas menjelaskan pengalaman menata jalur saraf di otak. Perubahan fungsional
jangka panjang dalam otak terjadi ketika kita belajar hal-hal baru atau mengingat informasi baru.
8

Plastisitas adalah kapasitas otak untuk berubah struktur dan fungsinya. Otak bersifat plastis. Bagi
pasien dengan cedera otak, plastisitas adalah mekanisme adaptif untuk mengkompensasi fungsi
yang hilang dan / atau untuk memaksimalkan fungsi tersisa dalam hal cedera otak. Apoptosis
memiliki peranan penting dalam fenomena biologis, proses apoptosis yang tidak sempurna dapat
menyebabkan timbulnya penyakit yang sangat bervariasi. Terlalu banyak apoptosis
menyebabkan sel mengalami kekacauan, sebagaimana terlalu sedikit apoptosis juga
menyebabkan proliferasi sel yang tidak terkontrol (kanker).

Daftar Pustaka
1. Kulak W, Sobaniec W. Molecular mechanisms of brain plasticity: neurophysiologic
and neuroimaging studies in the developing patients. Rocz Akad Med Bialymst.
2004;49:227-36.
2. Smeltzer, Suzanne C. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth, alih bahasa: Agung Waluyo (et. al.), vol. 1, edisi 8, Jakarta:
EGC
3. Johnston MV. Plasticity in the developing brain: implications for rehabilitation. Dev
Disabil Res Rev. 2009;15:94-101.

4. Leocani L, Comi G. Electrophysiological studies of brain plasticity of the motor


system. Neurol Sci. 2006;27:S27-9.
5. Koukkou M, Lehmann D. Experience-dependent brain plasticity: A key concept for
studying nonconsious decisions. International Congress Series. 2006;1286:45-52.
6. Chapman SB, Aslan S, Spence JS, Hart JJ, Bartz EK. Neural Mechanisms of Brain
Plasticity with Complex Cognitive Training in Healthy Seniors. Journal of Cerebral
Cortex,p.2-7,
http://cercor.oxfordjournals.org/content/early/2013/08/21/cercor.bht234.full, 29
November 2014.
7. Rabkin SW(2009). Apoptosis in Human Acute Myocardial Infarction:The Rationale
for Clinical Trials of Apoptosis Inhibition in Acute Myocardial Infarction. Journal of
Scholarly Research Exchange.Volume 2009,p.2-5,
http://www.hindawi.com/archive/2009/979318/cta/ , 29 November 2014.

10