Anda di halaman 1dari 7

Hubungan Antara Frekuensi Penggantian Diaper Dan Infeksi Saluran

Kemih Pada Anak-Anak

Abstrak
Latar belakang infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyebab paling umum dari
demam pada anak. Frekuensi penggantianpopok (diaper) yang kurang sering
diduga menjadi penyebab ISK pada anak-anak. Ketika memakai diaper, daerah
perineum menjadi basah dengan urine yang memungkinkan bakteri untuk
bermigrasi dari anus ke lubang uretra eksternal.
Tujuan Untuk menilai hubungan antara Frekuensi penggantian diaper dan infeksi
saluran kemih pada anak-anak.
Metode Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada anak-anak yang berobat di
klinik rawat jalan Rumah Sakit Haji Adam Malik dari April-Juni 2010. Kultur
urin diperoleh dari anak yang dicurigai ISK yang memakai diaper setiap hari. Usia
subyek berkisar antara 2 bulan sampai 2 tahun 6 bulan, dengan sampel
dipasangkan dan dikumpulkan secara consecutive sampling. Diagnosis ISK
didasarkan pada kultur urin dengan jumlah bakteri 105/mL. Delapan puluh anak
disertakan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi dua kelompok: positif (n = 40)
dan negatif (n = 40) kultur urin. Uji chi square digunakan untuk menganalisis
hubungan antara Frekuensi penggantian diaper setiap hari selama periode satu
minggu dan hasil kultur urin.
HasilFrekuensi penggantian diaper setiap hari dalam 80 subjek adalah sebagai
berikut: 4 kali (22,5%), 4-5 kali (40%), dan 6 kali (37,5%). Frekuensi harian
pemakaian diaper pada anak dengan kultur urin positif adalah sebagai berikut: 4
kali (18 dari 40), 4-5 kali (22 dari 40), dan 6 kali (0 dari 40), (p = 0,0001).
Spesies bakteri yang paling umum ditemukan pada kultur urin adalah Escherichia
coli.
Kesimpulan frekuensi lebih rendah pada pemakaian diaper harian secara
signifikan berhubungan dengan kejadian ISK yang lebih tinggi pada anak-anak.

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyebab paling umum dari demam pada
anak. Infeksi saluran kemih juga merupakan jenis infeksi bakteri serius paling
umum yang terjadi pada masa bayi dan anak-anak di negara-negara maju.
Epidemiologi ISK selama masa kanak bervariasi menurut usia, jenis kelamin, dan
faktor lainnya. Prevalensi ISK pada bayi dilaporkan menjadi 2,5% pada anak lakilaki dan 0,9% pada anak perempuan. Setelah masa kanak-kanak, prevalensi pada
anak perempuan meningkat menjadi 1,2-1,9%, sedangkan prevalensi pada lakilaki turun menjadi 0,03%.1,2 Lima belas persen dari kasus ISK telah dikaitkan
dengan jaringan parut ginjal, yang dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang
hipertensi dan gagal ginjal kronis.3,4
Infeksi pada saluran kemih tergantung pada faktor predisposisi, serta status sistem
kekebalan tubuh. Pada bayi dan anak-anak, bakteri yang menyebabkan ISK
umumnya berasal dari tinja, naik dari uretra. Infeksi saluran kemih bahkan
mungkin disebabkan oleh kurang seringnya penggantian diaper.1,3,6 Dalam
beberapa tahun terakhir, penggunaan diapertelah meluas di masyarakat. Diaper
dikenal sebagai produk yang mampu menyerap volume urin yang lebih besar,
menyebabkan kebutuhan kurang seringnyapenggantiandiaper. Kami telah
mengamati hampir seharian banyak orang tua tidak mengganti diaper anakanaknya meskipun diapermereka penuh.
Pengumpulan spesimen urin dapat dilakukan dalam 4 cara: menampung
pancaran porsi tengah, plastik kolektorurinepediatrik, kateterisasi, atau
aspirasi suprapubik. Pada bayi, urin biasanya dikumpulkan oleh plastik
kolektorurinepediatrik yang terpasang pada areaperineal anak.6,7Bakteri penyebab
paling umum dari gejala atau tanpa gejala ISK adalah Eschericia coli (65-90%)
bahkan dalam neonatus.1,8ISK nosokomial juga biasanya disebabkan oleh E.coli.9
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara Frekuensi
penggantian diaper dan ISK pada anak-anak
Metode
Penelitian cross-sectional ini dilakukan dari bulan April sampai Juli 2010 pada
pasien rawat jalan Rumah Sakit H. AdamMalik, Provinsi Sumatera Utara dengan
2

kisaran usia 2 bulan sampai 2 tahun dan 6 bulan. Subyek yang mengenakan
diapersetiap hari, diduga memiliki ISK, dan memiliki orang tua yang bersedia
mengisi kuesioner dan memberikan persetujuan tertulis. Anak-anak dengan
anomali kongenital dari saluran kemih, seperti hipospadia atau epispadias, dan
mereka yang telah mengambil antibiotik dikeluarkan.
Kami mengumpulkan data anak-anak seperti tanggal lahir, usia dan jenis kelamin.
Urin dikumpulkan dari semua subjek dengan kantong plastik kolektor urin
pediatrikyang melekat pada daerah perineum. Sebelum memasang kantong
plastik, perineum dibersihkan dengan air dan sabun 3-4 kali, menyeka dari depan
ke belakang, dan dikeringkan dengan kasa steril. Setelah urin dikumpulkan,
dibawa ke laboratorium mikrobiologi di rumah sakit kami dalam waktu 30 menit
untuk kultur urin.
Kultur urin dilakukan dengan inokulasi lingkaran yang dikalibrasi (0.001 cc)
untuk menempatkan spesimen urin ke plate agar steril (Mac Conkey atau agar
darah). Plate diinkubasi pada 370C selama> 24 jam dan pertumbuhan bakteri
menghasilkan pewarnaan Gram. Orang tua mengisi kuesioner tentang frekuensi
pemakaian diaperper hari siang dan malam selama 1 minggu sebelum kultur urin
hari dilakukan.
Uji chi square digunakan untuk menganalisis hubungan antara Frekuensi
penggantian diaper dan ISK. Nilai p <0,05 dianggap bermakna secara statistik
Hasil
Delapan puluh anak yang mengenakan diaper sehari-hari menjalani tes kultur urin.
Empat puluh anak dari mereka memiliki kultur urin positif sedangkan 40 anak
lainnya memiliki kultur urin negatif. Karakteristik subyekditunjukkan pada Tabel
1, dengan lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang
menggunakan diaper setiap hari. Usia rata-rata anak dengan kultur urin positif
adalah 12.93 (SD 8.60) bulan dan usia rata-rata pada anak dengan kultur urin
negatif adalah 10,5 (SD 6.93) bulan. Subyek dari kedua kelompok berkisar di usia
2 bulan sampai 2 tahun 6 bulan. Alasan paling umum dari ibu pada kedua

kelompok untuk mengganti diaper adalah karena diaperpenuh urin, dengan 55%
pada kelompok kultur positif dan 95% pada kelompok kultur urin negatif. Kami
menemukan E. colimenjadi bakteri yang paling umum menyebabkan ISK dalam
subjek kita, 50% pada kelompok kultur urin positif. Juga, pada kelompok biakan
positif ada 80% dengan bakteriuria> 105 CFU/mL urin dan 20% dengan
bakteriuria 104 CFU/mL dengan tanda-tanda klinis sugestifISK.
Pada kelompok biakan positif, 18 anak (45%) mengalami perubahan diaper
kurang dari 4 kali sehari, dan 22 anak (55%) yang berubah 4-5 kali sehari. Pada
kelompok kultur negatif, 10 anak (25%) menjalani 4 sampai 5 perubahan
pemakaian diaper setiap hari, dan 30 anak (75%) berubah> 6 kali sehari.
Kami menemukan hubungan yang signifikan antara pemakaian diaper yang
kurang sering dalam seharinya dengan ISK (p = 0,0001) (Tabel 2).
Hubungan antara Frekuensi penggantian diaper di sore hari dan ISK ditunjukkan
pada Tabel 3. Kami menemukan, 38 anak (95%) dengan kultur urin positif
mengalami perubahanpemakaian diaper<4 kali di siang hari. Perubahan
pemakaian diaperyang kurang sedikit di siang hari secara signifikan terkait
dengan ISK (p = 0,0001). Pada 39 anak dengan kultur urin positif perubahan
pemakaian diaper pada malam hari dilakukan selama 4 kali. Dari 20 anak-anak
dengan pemakaian diaper> 4 kali pada malam hari, 19 memiliki kultur urin
negatif. Seperti terlihat pada Tabel 4, kami menemukan hubungan yang signifikan
antara frekuensi yang lebih rendah dari perubahan pemakaian diaper di malam
hari dan kejadian ISK (p = 0,0001).
Diskusi
Dalam penelitian kami, ada lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak
laki-laki yang mengenakan diapertiap harinya. Kami juga menemukan lebih
banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dengan kultur urin positif.
Rata-rata usia subyek adalah 1 tahun dan kultur urin positif sebagian besar
ditemukan dalam anak-anakumur satu tahun. Infeksi saluran kemih biasanya
terjadi pada bayi dan anak-anak.1 Infeksi saluran kemih umumnya menunjukkan
tanda-tanda klinis lebihtinggi pada anak-anak yang lebih tua dari pada anak-anak
4

muda. Insiden ISK dilaporkan tertinggi dalam tahun pertama kehidupan untuk
semua anak, tetapi menurun setelah itu. Insiden pada anak laki-laki berusia kurang
dari 1 tahun adalah 3% sementara pada anak perempuan di usia kurang dari 1
tahun adalah 7%.3,6,10
Dalam rangka untuk mengumpulkan spesimen urin dari subjek kami, kami
menggunakan kolektor urin plastik (Urogard ). Kolektor dilekatkan pada
perineum yang telah dibersihkan, untuk kemudahan pengumpulan urin pada anakanak dengan cara melatih anak-anak berurin di non-toilet melalui aspirasi
suprapubik dianggap sebagai metode terbaik untuk mendapatkan urine untuk
kultur pada anak-anak, tetapi prosedur ini invasif dan sering gagal, sehingga
membutuhkan beberapa upaya. Sebuah metode non-invasif adalah kantung plastik
kolektor urin pediatrik (Urogard ), tetapi sulit untuk dilakukan, memakan waktu,
dan terkait dengan tingginya tingkat kontaminasi bakteri oleh flora tinja dan
perineum. Waktu terbaik untuk mengumpulkan urin adalah di pagi-pagi paling
awal.1,11Studi di Israel menemukan bahwa urin yang diperoleh dari diaper juga
dapat memberikan contoh valid untuk mendiagnosis ISK, bila dibandingkan
dengan urin midstream dan aspirasi suprapubik.12,13
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi hubungan antara Frekuensi
penggantian diaper dan ISK. Kami menemukan hubungan yang signifikan antara
Frekuensi penggantian diaperdenganISK. Dalam subyek dengan kultur urin
positif, kami menemukan bahwa 45% mengalami 4 kali penggantian diaper setiap
hari, sementara tak satu pun dari mereka dalam kelompok kultur negatif dalam
kategori ini merubah frekuensi penggantian diaper.
Frekuensi penggantian diaper setiap hari lebih dari 6 kali yang ditemukan pada
anak-anak dengan kultur urin negatif (100%). Selain itu, pada anak dengan kultur
urin negatif, 75% mengalami> 6 perubahan penggantian diaper setiap hari,
sementara tak satu pun dari mereka dalam kelompok kultur positif melakukan
penggantian diaper. Kami juga menentukan perubahan frekuensi penggantian
diaperpada siang dan malam hari. Dalam kedua kali pengukuran pemakaian diaper
per hari ini, kami menemukan hubungan antara frekuensi yang lebih rendah dari

penggantian diaperdengan ISK. Dalam 40 subyek dengan kultur urin positif,


penggantian diaper<4 kali dalam 38 (95%) subyek di siang hari dan 39 (97,5%)
subjek di malam hari.
Patogenesis infeksi saluran kemih sangat kompleks, tergantung kondisi host dan
organisme itu sendiri. Bakteriuria dapat berasal dari ginjal, pyelum, ureter,
kandung kemih atau bahkan uretra. Infeksi saluran kemih dapat juga tergantung
pada faktor predisposisi, seperti status kekebalan. Pada bayi dan anak-anak, rute
aksesbakteri umumnya naik melalui salurankemih.1,6,14
Bayi buang air setidaknya 3-4 kali setiap hari dalam beberapa hari pertama
kehidupan. Pada akhir minggu pertama, bayi bisa ber-urine 10-15 kali setiap
hari.15 Berbagai jenis diaper banyak tersedia di masyarakat dan relatif murah.
Diaper dipromosikan sebagai produk yang mampu menyerap sejumlah besar
volume urin, sehingga memungkinkan untuk lebih jarang mengganti diaper.
Risiko ISK yang lebih besar dapat terjadi karena kurang sering mengganti diaper.
Urin di dalam diaper menyebabkan daerah perineum menjadi lembab, mengurangi
migrasi bakteri dari anus ke lubang eksternal. Kontraksi otot panggul dan
sphincter tidak bisamemungkinkan otot untuk bersantai cukup selama berkemih,
menyebabkan urin residu tertinggal. Ketika situasi ini berulang, dapat
menyebabkan refluks bakteri dari uretra ke kandung kemih, menyebabkan infeksi
saluran kemih berulang.1,16,17
Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan ada hubungan antara pemakaiandiaper
dan ISK pada anak-anak. Mereka menemukan bahwa jumlah rata-rata harian
penggantian diaper 4,7 kali per hari meningkatkan risiko ISK.14 Sebaliknya,
sebuah studi di Iran menemukan bahwa tidak ada perbedaan dalam penggunaan
jumlah diaper harian dan kejadian ISK,18 tetapi studi di Inggris menemukan bahwa
penggantianpad pengumpul urin setiap 30 menit dapat mengeliminasi kontaminasi
pertumbuhan bakteri campuran, dan dapat diandalkan untuk mendiagnosis dan
mengeksklusi ISK pada anak-anak, anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang
masih mengenakan popok.11

Dalam penelitian kami, bakteri yang paling umum ditemukan pada kultur urin
adalah E.coli (50%). E.coli adalah bakteri Gram-negatif dengan fimbriae yang
dengan mudah dapat berpindah ke jaringan uroepithelial dan nefron,
menyebabkan inflamasi.19,21 Selanjutnya, sebuah studi di Yordania melaporkan
bahwa ISK akibat E.coli lebih umum pada perempuan.9
Keterbatasan penelitian kami adalah bahwa kami tidak membandingkan jenis
diaper yang digunakan dan data yang diambil hanya berasal dari kuesioner yang
diisi oleh orang tua. Sebuah studi di Iran menunjukkan bahwa jenis diaper dapat
menjadi faktor risiko ISK pada anak-anak, karena mereka membandingkan diaper
superabsorben, diaper biasa dan diaper katun yang bisa dicuci. Mereka
menemukan bahwa ISK lebih sering terjadi pada anak yang memakai
diapersuperabsorben, mungkin karena jenis diaper ini memiliki lingkungan yang
lebih cocok untuk pertumbuhan bakteri yang berlebihan karena penguapan
urinyang tidak lengkap, sehingga menjadikan sumber infeksi. 18 Studi lain
menunjukkan bahwa 'jellybeadsyang ditemukan di diaper sintetis dengan mudah
dapat menyebabkan ISK pada anak-anak, karena beads bening-berwarna
menggabungkan bahan kimia yang mengendap di diaper yang basah.22
Sebagai kesimpulan, kami menemukan bahwa penggantian diaper yang lebih
sering dalam tiap harinya dikaitkan dengan kultur urin negatif. Ada hubungan
yang signifikan antara frekuensi penggantian diaper yang lebih rendah dengan
kejadian ISK yang lebih tinggi pada anak-anak.