Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar belakang
Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 1966 yang dimaksud dengan

Skizofrenia (gangguan jiwa) yaitu kondisi terganggunya fungsi mental,


emosi, pikiran, kemauan, perilaku psikomotorik dan verbal yang menjelma
dalam kelompok gejala klinis, yang disertai oleh penderitaan dan
mengakibatkan terganggunya fungsi humanistik individual. Menurut
Rasmun (2001), salah satu yang dapat mengakibatkan terjadinya
ganguan mental atau psikiatri (ganguan jiwa) yaitu kritis multidimensi
yang terjadi pada masyarakat. Masyarakat yang mengalami krisis
diberbagai bidang seperti bidang ekonomi tidak hanya mengalami
gangguan kesehatan fisik berupa ganguan gizi, terserang infeksi, tetapi
juga dapat mengalami ganguan mental (jiwa). Bila individu tidak dapat
beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, maka akan menimbulkan
gangguan untuk berkonsentrasi dan berorientasi pada realita. Salah satu
bentuk dari gangguan jiwa adalah munculnya gejala halusinasi dimana
individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang
mendekat yang di prakarsai secara internal dan eksternal, disertai dengan
suatu pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi/kelainan berespon terhadap
stimulus (Townsend, 1998).
Terjadinya perang, konflik, lilitan krisis ekonomi berkepanjangan merupakan salah satu
pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan jiwa pada manusia.
Gangguan ini dijumpai rata-rata 1-2% dari jumlah seluruh penduduk di suatu wilayah pada setiap
waktu dan terbanyak mulai timbul (onset) nya pada usia 15-35 tahun. Bila angkanya 1 dari 1.000
penduduk saja yang menderita gangguan tersebut, di Indonesia bisa mencapai 200-250 ribu orang
penderita dari jumlah tersebut bila 10% nya memerlukan rawat inap di rumah sakit jiwa berarti
dibutuhkan setidaknya 20-25 ribu tempat tidur (hospital bed) Rumah sakit jiwa yang ada saat ini
hanya cukup merawat penderita gangguan jiwa tidak lebih dari 8.000 orang.
Kejadian gangguan jiwa di rumah sakit TNI AL dr. Ramelan Surabaya Di Pav 6B
Didapatkan dari periode Januari 2011- Desember 2011 didapatkan data penderita skizofrenia

sebanyak 271 pasien dengan diagnosa keperawatan yang bermacam-macam diantaranya:


gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, isolasi sosial: menarik diri, perilaku
kekerasan, waham, gangguan proses berfikir, gangguan konsep diri, resiko bunuh diri. Mayoritas
pasien yang dirawat adalah anggota TNI AL.
Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan yang berat pada
sebagian besar masyarakat dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya,
masyarakat yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami
gangguan kesehatan fisik berupa gangguan gizi, terserang berbagai penyakit
infeksi tetapi juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental psikiatri,
yang pada akhirnya dapat menurunkan produktifitas kerja, kualitas hidup
secara nasional, dan akan kehilangan satu generasi sehat yang akan
meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa. (Rasmun, 2001 Hal : 1-3). Di

Indonesia fenomena yang sedang marak saat ini adalah peristiwa individu
sebagai contoh pembantu rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa
ringan yang ditandai dengan mudah gugup, marah, mudah tersinggung,
tegang, konsentrasi kurang, apatis yang akan bermuara pada gangguan
jiwa berat akibat beban kerja dengan majikan, upah serta kondisi ekonomi
dan sosial. Hal tersebut akan berakibat pada gangguan jiwa Schizoprenia.
Gangguan-gangguan kesehatan jiwa tersebut menunjukkan seperti klien
berbicara sendiri, mata terlihat kekanan-kiri, jalan mondar-mandir, sering
tersenyum sendiri, dan sering mendengar suara-suara. Sedangkan
halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perubahan
dalam jumlah atau pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai
secara internal dan eksternal) disertai dengan satu pengurangan,
berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap setiap stimulus.
(Townsend, 1998).
Peran perawat pada kasus ini secara promotif membentuk potensi,
mengontrol

hidup

sendiri,

menyusun

strategi

koping,

mengubah

lingkungan, dan masyarakat, peran preventif mengidentifikasi perilaku


khusus, menghindari kegagalan peran, serta peran kuratif menyediakan
lingkungan yang terapeutik, memecahkan masalah, merawat kesehatan
fisik, mencegah usaha bunuh diri, psikoterapi dan terapi medik, dan peran
rehabilitatif dengan mengikutsertakan klien dalam kelompok, mendorong
tanggung jawab klien terhadap lingkungan, melatih keterampilan klien.

Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran?

Tujuan
1 Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran secara nyata dalam memberikan Asuhan Keperawatan
pada klien dengan: Halusinasi Pendengaran dengan Menggunakan pendekatan proses
2

keperawatan jiwa di ruang Pavilliun VI B Rumkital dr. Ramelan Surabaya.


Tujuan Khusus
1 Dapat melakukan pengkajian pada penderita Halusinasi Pendengaran.
2 Dapat menganalisa data yang diperoleh selama pengkajian.
3 Dapat menyusun rencana keperawatan pada penderita dengan halusinasi
4

pendengaran.
Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada penderita dengan halusinasi

pendengaran.
Dapat mengevaluasi tindakan keperawatan pada penderita dengan halusinasi
pendengaran.

4
1

Manfaat
Teoritis
Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya dalam Asuhan Keperawatan
Jiwa Dengan Masalah Utama Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran
Diagnosa Medis Skizofrenia Hebefrenik di Ruang Rawat Pavilliun VI Rumkital dr.
Ramelan Surabaya.
2 Praktis
a Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukkan bagi pelayanan di rumah sakit
agar dapat melakukan Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Utama Perubahan
Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Diagnosa Medis Skizofrenia Hebefrenik di
Ruang Rawat Pavilliun VI Rumkital dr. Ramelan Surabaya.
b Bagi Pasien
Dapat menjadi pengetahuan bagi pasien mengenai penyakitnya.

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS
1

Konsep Dasar Medis


1 1 Pengertian
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum
diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas,
serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan
sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).
Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik yangg kronik, sering mereda, namun
hilang timbul dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya (Kaplan 2000 : 407).
Menurut Eugen Bleuler (Maramis, 1998 : 217) Skizofrenia adalah suatu gambaran
jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses pikir, perasaan
dan perbuatan.
Dari ketiga pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa skizofrenia merupakan
suatu gambaran sindrom dengan berbagai macam penyebab dan perjalanan yang banyak
dan beragam, dimana terjadi keretakan jiwa atau ketidak harmonisan dan ketidaksesuaian
antara proses pikir, perasaan dan perbuatan serta hilang timbul dengan manisfestasi klinis
yang beragam.

2 Etiologi
1 Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,
bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita
Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis,
1998; 215 ).
2

Endokrin

Teori ini dikemukakan berhubungan dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu
pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini
tidak dapat dibuktikan
3

Metabolisme

Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung
extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada
penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih
dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.
4

Susunan saraf pusat

Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek
otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan
postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.
5

Teori Adolf Meyer

Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak
dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP
tetapi Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah
dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan
suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian
dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

Teori Sigmund Freud

Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab
psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga
lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3)
kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik
tidak mungkin.
7

Eugen Bleuler

Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa
yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir,
perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok
yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan
dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan
psikomotorik yang lain).

Teori lain

Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macaam


sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa,
penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum
diketahui.
9

Ringkasan

Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan


bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang
menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit
badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun
pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat
disangkal. (Maramis, 1998;218).

Tanda Dan Gejala


Menurut Hawari (2004), gejala gejala positif yang yang diperlihatkan pada
penderita skizofrenia adalah sebagai berikut:
a Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal).
Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rational,
b

namun penderita tetap meyakini keberanannya.


Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus).
Misalnya pederita mendenga suara suara / bisikan bisikan di telinganya padahal

tdak ada sumber dari suara / bisikan itu.


Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya

bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.


Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar mandir, agresif, bicara dengan semangat

e
f

dan gembira berlebihan.


Merasa dirinya orang besar, merasa serba mampu, serba hebat, dan sejenisnya.
Pekirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan akan ada ancaman terhadap

dirinya.
Menyimpan rasa permusuhan.
Gejala gejala positif skizofrenia sebagaimana diuraikan diatas amat

mengganggu lingkungan (keluarga) dan merupakan salah satu motivasi keluarga untuk
membawa penderita berobat.

Gejala negatif yang diperlihatkan pada penderita skizofrenia adalah sebagai


berikut:
a

Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam perasaan ini dapat

terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukan ekspresi.


Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawl) tidak mau bergaul atau kontak

dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).


Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.

Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.Sulit dalam berpikir abstrak.
d
e

Pola piker stereotype.


Tidak ada / kehilangan dorongan kehendak (avolition) dan tidak ada inisiatif, tidak
ada upaya dan usaha, tidak ada spontanitas, menonton, serta tidak ingin apa apa,
dan serba malas (kehilangan nafsu).

Jenis Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama
antara lain:
a Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi
dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan
halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.
b Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau
antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan
kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor
seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham
dan halusinaasi banyak sekali.
c

Skizofrenia Katatonia

Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh
stress

emosional.

Mungkin

katatonik.Skizofrenia Paranoid

terjadi

gaduh

gelisah

katatonik

atau

stupor

Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder
dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses
berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
d Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia
luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang
khusus baginya.
e

Skizofrenia Residual

Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejalagejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.
f

Skizofrenia Skizo Afektif

Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal


depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk
menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.

Penatalaksanaan Skizofrenia
Menurut Tomb (2004), pengobatan untuk penderita skizofrenia dapat menggunakan

beberapa metode antara lain:


a Metode biologic
Obat psikosis akut dengan obat anti psikotik, lebih disukai dengan anti psikotik atypical
baru (kisaran dosis ekuivalen = chlorpromaxine 300-600 mg/hari). Ketidak patuhan
minum obat sering terjadi, oleh karena itu perlu diberikan depo flufenazine atau
haloperidol kerja lama merupakan obat terpilih. Penambahan litium, benzodiazepine,
atau diazepam 15-30 mg/ hari atau klonazepam 5-15 mg/hari sangat membantu
menangani skizofrenia yang disertai dengan kecemasan atau depresi. Terapi kejang listrik
dapat bermanfaat untuk mengontrol dengan cepat beberapa psikosis akut. Sangat sedikit
pasien skizofrenia yang tidak berespon dengan obat-obatan dapat membaik dengan ECT.

Metode psikoterapi

Menurut Hawari (2006) jenis psikoterapi yang dilakukan untuk menangani penyakit
skizofrenia antara lain:
1

Psikoterapi suportif

Bentuk terapi yang bertujuan memberikan dorongan semangat dan motivasi agar
penderita tidak merasa putus asadan semangat juangnya (fighting spirit) dalam
menghadapi hidup.
2

Psikoterapi re edukatif

Bentuk terapi yang dimaksudkan member pendidikan ulang untuk merubah pola
pendidikan lama dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif terhadap dunia
luar.
3

Psikoterapi rekonstruksi

Terapi yang dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang mengalami


keresahan.
4

Terapi tingkah laku

Adalah terapi yang bersumber dari teori psikologi tingkah laku (behavior
psichology) yang mempergunakan stimulasi dan respon modus operandi dengan
pemberian stimulasi yang positif akan timbul proses positif.
5

Terapi keluarga

Bentuk terapi yang menggunakan media sebagai titik tolak terapi karena keluarga
selain sebagai sumber terjadinya gangguan tingkah laku juga sekaligus sarana terapi
yang dapat mengembalikan fungsi psikis dan sosial melalui komunikasi timbal balik.
6

Psikoterapi kognitif

Memulihkan kembali fungsi kognitif sehingga mampu membedakan nilai-nilai sosial


dan etika.

Konsep Dasar Keperawatan


1 Kasus (Masalah Utama)

Halusinasi Pendengaran

2 Konsep Halusinasi Pendengaran


Pengertian
Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam
jumlah dan pola dari stimulus yang mendekati (yang diprakarsai secara internal dan
eksternal) disertai dengan suatu pengurangan berlebih-lebihan distorsi atau kelainan
berespon terhadap suatu stimulus. (Towsend.1998).
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan, tanpa stimulus yang nyata
artinya klien menginterprestasikan suatu yang nyata tanpa stimulus atau rangsangan dari
luar (Maramis, 1980).
Halusinasi adalah merupakan reaksi terhadap stress dan usaha dari alam tidak sadar
untuk melindungi egonya/ pernyataan simbolik dari gangguan psikotik individu.
Halusinasi adalah gejala sekunder dari schizophrenia dank lien dengan skizofrenia 70%
mengalami halusinasi pendengaran dan 30% mengalami halusinasi campuran yaitu
halusinasi pendengaran dan penglihatan (Stuart and Sundeen.1995).

Etiologi

Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:


a
1

Faktor predisposisi
Biologis
1 Gangguan perkembangan dan fungsi otak/SSP.
2 Gejala yang mungkin muncul adalah hambatan dalam belajar berbicara,
daya ingat dan perilaku kekerasan.
Psikologis
1 Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan.
2 Penolakan dan kekerasan dalam kehidupan klien.
3 Pola asuh pada usia kanak-kanak yang tidak adekuat misalnya: tidak ada
kasih sayang diwarnai kekerasan dalam keluarga.

3
a

Sosial budaya
1 Kemiskinan,

konflik

sosial

budaya

(peperangan,

kerawanan,dan

ketidakamanan).
2 Kehidupan yang terisolir disertai stress yang menumpuk.
Faktor presipitasi
1 Kurangnya sumber daya/ dukungan social yang dimiliki.
2 Respon koping yang maladaptive.
3 Komunikasi dalam keluarga kurang.
IDENTIFIKASI ADANYA PERILAKU HALUSINASI
Isi Halusinasi
1 Menanyakan suara siapa yang didengar.
2 Apa bentuk yang dilihat.
3 Bau apa yang dicium.
4 Rasa apa yang dikecap.
5 Merasakan apa di permukaan tubuh.
b Waktu dan frekuensi halusinasi
1 Kapan pengalaman itu muncul.
2 Bila mungkin klien diminta menjelaskan.
3 Kapan persis waktu terjadinya hal tersebut.
c Situasi pencetus
1 Menanyakan kepada klien atau kejadian yang dialami sebelum hal itu
muncul.
d Respons klien
1 Apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengaruh Halusinasi.
2 Apakah masih bisa mengontrol stimulus Halusinasi atau sudah tidak berdaya.

FASE HALUSINASI
a Fase pertama/ comforming (ansietas sedang)
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan kesepian yang memuncak

dan tidak dapat diselesaikan.


Klien mulai melamun dan memikirkan tentang hal-hal yang menyenangkan

cara ini hanya menolong sementara.


b Fase kedua/ condemning (ansietas berat)
Kecemasan meningkat, melamun, berfikir sendiri jadi dominan.
Mulai diresahkan oleh bisikan yang tidak jelas.
Klien tidak ingin orang lain tahu dan dia tetap dapat mengontrol.
c Fase ketiga/ controlling (ansietas sangat berat)
Bisikan suara,isi halusinasi makin mengontrol, menguasai dan mengontrol
klien.
Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
d Fase keempat/ conquering (panik)
Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien.
Klien menjadi patut,tidak berdaya, hilang control dan tidak dapat berhubungan
5

scara nyata dengan orang lain dilingkungan.


Tanda Dan Gejala

Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai
berikut:
1 Bicara sendiri.
2 Senyum sendiri.
3 Ketawa sendiri.
4 Menggerakkan bibir tanpa suara.
5 Pergerakan mata yang cepat.
6 Respon verbal yang lambat.
7 Menarik diri dari orang lain.
8 Berusaha untuk menghindari orang lain.
9 Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
10 Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.
11 Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
12 Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
13 Sulit berhubungan dengan orang lain.
14 Ekspresi muka tegang.
15 Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
16 Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
17 Tampak tremor dan berkeringat.
18 Perilaku panik.
19 Curiga dan bermusuhan.
20 Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.
21 Ketakutan.
22 Tidak dapat mengurus diri.
23 Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
6 Penatalaksanaan Pada Pasien Halusinasi
Keperawatan kesehatan mental psikiatri adalah suatu bidang spesialisasi praktik
keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan
diri secara terpauti sebagai kiatnya. Halusinasi visual sering terjadi pada saat klien
bangun tidur / saat akan tidur ataupun saat klien tidak ada pekerjaan dan
termenung/melamun. Dalam penatalaksanaan proses keperawatan klien dengan
halusinasi yaitu:
a Membina hubungan saling percaya.
b Menjelaskan pada klien tentang apa yang dialami sekarang, jelaskan bahwa itu
c

merupakan halusinasi, baik itu pengertian ataupun sebabnya.


Menjelaskan cara-cara mengatasi (menghardik dan bercakap-cakap dengan

temannya).
d Menjelaskan pada keluarga tentang gangguan jiwa yang dialami klien,
bagaimana cara mengontrolnya juga dukungan dari keluarga. Menjelaskan pada
klien tentang obat yang di minum baik jenis, dosis, kegunaan maupun efek
samping (Rasmun, 2001).

Rentang Respon Halusinasi


Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam

rentang respon neurobiologist (Stuart & Laraia, 2001). Ini merupakan respon persepsi
paling maladaptif. Jika individu yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi
dan menginterprestasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca
indera (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan perabaan), pasien dengan
halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun sebenarnya stimulus
tersebut tidak ada. Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena
sesuatu hal mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang
diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Pasien mengalami ilusi jika interpretasi yang
dilakukannya terhadap stimulus panca indera tidak akurat sesuai stimulus yang diterima.
Rentang respon halusinasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
RENTANG RESPON
(STUART & LARAIA, 2001)
Respon Adaptif

Pikiran Logis

Respon Maladaptif

Distorsi Pikiran

G3

Persepsi Akurat

Ilusi

Halusinasi

Emosi Konsisten

Reaksi Emosi >>

SulitBerespon

Dng Pengalaman

Atau<<

Emosi

Perilaku Sesuai

Perilaku Aneh

PL.

Pikir/Delusi

Disorganisasi
Berhub. Sosial

tidak biasa
Menarik Diri

3 Konsep Asuhan Keperawatan


1
Pengkajian
Perubahan persepsi sensori; halusinasi Pendengaran

isolasi sosial

Data subyektif: tidak mampu mengenal waktu, orang, tempat, tidak mampu
memecahkan

masalah,

mengungkapkan

adanya

halusinasi

(misalnya

mendengar suara suara atau bayangan bayangan), mengeluh cemas dan


2

khawatir.
Data obyektif: mudah tersinggung, apatis, dan cenderung menarik diri, tampak
gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi, kadang berhenti berbicara
seolah

olah

mendengar

sesuatu,

menggerakkkan

bibirnya

tanpa

mengeluarkan suara, menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai, gerakan mata
yang cepat, pikiran yang berubah ubah dan konsentrasi rendah, kadang
tampak ketakutan, respon respon yang tidak sesuai (tidak mampu berespon
terhadap petunjuk yang kompleks).
POHON MASALAH
Risiko perilaku mencederai diri (Affect)
Gangguan pemeliharaan kesehatan

Perubahan persepsi/sensori:
halusinasi dengar (Core Problem)

Isolasi sosial: menarik diri (Causa/ Etiologi)

defisit perawatan diri:


Mandi & berhias

Gangguan konsep diri: harga diri rendah kronis


2
1

Diagnosa Keperawatan
Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan halusinasi dengar.

RENCANA KEPERAWATAN
Dx. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan halusinasi dengar.
Intervensi Keperawatan:
1

SP 1.
a Bina hubungan saling percaya
b Membantu pasien mengenal halusinasinya (isi, waktu, frekuensi, situasi yang
c

menyebabkan dan respon pasien).


Membantu pasien mengontrol halusinasinya (menghardik halusinasi)

Tujuan SP 1:
a

Agar pasien percaya dengan perawat/mahasiswa (saling percaya).

b
c

Agar pasien mampu mengenal halusinasinya ketika halusinasinya datang.


Agar pasien mampu mengetahui cara menghardik dan juga mempraktekkan cara
yang diberikan perawat/mahasiswa ketika halusinasi datang.

2
a

SP 2
Mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

Tujuan SP 2:

Agar pasien mampu mengetahui cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-

cakap dengan orang lain ketika halusinasi datang.


Agar pasien mampu bercakap-cakap dengan orang lain ketika halusinasi datang.

SP 3
a Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan melaksanakan aktivitas terjadwal.
Tujuan SP 3:

Pasien mampu mengidentifikasi aktivitas terjadwal yang biasa di lakukan

sehari-hari.
Pasien mampu melakukan aktivitas yang sudah dijadwalkan.

SP 4
a Melatih pasien minum obat secara teratur
Tujuan SP 4:
a
b

Pasien mengetahui kegunaan obat, akibat jika putus obat.


Pasien dapat minum obat secara teratur.
BAB 3
TINJAUAN KASUS

A PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA


Ruang Rawat: Pav 6B

Tanggal Dirawat: 23-11-2011

I IDENTITAS KLIEN
Inisial
: Tn. Y
(L/P) Tanggal Pengkajian : 6-12-2011
Umur
: 28 Tahun
No. Rekam Medik : 20.20.53
Informan : keluarga pasien dan pasien sendiri
II ALASAN MASUK

Pasien memukul PAGA saat dinas.


IIIKELUHAN UTAMA
keluarga pasien mengatakan sebelum di bawa ke rumah sakit pasien sering gelisah
saat di kantor ataupun di rumah. Pasien juga sering mangkir saat dinas dengan alasan
yang tidak jelas tapi dia masuk kerja saat hari libur. Ketika pasien di rumah pasien
sering bertengkar dengan istrinya dengan alasan cemburu karena pasien berpikir
istrinya berselingkuh dengan seniornya yang pangkatnya lebih tinggi.
Keluarga pasien juga mengatakan sebelum di bawa ke poli jiwa pasien memukul
PAGA saat dinas kemudian oleh teman-temannya langsung dibawa ke RSAL (poli
jiwa).
Keluarga pasien mengatakan saat di kantor pasien sering diam melamun dan pulang
cepat meninggalkan tempat kerjanya tanpa alasan yang jelas.
Pasien mengatakan sebelum dibawa ke rumah sakit dia sering mendengar teriakanteriakan suara perempuan yang menyuruhnya untuk memukul seniornya dan sampai
sekarang kadang-kadang masih mendengar.

IV FAKTOR PREDISPOSISI
1 Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?
ya pasien pernah mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2010 dan sering kambuh dan
keluar masuk pav 6. Pasien masuk pav 6 sebanyak lebih dari 4x.
2 Pengobatan sebelumnya
Berhasil
kurang berhasil
tidak berhasil
pasien mengatakan saat di rumah jarang minum obat bahkan pernah tidak diminum
obatnya dengan alasan ingin coba-coba bagaimana rasanya kalau tidak minum obat.
3

Pelaku/Usia

Korban/Usia Saksi/Usia

Aniaya fisik
Aniaya seksual
Penolakan
Kekerasan dalam keluarga
Tindakan criminal
penjelasan No. 1, 2, 3 : pasien memukul PAGA sebelum dibawa ke pav 6
Masalah Keperawatan : -resiko perilaku kekerasan.
-Ketidakefektifan terapi sebelumnya
Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?
Ya
Tidak
Penjelasan: keluarga pasien mengatakan ada anggota keluarga lain yang pernah
mengalami gangguan jiwa yang sama dengan pasien yaitu paman pasien namun sudah
sembuh.

Masalah Keperawatan : ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan


5 Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : tidak ada
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.
V FISIK
1 Tanda vital TD:120/80
N: 80x/mnt
S: 36,5oC
RR: 20x/mnt
2 Ukuran
TB: 170cm
BB: 75kg
3 Keluhan Fisik
:Tidak ada
Penjelasan : tidak ada keluhan fisik yang dikeluhkan pasien
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
VI PSIKOSOSIAL
1 Genogram
Ket:
: Perempuan

Px

: Laki- laki
: Tinggal
serumah

Penjelasan: pasien menikah dengan istrinya pada bulan september tahun 2011 dan belum
dikaruniai anak. Pasien tinggal serumah dengan istrinya.
Masalah Keperawatan
2

: tidak ada masalah keperawatan.

Konsep diri
a Citra tubuh

: pasien mengatakan tidak ada bagian tubuhnya yang tidak dia sukai.

b Identitas

: pasien merupakan anggota TNI AL dengan pangkat PRATU dan

pasien kurang puas dengan posisinya.


c Peran
: pasien di rumah sebagai suami dan bekerja sebagai TNI AL.
d Ideal diri
: pasien ingin segera cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit agar
e

bisa kembali bekerja.


Harga diri
: pasien merasa bahwa istrinya berselingkuh dengan seniornya yang

pangkatnya lebih tinggi dari pasien .


Masalah Keperawatan : gangguan konsep diri: harga diri rendah.
3 Hubungan sosial
a Orang terdekat: istri dan sahabat pasien.
b Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat: pasien mengikuti kegiatan di
rumah sakit tapi pasien lebih sering menyendiri dan tidur di kamar.
c Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: keluarga pasien mengatakan
sebelum MRS pasien merupakan orang yang pendiam dan suka menyendiri serta

melamun. Pasien cenderung tertutup dan jarang cerita tentang masalahnya kepada
orang lain kecuali terhadap orang yang dipercaya sekali oleh pasien.
Masalah Keperawatan: isolasi sosial: menarik diri.
4 Spiritual
a Nilai dan keyakinan: pasien beragama islam.
b Kegiatan Ibadah: pasien mengatakan rajin melaksanakan shalat subuh dan
mendengarkan ceramah subuh di televisi.
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan.
VII

STATUS MENTAL
1 Penampilan : pasien terlihat bersih dan rapi, rambut rapi dan tidak kotor, gigi bersih.
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan.
2 Pembicaraan
penjelasan: ketika dikaji respon pasien ketika menjawab agak lambat dan tampak
malas dan lama saat berfikir.
Masalah Keperawatan: hambatan komunikasi verbal.
3 Aktivitas motorik
penjelasan : ketika dikaji pasien tampak tidak tenang dan gelisah serta tampak
agitasi (kadang-kadang menggerak-gerakan tangan dan kaki). Pasien juga
mengalami distrakbiliti (perhatian yang mudah dialihkan oleh rangsang yang tidak
berarti (orang lewat)).
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan.
4 Alamperasaan
penjelasan : saat dikaji pasien beranggapan bahwa suara-suara yang didengarnya
dikirim oleh sesuatu yang lebih kuat dari manusia dan pasien khawatir bila suara-

suara itu kembali.


Masalah Keperawatan: ansietas.
Afek
Datar
Tumpul
Labil
Tidak sesuai
Penjelasan : pasien mengatakan khawatir bila suara-suara itu kembali terdengar

namun muka pasien tidak menunjukkan kekhawatiran.


Masalah Keperawatan: gangguan alam perasaan/ ketakutan.
6 Interaksi selama wawancara: saat dikaji pasien cukup kooperatif, dan pasien mau
menatap wajah perawat/mahasiswa namun konsentrasinya akan beralih jika ada
stimulasi yang lewat.
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan.
7 Persepsi : Halusinasi
Pendengaran
Penglihatan

Perabaan

Pengecapan
Penghidu
penjelasan: pasien mengalami halusinasi pendengaran. Saat dikaji pasien
mengatakan sebelum MRS mendengar suara berupa teriakan-teriakan wanita yang

menyuruhnya memukul seniornya, suara itu sering muncul terutama saat malam hari
sampai menjelang subuh, respon pasien saat mendengar suara itu menghampiri
sumber suara dan terkadang diam.
Masalah Keperawatan: gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
8 Proses pikir
penjelasan : saat dikaji pasien mampu menjawab pertanyaan yang diberikan namun

agak lama saat menjawab.


Masalah Keperawatan:gangguan proses pikir.
Isi pikir
Obsesi
Fobia
Depersonalisasi
Waham
Agama

Ide yang terkait

Somatik

Siar pikir

Hipokondria
Pikiran magis

Kebesaran

Kontrol pikir

Curiga

Sisip pikir

nihilistik

penjelasan : pada saat dikaji pasien mengatakan cemburu terhadap istrinya yang
dianggap berselingkuh dengan seniornya.
Masalah keperawatan : waham curiga.
10 Tingkat kesadaran
Bingung

Sedasi

Stupor

Disorientasi:
Waktu
Tempat
Orang
penjelasan : saat dikaji pasien tampak sadar sepenuhnya dan kooperatif ketika
diajak ngobrol
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.
11 Memori
pasien mampu mengingat isi halusinasi,frekuensi, waktu, dan respon pasien yang
terjadi sebelum pasien MRS.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih

Tidak mampu

Tidak mampu

berkonsentrasi

berhitung
sederhana

penjelasan : pasien saat ditanya berapa kali dia dirawat, pasien bilang tidak tahu
sudah berapa kali dia masuk.
Masalah Keperawatan : gangguan proses pikir.

13. Kemampuan penilaian : pada saat mahasiswa memberi pertanyaan pasien mandi
dulu atau shalat subuh dulu pasien menjawab mandi dulu.
Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan.
14. Daya tilik diri: saat dikaji pasien sadar bahwa dirinya sedang sakit san dirawat di
pav 6. Pasien ingin cepat sembuh dan kembali bekerja.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keerawatan.
VII. Kebutuhan Persiapan Pulang
1

Pasien mampu makan sendiri, ganti baju sendiri, mandi sendiri, BAB/BAK sendiri
tetapi klien tidak mampu memenuhi kebutuhan yang lain seperti menjaga kebersihan

kamarnya.
Masalah keperawatan: gangguan pemeliharaan kesaehatan
2 Istirahat dan tidur
Tidur siang lama :
1
s.d. 2
jam
Tidur malam lama :
7
s.d 8
jam
Aktivitas sebelum/setelah lama : berdoa
Penjelasan: pasien mengatakan sering terbangun awal saat tidur di malam hari.
Masalah keperawatan: gangguan pola tidur.
3 Penggunaan obat : memerlukan bantuan karena pasien mengatakan tidak teratur
4

untuk minum obat saat di rumah.


Sistem pendukung pasien adalah istrinya dan keluarganya yang dapat memahami
segala kebutuhannya.

VIII. Mekanisme Koping


Adaptif
Maladaptif
Bicara dengan orang lain
Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah
Reaksi lambat/berlebihan
Teknik relokasi
Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif
Menghindar
Olahraga
Mencederai diri
Lainnya
Lainnya
Penjelasan: pasien mau diajak bicara oleh perawat namun agak lambat saat menjawab
dan berfikir. Pasien melakukan kegiatan yang ada di RS namun jarang hanya ketika
pasien ingin saja, selebihnya pasien lebih banyak diam/tidur di kamar.
Masalah Keperawatan : ketidak efektifan koping individu.

VIII

Masalah Psikososial Dan Lingkungan


Masalah dengan dukungan kelompok: pasien mendapat dukungan dari istrinya dan
keluarganya.

Masalah berhubungan dengan lingkunga: pasien jarang berinteraksi dengan pasien

lain, pasien lebih suka menyendiri di kamar.


Masalah dengan pendidikan: pasien lulusan SMA
Masalah dengan pekerjaan: pasien bekerja sebagai TNI AL.
Masalah dengan perumahan: pasien mengatakan tinggal serumah dengan istrinya.
Masalah dengan ekonomi: selama pasien sakit dipenuhi oleh istri dan keluarganya.
Masalah pelayanan kesehatan: bila pasien sakit biasanya berobat ke RSAL dr.
Ramelan Surabaya. Pasien sudah pernaha masuk pav 6 sebanyak 4x.

Masalah Keperawatan : isolasi sosial: menarik diri.


X. Kurang pengetahuan tentang :
Penyakit jiwa
Faktor presipitasi
Koping

Sistem pendukung
Penyakit fisik
Obat-obatan

Lainnya :
Masalah Keperawatan : ketidak patuhan.
XI. Aspek Medik
Diagnosa medik : Skizofrenia Paranoid.
Terapi medik: CPZ
: 3x 100mg
stelazyne
: 1x 5mg
Hexymer
: 2x2m
XIII. Masalah keperawatan
1 resiko perilaku kekerasan.
2 ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan.
3 gangguan konsep diri: harga diri rendah.
4 Isolasi sosial: menarik
diri. Perilaku Kekerasan :
Resiko
Effect
5 hambatan komunikasi verbal.
Mencederai
Diri
Sendiri
dan
Orang
Lain
6 Ansietas.
7 gangguan alam perasaan/ ketakutan.
8 waham
9 gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
10 gangguan proses pikir.
Effect
11Effect
gangguan pemeliharaan kesaehatan.
Core Problem
12 gangguan pola tidur.
waham
13 ketidak
efektifan
koping individu.
Gangguan
Proses
PikirGangguan
Persepsi Sensori :
14 ketidak patuhan. Halusinasi Pendengaran
XIV. Pohon Masalah

Pohon Masalah
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Causa

Gangguan Konsep Diri :


Causa
Harga Diri Rendah

XV. Diagnosa Keperawatan


Karena menggunakan diagnosa tunggal, maka Diagnosa keperawatan yang muncul:
gangguan persepsi/sensori: halusinasi pendengaran.
ANALISA DATA

NAMA: Tn. Y

NO RM: 20.20.53

RUANGAN:Pav.6B

Data

Diagnosa keperawatan

DS:

Gangguan

Px mengatakan sebelum MRS

Ttd

persepsi/sensori:

halusinasi pendengaran.

px mendengar suara teriakan


wanita

yang

menyuruhnya

memukul seniornya.
Px mengatakan jenuh berada di
RS

DO:
Saat diajak bicara Px tampak

gelisah, tampak khawatir, px


terlihat

agitasi

(sering

menggerak-gerakkan
dan

tangan

kakinya),

dan

distaktibiliti.
Px lebih sering menyendiri di

dalam kamarnya.
INTERVENSI KEPERAWATAN

TG
L.

PERENCANAAN
KRITERIA
KEPERAWA TUJUAN
EVALUASI
TAN

6-

Gangguan

12-

persepsi/sens 1

2011

INTERVENSI

DX

ori:

SP 1:
BHSP

Ekspresi

1 Bina hubungan

wajah
bersahabat,

halusinasi

menunjukkan

pendengaran

rasa senang,
ada kontak

saling percaya
Salam

terapeutik.
Perkenalan

diri.
Tanyakan

RASIONAL

saling
percaya
antara px dan
perawat
merupakan
hal mutlak

mata, mau

nama pasien

untuk

berjabat

dan nama

memudahkan

tangan, mau

panggilan

melakukan

menyebutkan

kesukaan

pendekatan

nama, mau
menjawab

pasien.
Kontrak
dengan

salam, mau

dan tindakan
keperawatan
kpd px.

pasien.

duduk
berdampingan
dengan
perawat, mau
mengutarakan
masalah apa
yang
dihadapai.

2.
a mengidentifikas
i isi
halusinasi.
b Mengidentifikas

Pasien mampu

i jenis

membant

mengenal

u pasien

halusinasinya

mengenal

(isi, jenis,

i frekuensi

halusinasi

frekuensi,

nya(isi,

waktu, respon,

halusinasi.
d Mengidentifikas

jenis,

situasi yang

frekuensi,

mnyebabkan

waktu,

halusinasi).

halusinasi.
c Mengidentifikas

i waktu
datangnya
halusinasi.
e Mengidentifikas

respon,

i respon px

situasi

saat

yang

halusinasi

menyabab
kan

Tingkah laku
px terkait
halusinasiny
a
menunjukka
n jenis, isi,
frekuensi,
waktu dan
situasi yang
menyebabka
n halusinasi
muncul.

datang.
f Mengidentifikas

halusinasi

i ssituasi

yang
menyebabkan
halusinasi.
3.
a Mengajari cara
menghardik
halusinasi.
b Menyuruh

Perlawanan

Agar px

pasien

dari dalam

mampu

mempraktekk

diri px

3 membantu
pasien

mengetahui

an cara

terhadap

cara

menghardik

halusinasi

mengontro

menghardik

halusinasi di

merupakan

dan

depan

cara yang

halusinasi

mempraktekka

dengan

n cara

cara

menghardik

pertama

halusinasi.

mahasiswa
c Menganjurkan
pasien untuk
mempraktekk

(menghard

an cara

ik

menghardik

halusinasi)

halusinasi

ketika

paling tepat
untuk
menghilangk
an halusinasi
yang
dirasakan.

halusinasi
datang
d Anjurkan pd px
untuk
memasukkan
kegiatan
menghardik
halusinasi
dalam daftar
kegiatan
harian.
1 Jelaskan pd px
cara
mengontrol
halusinasi

SP 2:

dengan cara

membantu

bercakap-

px

cakap dengan

mengontrol

orang lain

halusinasi

ketika

dengan cara

Agar px

kedua:

mampu

bercakap-

mengetahui

halusinasi
datang.
2 Minta px

Bercakapcakap
dengan
orang lain

cakap

cara

mempraktekk

saat

dengan orang

mengontrol

an apa yang

halusinasi

lain ketika

halusinasi

telah

datang

halusinasi

dengan cara

diajarkan

diharapkan

datang.

bercakap-

didepan

mengalihkan

cakap dan
mampu
mempraktekka
nnya ketika
halusinasi
datang.

mahasiswa
3 Anjurkan pasien
melakukan
apa yang

konsentrasi
px terhadap
halusinasiny
a.

diajarkan saat
halusinasi
datang.
4 Anjurkan pd px
untuk
memasukkan
kegiatan
bercakapcakapa
dengan orang
lain ke dalam
jadwal harian
kegiatan px.

1 Bantu px
identifikasi
aktivitas
sehariharinya.
2 Anjurkan px
SP 3:

menjadwalka

Membantu px

n aktivitas

mengontrol

sehari-

halusinasi dg

harinya.
3 Dorong px

cara ketiga:
dengan
melaksanaka
n aktivitas

Agar px
mampu
mengidentifika

melakukan
aktivitas
sehari-

Melakukan
kegiatan/ruti
nitas harian
akan

terjadwal.

si aktivitas

harinya

mengurangi

yang biasa

seperti yang

waktu px

dilakukan

sudah

untuk

sehari-hari dan

dijadwalkan.

melamun

melaksanakan
aktivitas yang

dan
Identifikasi

mengurangi

telah

dg px obat

kemungkina

dijadwalkan.

yg biasa di

n terjadinya

minum px.
beritahukan

halusinasi.

SP 4:

Membantu

kegunaan

melatih px

dan akibat

minum obat.

tidak minum
3

obat.
Anjurkan px
Putus minum

untuk
Agar px
mampu
mengetahui
keguanaan
obat dan
akibat dari
tidak minum
obat, serta px

meminum
obatnya
teratur baik
saat di RS
maupun

obat
merupakan
salah satu
faktor
penyebab
kekambuhan

ketika
berada di

pada pasien
dengan

rumah.

dapat

gangguan

meminum

jiwa.

obatnya secara
teratur baik
saat di RS atau
ketika sudah
pulang ke
rumah.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


HARI/TG
L
Selasa/

Dx

IMPLEMENTASI

EVALUASI

KEPERAWATAN
6-

Gangguan perubahan SP 1:

S:

TTD

12-2011

persepsi/sensori
halusianasi dengar.

BHSP
px
mengatakan,
selamat siang pak,
selamat siang..
perkenalkan
nama px mengatakan nama
saya Nur Wachida
Novita,

saya

saya yusuf, saya suka

suka

dipanggil pak yusuf!


dipanggil vita, ini px mengatakan boleh,
kita ngobrol di sani
teman- teman saya
saja (di ruang tv).
(peni, dinda, arum,
nanang,

wahyu,

O:

kami Px menjawab salam.


Wajah
px
tampak
mahasiswa
yang
bersahabat.
praktek di ruangan
Px menjabat tangan saat
ini, kami praktek dari
berkenalan.
hari senin sampai Px
menjawab
ninik),

jumat, kami di sini


dari

jam

pertanyaan.
pagi Px memandang
perawat

sampai jam 2 siang.


Nama anda siapa?
biasaya

suka

saat

berbicara.
di Px duduk di

depan

perawat.

panggil apa (bapak,

mata

dik, om, atau mas?)? A: SP 1 poin BHSP


pak yusuf apa kita teratasi
bisa ngobrol? Dik P: dilanjutkan SP 1 poin
yusuf mau ngobrol mengenal halusinasi.
berapa

lama?

20

menit boleh?.
S:
Px
mengatakan
bawa

ke

saya

sini

di

setelah

mendengar suara wanita


yang meneriaki saya
Px
mengatakan iya
Px
Mengenal halusinasi

mengatakan

sering,

biasanya suara itu sering

Kalau boleh saya tahu muncul pada malam hari


apa alasan bapak di sampai

bawa ke sini?
jadi
pak

menjelang

subuh
yusuf

Px
suara- mengatakan suara itu
suara yang meneriaki menyuruh saya memukul
pak yusuf?
senior saya
kapan biasanya pak
Px
mendengar
suaramengatakansaya
suara itu?
terganggu
Berupa apa suara- Px mengatakan saya

suara itu?
Bagaimana perasaan

mendengar

pak

yusuf

mendengar

ketika
suara-

menghampiri suara
itu

tapi

kadang-

kadang saya diam

suara itu?
O:
Apa yang pak yusuf
Px
menatap
mata
lakukan
ketika
perawat
saat
mendengar
suaraberbicara.
suara itu?
Px
kadang-kadang
senyum-senyum saat
berbicara.
Px
kadang-kadang
menggerak-gerakkan
tangan dan kakinya di
tengah-tengah
pembicaraan.
Wajah
px
tampak
gelisah dan khawatir.
Px
sering
menoleh
ketika ada orang yg
lewat disekitarnya.
A: SP 1 poin mengenal
halusinasi teratasi.
P: dilanjutkan SP 1 poin
mengontrol

halusinasi

(menghardik halusinasi).

S:
Px

mengatakan

pergi...saya

tidak

mau dengar...jangan
ganggu saya kamu
suara palsu, kamu
tidak nyata!.
Px
mengatakan
pergi...saya

tidak

mau dengar...jangan
ganggu saya kamu
suara palsu, kamu
Mengontrol
halusinasi(Menghar

tidak nyata!.
Px mengatakan saya
tidak

dik halusinasi)
sekarang bagaimana

mendengar

suara kalu berada di

kalau kita belajar satu

sini tapi kalau sudah

cara

di rumah biasanya

dulu,

yaitu

dengan

cara

menghardik. Caranya
adalah
suara

saat
itu

suaramuncul,

langsung pak yusuf


bilang,

muncul.
iya saya coba..
O:
Px menatap perawat
Saat mempraktekkan px

pergi...saya

melakukannya dengan

senyum-senyum.
mau Saat di suruh mengulang

tidak
dengar...jangan

px lama berpikir baru

ganggu saya kamu

mengulangi.
suara palsu, kamu Pandangan px
tidak nyata! Begitu

terfokus ketika ada

diulang-ulang sampai

orang yang lewat.

suara

tidak

itu

tidak A:

SP

poin

menghardik
halusinasi
terdengar lagi.
Sekarang coba pak teratasi sebagian.

yusuf peragakan apa P: dilanjutkan SP2.


yang

sudah

saya

tadi!

Nah

ajarkan

begitu,...bagus!
coba lagi pak yusuf!
Ya

begitu,

sekali

S:

bagus Px
mengatakan
yusuf
tolong, saya mulai

pak

sudah bisa.!.

dengar suara-suara.
Ayo ngobrol dengan

Sebaiknya cara ini


pak

yusuf

ketika

lakukan

suara

itu

saya!
Px
mengatakan
tolong, saya mulai

datang!.

dengar suara-suara.

kalau

begitu

Ayo ngobrol dengan

lakukan juga ketika

saya!.
sudah O:
berada di rumah.
Px menatap perawat
pak

yusuf

Saat mempraktekkan px
melakukannya dengan
senyum-senyum.
Saat di suruh mengulang
SP 2:

px lama berpikir baru

Mengontrol

halusinasi

mengulangi.

Pandangan
px
(bercakap-cakap dengan

terfokus ketika ada

orang lain).
pak yusuf..., cara kedua
untuk

tidak

mencegah/

orang yang lewat.


A:

SP

teratasi

mengontrol halusinasi

sebagian.

adalah

P: dilanjutkasn SP 3.

dengan

bercakap-cakap dengan
orang lain. Jadi jika
pak

yusuf

mulai

mendengar suara-suara,
langsung

saja

pak

yusuf cari teman untuk


diajak ngobrol. Minta
teman

atau

perawat

untuk ngobrol dengan


pak yusuf. Contohnya
begini, tolong, saya
mulai dengar suarasuara.

Ayo

dengan

ngobrol

saya!

atau

kalau orang di rumah,


misalnya

istri

dik

yusuf, katakan, dik,


ayo ngobrol dengan
mas,
dengar

mas

sedang

suara-suara.

Begitu dik yusuf.


Coba pak yusuf lakukan
seperti yang saya tadi
lakukan.

Ya,

begitu.

Bagus!
coba sekali

lagi!

Bagus! Nah, latih terus


ya pak yusuf!
di sisni pak
dapat
perawat

biasanya bangun tidur


jam

3,

menunggu

adzan, dan pintu kamar

mengajak

dibuka, kemudian saya

atau

pasien

cakap.
cobalah kedua cara ini
pak

Px mengatakan saya

yususf

lain untuk bercakap-

kalau

S:

mandi, shalat subuh


dan

mendengarkan

ceramah di tv. Setelah


saya

ikut

kegiatan

yusuf

membersihkan kamar

halusinasi

dan halaman rumah

lagi baik di sini atau

sakit. Setelah itu saya

kalau sudah pulang ke

tidur di kamar kalau

rumah.

enggak

mengalami

maen

ke

kamarnya pak imam.


SP 3:

Saya biasanya duduk

Melatih px mengontrol

di depan kamar untuk

halusinasi

merokok

melaksanakan

dengan
aktivitas

terjadwal.
pak yusuf, biasanya

dan

bercakap-cakap
dengan

pasien

lain.

Lalu saya makan di

apa saja yang dik

kamar.

yusuf lakukan di sini? O:


biasanya bangun tidur Px menatap perawat
jam berapa?setelah Pandangan px tidak
bangun
yang

tidur
pak

apa

terfokus ketika ada

yusuf

orang yang lewat.


Px mengangguk ketika

lakukan?setelah itu?

di

setelah itu?
wah ternyata banyak

beritahu

untuk

menjadwalkan
kegiatan.

sekali kegiatan pak


yusuf ya?pagi ini apa

A:

yang

yusuf

SP3 teratasi sebagian.

lakukan dari semua

P: dilanjutkan ke SP4

pak

kegiatan itu? Bagus

S:

sekali
pak

yusuf. Px mengatakan ada 3


sebaiknya kegiatan
macam obat yang
tersebut terus pak
biasanya
saya
yusuf lakukan secara

minum,

warnanya

teratur, karena semua

kuning,

biru,

kegiatan

yang

pak

oranye.
yusuf lakukan bisa iya..
mencegah
suara

suara- O:
tersebut Px

muncul.

menatap

mata

perawat

saat

berbicara.
Px
memegangi
kepalanya

karena

kepalanya pusing.
A: SP4 teratasi sebagian
P:SP4 dipertahankan.

SP 4:
Melatih pasien minum

obat secara teratur.


Berapa

macam

obat

pak

yusuf

yang

minum?
obat pak yusuf ada 3
yaitu

warna

kuning,

biru, dan oranye obat


ini

gunanya

untuk

menghilangkan

agar

suar-suara

tidak

itu

muncul lagi ya pak


yusuf.

Kalau

suara-

suara

sudah

hilang

obatnya

tidak

boleh

dihentikan.
Mari kita masukkan
jadwal minum obatnya
pada jadwal kegiatan
bapak!

Jangan

lupa

pada waktunya minum


obat
perawat
keluarga
rumah.

minta
atau
kalau

pada
pada
di

BAB 4
PENUTUP

Simpulan
Pada pengkajian penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Pada

etiologi di teori disebutkan faktor predisposisi dari gangguan sensori/persepsi: halusinasi


pendengaran yaitu faktor perkembangan, faktor sosial budaya, faktor biologi, faktor
psikologis. Pada pengkajian Tn. Y, faktor predisposisi di temukan adanya faktor biologis
yaitu pamannya yang mengalami gangguan jiwa. Faktor psikologis pasien yaitu halusinasi
datang ketika pasien mengalami stresor psikologis berupa kecemburuan terhadap
seniornya. Pada perencanaan berdasarkan core problem pada teori adalah gangguan
persepsi/sensori: halusinasi pendengaran. Sedangkan pada kasus core problem yang
digunakan adalah gangguan persepsi/sensori: halusinasi pendengaran. Dapat di simpulkan
bahwa core problem pada teori dan kasus tidak ada perbedaan.
Diagnosa yang digunakan adalah diagnosa tunggal yaitu gangguan persepsi/sensori:
halusinasi pendengaran. Sehingga rencana keperawatan yang digunakan adalah strategi
pelaksanaan atau SP. SP untuk halusinasi terdiri dari dua SP yaitu Sp pasien dan SP
keluarga. SP pasien terdiri dari empat SP.
Pada evaluasi keperawatan belum teratasi seluruhnya karena waktu untuk
memberikan asuhan keperawatan terbatas. Untuk pelaksanaan SP keluarga tidak dilakukan

karena waktu untuk memberikan asuhan keperawatan terbatas dan keluaraga tidak
mengunjungi pasien saat penulis melakukan implementasi.
2

Saran
Sehubungan dengan kesimpulan diatas maka penulis dapat menuliskan saran untuk

pendidikan diharapkan untuk melengkapi perpustakaan tentang buku-buku keperawatan


khususnya keperawatan jiwa, mahasiswa diharapkan dalam melakukan asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan mental psikiatrik lebih bersungguh-sungguh
sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang dirumuskan, klien diharapkan mengikuti
program terapi yang telah direncanakan dengan baik oleh dokter, perawat sehingga proses
penyembuhan dapat lebih cepat. Dan keluarga pasien diharapkan keluarga klien mampu
memotivasi klien baik di rumah sakit maupun di rumah.