Anda di halaman 1dari 4

PENATALAKSANAAN

PREEKLAMSI
No. Dokumen :
No. Revisi
:
Tgl. Terbit
:
Halaman
:14
PUSKESMAS PALIMANAN
Kepala UPTD

KAB. CIREBON

Pengertian (definisi)

Tujuan

Drg. Retno Widowati


Nip:
Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuri akibat
kehamilan, setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setalah
persalinan. Dibedakan :
1. Hipertensi kronik adalah hipertensi pada ibu hamil yang
sudah ditemukan sebelum kehamilan atau yang ditemukan
pada umur kehamilan < 20 minggu , dan yang menetap
setalah 12 minggu pasca persalinan.
2. Preeklamsi/eklamsi atas dasar hipertensi kronis adalah
timbulnya preeklamsi atau eklamsi pada pasien hipertensi
kronik.
3. Hipertensi gestasional adalah timbulnya hipertensi dalam
kehamilan pada wanita yang tekanan darahsebelumnya
normal dan tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik
atau preeklamsi/eklamsi (tidak disertai proteinuri). Gejala ini
akan hilang dalam waktu < 12 minggu pasca bersalin.
Tujuan Umum : melakukan penilaian klasik , klasifikasi dan
penatalaksanaan serta mencegah komplikasi.
Tujuan Khusus :
a. Mencegah tanda dan gejala hipertensi karena kehamilan dan
menentukan diagnosis yang paling mungkin dalam hubungan
dengan hipertensi yang dipicu karena kehamilan.
b. Melakukan penatalaksanaan preeklamsia/eklamsia dan
hipertensi kronik pada ibu hamil.
c. Melakukan pemberian obat anti kejang (Magnesium sulfat
dan Diazepam) serta obat antihipertensi penatalaksanaan
preeklamsi berat eklamsi.

Kebijakan

Upaya untuk mendeteksi sedini mungkin komplikasi


hipertensi karena kehamilan.

Anamnesis

1. Umur kehamilan > 20 minggu


2. Hipertensi
3. Tidak ada kejang, penurunan kesadaran, penglihatan kabur,
nyeri kepala hebat, nyeri ulu hati.
Preeklamsi ringan

Pemeriksaan fisik

Diganosa banding
Pemeriksaan penunjang

Penatalaksanaan

Diagnosis preeklamsi ringan didasarkan atas timbulnya hipertensi


(sistolik anatara 140 - < 160 mmHg dan diastolik antara 90 - < 110
mmHg) disertai proteinuri ( 300mg/24 jam, atau 1+ dipstik).
Bila didapatkan 1 atau lebih gejala di bawah ini preeklamsi
digolongkan berat :
Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan darah
diastolik 110 mmHg.
Proteinuri 2 g/24 jam atau 2 + dalam pemeriksaan
kualitatif dipstik.
Kreatinin serum > 1,2 mg% disertai ologuri (< 400 ml/24
jam)
Trombosit < 100.000/mm3
Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar LDH)
Peningkatan jkadar enzim hati (SGOT dan SGPT)
Sakit kepala yang menetap atau gangguan visus dan serebral.
Nyeri epigastrium yang menetap.
Pertumbuhan janin yang terhambat
Edema paru disertai sianosis
Adanya HELLP Syndrome (H : hemolisis; EL : elevated liver
enzymes; LP : Low platelet count)
Hipertensi menahun, kelainan ginjal.
Preeklamsi Ringan : Urin Lengkap
Preeklamsi Berat/Eklamsi :
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hb, Ht, Leukosit, trombosit, urin lengkap.
Pemeriksaan elektrolit Na, K, Ca, dan Cl; kadar glukosa,
Urea N, Kreatinin, SGOT, SGPT, analisa gas darah, asam urat
darah.
Pemeriksaan KTG
Pemeriksaan foto rontgen thoraks.
Pemeriksaan USG.
Preeklamsi Ringan
Rawat jalan, pasien dianjurkan cukup istirahat, memantau tekanan
darah dan proteinuria setiap hari.
Dapat dipertimbangkan pemberian antioksidan dan kalsium.
Kontrol setiap minggu.
Bila tekanan darah terkontrol pada umur kehamilan 37 minggu
dilakukan terminasi kehamilan.
Preeklamsi Berat
Rawat bersama dengan departement yang terkait.
A. Medikamentosa
Infus larutan RL
Pemberiaan obat :
1. MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
1. Pemberian melalui intravena secara kontinyu (infus
dengan infusion pump).

a. Dosis awal
4 gram MgSO4 (10cc MgSO4 40%) dilarutkan kedalam
100 cc RL, diberikan selama 15 20 menit.
b. Dosis pemeliharaan
10 gram dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan
kecepatan 1 2 gram/jam (20 30 tetes per menit)
Syarat syarat pemberian MgSO4 .
Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu
kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10
cc) diberikan i.v dalam waktu 3 5 menit.
Refleks pattela (+) kuat
Frekuensi pernafasan 16 x/menit
Produksi urin 30 cc dalam 1 jam
sebelumnya (0,5 cc/kg bb/jam.
Sulfas magnesikus dihentikan bila :
Ada tanda-tanda intoksikasi
Setelah 24 jam pasca persalinan.
Dalam 6 jam pascasalin sudah terjadi
perbaikan tekanan darah (normotensif).
2. Antihipertensi :
Tekanan darah :
Sistolik 160 mmHg
Diastolik 110 mmHg
Dapat diberikan :
Nifedipin: 10 mg per oral dan dapat diulangi setiap
30 menit (maksimal 120 mg/24 jam) sampai terjadi
penurunan MABP 20 %. Selanjutnya diberikan
dosis rumatan 3x10 mg (pemberian nifedipin tidak
boleh diberikan sub lingual).
Nikardipine diberikan jika tekanan darah 180/110
mmHg/hipertensi emergensi dengan dosis 1 ampul
10 mg dalam larutan 50cc per jam atau 2 ampul 10
mg dalam larutan 100cc tetes /menit mikro drip.
Pelarut yang tidak dapat digunakan adalah RL dan
bikarbonat natrikus.

B. Pengelolaan konservatif
a. Indikasi
Kehamilan preterm (< 34 minggu) tanpa disertai tanda
tanda impending eklamsi dengan keadaan janin baik.
b. Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara
aktif. Hanya dengan dosis awal MgSO 4 tidak diberikan i.v
cukup i.m saja. (MgSO4 40 % , 8 gram i.m). atau bila
mengunakan cara intravena secara kontinyu diberikan
langsung dosis pemeliharaan. Pemberian MgSO4
dihentikan bila sudah mencapai tanda tanda preeklamsi
ringan , selambat lambatnya dalam waktu 24 jam.

c. Penglolaan obstetrik
1. Selama perawatan konservatif , tindakan observasi
dan evaluasi sama seperti perawatan aktif, termasuk
pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan USG untuk
memantau kesejantraan janin.
2. Bila setelah 2 x 24 jam tidak ada perbaikan maka
keadaan ini di anggap sebagai kegagalan pengobatan
medisinal dan harus diterminasi. Cara terminasi
sesuai dengan pengelolaan aktif.
C. Pengelolaan Aktif
Indikasi
Bila di dapatkan 1 / lebih keadaan di bawah ini
Ibu :
Kehamilan > 34 minggu ( dengan kortikosteroid selama 2
hari telah diberikan).
Gagal perawatan konservatif
Janin
Adanya tanda tanda gawat janin
Adanya tanda tanda IUGR
Laboratorium :
Adanya HELLP Syndrome.
Referensi :

Permadi, wiryawan dr.Dr. SpOG(K) dkk. 2015. Panduan praktek


klinis Obstetri & Ginekologi. Penerbit: DEP./SMF Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran RSUP DR.
HASAN SADIKIN.