Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KOSMETOLOGI

SEDIAAN SHAMPOO

Disusun Oleh :
Kelompok 2 BD
Anggi Indah H

1113102000041

Fifi Nur Hidayah N

1113102000078

Luthfia Wikhdatul A

1113102000019

Nurillah Dwi Novarienti

1113102000058

Zuha Yuliana

1113102000007

Dosen Pembimbing :
Tim Dosen Praktikum Kosmetologi

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
MEI - 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kosmetik menjadi suatu kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari dan
digunakan terus menerus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan
kebutuhan pasar. Tujuan penggunaan kosmetik adalah membuat masyarakat menjadi
lebih cantik, menambah kepercayaan diri dan menambah ketenangan, melindungi kulit
dan rambut dari kerusakan sinar UV, polusi udara dan faktor-faktor lingkungan lain.
Seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat menjadi lebih modern dan semakin
berkembang, sehingga penggunaan kosmetik juga semakin berkembang. Kosmetik
bukan hanya digunakan pada wajah tetapi juga pada rambut.
Rambut merupakan mahkota bagi setiap orang. Sehingga perlu selalu dirawat
agar terhindar dari kerusakan. Banyak cara merawat rambut agar tetap indah dan tidak
mudah rusak. Memiliki rambut yang indah, lebat, sehat dan panjang merupakan
dambaan setiap orang terlebih kaum perempuan. Oleh karena itu, banyak produkproduk kosmetika yang diproduksi untuk memenuhi dan mengatasi kebutuhan tersebut.
Produk perawatan kosmetik untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu sampo.
Sampo merupakan sediaan kosmetik yang digunakan sebagai pembersih rambut
dan kulit kepala dari segala kotoran diantaranya minyak, debu, sel-sel yang sudah mati
dan sebagainya. Sampo berdasarkan macamnya dibagi menjadi empat yaitu sampo
untuk rambut yang diwarnai dan keriting, sampo untuk membersihkan secara
menyeluruh, sampo untuk penambah volume rambut dan sampo anti ketombe.
Wortel tidak hanya baik bagi tubuh ketika dikomsumsi, faktanya wortel
memiliki beragam kandungan seperti vitamin A, -karoten, dan karoten amino acid
yang bermanfaat bagi perawatan rambut seperti Melembabkan dan mencegah rambut
semakin kering serta bercabang, menguatkan akar rambut. menguatkan akar rambut.
Berdasarkan hal tersebut, maka pada praktikum kosmetologi ini, kelompok kami
membuat sediaan shampo dari ekstrak wortel.
1.2. Tujuan Praktikum
a) Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan formulasi sediaan shampo
b) Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan cara pembuatan sediaan shampo
c) Mahasiswa diharapkan mampu membuat sediaan shampo dalam skala laboratorium
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Shampoo
2.1.1. Definisi shampoo
Shampo adalah salah satu kosmetik pembersih rambut dan kulit kepala
dari segala macam kotoran, baik yang berupa minyak, debu, selsel yang sudah
mati dan sebagainya (Latifah. F, 2007).
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Shampo adalah sabun cair
untuk mencuci rambut dan kulit kepala, terbuat dari tumbuhan atau zat kimia.
Fungsi shampo pada intinya adalah untuk membersihkan rambut dan kulit
kepala dari kotoran yang melekat sehingga factor daya bersih (Clearsing ability)
merupakan suatu hal yang penting dari produk shampo.(Pramono,2002).
Secara garis besar, produk shampo dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
shampoo tradisonal dan shampo modern. Shampo tradisonal atau lebih tepatnya
sampo nabati mempunyai cirri-ciri:
a) bahan baku utamanya berasal dari sayuran atau buah-buahan, seperti wortel,
seledri, jeruk nipis, merang dan lidah buaya
b) proses pembuatannya sangat sederhana, ayitu mengambil sarinya (dengan
cara pemarutan,pemerasan dan penyaringan) kemudian ditambah air.
Keistimewaan shampo jenis ini, anatara lain bahan baku mudah
didapat,tanpa efek samping, relative murah, serta ramah lingkungan.
Kelemahannya adalah produk tersebut tidak tahan lama. Pada shampo modern
sebagian besar bahan baku tidak merupakan bahan kimia olahan, beberapa
diantaranya ditambahkan bahan nabati.(Listiady;1998).
2.1.2. Fungsi Shampo
Shampo pada umumnya digunakan dengan mencampurkannya dengan
airdengan tujuan sebagai berikut :
a) Melarutkan minyak alami yang dikeluarkan oleh tubuh untuk melindungi
rambut dan membersihkan kotoran yang melekat.
b) Meningkatkan tegangan permukaan kulit, umumnya

kulit

kepala

sehinggadapat meluruhkan kotoran.


2.1.3.

Syarat Shampo
Sediaan shampo yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Dapat mencuci rambut serta kulit kepala secara keseluruhan.
b) Tidak toksik dan tidak menimbulkan iritasi.
c) Kandungan surfaktannya tidak membuat rambut dan kulit kepala menjadi
kering.
d) Memiliki konsistensi yang stabil, dapat menghasilkan busa dengan
cepat,lembut, dan mudah dibilas dengan air.
e) Setelah pencucian rambut harus mudah dikeringkan.

f) Dapat menghasilkan rambut yang halus, mengkilat, tidak kasar, tidak


mudah patah, serta mudah diatur (Pramono, 2002)
2.1.4. Kandungan Shampo
Pada umumnya suatu shampo terdiri dari dua kelompok utama, yaitu:
a) Bahan Utama
Bahan utama yang sering digunakan adalah deterjen, yang biasanya
dapat membentuk busa, dan bersifat membersihkan. Deterjen dapat dibagi
menjadi :
- Deterjen anionik : Deterjen yang paling banyak digunakan dalam
shampo modern. Deterjen ini mempunyai daya pencuci yang besar,
memberikan busa yang banyak, serta efek iritasi yang relatif rendah.
Deterjen ini mempunyai kelemahan yaitu kelarutannya dalam air agak
kecil serta harganya relatif mahal. Sebagai contoh yang sering digunakan
-

adalah Natrium lauril sulfat.


Deterjen kationik : Deterjen ini tidak banyak digunakan pada pembuatan
shampo karena efeknya yang kurang baik untuk rambut dan kulit kepala
dan dapat menyebabkan terjadinya hemolisis. Contoh deterjen kationik :
garam alkil trimetil ammonium, garam alkil dimetil benzil ammonium,

dan garam alkil pirimidin.


Deterjen nonionik : Sifat dari deterjen ini adalah mempunyai kelarutan
yang cukup besar dalam air karena adanya rantai oksietilen yang
panjang. Deterjen ini tahan terhadap air sadah maupun air laut dan
efektif dalam suasana asam maupun basa. Deterjen ini mempunyai
kelemahan yaitu daya pembusanya hanya sedikit. Sebagai contoh

misalnya derivat polietilenglikol.


b) Bahan Tambahan
Penambahan zat - zat ini dimaksudkan untuk mempertinggi daya
kerja shampoo supaya dapat bekerja secara aman pada kulit kepala, tidak
menimbulkan kerontokan, memiliki viskositas yang baik, busa yang cukup,
pH yang stabil dan dapat mengoptimalkan kerja deterjen dalam
membersihkan kotoran, sehingga menjadi sediaan shampo yang aman
dalam penggunaanya dan sesuai dengan keinginan konsumen.
Bahan - bahan tambahan yang sering digunakan dalam pembuatan
shampo diantaranya :
- Opacifying Agent : Zat yang dapat menimbulkan kekeruhan dan penting
pada pembuatan shampo krim atau shampo krim cair. Biasanya
merupakan ester alcohol tinggi dan asam lemak tinggi beserta garam -

garamnya. Contoh : setil alkohol, stearil alkohol, glikol mono dan


-

distearat, magnesium stearat.


Clarifying Agent : Zat yang digunakan untuk mencegah kekeruhan pada
shampo terutama untuk shampo yang dibuat dengan sabun. Sangat
diperlukan pada pembuatan shampo cair atau shampo cair jernih.
Contoh: butil alkohol, isopropil alkohol, etil alkohol, metilen glikol, dan

EDTA.
Finishing Agent : Zat yang berguna untuk melindungi kekurangan
minyak yang hilang pada waktu pencucian rambut, sehingga rambut

tidak menjadi kering dan rapuh. Contoh : lanolin, minyak mineral.


Conditioning agent : Merupakan zat-zat berlemak yang berguna agar
rambut mudah disisir. Contoh : lanolin, minyak mineral, telur dan

polipeptida.
Zat pendispersi : Zat yang berguna untuk mendispersikan sabun Ca dan

Mg yang terbentuk dari air sadah. Contoh : tween 80.


Zat pengental :Merupakan zat yang perlu ditambah terutama pada
shampo cair jernih dan shampoo krim cair supaya sediaan shampo dapat
dituang dengan baik. Penggunaanya dalam rentang 2 4%, contoh: gom,

tragakan, metil selulosa, dan karboksi metil selulosa (CMC).


Zat pembusa : Digunakan untuk membentuk busa yang cukup banyak,
walaupun busa bukan merupakan suatu ukuran dari shampo, namun
adanya busa akan membuat sediaan shampo menjadi menarik dan sangat
disukai oleh para konsumen. Persyaratan tinggi busa pada umumnya
yaitu berkisar antara 1,322 cm. Contoh: dietanolamin, monoisopropanol

amin.
Zat Pengawet : Zat yang berguna untuk melindungi rusaknya shampo
dari pengaruh mikroba yang dapat menyebabkan rusaknya sediaan,
seperti misalnya hilangnya warna, timbul kekeruhan, atau timbulnya
bau. Digunakan dalam rentang 12 %, contoh: formaldehida, hidroksi

benzoat, metyl paraben, propil paraben.


Zat aktif : Untuk shampo dengan fungsi tertentu atau zat yang
ditambahkan ke dalam shampo dengan maksud untuk membunuh bakteri

atau mikroorganisme lainnya. Contoh: Heksaklorofen, Asam salisilat.


Zat pewangi : Berfungsi untuk memberi keharuman pada sediaan
shampoo supaya mempunyai bau yang menarik. Digunakan dengan
kadar 12%, contoh: Minyak jeruk, minyak mawar, dan minyak
lavender, minyak bunga tanjung.

Zat pewarna : Zat pewarna digunakan untuk memberikan warna yang


menarik pada sediaan shampo. Digunakan dengan kadar 1-2%, contoh :
untuk pewarna hijau biasanya digunakan senyawa klorofil atau ultra

marin hijau.
Zat tambahan lain : Merupakan zat pada formula shampo yang
mempunyai fungsi atau maksud tertentu, seperti shampo anti ketombe,
shampoo bayi, shampoo antikerontokan, dan sebagainya. Zat tambahan
dapat berupa zat aktif antiketombe, ekstrak tumbuhan, vitamin, protein,

dan lain-lain (Garianto W, 2007)


2.1.5. Macam Macam Shampo
Macammacam shampo berdasarkan kegunaanya antara lain :
a) Shampo untuk rambut diwarnai dan dikeriting
Shampo ada yang dibuat khusus untuk rambut yang dicat atau diberi
warna atau dikeriting karena rambut cukup menderita dengan masuknya
cairan kimia hingga ke akar rambut dan hal ini bisa mempengaruhi kondisi
kesehatan rambut.
b) Shampo untuk membersihkan secara menyeluruh
Shampo untuk membersihkan secara menyeluruh yang biasanya
mengandung acid atau asam yang didapat dari apel,lemon atau cuka yang
berfungsi untuk menghilangkan residu atau sisa produk perawatan semacam
creambath, busa untuk rambut,hairspray, lilin rambut, jelly rambut, dan
produk lainnya yang tertinggal di kulit kepala. Jenis shampo ini sangat
cocok digunakan saat rambut akan melalui proses kimiawi agar rambut dan
kulit kepala benar-benar bersih dengan tujuan proses kimiawi yang
digunakan pada pengeritingan atau pewarnaan dapat diserap dengan baik.
Karena unsur asam mengurangi minyak maka jenis shampo ini dapat
membuat rambut menjadi kering jika digunakan terlalu sering dan
disarankan untuk menggunakannya paling banyak dalam jangka waktu satu
kali seminggu
c) Shampo penambah volume rambut
Jenis shampo ini mengandung protein yang membuat rambut terlihat
lebih berisi atau tebal. Bila dipakai terlalu sering maka akan terjadi
penumpukan residu atau sisa shampo sehingga mengakibatkan rambut
terlihat tidak bersih. Jika rambut termasuk jenis rambut yang halus, lepek
atau tidak mengembang.
2.2. Ekstrak Wortel
2.2.1. Morfologi Tanaman

Wortel (Daucus carota L) adalah tanaman semusim berbentuk rumput,


mempunyai umbi berwarna kuning sampai kemerahan. Umbi ini terbentuk dari
akar yang berubah bentuk dan fungsi sehingga bisa dikonsumsi. Wortel akan
tumbuh baik pada daerah yang mempunyai suhu berkisar antara 16-22 C. Suhu
yang paling baik untuk proses perkecambahan biji adalah antara 8-182 C, wortel
dapat tumbuh dengan optimal pada tanah yang mempunyai struktur remah,
gembur dan kaya akan humus dengan pH berkisar antara 5,5- 6,5. Umbi wortel
dapat dipanen setelah berumur kira-kira 2,5-4 bulan. Umbi yang baik adalah
yang masih muda karena umbi yang sudah tua mempunyai tekstur yang keras
dan pahit. Wortel termasuk ke dalam famili Umbiliferae, yaitu tanaman yang
harganya mempunyai susunan bentuk mirip payung dan pertama kali ditemukan
di Eropa bagian selatan, Afrika Utara, dan di perbatasan Asia. Tanaman wortel
telah lama dibudidayakan di sekitar jalur Mediterania. Berdasarkan panjang
umbinya, wortel dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu wortel berumbi
pendek, berumbi sedang, dan berumbi panjang.
a) Wortel berumbi pendek : Umbi pendek adalah ciri umumnya, jenis wortel
ini ada yang mempunyai umbi berbentuk bundar seperti bola golf dengan
panjang sekitar 5 6 cm. Ada pula yang memanjang seperti silinder
seukuran jari dengan panjang sekitar 10 15 cm. Wortel berumbi pendek ini
lebih cepat matang. Warnanya kuning kemerahan, berkulit halus, rasanya
agak manis, serta memiliki cita rasa yang baik.
b) Wortel berumbi sedang : Panjang sekitar 15 20 cm. Jenis wortel ini
memiliki tiga bentuk. Wortel dengan panjang umbi sedang ini paling baik
untuk ditanam sebagai tanaman pekarangan. Warnanya kuning memikat,
berkulit tipis, berasa garing dan agak manis, serta sangat cocok untuk
ditanam di daerah dingin. Beberapa varietas wortel berumbi sedang yang
dikenal adalah sebagai berikut :
- Bertipe Imperator (Meruncing)
- Bertipe Chantenay (Tumpul)
- Bertipe Nantes (Memanjang silinder)
c) Wortel berumbi panjang : Bentuk umbinya lebih panjang dari kedua jenis
yang sdh disebutkan diatas, yakni sekitar 20 30 cm, bentuk umbi seperti
kerucut. Jenis ini tidak cocok ditanam sebagai tanaman pekarangan. Wortel
ini perlu struktur tanah yang dalam, gembur, dan terkena sinar matahari
penuh. Dari ketiga jenis wortel di atas, petani di Indonesia umumnya

menanam wortel berumbi panjang dan sedang. Wortel berumbi pendek


jarang sekali ditanam karena tidak bernilai ekonomis tinggi.
2.2.2. Klasifikasi Tanaman
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Embryophyta siphonogama
Sub division
: Angiospermae
Class
: Dicotyledonae
Ordo
: Umbelliferales
Family
: Umbelliferae
Genus
: Daucus
Species
: Daucus carota L
2.2.3. Kandungan Kimia Wortel
Kandungan tanaman wortel yang paling tinggi yaitu Vitamin A atau betakaroten. Beta karoten dikenal ebagai pigmen tanaman yang memiliki sifat
antioksidan. Beta karoten dalam wortel sebesar 74,05 mg/100 gram (5).
Komponen terbesar dari umbi wortel adalah air, sedangkan komponen yang lain
adalah karbohidrat, yang merupakan komponen padatan terbesar, sedangkan
protein, lemak dan beberapa vitamin dan mineral terdapat dalam jumlah kecil.
Komposisi dalam wortel: Nilai Gizi per 100 g (3.5 oz) energi 40 kkal 170 kJ,
karbohidrat 9 g, gula 5 g, serat 3 g, lemak 0.2 g, protein 1 g, thiamin (Vit. B1)
0.04 mg 3%, riboflavin (Vit. B2) 0.05 mg 3%, niasin (Vit. B3) 1.2 mg 8%,
vitamin B6 0.1 mg 8%, vitamin C 7 mg 12%, kalsium 33 mg 3%, besi 0.66 mg
5%, magnesium 18 mg 5%, phosphor 35 mg 5%, potassium 240 mg 5%,
sodium 2.4 mg 0%.
Kandungan gula pada wortel bertambah dengan cepat setelah tiga bulan
dari penanaman dan selanjutnya tetap tidak berubah sampai dipanen.
Kandungan gula pereduksi yaitu glukosa dan fruktosa juga tidak berubah,
sedangkan perbandingan gula non pereduksi dengan gula pereduksi bertambah
secara eksponensial. Perubahan kandungan gula terhenti jauh sebelum
pemanenan, oleh karena itu tidak dapat dipakai sebagai petunjuk kimiawi
kemasakan. Sementara kandungan serat kasarnya pada permulaan pertumbuhan
hampir konstan tetapi kemudian terjadi peningkatan dan kandungan tertinggi
dapat terjadi pada wortel yang terlambat dipanen. Kandungan kimia lainnya
dalam wortel yaitu isokumarin. Rasa pahit pada wortel selama penyimpanan
dapat terjadi dan diduga akibat dari metabolisme abnormal yang disebabkan
oleh etilen. Hal ini terjadi pada wortel yang disimpan bersama-sama dengan
apel atau buah-buahan yang lain. Senyawa yang menyebabkan rasa pahit pada

wortel adalah isokumarin. Sintesa senyawa ini dipacu melalui peranan katalitik
gas etilen (seperti yang dibebaskan pada pematangan buah).
2.2.4. Manfaat Wortel
Senyawa antioksidan dari wortel melindungi tubuh dari radikal bebas,
antioksidan bekerja dengan mengurangi kecepatan reaksi inisiasi pada reaksi
berantai pembentukan radikal bebas dalam konsentrasi yang sangat kecil
(0,01%) atau bahkan kurang. Tanaman wortel (Daucus carrota L) memiliki
kandungan gizi yang banyak diperlukan oleh tubuh terutama sebagai sumber
vitamin A. Umbi wortel banyak mengandung vitamin A yang disebabkan oleh
tingginya kandungan karoten yakni suatu senyawa kimia pembentuk vitamin A.
Senyawa ini pula yang membuat umbi wortel berwarna kuning kemerahan.
Kandungan potasiumnya yang tinggi bisa menetralkan keasaman darah yang
kelewat tinggi pada pecandu rokok, alkohol dan pemakai obat-obatan
berbahaya. Pottasium yang terkandung dalam wortel juga berpotensi untuk
membantu menjinakkan racun, terutama logam berat yang ditimbulkan polusi
udara. Makan wortel paling sedikit lima kali setiap minggu dapat menurunkan
risiko terkena stroke sebesar 68 %. Dengan demikian apabila dikonsumsi dalam
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, wortel akan dapat meningkatkan
kesehatan dan ketahanan terhadap berbagai macam penyakit. Selain itu, juga
dapat meningkatkan energi dan produktivitas kerja, karena umbi wortel dapat
memperkuat organ organ tubuh.
Pada sediaan shampo kandungan wortel yang berkhasiat adalah vitamin
A, dan karoten amino acid yang dapat membantu melembabkan dan mencegah
rambut menjadi kering serta bercabang, serta menguatkan akar rambut.
2.3. Praformulasi Bahan
2.3.1. Formula Sediaan Shampoo untuk 100 mL
Bahan
Ekstrak Wortel
Natrium Lauril Sulfat
Cocoamidopropil

Jml
5%
15%
5%

Range
3-5%
10%
4-40%

Fungsi
Zat aktif
Surfaktan anionic; detergent
Co-surfaktan

Betaine
Gliserin
NaCl
Na2 EDTA
Nipagin
Parfum
Aquadest

5%
0,8%
2%
0,1%
qs
100%

30%
<1%
0,1-0,5%
0,01-0,6%
<1%
-

Humektan; Antibakteri
Viscosity modifier
Chelating agent
Preservative
Pewangi
Pelarut

( Sumber Kadar Lazim : HOPE 6th ,2009)

Sediaan dapat ditambah dengan ekstrak, kadar 1-2 % untuk ekstrak kental

dan 3-5 % untuk ekstrak cair


2.3.2. Sifat Fisikokimia dan Fungsi Komponen Formula
1. Ekstrak Wortel (Martindale 36th, hal. 1930-1931, Cahyono, 2002)
Kingdom

Plantae

Divisi
Family
Species
Kandungan

Embryophyta siphonogama
Umbelliferae
Daucus carota L
energi 40 kkal 170 kJ, karbohidrat 9 g, gula 5 g, serat 3
g, lemak 0.2 g, protein 1 g, thiamin (Vit. B1) 0.04 mg
3%, riboflavin (Vit. B2) 0.05 mg 3%, niasin (Vit. B3)
1.2 mg 8%, vitamin B6 0.1 mg 8%, vitamin C 7 mg
12%, kalsium 33 mg 3%, besi 0.66 mg 5%, magnesium
18 mg 5%, phosphor 35 mg 5%, potassium 240 mg
5%, sodium 2.4 mg 0%, vitamin A, dan karoten amino

Pemerian
Kelarutan

acid
Berwarna coklat kemerahan, berbentuk serbuk Kristal
Larut dalam heksan, toluene, etanol, piridin biasa,

Titik Leleh
Penyimpanan
Inkompatibilitas

aseton dan campuran aseton-metanol


1832 C
Pada wadah tertutup rapat dan kering
Bila karoten berlebihan dalam

Fungsi

menyebabkan kulit menjadi warna orange


Sebagai zat aktif, ekstrak wortel mengandung vitamin

tubuh

dapat

A, dan karoten amino acid yang dapat membantu


melembabkan dan mencegah rambut menjadi kering
serta bercabang, serta menguatkan akar rambut.
2. Natrium Lauril Sulfat (MSDS Sodium lauryl sulfate, 2008)
Sinonim

Natrii lauryl sulphate; Sodium lauryl sulfate; sodium


dodecyl sulfate

Struktur kimia

Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

C12 H25 NaO 4


288.38
putih atau krem pucat kuning -kristal berwarna,
serpih, atau bubuk memiliki rasa halus, sabun, rasa

Kelarutan

pahit, dan bau samar zat lemak


sangat larut dalam air, praktis tidak larut dalam eter

Stabilitas

dan kloroforom
Stabil dalam kondisi normal. Larutan dengan pH di
bawah 2,5 dapat memicu hidrolisis menghasilkan

Inkompatibilitas

lauril alkohol dan sodium bisulfat


garam alkaloid, dan mengendap dengan garam

pH
Titik lebur
Kerapatan
Penyimpanan
Fungsi

potassium.
7-9,5 dalam larutan 1% b/v
204-207 C (untuk bahan murni )
1,07 g/cm3
Simpan di wadah yang kering dan tertutup baik.
surfaktan anionic; detergen pada shampoo (10%)

3. Cocoamidopropil Butaine
(https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Cocamidopropyl_betaine)
Diakses pada 5/4/2016 11:07
Sinonim

2-[(3 Dodecanamidopropyl)dimethylaminio]acetate;
{[3(Dodecanoylamino)propyl](dimethyl)ammonio}
acetate

Struktur kimia

Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

C19H38N2O3
342.52
cairan bening berwarna kuning pucat

Kelarutan

sangat larut dalam air pada rentang pH 5-6 (larutan

Sifat
Deskripsi

10%) dalam air


tidak mengiritasi kulit dan membrane mukosa
cocoamidopropil betain merupakan surfaktan betain
fonat. Memiliki sifat antistatic yang membuat rambut
tidak akan mengeluarkan aliran listrik dan menempel
pada sisir plastic dan sikat yang digunakan saat
mengeringkan rambut. Bersifat sebagai humektan,
menarik kelembapan dari udara hingga menjaga
rambut dari kekeringan. cocoamidopropil betain
mengandung antibiotic yang dapat mencegah

Penyimpanan

kerusakan rambut.
Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan

Fungsi pada

terlindungi dari sinar matahari


Antistatic dan surfaktan sekunder ( mengurangi

sediaan

jumlah deterjen yang diperlukan)

4. Gliserin (FI IV : 413, Handbook of Pharmaceutical Excipient 6 Ed : 283)


Struktur kimia

Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

C3H8O3
92,09
Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna; rasa
manis; hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau

Kelarutan

tidak enak). Higroskopis, netral terhadap lakmus.


Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol; tidak
larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak

Stabilitas

lemak, dan dalam minyak menguap


Gliserin bersifat higroskopis. Dapat terurai dengan
pemanasan yang bisa menghasilkan akrolein yang
beracun. Campuran gliserin dengan air, etanol 95 %
dan propilena glikol secara kimiawi stabil. Gliserin
bisa mengkristal jika disimpan pada suhu rendah
yang perlu dihangatkan sampai suhu 200 C untuk

Inkompatibilitas

mencairkannya.
Gliserin bisa meledak jika bercampur dengan
oksidator kuat seperti kromium trioksida, potasium
klorat atau potasium permanganat. Adanya
kontaminan besi bisa menggelapkan warna dari
campuran yang terdiri dari fenol, salisilat dan tanin.
Gliserin membentuk kompleks asam borat, asam
gliseroborat yang merupakan asam yang lebih kuat

Titik beku
Titik didih
Kerapatan
Penyimpanan
Fungsi

dari asam borat.


-1,60 C
290 0C
Tidak < 1,249. 1,2620 g/cm3 pada suhu 250 C.
Simpan di wadah yang kering dan tertutup baik.
Humektan ( 30% ), antibakteri ( <20% ), emolient
( 30% )

5. Natrium Klorida (FI IV hal. 584, Martindale 28 hal. 635, HOPExcipient


hal. 440, MSDS Sodium Chloride, 2008)
Sinonim
Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

sodium chloride
NaCl
58,44
Kristal; tidak berbau; tidak berwarna atau serbuk

Kelarutan

putih
sedikit larut dalam etanol; larut dalm 250 bagian
etanol 95%; larut dalam 10 bagian gliserin; larut
dalam 2,8 bagian air dan 2,6 bagian pada suhu 100

Stabilitas

2C.
larutan

sodium

klorida

stabil

tetapi

dapat

menyebabkan perpecahan partikel kaca dari tipe


tertentu wadah kaca. Larutan cair ini dapat
Inkompatibilitas

disterilisasi dengan cara autoklaf atau filtrasi..


larutan natrium klorida bersifat korosif dengan besi;
membentuk endapan bila bereaksi dengan perak;
garam merkuri; agen oksidasi kuat pembebas klorine
dari

larutan

asam

sodium

klorida;

kelarutan

pengawet nipagin menurun dalam larutan sodium


klorida.

Ph
Titik lebur
Titik didih
Berat jenis
Penyimpanan

6,7-7,3
801 C
2
1439 C
2
2,17 g/cm3
dalam bentuk padatan stabil dan harus disimpan

Fungsi

dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.


Viscosity modifier

6. Na2 EDTA (https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/edta#section=Top


Diakses pada 5/4/2016 11:03)
Sinonim

Disodium

ethylenediaminetetraacetate

dihydrate,

EDTA disodium salt, EDTA-Na2, Edathamil, Edetate


disodium salt dihydrate, Sequestrene Na2
Struktur kimia

Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

C10H14N2Na2O8
336.206
Serbuk kristal putih tidak berbau dengan sedikit rasa

Kelarutan

asam
Larut dalam air (1:11), Praktis tidak larut dalam

Stabilitas

kloroform dan eter, larut dalam etanol (95%)


Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari

Inkompatibilitas

kelembaban
dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam polifalen
seperti tembaga, nikel, Na EDTA merupakan asam
lemah dan bereaksi dengan logam membentuk

Ph
Penyimpanan

hidrogen.
4,3-4,7 dalam larutan 1% air bebas CO2
disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan

Fungsi

tempat kering.
Chelating agent (0,1-0,5%)

7. Nipagin (HOPExcipient hal. 441)


Sinonim

Methylis Parabenum

Struktur kimia

Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

CH3(C6H4(OH)COO)
152,15
hablur atau serbuk tidak berwarna, atau kristal putih,
tidak

berbau

atau

berbau

khas

lemah,

dan

Kelarutan

mempunyai rasa sedikit panas.


mudah larut dalam etanol, eter; praktis tidak larut

Stabilitas

dalam minyak; larut dalam 400 bagian air


larutan metilparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 120 C selama 20 menit,
tanpa penguraian. Larutan ini stabil selama kurang
lebih 4 tahun dalam suhu kamar, sedangkan pada pH

Inkompatibilitas

8 atau lebih dapat meningkatkan laju hidrolisis.


surfaktan non-ionik seperti polisorbat 80, bentonit,
magnesium trisilikat, talk, tragakan, dan sodium

Penyimpanan
Fungsi

alginate
dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.
Antimicrobial preservative (0,001-0,6%)

8. Aquadest (FI III hal. 96, HOPExcipient hal. 802)


Rumus molekul
Bobot molekul
Pemerian

H2O
18,02.
Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak

Kelarutan
Stabilitas

berasa.
Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya
Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam
bentuk Fisik (es , air , dan uap). Air harus disimpan
dalam wadah yang sesuai. Pada saat penyimpanan
dan

penggunaannya

harus

terlindungi

dari

kontaminasi partikel - pertikel ion dan bahan organik

yang dapat menaikan konduktivitas dan jumlah


karbon organik. Serta harus terlindungi dari partikel partikel lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh
Inkompatibilitas

dan merusak fungsi air.


air dapat bereaksi dengan obat dan berbagai eksipien
yang rentan akan hidrolisis (terjadi dekomposisi jika
terdapat air atau kelembapan) pada peningkatan
temperatur. Air bereaksi secara kuat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan logam alkali tanah
dan

oksidanya

seperti

kalsium

oksida

dan

magnesium oksida. Air juga bisa bereaksi dengan


Titik didih
Titik beku
Densitas
Wadah/Penyimp

garam anhidrat menjadi bentuk hidrat.


100 C
0 C
1,00 g/cm3
dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.

anan
Fungsi pada

Pelarut

sediaan

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Tempatdan Tanggal Praktikum
- Tempat
: Labolatorium Penelitian 2
- Tanggal
: 28 April 2016
- Waktu
: 07.30-09.30 WIB
3.2. AlatdanBahan
Alat Praktikum :
Cawan porselin ukuran 100 ml 1 buah
Penangas air 1 buah
Gelas beker ukuran 100 ml 2 buah
Termometer raksa 1 buah
Timbangan analitik 1 buah
Blender
Corong dan kertas saring 1 lembar

Batang pengaduk kecil 1 buah


Lumpang dan Alu 1 buah
Pipet tetes kecil 5 buah
Gelas ukur ukuran 100 ml 1 buah
Kaca arloji ukuran diameter 7cm 5 buah
Wadah ukuran 100 ml
Bahan Praktikum
Ekstrak Wortel
Natrium Lauril Sulfat
Cocoamidopropi lBetaine
Gliserin
NaCl
Na2EDTA
Nipagin
Parfum aroma Cherry Blossom
Aquadest
3.3. Penimbangan Bahan
Sediaan shampoo dibuat sebanyak 100 ml
Formula
Esktrak Cair Wortel

Jumlah
5%

Perhitungan
5
100

x 100 ml = 5

Penimbangan
5 ml

ml
Natrium Lauril Sulfat

15%

15
100

x 100 ml = 15

15 ml

ml
Cocoamidopropil
Betaine

Gliserin

5%

5
100

x 100 ml = 5

5 ml

ml
5%

5
100

x 100 ml = 5

5 ml

ml
NaCl

0,8%

0,8
100

x 100 ml = 0,8

0,8 ml

ml
Na2EDTA

2%

2
100

x 100 ml = 2
ml

2 ml

0,1
100

Nipagin

0,1%

Parfum

qs

Aquadest

Ad to 100%

x 100 ml = 0,1

0,1 ml

ml
100 ml (5 ml + 15 ml

3 tetes

+ 5 ml + 5 ml + 0,8 ml

32,9 ml

+ 2 ml + 0,1 ml) =
32,9 ml

3.4. ProsedurKerja
PembuatanEkstrakWortel

PembuatanSediaanBody Lotion

B a h a n

y a n g

e ru p a k a n

a s s a

( N a C l

y a n g

d i l a r u t k a n

d e n g a n

3 ,9 2

( 1 0 %

a i r

y a n g

d i g u n a k a n ) )

B a h a n

C a m

y a n g

p u r a n

N a t r iu m

t e r m

a s u k

t e r s e b u t

L a u r i l

i d o p r o p i l

E k s t ra k

w o r te l

d a n

a s s a

d i a d u k

S u lf a t

C o c o a m

d im

d a n

h in g g a

a s u k k a n

b e b e r a p a

te te s

a s s a

h o m

d i m

a s u k k a n

k e

d a la m

l u m

p a n g

d a n

a l u

(L u m

p a n g

d a n

A l u

t a n p a

d ih a n g a tk a n )

o g e n

s e d i k it

p a rf u m

d e m

d i m

s e d ik it

a s u k k a n

d e n g a n

k e

d a l a m

c a r a

c a m

d i ta b u rk a n

p u r a n

la l u

d i a ta s

d ia d u k

c a m

p u ra n

h i n g g a

t e rs e b u t

h o m

s a m

b il

d ia d u k

h i n g g a

h o m

o g e n .

p e n g a d u k a n

d i la k u k a n

d e n g a n

c a r a

p e r l a h a n

u n tu k

e n g h i n d a ri

t e r b e n t u k n y a

b u s a

o g e n

S e d i a a n

S e d i a a n

Evaluasi Sediaan Body Lotion

a h a n

y a n g

e r u p a k a n

a s s a

(N

ip a g in , G l i s e ri n ,

d a n

N a

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Praktikum
Parameter
Pengamatan
Warna
Orange Muda
Bau
Cherry Blossom
Kekentalan
Kental
Busa
Dapat Menimbulkan Busa
Daya bersih
Mudah dibersihkan

Gambar

dengan air
pH
56
Homogenitas
Homogen
4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami mebuat sediaan shampo, shampo merupakan salah
satu hair care, yang banyak digunakan oleh masyarakat luas. Sampo adalah suatu
sediaan yang terdiri dari surfactan, pelembut, pembentuk busa, pengental dan bahan
tambahan lainnya. Sampo mempunyai fungsi untuk membersihkan kotora yang ada di
kulit kepala.
Umbi wortel digunakan dalam shampo karena wortel mempunyai efek
pendingin yang cocok untuk rambut yang kering juga karena adanya karetonoid yang
berwarna sindur merah yang digunakan sebagai pewarna alami sehingga mempercantik
penampilan sampho. Ekstrak wortel, yang kaya akan unsur karoten, vitamin A dan
phospholipid yang sangat efektif merawat rambut agar tidak kering dan bercabang.
Shampoo ini untuk jenis rambut kering agar rambut tidak mengalami kekeringan,
kemerahan dan pecah-pecah.
Surfaktan yang digunakan adalah Na Lauril sulfat. Surfaktan ini termasuk
surfaktan anionik. Surfaktan ini dikenal sebagai detergent yang mempunyai gugus
hidrofilik dan gugus lipofilik. Gugus lipofilik (yaitu asam laurat) akan mengikat
minyak dan kotoran yang ada di rambut, sedangkan Na adalah gugus hidrofilik yang
membuat kotoran-kotoran tersebut mudah larut dalam air saat pembilasan setelah
proses penyampoan. Jadi fungsi utama dari surfaktan ini adalah untuk membersihkan
kotoran yang ada di rambut. Namun kelemahan dari surfaktan ini adalah dapat
mengeraskan rambut.
Di dalam formula ini digunakan lebih dari satu jenis surfaktan. Na Lauril sulfat
merupakan surfaktan primer, dan surfaktan lainnya disebut dengan surfaktan
pelengkap. Surfaktan pelengkap yang dipakai adalah Cocaamidopropil Betain.
Surfaktan pelengkap ini bersifat amfoterik yang tidak mengiritasi mata.
NaCl bersifat isotonis yang mempengaruhi viskositas shampo.Viskositas dari
shampo merupakan hal yang perlu diperhatikan, terutama pada shampo cair dan krim

cair. Penambahan zat ini perlu diperhatikan jumlahnya, sehingga tidak menyebabkan
rambut menjadi kaku. Gliserin di dalam formula berfungsi sebagai humektan dengan
cara menyerap air dari lingkungan. Dengan demikian, gliserin dapat membantu untuk
menyegel kelembaban.
Na2EDTA di dalam formula shampo berfungsi sebagai bahan pembusa. Nipagin
berfungsi sebagai bahan pengawet yang berguna melindungi shampo dari mikroba yang
dapat menyebabkan rusaknya shampo. Air berfungsi sebagai pelarut dan pencair
sediaan. Parfum yang digunakan adalah cerry blasoom. Penambahan parfum harus
dalam keadaan dingin karena komponen-komponen dalam parfum dapat rusak pada
suhu yang tinggi.
Dalam proses pembuatan shampo, perlu diperhatikan pengadukan dan suhu
pemanasan. Pencampuran Na lauril sulfat dengan air dilakukan perlahan-lahan.
Penambahan bahan-bahan lain dilakukan dalam kondisi pemanasan. Suhu pemanasan
dijaga agar tidak terlalu besaratautidakterlalurendah. Selama proses, suhu diusahakan
konstan, kira-kira 80oC. Pengadukan selama pencampuran sebisa mungkin konstan,
tidak dengan pengadukan keras, agar tidak terbentuk busa yang berlebihan.
Hasil evaluasi dari sediaan shampo yang kami buat diantaranya organoleptis
yang meliputi warna orange, pH 5 6 beraroma cerry blasoom. Kemampuan
membentuk busa baik dan dapat dicuci dengan mudah.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
-

Bahan aktif yang digunakan dalam sediaan shampo adalah ekstrak wortel.
Surfaktan yang dipakai adalah Na Laurilsulfat dan Cocoamidopropil Betain.
Sediaan shampo yang dihasilkan berwarna orange muda, beraroma cerry blasoom

dan viskositasnya kental semi cair.


Dari hasil uji pengukuran stabilitas busa, shampo mampu menghasilkan busa yang

stabil.
Perlu penggunaan suhu terukur dan pengadukan yang diperhitungkan untuk

menghasilkan sediaan sampo yang diharapkan.


pH sediaan yang dihasilkan tidak berubah jauh dari pH ekstrak wortel yaitu 5-6

5.1. Saran
-

Jika dalam formula pembuatan shampo digunakan Natrium Lauril Sulfat sebaiknya
pengadukan dilakukan secara perlahan untuk mencegah terbentuknya busa yang

terlalu banyak.
Konsentrasi NLS sebaiknya digunakan dalam batas konsentrasinya, jika

konsentrasi berlebih sediaan shampo menjadi kurang baik.


Metode pembuatan juga sangat mempengaruhi sediaan shampo yang dihasilkan.

Daftar Pustaka

Cahyono, B. 2002. Wortel Teknik Budi Daya Analisis Usaha Tani. Yogyakarta :
Kanisius
Ditjen POM .1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Ditjen POM .1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Fisher Scientific. 2008. MSDS Sodium lauryl sulfate. Canada: Fisher Scientific
International
Kumar, Ashok., Mali, Rakesh Roshan., 2010, Evaluation Of Prepared Shampoo
Formulations
Shampoos,

And

To

International

Compare

Formulated

Shampoo

With

Marketed

Journal of Pharmaceutical Sciences Review

and

Research, Volume 3, Issue 1, July August 2010; Article 025.


Mottram, F.J., Lees, C.E., 2000. Hair Sampoos in Poucher's Perfumes, Cosmetics
and Soaps, 10th Edn, Butler, H. (ed), Kluwer Academic Publishers. Printed in
Great Britain.
Rowe, Raymond, Paul J. Sheskey and Sian C. Owen. 2006. Handbook of pharmaceutical
exsipients, 5th edition. USA :Pharmaceutical press and American Pharmacists
Association

Reynold, James EF. 1982. Martindale the extra pharmacopeia, Twenty-eight edition.
London : The pharmaceutical press
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/edta#section=Top Diakses pada 5/4/2016
11:03
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Cocamidopropyl_betaine

Diakses

pada

5/4/2016 11:07

Lampiran
Penimbangan Bahan :

Keterangan :

e Kerja :
Prosedur

a . Ekstrak Wortel
NLS
c . NaCl
Cocoamidopropil Betain
Na2EDTA
Nipagin

b.
d.
e.
f.