Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan

utama di Indonesia, bersifat endemis dan timbul sepanjang tahun disertai epidemi
tiap lima tahunan dengan kecenderungan interval serangan epidemi menjadi tidak
teratur. Permasalahan DBD di Indonesia adalah masih tingginya insiden dan
penyebaran penyakit yang semakin meluas, yang ditandai dengan beberapa
kejadian luar biasa (KLB) dengan siklus 5-10 tahunan. Serangan KLB terjadi
tahun 1973 (10.189 kasus), tahun 1983 (13.668 kasus), tahun 1988 (57.573
kasus), tahun 1998 (72.133 kasus), dan tahun 2004 (58.861 kasus). 1,2
Di Provinsi Jambi, kejadian Demam Berdarah Dengue telah menyebar ke
seluruh kabupaten/kota. Kota Jambi masih mencatat kasus tertinggi sepanjang
tahun 2006 hingga tahun 2012, sesuai dengan pattern of disease dari penyakit
DBD, yaitu Urban Disease. Hal ini dapat dimengerti mengingat Kota Jambi telah
mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan dengan laboratorium yang mendukung
dan mobilitas penduduk dari daerah endemis DBD merupakan faktor risiko
tingginya kasus DBD di Kota Jambi. Untuk tahun 2013 pada umumnya di
Provinsi Jambi (91%) kabupaten Kota telah terjangkit penyakit DBD dan hanya
Kabupaten Kerinci yang masih terbebas dari penyakit DBD. 3
Kementrian Kesehatan melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) mengungkapkan hingga November 2012 telah terjadi 404
kasus kematian akibat DBD di 31 provinsi.4 Jumlah kasus Demam Berdarah
Dengue (DBD) pada tahun 2013 di Kota Jambi sebesar 315 kasus dan pada tahun
2014 sebesar 678 kasus. Dari data tersebut didapatkan kenaikan jumlah kasus
sebesar 363 kasus dalam kurun waktu satu tahun.

5,6

World Health Organization (WHO) telah mempublikasikan pedoman untuk


manajemen klinik termasuk metode diagnostik dalam pengawasan dengue dan
mengontrol vektor. Pengontrolan vektor dengue telah dianggap lebih efektif
1

daripada mengobati demam berdarah dengue. Empat serotipe flavivirus yaitu


DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 ditularkan melalui nyamuk betina Aedes aegypti
yang telah terinfeksi oleh virus dengue. 7,8
Pengendalian vektor melalui surveilans vektor diatur dalam Kepmenkes No.
581 tahun 1992, bahwa kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan
secara periodik oleh masyarakat yang dikoordinir oleh RT/RW dalam bentuk PSN
dengan pesan inti 3M plus. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur
dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95%
diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. 8 Di Kota Jambi Angka
Bebas Jentik pada tahun 2013 sebesar 87,13% dan pada tahun 2014 sebesar
91,11%.

9,10

Namun angka tersebut belum mencapai standar dari kegiatan PSN

walaupun telah didapatkan kenaikan Angka Bebas Jentik sebesar 3,98%. Data
tersebut didapatkan dari 8 kecamatan yang ada di Kota Jambi yaitu Kecamatan
Telanai Pura, Jambi Timur, Jambi Selatan, Danau Teluk, Pelayangan, Pasar Jambi,
Jelutung dan Kota Baru. Dari 8 kecamatan tersebut, jumlah kasus demam
berdarah dengue tertinggi terdapat di Kecamatan Kota Baru. Diantara kelurahan
yang berada di Kecamatan Kota Baru, Kelurahan Mayang Mangurai mempunyai
jumlah kasus tertinggi yaitu sebesar 26 kasus pada tahun 2013 dan 53 kasus pada
tahun 2014. 5,6
Pemberantasan larva merupakan kunci strategis program pengendalian vektor
di seluruh dunia.11 Penggunaan insektisida sebagai larvasida secara umum dapat
digunakan masyarakat untuk mengendalikan vektor tersebut. Insektisida yang
sering digunakan di Indonesia adalah Abate atau Temephos. 12
Temephos (abate) merupakan larvasida standard WHO yang digunakan di
seluruh dunia. Temephos adalah insektisida golongan organofosfat non sistemik
yang digunakan untuk mengontrol nyamuk, larva black fly (Simulidae), dan lainlain. Temephos biasa digunakan di kolam, danau, dan rawa-rawa. Penggunaan
abate di Indonesia sudah sejak tahun 1976.12,13 Empat tahun kemudian yakni 1980,
temephos 1% (abate) ditetapkan sebagai bagian dari program pemberantasan

massal Aedes aegypti di Indonesia. Abate sudah digunakan lebih dari 30 tahun.13
Keuntungan insektisida sintetis seperti abate adalah hasilnya lebih efektif dan
dapat dilihat secara cepat dan langsung.14
Penggunaan abate (temephos) dapat menimbulkan resistensi. Laporan
resistensi sudah ditemukan di beberapa negara seperti Brazil, Bolivia, Argentina,
Kuba, Karibia, Malaysia dan Thailand. Selain itu juga telah dilaporkan resistensi
larva Aedes aegypti terhadap abate (temephos) di Surabaya Provinsi Jawa
Timur.13,15 Di Kecamatan Wirobrajan Kota Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta menunjukkan penurunan status kerentanan dari rentan menjadi
resisten sedang.16 Data mengenai apakah ada resistensi Abate di Kota Jambi,
khususnya Kelurahan Mayang Mangurai yang mempunyai kejadian DBD
tertinggi belum ada. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan uji resistensi
abate (temephos) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Mayang
Mangurai Kota Jambi tahun 2016.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah pada

penelitian ini, yaitu:


Adakah resistensi abate (temephos) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti di
Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi tahun 2016.
1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1

Tujuan Umum

Mengetahui status resistensi abate (temephos) terhadap larva nyamuk Aedes


aegypti di Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi tahun 2016.
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mengetahui status resistensi abate (temephos) di Kelurahan Mayang
Mangurai Kota Jambi.

2. Mengetahui persentase mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti pada


pada kelompok dosis abate 1%.
1.3

Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Melalui penelitian ini, peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan
ilmu yang didapat selama pendidikan serta menambah pengetahuan
dan pengalaman dalam membuat penelitian.
2. Bagi institusi pendidikan
a. Memberikan informasi ilmiah mengenai resistensi abate di
Kelurahan Mayang Mangurai Kota Jambi.
b. Sebagai tambahan kepustakaan yang dapat digunakan untuk
penelitian selanjutnya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian dapat dipakai sebagai dasar penelitian uji resistensi
abate (temephos) di tempat lain.
4. Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk
pemberantasan nyamuk khususnya penggunaan larvasida dalam
kehidupan sehari-hari.