Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46 /PUU-VIII/2010

I.

LATAR BELAKANG
Perkawinan adalah ikatan sosial atau perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk
hubungan kekerabatan dan merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang
meresmikan hubungan antara pribadi yang biasanya intim dan seksual.
Perkawinan adalah kata benda turunan dari kata kerja dasar kawin kata ini berasal dari kata
jawa kuno awin atau ahwin.
Tujuan dari perkawinan secara umum untuk meendapatkan keturunan, untuk meningkatkan
derajat dan status sosial, mendekattkan kembali hubunngan kerabat yang suudah rrenggang.
Berbicara soal perkawinan adapun perkawinan yang resmi dan tidak resmi. dalam pengujian
pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan, MK berpendapat (1) pencatatan perkawinan bukanlah
merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan. Sahnya perkawinan adalah bila telah
dilakukan sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari masing-masing
pasangan calon mempelai; dan (2) pencatatan merupakan kewajiban administratif yang
diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, MK berpendapat
bahwa perkawinan sirri juga merupakan perkawinan yang sah. Tidak dicatatkannya suatu
perkawinan dalam catatan administratif negara, tidak lantas menjadikan perkawinan tersebut
tidak sah.
Namun, terdapat permasalahan sebagai akibat dari tidak dicatatnya perkawinan dalam catatan
administratif negara. Salah satu akibatnya adalah terhadap hubungan hukum antara si Bapak
dan anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak dicatat. Anak tersebut tidak serta merta
bisa mencantumkan nama lelaki sebagai Bapaknya dalam akta kelahirannya. Dengan kata
lain, dalam praktek anak yang lahir dalam perkawinan sirri digolongkan pada anak luar kawin.
Dengan diakuinya perkawinan yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing mempelai
namun tidak dicatatkan sebagai suatu perkawinan yang sah maka seharusnya anak yang lahir
dari perkawinan tersebut termasuk sebagai anak sah. Namun kenyataannya, anak itu
digolongkan sebagai anak luar nikah.
Berkaitan dengan kondisi diatas, MK dalam melakukan penafsiran atas Pasal 43 ayat (1) UU
Perkawinan berpendapat bahwa Hukum harus memberi perlindungan dan kepastian hukum
yang adil terhadap status seorang anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya,
termasuk terhadap anak yang dilahirkan meskipun keabsahan perkawinannya masih
dipersengketakan.
Pendapat ini sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of Child)
yang mengatur bahwa anak akan didaftar segera setelah lahir dan akan mempunyai hak sejak
lahir atas nama, hak untuk memperoleh suatu kebangsaan dan sejauh mungkin, hak untuk
mengetahui dan diasuh oleh orang tuanya. Kemudian, Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 23 tahun
2002 tentang Perlindungan Anak juga mengatur bahwa Setiap anak berhak untuk mengetahui
orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. Hak anak untuk mengetahui
identitas kedua orang tuanya akan memperjelas status serta hubungan antara anak dengan
orang tuanya.

Dan dalam masyarakat berkembang soal anak luar kawin dan anak dalam pernikahan yang
sah, dengan adanya putusan MK tersebut maka perubahan besar dalam sistem hukum perdata
pun akhirnya tak bisa dihindari. Misalnya dalam hukum waris. Berdasarkan KUHPerdata,
anak luar kawin yang mendapat warisan adalah anak luar kawin yang telah diakui dan
disahkan. Namun sejak adanya Putusan MK tersebut maka anak luar kawin diakui sebagai
anak yang sah dan mempunyai hubungan waris dengan bapak biologisnya. Kedudukan anak
luar kawin terhadap warisan ayah biologisnya juga semakin kuat. Pasca putusan MK ini, anak
luar kawin merasa berhak atas warisan ayahnya. Di ke depannya tentu akan timbul banyak
gugatan ke pengadilan agama (Islam) dan pengadilan negeri (non-Islam) dari anak luar kawin.
Dalam diskusi tersebut, menanggapi Putusan MK terhadap pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan,
Dr. H.M. Akil Mochtar berpendapat pasal 43 ayat (1) UU perkawinan mengatur tentang anak
luar kawin. UU Perkawinan tidak menyangkal ketentuan-ketentuan hukum agama
sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan umum angka 3, sehingga bagi yang beragama
Islam, implementasinya tidak boleh ada yang bertentangan dengan prinsip- prinsip syari.
Apabila pasal 43 UU Perkawinan dihubungkan pasal 42 UU tersebut, maka dapat ditarik
pengertian bahwa anak luar kawin bukan merupakan anak yang sah. Disamping itu, anak luar
kawin hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya. Konsep
ini sejalan dengan konsep Hukum Islam dan hukum adat pada umumnya. Agama Islam
menganut prinsip bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah sehingga tidak ada
alasan untuk membeda-bedakan setiap anak yang lahir, termasuk anak luar kawin sekalipun.
Putusan MK tersebut, UU No.8/2011 tentang Perubahan Atas UU No.24/2003 tentang
Mahkamah Konstitusi Pasal 10 ayat (1) huruf a menegaskan bahwa salah satu kewenangan
konstitusional Mahkamah Konstitusi adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar.
Sekalipun pasal 1917 BW jo. Pasal 21 AB menegaskan bahwa putusan pengadilan hanya
mengikat pihak-pihak yang bersangkutan dan tidak mengikat hakim lain yang akan memutus
perkara yang serupa, namun ketentuan ini tidak dapat diberlakukan bagi putusan Mahkamah
Konstitusi sebab substansi putusan MK tersebut bersifat umum yakni berupa pengujian suatu
UU terhadap UUD, karena itu putusan MK tentang anak luar kawin (Putusan Nomor
46/PUU-VIII/2010) tersebut pada dasarnya mengikat semua warga negara.

Namun karena Negara juga menjamin kemerdekaan tiap-tiap


penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya
dan kepercayaannya itu sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 29 ayat (2) UUD 1945, maka
putusan MK dimaksud harus dibaca spiritnya sebagai Payung Hukum Untuk Perlindungan
Terhadap Anak Dan Tidak Menyangkal Lembaga Perkawinan Yang Sah sebagaimana diatur
dalam UU N0. 1 Tahun 1974 jo. PP 9/1975 jo. INPRES No. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum
Islam. Karena itu perlindungan terhadap anak diluar perkawinan harus dilaksanakan secara
proporsional yakni dikembalikan kepada peraturan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan adat istiadat setempat dengan tidak menafikan hukum agama yang bersangkutan.
Menurut Akil, putusan MK tersebut hendaknya tidak dibaca sebagai pembenaran terhadap

hubungan diluar nikah dan tidak bertentangan dengan Pasal 1 dan Pasal 2 UU No. 1 Tahun
l974. Adapun yang berkaitan dengan kewarisan misalnya, maka hak keperdataannya tidak bisa
diwujudkan dalam bentuk konsep waris Islam tapi dalam bentuk lain misalnya dengan konsep
wasiyat wajibah. Demikian pula yang berkaitan dengan nafkah/ biaya penghidupan anak,
tidak diwujudkan dalam nafkah anak sebagaimana konsep hukum Islam, melainkan dengan
bentuk kewajiban lain berupa penghukuman terhadap ayah biologisnya untuk membayar
sejumlah uang/ harta guna keperluan biaya hidup anak yang bersangkutan sampai dewasa.
Sebab ketentuan tentang nafkah anak dan waris itu berkaitan dengan nasab, padahal anak luar
kawin tidak bisa dinasabkan pada ayah biologisnya. Inilah yang memicu timbulnya protes
terhadap putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 sebab putusan tersebut mengesankan adanya
pertalian nasab antara anak luar kawin dengan ayah biologisnya. Andaikata dalam putusan
tersebut ada penegasan bahwa nasab anak dikembalikan pada hukum agamanya, niscaya tidak
menimbulkan kontroversi.
II.

PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA


Nomor 46/PUU-VIII/2010, Tanggal 13 Februari 2012.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan uji materiil UU Perkawinan (UU


No.1 Tahun 1974) yang diajukan Hj. Aisyah Mochtar alias Machica binti H. Mochtar Ibrahim
yang meminta puteranya Muhammad Iqbal Ramadhan bin Moerdiono agar diakui sebagai
anak almarhum Moerdiono mantan Menteri Sekretaris Negara di era Soeharto memicu
perseteruan antara dirinya dengan keluarga almarhum Moerdiono..
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang mengadili perkara konstitusi
pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan pengujian
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Berdasarkan Pasal 51 ayat 1 UU 24/2003 untuk mengajukan perkara konstitusi si pemohon
harus memiliki kedudukan hukum (legal standing), sebagai pihak yang menganggap hak
dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu :
a. perorangan warga Negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur
dalam undang-undang;
c. badan hukum public atau privat; atau
d. lembaga Negara
Dengan demikian, para pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap UUD NRI
Th.1945 harus menjelaskan dan membuktikan terlebih dahulu :
1. kedudukannya sebagai para pemohon sebagaimana dimaksud pasal 51 ayat 1 UU 24/2003
2. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 yang
diakibatkan oleh berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian.
Pemohon mengajukan uji materiil terhadap :
UUD NRI Th. 1945
Pasal 28 B ayat 1
Setiap orang berhak membentuk keluarga
dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah

UU No 1 Th 1974 tentang Perkawinan


Pasal 2 ayat 2
Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 28 B ayat 2
Setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh, dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi
Pasal 28 D ayat 1
Setiap orang berhak atas pengakuan,
jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama
di hadapan hukum

Pasal 43 ayat 1
Anak yang dilahirkan di luar perkawinan
hanya mempunyai hubungan perdata dengan
ibunya dan keluarga ibunya

Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan mengabulkan sebagian permohonan para


pemohon. Pasal 2 ayat 2 UU Perkawinan tidak dikabulkan sebab perkawinan yang dicatatkan
adalah untuk mencapai tertib administrasi.
Pencatatan secara administratif yang dilakukan Negara dimaksudkan agar perkawinan,
sebagai perbuatan hukum penting dalam kehidupan yang dilakukan oleh yang bersangkutan,
yang berimplikasi terjadinya akibat hukum yang sangat luas, di kemudian hari dapat
dibuktikan dengan bukti yang sempurna dengan suatu akta otentik, sehingga perlindungan dan
pelayanan oleh Negara terkait dengan hak-hak yang timbul dari suatu perkawinan dapat
terselenggara secara tertib dan efisien. Artinya dengan dimilikinya bukti otentik akta
perkawinan, hak-hak yang timbul sebagai akibat perkawinan dapat terlindungi dan terlayani
dengan baik, karena tidak diperlukan proses pembuktian yang memakan waktu, uang, tenaga,
dan pikiran yang lebih banyak, seperti pembuktian mengenai asal-usul anak dalam pasal 55
UU perkawinan yang mengatur bahwa bila asal-usul anak tidak dapat dibuktikan dengan akta
otentik maka mengenai hal itu akan ditetapkan dengan putusan pengadilan yang berwenang.
Pembuktian yang demikian pasti tidak lebih efektif dan efisien bila dibandingkan adanya akta
otentik sebagai bukti.
Pasal 43 ayat 1 UU Perkawinan dikabulkan karena hubungan anak dengan seorang laki-laki
sebagai bapak tidak semata-mata karena adanya ikatan perkawinan, akan tetapi dapat juga
didasarkan pada pembuktian adanya hubungan darah antara anak dengan laki-laki tersebut
sebagai bapak.
Dengan demikian, terlepas dari soal prosedur / administrasi perkawinannya, anak yang
dilahirkan harus mendapat perlindungan hukum. Jika tidak demikian, maka yang dirugikan
adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan, padahal anak tersebut tidak berdosa karena
kelahirannya di luar kehendaknya.
Komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan hampir 50 juta anak di
Indonesia tidak memiliki akta kelahiran karena berbagai sebab antara lain karena pernikahan
tidak sah atau tercatat di atau kawin siri, angka ini hampir separuh dari total jumlah anak
dibawah 5 tahun yang ada di Indonesia. KPAI sangat mengapresiasi putusan MK beberapa
waktu lalu yang mengabulkan permohonan uji materiil atas pasal anak diluar pernikahan sah
dalam UU perkawinan.
Menurut ketua Komnas perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait, perubahan pada Undangundang Perkawinan oleh Mahkamah Konstitusi ini akan menjadi landasan hukum yang sah
dalam memajukan upaya advokasi bagi anak-anak diluar pernikahan yang sah untuk
memperoleh hak keperdataannya.
Jadi putusan MK kemarin memberikan hak keperdataan yang selama ini tidak diakui negara.
Makanya akta lahirnya itu tidak mencantumkan nama ayah. Dan tentu ini akan berimplikasi
tidak mendapatkan hak waris dan tidak bisa mencantumkan siapa bapaknya, nah..itukan

merugikan anaknya. Didalam konvensi PBB juga pengakuan keperdataan dalam bentuk
identitas nama dan kewarganegaraan itu harus diberikan oleh negara, tidak harus bergantung
pada sah tidaknya perkawinan. Tetapi juga sebagai hak konstitusi, hak keperdataan, itu adalah
hak yang sangat mendasar dan konstitusional.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab juga menyambut baik putusan MK ini, menurut
Umar, putusan ini bisa menjadi dasar hukum bagi hakim dalam memutuskan sengketa anak.
Anak yang dilahirkan tanpa memiliki kejelasan status ayah seringkali mendapatkan perlakuan
yang tidak adil dan stigma di tengah-tengah masyarakat. Hukum harus memberi perlindungan
dan kepastian hukum yang adil terhadap status seorang anak yang dilahirkan dan hak-hak
yang ada padanya, termasuk terhadap anak yang dilahirkan meskipun keabsahan
perkawinannya masih dipersengketakan.
Berdasarkan uraian ini Pasal 43 ayat 1 UU Perkawinan ini harus dibaca, Anak yang
dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga
ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan
darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.
Bagaimana tindakan notaris apabila ada anak luar kawin/kuasa/walinya tersebut minta
dibuatkan akta keterangan waris sementara ada penyangkalan dari ahli waris yang sah?.
Dari sisi praktisi notaris yang berwenang untuk membuat suatu keterangan waris, hal ini agak
merepotkan, karena untuk membuat suatu keterangan waris diharuskan untuk menerima buktibukti otentik berupa akta kelahiran yang menyatakan bahwa anak tersebut merupakan anak
sah dari hasil perkawinan kedua orangtuanya. Ada kekhawatiran didalam praktik
dimasyarakat, tiba-tiba akan bermunculan berbagai kasus sehubungan dengan adanya tuntutan
dari anak-anak luar kawin yang tidak/belum pernah diakui oleh pewaris, yang menuntut
bagian dari warisan tersebut.

Berdasarkan KUH Perdata dan UU


Perkawinan
Surat Keterangan Hak Waris biasanya
dibuat oleh Notaris yang berisikan
keterangan mengenai pewaris, para ahli
waris dan bagian-bagian yang menjadi
hak para ahli waris berdasarkan Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata.
Anak Luar Kawin dalam BW dan KUH
Perdata bisa mendapat bagian waris
melalui proses pengakuan yang
ditetapkan oleh pengadilan. Walaupun
dengan adanya perbuatan hukum
pengakuan ini sang anak maksimal
mendapat 1/3 bagian waris.
Ketika pewaris meninggal, timbulah
warisan dan ahli waris. Keberadaan anak
luar kawin yang sudah ditetapkan
pengadilan tetap akan mendapatkan

Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010


Anak luar kawin berdasarkan putusan MK
ini dapat membuktikan dengan ilmu
pengetahuan jika anak memiliki hubungan
darah dengan ayahnya.
Jika ia terbukti berdasarkan ilmu
pengetahuan merupakan anak pewaris maka
anak tersebut mempunyai hak waris yang
sama besarnya dengan ahli waris lainnya.
Peraturan pelaksana putusan MK ini belum
ada sehingga masih terdapat kekosongan
hukum bagaimana anak luar kawin
mendapat jaminan ia akan mendapatkan
warisannya.
Kemajuan yang dibuat putusan MK ini
setelah dilakukannya pembuktian melalui
ilmu pengetahuan ahli waris lain tidak dapat
menyangkal keberadaan anak luar kawin

bagian waris. Apabila ahli waris lain


menolak, nama sang ahli waris ( anak
luar kawin yang mendapatkan pengakuan
) sudah tercatat dan harus dimasukkan
dalam surat keterangan waris.
Notaris akan mengecek terlebih dahulu
berapa jumlah ahli waris yang tercatat
oleh Negara. Dengan demikian jika ahli
waris di luar anak luar kawin yang
mendapat pengakuan menyangkal, surat
keterangan waris tidak dapat dibuat.

ini. Karena secara ilmu pengetahuan anak


luar kawin ini adalah anak dari pewaris.
Surat keterangan waris dapat dibuat namun
dapat terjadi permasalahan dalam
administrasi pengurusan surat keterangan
waris.

III. PEMBAHASAN
A. Anak Luar Kawin Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Anak luar kawin yang diakui secara sah adalah salah satu ahli waris menurut undang-undang
yang diatur dalam KUHPerdata berdasarkan Pasal 280 jo Pasal 863 KUHPerdata. Anak luar
kawin yang berhak mewaris tersebut merupakan anak luar kawin dalam arti Sempit,
mengingat doktrin mengelompokkan anak tidak sah dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu anak luar
kawin, anak zina, dan anak sumbang, sesuai dengan penyebutan yang diberikan oleh pembuat
undang-undang dalam Pasal 272 jo 283 KUHPerdata (tentang anak zina dan sumbang). Anak
luar kawin yang berhak mewaris adalah sesuai dengan pengaturannya dalam Pasal 280
KUHPerdata.
Pembagian seperti tersebut dilakukan, karena undang-undang sendiri, berdasarkan ketentuanketentuan yang ada, memang memberikan akibat hukum lain-lain (sendiri-sendiri) atas status
anak-anak seperti tersebut di atas. Sekalipun anak zina dan anak sumbang sebenarnya juga
merupakan anak luar kawin dalam arti bukan anak sah, tetapi kalau dibandingkan dengan
Pasal 280 dengan Pasal 283 KUH Perdata, dapat diketahui anak luar kawin menurut Pasal 280
dengan anak zina dan anak sumbang yang dimaksud dalam Pasal 283 adalah berbeda.
Demikian pula berdasarkan ketentuan Pasal 283, dihubungkan dengan Pasal 273
KUHPerdata, bahwa anak zina berbeda dengan anak sumbang dalam akibat hukumnya.
Terhadap anak sumbang, undang-undang dalarn keadaan tertentu memberikan perkecualian,
dalam arti, kepada mereka yang dengan dispensasi diberikan kesempatan untuk saling
menikahi (Pasal 30 ayat (2) KUHPerdata) dapat mengakui dan mengesahkan anak sumbang
mereka menjadi anak sah (Pasal 273 KUHPerdata). Perkecualian seperti ini tidak diberikan
untuk anak zina.
Perbedaan antara anak luar kawin dan anak zina terletak pada saat pembuahan atau hubungan
badan yang menimbulkan kehamilan, yaitu apakah pada saat itu salah satu atau kedua-duanya
(maksudnya laki-laki dan perempuan yang mengadakan hubungan badan di luar nikah) ada
dalam ikatan perkawinan dengan orang lain atau tidak, sedangkan mengenai kapan anak itu
lahir tidak relevan. Anak zina adalah anak-anak yang dilahirkan dari hubungan luar nikah
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan di mana salah satu atau kedua-duanya, terikat
perkawinan dengan orang lain. Adapun anak sumbang adalah anak-anak yang dilahirkan dari
hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang antara keduanya berdasarkan
ketentuan undang-undang ada larangan untuk saling menikahi (Pasal 31 KUHPerdata).
Dengan demikian anak luar kawin dalam arti sempit adalah anak yang dilahirkan dari hasil

hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang kedua-duanya tidak terikat
perkawinan dengan orang lain dan tidak ada larangan untuk saling menikahi, anak-anak yang
demikianlah yang bisa diakui secara sah oleh ayahnya (Pasal 280 KUHPerdata).
Hubungan antara ibu dan anak terjadi dengan sendirinya karena kelahiran, kecuali apabila
anak itu "overspelig atau bloedsrhenning (anak zinah). Antara ayah dan anak hanya terjadi
hubungan perdata karena pengakuan (Pasal 280 KUHPerdata).
Pasal 280 KUHPerdata, yang mengatakan; bahwa dengan pengakuan yang dilakukan terhadap
seorang anak luar kawin, timbullah hubungan perdata antara anak dan bapak atau ibunya. Hal
ini berarti, bahwa antara anak luar kawin dan "ayah" (biologisnya) maupun "ibunya" pada
asasnya tidak ada hubungan hukum. hubungan hukum itu baru ada kalau "ayah" dan atau
"ibunya"memberikan pengakuan, bahwa anak itu adalah anaknya. Dengan demikian, tanpa
pengakuan dari ayah dan atau ibunya, pada asasnya anak itu bukan anak siapa-siapa. Ia tidak
mempunyai hubungan hukum dengan siapa pun.
Kalau kita melihat prinsip seperti tersebut di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa hubungan
hukum antara orang-tua dan anaknya yang sah didasarkan atas adanya hubungan darah antara
keduanya. akan tetapi, kalau kita hubungkan dengan anak luar kawin, hubungan hukum antara
anak luar kawin dan ayah yang mengakuinya, didasarkan atas hubungan darah melalui suatu
pengakuan dengan demikian, hubungan darah dalam hal ini adalah hubungan darah dalam arti
yuridis, bukan dalam arti biologis. Kedudukan anak luar kawin di dalam hukum secara realitas
adalah lebih rendah dibanding dengan anak sah, dengan pengertian bagian waris yang
diterima oleh anak luar kawin lebih kecil dibandingkan dengan anak sah. Selain hal tersebut
anak sah berada di bawah kekuasaan orang tua sebagaimana diatur dalam Pasal 299
KUHPerdata, sedangkan anak luar kawin yang telah diakui secara sah berada di bawah
perwalian sebagaimana diatur dalam Pasal 306 KUHPerdata.
Untuk dapat menjadi seorang ahli waris KUHPerdata telah menetapkan syarat-syarat sebagai
berikut :
a. Berdasarkan Pasal 832 KUHPerdata untuk dapat menjadi ahli waris harus memiliki
hubungan darah baik sah atau luar kawin. Dimungkinkan menjadi ahli waris melalui
pemberian melalui surat wasiat sebagaimana diatur dalam Pasal 874 KUHPerdata.
b. Berdasarkan Pasal 836 KUHPerdata Ahli waris, harus sudah ada pada saat pewaris
meninggal dunia. Namun, ketentuan ini disimpangi oleh Pasal 2 KUHPerdata yang
menyebutkan bahwa anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai
telah dilahirkan, bilamana kepentingan si anak menghendakinya.
Ketentuan Pasal 832 KUHPerdata memperjelas kedudukan masing-masing ahli waris harus
didasari oleh suatu hubungan darah baik sah maupun luar kawin. Dalam hal ini, perlu
diidentifikasi lebih lanjut tentang kedudukan anak-anak pewaris sebagai ahli waris. Mengingat
dalam suatu pewarisan menurut KUHPerdata dikenal anak luar kawin baik yang diakui secara
sah maupun tidak. KUHPerdata tidak menjelaskan lebih lanjut pengertian yang jelas tentang
anak luar kawin. KUHPerdata hanya memberikan penjelasan tentang pengertian anak sah
sebagaimana diatur dalam Pasal 250 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa anak sah adalah
setiap anak yang dilahirkan dan atau dibuahkan dari suatu perkawinan yang sah. Berdasarkan
batasan yang diberikan oleh Pasal 250 KUHPerdata dapat ditarik kesimpulan bahwa yang
disebut dengan anak luar kawin adalah setiap anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang
sah.
UU No. 1 Tahun 1974 mengatur kedudukan anak luar kawin dalam Pasal 43, yaitu:
a. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan
ibunya dan keluarga ibunya;

b. Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 4 menyebutkanPerkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan Perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
Namun perkawinan tersebut harus dilaporkan dan dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA)
atau di Catatan Sipil bagi yang bukan beragama Islam, karena Pencatatan perkawinan seperti
yang diamanatkan Pasal 2 ayat (2) UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bertujuan untuk
melindungi warga negara dalam membangun keluarga dan memberikan kepastian hukum
terhadap hak suami, istri, dan anak-anaknya.
UU No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 2 menyebutkan Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Begitu pula di dalam Pasal 5 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan:
a. Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus
dicatat.
b. Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah
sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No.22 Tahun 1946 jo Undang-undang No. 32
Tahun 1954.
Walaupun pernikahan siri dianggap sah secara agama Islam, yaitu adanya ijab dan Kabul serta
wali nikah dan pengantin sudah cukup umur; namun perkawinan tersebut juga harus sah
secara hukum Negara. Tanpa adanya pencatatan secara hukum Negara, maka anak-anak yang
lahir dari perkawinan tersebut tidak dapat dibuktikan secara hukum merupakan anak sah dari
ayahnya. Akibatnya, si anak hanya memiliki hubungan hukum dengan ibu yang
melahirkannya.
Dari lima rukun nikah itu tak ada seorang ulama (empat mazhab) yang mengemukakan sebuah
pernikahan harus dicatat. Sebab, tak ada ditemukan dalil dalam Al-Quran dan Hadits Sahih
yang secara eksplisit mewajibkan adanya pencatatan nikah. Jadi jika pernikahannya sah
sekalipun tidak tercatat, anaknya tetap dianggap anak sah.
Sebuah Hadits Sahih yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra,
Rasulullah bersabda, Anak hanya bernasab kepada pemilik tempat tidur suami, sedangkan
pezina hanya akan memperoleh sial atau batu hukuman. Dari hadits itu, dapat dijelaskan
anak juga bernasab (hubungan hukum) dengan lelaki yang memiliki tempat tidur yang sah.
Sebab, ia adalah suami sah dari ibu kandungnya. Sementara, perzinaan tidak pernah
mengakibatkan adanya hubungan nasab anak terhadap bapaknya karena pezina hanya layak
diberi hukuman. Jika pernikahan sah, anak yang dilahirkan bernasab pada ibu dan bapaknya,
kecuali karena perzinahan anak hanya bernasab dengan ibunya.
Pasal 42 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan definisi bagi
anak yang sah yaitu anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.
Sedangkan Pasal 250 KUHPerdata menentukan bahwa tiap-tiap anak yang dilahirkan atau
ditumbuhkan sepanjang perkawinan, memperoleh si suami sebagai bapaknya. Berdasarkan
kedua ketentuan di atas, keabsahan suatu perkawinan sangat menentukan kedudukan hukum
dari anak-anak, anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan, memperoleh si
suami sebagai bapaknya. Berdasarkan kedua ketentuan di atas, keabsahan suatu perkawinan
sangat menentukan kedudukan hukum dari anak-anak.
B.

Kedudukan Anak Luar Kawin

Berdasarkan Pasal 280 KUHPerdata, seorang anak luar kawin akan memiliki hubungan
keperdataan dengan orang tuanya apabila telah diakui secara sah. Dengan demikian, apabila
seorang anak luar kawin tidak diakui oleh orang tuanya, maka ia tidak akan memiliki
hubungan keperdataan baik dengan bapak maupun ibu biologisnya.
Namun, menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan kedudukan anak
luar kawin demi hukum memiliki hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya,
sebagaimana diatur dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan. Hanya saja, dalam ayat (2) disebutkan bahwa Kedudukan anak luar kawin
tersebut akan diatur lebih lanjut dalam suatu peraturan pemerintah yang sampai sekarang
belum diundangkan oleh pemerintah.Dengan demikian, berdasarkan Pasal 66 Undang-Undang
No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka berlakulah ketentuan yang lama dalam hal ini
KUHPerdata.
Sehingga kedudukan anak luar kawin secara hukum setelah berlakunya Undang-Undang No.
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tetap diperlukan suatu pengakuan untuk menciptakan
hubungan keperdataan antara seorang anak luar kawin dengan orang tuanya.
Pengakuan terhadap anak luar kawin, dapat dilakukan dengan :
1. Pengakuan sukarela
Pengakuan sukarela yaitu : suatu pengakuan yang dilakukan oleh seseorang dengan cara yang
ditentukan undang-undang, bahwa ia adalah bapaknya (ibunya) seorang anak yang telah
dilahirkan di luar perkawinan). Dengan adanya pengakuan, maka timbulah hubungan Perdata
antara si anak dan si bapak (ibu) yang telah mengakuinya sebagaimana diatur dalam Pasal 280
KUHPerdata.
Pengakuan sukarela dapat dilakukan dengan cara-cara yang ditentukan dalam Pasal 281
KUHPerdata, yaitu :
a. Dalam akta kelahiran si anak Menurut Pasal 281 ayat (1) KUHPerdata, untuk dapat
mengakui seorang anak luar kawin bapak atau ibunya dan atau kuasanya berdasarkan kuasa
otentik harus menghadap di hadapan pegawai catatan sipil untuk melakukan pengakuan
terhadap anak luar kawin tersebut.
b. Pengakuan terhadap anak luar kawin dapat pula dilakukan pada saat perkawinan orang
tuanya berlangsung yang dimuat dalam akta perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 281
ayat (2). Jo Pasal 272 KUHPerdata. Pengakuan ini akan berakibat si anak luar kawin akan
menjadi seorang anak sah.
c. Pengakuan terhadap anak luar kawin dapat dilakukan dalam akta oteintik seperti akta
notaris sebagaimana diatur dalam Pasal 281 ayat (1) KUHPerdata.
d. Dengan akta yang dibuat oleh pegawai catatan sipil, yang dibutuhkan dalam register
kelahiran catatan sipil menurut hari Penanggalannya sebagaimana diatur dalam Pasal 281 ayat
(2) KUHPerdata.
2. Pengakuan Paksaan
Pengakuan anak luar kawin dapat pula terjadi secara paksaan, yakni dapat dilakukan oleh si
anak yang lahir di luar perkawinan itu, dengan cara mengajukan gugatan terhadap bapak atau
ibunya kepada Pengadilan Negeri, agar supaya anak luar kawin dalam arti sempit itu diakui
sebagai anak bapak atau ibunya, ketentuan ini diatur dalam Pasal 287-289 KUHPerdata.
Anak luar kawin yang dapat diakui adalah anak luar kawin dalam arti sempit, yaitu anak yang
terlahir dari ibu dan bapak yang tidak terikat perkawinan yang sah baik di antara mereka
maupun dengan orang lain (tidak tergolong anak zina atau anak sumbang).
Menurut KUHPerdata ahli waris yang berhak mewaris dapat dibagi menjadi 4 (empat)
golongan, yaitu :

a. Golongan I : Anak, atau keturunannya dan janda/duda, yang jumlah bagiannya ditetapkan
di dalam Pasal 852, 852a, 852b, dan 515 KUHPerdata.
b. Golongan II : Orang tua (bapak/ibu), saudara-saudara atau keturunannya, yang jumlah
bagiannya ditetapkan di dalam pasal 854, 855, 856, dan 857 KUHPerdata.
c. Golongan III : Kakek dan nenek, atau leluhur dalam garis lurus terus ke atas, yang jumlah
bagiannya ditetapkan di dalam Pasal 853, 858 ayat (1) KUHPerdata.
d. Golongan IV : Sanak keluarga di dalam garis menyamping sampai tingkat ke-6 yang
jumlah bagiannya ditetapkan di dalam Pasal 858 ayat (2), 861, 832 ayat (2), 862, 863, 864,
856 dan 866 KUHPerdata.
C. Peran Notaris dalam Pembuatan Akta Warisan untuk Anak Luar Kawin
Perjanjian-perjanjian yang dapat digunakan dan dibuat untuk menyelesaikan sengketa waris
apabila terdapat anak luar kawin adalah dengan membuat:
a. Akta Pembatalan, merupakan akta yang memuat kesepakatan para ahli waris untuk
membatalkan Akta Pembagian Waris yang telah pernah dibuat sebelumnya dan untuk
kemudian dibuat Akta Pembagian Waris yang baru, dalam akta ini anak luar kawin yang
dahulu belum masuk sebagai ahli waris, dicantumkan sebagai ahli waris dengan bagian sesuai
yang telah ditentukan oleh undang-undang;
b. Akta Perdamaian, akta ini merupakan kesepakatan ahli waris untuk menyelesaikan
sengketa waris dengan cara bermufakatan, dan membagi waris menurut undang-undang.
c. Akta Perjanjian Pelepasan Hak Tuntutan, pembuatan akta ini merupakan solusi dari
sengketa hak waris dalam pewarisan yang di dalamnya terdapat anak luar kawin yang dahulu
pada saat pembuatan Akta Pembagian Waris tidak masuk sebagai ahli waris dan tidak
memperoleh haknya. Akta Perjanjian Pelepasan Hak Tuntutan, dibuat tanpa membatalkan
Akta Pembagian Waris yang telah dibuat, melainkan dalam akta ini anak luar kawin tersebut
membuat pernyataan bahwa ia telah melepaskan segala haknya atas harta warisan dan tidak
akan menuntut ahli waris lainnya atas harta warisan. Dalam akta ini juga diperjanjikan untuk
itu si anak luar kawin mendapatkan kompensasi dari ahli waris yang lain sesuai dengan
kesepakatan di antara para ahli waris.
IV. Penutup.
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas, maka diakuinya anak luar
kawin (hasil biologis) sebagai anak yang sah berarti akan mempunyai hubungan waris dengan
bapak biologisnya tanpa harus didahului dengan pengakuan dan pengesahan, dengan syarat
dapat dibuktikan adanya hubungan biologis antara anak dan bapak biologis berdasarkan ilmu
pengetahuan, misalnya melalui hasil tes DNA. Namun demikian, apabila ada penyangkalan
mengenai anak luar kawin ini dari anak-anak ahli waris yang sah, maka menurut saya dalam
hal ini tetap perlu dimohonkan Penetapan Pengadilan mengenai status anak luar kawin
tersebut sebagai ahli waris yang sah.
Mengharapkan pemerintah dengan putusan MK tersebut membuat sinkronisasi hukum dan
peraturan perundang undangan yang berkaitan dengan perkawinan menurut agama dan
kepercayaannya sehingga tidak menimbulkan pendapat/ opini yang tumpang tindih yang
menimbulkan banyak masalah baru dan diharapkan penegakkan hukum serta rasa keadilan
dimasyarakat dapat terwujud.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep hukum progesif merupakan hukum yang memanusiakan manusia. Hukum
progresif merupakan hukum yang hasil dari nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.
Dalam hal ini Satjipto Raharjo berpendapat bahwa hukum progresif mempunyai cita-cita
yang besar dalam kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.[1]
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 46/PUU-VII/2010 menyatakan bahwa
mengabulkan sebagian dari gugatan yang diajukan oleh Hj. Aisyah Mochtar alias Machicha
binti H. Mochtar Ibrahim.[2] Judicial review yang dilakukan atas Pasal 43 ayat (1) UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam putusan Mahkamah Konstitusi
tersebut mempunyai nilai-nilai yang bersifat progresif. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasca judicial review berbunyi, Anak yang
dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga
ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan
darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. Ketika memutus perkara

tersebut terjadi concuring opinion. Pendapat hakim konstitusi Maria Farida Indrati bahwa
secara teoritis norma agama atau kepercayaan tidak dapat dipaksakan oleh negara untuk
dilaksanakan, karena norma agama atau kepercayaan merupakan wilayah keyakinan
transedental yang bersifat privat, yaitu hubungan antara manusia dengan penciptanya;
sedangkan norma hukum dalam hal ini Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, merupakan ketentuan yang dibuat oleh negara sebagai perwujudan kesepakatan
warga atau masyarakat dengan negara sehingga dapat dipaksakan keberlakuannya oleh
negara.[3]
Fakta yang terjadi selama ini kedudukan anak diluar nikah lemah dimata hukum, dan
tidak ada lembaga yang melindungi anak-anak diluar nikah tersebut. Pasca putusan
Mahkamah Konstitusi tersebut banyak terjadi pro dan kontra di dalam masyarakat Indonesia.
Mereka yang pro menilai putusan Mahkamah Konstitusi memberikan jaminan dan
perlindungan bagi anak luar kawin. Karena sebelum putusan Mahkamah Konstitusi itu, anak
luar kawin hanya punya hubungan dengan ibu dan keluarga sang ibu. Pandangan kontra
memandang putusan Mahkamah Konstitusi tersebut seakan melegalkan perzinaan.[4]
Mencermati fenomena tersebut penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut
dalam karya tulis yang berjudul Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
46/PUU-VII/2010 Mengenai Pengakuan Secara Hukum Hubungan Perdata Terhadap
Anak Diluar Perkawinan Berdasarkan Perspektif Hukum Progresif.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis merumuskan permalahan
sebagai berikut :
1. Apakah putusan hakim Mahkamah Konstitusi Nomor: 46/PUU-VII/2010 telah mengacu
2.

pada konsepsi hukum progresif ?


Bagaimanakah implikasi putusan hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VII/2010
terhadap pengakuan secara hukum hubungan perdata anak di luar nikah?

A.

PEMBAHASAN
Penegakan Hukum Progresif Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PuuVii/2010 Mengenai Judicial Review Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 Tentang Perkawinan Terhadap Hak-Hak Keperdataan Anak Di Luar Nikah
Pengajuan uji materi oleh Hj. Aisyah Mochtar alias Machica binti H. Mochtar Ibrahim
terhadap Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan tersebut bermula dari hubungan pernikahan siri Hj. Aisyah Mochtar alias
Machica binti H. Mochtar Ibrahim dengan Moerdiono pada tanggal 20 Desember 1993 dan
dilahirkan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Iqbal Ramadhan. Tujuan Hj. Aisyah
Mochtar alias Machica binti H. Mochtar Ibrahim mengajukan hak uji materil ke Mahkamah
Konstitusi, yakni agar Muhammad Iqbal Ramadhan mendapat status hukum tetap dan diakui
oleh keluarga Moerdiono. Hj. Aisyah Mochtar alias Machica binti H. Mochtar Ibrahim
terpaksa mencari keadilan setelah keberadaan Muhammad Iqbal Ramadhan tidak diakui
Moerdiono, juga mengabaikan hak-hak perdata Muhammad Iqbal Ramadhan, seperti uang
bulanan sebagai biaya hidup dan biaya sekolah.[5]
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang (UU) Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 sebelum judicial
review berbunyi Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai
hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Tidak adil ketika hukum

menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar
perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya saja. Hal
ini menimbulkan ketidakadilan bagi si anak. Anak yang lahir di luar nikah itu posisinya
rawan, tidak berdosa. Tapi dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1
Tahun 1974 anak dan ibunya yang menanggung beban moral, yang seharusnya itu adalah
tanggung jawab ayah biologisnya juga. Selain itu, tidak adil pula ketika Pasal 43 ayat (1)
tersebut membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang menyebabkan
terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang
bapak dan bersamaan dengan itu hukum meniadakan hak-hak anak terhadap lelaki tersebut
sebagai bapaknya. Pokok permasalahan hukum mengenai anak yang dilahirkan di luar
perkawinan adalah mengenai makna hukum (legal meaning) frasa yang dilahirkan di luar
perkawinan. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 sebelum
uji materi, memberikan pembedaan hukum bagi anak di luar nikah dengan anak dari hasil
pernikahan yang sah. Hal tersebut jelas bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B ayat (2).
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 pasal 2 ayat (3) dan (4) tentang Kesejahteraan
Anak mendorong perlu adanya perlindungan anak dalam rangka mengusahakan kesejahteraan
anak dan perlakuan yang adil terhadap anak.Perlindungan anak merupakan suatu usaha yang
mengadakan kondisi dimana setiap anak dapat malaksanakan hak dan kewajibannya.
Perlindungan anak merupakan perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat. Dengan
demikian, maka perlindungan anak harus diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan
bernegara dan bermasyarakat.
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 sebelum uji materi,
memberikan pembedaan hukum bagi anak di luar nikah dengan anak dari hasil pernikahan
yang sah. Hal tersebut jelas bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B ayat (2), Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan mengindikasikan adanya diskriminasi
antara anak yang lahir di luar nikah hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibunya
dan keluarga ibunya. Sedangkan anak yang lahir atas ikatan pernikahan, mempunyai
hubungan keperdataan dari ayah dan ibunya. Anak di luar nikah mendapatkan pembatasan
hukum, khususnya dalam hal hubungan keperdataan dengan ayah biologisnya, yang
seharusnya setiap anak harus di lindungi hak-haknya.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 4 berbunyi,
Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi. Namun dalam kondisi riil kehidupan bermasyarakat, anak yang lahir di
luar nikah lemah dimata hukum, dan tidak ada lembaga yang melindungi anak-anak diluar
nikah tersebut.
Letak nilai-nilai progresivisme dalam hal ini pada pertimbangan-pertimbangan hakim
pada putusan tersebut. Dalam hal ini hakim-hakim Mahkamah Konstitusi melakukan
pengujian bukan hanya berdasar pada Pasal-Pasal yang tertulis didalam Undang-undang
Dasar akan tetapi pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut juga mengambil dari living
law atau hukum yang hidup didalam masyarakat.
Mengenai permohonan pemohon mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 1
tahun1974 tentang perkawinan pada Pasal 43 ayat (1) diterima dalam hal ini Mahkamah
Konstitusi dikabulkan dengan penasiran pada Pasal tersebut telah menimbulkan diskriminasi
pada perkembangan psikologis anak diluar nikah dan kepastian hukum tentang identitas anak
diluar nikah. Keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut membuat terobosan baik dalam hal

hukum positif dan hukum yang hidup dalam perkembangan masyarakat demi terciptanya
keadilan bagi perlakuan anak diluar nikah. Ini yang merupakan salah satu ciri konsep hukum
progresif yang bahwa hukum harus peka dengan aspek-aspek lain diluar lingkup hukum itu
sendiri. Dan hukum harus mampu menciptakan pertimbangan-pertimbangan hukum diluar
konteks hukum positif atau terobosan-terobosan guna mewujudkan keadilan sosial.
B.

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 dalam penegakan


administrasi kependudukan terhadap hak-hak keperdataan anak
Sebagai contoh permberlakuan hukum progresif yang nyata dalam ranah hukum yakni
putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang perkawinan pada pasal 43 ayat (1) . bahwa dalam hal ini terdapat penjaminan hak
keperdataan untuk anak diluar nikah.Putusan Mahkamah Konstitusi ini mempunyai dampak
yang luas terhadap hak-hak keperdataan anak. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undag Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan ini bertentangan dengan UUD 1945.
Isi dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut adalah bahwa Pasal 43 ayat (1) UndangUndnag Nomor 1 Tahun 1974 tidak mempunyai kekuatan mengikat sepanjang dibuktikan
bahwa laki-laki itu ayahnya menurut ilmu pengetahuan. Sehingga dari putusan ini otomatis
berefek kepada administrasi kependudukan anak di luar nikah yang secara tidak langsung
berdampak pada hak-hak keperdataan anak seperti hak waris, hak nafkah, dan hak pengakuan
atas identitas. Berdasarkan putusan tersebut terdapat implikasi yang meliputi penjaminan
hak-hak anak di luar nikah baik dari segi hukum positif Indonesia maupun hukum Islam, dan
hukum progresif.
Putusan Mahkmah Konstitusi ini berdampak pada administrasi kependudukan anak di
luar nikah tersebut. Di Indonesia, administrasi kependudukan diatur dalam Undang-undang
Nomor 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan[6] (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 124 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia).
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi ini maka ayah anak di luar nikah selama si
anak dapat membuktikan dengan ilmu pengetahuan atau secara biologis maka akan masuk ke
dalam administrasi kependudukan yang berarti ayah si anak di luar nikah akan tercatat
didalam akta kelahiran dan identitas dari anak diluar nikah tersebut. Adanya pencatatan sipil
ini dapat menjamin kepastian hukum bagi si anak sehingga keadilan bagi si anak untuk
mendapatkan hak-hak sebagai anak dapat diakui.
Pengakuan anak menurut Penjelasan Pasal 49 ayat (1) Undang-undang Nomor 23
Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan ialah pengakuan seorang ayah terhadap
anaknya yang lahir di luar perkawinan sah atas persetujuan ibu kandung anak tersebut.
Adanya putusan Mahkamah Konstitusi ini berakibat pada pergeseran pengertian serta maksud
dan tujuannya. Dengan adanya pengakuan ayahnya terhadap anak di luar nikah maka anak
tersebut dapat menggunakan nama keluarga ayahnya. Menurut Pasal 39 Burgerlijk Wetboek,
anak yang masih minderjaring(di bawah umur/ belum dewasa) yang sudah diakui, jika ia
berkehendak untuk kawin, tetap memerlukan izin dari ayah yang telah mengakuinya dan dari
ibunya.
Meskipun Anak luar kawin dapat diakui selain dengan cara pengakuan anak tetapi
melalui hal lain yang telah diatur dalam KUHPerdata seperti pengesahan anak. Pengesahan
anak luar kawin adalah suatu upaya hukum (rechtsmiddel) untuk memberikan suatu
kedudukan (status) sebagai anak sah melalui perkawinan yang dilakukan oleh orang
tuanya[7]. Namun Pasal 283 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa anak
zina (overspeligkind) tidak mungin atau tidak dapat diakui secara sah, meskipun orang tuanya
kawin di kemudian hari. Di samping itu, anak sumbang pun tidak dapat diakui secara sah,
kecuali orang tuanya melangsungkan perkawinan setelah memperoleh dipensasi dari

Presiden. Oleh karena pengakuan dilakukan pada saat perkawinan dilangsungkan (Pasal 283
yo. 273 Kitab Undang-undang Hukum Perdata). Walaupun anak luar nikah yang dimaksud
Burgerlijk Wetboek dengan anak di luar nikah yang dimaksud Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 46/PUU-VIII/2010 berbeda namun kedua-duanya menyangkut anak hasil zina. Jika
maksud dari Burgerlijk Wetboek bahwa anak di luar nikah ialah anak zina[8] atau anak
sumbang[9], anak di luar nikah menurut Mahkamah Konstitusi ini tidak hanya anak zina
namun juga anak hasil hubungan gelap akibat hubungan seksual yang dilakukan tanpa
ikatan perkawinan baik secara undang-undang maupun agama.
Sebenarnya pengakuan anak terhadap anak di luar nikah telah diatur dalam peaturan
perundang-undangan lain melalui pengakuan anak. Namun, sebagai upaya adanya hubungan
hukum antara anak dengan orang tuanya maka pengakuan anak harus ada kesukarelaan dari
ayah atau bapaknya untuk mengakuinya dan persetujuan dari ibunya. Berbeda halnya dalam
putusan MK ini, tidak memerlukan kesukarelaan dari ayahnya ataupun persetujuan ibunya
melainkan si anak lah yang harus berusaha untuk mebuktikan dengan ilmu pengetahuan atau
secara biologis terhadap ayahnya.
Setiap anak mempunyai hak mendapatkan perlindungan akan segala hal, termasuk di
dalamnya hak mendapatkan identitas diri. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi
mengenai judicial review Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
tersebut akan ada perubahan penyebutan didalam akta kelahiran anak diluar nikah, ini untuk
menjaga perkembangan kejiwaan anak, tanpa menghiraukan bagaimana proses ia dilahirkan.
akta kelahiran sangat dibutuhkan bagi seorang anak. Baik untuk kepentingan sekolah atau
yang lainnya. Undang Undang No 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak juga mengatur
hal ini.[10]
Upaya memberi akta kelahiran untuk anak di luar nikah, adalah untuk menghormati
kepentingan dan hak seorang anak. Pertimbangan tersebut diambil dengan alasan terlepas dari
soal prosedur / administrasi perkawinannya, anak yang dilahirkan harus mendapat
perlindungan hukum. Jika tidak demikian, maka yang dirugikan adalah anak yang dilahirkan
di luar perkawinan, padahal anak tersebut tidak berdosa karena kelahirannya di luar
kehendaknya.
Namun apabila di dalam akta kelahiran anak dicantumkan ada kata-kata anak di luar
nikah yang sah atau kata-kata yang dipersamakan dengan hal tersebut maka dapat berdampak
pada psikologis anak. Pada saatnya nanti ketika anak-anak menjalani masa sekolah,
berinteraksi dengan temannya maka dapat saja anak di luar nikah ini diejek oleh temannya.
Pengakuan anak di luar pernikahan yang sah memberikan hak keperdataan bagi anak
yang selama ini tidak diakui negara. Dengan diakuinya hak keperdataan anak di luar nikah ini
maka anak akan mendapatkan hak waris tidak hanya dari ibunya melainkan juga dari
bapaknya. Walaupun memang istilah keperdataan tidak bisa otomatis dianggap mempunyai
hubungan nasab (keturunan) antara anak luar kawin dengan ayah biologisnya, namun putusan
Mahkamah Konstitusi ini ditafsirkan sampai ke arah tersebut.
Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Judicial Review Pasal 43 ayat (1) Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berarti mengakui adanya anak di luar
nikah. Dengan diakuinya anak di luar nikah ini berdampak pada hak-hak keperdataan anak di
luar nikah ini harus diakui. Sebenarnya pengaturan mengenai anak luar kawin terdapat dalam
Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang tertuang dalam Pasal 862 yaitu: Jika si
meninggal meninggalkan anak-anak di luar nikah yang telah diakui dengan sah, maka
warisan harus dibagi dengan cara yang ditentukan dalam empat pasal berikut. Dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata pembagian waris bagi anak di luar nikah ialah sepertiga dari
bagian yang mereka sedianya harus mendapatnya andai kata mereka anak yang sah. Anak di
luar nikah mendapatkan warisansetengah dari warisan apabila si meninggal tak
meninggalkanketurunan maupun suami atau isteri akan tetapi meninggalkan keluarga sedarah

dalam garis ke atas maupun saudara laki atau perempuan atau keturunan mereka. Hal ini
tertuang dalam Pasal 863 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Walaupun anak luar kawin
telah diakui dengan sah namun tetap ada pembedaan porsi warisan dibandingkan dengan anak
hasil perkawinan sah.
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi ini maka apabila anak di luar nikah ini
terbukti melalui ilmu pengetahuan bahwa merupakan anak pewaris maka anak tersebut
mempunyai hak waris. Namun menurut penulis hak waris yang diberikan kepada anak di luar
nikah besarnya tidak sama dengan anak dari perkawinan yang sah seperti halnya yang
terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dimana anak luar nikah yang sah hanya
mempunyai hak waris maksimal sepertiga dari bagian anak sah. Hal ini juga demi rasa
keadilan bagi anak sah walaupun dirasa kurang memihak pada anak di luar
nikah.Pelaksanannya karena untuk memperoleh surat keterangan warisan diperlukan kartu
keluarga sedangkan anak di luar nikah yang dimaksud putusan MK Nomor 46/PUUVIII/2010 kedua orang tuanya tidak menikah sehingga tidak mempunyai kartu keluarga maka
dapat dilaksanakan dengan menggunakan penetepan pengadilan yang kemudian dapat
diturunkan ke surat keterangan warisan. Namun, sekarang ini belum ada peraturan pelaksana
dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.
Implikasi dari adanya putusan MK tersebut ialah pengadilan dapat kebanjiran putusan
MK tersebut baik pengadilan agama bagi penganut agama Islam maupun pengadilan negeri
bagi penganut agama non-Islam mengenai anak luar kawin untuk memperoleh hak waris
setelah bapaknya ditetapkan sebagai ayah biologisnya lewat sidang permohonan penetapan
pengesahan asal-usul anak. Namun hubungan hukum ini belum menjawab mengenai
kepastian timbulnya hak-hak keperdataan baru akibat dari Putusan Mahkamah Konstitusi
tersebut.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan tersebut penulis merumuskan simpulan sebagai berikut:
1. Bahwa putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 46/PUU-VII/2010 mengenai pengujian
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

mengandung nilai-nilai

progresivisme. Nilai-nilai tersebut terdapat dalam penafsiran-penafsiran hukum yang


dilakukan oleh hakim Mahkamah Konstitusi dalam mengambil putusan atas permohonan
pengujian Undang-undang perkawinan tersebut. Mahkamah Konstitusi tidak sekedar
memutuskan dengan pertimbangan-pertimbangan hukum positif saja melainkan menilik atas
hukum-hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) dan norma-norma hukum bahkan
asas-asas hukum demi menciptakan keadilan bagi kedudukan anak diluar nikah.
2. Dengan progresivisme yang dianut oleh Mahkamah Konstitusi dalam putusan terhadap
pengujian Pasal 43 ayat (1) Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tersebut
menimbulkan implikasi yang menuai kritik dari masyarakat. Namun putusan tersebut
merupakan titik tolak awal dalam perlindungan anak diluar nikah terhadap kesetaraan hak
dengan anak-anak lain. Dalam putusan Mahkamah Kontsitusi berarti anak dapat
mendapatkan pengakuan namun yang berusaha membuktikan adalah anak. Implikasinya
dalam hal ini harus ada penyetaraan pengakuan anak yang diluar nikah dalam administrasi

kependudukan. Namun efek domino akan tetap berlanjut dengan konsekuensi hak anak
lainnya ketika pengakuan tersebut diberlakukan, seperti contohnya hak waris dan hak
pemenuhan terhadap kesejahteraan hidup sang anak. Untuk itu progresivisme yang dilakukan
oleh Mahkamah Konstitusi yang merupakan wujud perlindungan terhadap anak-anak diluar
nikah tetap saja perlu pengutaraan dan pembatasan lebih lanjut mengenai pelaksanaan dari
peraturan tersebut.
B. Rekomendasi
Negara Indonesia merupakan negara yang majemuk dalam hal kebudayaan dan agama maka
pro-kontra yang mewarnai putusan judicial review. Undang-undang Perkawinan tersebut
harus disikapi secara benar dan bijak agar tidak menimbulkan keretakan dalam kehidupan
bernegara. Sehingga pembuatan peraturan yang mengatur mengenai ketentuan pelaksana dari
putusan tersebut dengan disertai penundukan hukum terhadap Warga Negara yang ingin
menyelesaikan permasalahan tersebut secara hukum agama ataupun dengan ketentuan
peraturan hukum positif. Sehingga peraturan tersebut dapat dilaksanakan dan dapat
berkonsolidasi demi kepentingan bersama.