Anda di halaman 1dari 14

Kegawatdaruratan pada Pasien Psikiatri

Kedaruratan Psikiatri Adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan
seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera. Diantaranya yang sering adalah
SUICIDE (BUNUH DIRI) . VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAVIOR

(PERILAKU

KEKERASAN DAN MENYERANG).


Gangguan bipolar, juga dikenal sebagai manik-depresif, adalah gangguan otak yang
menyebabkan perubahan yang tidak biasa dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan
kemampuan

untuk

melaksanakan

tugas

sehari-hari. Gejala

gangguan

bipolar

dapat

mengakibatkan hubungan yang dapat merusak, pekerjaan atau kinerja sekolah, dan bahkan
bunuh diri. Tapi gangguan bipolar dapat diobati, dan orang-orang dengan penyakit ini dapat
menyebabkan hidup produktif. Gangguan bipolar sering berkembang pada remaja sebelum usia
25tahun. Orang dengan gangguan bipolar mungkin memiliki periode fungsi normal atau
mendekati normal antara episode.
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan
menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan
adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan
hipomanik dan depresi. Gangguan bipolar mendasari satu spektrum kutub dari gangguan
mood/suasana perasaan meliputi :
1. Bipolar I (BP I)
2. Bipolar II (BP II)
3. Siklotimia (periode manic dan depresif yang bergantian/naik-turun)
4. Depresi yang hebat
Sedangkan berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan
tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian
suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu
lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi).
Gejala yang khas adalah terdapat penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik
biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan
depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1

tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah
peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lain.
B. Etiologi
Etiologi dari gangguan bipolar memang belum dapat diketahui secara pasti, dan tidak ada
penanda biologis (biological marker) yang objektif yang berhubungan secara pasti dengan
keadaan penyakit ini, tetapi diduga berkaitan dengan virus yang menyerang otak. Serangan virus
berlangsung semasa janin dalam kandungan atau di tahun pertama sesudah lahir. Namun, baru
15-20 tahun kemudian mewujud menjadi bipolar. Itu karena pada usia 15 tahun kelenjar timus
dan pinealis yang mengeluarkan hormon yang dapat mencegah gangguan psikiatrik hebat sudah
berkurang menjadi 50 persen.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut
yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24,
18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata
penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar. Tetapi
penyebab dari gangguan bipolar ini dapat dikatakan multifaktor Mencakup aspek biopsikososial.
Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara
psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres
kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.
Jika penyabab utamanya faktor sosial, stres akibat beratnya kehidupan yang
berkepanjangan, bisa jadi banyak penderita Bipolar di lingkungan kita. Meskipun belum ada
survei valid, namun faktanya penderita ganggunan jiwa, depresi, kasus bunuh diri terus saja
bertambah. Karena itu mereka yang bunuh diri kebanyakan masuk kategori ganggunan kejiwaan
yang belum diketahui.

C. Faktor Resiko
1. Ras
Tidak ada kelompok ras tertentu yang memiliki predileksi kecenderungan terjadinya
gangguan ini. Namun, berdasarkan sejarah kejadian yang ada, para klinisi menyatakan bahwa
kecenderungan tersering dari gangguan ini terjadi pada populasi Afrika-Amerika.
2. Jenis Kelamin

Angka kejadian dari BP I, sama pada kedua jenis kelamin, namun rapid-cycling bipolar
disorder (gangguan bipolar dengan 4 atau lebih episode dalam setahun) lebih sering terjadi pada
wanita dibandingkan pria. Insiden BP II lebih tinggi wanita daripada pria.
3. Usia
Usia individu yang mengalami gangguan bipolar ini bervariasi cukup besar. Rentang usia
dari keduanya, BP I dan BP II adalah antara anak-anak hingga 50 tahun, dengan perkiraan ratarata usia 21 tahun. Kasus ini terbanyak pada usia 15 19 tahun, dan rentang usia terbanyak
kedua adalah pada usia 20 24 tahun. Sebagian penderita yang didiagnosa dengan depresi hebat
berulang mungkin juga mengalami gangguan bipolar dan baru berkembang mengalami episode
manic yang pertama saat usia mereka lebih dari 50 tahun. Mereka mungkin memiliki riwayat
keluarga yang juga menderita gangguan bipolar. Sebagian besar penderita dengan onset manic
pada usia lebih dari 50 tahun harus dilakukan penelusuran terhadap adanya gangguan neurologis
seperti penyakit serebrovaskular. Gangguan bipolar juga dipengaruhi oleh beberapa faktor,
meliputi genetik, biokimiawi, psikodinamik dan lingkungan.
4. Genetik
Gangguan bipolar, terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang
mengindikasikan adanya peran dari faktor genetik dari gangguan bipolar terdapat beberapa
bentuk, antara lain : Hubungan keluarga inti dengan orang yang menderita BP I diperkirakan 7
kali lebih sering mengalami BP I dibandingkan populasi umum. Perlu digaris-bawahi, keturunan
dari orang tua yang menderita gangguan bipolar memiliki kemungkinan 50 % menderita
gangguan psikiatrik lain. Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan hubungan 33 90 %
menderita BP I dari saudara kembar yang identik. Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan
bahwa lingkungan umum bukanlah satu-satunya faktor yang membuat gangguan bipolar terjadi
dalam keluarga. Anak dengan hubungan biologis pada orang tua yang menderita BP I atau
gangguan depresif hebat memiliki resiko yang lebih tinggi dari perkembangan gangguan afektif,
bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orang tua yang mengadopsi dan
tidak menderita gangguan. Cardno dan kawan-kawan di London menunjukkan bahwa
skizofrenia, skizoafektif, dan sindrom manic berbagi faktor resiko genetik dan genetik yang
bertanggung jawab terhadap gangguan skizoafektif seluruhnya secara umum juga terdapat pada
dua sindrom yang lain tadi. Penemuan ini menimbulkan dugaan suatu genetik tersendiri
bertanggungjawab pada psikosis berbagi dengan gangguan mood dan skizofrenia. Tsuang dan
kawan-kawan mengindikasikan adanya kontribusi genetik pada MDI dengan gambaran psikotik,
serta menunjukkan adanya hubungan antara skizofrenia dan gangguan bipolar. Studi tentang
ekspresi gen juga menunjukkan orang dengan gangguan bipolar, depresif berat, dan skizofrenia
mengalami penurunan yang sama dalam ekspresi dari gen hubungan oligodendrosit-myelin dan

abnormalitas substansia nigra pada bermacam daerah otak. Sebuah penelitian terbaru
menyimpulkan, saat orangtua memiliki kelainan bipolar, maka anak-anak mereka berisiko
terkena kelainan kejiwaan juga. Dr Boris Birmaher dan rekan-rekannya dari University of
Pittsburgh Medical Center yang menuliskan laporan ini dalam Archives of General Psychiatry.
Mereka mengungkapkan, hasil penelitiannya sebagai indikasi perlunya identifikasi dan
perawatan dini bagi anak-anak yang orangtuanya mengalami gangguan bipolar.
Hasil penelitian dari The Pittsburgh Bipolar Offspring Study diujicobakan pada 388
anak dari 233 orangtua yang memiliki kelainan bipolar. Sementara itu, 251 anak lainnya dari 143
orangtua yang tidak memiliki kelainan bipolar. Hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan
orangtua yang memiliki kelainan bipolar berisiko 13 kali lebih besar terkena penyakit yang sama
seperti orangtua mereka dibandingkan anak yang orangtuanya tidak memiliki kelainan bipolar.
5. Biokimiawi
Multipel jalur biokimiawi mungkin berperan pada gangguan bipolar, hal ini yang
menyebabkan sulitnya mendeteksi suatu abnormalitas tertentu.Beberapa neurotransmitter
berhubungan dengan gangguan ini, sebagian besar didasrkan pada respon pasien terhadap agenagen psikoaktif. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara glutamat dengan
gangguan bipolar dan depresi berat. Studi postmortem dari lobus frontal dengan kedua gangguan
menunjukkan

peningkatan

level

glutamat.

Obat

tekanan

darah

reserpin,

yang

menghabiskan/mendeplesikan katekolamin pada saraf terminal telah tercatat menyebabkan


depresi. Ini berpedoman pada hipotesis katekolamin yang berpegang pada peningkatan epinefrin
dan norepinefrin menyebabkan manic dan penurunan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan
depresi.
Obat-obatan seperti kokain, yang juga bekerja pada sistem neurotransmitter ini
mengeksaserbasi terjadinya manic. Agen lain yang dapat mengeksaserbasi manic termasuk Ldopa, yang menginhibisi reuptake dopamin dan serotonin. Gangguan dan ketidakseimbangan
hormonal dari aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, menggangu homeostasis dan menimbulkan
respon stres yang juga berperan pada gambaran klinis gangguan bipolar. Antidepresan trisiklik
dapat memicu terjadinya manik.
6. Psikodinamik
Banyak praktisi melihat dinamika MDI sebagai suatu hal yang berhubungan melalui
suatu jalur. Mereka melihat depresi sebagai manifestasi dari suatu kehilangan, contohnya
hilangnya pegertian terhadap diri dan adanya perasaan harga diri rendah. Oleh karena itu, manik
timbul sebagai mekanisme defens dalam melawan rasa depresi (Melanie Klein)
7. Lingkungan

Pada beberapa kejadian, suatu siklus hidup mungkin berkaitan langsung dengan stres
eksternal atau tekanan eksternal yang dapat memperburuk berulangnya gangguan pada beberapa
kasus yang memang sudah memiliki predisposisi genetik atau biokimiawi. Kehamilan
merupakan stres tertentu bagi wanita dengan riwayat MDI dan meningkatkan kemungkinan
psikosis postpartum. Contoh lain, oleh karena sifat pekerjaan, beberapa orang memiliki periode
permintaan yang tinggi diikuti periode kebutuhan yang sedikit. Hal ini didapati pada seorang
petani, dimana ia akan sangat sibuk pada musim semi, panas, dan gugur, namun selama musim
dingin akan relatif inaktif kecuali membersihkan salju, sehingga ia akan tampak manic pada
hampir sepanjang tahun dan tenang selama musim dingin. Hal ini menunjukkan lingkungan juga
dapat berpengaruh terhadap keadaan psikiatri seseorang.

E. Tanda dan Gejala


Diagnosis dari BP I ditegakkan dengan setidaknya terdapat episode manic paling tidak
dengan durasi 1 minggu yang mengindikasikan penderita untuk dirawat inap atau kelainan lain
yang signifikan dalam fungsi okupasi dan sosial. Episode manic bukan disebabkan oleh penyakit
medis lain atau penyalahgunaan zat. Kriteria ini berdasarkan spesifikasi dari Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR).
1. Episode manic ditandai oleh gejala-gejala berikut ini :
Setidaknya terdapat 1 minggu gangguan mood yang dalam, yang ditandai dengan suasana
perasaan yang meningkat (elasi), mudah marah (iritabel), atau adanya keinginan untuk keluar
rumah.
2. Gejala lain yang menyertai antara lain (paling tidak 3 atau lebih): Perasaan kebesaran; gangguan
tidur; nada suara yang tinggi dan bicara berlebihan; flight of ideas; menghilangkan bukti
kekacauan pikiran; meningkatnya tingkat fokus kerja di rumah, tempat kerja atau seksual;
meningkatnya aktivitas yang menyenangkan dan bahkan yang memiliki konsekuensi
menyakitkan.
3. Gangguan mood cukup untuk membuat kerusakan di tempat kerja, membahayakan pasien atau
orang lain.
4. Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena

gangguan medis lain. Gejala lain seperti :


aktivitas meningkat, ekspansif

mudah tersinggung

hiperaktivitas

berbicara sangat cepat

ide meloncat-loncat

kebutuhan tidur berkurang

harga diri berlebihan

perhatian mudah teralihkan

memiliki pertimbangan buruk dan suasana hati yang tidak aman

sikap berlebihan (misalnya gila belanja dan seks tidak aman).

a. Episode hipomanik ditandai oleh gejala-gejala berikut :


Penderita mengalami suasana perasaan yang meningkat (elasi), adanya keinginan untuk keluar
rumah, atau mudah marah (iritabel) setidaknya selama 4 hari.
Paling tidak terdapat 3 atau lebih gejala-gejala berikut ini : Perasaan kebesaran atau mengagumi
diri sendiri; gangguan tidur; nada suara tinggi; flight of ideas; menghilangkan bukti kekacauan
pikiran; agitasi psikomotor di rumah, tempat kerja atau seksual; mulai melakukan aktivitas
dengan resiko tinggi terhadap konsekuensi yang menyakitkan.
Gangguan mood tampak oleh orang lain.
Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena
gangguan medis lain.
b. Episode depresif ditandai dengan gejala-gejala berikut :
Karena sebab yang sama selama 2 minggu, dengan paling tidak terdapat gejala perasaan depresi
atau ditandai dengan kehilangan kesenangan atau perhatian, setidaknya pada seseorang terdapat
5 atau lebih gejala berikut ini : Perasaan depresi/tertekan; penurunan perasaan senang dan minat
pada hampir semua aktivitas; penurunan berat badan yang signifikan dan selera; hipersomnia
atau insomnia; retardasi psikomotor atau agitasi; kehilangan energi atau kelemahan; penurunan
daya konsentrasi; preokupasi dengan kematian atau bunuh diri, penderita memiliki rencana untuk
bunuh diri atau telah melakukan bunuh diri tersebut.
Gejala-gejala tersebut menyebabkan kerusakan dan distress.
Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena
gangguan medis lain.
c. Episode campuran ditandai dengan gejala-gejala berikut ini :
Pada penderita harus terdapat kedua kriteria baik manic maupun depresi, dengan gejala depresi
hanya terjadi selama 1 minggu.
Gangguan mood mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi sosial dan kerja.
Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena
gangguan medis lain.

F. Pemeriksaan Fisik
Menggunakan Mental Status Examination (MSE) untuk mendiagnosis adanya gangguan
bipolar. Status mental penderita tergantung pada keadaan depresi, hipomanic, manic, atau
campuran, dengan variasi area MSE ditandai sesuai dengan fase tertentu dari penderita.
1. Penampilan
a) Periode depresi : Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit
sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor, berlubang, kumal,
serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang kehilangan berat badan secara signifikan,
ukuran pakaiannya tidak akan cocok. Kebersihan diri tercermin dari mood mereka yang rendah,
yang ditunjukkan dengan badan yang kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada
wanita, kuku jari tangannya mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau sebagian warna
yang rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada tangannya. Rambut mereka
juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek depresi jelas terlihat. Mereka bergerak dengan
lambat dan sangat sedikit yang menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka juga berbicara
dengan suara yang pelan atau suara yang monoton.
b) Episode hipomanic : Penderita ini sangat sibuk dan aktif. Mereka memiliki energi dan selalu
kemana-mana. Mereka selalu berencana melakukan sesuatu, sebagian mengalami perubahan
tingakat energi dan suasana hati (Keck, 2003).
c) Episode manik : Pada banyak kasus, perilaku penderita dengan fase manic menunjukkan
perilaku yang berlawanan dengan penderita dengan fase depresi. Penderita fase manic
menunjukkan keadaan hiperaktif dan hipervigilasi. Mereka kurang istirahat, bertenaga, aktif,
serta berbicara dan bertindak cepat. Pakaian mereka mencerminkan keadaan itu, dimana terlihat
dikenakan dengan tergesa-gesa dan kacau. Pakaian mereka biasanya terlalu terang, penuh warna,
serta mencolok. Mereka berdiri di keramaian dan menjadi menonjol karena pakaian mereka yang
sering menarik perhatian.
2. Afek atau Suasana Hati
a) Episode depresi: Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode depresi.
Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi. 2 Hs sering menyertai
suasana hati penderita, tanpa pengahrapan dan semua terasa sia-sia.
b) Episode hipomanic: Suasana hati penderita meningkat, meluas dan peka.
c) Episode manic: Suasana hati penderita tampak menggembirakan, dan bahkan berlebihan.
Euphoria. Penderita sangat mudah marah.
d) Episode campuran: penderita menunjukkan gejala kedua episode (depresi dan manic) dalam
suatu periode singkat (1 minggu atau kurang).

3. Pikiran
a) Episode Depresi: Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka.
Gagasan yang negatif, perhatian nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah bahwa mereka
bagaikan gelas yang separuh kosong. Pemikiran mereka lebih berfokus tentang kematian dan
tentang bunuh diri.
b) Episode Hipomanik: Penderita mempunyai pemikiran yang optimis, berpikir ke depan dan
mempunyai sikap yang positif.
c) Episode Manik: Penderita mempunyai pemikiran yang sangat opimis dan luas. Percaya diri yang
berlebihan. Mereka dapat dengan cepat membuat pemikiran/gagasan. Mereka merasa pemikiran
mereka sangat aktif dan aktif.
d) Episode Campuran: Penderita dapat berubah secara cepat antara depresi dan euforia dan meraka
juga mudah marah.
4. Persepsi
Episode Depresi: Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa
psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang sesuai atau tidak
dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa, bersalah, dan merasakan penyesalan yang
snagat dalam.
Episode Hipomanic: Penderita tidak mengalami gangguan persepsi.
Episode Manic: 3 dari 4 penderita dalam tahap ini mengalami halusinasi. Khayalan manic
menunjukkan persepsi gengsi dan kemuliaan.
Episode Campuran: Penderita menunjukkan khayalan dan halusinasi yang konsisten dengan
depresi atau manic atau keduanya.
5. Bunuh Diri
Episode Depresi: Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka
adalah individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.
Episode Hipomanic: Angka bunuh diri rendah. Episode Manic: Angka bunuh diri rendah.
Episode Campuran: Pada tahap depresi pasien memiliki resiko untuk bunuh diri.
6. Pembunuhan/Kekerasan
Episode Depresi: Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh diri.
Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna lagi untuknya dan
untuk orang terdekatnya/orang lain.
Episode Hipomanic: Penderita menunjukkan sifat mudah marah dan agresif. Mereka dapat
menjadi tidak sabar terhadap orang lain.

Episode Manic: Penderita agresif. Mereka tidak memiliki sifat sabar atau toleransi dengan orang
lain tidak ada. Mereka dapat menjadi sangat menuntut, kasar, sangat mudah marah. Pembunuhan
terjadi jika penderita mempunyai suatu khayalan terhadap kesenangan penderita.
Episode Campuran: Penderita dapat menjadi sangat agresif terutama dalam tahap manic.
7. Pengertian Diri/Insight
Episode Depresi: Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.
Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka sangat jatuh dan
menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memeiliki sedikit pengertian terhadap
diri mereka sendiri.
Episode Hipomanic: Biasanya penderita memiliki penegrtian yang baik mengenai diri mereka.
Namun sangat luas. Mereka menilai diri mereka sangat produktif dan teliti, bukan sebagai
hipomanic.
Episode Manic: Dalam tahap ini pengertian diri/insight sangat lemah. Penderita tidak mempunyai
pengertian yang jelas mengenai kebutuhan, rencana dan perilaku mereka.
Episode Campuran: Pergeseran/perubahan dalam afek dapat merusak pengertian pasien tentang
dirinya dan bertentangan dengan insight mereka.
8. Kognitif
Kemunduran/kelemahan dalam orientasi dan daya ingat sangat jarang diamati pada pasien
dengan gangguan afek bipolar kecuali mereka psikotik. Mereka mengetahui waktu dan temapt
mereka berada.mereka dapat mengingat kejadian yang lampau dan terbaru. Pada beberapa kasus
hipomanic dan kadang hipomanic, kemampuan penderita untuk mengingat informasi dapat
sangat luas. Pada dpresi dan manic yang berat, penderita dapat mengalami kesulutan dalam
berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.

G. Pemeriksaan Penunjang
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar.
Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography
(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks
prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun
menemukan volume yang kecil pada amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala
dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak
penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang

membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah
oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancer.
H. Penatalaksanaan
1) Penentuan Kegawat daruratan Penderita
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya, seperti
depresi atau manic, dan derajat keparahan fase tersebut. Sebagai contoh, seseorang dengan
depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan
pengobatan rawat inap. Sebaliknya, seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat bekerja,
diobati sebagai pasien rawat jalan.
a.

Indikasi seseorang dengan gangguan bipolar untuk dirawat inap adalah sebagai berikut :
Berbahaya untuk diri sendiri : Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat terlihat
dengan resiko yang signifikan untuk bunuh diri. Percobaan bunuh diri yang serius dan ideasi
spesifik dengan rencana menghilangkan bukti, memerlukan observasi yang ketat dan
perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita bisa datang dari aspek lain dari
penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup makan beresiko kematian,
sejalan dengan itu, penderita dengan manic yang ekstrim yang tidak mau tidur atau makan
mungkin mengalami kelelahan yang hebat.
Berbahaya bagi orang lain : Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa ornag lain,
contohnya seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu
sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya untuk membebaskan
mereka dari kesengsaraan dunia.
Ketidakmampuan total dari fungsi : Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam, sehingga
orang tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali, meninggalkan orang seperti ini sendirian
sanagt berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
Tidak dapat diarahkan sama sekali : Hal ini benar-benar terjadi selama episode manic. Dalam
situasi ini, perilaku penderita sangat di luar batas, mereka menghancurkan karir dan berbahaya
bagi orang di sekitarnya.
Kondisi medis yang harus dimonitor : Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai
gangguan jantung harus berada di lingkungan medi, dimana obat psikotropik dapat dimonitor
dan diobservasi.

b. Rawat inap parsial atau program perawatan sehari

Secara umum, penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki tingkat pengendalian
dan lingkungan hidup yang stabil. Contohnya, penderita dengan depresi berat yang berpikir akan
bunuh diri tapi tidak berencana untuk melakukannya dan dapat memiliki tingkat motivasi yang
tinggi bila diberi banyak dukungan interpersonal, terutama sepanjang hari dan dengan bantuan
dan keterlibatan dari keluarga. Keluarga harus selalu berada di rumah setiap malamdan harus
peduli terhadap penderita. Rawat inap parsial juga menjembatani untuk bisa segera kembali
bekerja. Kembali secara langsung ke pekerjaan seringkali sulit bagi penderita dengan gejala yang
berat, dan rawat inap parsial memberi dukungan dan hubungan interpersonal. Pengobatan rawat

jalan memiliki 4 tujuan utama :


Lihat stresornya dan cari cara untuk menanganinya. Stres ini bisa berasal dari keluarga atau
pekerjaan, namun bila terakumulasi, mereka mendorong penderita menjadi manic atau depresi.

Hal ini merupakan bagian dari psikoterapi.


Memonitor dan mendukung pengobatan. Pengobatan membuat perubahan yang luar biasa.
Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah efek samping. Penderita memiliki rasa
yang bertentangan dengan pengobatan mereka. Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan
mencegah mereka untuk dirawat inap, namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Oleh
karena itu, harus dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu mereka untuk mau

melanjutkan pengobatan.
Membangun dan memelihara sekumpulan orang yang peduli. Hal ini merupakan satu dari
banyak alasan bagi para praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang pengobatan.
Seiring perjalanan waktu, kekuatan sekumpulan orang yang peduli membantu mempertahnkan
gejala penderita dalam keadaan minimum dan membantu penderita tinggal dan diterima di

masyarakat.
Aspek yang melibatkan edukasi. Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga
tentang penyakit bipolar. Mereka harus sadar dan waspada terhadap bahaya penyalahgunaan zat,
situasi yang mungkin memicu kekambuhan, dan peran pengobatan yang penting. Dukungan
kelompok bagi penderita dan keluarga memiliki arti penting yang sangat luar biasa. Keadaan
kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan oleh para praktisi, termasuk
keadaan kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin, infeksi, komplikasi sistem urinari, dan
gangguan keseimbangan elektrolit.

2) Terapi
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai
menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter tersebut
adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Kandidat gen yang berhubungan dengan
neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A

(MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin transporter


(5HTT). Tak berhenti sampai disitu, peneliti juga mempunyai tersangka baru yaitu gen yang
mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF adalah neurotropin yang
berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan perlindungan neuron otak. BDNF
diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13.
Terdapat 3 penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar. Dan
hasilnya, positif.

A. Terapi Farmakologi
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita.
Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan
gangguan tidur. Antipsikosis atipikal meningkat penggunaannya untuk kedua hal yaitu manic
akut dan mood stabilization. Rentang yang luas dari antidepresan dan ECT digunakan untuk
episode depresi akut (contoh, depresi berat) Selanjutnya, suatu medikasi lain dipilih untuk terapi
pemeliharaan/ maintenance dan pencegahan.
Pengalaman klinik menunjukkan bahwa bila diterapi dengan obat mood stabilizer, penderita
gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manic dan depresi. Medikasi ini bekerja
menstabilkan mood penderita sesuai namanya, juga menstabilakn manic dan depresi yang
ekstrim. Antipsikosis atipikal kini juga sering digunakan untuk menstabilkan manic akut, bahkan
untuk mengobati beberapa kasus depresi bipolar untuk menstabilkan mood, seperti ziprasidone,
quetiapine, risperidone, aripiprazole and olanzapine. Berdasarkan konsensus yang sekarang,
pengobatan yang paling efektif untuk manic akut adalah kombinasi dari generasi kedua
antipsikosis dan medikasi mood stabilizing.
B. Terapi Non Farmakologi
1. Konsultasi, Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila
penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
2. Diet, Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet
khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena
peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya,
sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan
toksisitas.
3. Aktivitas, Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas
fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang
reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini

berlebihan dengan peningkatan perspirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan
menyebabkan toksisitas litium.
4. Edukasi Penderita, Pengobatan penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi penderita awal
dan lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga
melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Lagipula, fakta menunjukkan peningkatan dari tujuan
edukasi ini, tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit,

namun juga kualitas hidupnya.


Pertama, penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi

perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.


Kedua, memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terkait apresiasi tanda
awal, pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan

langkah-langkah pencegahan yang baik.


Kelompok pengobatan yang adekuat tinggal suatu bagian yang penting dari perawatan dan

edukasi.
Edukasi juga harus memperhatikan bahaya dari stresor. Membantu identifikasi individu dan

bekerja dengan stresor yang ada menyediakan aspek kritis penderita dan kewaspadaan keluarga.
Akhirnya, informasikan kepada penderita tentang kekambuhan dalam konteks gangguan.

Cerita-cerita tentang individu membantu penderita dan keluarga, terutama cerita tentang
individu dengan MDI dapat membantu penderita untuk berusaha menghadapi tantangan dari
perspektif lain.

3) Pencegahan
Gangguan bipolar harus diobati secara kontinu, tidak boleh putus. Bila putus, fase normal akan
memendek sehingga kekambuhan semakin sering. Adanya fase normal pada gangguan bipolar
sering mengakibatkan buruknya compliance untuk berobat karena dikira sudah sembuh. Oleh
karena itu, edukasi sangat penting agar penderita dapat ditangani lebih dini. Prevensi merupakan
kunci dari terapi jangka panjang dari gangguan bipolar. Hal ini mencakup beberapa hal sebagai
berikut :
I.

Medikasi seperti litium bertindak sebagai mood stabilizers.Tetapi terdapat beberapa orang
yang kurang memberi respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cedera
kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan komorbid. Bila
penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami relaps. Selain itu, indeks
terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithium dalam darah. Gangguan ginjal menjadi
kontraindikasi penggunaan lithium karena akan menghambat proses eliminasi sehingga
menghasilkan kadar toksik. Di samping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal

bila digunakan dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah, penggunaan lithium mulai
ditinggalkan.
II.

Psikoedukasi dimulai dari penderita dan keluarga penderita. Keduanya harus memahami dan
mengetahui pentingnya pengobatan adekuat dan tanda-tanda awal dari manic dan depresi, ini
merupakan hal yang penting.

I.

Komplikasi
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan, dan adiksi.

J.

Prognosa
Penderita dengan BP I lebih buruk daripada penderita depresi berat. Dalam 2 tahun pertama

setelah episode awal, 40 50 % penderita mengalami serangan manic lain.


Hanya 50 60 % penderita BP I dapat dikontrol dengan litium terhadap gejalanya. Pada 7 %
penderita, gejala tidak kembali/mengalami penyembuhan, 45 % penderita mengalami episode

berulang, dan 40 % mengalami gangguan yang menetap.


Seringkali perputaran episode depresif dan manic berhubungan dengan usia.

Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain : Riwayat kerja yang
buruk; penyalahgunaan alkohol; gambaran psikotik; gambaran depresif diantara episode manic

dan depresi; adanya bukti keadaan depresif, jenis kelamin laki-laki.


Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut : fase manic (dalam durasi pendek); Onset
terjadi pada usia yang lanjut; pemikiran untuk bunuh diri yang rendah; gambaran psikotik yang
rendah; masalah kesehatan (organik) yang rendah