Anda di halaman 1dari 10

1

PENDAHULUAN
Hidung merupakan salah satu organ yang sangat penting pada tubuh. Selain
memiliki fungsi dalam respirasi, hidung merupakan salah satu alat indera, yaitu
sebagai penghidu. Pada saat bernapas, zat kimia berupa gas ikut masuk ke dalam
hidung. Zat kimia yang merupakan sumber bau akan dilarutkan pada selaput
lendir, kemudian akan merangsang silia olfaktori. Sel-sel olfaktori akan
meneruskan rangsang ini ke otak untuk diolah sehingga kita dapat mencium bau
tersebut.1,2 Apabila adanya suatu benda asing pada hidung, maka dapat
mengganggu fungsi dari hidung.
Benda asing di dalam suatu organ ialah benda yang berasal dari luar tubuh
atau dari dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada. Benda asing yang
berasal dari dalam tubuh disebut benda asing eksogen, biasanya masuk melalui
mulut. Sedangkan yang berasal dari dalam tubuh, disebut benda asing endogen.
Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair, atau gas. Benda asing eksogen
padat terdiri dari zat organik, seperti kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuhtumbuhan), tulang (yang berasal dari kerangka binatang) dan zat anorganik seperti
paku, jarum, peniti, batu, dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam
benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair non-iritatif, yaitu
cairan dengan pH 7,4. Benda asing endogen dapat berupa sekret kental, darah atau
bekuan darah, krusta, perkijuan, membran difteri, bronkolit. Cairan amnion dan
mekonium dapat masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses
persalinan.3,4
Benda asing pada telinga, hidung, dan tenggorokan merupakan hal yang
sering terjadi pada kasus darurat. Angka kejadian paling tinggi adalah benda asing
pada telinga, yaitu 44,3%, berikutnya adalah hidung (24,9%), faring (23,2%),
esofagus (5,3%), dan lainnya (2,3%).5,6 Benda asing dapat terjadi pada semua usia,
namun lebih sering terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 4 tahun.3 Benda
asing sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki.7
Manifestasi klinis dari benda asing di dalam hidung bervariasi, tergantung
pada sumbatan total atau parsial, sifat, dan jenis benda asing tersebut. Diagnosis
benda asing dalam hidung dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik,

dan pemeriksaan penunjang. Benda asing di dalam hidung harus segera


dikeluarkan karena dapat menyebabkan kesulitan dalam bernapas.3 Menurut SKDI
(standar kompetensi dokter umum), seorang dokter umum harus dapat
mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan benda asing di dalam hidung
secara mandiri dan tuntas.8
ANATOMI HIDUNG
Hidung terdiri atas nasus eksternus (hidung luar) dan kavum nasi (rongga
hidung). Hidung luar berbentuk piramid, sedangkan kavum nasi berbentuk
terowongan. Hidung luar terdiri dari pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung
(dorsum nasi), puncak hidung (tip), ala nasi, kolumela dan lubang hidung (nares
anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang
dilapisi oleh kulit, jaringan ikat, dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk
melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari
tulang hidung (os nasal), prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os
frontal; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang
rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu sepasang kartilago nasalis
lateralis superior, sepasang kartilago nasalis inferior yang disebut juga sebagai
kartilago alar mayor, dan tepi anterior kartilago septum.9,10

Gambar
1

Hidung Luar11
Kavum nasi dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian
tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum
nasi bagian depan disebut nares anteior dan lubang belakang disebut nares
posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan orofaring. Bagian dari

kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior,
disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak
kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrisae. Tiap kavum
nasi mempunyai empat buah dinding, yaitu medial, lateral, inferior, dan
superior.9,10
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang
dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina prependikularis os etmoid, vomer,
krista nasalis os maksila, dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan
adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum dilapisi
oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang,
sedangkan di luarnya dilapisi oleh mukosa hidung.9,10

Gambar 2. Septum nasi11


Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yang terbesar dan letaknya
paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media,
lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka
suprema. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os
maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior, dan suprema
merupakan bagian dari labirin etmoid. Di antara konka-konka dan dinding lateral
hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus,
ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius, dan superior. Meatus inferior
terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga
hindung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.

Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung.
Pada meatus medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid
anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior
dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.9,10

Gambar 3. Konka nasalis11


FISIOLOGI HIDUNG
Berdasarkan teori struktural, teori evousioner, dan teori fungsional, fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah fungsi respirasi, penghidu, fonetik,
statik dan mekanik, dan refleks nasal. Dalam respirasi hidung berfungsi untuk
mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humdifikasi,
penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal.
Sebagai fungsi penghidu, di dalam hidung terdapat mukosa olfaktorius dan
reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu. Sebagai fungsi fonetik
hidung berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah
hantaran suara sendiri melalui kondisi tulang. Sebagai fungsi statik dan mekanik,
hidung berfungsi untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan
pelindung panas.2,9

Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares


anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah
arah nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau arkus.
Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh selaput lendir. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara
inspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37 derajat Celcius.
Fungsi pengatur suhu ini dimungkinan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah
epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus,
bakteri, dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh
rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, dan palut lendir. Debu dan bakteri
akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan
dengan refleks bersin.9
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan pengecap dengan adanya
mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior, dan sepertiga bagian
atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan
palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu
indra pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai
macam bahan, seperti rasa manis strawberi, jeruk, pisang, atau coklat. Selain itu
hidung juga dapat membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam
jawa.1,9
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan
menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang,
sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung membantu proses
pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir, dan palatum mole. Pada
pembentukan konsonan nasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup dan hidung
terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara. Mukosa hidung merupakan
reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler, dan
pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan napas
berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung,
dan pankreas.9

EPIDEMIOLOGI
Dari 827 pasien yang dilibatkan dalam penelitian di Brazil, 386 adalah
perempuan (46,7%) dan 441 adalah laki-laki (53,3%), dengan rasio perempuan
dan laki-laki 1,14 : 1,00. Lokasi benda asing pada kelompok pasien sebagian
besar berada di telinga (64,4%), diikuti oleh fossae hidung (19,5%), orofaring
(8,9%), dan lainnya (2,9%).12 Sedangkan di Klinik THT dan RSUP H Adam Malik
Medan pada tanggal 1 November 2000 sampai dengan 31 Oktober 2001, dari 50
pasien anak dengan benda asing didapatkan 36 kasus (72%) berlokasi di hidung,
diikuti oleh telinga (20%), esofagus (6%), trakea-bronkus (2%). Dari penelitian
tersebut usia terbanyak berturut-turut yaitu usia 2-4 tahun (46%), usia 4-6 tahun
(36%), 0-2 tahun (8%), 8-10 (6%), dan 6-8 tahun (4%).

13

Pada suatu penelitian di

Departemen THT FK USU / RSUP H Adam Malik tahun 2010, berdasarkan lokasi
benda asing terbanyak pada telinga (42,7%), berdasarkan kelompok umur anakanak merupakan yang paling banyak (55,5%), dan berdasarkan jenis kelamin
sebagain besar adalah laki-laki (62,7).14
FAKTOR RISIKO
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke dalam saluran
napas, termasuk hidung, antara lain, faktor personal (umur, jenis kelamin,
pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal), kegagalan mekanisme proteksi yang
normal, (kesadaran menurun, alkoholisme), faktor fisik (yaitu kelainan dan
penyakit neurologik), faktor kejiwaan (antara lain emosi, gangguan psikis), faktor
kecerobohan, memberikan kacang atau permen pada anak-anak yang belum
mengerti.3,15
PATOLOGI
Benda asing mati (inanimate foreign bodies) di dalam hidung cenderung
menyebabkan edema dan inflamasi mukosa hidung, dapat terjadi ulserasi,
epistaksis, jaringan granulasi dan dapat berlanjut menjadi sinusitis. Benda asing
hidup animate foreign bodies) menyebabkan reaksi inflamasi dapat bervariasi,
dari infeksi lokal sampai destruksi masif tulang rawan dan tulang hidung dengan

membentuk daerah supurasi yang dalam dan berbau. Cacing askaris di hidung
dapat menimbulkan iritasi dengan derajat yang bervariasi karena gerakannya.3,16
MANIFESTASI KLINIK
Gejala sumbatan benda asing di dalam saluran napas tergantung pada lokasi
benda asing, derajat sumbatan (total atau sebagian), sifat, bentuk dan ukuran
benda asing. Gejala yang timbul bervariasi, mulai dari tanpa gejala sampai
kematian sebelum diberi pertolongan, akibat sumbatan total. Benda asing yang
masuk melalui hidung dapat tersangkut di hidung, nasofaring, laring, trakea, dan
bronkus. Benda asing di dalam hidung pada anak sering luput dari perhatian orang
tua karena tidak ada gejala dan bertahan untuk waktu yang lama. Dapat timbul
rinolith di sekitar benda asing. Gejala yang paling sering adalah hidung tersumbat,
rinore unilateral dengan cairan kental dan berbau, kadang-kadang terdapat rasa
nyeri, demam, epistaksis dan bersin. Pada pemeriksaan tampak edema dengan
inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi. Benda asing
biasanya tertutup oleh mukopus, sehingga disangka sinusitis. Dalam hal demikian
bila akan menghisap mukopus haruslah berhati-hati supaya benda asing itu tidak
terdorong ke arah nasofaring yang kemudian dapat masuk ke laring, trakea dan
bronkus. 3,16
DIAGNOSIS
Diagnosis klinis benda asing di dalam hidung ditegakkan berdasarkan
anamnesis, manifestasi klinik dan pemeriksaan radiologik sebagai pemeriksaan
penunjang. Anamnesis yang cermat perlu ditegakkan, karena kasus aspirasi benda
asing sering tidak segera dibawa ke dokter pada saat kejadian. Perlu diketahui
macam benda atau bahan yang teraspirasi dan telah berapa lama benda asing
tersebut terdapat pada hidung.3 Pada sebagian besar kasus tidak diperlukan
pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan penunjang
sebaiknya dilakukan apabila tidak ditemukan benda asing tersebut pada
pemeriksaan fisik dengan rinoskopi, tidak diketahui jelas jenis benda asing, tidak
diketahui jelas benda asing tersebut masuk ke dalam hidung atau tidak, atau bila

dicurigai benda asing tersebut telah masuk lebih dalam seperti ke laring, faring,
esofagus, trakea, bronkus, dan paru-paru.17
TATALAKSANA
Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengan cepat dan
tepat perlu diketahui dengan sebaik-baiknya gejala di tiap lokasi tersangkutnya
benda asing tersebut. Secara prinsip benda asing di saluran napas diatasi dengan
pengangkatan segera secara endoskopik dalam kondisi yang paling aman, dengan
trauma yang minimum. Kebanyakan pasien dengan aspirasi benda asing yang
datang ke ahli THT telah melalui fase akut, sehingga pengangkatan secara
endoskopik harus dipersiapkan seoptimal mungkin, baik dari segi alat maupun
personal yang telah terlatih.3
Cara mengeluarkan benda asing dari dalam hidung ialah dengan memakai
pengait (haak) yang dimasukkan ke dalam hidung di bagian atas, menyusuri atap
kavum nasi sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit
dan ditarik ke depan. Dengan cara ini benda asing itu akan ikut terbawa ke luar.
Dapat pula menggunakan cunam Nortman, suction, kateter, dan magnet.
Mendorong benda asing dari hidung ke arah nasofaring dengan maksud supaya
masuk ke dalam mulut, dapat terus masuk ke laring dan saluran napas bagian
bawah, yang menyebabkan sesak napas, sehingga menimbulkan keadan yang
gawat. Oleh karena itu, mendorong benda asing dari hidung ke arah nasofaring
tidak dianjurkan. Pada anak perlu diposisikan terlebih dahulu, anak dipangku oleh
orang tua, kaki anak dijepit oleh kaki orang tua, kemudian tangan dan kepala anak
tersebut dipegang. Pemberian antibiotika sistemik selama 5-7 hari hanya diberikan
pada kasus benda asing hidung yang telah menimbulkan infeksi hidung maupun
sinus.3,15,16
KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi terutama bila benda asing tersebut berada dalam
hidung dalam waktu yang lama, seperti sinusitis. Benda asing pada hidung dalam
waktu yang lama dapat terbentuk rinolith. Bila benda tersebut berupa baterai atau

magnet, maka dapat mengakibatkan nekrosis. Pada larva dan cacing dapat
menyebabkan destruksi mukosa hidung dan nekrosis pada kartilago septum.15
LAPORAN KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun, datang bersama orang tuanya ke
IGD RSMH pada tanggal 31 Januari 2016 dengan benda asing berupa cincin sosis
so nice pada hidung kanan. + 2 jam yang lalu. Pasien tidak mengeluh nyeri dan
benda asing tersebut masih dirasakan di dalam hidung. Ayah pasien berusaha
mengeluarkan benda asing tersebut dengan pinset. Pasien kemudian dibawa
berobat ke IGD RSMH Palembang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan
umum baik, kompos mentis, nadi 96 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit,
temperatur 36,7oC. Sesak nafas dan kesulitan bernafas pada pasien tidak ada. Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior, pada hidung kiri kavum nasi lapang, tidak ada
sekret, konka inferior eutrofi, dan tidak terdapat benda asing. Pada hidung kanan
kavum nasi lapang, tidak ada sekret, terdapat benda asing berupa cincin sosis so
nice, dan tidak didapatkan perdarahan. Pada pemeriksaan telinga kanan dan kiri,
meatus akustikus eksternus lapang, tidak ada sekret, membran timpani intak,
refleks cahaya (+). Pada pemeriksaan tenggorokan, arkus faring simetris, uvula di
tengah, tonsil T1-T1 tenang, dinding posterior tenang. Diagnosis pasien ini adalah
benda asing (cincin sosis so nice) kavum nasi dextra. Tatalaksana pada pasien ini
adalah ekstraksi benda asing dengan sendok corpal.

(A)

(B)

Gambar 4. (A) Benda asing cincin sosis so nice, (B) Foto pasien

10

DISKUSI KASUS
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan benda asing (cincin sosis
so nice) di dalam hidung kanan pasien. Berdasarkan usia, angka kejadian benda
asing paling sering adalah pada anak-anak, terutama anak berusia kurang dari 4
tahun. Berdasarkan jenis kelamin, kasus benda asing lebih terjadi pada laki-laki
daripada perempuan. Pada kasus ini pasien laki-laki dan berusia 2 tahun. Pada
pasien tidak terdapat gejala seperti, hidung tersumbat, kesulitan bernafas, nyeri,
keluar sekret dari hidung dan epistaksis. Hal ini disebabkan karena benda asing
pada hidung pasien tersebut ukurannya kecil dan tidak tajam, sehingga tidak
melukai hidung pasien. Selain itu, tidak ditemukan adanya sekret atau cairan dan
tanda-tanda nekrosis pada hidung kiri pasien yang menunjukkan benda asing
tersebut di dalam hidung tidak dalam waktu yang lama dan tidak bersifat korosif.
Setelah dilakukan pemeriksaan THT, telinga, hidung kanan, dan tenggorokan
pasien dalam batas normal. Pada hidung kanan terdapat benda asing (cincin sosis
so nice). Benda asing tersebut berasal dari luar (eksogen) dan merupakan benda
mati. Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan pada kasus ini karena jenis benda
asing tersebut sudah jelas, lama benda asing di dalam hidung diketahui, dan tidak
ditemukan komplikasi. Pasien tersebut diposisikan terlebih dahulu agar tidak
menyulitkan saat dilakukan ekstraksi dengan cara anak dipangku oleh orang tua,
kaki anak dijepit oleh kaki orang tua, kemudian tangan dan kepala anak tersebut
dipegang. Kemudian benda asing dalam hidung tersebut diekstraksi dengan
sendok corpal. Setelah dilakukan ekstraksi, dilakukan evaluasi kembali pada
hidung kanan pasien, kavum nasi lapang, konka inferior eutrofi, tidak ditemukan
edema dan hiperemis, tidak didapatkan sekret ataupun perdarahan, dan tidak
ditemukan benda asing lainnya. Pasien ini tidak diberikan terapi antibiotika karena
tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi.