Anda di halaman 1dari 2

Nama : Chika Rananda Astari P.

NPM : 1306450191
Filsafat Hukum Reguler B
Marxisme
Marxisme merupakan perspektif yang lahir berdasarkan pandangan-pandangan Karl
Marx yang menekankan pada sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Marx
melakukan perlawanan ter hadap sistem yang dominan yaitu suatu ide yang menyatakan
hukum bersifat otonom, ia bersikukuh berpendapat bahwa revolusi tidak dapat berasal dari
hukum karena sifat hukum yang selalu tertinggal dan tidak pernah memimpin akan tetapi
dapat dilakukan dengan sistem ekonomi.1 Marx melakukan perlawanan terhadap sistem yang
dominan yaitu suatu ide yang menyatakan hukum bersifat otonom, ia bersikukuh berpendapat
bahwa revolusi tidak dapat berasal dari hukum karena sifat hukum yang selalu tertinggal dan
tidak pernah memimpin akan tetapi dapat dilakukan dengan sistem ekonomi.2
Pandangan mengenai hukum yang dikemukakan oleh karl marx adalah menjadi bagi
landasan pemikiran mengenai kajian hukum yang berbasis lebih luas terkait dengan
permasalahan social ekonomi dan budaya dan juga menjadi landasan dari timbulnya
pemikiran seperti Critical Legal Studies. Marx mengatakan bahwa terdapat tiga kelas dalam
social stratification yaitu bourgeoisie dan proletariat atau dengan kata lain disebut dengan
buruh dan tuan rumah atau kapitalis.
Negara adalah suatu institusi yang mempunyai karakteristik dapat mempegaruhi
kondisi, negara hanya sebagai abstraksi dari politik. Marx meneliti mengenai asal-usul dari
negara seperti yang ia lakukan dalam pranata sosial lainnya, ia melihat bahwa negara adalah
sebuah kontradiski dari kepentingan yang sebenarnya dari seluruh kelompok masyarakat, ia
hanyalah sebuah ilusi dari pelayanan masyarakat3.
Marx berpendapat bahwa proletariat tidak menyadari posisinya bahwa ia sebagai
kaum yang ditindas dan dieksploitasi oleh kaum bourgeoisie dan hal ini akan mengakibatkan
kaum proletariat menjadi terus berada di kelas strata bawah.
1 Agus Brotosusilo, Purnawidhi Wardhana Purbacaraka, dan M. Sofyan Pulungan, Diktat Filsafat
Hukum untuk Universitas Indonesia Fakultas Hukum,(Marxist Theories of Law and State), hlm. 842844.
2 Ibid.
3 Hans Fink, Filsafat Sosial : Penerjemah, Sigit Djatmiko (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003), hal. 144

Nama : Chika Rananda Astari P.


NPM : 1306450191
Filsafat Hukum Reguler B

Critical Legal Studies


Aliran Critical Legal Studies memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut
yaitu. Aliran Critical Legal Studies mengkritik hukum yang berlaku yang nyatanya memihak
ke politik, dan sama sekali tidak netral, mengkritik hukum yang syarat dan dominan dengan
ideologi tertentu, mempunyai komitmen besar terhadap kebebasan individual dengan batasan
tertentu, karena aliran ini berhubungan dengan emansipasi kemanusiaan, Ajaran Critical
Legal Studies ini kurang mempercayai bentu-bentuk kebenaran yang abstrak dan
pengetahuan yang benar-benar obyektif. Karena itu ajaran Critical Legal Studies menolak
keras ajaran-ajaran dalam positivisme hukum, Aliran Critical Legal Studies ini menolak
perbedaan antara teori dan praktek, dan menolak juga perbedaan antara fakta dan nilai, yang
merupakan karakteristik dari paham liberal.
Berangkat dari pemikiran dan gejolak sosial, critical legal study dipengaruhi oleh tiga
pilar: ajaran kiri baru mazhab Frankfurt, ajaran postmodern dan ajaran realism hukum. Ajaran
yang ditegaskan melalui critical legal study didominasi oleh kritik terhadap metananarasimetananarasi yang mengaungkan objektivisme, formalisme dan positivisme. 4
Beberapa tokoh berpendapat bahwa, Critical Legal Studies berangkat dari teori
Marxist, walaupun tokoh-tokohnya menolak hal tersebut. Mereka mengedepankan aliranaliran tentang penggunaan sebagian teori Marxist untuk melihat fenomena keadaan
masyarakat untuk menganalisa persoalan-persoalan di masyarakat, termasuk salah satunya
adalah hukum.

4 http://www.negarahukum.com diakses pada tanggal 1 Mei 2015

Anda mungkin juga menyukai