Anda di halaman 1dari 18

HIPERPLASIA ENDOMETRIUM

Andi Mey Pratiwi, Mono Valentino Yohanis

A. Pendahuluam
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari
kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi
limfosit pada endometrium. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian
atau

seluruh

lapisan

endometrium.

Angka

kejadian

hiperplasia

endometrium ini sangat bervariasi. Umumnya hiperplasia endometrium


dikaitkan dengan perdarahan uterus disfungsi yang seringkali terjadi pada
masa perimenopause, walaupun dapat terjadi pada masa reproduktif,
pascamenars ataupun pascamenopause.1
Hiperplasia endometrium merupakan prekursor terjadinya kanker
endometrium yang terkait dengan stimulasi estrogen yang tidak terlawan
(unopposed estrogen) pada endometrium uterus. Stimulasi estrogen yang
tidak terlawan dari siklus anovulatory dan penggunaan dari bahan eksogen
pada wanita postmenopause menunjukkan peningkatan kasus hiperplasia
endometrium dan karsinoma endometrium. Kelainan ini biasanya muncul
dengan perdarahan uterus abnormal. Resiko terjadinya progresifitas sangat
terkait dengan ada atau tidak adanya sel atipik.2
The American Cancer Society (ACS) memperkirakan ada 40.100
kasus baru dari kanker rahim yang didiagnosis pada tahun 2003, dimana
95 % berasal dari endometrium. Sistem klasifikasi dari hiperplasia
endometrium sudah dibuat

berdasarkan kompleksitas dari kalenjar

endometrium dan sel-sel atipik pada pemeriksaan sitologi. Hiperplasia


atipikal

sangat

terkait

dengan

progresifitas

menjadi

karsinoma

endometrium. Progresifitas dari hiperplasia endometrium, menjadi kondisi


patologis yang lebih agresif sangat terkait dengan diagnosis awal pada
endometrium.3
Hiperplasia
mengalami

regresi

sederhana
jika

(simple

sumber

hyperplasia)

estrogen

eksogen

lebih

sering

dihilangkan.
1

Bagaimanapun, hiperplasia atipikal seringkali berkembang menjadi


adenokarsinoma kecuali diintervensi dengan terapi medis. Terapi dengan
penggantian hormon sedang dalam penelitian untuk menentukan dosis dan
tipe dari progestin untuk melawan efek stimulasi berlebihan estrogen pada
endometrium. Hiperplasia endometrium biasanya didiagnosis dengan
biopsy endometrium atau kuretase endometrium setelah seorang wanita
menemui dokter kandungan dengan perdarahan uterus abnormal.2,3
Modalitas terapi tergantung dengan usia pasien, keinginan untuk
memiliki anak, dan keberadaan dari sel atipik pada bahan endometrium.
Progestin telah sukses digunakan pada wanita dengan hiperplasia
endometrium yang memilih untuk tidak dilakukan pembedahan.2,3
B. Defenisi

Gambar 1. Hiperplasia endometrium


Hiperplasia endometrium didefiniskan sebagai proliferasi dari
kelenjar endometrium dengan bentuk dan ukuran yang ireguler dengan
peningkatan pada rasio kalenjar/stroma. Hiperplasia endometrium lebih
jauh diklasifikasikan menjadi hiperplasia sederhana dan kompleks
berdasarkan kompleksitas dan kerumunan dari struktur kalenjar.3,4
C. Anatomi dan Fisiologi Endometrium

Gambar 2. Anatomi endometrium


Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang
terletak di dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di
posterior. Uterus biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. Korpus
dilapisi oleh endometrium dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan
tahap siklus menstruasi. Endometrium tersusun oleh kelenjar-kelenjar
endometrium dan sel-sel stroma mesenkim, yang keduanya sangat
sensitive terhadap kerja hormone seks wanita. Hormon yang ada di tubuh
wanita yaitu estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium,
dimana

estrogen

merangsang

pertumbuhan

dan

progesterone

mempertahankannya.5
Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan
kanalis endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis Endometrium
adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempat menempelnya ovum yang
telah dibuahi. Di dalam lapisan Endometrium terdapat pembuluh darah
yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum
yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan
endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan
induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi.5,6,7
Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka
mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan,agar hasil konsepsi bisa
tertanam.

Pada

suatu

fase

dimana ovum

tidak

dibuahi

oleh sperma, maka korpus luteum akan berhenti memproduksi hormon


progesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan

sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah


menebal,

karena

hormon estrogen

dan progesteron

telah

berhenti

diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding
rahim.5,6,7
1. Siklus endometrium normal
Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, epitel
mukosa pada endometrium mengalami siklus perubahan yang
berkaitan dengan aktivitas ovarium. Perubahan ini dapat dibagi
menjadi 4 fase endometrium, yakni
a. Fase Menstruasi (Deskuamasi) Fase ini berlangsung 3-4 hari. Pada
fase ini terjadi pelepasan endometrium dari dinding uterus yakni
sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disintergrasi dan otolisis
dengan stratum basale yang masih utuh disertai darah dari vena dan
arteri yang mengalami aglutinasi dan hemolisis serta sekret dari
uterus, serviks dan kalenjar-kalenjar vulva.7,8
b. Fase Pasca Haid (Regenerasi) Fase ini berlangsung 4 hari (hari 14 siklus haid). Terjadi regenerasi epitel mengganti sel epitel
endometrium yang luruh. Regenerasi ini membuat lapisan
endometrium setebal 0,5 mm.7,8
c. Fase Intermenstrum (Proliferasi) Pada fase ini endometrium
menebal hingga 3,5 mm. berlangsung selama 10 hari (hari ke
5-14 siklus haid)
1. Fase proliferasi dini (early proliferation phase) Fase ini
berlangsung selama 3 hari (hari ke 5-7). Pada fase ini
terdapat regenerasi kelenjar dari mulut kelenjar dengan epitel
permukaan yang tipis. Bentuk kelenjar khas fase proliferasi
yakni lurus, pendek dan sempit dan mengalami mitosis.7,8
2. Fase proliferasi madya (midproliferation phase) Fase ini
berlangsung selama 3 hari (hari ke 8-10). Fase ini
merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel
permukaan yang berbentuk torak dan tinggi. Kelenjar
berlekuk-lekuk dan bervariasi. Sejumlah stroma mengalami

edema. Tampak banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang


(nake nucleus).7,8
3. Fase proliferasi akhir (late proliferation phase) Fase ini
berlangsung selama 4 hari. Fase ini dapat dikenali dari
permukaan kelenjar yang tidak rata dengan banyak mitosis. Inti
epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stroma semakin
tumbuh aktif dan padat.7,8
d. Fase Pra Haid (Sekresi) Fase ini berlangsung sejak hari setelah
ovulasi yakni hari ke 14 sampai hari ke 28. Pada fase ini ketebalan
endometrium masih sama, namun yang berbeda adalah bentuk
kelenjar yang berubah menjadi berlekuk-lekuk, panjang dan
mengeluarkan getah yang semakin nyata. Dalam endometrium
telah tersimpan glikogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai
makanan untuk telur yang dibuahi. Memang, tujuan perubahan ini
adalah untuk mempersiapkan endometrium untuk menerima telur
yang dibuahi. Fase ini terbagi menjadi dua, yakni
1. Fase sekresi dini Dalam fase ini endometrium lebih tipis dari
sebelumnya

karena

kehilangan

cairan.

Pada

saat

ini,

endometrium dapat dibedakan menjadi beberapa lapisan yakni


a. Stratum basale yakni lapisan endometrium bagian dalam
yang berbatasan dengan miometrium. Lapisan ini tidak
aktif, kecuali mitosis pada kelenjar
b. Stratum spongiosum
yaitu lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons. Ini
disebabkan oleh banyaknya kelenjar yang melebar,
berkelok-kelok dan hanya sedikit stroma di antaranya
c. Stratum kompaktum
yaitu lapisan atas yang padat. Saluran-saluran kelenjar
sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya edema
e. Fase sekresi lanjut Endometrium pada fase ini tebalnya 5-6 mm.
dalam fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini, dengan
endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang
berkelok-kelok dan kaya akan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk
nutrisi dan perkembangan ovum. Sitoplasma sel-sel stroma

bertambah. Sel stroma ini akan berubah menjadi sel desidua jika
terjadi pembuahan.7,8
D. Patogenesis
Siklus menstruasi normal ditandai dengan meningkatnya ekspresi
dari onkogen bcl-2 sepanjang fase proliferasi. Bcl-2 merupakan onkogen
yang terletak pada kromosom 18 yang pertama kali dikenali pada limfoma
folikuler, tetapi telah dilaporkan juga terdapat pada neoplasma lainnya.
Apoptosis seluler secara parsial dihambat oleh ekspresi gen bcl-2 yang
menyebabkan sel bertahan lebih lama. Ekspresi dari gen bcl-2 tampaknya
sebagian diregulasi oleh faktor hormonal dan ekspresinya menurun dengan
signifikan pada fase sekresi siklus menstruasi. Kemunduran ekspresi dari
gen bcl-2 berkorelasi dengan gambaran sel apoptosis pada endometrium
yang dilihat dengan mikroskop elektron selama fase sekresi siklus
menstruasi.

Identifikasi

dari

gen bcl-2

pada

proliferasi

normal

endometrium sedang dalam penelitian tentang bagaimana perannya dalam


terjadinya hiperplasia endometrium. Ekpresi gen bcl-2 meningkat pada
hiperplasia endometrium tetapi terbatas hanya pada tipe simpleks. Secara
mengejutkan, ekspresi gen ini justru menurun pada hiperplasia atipikal dan
karsinoma endometrium. Peran dari gen Fas/Fas L juga telah diteliti akhitakhir ini tentang kaitannya denga pembentukan hiperplasia endometrium. Fas
merupakan anggota dari keluarga tumor necrosis factor (TNF)/ Nerve Growth

Factor (NGF) yang berikatan dengan Fas L (Fas Ligand ) dan


menginisisasi apoptosis. Ekpresi gen Fas dan Fas L meningkat pada
sampel endometrium setelah terapi progesteron. Interaksi antara ekspresi
Fas dan bcl-2 dapat dari hiperplasia endometrium. Ekspresi gen bcl-2
menurun saat terdapat progesteron intrauterin sedangkan ekspresi gen Fas
justru meningkat. Studi diatas telah memberikan tambahan wawasan
tentang perubahan molekuler yang kemudian berkembang secara klinis
menjadi hiperplasia endometrium. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut
untuk mengklarifikasi peran bcl 2 dan Fas/FasL pada patogenesis
molekular

terbentuknya

hiperplasia

endometrium

dan

karsinoma

endometrium.9,10
6

Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau


adanya stimulasi unoppesd estrogen (estrogen tanpa pendamping
progesteron / estrogen tanpa hambatan). Kadar estrogen yang tinggi ini
menghambat produksi Gonadotrpin

(feedback mechanism). Akibatnya

rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi


regresi dan diikuti perdarahan.9,10
Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar
sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum
sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progesteron. Akibat dari keadaan
ini adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun
stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang
menyebabkan proliferasi

berlebih dan terjadinya hiperplasia pada

endometrium. Juga terjadi pada wanita usia menopause dimana sering kali
mendapatkan terapi hormon penganti yaitu progesteron dan estrogen,
maupun estrogen saja. Estrogen tanpa pendamping progesterone
(unopposed estrogen)

akan menyebabkan penebalan endometrium.

Peningkatan estrogen juga dipicu oleh adanya kista ovarium serta pada
wanita dengan berat badan berlebih.8,9
E. Faktor Resiko
Faktor resiko Hiperplasia endometrium sama seperti pada kasus kanker
endometrium, yang paling penting diantaranya adalah peningkatan Body
Mass Index (BMI) dan nulipara. Faktor resiko yang lain yaitu anovulasi
yang bersifat kronik, late onset of menopouse dan diabetes. Secara teoritis
kebanyakan dari kondisi tersebut dihubungkan dengan peningkatan
sirkulasi estrogen yang relatif dari progesteron. Dukungan yang lebih kuat
dihubungakan dengan unopposed terapi estrogen dalam perkembangan
hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium. Beberapa faktor
resiko dari Hiperplasia endomtrium adalah sebagai berikut 2,10 :
1. Obesitas
2. Chonik anovulatin dan PCOS
3. Nulipara dan infertil
4. Terapi estrogen
5. Selektif Estrogen-Receptor Modulator (SERMs)

6. Hereditary Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPCC)


7. Diabetes
F. Klasifikasi Hiperplasia Endometrium

Gambar 3. Klasifikai hiperplasia endometrium12


Sistem

klasifikasi

untuk

hiperplasia

endometrium

dikembangkan

berdasarkan karakteristik histologi dan potensi onkogenik


Klasifikasi Hiperplasia endometrium berdasarkan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 1994 berdasarkan pada kedua
kompleksitas arsitektur kelenjar dan adanya nukleus atypia. terdiri dari
empat kategori: hiperplasia simpel, hiperplasia kompleks, hiperplasia
simpel dengan atipia, hiperplasia kompleks dengan atypia.13
Asosiasi sitologi atypia dengan peningkatan risiko kanker
endometrium sudah dikenal sejak 1.985, Klasifikasi Intraepithelial
Neoplasia Endometrium (EIN) adalah sistem alternatif nonmenklatur yang

diusulkan di tahun 2003, tujuannya adalah untuk meningkatkan prediksi


hasil klinis , meningkatkan inter-observer reproduktifitas dan mengurangi
bias subjektif yang melekat pada klasifikasi WHO 1994. Skema EIN
diagnostik terdiri dari tiga kategori, Benign (hiperplasia endometrium),
premalignant (diagnosis

EIN berdasarkan lima kriteria subjektif

histologis) dan malignant (kanker endometrium), tetapi klasifikasi ini


tidak banyak digunakan di Inggris.13
Berdasarkan Revisi terbaru Tahun 2014 klasifikasi WHO.
Hiperplasia endometrium dibedakan menjadi dua kelompok didasarkan
pada ada atau tidak adanya sitologi atypia , yaitu hiperplasia tanpa atypia
dan hiperplasia atipikal ; kompleksitas arsitektur tidak lagi merupakan
bagian dari klasifikasi . Diagnosis dari EIN dalam klasifikasi WHO baru
dianggap digantikan dengan hiperplasia atipikal .Tujuan pembaruan
klasifikasi hiperplasia endometrium berdasarkan WHO 2014

menjadi

dasar rekomendasi meskipun WHO Nomenklatur mengkategorikan


morfologi hiperplasia yang sederhana atau kompleks.13
Hiperplasia endometrium terbagi menjadi 3 jenis berdasarkan
morfologi pada pemeriksaan patologi anatomi, yakni :
1. Hiperplasia non-atipikal sederhana
Disebut sebagai hiperplasia kistik atau ringan. Terdapat proliferasi
jinak dari kalenjar endometrium yang berbentuk ireguler dan juga
berdilatasi disertai , tetapi tidak menggambarkan adanya tumpukan sel
yang saling tumpang tindih atau sel yang atipik
2. Hiperplasia atipikal Kompleks (neoplasia intraepitelial endometrium)
Terdapat proliferasi dari kalenjar endometrium dengan tepi yang
ireguler, arsitektur yang kompleks dan sel yang tumpang tindih tetapi
tidak terdapat sel yang atipik. Terjadi peningkatan jumlah dan ukuran
endometrium sehingga kelenjar menjadi berdesak-desakan, membesar
dan berbentuk irreguler. Bentuk irreguler ini adalah manifestasi utama
meninkatnya stratifikasi sel dan pembesaran nukleus serta mungkin
meperlihatkan kompleksitas epitel permukaan yang permukaannya
menjadi berlekuk-lekuk atau bertumpuk-tumpuk. Gambaran mitotik

sering ditemukan, pada bentuk yang paling parah, atipia sitologik dan
arsitekturnya dapat sangat mirip dengan adenokarsinoma, dan untuk
membedakan hiperplasia atipikal dengan kanker secara pasti harus
dilakukan histerektomi.
3. Atipikal : Terdapat derajat yang berbeda dari nukleus yang atipik dan
kehilangan polaritassnya
G. Manifestasi Klinis
Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering
muncul pada hiperplasia endometrium. Efek estrogen yang tidak terlawan
dari penggunaan eksogen atau siklus anovulatori menghasilkan hiperplasia
endometrium dengan perdarahan yang banyak. Pasien yang lebih muda
pada usia produktif biasanya muncul hiperplasia endometrium sekunder
akibat Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS). PCOS menghasilkan
stimulasi estrogen yaang tidak terlawan secara sekunder ke siklus
anovulatori. Pada pasien yang lebih muda dapat juga terdapat peningkatan
estrogen secara sekunder dari konversi perifer dari androstenedione pada
jaringan adiposa (pasien yang obesitas) atau tumor ovarium yang
mensekresikan estrogen (pada granulosa cell tumors dan ovarian
thecomas). Konversi perifer dari androgen menjadi estrogen pada tumor
yang mensekresikan androgen pada cortex adrenalis merupakan etiologi
yang jarang dari hiperplasia endometrium. Pada pasien menopause dengan
hiperplasia endometrium hampir selalu datang dengan perdarahan
pervaginam. Meskipun karsinoma harus dipertimbangkan pada usia ini,
atropi endometrium merupakan penyebab yang sering dari perdarahan
pada wanita menopause. Dalam penelitian dengan 226 wanita dengan
perdarahan post menopause, 7 % ditemukan dengan karsinoma, 56 %
dengan atrofi dan 15 % dengan beberapa bentuk hiperplasia. Hiperplasia
dan karsinoma secara khusus memiliki gejala perdarahan pervaginam yang
berat sedangkan pasien dengan atrofi biasanya hanya muncul bercakbercak perdarahan. Pap Smear yang spesifik menemukan peningkatan
kemungkinan deteksi kelainan pada endometrium. Resiko dari karsinoma

10

endometrium pada wanita post menopause dengan perdarahan uterus


abnormal meningkat 3-4 lipat saat Pap Smear menunjukkan histiosit yang
mengandung sel inflamasi akut yang difagosit atau sel endometrium yang
normal. Biarpun begitu, penemuan yang tidak sengaja dari histiosit pada
wanita postmenopause tanpa gejala tidak memiliki kaitan dengan
peningkatan

resiko

hiperplasia

endometrium

ataupun

karsinoma

endometrium.9,10
Usia memiliki efek yang signifikan untuk menindak lanjuti
kelainan pada AGC pap smear. Pada studi retrospektif pada 281 wanita
dengan AGC papsmear, 90 wanita (32%) memiliki kelainan signifikan
yang membutuhkan intervensi. Pada pasien dengan usia < 50 tahun, hanya
7 pasien (5%) memiliki lesi non skuamosa sedangkan 19 pasien (15%)
yang berusia > 50 tahun memiliki lesi non skuamosa. Pasien diatas 50
tahun dengan AGC pap smear memiliki kemungkinan 13 kali lipat
menderita kanker rahim dibandingkan wanita yang berusia kurang dari 50
tahun.
H. Diagnosis
Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering
dikeluhkan oleh wanita dengan hiperplasia endometrium. Wanita dengan
perdarahan

postmenopause,

15%

persen

ditemukan

hiperplasia

endometriumdan 10% ditemukan karsinoma endometrium. Penemuan


penebalan dinding uterus secara tidak sengaja dengan USG harus diperiksa
lebih lanjut untuk mendiagnosis hiperplasia endometrium. Pada sebuah
penelitian dengan 460 wanita usia 40 tahun dengan perdarahan uterus
abnormal, didapatkan hanya 6 wanita (1,3%) yang mengalami hiperplasia
endometrium. Tidak ada kasus hipeplasia atipikal yang ditemukan pada
kelompok wanita ini. Walaupun begitu, wanita dibawah usia 40 tahun yang
memiliki faktor predisposisi seperti obesitas dan PCOS harus dievaluasi
secara menyeluruh, biasanya dengan USG dan terkadang dengan biopsi
endometrium. Pada penelitian 36 wanita dengan PCOS, ketebalan
endometrium kurang dari 7 mm dan interval antar menstruasi kurang dari
3 bulan hanya terkait dengan proliferasi endometrium dan tidak ditemukan

11

adanya hiperplasia endometrium. Banyak modalitas diagnostik yang telah


diteliti untuk mendiagnosis secara optimal penyebab terjadinya perdarahan
uterus abnormal dan untuk mengidentifikasi apakah pada pasien tersebut
memiliki resiko untuk terjadinya hiperplasia atau karsinoma.3,4,5
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnosa hyperplasia endometrium dengan cara USG, Dilatasi dan
Kuretase, lakukan pemeriksaan

Hysteroscopy

dan dilakukan juga

pengambilan sampel untuk pemeriksaan PA. Secara mikroskopis sering


disebut Swiss cheese patterns.10
1. Ultrasonografi
USG menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambaran
dari lapisan rahim. Hal ini membantu untuk menentukan ketebalan
rahim. USG transvaginal merupakan prosedur diagnosis yang non
invasif

dan

relatif

murah

untuk

mendeteksi

kelainan

pada

endometrium. Walaupun begitu, pada wanita postmenopause, efikasi


alat ini sebagai pendeteksi hiperplasia endometrium ataupun
karsinoma tidak diketahui. Pada percobaan PEPI (Postmenopausal
Estrogen/Progestin

Intervensions),

dengan

batas

ketebalan

endometrium 5 mm didaptkan positive predictive value (PPV),


negative predictive value (NPV),sensitifitas, dan spesifisitas untuk
hiperplasia endometrium atau karsinoma adalah 9%, 99%, 90%,
48%.USG dapat digunakan sebagai panduan untuk menentukan jika
wanita mengalami perdarahan post menopause (PMB) membutuhkan
tes diagnostik yang lebih spesifik lagi (seperti pipelle EMB atau kuret)
untuk menentukan adanya hiperplasia atau karsinoma endometrium.
Pada 339 wanita dengan PMB, tidak ada wanita dengan ketebalan
endometrium 4 mm yang berkembang menjadi karsinoma
endometrium selama 10 tahun. Pada wanita pasca menopause
ketebalan endometrium pada pemeriksaan ultrasonografi transvaginal
kira kira < 4 mm. Untuk dapat melihat keadaan dinding cavum uteri
secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan hysterosonografi
dengan memasukkan cairan kedalam uterus.9,10

12

2. Pipelle endometrial biopsy


Pengambilan sampel endometrium dengan pipelle merupakan cara yang
ektif dan relatif tidak mahal untuk mengambil jaringan untuk diagnosis
histologi pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal. Pada
penelitian prospektif, acak untuk membandingkan antara pipelle (n =
149) dan kuret(n = 126) pada wanita dengan perdarahan uterus
abnormal, sampel jaringan yang kurang hanya 12,8% dan 9,5%.
Perbedaan ini tidak 30 signifikan (P<0,05). Pada kedua kelompok
pasien, memiliki kesamaan diagnosis dengan diagnosis histerektomi
sebesar 96%. Studi sebelumnya menjelaskan wanita dengan banyak
penyebab perdarahan uterus abnormal, bagaimanapun sangat penting
untuk dilakukan pemeriksaan pipelle EMB untuk membuat diagnosis
yang benar. Pada penelitian meta analisis pada 7914 pasien, pipelle
memiliki sensitifitas 99% untuk mendeteksi kanker endometrium pada
wanita post menopause, tetapi pada wanita dengan hiperplasia
endometrium, sensitivitas menurun hingga 75%.9,10
3. Histeroskopi dan/atau Dilatasi dan Kuretase
Histeroskopi secara umum telah disepakati sebagai gold
standard untuk mengevaluasi kavitas uterus. Polip endometrium dan
mioma submukosa dapat dideteksi dengan histeroskopi dengan
sensitivitas 92% dan 82%.Walaupun begitu, histeroskopi sendiri untuk
mendeteksi hiperplasia dan atau karsinoma endometrium meghasilkan
angka false-positive yang tinggi dan membutuhkan penggunaan dilatasi
dan kuret untuk diagnosis. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 98%,
spesifisitas 95%, PPV 96%dan NPV 98% bila dibandingkan dengan
diagnosis hasil pemeriksaan jaringaan setelah histerektomi.9,10
4. Sonohisterografi
Sonohisterografi merupakan pendekatan yang relatif

baru

untuk mendiagnosis penyebab dari perdarahan uterus abnormal.


Keuntungan

dari

transvaginal

adalah

sonohisterografi
kemampuannya

yang
yang

melebihi
lebih

dari

USG

baik

untuk

mengevaluasi kelainan intrauterin seperti polip dan mioma submukosa.

13

Walaupun begitu, sonohisterografi sendiri memiliki nilai terbatas untuk


mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma endometrium.
EMB dengan pipelle merupakan pembuktian yang efektif untuk
mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma namun memiliki sensitifitas
yang rendah untuk mendiagnosa lesi yang jinak didalam uterus.
Beberapa

penelitian

transvaginal,sonohisterografi

telah
dan

EMB

mengkombinasikan
dengan

pipelle

untuk

mengidentifikasi penyebab dari perdarahan uterus abnormal dan secara


spesifik perdarahan post menopause. Bila dibandingkan dengan DChisteroskopi sebagai standar utama, transvaginal, sonohisterografi, dan
EMB dengan pipelle memiliki sensitivitas lebih dari 94%.Wanita
dengan perdarahan post menopause harus menjalani pemeriksaan fisik
yang menyeluruh untuk menentukan sumber perdarahan. Jika
pemeriksaan fisik tidak dapat menjelaskan penyebab perdarahan, USG
transvaginal dapat digunakan sebagai panduan untuk pemeriksaan
lebih lanjut. Wanita post menopause dengan penebalan dinding uterus
(>5mm) atau wanita dengan perdarahan persisten yang tidak bisa
dijelaskan membutuhkan biopsi endometrium. Diagnosis hiperplasia
atau karsinoma endometrium pada pemeriksaan biopsi enometrium
harus dievaluasi dengan DC untuk memperoleh spesimen yang lebih
luas
Pada sebagian besar kasus , terapi hiperplasia endometrium
atipik dilakukan dengan memberikan hormon progesteron. Dengan
pemberian progesteron, endometrium dapat luruh dan mencegah
pertumbuhan kembali. Kadang kadang disertai dengan perdarahan per
vaginam. Besarnya dosis dan lamanya pemberian progesteron
ditentukan secara individual. Setelah terapi ,dilakukan biopsi ulang
untuk melihat efek terapi. Umumnya jenis progesteron yang diberikan
adalah Medroxyprogetseron acetate (MPA) 10 mg per hari selama 10 hari
setiap bulannya dan diberikana selama 3 bulan berturut turut.Pada
pasien hiperplasia komplek harus dilakukan evaluasi dengan D &
Cfraksional dan terapi diberikan dengan progestin setiap hari selama 6
14

bulan.Pada

pasien

hiperplasia

komplek

dan

atipik

sebaiknya dilakukan histerektomi kecuali bila pasien masih


menghendaki anak. Pada pasien dengan tumor penghasil estrogen
harus dilakukan ekstirpasi
I. Diagnosis banding
Hiperplasia mempunyai gejala perdarahan abnormal oleh sebab itu dapat
dipikirkan kemungkinan:
1. Karsinoma endometrium
2. Abortus inkomplit
3. Leiomioma
4. Polip endometrium
J. Penatalaksanaan
Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai
berikut:
1. Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus
sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan
2. Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan
kadar

hormon

di

dalam

tubuh.

Namun

perlu

diketahui

kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual,


muntah, pusing, dan sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan
hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim
sudah bisa diatasi. Terapi progestin sangat efektif dalam mengobati
hiperplasia endometrial tanpa atipik, akan tetapi kurang efektif
untuk

hiperplasia

dengan

atipi.

Terapi

cyclical

progestin

(medroxyprogesterone asetat 10-20 mg/hari untuk 14 hari setiap


bulan) atau terapi continuous progestin (megestrol asetat 20-40
mg/hari) merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan
hiperplasia endometrial tanpa atipik. Terapi continuous progestin
dengan megestrol asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan
terapi yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan
hiperplasia atipikal atau kompleks Terapi dilanjutkan selama 2-3
bulan dan dilakukan biopsi endometrial 3-4 minggu setelah terapi
selesai untuk mengevaluasi respon pengobatan

15

3. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan

ALGORITMA PENATALAKSANAAN
ENDOMETRIUM
perbaikan, biasanya akanHIPERPLASIA
diganti dengan obat-obatan
lain.
Tanda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu
siklus haid kembali normal. Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu
sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani
Endometrial Hyperplasia tanpakehamilan.
atipia (EH) Namun

alangkah baiknyaAtipia
jika hyperplasia
terlebih dahulu
(AH)

memeriksakan diri pada dokter. Terutama pemeriksaan bagaimana


fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel

ko

LNG-IU (First line),


Diperlukan
Oral progesteron
kesuburan
(Second
atau kontraindikasi
Line)
pembedahan

telur dan sebagainya.


4. Histerektomi Metode ini merupakan solusi permanen untuk terapi

uterus abnormal.
Khusus
bagi
penderita
Diperlukanperdarahan
Biopsi endometrial
(EB) pada
: EH
6 bulan
dan hiperplasia
AH 3 total
bulan BSO
Histerektomi
kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan
satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan Rahim dan ini
Regresi

terkait dengan angka kepuasan pasien dengan terapi ini. untuk


Persisten

Progresif

wanita yang cukup memiliki anak dan sudah mencoba terapi


konservatif dengan hasil yang tidak memuaskan, histerektomi

merupakan
pilihan
yang
Penyakit
hiperplasia
endometrium
k5 jika
tahun
observasi
Oral progesteron-stop
gagal Beritahu
Review
setelah
untuk
terapi
Histerektomi
6 bulan
Totaltotal
histerektomi
AHterbaik.
: BSO
Histerektomi
jika
menetap
BSO
total
jika setelah

terus
BSO
menerus
12 bulan
AUB
terapi medikal
EH
cukup merupakan momok bagi kaum perempuan dan kasus seperti
ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari itu akan
lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif.

gan oral progesteron : 2 negativ secara berurutan EBs selama interval 6 bulan sesudah tahunan review EB
Menyusun Follow up

Bukan EC : review selama 6 bulan dan discharge

RELAPS
Sarankan untuk Histerektomi total BSO

Keterangan
AH : atipical hiperplasia
AUB : Abnormal Uterine Bleeding
BMI : Body Mass Index
BSO : Bilateral Salpingo-oophorectomy
EB : Endometrial biopsy
EC : Endometrial cancer
16

EC

K. Prognosis

Gambar 4. Algoritma HE
L. Pencegahan
Langkah-langkah yang bisa disarankan untuk pencegahan, seperti :
1. Melakukan pemeriksaan USG dan / atau pemeriksaan rahim secara
rutin, untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya
penebalan dinding rahim.

17

2. Melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar


menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang
banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama.
3. Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai
dengan pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
4. Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi
progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan.
Terapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi.
5. Mengubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.

.
M. Kesimpulan

Hiperplasia Endometrium adalah suatu kondisi di mana lapisan


dalam rahim (endometrium) tumbuh secara berlebihan. Kondisi ini
merupakan proses yang jinak (benign), tetapi pada beberapa kasus
(hiperplasia tipe atipik) dapat menjadi kanker rahim.
Endometrium merupakan lapisan paling dalam dari rahim. Lapisan ini
tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri
terhadap terjadinya kehamilan, agar hasil konsepsi bisa tertanam. Jika
tidak terjadi kehamilan, maka lapisan ini akan keluar saat menstruasi.
Pada kebanyakan kasus hiperplasisa dapat diobati dengan obat2an
yaitu dengan memakai progesteron. Progesteron menipiskan/menghilangkan
penebalan serta mencegahnya tidak menebal lagi. Namun pemakain
progesteron ini menimbulkan bercak (spotting). 10

18