Anda di halaman 1dari 36

Sejarah Penanggulangan Terorisme

Sejarah penanggulangan aksi terorisme di Indonesia bisa dibagi ke dalam dua


macam
pendekatan,
yakni hard
approach (pendekatan
keras)
dan soft
approach (pendekatan lunak). Dua macam pendekatan ini muncul karena faktor
latar belakang aksi terorisme dan landasan yang dipakai untuk menanggulangi
terorisme.
Metode hard approach berciri khas penindakan bersenjata terhadap organisasi teror
melalui kekuatan militer. Pendekatan ini berlandaskan pada Penetapan Presiden RI
No. 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi,yang dikeluarkan pada era
Orde Lama. Aturan ini digunakan untuk menindak aktivitas yang dianggap
mengganggu kedaulatan negara, termasuk aksi terorisme. Sementara metode soft
approach mengedepankan tindakan yang terinregrasi dan komprehensif dalam
menangani masalah radikalisme, mulai dari akarnya. Metode ini memakai cara-cara
persuasif, dialog, mengajak keterlibatan masyarakat dalam menangkal faham
radikalisme. Pendekatan semacam ini dimulai sejak pembentukan Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Penanggulangan terorisme di era Orde Lama
Di era Orde Lama, berbagai aksi teror dilatarbelakangi oleh motivasi separatisme
atau ingin melakukan kudeta. Ini bisa dilihat pada kasus pemberontakan
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Perjuangan Rakyat Semesta
(Permesta) dan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Memang ada gerakan yang
berlandaskan pada simbol keagamaan tertentu seperti Darul Islam/Tentara Islam
Indonesia (DI/TII), dengan tokoh seperti Kahar Muzakar, Kartosuwiryo dan Daud
Beureuh, namun semangatnya adalah separatisme.
Semua gerakan tersebut ditanggulangi oleh negara melalui metode hard approach,
melibatkan konfrontasi bersenjata dengan kekuatan militer. Beberapa contoh di
antaranya adalah PRRI yang ditumpas dengan pengerahan kekuatan militer
terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah militer Indonesia. Selain itu Permesta
yang bebeberapa kali terlibat kontak bersenjata dengan pemerintah, sebelum
menyadari posisinya makin sulit dan kemudian memutuskan kembali ke NKRI dan
menyatakan pembubaran diri.
Penanggulangan terorisme di era Orde Baru
Di era Orde Baru mulai muncul aksi terorisme yang berlandaskan pada penafsiran
ajaran agama tertentu. Hal ini bisa dilihat pada kasus pembajakan sebuah pesawat
Garuda, pada 28 Maret 1981, atau pengeboman Candi Borobudur pada 21 Januari
1985. Saat itu negara masih menggunakan pendekatan hard approach. Namun
begitu, Orde Baru lebih mengandalkan strategi intelijen yang relatif lebih sunyi
ketimbang strtaegi konfrontasi bersenjata sebagaimana dipraktikkan pada era Orde
Lama.
Penetapan Presiden RI No. 11/1963 yang sebelumnya menjadi landasan untuk
memberantas tindak terorisme, sempat dianggap tidak berlaku ketika era Orde Baru
dimulai. Tapi pada tahun 1969, aturan tersebut dikuatkan menjadi UU No.
11/PNPS/1963, yang kemudian kembali menjadi dasar penindakan aksi terorisme
dengan metode hard approach.
Penanggulangan terorisme di era Reformasi
Di era Reformasi, UU No. 11/PNPS/1963 resmi dicabut melalui penetapan UndangUndang No. 26 Tahun 1999. Sementara aksi terorisme seperti pengeboman dan
bom bunuh diri terus bermunculan, kali ini mengincar rumah-rumah ibadah, pusat
keramaian dan kedutaan besar negara-negara sahabat.

Aksi terorisme di Indonesia yang paling banyak menyedot perhatian adalah


peristiwa Bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002. Kejadian ini direspon dengan cepat
oleh pemerintah. Setelah selama beberapa tahun penanggulangan terhadap aksi
terorisme tidak memiliki payung hukum yang spesifik, kali ini pemerintah
menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1
tahun 2002. Peraturan ini kemudian disahkan menjadi Undang-Undang dengan
nomor 15 tahun 2003, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Langkah ini disusul Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2002, yang memberi mandat
kepada Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) untuk
membuat strategi dan kebijakan nasional dalam menangani terorisme.
Menkopolkam
kemudian
mengeluarkan
keputusan
dengan
nomor
26/Menko/Polkam/11/2002,
mengenai
pembentukan
Desk
Koordinasi
Pemberantasan Terorisme (DKPT).
Melihat fenomena organisasi terorisme yang makin sistematik dalam merekrut dan
melakukan kaderisasi, pemerintah memandang upaya terpadu dan strategis untuk
merespon hal ini. Hal ini direspon oleh DPR, melalui Rapat Kerja antara Komisi 1 DPR
RI dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
(Menkopolhukam), pada 31 Agustus 2009.
DPR RI melalui Komisi 1 menyatakan mendukung upaya pemerintah dalam
menanggulangi dan memberantas pemerintah, serta merekomendasikan beberapa
poin yang kemudian diwujudkan dalam pendirian Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT). Pendirian lembaga ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 46
Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Pendirian BNPT ini menandai dimulainya babak baru dalam metode
penanggulangan terorisme yang mengedepankan metode soft approach.
Landasannya adalah penegakan hukum, di mana terorisme dianggap sebagai
tindakan kriminal yang masuk dalam kategori kejahatan luar biasa. Dalam upaya
penanggulangan terorisme, BNPT menekankan upaya yang integratif dan
komprehensif, mengedepankan pendekatan persuasif dengan berbagai program
yang menyentuh akar persoalan, yakni ideologi, sosial, ekonomi dan ketidakadilan.
Dalam pelaksanaan programnya, BNPT melibatkan seluruh komponen bangsa, baik
pemerintah (K/L) maupun masyarakat. Dalam posisi inilah BNPT menjadi leading
sector yang mengkoordinasikan seluruh potensi daya dari berbagai elemen bangsa
dalam penanggulangan terorisme.
BNPT memiliki wewenang untuk menyusun dan membuat kebijakan serta strategi
dan menjadi koordinator dalam bidang pencegahan terorisme. Arahan kebijakan
pelaksanaan pencegahan radikal terorisme harus dapat berjalan secara efektif,
efisien, terukur, konsisten, terintegrasi, terlembaga, dan berkelanjutan. Arah
kebijakan ini meliputi pencegahan penyebaran ideologi dan kelompok radikal
terorisme melalui sosialisasi, intelijen pencegahan dan fasilitasi pelatihan. Hal ini
juga harus sejalan dengan meningkatkan dukungan masyakarat terhadap gerakan
upaya melawan pemikiran dan aksi radikal terorisme sebagai upaya pencegahan
terorisme yang dapat mengancam stabilitas keamanan dan kedaulatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk merealisasikan pendekatan kepada berbagai elemen masyarakat, sekaligus
memacu partisipasi mereka dalam pencegahan infiltrasi faham-faham terorisme,
BNPT telah membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di berbagai
daerah. Forum ini bertujuan untuk menghimpun dukungan masyarakat dan
pemerintah daerah dalam upaya pencegahan terorisme dengan berbasiskan
penerapan nilai kearifan lokal masing-masing daerah.

Dalam menjalankan programnya, struktur Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan


oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terdiri dari:
Pengawasan dan kontra propaganda
Pengawasan dan Kontra Propaganda merupakan bagian dari Pencegahan Terorisme
dengan
tugas utamanya merumuskan, menkoordinasikan dan melakukan
pengawasan, baik pengawasan administratif maupun pengawasan fisik serta
strategi kontra propaganda melalui media center maupun media lainnya. Hal yang
terkait pemantauan dan pengendalian di bidang pengawasan dan strategi kontra
propaganda juga dilakukan untuk mengantisipasi aksi terorisme.
Kewaspadaan
Kewaspadaan dalam pencegahan teror meupakan upaya deteksi dini dalam
mencegah aksi teror. Bidang Kewaspadaan bertugas merumuskan kebijakan dan
strategi di bidang peringatan dini dalam rangka pencegahan ancaman terorisme,
menyiapkan koordinasi peringatan dini dan hal-hal yang terkait informasi awal
tentang rencana kegiatan terorisme terutama pemetaan, jaringan dan pendanaan
terorisme. Hal terpenting adalah melaksanakan kebijakan dan strategi di bidang
peringatan dini dalam rangka pencegahan ancaman terorisme serta memantau dan
mengendalikan pelaksanaan peringatan dini dalam rangka pencegahan ancaman
terorisme.
Penangkalan
Bidang penangkalan dalam pencegahan Terorisme berarti merumuskan, melakukan
koordinasi dan melaksanakan program penangkalan ideologi dan aliran radikal serta
tindak kekerasan. Demikian juga upaya memantau serta melakukan pengendalian
pelaksanaan program-program penangkalan ideologi dan aliran radikal serta tindak
kekerasan dalam rangka pencegahan terorisme.
Perlindungan
Perlindungan dalam Pencegahan Terorisme di bagi menjadi dua sub bidang yaitu
perlindungan terhadap Obvitnas, VVIP serta transportasi dan Perlindungan terhadap
lingkungan. Perlindungan terhadap Obvitnas, VVIP dan transportasi bertugas
menyiapkan bahan perumusan, koordinasi dan pelaksanaan pengamanan serta
melakukan pemantauan dan pengendalian program terkait objek vital nasional,
transportasi dan VVIP dalam rangka perlindungan. Objek vital nasional adalah
telekomunikasi, transportasi (darat, laut, udara), jasa keuangan dan perbankan,
ketenagalistrikkan, minyak dan gas, pasokan air besih, unit layanan darurat seperti
rumah sakit,kepolisian dan pemadam kebakaran serta kantor pemeintahan.
Perlindungan terhadap lingkungan berfungsi merumuskan kebijakan dan strategi di
bidang pengamanan wilayah pemukiman serta wilayah publik dalam rangka
perlindungan.
Mengkoordinasikan
dan
melaksanakan
program-program
pengamanan wilayah pemukiman dan wilayah publik dalam rangka perlindungan.
Pemantauan dan pengendalian program juga dilakukan untuk melakukan
perlindungan, sebagai bagian dari pencegahan terorisme.
Sumber:
1. Dokumen Blueprint Pencegahan Terorisme, BNPT, 2014
2. Dokumen Perkembangan Terorisme di Indonesia, BNPT, 2013
https://damailahindonesiaku.com/terorisme/sejarah-terorisme/
==============

Penanganan Terorisme
Sabtu, 1 Desember 2012
Oleh Suhardi Alius
Teroris kini tumbuh seperti jamur di musim hujan. Maka dibutuhkan pemahaman
yang lebih kritis dan obyektif untuk merespons peristiwa sesaat, tetapi berorientasi
pada pengembangan konsep pencegahan yang lebih luas.
Indonesia memilih pemberantasan terorisme dengan model law-enforcement.
Sebagai negara demokrasi baru yang telah meninggalkan otoritarianisme
seharusnya ini menjadi proyek percontohan negara yang berhasil memberantas
terorisme dengan sistem yang berbasis criminal-justice (melalui penindakan oleh
polisi dan diproses melalui pintu pengadilan berlapis).
Criminal justice system yang dipilih Indonesia tetap lebih baik dibanding
menggunakan pendekatan lain terhadap terorisme yang kadang proses
penangkapan terhadap pelaku terorisme tidak dapat diungkap kepada publik.
Beberapa negara yang memilih pendekatan militer, seperti Pakistan dan Yaman,
justru menimbulkan kerawanan terhadap instabilitas politik dalam negeri.
Namun, penanganan teroris di Indonesia lebih lunak dibandingkan Amerika Serikat
sebagaimana diungkap Sidney Jones. Ia mengatakan, Indonesia lebih baik
menangani terorisme
dan dampak-dampaknya ketimbang
negara lain.
Perbedaannya dengan Amerika adalah Indonesia mampu mengadili para pelaku
terorisme secara lebih terbuka dibanding Amerika yang menerapkan pengadilan
tertutup, seperti halnya sekarang di Guantanamo.
Memang masih banyak kritik terhadap operasi pemberantasan terorisme oleh Polri.
Namun, di lain sisi juga perlu dipahami, apa yang dilakukan Polri adalah dalam
rangka melindungi masyarakat dan kepentingan umum, termasuk mencegah
berkembangnya paham yang tidak sesuai dengan makna ajaran agama dan nilainilai Pancasila, sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pendekatan keras
Teror harus ditindak, tetapi dengan tetap menjunjung tinggi code of conduct
ataupun rule of engagement sehingga apa pun yang dilakukan dalam melawan
terorisme terbebas dari persoalan pro dan kontra sehingga mendapatkan legalitas
dan legitimasi.
Pendekatan keras (hard approach) selama ini tidak sepenuhnya efektif dalam
penanggulangan terorisme. Selain rugi karena hilangnya rantai penghubung bila
jumlah pelaku yang tertembak mati banyak, hal ini juga menghambat informasi
tentang sel dan organisasi teror itu.
Selain itu, tembak mati teroris menyisakan duka dan dendam keluarga serta
komunitas yang ditinggalkan. Maka pendekatan keras harus dibarengi sentuhan
serta pencerahan agar dendam tidak berkelanjutan dan bahkan menjadikan aparat
pemerintah target pembalasan. Penindakan teroris tidak boleh berhenti kepada
pelaku, tetapi dilanjutkan dengan upaya pendekatan terhadap keluarga serta
komunitasnya.
Karena itu, muncul upaya agar sedapat mungkin tidak menembak mati terduga
pelaku terorisme, sepanjang tidak membahayakan petugas/masyarakat dan
kemudian menangkap hidup-hidup. Pendekatan keras masih diperlukan, tetapi
harus dibatasi penggunaannya hanya pada kondisi paling darurat. Sejumlah
alternatif dalam operasi di lapangan dapat ditempuh dan menjadi prosedur standar.
Pendekatan lain adalah pendekatan lunak (soft approach). Ini lazim dilakukan
melalui program deradikalisasi seperti mengedepankan fungsi intelijen dan

pembinaan masyarakat tingkat mabes dan kewilayahan yang mencakup kemitraan,


serta kebijakan berbasis persetujuan dan legitimasi publik, bukan sekadar
menerapkan peraturan.
Selanjutnya perlu tindakan preventif bukan reaktif, pendekatan interagensi dan
memperkuat kewaspadaan masyarakat agar tidak terpengaruh terorisme dan tidak
bersimpati kepada gerakan terorisme. Pemerintah sebaiknya menyelesaikan akar
masalah lokal (seperti dalam kasus Poso dan daerah konflik lainnya) serta bekerja
sama dengan instansi terkait untuk mengidentifikasi daerah dan masyarakat yang
terkena paham radikal untuk menetralkannya. Sistem keamanan lingkungan yang
pernah ada dengan wajib lapor bagi orang asing bisa dihidupkan lagi.
Di sisi pendidikan, perlu pengayaan kurikulum pendidikan agama dan pendidikan
kewarganegaraan.
Deradikalisasi
Program deradikalisasi pada dasarnya berangkat dari asumsi bahwa terorisme
berawal dari radikalisme. Oleh karena itu, upaya memerangi terorisme lebih efektif
melalui deradikalisasi. Esensinya adalah mengubah pemahaman atau pola pikir
yang dianggap salah. Caranya dengan memberikan pengalaman baru yang didapat
bukan dari medan perang, tetapi dari kehidupan sosial lewat interaksi antarmanusia
secara terbuka dan inklusif agar mendapat pemahaman yang benar soal jihad dan
terorisme.
Dalam memerangi terorisme harus mempertimbangkan hukum, sosial, dan budaya
bangsa karena bila tidak justru akan menciptakan kondisi yang kontra produktif.
Oleh karena itu, strategi mengatasi terorisme akan berbeda antarnegara.
Pendekatan lunak adalah upaya deradikalisasi yang dilakukan Polri secara lintas
sektoral terhadap akar kejahatan terorisme. Caranya dengan masuk ke dalam
kehidupan masyarakat lewat deteksi dini, upaya pencegahan, serta pembinaan
terhadap para eks pelaku teror dan pendukungnya. Prioritas dalam pendekatan ini
adalah para keluarga serta komunitas para teroris yang telah ditindak.
Tidak semua kekerasan dapat dipadamkan melalui tindak kekerasan.
Penanggulangan terorisme membutuhkan kebijakan yang bersifat komprehensif
baik dalam tataran kebijakan maupun pelaksanaan kontra terorisme yang umum
dan menyeluruh.
Pada dasarnya penanggulangan terorisme tidak hanya terkait penindakan saja,
tetapi juga terkait aspek lain yang melibatkan instansi lain, seperti Kementerian
Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pendidikan Nasional,
Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Sosial, Kementerian Agama,
Kementerian Komunikasi dan Informasi, BIN, unsur-unsur TNI di daerah, serta unsur
lainnya. Pemangku kepentingan lain, seperti lembaga swadaya masyarakat,
perguruan tinggi, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, juga perlu dilibatkan.
Menangkal teroris dengan pendekatan lunak akan lebih berdampak positif. Caranya
dapat dimulai dengan mendekati eks para pejuang dari Afganistan, Filipina, dan dari
negara lain yang ada di wilayah Indonesia. Pemerintah juga harus mampu
merangkul pondok pesantren ataupun organisasi kemasyarakatan Islam dalam
mengontrol masuknya ideologi yang keliru dalam memaknai jihad dan penghalalan
cara untuk membunuh orang lain. Perlu ditegaskan oleh Kementerian Agama bahwa
para teroris bukanlah produk agama karena semua agama mengajarkan kebaikan.
Berbagai cara harus dilakukan untuk menyadarkan bahwa tindakan teroris itu tidak
dibenarkan oleh agama apa pun sehingga tidak ada lagi kebencian terhadap agama
lain, aparat, lingkungan, warga sipil, dan bangsa lain.

Dengan demikian, tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini selain melaksanakan
pendekatan lunak secara komprehensif dalam menyelesaikan kasus terorisme itu.
Pendekatan ini yang mungkin akan bisa menjawab pertanyaan mengapa terorisme
itu muncul di Indonesia dan bagaimana cara untuk menghadapinya.
Implementasi memerangi aksi terorisme dilakukan dalam bentuk resosialisasi,
reintegrasi, dan sekaligus keteladanan bahwa langkah pemerintah tidak
diskriminatif dan perang melawan terorisme adalah kebutuhan mendesak untuk
melindungi warga negara Indonesia sesuai tujuan nasional yang diamanatkan
Pembukaan UUD 1945.
Sebaliknya, diperlukan keberanian masyarakat luas untuk segera melapor bila
menemukan indikasi atau kejadian yang mengarah pada tindakan terorisme. Dari
semua uraian di atas tampaknya sudah sangat mendesak untuk secara terintegrasi
pemerintah melaksanakan operasionalisasi serta implementasi dari semua
kebijakan, konsep, dan rekomendasi yang telah ada agar bermanfaat langsung.
Suhardi Alius Kepala Divisi Humas Polri
http://regional.kompas.com/read/2012/12/01/04025762/Penanganan.Terorisme
===============

Pencegahan Terorisme
Oleh Khamami Zada
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Osama bin Laden dikabarkan telah tewas oleh operasi militer Amerika Serikat.
Tewasnya orang nomor satu yang paling diburu AS ini setidaknya akan menyita
pandangan masyarakat Muslim di Indonesia. Paling tidak, kata syahid akan
menyelimuti pandangan umat Islam. Antara teroris dengan syahid memang dua
kata yang sulit dipisahkan, sehingga orang yang berjihad dengan tindakan
terorisme dipandang sebagai pejuang yang mati syahid. Pemahaman ini masih
melekat dalam diri umat Islam. Inilah yang semakin mempersubur radikalisme dan
terorisme di Indonesia.
Faktor yang utama bukan saja karena pemahaman agama yang sempit. Tetapi juga
kebebasan yang telah diberikan negara ini dalam mengekspresikan agama. Di
dalam iklim demokrasi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, negara
seakan tidak berani melakukan pembatasan terhadap aktivitas keagamaan,
termasuk di dalamnya upaya mencegah aksi terorisme. Padahal, modus terorisme
di Indonesia sudah semakin variatif. Bukan lagi aset-aset asing yang menjadi
sasaran, tetapi sudah mengarah pada kepentingan nasional. Masjid di Kantor
Kepolisian saja sudah menjadi sasaran pengeboman.
Sayangnya, perdebatan tentang terorisme di Indonesia lebih difokuskan pada soal
jaringan terorisme. Yakni, tentang siapa saja yang terlibat dalam jaringan
pengeboman dan model terorisme yang dilakukan. Tak heran jika yang
diperbincangkan dalam aksi terorisme adaah siapa pelakunya dan masuk dalam
jaringan mana serta bagaimana model terorisme yang dilakukan. Ini memang
penting dalam mengungkap genealogi terorisme. Tetapi, fokus seperti ini hanya
akan mengungkap jaringannya saja. Padahal inti dari penanggulangan terorisme
adalah pencegahan. Yaitu, mencegah terjadinya aksi terorisme.

Upaya pencegahan terorisme sesungguhnya sudah sering disampaikan kepolisian,


khususnya Densus 88 agar kepolisian tidak hanya sibuk ketika telah terjadi aksi
pengeboman. Di dalam pencegahan terorisme, kepolisian dapat mendeteksi dan
memproses secara hukum siapa saja yang diduga melakukan tindakan yang
mengarah terorisme. Misalnya, pidato-pidato keagamaan yang memprovokasi
terorisme, menggerakkan massa baik sembunyi-sembunyi ataupun secara terbuka
untuk melakukan penyerangan, pelatihan perang, menulis buku-buku yang
memprovokasi dan menebar kebencian kepada negara dan agama, membuat
pernyataan sikap yang mengarah pada kegiatan terorisme. Semuanya ini dapat
dikelompokkkan ke dalam kegiatan pra terorisme.
Ironisnya, jika kegiatan pra aksi terorisme dapat diproses di pengadilan, maka
kelompok pro demokrasi akan berteriak sebagai pelanggaran terhadap hak asasi
manusia. Memang selama ini, aparat kepolisian gamang untuk melakukan
pencegahan terhadap terorisme karena menghadapi kritik dari kelompok pro
demokrasi dan akan mendapat ancaman dari kelompok-kelompok agama yang
selama ini melakukan terorisme. Inilah yang membuat tumbuh suburnya terorisme
di Indonesia tanpa adanya proses pencegahan yang berarti. Karena itulah,
pencegahan terhadap terorisme sudah saatnya menjadi fokus utama dalam
penanggulangan terorisme, baik dalam menyebarkan pemahaman keagamaan yang
moderat maupun memasukkan komponen pencegahan dalam revisi Undangundang Terorisme.
http://www.masjidrayavip.org/index.php?
option=com_content&view=article&id=161:pencegahanterorisme&catid=62:khamami-zada&Itemid=99
============
Pola Penanggulangan Terorisme Di Indonesia: Studi Kebijakan Kriminal
Jodi Afila Ryandra
Fraud Investigator di Astra Credit Companies
Rabu, 18 Februari 2015
Dalam kajian secara kriminologi, fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, yaitu
mengenai
kejahatan
telah
mengalami
perubahan
dalam
skala
cepat. Kejahatan yang pada awalnya dikaji dan dibahas hanya berdasarkan jenis
kejahatan maupun penyebabnya secara individual sekarang telah berkembang
hingga kelompok kejahatan.
Demikian pula dengan tipologi kejahatan yang dilakukan. Saat ini kejahatan
transnasional merupakan tipologi kejahatan yang menarik untuk dijadikan
pembahasan.Dalam konteks kejahatan transnasional, terdapat beberapa unsurunsur yang saling berkaitan dan terhubung seperti bidang politik, sosial, budaya,
komunikasi, danteknologi yang berperan dalam pengembangan globalisasi itu
sendiri (Beck,2000).
Kejahatan transnasional ternyata memiliki banyak definisi yang berkembang, salah
satunya dari United Nations Convention on Transnational Organized Crime. Dalam
konvensi internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa ini secara lebih rinci
menjelaskan bahwa kejahatan transnasional adalah tindakan pelanggaran yang
berkaitan dengan sedikitnya dua negara.
Secara lebih lanjut, konvensi tersebut juga membagi berbagai kategori dari
kejahatan transnasional yang mencakup pencucian uang, aktivitas teroris,
pencurian hak atas kekayaan intelektual, penipuan finansial, perdagangan obat

terlarang, korupsi, pembajakan pesawat, terorisme, dan kejahatan lintas negara


lainnya.
Salah satu contoh kejahatan transnasional yang menarik untuk dibahas adalah
kejahatan terorisme yang saat ini menjadi lebih sering untuk dibahas oleh
pemerintah di berbagai negara. Kejahatan terorisme menjadi sangat menarik untuk
dibahas hingga saat ini diakibatkan oleh peristiwa 11 September 2001.
Kejahatan terorisme dapat diketahui secara lebih jelas apabila memahami
terminologi dari kata teror, teroris, dan terorisme. Perumusan definisi mengenai tiga
kata tersebut sampai saat ini belum memiliki persamaan pemikiran dari masingmasing ahli yang ingin membatasi ruang lingkupnya.
Khusus untuk teror, perbedaan pandangan dari para ahli dalam mengungkapkan
unsur-unsur ataupun kriteria dalam tindakan teror telah menjadikan banyaknya
rumusan mengenai definisi teror ini. Kata teror berasal dari bahasa Latin terrorem
yang berarti rasa takut yang luar biasa. Dalam kata kerja, terrere berarti
membuat takut atau menakut-nakuti.
"Kata teror berasal dari bahasa Latin terrorem yang berarti rasa takut yang luar
biasa"
Menurut Websters New World Dictionary, kata terorisme berasal dari bahasa
Perancis yang pertamakali digunakan pada pasca terjadinya revolusi Perancis dan
awal Reign of Terror di Perancis sekitar tahun 1793-1794, pemerintahan yang
berkuasa mempraktekan cara-cara teror dalam menerapkan kebijakankebijakannya.
Sedangkan menurut Islamic World Organization dari Abdulhadi Alshehri (2010),
terorisme didefinisikan sebagai tindakan agresi yang dilakukan oleh individu,
kelompok, atau negara terhadap manusia yang berkaitan dengan agama, darah,
pikiran, uang dan kehormatan, mencakup tipe-tipe yang menakutkan, berbahaya,
mengancam, dan membunuh tanpa hak, dan berhubungan dengan perang,
perampokan. Semua tindakan kekerasan atau yang ancaman mungkin menjadi
pelaksanaan proyek dari individu atau kejahatan kolektif dengan tujuan teror
kepada orang-orang dengan merugikan mereka.
Mulai banyaknya peristiwa terorisme yang terjadi di dunia internasional pada awal
abad 21, termasuk Indonesia, telah diupayakan untuk diantisipasi dalam berbagai
macam kebijakan. Kebijakan yang dikeluarkan pun bermacam-macam bentuk
pendekatannya.
Adapun pendekatan yang saat ini dikenal terbagi atas dua, yaitu hard
approach dan soft approach.
Hard approach atau yang dikenal dengan pendekatan keras dapat disebutkan
sebagai penggunaan kebijakan yang bersifat militer atau menggunakan teknik
bersenjata seperti penggunaan tentara, intelijen, dan penyusupan.
Soft approach atau dikenal sebagai pendekatan penegakan hukum yang lebih
bersifat kepada proses mengubah individu menjadi lebih moderat dengan
menghilangkan aspek radikal pada diri mereka (Hearne & Laiq, 2010).
Sebagai bentuk reaksi sosial terhadap kejahatan, pemerintah Indonesia telah
mengupayakan berbagai macam aturan hukum maupun pendirian lembaga yang
bertugas untuk menangani permasalahan ini dalam berbagai kebijakan yang
berbentuk sistem terpadu penanggulangan terorisme di Indonesia. Dalam obyek
penelitian kriminologi, reaksi sosial (masyarakat) terhadap kejahatan dimasukkan
ke dalamnya selain peristiwa kejahatan, pelaku, dan korban kejahatan sendiri.

Adapun definisi dari reaksi sosial terhadap kejahatan adalah pola bentuk tindakan
yang dilakukan oleh warga masyarakat secara bersama-sama, dalam rangka
menghadapi atau menyikapi kejahatan (Mustofa, 2007).
Secara lebih mendalam dapat disebutkan bahwa reaksi sosial terhadap kejahatan
dapat terbagi menjadi tiga, yaitu:
Reaksi sosial terhadap kejahatan yang bersifat formal.
Reaksi sosial terhadap kejahatan yang bersifat informal.
Reaksi sosial terhadap kejahatan yang bersifat non-formal.
Reaksi sosial terhadap kejahatan yang bersifat formal oleh negara dapat juga
disebut sebagai kebijakan kriminal sebab mengacu kepada penjelasan Gilsinan
(1990) yang menyebutkan bahwa inti dari pembuatan kebijakan bertumpu pada
pembuatan kebijakan, pelaksanaan, dan advokasi kebijakannya, maka kebijakan
kriminal merupakan serangkaian kebijakan khusus yang berkaitan dengan
kejahatan yang dibuat oleh negara.
Pembahasan mengenai konsep kebijakan kriminal juga terdapat dalam berbagai
literatur ilmiah, seperti menurut Buchholz dan Rosenthal (2004 dalam
Rismawanharsih, 2012) bahwa kebijakan kriminal sebenarnya memiliki kesamaan
dengan kebijakan publik. Kebijakan publik sendiri memiliki beberapa rangkaian
proses untuk dapat dirumuskan sebagai sebuah kebijakan. Hal tersebut dapat
disebut sebagai Policy Process.
Proses pembuatan kebijakan publik terdiri dari berbagai lingkaran-lingkaran tertentu
yang dapat dinamakanPolicy Cycle yang mencantumkan proses formulasi,
implementasi, dan evaluasi dalam kebijakan publik.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menciptakan berbagai macam kebijakan
strategis yang terbagi antara dua bagian, yaitu bagian dalam negeri maupun luar
negeri guna menanggulangi kejahatan terorisme.
Adapun kebijakan baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri oleh
pemerintah dapat dibagi dalam tiga periode waktu, yaitu periode Orde Lama, Orde
Baru, dan Reformasi.
Perubahan dalam pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dari hard
approach seperti pada masa Orde Lama dan Orde Baru menjadi kombinasi
antara hard approach dengan soft approach ternyata menurut Mukhtar (2013)
disebabkan oleh kegagalan dalam penanggulangan teror secara keras dengan
merujuk kepada data bahwa sepanjang tahun 1999 hingga saat ini peristiwa teror
tetap muncul.
Bahkan Mukhtar (2013) juga menyebutkan bahwa sebagian pelaku teror memiliki
genealogi dengan jaringan lama, misalnya regenerasi aktor terorisme dan
pendekatan yang dilakukan sebelumnya dapat memicu aksi balasan oleh aktor
terorisme pula.
Menurut Hasan (2012) perlunya untuk melakukan perubahan pendekatan dalam
penanggulangan terorisme adalah untuk merespon bentuk terorisme baru yang
lebih bermotif kepada agama maupun ideologi.
Pendekatan
secara soft
approach juga
dibutuhkan
untuk
mengimbangi
pendekatan hard approach yang selama ini dilakukan pemerintah Indonesia
diperlukan agar dapat mempersuasi pelaku teroris untuk meninggalkan kegiatan
terorisnya, membantu aparat hukum untuk memberikan informasi intelijen terkait
dengan jaringan dan aktivitas teroris, dan dapat menyuruh rekan-rekannya selaku
teroris untuk mau bekerjasama dengan aparat hukum (Hasan, 2012).
Hasan (2012) juga menambahkan bahwa berdasarkan assessmen yang dilakukan
oleh International Crisis Group, pendekatan secara soft approach sangat efektif

dalam mempersuasikan teroris untuk meninggalkan aktivitas terornya dan dapat


bekerjasama dengan aparat hukum untuk menanggulangi kejahatan terorisme.
Secara garis besar, kelebihan dari pendekatan hard approach yang digunakan oleh
pemerintah selama Orde Lama dan Orde Baru adalah dapat mendeteksi jaringan
maupun kegiatan dari kelompok teroris melalui kegiatan intelijen sekaligus
memberikan ancaman sanksi pidana secara maksimal melalui pengerahan kekuatan
bersenjata.
Namun, pendekatan ini juga memiliki kelemahan, seperti rawan pelanggaran hak
asasi manusia mengingat menggunakan kekuatan militer, tidak terlalu berfokus
kepada pencegahan kejahatan, dan juga diketahui melalui penelitian Hasan (2012)
tidak terlalu efektif dalam menanggulangi kejahatan terorisme.
Lalu untuk pendekatan kombinasi hard approach dan soft approach yang mulai
dijalankan pemerintah saat Reformasi melalui BNPT selaku lembaga koordinator
juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah kebijakan yang lebih
melindungi hak asasi manusia melalui deradikalisasi kepada narapidana terorisme,
mengutamakan penyelesaian jalur hukum, melibatkan masyarakat dalam
pengendalian terorisme, dan berperan dalam pencegahan sekaligus penyelesaian
akar masalah terorisme.
"Pendekatan kombinasi hard approach dan soft approach yang mulai dijalankan
pemerintah saat Reformasi melalui BNPT selaku lembaga koordinator juga memiliki
kelebihan dan kekurangan"
Kekurangan dari pendekatan gabungan ini adalah memicu permasalahan koordinasi
dalam hal intelijen dan pelibatan TNI apabila dibutuhkan dalam penanggulangan
terorisme mengingat peraturan hukum yang ada kurang menjelaskan secara lebih
rinci.
Sumber
Beck, Ulrich. (2000). What is globalizations?. Cambridge: Polity Press.
Gilsinan, James F. (1990). Criminology and public policy: an introduction. New Jersey:
Prentice Hall.
Golose, Petrus Reinhard. (2009). Deradikalisasi terorisme: Humanis, soul approach,
dan menyentuh akar rumput. Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu
Kepolisian.
Hearne, Ellie B. & Laiq, Nur. (2010). A new approach?: Deradicalization programs
and counterterrorism. New York: International Peace Institute.
Mustofa, Muhammad. (2007). Kriminologi: Kajian sosiologi terhadap kriminalitas,
perilaku menyimpang, dan pelanggaran hukum. Depok: FISIP UI Press.
Chau, Andrew. (2008). Security community and southeast asia: Australia, the U.S.,
and ASEAN's counter-terror Strategy. Asian Survey, 48, 626-649.
Chow, Jonathan T. (2005). ASEAN counterterrorism cooperation since 9/11. Asian
Survey, 45, 302-321.
Haque, Shamsul. (2002). Government responses to terrorism: Critical views of their
impacts on people and public administration. Public Administration Review, 62, 170180.
Mukhtar, Sidratahta. (2013). Deradikalisasi dan soft power dalam menghadapi
terorisme. Jurnal Studi Kepolisian. April-Juni 2013. 28-34.
Mustofa,
Muhammad.
(2002).
Memahami
terorisme:
Suatu
perspektif
Kriminologi. Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, 2(3), 30-38.

Ogilvie-White, Tanya. (2006). Non-proliferation and counter-terrorism cooperation in


southeast asia: Meeting global obligations through regional security architectures.
Contemporary Southeast Asia, 28, 1-26.
Waugh Jr, William L., & Sylves, Richard T. (2002). Organizing the war on
terrorism. Public Administration Review, 62, 145-153.
Alshehri, Abdulhadi. (2010). Soft power as an alternative to hard power in
counterterrorism in saudi arabia. USAWC Strategy Research Project. U.S. Army War
College,
Carlisle
Barracks.
Diunduh
dari
http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a522010.pdf.
Hadibroto, Ariasa. (2005). Tindakan-tindakan pemerintah Indonesia dalam
menghadapi terorisme. Tesis Program Pascasarjana Kajian Stratejik Ketahanan
Nasional Universitas Indonesia. Depok. Tidak Diterbitkan.
Hasan, Noorhaidi, et al. (2012). Counter terrorism strategies in Indonesia, Algeria
and
Saudi
Arabia.
The
Hague.
WODC.
Diunduh
dari http://english.wodc.nl/images/1806-volledige-tekst_tcm45-435986.pdf.
Rismawanharsih, Dessy. (2012). Kebijakan kriminal di negara-negara anggota
ASEAN tentang perdagangan manusia dan perdagangan narkoba sebagai bentuk
transnational organized crimes (TOCs). Skripsi Program Studi Kriminologi. Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Depok. Tidak Diterbitkan.
Syaiful, Reza Ahmad. (2010). Pembentukan badan gabungan khusus untuk
penanggulangan teror di Indonesia. Tesis Program Pascasarjana Hubungan
Internasional Universitas Indonesia. Depok. Tidak Diterbitkan.
https://www.selasar.com/politik/penanggulangan-terorisme-di-indonesia
==============

Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme Supra Nasional Dalam


Perspektif Hukum Nasional
DALAM sejarah kebangsaan kita banyak sekali ancaman yang telah berhasil kita
lalui, antara lain berupa teror yang terdapat dalam konflik-konflik bersenjata dalam
Agresi Militer Belanda yang juga dikenal dengan sebutan Clash I pada tahun 1947
dan Clash II pada tahun 1948. Juga, teror yang terdapat di dalam pemberontakan
bersenjata PKI di Madiun 1948 pimpinan Muso. Di tahun 1949, teror terdapat di
dalam pemberontakan bersenjata oleh DI/TII/NII pimpinan Soekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo. Sedangkan di tahun 1958, teror secara berdiri sendiri (bukan dalam
kandungan suatu konflik bersenjata) dilakukan oleh Allan Lawrence Pope dan
Michael Powers yang didalangi oleh CIA.
Selang dua tahun, di tahun 1960, teror pernah dilakukan melalui kegiatan intelijen
penggalangan, dengan menggerakkan seorang perwira muda bangsa kita sendiri,
untuk melakukan penembakan terhadap Presiden RI dari pesawat tempur MIG 17.
Tiga
tahun
sebelumnya,
teror
dilakukan
dalam
bentuk
usaha assassination (pembunuhan dengan sasaran tertentu) terhadap Presiden RI di

Sekolah Dasar Cikini, Jakarta Pusat, pada tangal 30 Nopember 1957, yang telah
menyebabkan banyak orang terutama anak-anak kecil tewas dan cacat. Demikian
pula halnya peristiwa G-30-S pada tahun 1965. Kesemuanya itu mempunyai
berbagai macam tujuan, namun secara empirik terbukti bahwa korban yang
berjatuhan adalah manusia yang tidak tahu apa-apa tentang hal yang
dipersengketakan.
Akhir-akhir ini teror dalam bentuk assassination terjadi di berbagai tempat, berupa
penembakan terhadap sembarang anggota POLRI. Pada tanggal 27 Juli 2013, Ajun
Inspektur Patah Saktiyono, anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Metro Gambir, Jakarta
Pusat,
ditembak
di
Pamulang,
Tangerang
Selatan,
Banten.
(megapolitan.kompas.com)
Pada bulan berikutnya, Rabu 7 Agustus 2013, Ajun Inspektur Dwiyatno anggota
Bimas Polsek Metro Cilandak, Jakarta Selatan, tewas ditembak orang tak dikenal di
Gang Mandor jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan. (tribunnews.com)
Sembilan hari kemudian, Jumat 16 Agustus 2013, dua anggota polisi tewas
ditembak. Mereka adalah Ajun Inspektur Kushendratna, anggota Binamas Pondok
Kacang Barat, dan Brigadir Ahmad Maulana, anggota Reskrim Polses Pondok Aren.
(regional.kompas.com)
Penembakan ini berlanjut pada bulan berikutnya. Pada hari Jumat tanggal 13
September 2013, Brigadir Ruslan Kusuma, anggota Sabhara Polri, ditembak orang
tak dikenal di Jalan Raya Pekapuran, Sukamaju Baru, Tapos, Depok.
(megapolitan.kompas.com)
Beberapa hari kemudian, Rabu 18 September 2013, Brigadir Syahri Rahmad,
anggota Kepolisian Sektor Kota Langsa, Nangroe Aceh Darussalam, menjadi korban
penembakan hingga cacat seumur hidup. (jpnn.com)
Masih di bulan September, Ajun Inspektur Sukardi tewas ditembak di depan Gedung
Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, pada hari Selasa 24 September 2013
malam. (Kompas.com)

Hostis Humani Generis


Dalam era globalisasi ini, kita justru menyaksikan terorisme semakin marak.
Terorisme yang nilai kebenarannya terletak hanya pada dirinya sendiri itu, telah
dilakukan baik oleh negara berdaulat seperti USA beserta negara-negara NATO,
maupun oleh jaringan supra-nasional Al-Qaeda. Konsep Barat terhadap negaranegara Timur Tengah dalam rangka demokratisasi sistem politik di sana memang
tidak dapat dikatakan sebagai terorisme, tetapi serangan militer fisik itu tentu saja
mengandung terorisme. Serangan militer fisik tidak mungkin menghindar, dari

jatuhnya korban orang-orang yang tak bersalah. Tujuan manusia untuk membangun
demokrasi sebagai tatanan sosio-politik yang ideal dan tujuan manusia untuk
mencapai sistem politik kekhalifahan yang agamis, sama-sama tidak dapat
digunakan untuk menghalalkan terorisme. Kita harus memandang suatu perbuatan
itu secara dan dari sisi obyektif atau dari sisi sasarannya (obyeknya). Jika korbannya
adalah innocent persons atau manusia yang tidak terlibat apapun dengan
persoalan-persoalan atau masalah-masalah yang sedang dipersengketakan, maka
secara definitif perbuatan itu merupakan Terorisme.
Selama idealisme yang jenius maupun keyakinan manusia diiringi dengan praktik
terorisme, yang akan dituai kelak adalah krisis filsafati yang meruntuhkan, seperti
yang dialami Marxisme dalam sejarah sistem politik dunia. Masyarakat dunia bisa
kembali ke zaman biadab, yang menginjak-injak nilai peri kemanusiaan. Para korban
terorisme tidak akan pernah peduli, siapakah yang telah merenggut nyawa orangorang yang mereka kasihi, apakah dia itu penjahat atau pahlawan. Mereka yang
melakukan kejahatan terhadapnya adalah teroris, yang merupakan musuh
kemanusiaan: Hostis Humani Generis.Musuh kemanusiaan tersebut merupakan
sasaran untuk kita cegah dan tanggulangi bersama-sama, demi keamanan nasional
dan keselamatan individu bangsa Indonesia.
Peran hukum nasional kini menjadi semakin sentral. Terorisme Supra Nasional yang
aktual, hanya dapat dihadapi dengan konsep hukum yang berazaskan pada
kebaikan dan kebenaran hakiki.

Terorisme Jaringan: Patah Tumbuh, Hilang Berganti


Sejak lebih dari satu dekade terakhir kita digoncang oleh aksi teror bom dan telah
banyak teroris yang ditangkap, dihukum bahkan ditembak mati, tetapi sampai
sekarang teror masih saja terjadi terhadap bangsa Indonesia. Para teroris bak patah
tumbuh, hilang berganti. Mereka dianalogikan oleh para ilmuwan Yunani,
laksana Unslayable Hydra, binatang imajiner yang tidak bisa mati. Para teroris juga
seperti Chanda Bhirawa, ajimat Raden Narasoma dalam cerita wayang Jawa
yang Esa Hilang, Dua terbilang.
Metode yang mereka pilih dimulai dari peledakan serangkaian bom yang kemudian
berkembang menjadi pembunuhan terhadap anggota Polri, yang merupakan aparat
penegak hukum di garda terdepan keamanan dan ketertiban masyarakat bangsa
Indonesia. Para teroris bagai daun-daun dari sebatang pohon, yang selalu
bertumbuh tunas dan berkembang kembali dengan subur, setiapkali daun-daun
yang terdahulu gugur ataupun ditebas. Karena itu layak jika kita membangun suatu
model analitik sebuah pohon yang kita sebut: Pohon Terorisme.

Kerapkali kita mendengar ulasan dari para pakar yang menyatakan, bahwa
penyebab terorisme adalah ketidak adilan dalam kehidupan sosial (social injustice).
Apakah artinya jika keadilan di dunia ini tercapai, terorisme tidak akan terjadi lagi?
Mereka barangkali lupa, bahwa keadilan di dunia ini tidak akan ada. Keadilan abadi
hanya ada kelak di hari kemudian, yang akan ditentukan oleh Allah SWT sebagai
Yang Maha Adil. Keadilan empirik yang eksis di dunia ini bak sinar matahari, yang
memberikan kesempatan kepada dedaunan untuk hidup. Itupun melalui proses
hukum alam yang disebut reaksi photosynthesa. Sinar matahari secara alami
menyinari pohon-pohonan di dunia, namun ada yang tersinari penuh, ada yang
sebagian, dan ada yang tidak tersinari sama sekali. Itulah keadilan dalam
bentuknya di dunia. Untuk dapat menggunakan keadilan dalam hidup perlu proses,
yaitu perjuangan hidup di dalam diri sendiri, sebagaimana reaksi photosynthesa,
yang tidak harus membunuh orang lain.
Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization menyatakan, bahwa benturan
antar peradaban telah melahirkan terorisme aktual. Dia barangkali lupa, bahwa
benturan antar peradaban manusia selalu terjadi bak atmosphere di udara terbuka
sejak jaman dahulu kala. Dalam peradaban suatu suku ras bangsa eskimo di kutub
utara, demi cinta anak kepada orang tuanya yang renta, daripada orangtua mereka
nantinya mati kesakitan, lebih baik diletakkan saja di luar rumah agar mati
kedinginan. Peradaban demikian tentu saja clash (berbenturan) dengan peradaban
kita, yang Mikul dhuwur, mendhem jero orangtua kita dengan penuh kecintaan.
Apakah keadaan demikian itu menyebabkan terjadinya terorisme? Tentu saja tidak.

Arubusman mensinyalir, bahwa konstelasi geopolitik global merupakan sebab dari


terorisme. Pertanyaan kita, apakah kalau masalah Palestina selesai, terorisme akan
tidak ada lagi? Sejarah menulis bahwa sebelum ada masalah Palestina pun, pada
awal abad ke 20 terorisme sudah ada. Hanya saja dahulu para terorisnya adalah
orang-orang Yahudi. Menachem Begin yang PM Israel adalah teroris dari organisasi
Stern Gang, yang jika saja dia dulu tertangkap, pasti akan dihukum gantung sampai
mati oleh kolonialis Inggris. Dengan demikian maka konstelasi politik global hanya
merupakan pupuk penyubur bagi pohon terorisme, yang hidup matinya lebih
bergantung kepada akar terorisme.
Akar terorisme jaringan supra nasional adalah ideologi politik, yang paling kuat
penetrasinya jika menggunakan simbol-simbol agama (sebagai tudung akarnya).
Akar ini tidak akan mati, selama tanahnya (kelompok masyarakat fundamentalis)
masih subur.

Himpitan Imajiner
Walaupun implementasi sistem politik demokrasi masih diwarnai oleh kekerasan
USA bersama NATO yang menyalahi prinsip etika politik seperti yang kini terjadi di
Timur Tengah, namun kepercayaan masyarakat dunia atas sempurnanya teori
politik tersebut telah ber-metastasi (menjalar) dengan sangat cepat. Kedudukannya
di era globalisasi kini yang semakin sentral, juga diiringi oleh konsep-konsep lain
yang
bersifat individualisme seperti human
rights,
civil
society dan good
governance. Dengan kelengkapan tersebut akhirnya globalisasi telah membawa
teori demokrasi, sebagai konsep terbaik yang pernah dicapai oleh pemikiran
manusia.
Perkembangan
konsep Liberal
Kapitalisme yang
mengusung
individualisme, cenderung merupakan keadaan lingkungan strategis dari negara
bangsa Indonesia baik global, regional dan nasional.
Perkembangan keadaan lingkungan strategis yang beraliran individualisme,
berhadapan di tataran nasional kita dengan kolektivisme yang diusung oleh 4
(empat) pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal
Ika. Di antara kedua aliran yang antagonistik ini kita bangsa Indonesia berada pada
himpitan imajiner, untuk memilih metoda mana yang paling tepat dalam
menanggulangi terorisme jaringan yang bersifat supra-nasional tersebut.
Himpitan imajiner tersebut semakin lama akan semakin keras menjepit diri kita
sebagai bangsa, sehingga selain ketepatan dalam metoda, kita juga membutuhkan
kecepatan
dalam
bertindak.
Kecepatan
yang
dalam
bahasa
Latin
disebut velox mendampingi ketepatan yang disebut exactus sedemikian rupa
bagaikan dua sisi mata uang logam yang sama, merupakan filsafat dari ilmu yang
terdiri dari berbagai teori intelijen. Dua sisi mata uang tersebut tidak berada dalam
ruang hampa, tetapi dalam ruang negara hukum RI. Hukum nasional harus dapat
memayungi intelijen, untuk mencegah dan menanggulangi terorisme.

Intelijen lahir dari tiga fungsi, atau ada tiga fungsi yang membuat intelijen itu eksis
atau ada. Yaitu, karena penyelidikan (detection), pengamanan (security) dan
penggalangan (preconditioning). Pelaksanaan ketiga fungsi tersebut dapat
dilakukan dengan pendekatan lunak (misalnya memberi uang), cerdas
(mengalahkannya via diskusi) dan keras (dengan kekuatan militer fisik).
Ontologi intelijen menyangkut being atau keberadaan intelijen di dalam kehidupan,
sebagaimana halnya otak dan panca indera manusia. Sebagai panca indera intelijen
berfungsi untuk melihat, mendengar, mencium, merasa, meraba dan kemudian
menyampaikannya
kepada
otak,
untuk
berfikir
dengan
segenap
kecerdasannya. Saya berfikir, karena itu maka saya ada, demikian dikatakan oleh
Rene Descartes. Mustahil manusia hidup tanpa otak, karena mahluk yang hidup
tanpa otak untuk dapat berfikir bukanlah manusia. Kecerdasan membuat intelijen
bebas dari segala macam bentuk mistik atau logika gaib. Bahkan logika metafisika
justru merupakan predator, yang dapat membunuh eksistensi intelijen.
Sebagai suatu proses, intelijen berangkat dari logika materiil dan ilmu pengetahuan
(science, sains). Yang dimaksud dengan logika materiil di sini bukanlah berarti
materialisme filosofis, yang mengartikan segala yang ada itu adalah materi atau
berasal dari materia, tetapi hanyalah suatu penjelasan bahwa intelijen itu
cenderung bersifat empirik.
Intelijen bukan khayalan atau takhayul, yang kerap bersumber dari orang pinter,
dukun, mantra, sesajen dan doa-doa ritual. Kecerdasan itu pula yang membawa
intelijen kepada keberadaannya (ontologis) dan sumber pengetahuannya
(epistemologis).
Secara ontologis intelijen dihadapkan kepada pilihan, sebagaimana halnya manusia
pada umumnya di dalam hidup ini. Jika manusia sebagai individu dan makhluk
sosial dihadapkan pada pilihan antara yang suci dan yang profan, maka manusia
akan memilih dalam dualisme ontologisnya itu, kepada eksistensi pengabdian total
kepada Allah SWT.
Dalam konteks intelijen negara, pilihan terhadap dualisme ontologis sebagai
pengabdi individu atau mahluk sosial, intelijen memilih totalitas pengabdiannya
kepada negara, di mana segenap individu manusia Indonesia berada di dalamnya.
Artinya, jiwa intelijen adalah pengabdian total kepada negara, karena tanpa
pengabdian total tersebut intelijen tidak ada (sirna) di dalam kehidupan suatu
bangsa.
Pengabdian total merupakan keyakinan terhadap takdir tentang yang baik dan
buruk, melebihi pemikiran terhadap konsensus sosial tentang yang benar dan salah.
Saya ambil contoh, seorang intelijen mengetahui ada seorang teroris berlari
membawa bom untuk bunuh diri, menuju ke arah dalam mesjid di mana banyak
kaum muslimin sedang bersembahyang Jumat. Dengan cepat intelijen menembak
teroris itu sehingga ia mati. Secara hukum, intelijen itu patut dipersalahkan, karena

teroris belum melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian apapun. Dalam


bahasa hukum perbuatan pidana yang dilakukannya belum selesai, sehingga ia
belum patut untuk diadili apalagi langsung dieksekusi dengan hukuman tembak
mati.
Namun moral intelijen terpaksa melakukan hal itu, demi menyelamatkan banyak
orang yang sedang bersembahyang Jumat. Secara hukum ia bisa dinyatakan salah,
karena hukum memang menentukan benar atau salahnya seseorang, tetapi
secara aksiologis ia tetap seorang intelijen yang bermoral baik, karena derajat
pengabdian total kepada negaranya menentukan dia sebagai intelijen yang baik
atau buruk.
Keadaan di saat sang teroris tadi berlari menuju sasarannya (masjid) tersebut,
menurut Adian (2011) dinamakan iustitium atau kedaruratan (bukan keadaan
darurat). Kedaruratan dalam teori Giorgio Agamben adalah suatu keadaan hampa
hukum, paralel dengan keadaan di dalam lingkupnya yang lebih besar dengan
suasana himpitan imajiner yang serba dilematis. Dalam suasana himpitan imajiner
yang dilematis antara kolektivisme dan individualisme, maka hukum intelijen
berada dalam peranan yang sentral untuk memerangi terorisme jaringan.
Hukum intelijen mengandung arti berlakunya aturan perundang-undangan, di dalam
hirarki hukum yang bersifat: LEX SUPERIORI DEROGAT LEGI INFERIORI. Dengan
demikian berarti bahwa UU Intelijen Negara harus dapat memayungi strategi dan
pola operasional intelijen negara, sebagaimana UU Intelijen Negara harus teruji oleh
UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar filsafat Negara.

Cara Mencegah dan Menanggulangi


Metode penanggulangan terorisme jaringan supra nasional merupakan pernyataan
perang terhadapnya. Perang zaman sekarang bukan lagi perang fisik, tapi perang
adu kuat konsep dan pikiran manusia. Perang tidak lagi simetris, di mana jelas
diketahui siapa melawan siapa. Perang kini bersifat asimetris, yang tidak jelas siapa
melawan siapa, apa lawan apa, bilamana waktunya, di mana, dari mana dan
bagaimana wujud atau bentuknya secara konkrit. Selain asimetris, perang jaman
sekarang juga merupakan perang hybrida. Perang hybrida melibatkan segenap
potensi nasional. Semua berbaur dalam satu tujuan perang, yaitu merebut
kemenangan. Terorisme jaringan supra nasional masa kini dilakukan oleh para
teroris generasi ketiga. Generasi pertama adalah jaringan Al-Qaeda dan segenap
jajarannya, yang tersebar di berbagai Nation States (negara-negara bangsa).
Generasi kedua adalah mereka yang direkrut oleh jaringan tersebut. Sedangkan
generasi ketiga adalah mereka yang terobsesi oleh ideologi Islam politik yang
serba ghuluw (ekstrim).

Metoda asimetris para teroris generasi ketiga ini adalah bergerak secara sendirisendiri, tanpa suatu organisasi yang signifikan dalam pengendaliannya. Ideologi
yang merupakan akar terorisme generasi ketiga ini tumbuh dan berkembang di
habitatnya, yaitu masyarakat muslim yang menyukai kekerasan. Masyarakat radikal
yang menyukai kekerasan tanpa gugatan, dapat berkembang makin luas.
Meluasnya masyarakat yang intoleran demikian semakin menyuburkan pohon
terorisme. Tergalangnya seluruh komponen masyarakat, dapat melancarkan perang
hybrida dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Perlawanan masyarakat mayoritas terhadap mazhab yang menyukai kekerasan
tersebut, berada di panggung perang psikologi. Masyarakat mayoritas yang diam
saja, merupakan penyebab utama berkembangnya radikalisme.
Perkembangan
perang
pada
umumnya
dapat
disimak
dalam
empat
generasi. Pertama, perang massal. Perang generasi pertama ini mengadu
kekuatan dalam jumlah atau banyaknya prajurit yang maju ke medan laga. Puncak
perang generasi pertama ini pada peperangan yang terjadi pada masa Napoleon
Bonaparte, sehingga terumuskan secara matematis kekuatan penyerang terhadap
yang bertahan minimal harus tiga berbanding satu.
Kedua, perang teknologi, yang mengadu kekuatan dalam teknologi persenjataan.
Andalan dalam perang generasi kedua ini adalah daya tembak. Puncak perang
generasi ini adalah Perang Dunia I.
Ketiga, perang mobil, yang mengadu kekuatan dalam daya tembak, daya gerak
dan daya gempur. Pasukan tentara yang berhadapan tidak lagi mengandalkan
kendaraan lapis baja yang tebal serta tank-tank yang besar dan berat, tetapi tanktank yang kecil dan ringan dengan daya manuver (kecepatan bergerak) yang
maksimal. Senjata pemusnah massal seperti bom atom menjadi andalan, yang
diikuti oleh PerangNubika (Nuklir, Biologi dan Kimia). Puncak Perang generasi ini
adalah Perang Dunia II.
Keempat, perang psikologi (Perang Urat Syaraf atau PUS), yang merupakan
perang pikiran manusia dalam wujud dan sifat yang asimetris dan hybrid. Di sini
yang beradu bukan untuk memperebutkan teritorial, tetapi hegemoni kultural.
Perang generasi keempat demi memperebutkan hegemoni kultural ini bersifat
universal (global). Dalam Perang Urat Syaraf (Psy War) kekuatan masing-masing
pihak berada pada konsistensi keberfihakan opini masyarakat, yang merupakan
massa pendukungnya masing-masing.
Pada perang generasi keempat ini, dislokasi musuh-musuh kita tidak lagi seperti
zaman dulu, yang dibatasi dengan berbagai pengertian seperti FEBA (Front Edge of
Battle Area) atau BDDT (Batas Depan Daerah Tempur), daerah penyangga, daerah
komunikasi dan garis belakang. Semua batasan itu kini tidak ada lagi. Musuh kita
ada di mana-mana, di depan, di belakang, di luar dan di dalam negara kita sendiri.

Musuh kita dengan berbagai sarana yang dulu tak dikenal juga kini telah mulai
digunakan di dalam PUS. Terorisme di masa depan jika dibiarkan terus meluas, akan
lebih dikenal publik sebagai cyber-terorism dan bio-terorism, yang menebarkan
virus dan baksil serta berbagai hasil rekayasa genetik.
Dengan demikian teroris jaringan yang mengancam ketertiban dan keamanan
negara kita, bisa datang dari pihak eksternal (dari luar negeri) dan bisa juga internal
(dari dalam negeri sendiri). Mereka berada dan hidup di antara kita, yaitu pada
lingkungan kelompok masyarakat fundamentalis.
Lingkungan kelompok masyarakat yang merupakan habitat terorisme jaringan
adalah masyarakat yang ekstrim (berlebihan). Habitat atau lingkungan hidup
terorisme dalam model analitis dapat dianalogikan dengan tanah, jika terorisme
diumpamakan sebagai pohon yang mempunyai akar, batang, ranting dan daun.
Untuk membahas tanah, kita harus membahas pohonnya dulu. Karena, hal ini
menyangkut pohon apa yang hidup di sana. Dari sana kita baru dengan terang
dapat membahas tanah yang bagaimana yang kondusif untuk hidupnya pohon
terorisme itu.
Penyelesaian aksi terorisme di Indonesia tidak selalu harus menggunakan
pendekatan hukuman, apalagi hukuman mati. Lex est perire, non poena (mati
adalah sebuah hukum, bukan hukuman).
Para teroris yang mati dapat dengan mudah diganti oleh daun-daun baru. Para
teroris yang menderita brain washed, harus ditolong untuk memperoleh kembali
kesadarannya melalui usaha, pekerjaan dan kegiatan deradikalisasi.
Usaha-usaha tersebut perlu melibatkan berbagai personil dan organisasi sosial
keagamaan dalam operasi-operasi penggalangan dengan pendekatan cerdas, di
bawah payung Undang-undang Intelijen yang berlaku. Undang-undang tersebut
masih perlu direvisi sedemikian rupa, sehingga UU Intelijen berada di luar The
Criminal Justice System.
Alasannya sederhana saja, yaitu intelijen bukanlah aparat penegak hukum. Para
teroris yang ditangkap terutama sebelum melakukan aksi teror bukanlah untuk
dihukum, tetapi untuk disadarkan kemudian digunakan dalam operasi intelijen
membongkar seluruh organisasi dan meredam kegiatan-kegiatan mereka.
Kebanyakan teroris yang telah sadar dari cuci otak yang dideritanya, siap untuk
melakukan dialog filsafati, sehingga memerlukan bantuan (intervensi) eksternal
yang positif. Peran umat Islam Moderat menjadi semakin sentral untuk memobilisasi
dan mengorganisir diri mereka, guna menanduskan tanah kelompok fundamentalis
agar akarnya mati.

Para dai Pancasilais itu perlu diwadahi untuk digelar di berbagai fora, menggalang
masyarakat luas utamanya kaum muslimin untuk menjauhi berbagai jenis praktik
kekerasan yang mengatas-namakan agama Islam yang rahmatan-lil-alamin. Dengan
cara itu habitat terorisme akan sirna dan ideologi sebagai akarnya akan mati
dengan sendirinya.
Kematian akar terorisme akan berakibat langsung kepada matinya keseluruhan
pohon. Daun-daun (para teroris) tidak lagi dapat ber-patah tumbuh hilang
berganti. Kesaktiannya sebagai The Unslayable Hydraakan tetap tinggal sebagai
binatang imajiner Yunani. Demikian pula aji Chanda Bhirawa yang ada pada Raden
Narasoma akan tetap tinggal dalam dongeng wayang Jawa.
(Orasi Ilmiah ini disampaikan pada tanggal 03 Oktober 2013 di forum Dies Natalis
ke 18 dan Wisuda ke-14 Sarjana dan Pascasarjana Tahun 2013 Universitas
Bhayangkara Jakarta Raya, yang berlangsung di Auditorium STIK/PTIK, Jalan
Tirtayasa Raya No. 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan).

http://www.hendropriyono.com/?p=1722
=============

Analisis Intelijen Gerakan ISIS di Indonesia


By Stanislaus Riyanta | July 6, 2015
Pendahuluan
Dunia dikejutkan gerakan Islam garis keras beberapa tahun terakhir ini. Kelompok
yang menamakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ini bergerak dengan kekejian
luar biasa. ISIS berhasil merekrut warga dari banyak negara untuk berjihad di
Suriah. Banyak anak muda yang bergabung dengan ISIS, tidak hanya dari negara
Asia, tetapi juga dari Australia dan Eropa yang basis masyarakatnya bukan muslim.
Indonesia dengan penduduk muslim yang besar patut waspada dan siaga dengan
fenomena ISIS. Rangkaian teror yang dilakukan Islam garis keras selama ini
seharusnya sudah cukup menjadi catatan buruk bagi masyarakat Indonesia.
Kekerasan yang dilakukan oleh ISIS terhadap oposisi di Suriah menunjukkan
bagaimana ISIS mencapai tujuannya secara keji dan tidak manusiawi. Model seperti
ini jangan sampai terjadi di Indonesia dan di belahan bumi manapun juga walaupun
mengatasnamakan jihad.
Dari beberapa video yang dirilis oleh ISIS, beberapa warga negara Indonesia sudah
terdeteksi bergabung dengan ISIS. Tren relawan yang akan bergabung ke ISIS
dengan modus umroh terdeteksi oleh pemerintah. Turki menjadi negara transit para
relawan sebelum menyeberang ke Suriah. Penggalangan ISIS tentu sangat

mengkhawatirkan. Hal ini berbahaya, terutama jika para relawan ini kembali ke
Indonesia. Arus balik relawan ISIS yang berasal dari Indonesia wajib untuk
diwaspadai agar tidak menjadi pendadakan strategis bagi negara.

Teknik Analisis Kontraterorisme


Dalam melakukan kajian kontraterorisme diperlukan suatu metode kajian tertentu
sehingga dapat diketahui langkah-langkah antisipasi gerakan terorisme tersebut.
Teknik analisis kontraterorisme juga berguna untuk membaca sinyal pendadakan
strategis.
Prunckun dalam bukunya yang berjudul Handbook of Scientific Methods of Inquiry fo
Intelligence Analysis (2010) menyebutkan bahwa ada beberapa rangkaian teknik
yang dapat digunakan dalam analisis kontraterorisme sebagai berikut :

1.

Treath Analysis

Ancaman (treath) adalah tekad/kemauan seseorang atau organisasi untuk


menimbulkan bahaya bagi pihak lain. Ancaman dapat dilakukan terhadap sebagian
besar entitas orang, organisasi, dan negara.
Potensi bahaya bisa dalam berbagai bentuk dan dapat menyebabkan penderitaan
secara fisik atau emosional / mental. Dalam melakukan ancaman, pengancam
(teroris) tidak perlu secara terbuka menyatakan tekad mereka. Namun kata-kata
atau tindakan secara eksplisit memudahkan identifikasi dan analis untuk menilai
ancaman tersebut.
Terjadinya ancaman tidak begitu saja, ada dua hal utama pendorong ancaman
terjadi, yaitu niat/intensitas (intent) dan kapabilitas (capability) atau kemampuan.
Sementara itu niat akan didorong oleh oleh faktot kemauan / hasrat (desire) dan
harapan (expectation). Kapabilitas akan dipengaruhi oleh faktor pengetahuan
(knowledge) dan sumber daya (resources).

2.

Vulnerability Analysis

Kerentanan (Vulnerability) adalah kelemahan dalam organisasi yang dapat


dimanfaatkan oleh pihak luar. Kerentanan juga merupakan kemampuan organisasi
untuk bertahan dari ancaman. Kerentanan dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu
daya tarik (attractiveness), kemudahan untuk diserang (ease of attack), dan
dampak (impact).

Objek yang mempunyai daya tarik kuat akan mempunyai tingkat kerentanan yang
tinggi. Sebagai contoh di Indonesia, simbol-simbol negara barat seperti kedutaan,
rumah makan cepat saji, hotel dengan tamu mayoritas orang asing akan lebih
sering untuk dijadikan sasaran terorisme daripada objek lain.
Kemudahan suatu objek untuk diserang dan dampak serangan juga akan menjadi
pertimbangan utama terorisme untuk menetapkan sasaran.

3.

Risk Analysis

Risiko (risk) merupakan fungsi dari kemungkinan dan konsekuensi. Teknik analisis
risiko dapat digunakan untuk berbagai situasi dan organisasi. Salah satu fungsi
analisis risiko adalah untuk menilai suatu obyek pada situasi yang mungkin menjadi
target para pelaku kriminal atau terorisme.
Analisis risiko akan menghasilkan sebuah rekomendasi kepada organisasi atau
pengambil keputusan untuk menerima risiko yang akan terjadi atau
memperlakukan/ mengendalikan risiko (menghindari, mengurangi, atau menunda).

4.

Prevention, Preparation, Response, and Recovery (PPRR) Planning

PPRR Planning terdiri dari empat bagian yaitu pencegahan (prevention), persiapan
(preparation), respon/tanggapan (response), dan pemulihan (recovery). Pencegahan
adalah suatu langkah untuk menghentikan risiko yang akan terjadi. Persiapan
adalah bagaimana organisasi mempersiapkan diri jika risiko terjadi. Respon /
tanggapan tindakan apa yang akan dilakukan jika risiko terjadi. Terakhir adalah fase
pemulihan, yaitu langkah-langkah yang akan dilakukan setelah risiko terjadi.

Kajian tentang estimasi intelijen gerakan ISIS di indonesia dengan menggunakan


teknik analisis kontraterorisme sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini
didasarkan atas pengalaman Indonesia yang sering kali mengalami serangan dari
teroris yang memakan korban jiwa tidak sedikit. Faktor ancaman global dari teroris
terutama ISIS yang sekarang menjadi perhatian dunia tidak bisa dianggap remeh.
Indonesia sebagai negara Islam yang besar diharapkan berperan aktif dalam
program kontra terorisme terutama menyangkut gerakan ISIS di dunia.
Analisis kontraterorisme diharapkan menghasilkan rekomendasi bagi pengambil
keputusan untuk mengambil tindakan bagi pencegahan dan penanggulangan
terorisme di Indonesia.

Aplikasi Teknik Analisis Kontraterorisme Gerakan ISIS di Indonesia


Terorisme dapat didefinisikan sebagai sebuah aksi kekerasan terencana dengan
motivasi politik. Kekerasan dalam terorisme bisa terjadi terhadap negara atau
terhadap kelompok tertentu. Aksi terorisme bertujuan untuk intimidasi atau
memaksakan kepentingan tertentu karena dianggap cara lain sudah tidak mungkin
dilakukan.
Selain itu hal tersebut, teroris mempunyai keyakinan bahwa kekerasan adalah suatu
cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang diperkuat dengan tafsir dogma
secara parsial. Definisi tersebut linear dengan arti terorisme yang merujuk pada
KBBI Pusat Bahasa edisi IV yaitu penggunaan kekerasan untuk menimbulkan
ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).
Sebelum memahami potensi-potensi teror di Indonesia, maka perlu ada pembagian
latar belakang terorisme yang terjadi di Indonesia. Pertama adalah terorisme yang
dilatarbelakangi oleh motifasi politik. Gerakan seperatisme di berbagai daerah yang
terjadi selama ini adalah salah satu terorisme politis. Mereka melakukan aksi teror
dan perlawanan kepada pemerintah dengan tujuan memperoleh kemerdekaan dan
lepas dari NKRI. Teror-teror politis dalam skala lebih kecil terjadi ketika Pemilu,
kampanya secara tidak sehat sebenarnya adalah bagian dari terorisme politis.
Kedua adalah terorisme dengan latar belakang ideologis. Teror ini dilakukan secara
terbatas oleh kaum dengan padangan ideologis tertentu. Cara-cara radikal mereka
dengan bom bunuh diri yang menimbulkan korban baik jiwa maupun materi yang
sangat besar adalah bentuk terorisme dengan tujuan untuk memaksakan ideologi
yang mereka anut. Gerakan ISIS di Timur Tengah merupakan terorisme ideologis
walaupun kemungkinan ada motif-motif turunan seperti ekonomi.
Indonesia memiliki potensi terorisme yang sangat besar dan perlu langkah
antisipasi yang ekstra cermat. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang kadang tidak
dipahami oleh orang tertentu cukup dijadikan alasan untuk melakukan teror. Berikut
ini adalah potensi-potensi terorisme tersebut :

Terorisme yang dilakukan oleh negara lain di daerah perbatasan Indonesia.


Beberapa kali negara lain melakukan pelanggaran masuk ke wilayah Indonesia
dengan menggunakan alat-alat perang sebenarnya adalah bentuk terorisme.
Lebih berbahaya lagi seandainya negara di tetangga sebelah melakukan
terorisme dengan memanfaatkan warga Indonesia yang tinggal di perbatasan
dan kurang diperhatikan oleh negera. Nasionalisme yang kurang dan tuntutan
kebutuhan ekonomi bisa dengan mudah orang diatur untuk melakukan teror.
Terorisme yang dilakukan oleh warga negara yang tidak puas atas kebijakan
negara. Misalnya bentuk-bentuk teror di Papua yang dilakukan oleh OPM.
Tuntutan merdeka mereka ditarbelakangi keinginan untuk mengelola wilayah
sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Perhatian pemerintah yang dianggap
kurang menjadi alasan bahwa kemerdekaan harus mereka capai demi

kesejahteraan masyarakat. Terorisme jenis ini juga berbahaya, dan secara


khusus teror dilakukan kepada aparat keamanan.
Terorisme yang dilakukan oleh organisasi dengan dogma dan ideologi
tertentu. Pemikiran sempit dan pendek bahwa ideologi dan dogma yang
berbeda perlu ditumpas menjadi latar belakang terorisme. Bom bunuh diri,
atau aksi kekerasan yang terjadi di Jakarta sudah membuktikan bahwa ideologi
dapat dipertentangkan secara brutal. Pelaku terorisme ini biasanya menjadikan
orang asing dan pemeluk agama lain sebagai sasaran.

Ratusan jiwa tewas dan lebih banyak lagi korban luka di Indonesia akibat aksi
teroris. Tahun 2001 bom meledak di Bali, disusul serangan Bom di Hotel J.W Marriot
pada tahun 2003. Kedutaan Australia di Jakarta tak luput dari serangan bom teroris
pada tahun 2004. Tahun 2005 Bali mengalami serangan bom dari teroris untuk
kedua kalinya. Hotel J.W Marriot dan Ritz-Carlton pada tahun 2009 juga menjadi
sasaran bom dari teroris.
Peristiwa terorisme international di Timur Tengah yang dilakukan oleh ISIS lebih
mengerikan lagi. Berbagai berita mengabarkan bagaimana aksi ISIS yang penuh
kebrutalan dan kekejaman terhadap kelompok dengan ideologi berbeda dan kaum
minoritas. Aksi ISIS patut diwasapadai oleh Pemerintah Indonesia mengingat ada
beberapa warga negara Indonesia turut hijrah ke Suriah untuk bergabung dengan
ISIS. Para simpatisan ISIS ini jika kembali lagi ke Indonesia tentu akan sangat
berbahaya.
Aksi-aksi simultan serangan bom dari teroris di Indonesia dan aksi teroris di negara
lain menujukkan betapa kejamnya teroris dalam mencapai tujuan. Pemerintah
Indonesia perlu suatu strategi yang komprehensif untuk menangani terorisme.
Salah satu strategi adalah dengan menggunakan pendekatan intelijen. Ancaman
terorisme di Indonesia tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri.
Sebagian besar pelaku terorisme di Indonesia adalah warga negara Indonesia yang
sudah hijrah ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman dan membangun
jaringan secara global.
Dalam konteks aksi terorisme di Indonesia maka kelompok radikal kanan menjadi
pelaku dominan dengan tujuan utama meneruskan perjuangan berdirinya Negara
Islam Indonesia [1]. Negara Islam Indonesia sebagai sebuah gerakan oleh
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo diproklamirkan pada 7 Agustus 1949 di Garut
Jawa Barat. Cara-cara kekerasan termasuk penggunaan senjata dilakukan oleh
kelompok ini untuk mewujudkan Negara Islam Indonesia.
Kasus-kasus pada era orde baru yang dapat dimasukkan dalam kategori terorisme
seperti Komando Jihad (1980), Cicendo (1981), Woyla (1981) dan Borobudur (1985)
merupakan bukti kaum teroris ingin menunjukkan eksistensinya. Dari beberapa
kasus di atas maka aksi terorisme yang sangat terkenal adalah aksi pembajakan
pesawat Garuda DC 9 Woyla pada 28 Maret 1981.

Aksi pembajakan pesawat tersebut berhasil ditumpas oleh RPKAD dengan pimpinan
Benny Moerdani dan komandan lapangan Sintong Panjaitan. Aksi pasukan RPKAD
tersebut berhasil menewaskan semua teroris/pembajak pesawat (Machrizal,
Zukfikar, Wendy Mohammad Zein, Abu Sofyan dan Imronsyah) dan berhasil
menyelamatkan semua penumpang, walaupun Pilot dan seorang anggota RPKAD
gugur tertembak. Pembajakan pesawat Woyla ini menujukkan bahwa keinginan
mendirikan Negara Islam Indonesia sangat kuat dan menggunakan cara-cara
kekerasan dengan senjata [2].
Sebagai negara besar yang pernah mengalami aksi terorisme, Indonesia menjadi
salah satu daerah operasi bagi gerakan radikal Islam. ISIS sebagai seuatu kelompok
radikal Islam yang sedang membesar di Timur Tengah sudah mulai menggurita di
Indonesia.
Kelompok yang melakukan teror secara keji ini bahkan memamerkan
kebiadabannya ke media sosial. Aksi pemenggalan kepala manusia yang dianggap
musuh terus dilakukan, bahkan dalam beberapa kasus melibatkan anak-anak.
Kelompok radikal ISIS cukup ampuh untuk menarik minat para pemuda dan pemudi
dari berbagai negara untuk ikut berjuang / jihad di Suriah. ISIS, kelompok Islam
garis keras yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi sukses merekrut relawan dari
banyak negara termasuk dari Indonesia. Kelompok terorisme Islam garis keras di
Indonesia yang sebelumnya terdiri dari banyak kelompok sekarang seolah-olah
melebur jadi satu menumpang ISIS yang sedang naik daun.
Seperti diketahui bahawa sebelum ISIS muncul menjadi fenomena gerakan radikal
Islam, gerakan terorisme Islam radikal di Indonesia terdiri dari tiga kelompk besar.
Kelompok pertama adalah kelompok NII (Negara Islam Indonesia), Jemaah
Islamiyah, dan Jamaah Ansharut Tauhid. Pada mulanya kelompok-kelompok tersebut
mempunyai tujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Namun,
dengan aktifnya kepolisian melakukan pemberantasan terorisme dan bersamaan
pula ISIS melancarkan aksinya di Suriah, maka kelompok-kelompk Islam radikal di
Indonesia terlihat melebur bersimpatisan kepada ISIS. Selain itu kelompok radikal
Islam di Indonesia mempunyai tujuan yang sama untuk mewujudkan khilafah
Islamiyah.
Analisis ancaman dari gerakan ISIS di Indonesia adalah sebagai berikut : kelompok
garis keras adalah kelompok yang mempunyai hasrat yang sangat tinggi. Mereka
akan melakukan apapun dan mengorbankan apapun demi tercapainya hasrat yang
dimiliki. Bahkan kelompok garis keras ISIS cenderung bangga dalam melakukan
kekerasan dengan dibuktikan munculnya video di sosial media tentang kekerasan
yang dilakukan ISIS.
Harapan yang dimiliki oleh ISIS adalah terbentuknya khilafah islamiyah. Ideologi
yang tertanam sangat kuat. Walaupun beberapa fakta menunjukkan bahwa
simpatisan ISIS dari daerah Jawa Timur yang tertangkap di Malaysia saat akan

mencoba hijrah ke Suriah mempunyai motif ekonomi selain motif ideologi. Namun
harapan tersebut dapat dinilai tinggi mengingat para simpatisan rela menjual harta
bendanya di kampung halaman sebagai modal keberangkatan ke Suriah.
Kemauan dan harapan para simpatisan ISIS di Indonesia yang terwujud dalam suatu
niat untuk hijrah dan bergabung dengan gerakan ISIS di Suriah tidak dapat
dianggap kecil. Bahkan dapat dikatakan sangat tinggi. Simpatisan mempunyai
kemauan untuk menuju khilafah islamiyah dan tentu saja harapan untuk hidup lebih
sejahteran dibandingkan sebelumnya.
Proses rekrutmen ISIS yang dilakukan secara rapi mampu menamkan kemauan dan
harapan bagi para simpatisan dengan sangat kuat. Tentu saja perekrut mempunyai
pengalaman dan kepentingan yang besar terhadap suksesnya perekrutan ini.
Pengetahuan para simpatisan ISIS pada saat berangkat ke Suriah mungkin biasabiasa saja. Bahkan bisa disebutkan bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan
untuk perang atau melakukan teror. Tetapi keyakinan bahwa mereka akan dilatih
untuk berperang mewujudkan khilafah islamiyah tidak bisa dipandang sebelah
mata. Jika benar-benar para simpatisan tersebut dilatih di Suriah, tentu akan
menjadi sangat berbahaya jika suatu saat mereka kembali ke Indonesia dan
melakukan gerakan menegakkan khilafah islamiyah dengan segala cara.
Ledakan bom di sebuah mall yang berlokasi di Depok Jawa Barat pada 23 Februari
2015 menunjukkan bahwa pelaku menggunakan gas klorin, jenis bom ini khas
digunakan oleh kelompok ISIS. Tentu menjadi wajar jika banyak pihak menduga
bahwa pelaku dari peledakan ini adalah orang yang pernah ke Suriah atau Irak. Hal
ini dapat menjadi suatu barometer bagaimana berbahayanya pengetahuan
simpatisan ISIS yang pernah ke Suriah. Dugaan-dugaan bahwa para simpatisan
mendapatkan pelatihan tertentu masih didalami. Jika hal ini terjadi maka akan ada
bekal pengetahuan bagi para simpatisan untuk melakukan aksi lanjutan di daerah
lain.
Indonesia dipilih sebagai salah satu daerah sumber rekrutan untuk relawan ISIS di
Suriah karena Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim yang besar dan
mayoritas. Selain itu gerakan garis keras Islam beberapa kali mampu melakukan
pendadakan strategis di Indonesia hingga mempunyai dampak secara internasional.
Perekrutan kader simpatisan dari Indonesia untuk membantu perjuangan di Suriah
tentu menjadi suatu pengalaman yang cukup bagi simpatisan tersebut jika suatu
saat harus kembali ke Indonesia dan melakukan aksi yang sama.
Kapabilitas simpatisan ISIS dari Indonesia yang terdiri dari dua faktor, pengetahuan
dan sumber daya manusia cukup untuk menjadi ancaman di Indonesia.
Dari analisis ancaman tersebut di atas maka dapat dikelompokkan dan dihitung
tingkat ancamannya seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 1 : Analisis Ancaman

Componen

Scale

Tall
y

Acute

High

Desire / kemauan
Kemauan untuk mencapai tujuan sangat tinggi, bahkan kelompok
garis keras cenderung melakukan hal-hal yang sadis bahkan
mengorbankan nyawa demi terpenuhi kemauannya
Expectation / harapan
Kelompok ISIS mempunyai harapan terbentuknya khilafah
islamiyah di dunia. Kuatnya harapan itu membuat para simpatisan
siap mengorbankan segalanya. Pemahaman yang masih dangkal
dan sepotong-potong membuat harapan menjadi kuat tanpa
melihat realita. Walaupun diketahui harapan para simpatisan tidak
murni ideologi tetapi ada juga yang berlatar belakang ekonomi.
Intent / Niat

Knowledge / Pengetahuan
Pengetahuan para simpatisan ISIS cukup untuk melakukan teror
yang mematikan. Meskipun tidak setinggi para veteran Afganistan
yang melakukan teror di Indonesia seperti Bom Bali. Beberapa
simpatisan yang berangkat ke Suriah dan dapat dicegah oleh
pemerintah Indonesia berlatar belakang tanpa pengalaman teror.

Mediu
m

High

Resources / Sumberdaya
Dilihat dari jumlahnya, maka Indonesia potensial menjadi sumber
rekrutan untuk ISIS. Masyarakat Indonesia terkenal militan, ini
terbukti
dengan
veteran-veteran
Afganistan
yang
cukup
mempunyai nama di gerakan Islam garis keras.
Capability / kapabilitas

Threat Coefisient

16

(negligible=1, minimum=2, medium=3, high=4, acute=5)

Tabel 2 : Koefisien Ancaman


Threat

Coefisient

Negligible

4-6

Minimum

7-10

Medium

11-15

High

16-18

Acute

19-20

Dari distribusi ancaman ke dalam tabel analisis di atas dapat disimpulkan bahwa
ancaman gerakan kelompok ISIS di Indonesia mempunyai nilai yang sangat tinggi.
Dengan nilai ini maka pemerintah wajib memberikan perhatian khusus agar
ancaman-ancaman tersebut tidak menjadi kenyataan yang berakhir pada
timnbulnya korban jiwa atau bahkan hancurnya sebuah negara.

Untuk mengimbangi analisis ancaman, maka perlu dilakukan analisis kerentanan


(vulnerability analysis). Kerentanan sebuah badan atau organisasi dipengaruhi oleh
tiga hal yaitu daya tarik, kemudahan untuk diserang, dan dampak yang akan
terjadi. Dalam konteks gerakan ISIS di Indonesia maka analisis kerentanan dapat
dijelaskan dalam penjabaran di bawah ini.
Indonesia mempunyai daya tarik yang sangat besar bagi gerakan Islam. Dengan
jumlah penduduk yang besar dan mayoritas beragama Islam, maka Indonesia
mempunyai magnet yang kuat bagi aktivis-aktivis gerakan Islam untuk
menanamkan pengaruhnya.
Daya tarik Indonesia bagi gerakan garis keras Islam secara tidak langsung justru
dipermudah oleh peraturan perundangan yang lemah. Salah satunya adalah
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. Dalam
Undang-Undang
itu
menyebutkan
bahwa
seseorang
bisa
kehilangan
kewarganegaraan jika secara sukarela masuk ke dinas negara asing.
Permasalahannya adalah ISIS bukan suatu negara. Celah ini tentu bisa
dimanfaatkan oleh ISIS dan simpatisan dari Indonesia untuk melakukan hijrah ke
Suriah dan kembali lagi ke Indonesia dengan risiko yang relatih kecil jika sanksinya
menyangkut kewarganegaraan.
Salain sebagai basis masyarakat pemeluk agama Islam, Indonesia juga mempunyai
budaya masyarakat timur yang permisif dan membuka diri bagi orang asing,
apalagi jika orang asing tersebut mempunyai persamaan ideologi. Keramahan dan
keterbukaan masyarakat Indonesia ini dimanfaatkan oleh ISIS untuk menebarkan
ideologi dan rayuannya sehingga masyarakat Indonesia tertarik untuk bergabung.
Pintu untuk masuk ke Indonesia terbuka lebar mengingat Indonesia mempunyai
area perbatasan yang cukup luas dengan pengawasan yang lemah. Orang asing

yang akan masuk ke Indonesia bisa melalui jalur darat dan laut dari Malaysia dan
Filipina. Orang asing bisa dengan mudah transit terlebih dahulu untuk
menyesuaikan diri di perbatasan-perbatasan Indonesia yang lemah dalam
pengawasan aparat.
Tipikal masyarakat yang terbuka dan permisif, serta geografis yang luas dengan
wilayah perbatasan yang cukup luas dan kurang pengawasan membuat Indonesia
termasuk sebagai negara yang mudah disusupi oleh orang asing.
Beberapa kali aksi terorisme di Indonesia oleh kelompok garis keras bisa dilakukan
dan menimbulkan korban jiwa tidak sedikit, hal ini juga merupakan indikasi bahwa
Indonesia merupakan suatu negara yang mudah diserang atau belum siap jika
terjadi pendadakan strategis dari pihak oposisi.
Beberapa kali terjadi aksi pendadakan strategis seperti bom bunuh diri di Bali dan
beberapa aksi bom di Jakarta menunjukkan dampak yang cukup besar. Aksi-aksi
tersebut berhasil mempengaruhi situasi negara Indonesia dan menjadi pemberitaan
dunia. Dampak dari aksi teroris di Indonesia yang cukup besar ini tentu harus
diwaspadai karena kemungkinan terjadi kejadian yang sama dengan pelaku
simpatisan ISIS sangat mungkin terjadi.
Dari analisis kerentanan tersebut dapat didistribusikan dalam sebuah tabel untuk
menghitung koefisien kerentanan sebagai berikut :

Tabel 3 : Tabel Analisis Kerentanan Indonesia Terhadap Gerakan ISIS

Factor

Situation

Scale

Tall
y

Attractivene
ss

daya tarik besar sebagai negara dengan penduduk


muslim terbesar

mediu
m

Ease
Attack

penduduk yang permisif, terbuka, dan daerah


perbatasan yang kurang pengawasan aparat

high

pengalaman beberapa kali terjadi aksi teroris bom


bunuh diri

high

Impact

of

Vulnerability Coefficient

(negligible=1, minimum=2, medium=3, high=4, acute=5)

Tabel 4 : Koefisien Kerentanan

11

Vulnerablity

Coefficient

Negligible

1-3

Minimum

4-6

Medium

7-9

High

10-12

Acute

13-15

Dari analisis kerentanan di atas dapat disimpulkam bahwa tingkat kerentanan


Indonesia terhadap gerakan ISIS adalah tinggi. Faktor yang dominan adalah wilayah
geografis yang cukup luas dengan pengawasan yang terbatas dan beberapa kali
aksi bom bunuh diri oleh gerakan Islam garis keras terjadi di Indonesia memakan
korban jiwa dan membawa dampak cukup signifikan.

Potensi pendadakan strategis gerakan ISIS di Indonesia bisa dianalisi dengan


menggunakan analisis risiko. Prinsip utama dari risiko adalah fungsi dari
kemungkinan/ kekerapan dengan konsekuensi/dampak. Jika dilihat dari tren
terorisme yang terjadi di Indonesia maka kemungkinan terjadinya terorisme di
Indonesia termasuk kecil (unlikely) dengan catatan kejadian ini bisa terjadi dalam
beberapa waktu.
Dampak atau konsekuensi akibat aksi terorisme dapat digolongkan dalam kategori
utama (major) karena aksi terorisme di Indonesia terbukti menyebabkan dampak
yang nyata termasuk adanya korban jiwa. Selain kerugian maksimal berupa korban
jiwa, gerakan ISIS dapat diperkirakan membawa pola yang sama dengan gerakan
garis keras Islam yang pernah terjadi di Indonesia, mengingat sebagian pelakunya
adalah sama.
Dalam melakukan aksinya, pelaku terorisme garis keras Islam biasanya didahului
dengan pencarian/penggalangan dana. Dana gerakaa terorisme berasal dari
berbagai sumber seperti perampokan, bantuan dari jaringan luar negeri, atau hasil
iuran sumbangan dari internal kelompok tersebut.
Jika mengikuti tabel Risk Rating Matrix maka dengan tingkat kemungkinan kecil
(unlikely) dan
konsekuensi
utama
(major) akan
diperoleh
risk
rating
= high (tinggi).

Tabel 5 : Risk Rating Matrix

CONSEQUENCES
LIKELIHOOD

Insignificant

Minor

Moderate

Major

Catastrophic

Almost Certain

Moderate

High

Extreme

Extreme

Extreme

Likely

Moderate

High

High

Extreme

Extreme

Possible

Low

Moderate

High

Extreme

Extreme

Unlikely

Low

Low

Moderate

High

Extreme

Rare

Low

Low

Moderate

High

High

Dari tiga analisis yang telah dilakukan yaitu analisis ancaman (treath analysis),
analisis kerentanan (vulnerability analysys) dan analisis risiko (risk analysis)
ternyata mempunyai nilai yang sama yaitu: tinggi (high).
Setelah diketahui bahwa terorisme di Indonesia mempunyai tingkat ancaman,
kerentanan dan risiko yang tinggi maka perlu ditetapkan suatu langkah-langkah
sebagai solusi atas potensi pendadakan strategis dari terorisme gerakan ISIS di
Indonesia.
Dari analisis di atas dapat diperkirakan / estimasi gerakan ISIS di Indonesia, jika
dunia international gencar melakukan perlawanan terhadap ISIS di Suriah maka ISIS
akan kalah dan tercerai berai. Simpatisan ISIS akan kembali ke negara asal. Namun
jika dunia international tidak melakukan perlawanan terhadap ISIS maka ISIS akan
membesar dan aksi ISIS akan lebih strategis dengan melakukan perlawanan
terhadap negara-negara sasaran.
Apapun yang terjadi simpatisan ISIS, jika masih hidup, diperkirakan akan kembali
ke negara asal. Arus balik simpatisan ini yang harus diwaspadai. Pemerintah
Indonesia wajib melakukan penguatan-penguatan di masyarakat agar tidak mudah
menjadi sasaran gerakan radikal. Masyarakat perlu diberi dibiasakan untuk
membaca sinyal-sinyal dari gerakan radikal dan melakukan aksi bersama untuk
mencegahnya. Negara tidak mampu bergerak sendiri untuk melakukan
kontraterorisme karena gerakan terorisme mengakar di masyakarakat.

Solusi Intelijen untuk Mencegah Pendadakan Strategis Gerakan ISIS di


Indonesia
Untuk mencegah pendadakan strategis gerakan ISIS di Indonesia diperlukan suatu
metode atau sistem yang berbasiskan teknik analisis kontraintelijen. Dalam hal ini
dipilih suatu metode PPRR Planning. PPRR Planning terdiri dari empat bagian yaitu

pencegahan (prevention), persiapan (preparation), respon/tanggapan (response),


dan pemulihan (recovery).

Pencegahan
Salah satu usaha efektif untuk mencegah terorisme adalah dengan deradikalisasi.
Secara sederhana deradikalisasi dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk
membuat orang tidak radikal. Sasaran dari program deradikalisasi adalah teroris
yang sudah tertangkap, bekas teroris, kelompok potensial yang bisa direkrut teroris
maupun masyarakat umum.
Deradikalisasi dilakukan sebagai upaya pendamping penanggulangan teroris
dengan cara hard approach yang telah berhasil dilakukan oleh Densus 88/AT.
Program deradikalisasi di Indonesia dijalankan oleh BNPT[3]. Untuk menjalankan
program ini BNPT bekerja sama dengan banyak pihak seperti ulama, lembaga
pendidikan, Ormas, instansi pemerintah, dan masyarakat umum.
Peran intelijen dalam proses deradikalisasi sangat penting. Metode intelijen seperti
penggalangan sangat tepat dilakukan untuk mengubah opini kelompok dari radikal
menjadi tidak radikal. Penggalangan sangat tepat dilakukan karena tidak
mengandung unsur kekerasan yang bisa dianggap melanggar HAM.
Deradikalisasi akan menitik beratkan pada akar masalah pelaku terorisme.
Pendekatan persuasif dengan mengedepankan tokoh agama, pendidik, budayawan,
tokoh politik, tokoh masyarakat, dan lembaga lain yang ada diharapkan dapat
mengubah persepsi dan konsep aksi radikal menjadi tidak radikal. Tokoh agama
menjadi kunci program deradikalisasi mengingat terorisme dan kekerasan terjadi
karena sempitnya pemahaman tentang jihad[4]. Aksi kekerasan oleh teroris
dianggap benar mengatasnamakan jihad.
Petugas intelijen yang sudah tersebar di seluruh Indonesia dapat diberi tugas untuk
mendeteksi potensi-potensi kelompok yang radikal. Dengan kemampuan
penggalangan maka petugas intelijen dapat dimanfaatkan untuk menjalankan
deradikalisasi terhadap sasaran sehingga potensi kelompok radikal tidak
berkembang menjadi aksi terorisme.

Persiapan
Persiapan dalam menghadapi pendadakan strategis gerakan terorisme ISIS maka
pemerintah perlu membuat perangkat hukum sebagai landasan untuk melakukan
tindakan. Revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan
RI sangat diperlukan. UU yang saat ini menyebutkan bahwa seseorang bisa

kehilangan kewarganegaraan jika secara sukarela masuk ke dinas negara asing


harus diperluas termasuk jika beperang melawan negara sahabat.
Kewenangan Intelijen Negara yang tertulis dalam UU Nomor 17 tahun 2011 tentang
Intelijen Negara Pasal 5 disebutkan bahwa: Tujuan Intelijen Negara adalah
mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan
Intelijen dalam rangka memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai
kemungkinan bentuk dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap
keselamatan dan eksistensi bangsa dan negara serta peluang yang ada bagi
kepentingan dan keamanan nasional.
Untuk mewujudkan tujuan ini tentu diperlukan suatu kemampuan dan perangkat
yang memadai sehingga Intelijen Negara dapat mendeteksi sinyal pendadakan
strategis yang akan terjadi. Persiapan yang mutlak dilakukan oleh negara adalah
menyiapkan sumber daya intelijen yang mampu mendeteksi dan menganalisis
sinyal pendadakan strategis.
Persiapan untuk tim penindakan dan penanggulangan harus dilakukan secara
beriringan. Densus-88/AT Polri yang dibentuk untuk melakukan pencegahan dan
penanggulangan terorisme di Indonesia harus ditingkatkan kemampuannya
mengingat teroris juga melakukan perkembangan model dalam melakukan aksinya.
Tugas Densus 88/AT adalah menangani segala bentuk ancaman teroris termasuk
diantaranya ancaman bom dan penyanderaan. Dalam menangani ancaman dan
aksi teroris, Densus 88/AT memerlukan laporan intelijen sebagai informasi awal
untuk melakukan tindakan[5].
Intelijen menjadi salah satu kunci pemberantasan tindak pidana terorisme. Bukti
awal dari laporan intelijen memberikan kewenangan Densus 88/AT untuk melakukan
penangkapan. Fungsi intelijen dalam struktur organisasi dari Densus 88/AT sangat
strategis. Densus 88/AT dalam organisasinya memiliki empat pilar pendukung
operasional setingkat sub-detasemen (Subden), yakni: Subden Intelijen, Subden
Penindakan, Subden Investigasi, dan Subden Perbantuan.
Di bawah Subden terdapat unit-unit yang menjadi pondasi pendukung bagi
operasional Densus 88/AT, seperti pada Subden Intelijen terdapat Unit Analisa,
Deteksi, Unit Kontra Intelijen, pada Subden Penindakan terdapat Unit Negoisasi,
Pendahulu, Unit Penetrasi, dan Unit Jihandak. Sedangkan pada Subden Investigasi
membawahi Unit Olah TKP, Unit Riksa, dan Unit Bantuan Teknis, terakhir pada
Subden Bantuan terdapat Unit Bantuan Operasional dan Unit Bantuan Administrasi.
Personel Densus 99/AT sudah dilengkapi kemampuan intelijen pengamanan.
Kemampuan tersebut sangat penting untuk diaplikasikan dalam menangani
terorisme. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh aparat negara dalam menangani
terorisme sering kali membuat berbagai pihak cenderung resisten. Untuk
menghindari hal tersebut maka perlu dilakukan analisis-analisis dan metode

intelijen sehingga menjadi bahan acuan dalam melakukan operasi penanaganan


terorisme yang lebih tepat sasaran dan humanis dengan tetap mengedepankan
keselamatan rakyat di atas segalanya.

Respon / Tanggapan
Dari berbagai pengalaman kejadian teror di Indonesia, pemerintah Indonesia cukup
baik dalam melakukan respon. Pengolahan tempat kejadian perkara, penanganan
korban, penyelidikan, penangkapan, dan pengungkapan jaringan terorisme berhasil
dilakukan.
Prestasi aparat penegak hukum di Indonesia dapat dibanggakan. Namun hal itu
tentu saja tidak boleh mengurangi porsi untuk terus berlatih dan berkembang
dalam menghadapi aksi-aksi berikutnya.

Pemulihan
Jika terjadi pendadakan strategis oleh aksi radikal ISIS maka pemerintah perlu
menyiapkan strategi untuk pemulihan. Subjek yang perlu mendapat pemulihan
adalah sebagai berikut :
1.

Korban aksi radikal terorisme, dalam beberapa kasus korban aksi terorisme
meninggal dunia, tidak sedikit pula yang mengalami cacat dan trauma psikis.
Perlu adanya lembaga yang bertanggung jawab untuk menangani dan
menjamin kehidupan bagi korban-korban terorisme di Indonesia.
2.
Pelaku terorisme dan keluarganya / kelompoknya. Pemulihan juga bisa
dilakukan kepada pelaku terorisme yang telah dikenai tindakan hukum
termasuk keluarga dan kelompoknya. Program deradikalisasi harus
dilaksanakan agar tindakan hukum yang dilakukan oleh negara tidak
menimbulkan kebencian baru yang akan mengakar secara turun temurun.
3.
Aparat penegak hukum yang melakukan penindakan dan penanggulangan
kelompok teroris kemungkinan bisa mengalami trauma. Jika hal ini terjadi maka
perlu disiapkan strategis khusus agar trauma tersebut tidak berakibat negatif
bagi karir dan kehidupan selanjutnya.
4.
Jika sasaran teror adalah kelompok atau organisasi maka pemulihan juga
perlu dilakukan. Sebagai contoh jika ISIS melakukan serangan kepada
kelompok Syiah di Indonesia, maka jika hal ini terjadi kemungkinan korban
akan cukup banyak, tidak hanya perorangan tetapi juga kelompok.
Pendampingan dari pemerintah dan lembaga keagamaan perlu dilakukan untuk
pemulihan korban kelompok.

Fase pemulihan harus disiapkan oleh pemerintah walaupun pada proses


pencegahan sudah dilakukan secara maksimal, Gerakan radikal ISIS juga akan
berkembang dan mempelajari strategi yang dilakukan oleh organisasi yang
dianggap sebagai musuh. Pemerintah harus tetap menyiapkan kondisi dalam
skenario terburuk.

Penutup
Gerakan Islam radikal yang tergabung dalam kelompok ISIS mengejutkan dunia
internasional. Bergabungnya simpatisan dari banyak negara termasuk dari negara
dengan basis non muslim menjadi catatan tersendiri. ISIS menjadi ancaman yang
sangat nyata dan mempunyai tingkat ancaman, kerentanan dan risiko yang tinggi.
Gerakan ISIS di Suriah tidak bias dipandang remeh, karena sinyal-sinyal keberadaan
ISIS di Indonesia sudah terdeteksi.
Analisis atas gerakan islam radikal ISIS diharapkan mampu menyumbangkan saransaran dan strategi bagi negara untuk melakukan kewaspadaan, pencegahan,
penindakan, penanggulangan, sekaligus menyiapkan diri untuk melakukan
pemulihan jika kemungkinan terburuk terjadi. Negara harus menjadi garda terdepan
dalam melakukan perlawanan terhadap aksi terorisme.
Intelijen diharapkan sebagai garda terdepan mampu memberikan sinyal-sinyal atas
pendadakan strategis ini sehingga negara mampu melakukan antisipasi untuk
menjamin keamanan dan keselamatan seluruh warga negara.

Catatan kaki:
[1] H. Ansyaad Mbai, Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia, hal 12 : Ide gerakan inilah yang
diadopsi oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir dengan mendirikan Jamaah Islamiyah di Asia
Tenggara untuk meneruskan perjuangan mendirikan Negara Islam Indonesia yang telah ada sejak
1950-an, dengan menerapkan syariat Islam.
[2] Julios Pour, Benny Tragedi Seorang Loyalis, hal 228: Diungkapkan juga olek Pangkopkamtib, surat
dari Imran Muhammad Zein, pimpinan pembajak Wolyla, kepada Ayatollah Khomeini, surat minta
bantuan dengan menggunakan nama Dewan Revolusi Islam Indonesia. Mereka mengaku sebuah
gerakan bawah tanah yang ingin menggulingkan rezim Soeharto dan menjadikan Indonesia Negara
Islam.
[3] http://www.damailahindonesiaku.com/suara-cegah-terorisme/139-deradikalisasi-terorisme.html,
untuk meng atasi masalah radikalisme dan terorisme, pemerintah melalui Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT), melakukan deradikalisasi dengan melibatkan banyak pihak mulai
dari kementerian dan lembaga, Polri, TNI, perguruan tinggi, hingga masyarakat sipil seperti ormas dan
LSM. Desai Deradikalisasi memiliki empat komponen yaitu reedukasi, rehabilitasi, resosialisasi, dan
reintegrasi.

[4] H. Ansyaad Mbai dalam Buku Dinamika Baru dalam Jejaring Teror di Indonesia hal 169:
Sebagaimana diketahui bahwa aksi-aksi radikal terorisme terjadi tidak lepas dari sempitnya
pemahaman tentang jihad dari ayat-ayat Al-Quran dan Hadis. Pemaknaan-pemaknaan yang tekstual
dan tanpa dibarengi kajian tentang asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran) dan
asbab al-wurud (sebab-sebab turunnya hadis) serta makna kontekstual dari ayat-ayat Al Quran dan
Hadis, turut menyumbang kemunculan aksi-aksi radikal-teror yang mengatasnamakan jihad.
[5] Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk
melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan
bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 &
28).

http://jurnalintelijen.net/2015/07/06/analisis-intelijen-gerakan-isis-di-indonesia/
==============