Anda di halaman 1dari 5

BAB 4

PEMBAHASAN
4.1 KEHAMILAN
Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini
berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan
28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan
sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada kehamilan di atas 36 minggu.
(Prawirohardjo, 2008)
Pada Ny. Y telah melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur sebanyak
8 kali. Trimester I 1 (satu) kali, Trimester II 3 (tiga) kali dan trimester III 4
(empat) kali.
Menurut teori standar pelayanan kebidanan dari 10 T pelayanan yang
diberikan hanya 9 yang dilaksanakan Ny. Y yaitu Timbang badan, ukur
tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi Tetanus Toxoid
(TT) lengkap, pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan, tes
terhadap penyakit menular seksual, temu wicara (konseling dan pemecahan
masalah, tentukan presentasi janin dan hitung djj, tetapkan status gizi dan tata
laksana kasus.
Pada Ny. Y tidak dilaksanakannya pemeriksaan PMS (Penyakit Menular
Seksual) karena tidak tersedianya alat pemeriksaan tersebut di Puskesmas
Martapura. Untuk meningkatkan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas
Martapura disarankan untuk disediakan alat pemeriksaan PMS tersebut.
Selama dilakukan asuhan kebidanan oleh penulis tidak ditemukan kelainan
atau tanda-tanda resiko kehamilan.

169

170

4.2 PERSALINAN
4.2.1 Kala I
Tanggal 3 januari 2013 jam 23.00 wita Ny. Y mengatakan keluar lendir
darah disertai dengan adanya rasa sakit pada perut dan pinggang. Rasa
sakit tersebut makin lama makin bertambah dan apabila dibawa berjalan
rasa nyeri akan berkurang. Pada tanggal 4 Januari 2013 jam 03.00 wita
ibu minta diantar ke Rumah sakit. Saat berada di Ruang VK Bersalin
dilakukan pemeriksaan pada NY. Y oleh bidan jaga dengan hasil : TD
110/80 mmHg, Nadi 88 kali permenit, respirasi 22 kalipermenit, suhu
36,6 0 C. Pada Pemeriksaan dalam pembukaan 3- 4 cm, selaput ketuban
utuh, kepala bayi pada Hodge I, portio tipis, arkus pubis tidak teraba,
his positif (+) frekwensi 1 kali per 10 menit dengan interval jarang, Djj
positif (+) 124 kali per menit, TBJ 2945 gr, umur kehamilan 39 minggu.
Lama kala I yang dihitung dari mulai ibu merasakan mules sampai
pembukaan lengkap berlangsung selama 10 jam 10 menit. Lama
pembukaan 4 cm ke pembukaan lengkap berlangsung 7 jam 10 menit.
Keadaan yang ditemukan sesuai dengan teori pada Asuhan Persalinan
Normal (Johariyah, 2012) bahwa serviks membuka dari 4 ke 10 cm,
biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih, satu hingga 2 cm pada
multigravida).
4.2.1 Kala II
Pada kala II his terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3
menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga
terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris
menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan rektum, ibu merasa
seperti mau buang air besar, dengan anus terbuka. Pada waktu his,
kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan prenium meregang.
Lama kala II pada primigravida adalah 1,5 jam sampai dengan 2 jam,
sedangkan pada multigravida adalah 0,5 jam sampai dengan 1 jam.
(Johariyah, 2012).

171

Jam 08.40 wita his 3 kali dalam 10 menit frekwensi 40 detikdilakukan


pemeriksaan dalam kepala bayi sudah masuk ruang panggul (Hodge III)
ketuban negatif (-) pembukaan serviks hampir lengkap.
Jam 09.10 wita bayi lahir spontan belakang kepala.
2.4.3 Kala III
Berlangsung secara normal dengan manajemen aktif kala III plasenta
lahir 5 menit setelah bayi lahir. Plasenta lahir lengkap, hal ini sesuai
dengan batas normal kala III yang diungkapkan oleh Johariyah, (2012)
bahwa kala III tidak lebih 15 30 menit.
Jam 09.15 wita plasenta lahir spontan lengkap dengan selaputnya dan
koteledon tidak ada yang terlepas, tali pusat segar. Setelah plasenta lahir
dilakukan masase selama 15 menit secara sirkuler (gerakan melingkar)
hingga uterus berkontraksi baik.
2.4.4 Kala IV
Adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi lahir, untuk
mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post
partum. Kala IV dimulai sejak ibu dinyatakan aman dan nyaman sampai
2 jam. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena
perdarahan pasca persalinan sering terjadi pada 2 jam (Johairyah, 2012)
Keadaan umum Ny. Y baik, TD 120/60 mmHg, Respirasi 24 x/menit
dan suhu tubuh 37,2 oC. kontraksi uterus baik, tingi Fundus uteri 2 jari
bawah pusat. Perdarahan + 10 cc (15 menit I).
4.3 BAYI BARU LAHIR
Proses persalinan berlangsung normal dan bayi Ny. Y lahir spontan, segera
menangis APGAR SCORE 8,9,10 dalam keadaan sehat dengan jenis kelamin
laki-laki, berat 3100 gram dan panjang 49 cm. Bayi tidak menunjukkan
adanya tanda-tanda kelainan apapun seperti tali pusat berdarah, anus positif
(+) dan tidak ditemukan kelainan konginetal lainnya.

172

Suntikan Vitamin K1 sebanyak 1 mg telah diberikan setelah bayi lahir untuk


mencegah terjadinya perdarahan pada bayi baru lahir, hal ini sesuai menurut
Rukayah (2010) bahwa bayi segera setelah lahir harus diberikan suntikan
Vitamin K1.
Reflek mengisap kuat hal ini sesuai menurut Rukayah (2010) bahwa IMD
dilakukan pada 30 menit pertama.
Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi mata dan infeksi hepatitis B pada
bayi Ny. Y telah diberikan salep mata Tetrasiklin 1 % dan diberikan imunisasi
hepatitis B. menurut indrayani (2013) pemberian antibiotik tetrasiklin 1 %
pemberiannya harus dalam waktu 1 jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis
infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran dan
imunisasi Hepatitis B sebaiknya diberikan segera setelah bayi lahir atau
sampai umur 7 hari.
4.4 NIFAS
Mengacu dari kebijakan program Nasional pada masa nifas, ada beberapa
tahapan kunjungan yang dilakukan yaitu kunjungan pertama 6-8 jam setelah
persalinan. Kunjungan kedua 6 hari setelah persalinan dan Kunjungan ketiga
6 minggu setelah persalinan (nurul Jannah, 2011).
Kunjungan asuhan kebidanan masa nifas Ny. Y sesuai dengan teori yaitu :
4.4.1 Kunjungan pertama
Dilakukan pengukuran tanda-tanda vital, kontraksi uterus baik, TFU 2
jari bawah pusat, tidak ada perdarahan, luka laserasi masih terasa
nyeri, ibu sudah bak dan ibu sudah memberikan asi kepada bayinya.
4.4.2 Kunjungan kedua.
Ibu sudah menyusui bayinya asi ekslusif dengan benar, asi keluar
lancar, involusio berjalan dengan normal, lochea sangolenta, ibu
cukup istirahat dan tidur, dan ibu sudah bak/bab, ibu tidak
berpantangan
nifas.

makanan / minuman, dan tidak ada bahaya-bahaya

173

4.4.3 Kunjungan ketiga.


Tidak ditemukan penyulit masa nifas. Uterus sudah tidak teraba lagi
dan kembali normal seperti sebelum hamil.
4.5 KB
Setelah dilakukan konseling KB pada Ny. Y dan suami tentang semua jenis
alat kontrasepsi, mereka mengerti apa yang dijelaskan dan mereka juga telah
mengetahui berbagai informasi kontrasepsi dari kehamilan sebelumnya. Ibu
mengerti penggunaan alat kontrasepsi pil mini meliputi cara kerja, indikasi,
kontraindikasi, keuntungan dan kerugian serta cara minum pil mini.
Pil mini adalah pil yang mengandung hormone progesterone kurang 1 mg.
yang cocok digunakan perempuan menyusui karena tidak menurunkan
produksi ASI. (Arum, 2011).