Anda di halaman 1dari 14

ANEMIA GIZI BESI

Kelompok : Magnesium
Wahyuningsih

G2C009003

Nanda Indrawan

G2C009008

Erni Rukmana

G2C009024

Kukuh Eka Kusuma

G2C009049

Galuh Pradnya D

G2C009058

Balgis

G2C009072

Khairunissa Andayani

G2C009073

Natalia Yohana

G2C009076

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009

Kata Pengantar
Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Maksud dan tujuan kami membuat makalah yang berjudul Anemia Gizi Besi antara lain
untuk memenuhi persyaratan sebagai mahasiswa baru di prodi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro tahun ajaran 2009/2010, dan untuk menambah pengetahuan pembaca
tentang Anemia Gizi Besi, baik tentang pengertian Anemia, penyebab Anemia, gejala anemia,
akibat anemia, serta cara mencegah dan mengobati anemia.
Dalam penyelesaian makalah ini, banyak pihak-pihak yang telah membantu, baik
memberi dukungan, saran, maupun kritik yang membangun. Oleh karena itu kami mengucapkan
trerima kasih kepada :
1. Mbak Ambar selaku kakak pembimbing kelompok kami,
2. Kakak-kakak Panitia PMB 2009,
3. Pihak-pihak lain, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
Kami berharap semoga Makalah ini dapat memenuhi persyaratan sebagai mahasiswa baru
di prodi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tahun ajaran 2009/2010 serta
dapat menambah pengetahuan pembaca, khususnya pada kalangan remaja.

Jakarta, September 2009

Penyusun

I.

PENDAHULUAN
Dewasa ini, penyakit anemia sudah bukan menjadi penyakit langka lagi. Namun, masih
banyak masyarakat yang belum mengerti tentang masalah anemia secara mendalam. Bahkan
masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia menderita penyakit anemia. Sehingga
menyebabkan penyakit ini semakin meningkat setiap tahunnya. Anemia merupakan suatu
keadaan dimana seseorang kekurangan zat darah sehingga muncul gejala-gejala seperti letih,
lemah, lesu dan loyo berkepanjangan yang merupakan gejala khas yang menyertai anemia.
Selain gejala gejala yang telah disebutkan, biasanya juga akan muncul keluhan sering sakit
kepala, sulit konsentrasi, muka-bibir-kelopak mata tampak pucat, telapak tangan tidak merah,
nafas terasa pendek, kehilangan selera makan serta daya kekebalan tubuh yang rendah
sehingga mudah terserang penyakit. Kadang gejala anemia dapat saja tak terasa bila masih
dalam tahapan awal, namun gejala akan semakin bertambah dengan semakin meningkatnya
tingkat severitasnya.
Anemia dapat membahayakan tubuh seseorang bila tidak segera diatasi. Dalam kondisi
tubuh yang anemia, tubuh akan memproduksi sel darah merah "sehat" dalam jumlah yang
minim ataupun dengan kualitas yang rendah. Padahal fungsi sel darah merah amat strategis,
diantaranya sebagai sarana transportasi zat gizi terutama oksigen. Oksigen amat diperlukan
tubuh untuk proses fisiologis dan biokimia di seluruh jaringan tubuh. Dengan kondisi tubuh
yang anemik maka pasokan oksigen ke seluruh tubuh akan berkurang. Akibatnya akan
muncul berbagai macam gangguan fisiologis.
Terdapat dua tipe anemia yang dikenal, anemia gizi dan non gizi. Anemia gizi biasanya
terjadi akibat adanya defisiensi zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel
darah merah. Hal itu mencakup kualitas dan kuantitas sel darah merah. Anemia gizi sendiri
ada beberapa macam seperti anemia gizi besi, anemia gizi vitamin E, anemia gizi asam folat,
anemia gizi vitamin B12, anemia gizi vitamin B6. Anemia non gizi adalah keadaan kurang
darah yang disebabkan karena adanya perdarahan (luka, menstruasi dll) atau penyakit darah
yang bersifat genetik. Hemofilia, thalassemia adalah beberapa contoh penyakit genetik yang
dapat menimbulkan kondisi anemia.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang anemia gizi besi. Sebagaimana kita
ketahui, anemia gizi besi adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari

nilai normal, sehingga dapat menyebabkan seseorang merasa cepat lelah, letih, lesu, lemas
dibandingkan oleh laki-laki karena wanita mengalami kehilangan darah tiap bulannya selama
menstruasi, bahkan anemia gizi besi lebih banyak diderita oleh ibu hamil, karena kondisi
fisiologi seperti ibu hamil dan menyusui menyebabkan kebutuhan akan zat besi bertambah.
Selain itu wanita juga rentan mengalami kekurangan zat besi.
Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah
khronis seperti menstruasi. Kehilangan darah khronis juga bisa disebabkan oleh karena
kanker terutama kanker pada usus besar. Anemia juga bisa disebabkan oleh karena
perdarahan usus yang disebabkan oleh karena konsumsi obat obatan yang mengiritasi
usus.Obat yang termasuk golongan ini terutama obat NSAID. Pada bayi dan anak anak,
anemia kekurangan zat besi biasanya disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang
mengandung zat besi.
Anemia gizi masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Walaupun telah
dilakukan banyak upaya untuk menurunkan kasus anemia, data terakhir tetap menunjukkan
bahwa prevalensi anemia gizi besi tetap tinggi. Terlebih dengan terjadinya krisis ekonomi di
Indonesia, kasus anemia gizi, khususnya pada anak balita miskin, makin meningkat.
Survey yang dilakukan oleh Hellen Keller International di kawasan kumuh beberapa kota
besar di Indonesia menunjukkan bahwa 65% balita yang ada menderita anemia gizi besi
(HKI, 1999). Menurut Kodiyat (1995), prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil di
Indonesia sebesar 63,5%, balita (55,5%), anak usia sekolah (20 -40%), wanita dewasa (30 40%), pekerja berpenghasilan rendah (30 - 40%) dan pria dewasa (20 - 30%). Jelas dapat
diamati bahwa anemia (khususnya gizi besi) masih merupakan "PR" besar yang harus
diselesaikan oleh bangsa Indonesia.
Salah satu masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya adalah anemia gizi besi. Anemia
besi sering terjadi pada ibu hamil. dari hasil penelitian UNDIP tahun 1999 di Kabupaten
Brebes sebesar 85,5% ibu hamil mengalami anemia. Sedangkan data nasional dari SKRT
tahun 1995 prevalensi anemia pada ibu hamil 50,9%. Dari data tersebut terlihat bahwa ibu
hamil rawan terjadi anemia. Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan terjadinya

anemia. Faktor tersebut antara lain tingkat kecukupan protein, tingkat kecukupan Vitamin C
dan tingkat kecukupan besi. Selain itu ada faktor inhibitor atau penghambat yang
berhubungan dengan kejadian anemia. Faktor inhibitor ini adalah kebiasaan minum teh
sehabis makan dan tabu terhadap makanan tertentu selama hamil.

II. ISI
II.1Pengertian Anemia Gizi Besi
Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari
nilai normal. Anemia juga bisa berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran atau
jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin.
Anemia tidak pernah menjadi sebab utama dari suatu penyakit. Biasanya anemia
selalu menjadi akibat sampingan dari keadaan patologis atau suatu penyakit tertentu.
Semakin rendah kadar Hb maka anemia yang diderita makin berat. Hal ini dapat
dijadikan pegangan sementara, karena belum ada penggolongan pasti mengenai tingkatan
anemia.
II.2Klasifikasi Anemia
Secara morfologis, anemia dapt diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin
yang dikandung, sebagai berikut :
1. Makrositik
Pada anemia ini ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah Hb
tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu :
a. Anemia megaloblastik, yang disebabkan karena kekurangan vitamin B12,
asam folat, atau gangguan sintesis DNA.
b. Anemia non-megaloblastik, yang disebabkan karena eritropoiesis yang
dipercepat dan peningkatan luas permukaan membrane.
2. Mikrositik
Mengecilnya ukuran sel darah merah merupakan salah satu tanda anemia
mikrositik. Penyebabnya adalah defisiensi besi, gangguan sintesis globin, porfirin dan
hema, serta gangguan metabolisme besi lainnya.
3. Normositik
Pada anemia ini ukuran sel darah merah tidak berubah. Penyebab anemia jenis ini
adalah kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan,
penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati.

II.3Penyebab Umum Anemia Gizi Besi

Zat yang paling berperan dalam proses terjadinya anemia gizi yaitu besi.
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi dibanding defisiensi zat gizi
lainnya, seperti asam folat, vitamin B12, protein, dll.
Faktor utama penyebab anemia gizi yaitu secara umum :
1. Banyak kehilangan darah
2. Rusaknya sel darah merah
3. Kurangya produksi sel darah merah
II.4Apakah Anemia Gizi Besi itu?
Anemia Gizi Besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya
pembentukan sel-sel darah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah.
II.5Mengapa Anemia Gizi Besi bisa terjadi ?
Faktor utamanya karena kurangnya konsumsi zat besi yang berasal dari makanan
atau rendahnya absorpsi zat besi yang ada dalam makanan
Penyebab lain terjadinya anemia gizi besi yaitu kebutuhan yang meningkat akibat
pertumbuhan, misalnya bayi, anak-anak, dan remaja membutuhkan zat besi dalam
jumlah yang relatif lebi besar, karena pertumbuhan yang pesat pada masa-masa
tersebut. Selain itu, kondisi fisiologi seperti ibu hamil dan menyusui menyebabkan
kebutuhan akan zat besi bertambah.
II.6Tahap tahap terjadinya Anemia Gizi Besi
Sebelum terjadinya anemia, biasanya terjadi kekurangan zat besi secara perlahanlahan. Tahap defisiensi besi sebagai berikut :
1. Berkurangnya cadangan zat besi
2. Menurunnya zat besi untuk system eritropoiesis
3. Anemia Gizi Besi
Terjadinya anemia karena kekurangan zat besi.
Anemia karena kekurangan zat besi biasanya terjadi secara bertahap, melalui beberapa

stadium.
Gejalanya baru timbul pada stadium lanjut.
1. Stadium 1.
Kehilangan zat besi melebihi asupannya, sehingga menghabiskan cadangan dalam
tubuh, terutama di sumsum tulang.
Kadar ferritin (protein yang menampung zat besi) dalam darah berkurang secara
progresif.
2. Stadium 2.
Cadangan besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk
pembentukan se darah merah, sehingga sel darah merah yang dihasilkan
jumlahnya lebih sedikit.
3. Stadium 3.
Mulai terjadi anemia.
Pada awal stadium ini, sel darah merah tampak normal, tetapi jumlahnya lebih
sedikit.
Kadar hemoglogin dan hematokrit menurun.
4. Stadium 4.
Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan
mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah dengan ukuran
yang sangat kecil (mikrositik), yang khas untuk anemia karena kekurangan zat
besi.
5. Stadium 5.
Dengan semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia, maka akan
timbul gejala-gejala karena kekurangan zat besi dan gejala-gejala karena anemia
semakin memburuk.
II.7Akibat Anemia Gizi Besi
1. Pada ibu hamil

Anemia gizi besi bisa berakibat fatal bagi ibu hamil. Karena ibu hamil
memerlukan banyak tenaga untuk melahirkan. Pada saat melahirkan biasanya darah
yang keluar dalam jumlah yang banyak sehingga kondisi anemia memperburuk
keadaan ibu hamil. Kekurangan darah dan pendarahan merupakan penyebab utama
kematian ibu saat melahirkan.
Ibu hamil yang menderita anemia gizi besi tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan zat-zat gizi bagi dirinya dan janin dalam kandungannya. Oleh karena itu
keguguran, kematian bayi dalam kandungan, berat bayi lahir rendah, kelahiran
premature rawan terjadi pada ibu hamil yang menderita anemia gizi besi.
2. Pada ibu yang menyusui
Pada ibu yang menyusui harus waspada terhadap anemia gizi besi karena zat besi
yang dikonsumsi harus mencukupi kebutuhan ibu dan bayi yang sedang disusui,
walaupun kandungan zat besi dalam ASI tidak banyak, tapi bayi akan bergantung
kepada ASI terutama selama 4-6 bulan pertama.
3. Pada anak-anak
Anemia gizi besi yang terjadi pada anak-anak, baik balita maupun usi sekolah,
akan menggangu pertumbuhan dan perkembangannya. Anak jadi lemah karena sering
terkena infeksi akibat pertahanan tubuhnya menurun, dalam kegiatan sehari-hari anak
menjadi tidak aktif, malas, cepat lelah dan disekolah sulit berkonsentrasi dalam
belajar serta cepat ngantuk. Akibat lebih lanjut akan mempengaruhi kecerdasan dan
daya tangkap anak.
II.8Diagnosa
Pemeriksaan darah digunakan untuk mendiagnosis anemia. Biasanya penderita
anemia diperiksa untuk mengetahui kekurangan zat besi. Kadar zat besi bisa diukur
dalam darah. Kadar zat besi dan transferin (protein pengangkut zat besi yang berada
diluar sel darah merah) diukur dan dibandingkan. Jika kurang dari 10% transferin
yang terisi dengan zat besi, maka kemungkinan terjadi kekurangan zat besi.
Tetapi pemeriksaan yang paling sensitif untuk kekurangan zat besi adalah
pengukuran kadar ferritin (protein yang menampung zat besi). Kadar ferritin yang
rendah menunjukkan kekurangan zat besi. Tetapi kadang kadar ferritin normal atau
tinggi walaupun terdapat kekurangan zat besi karena feritin kadarnya bisa meningkat

pada

kerusakan

hati,

peradangan,

infeksi

atau

kanker.

Kadang diperlukan pemeriksaan yang lebih memuaskan untuk menegakkan


diagnosis. Pemeriksan yang paling khusus adalah pemeriksaan sumsum tulang,
dimana contoh dari sel diperiksa dibawah mikroskop untuk menentukan kandungan
zat besinya.
II.9Pengobatan
Langkah pertama adalah menentukan sumber dan menghentikan perdarahan, karena
perdarahan merupakan penyebab paling sering dari kekurangan zat besi.
Mungkin diperlukan obat-obatan atau pembedahan untuk:
- mengendalikan perdarahan menstruasi yang sangat banyak
- memperbaiki tukak yang mengalami perdarahan
- mengangkat polip dari usus besar
- mengatasi perdarahan dari ginjal.
Biasanya juga diberikan tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi
mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan
diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup
diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet.
Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat
besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan
menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu
menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang
normal dan tidak berbahaya.
Biasanya diperlukan waktu 3-6 minggu untuk memperbaiki anemia karena
kekurangan zat besi, meskipun perdarahan telah berhenti. Jika anemia sudah berhasil
diperbaiki, penderita harus melanjutkan minum tablet besi selama 6 bulan untuk
mengembalikan cadangan tubuh. Pemeriksaan darah biasanya dilakukan secara rutin

untuk meyakinkan bahwa pasokan zat besi mencukupi dan perdarahan telah berhenti.

Kadang zat besi harus diberikan melalui suntikan. Hal ini dilakukan pada penderita
yang tidak dapat mentoleransi tablet besi atau penderita yang terus menerus
kehilangan sejumlah besar darah karena perdarahan yang berkelanjutan. Waktu
penyembuhan dari anemia yang diobati dengan tablet besi maupun suntikan adalah
sama.
II.10 Cara penanggulangan anemia gizi besi
Cara penanggulangan anemia gizi besi yaitu :
1. Meningkatkan konsumsi zat besi dan makanan
Dengan cara mengkonsumsi pangan hewani seperti daging, ikan, hati, atau
telur dalam jumlah yang cukup. Ataupun dengan mengkonsumsi syuran hijau
dan buah-buaha, kacang-kacangan, padi-padian serta vitamin-vitamin lain
untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
2.Suplementasi zat besi
Dengan pemberian suplemen dapat memperbaiki status hemoglobin dalam
waktu yang relatif singkat
3.Fortifikasi zat besi
Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis zat gizi ke dalam bahan pangan
untuk meningkatkan kualitas pangan suatu kelompok masyarakat.
Keuntungan dari fortifikasi yaitu dapat diterapkan pada populasi yang
besar dan biayanya relatif murah.
Kesulitan cara ini yaitu pada tahap identifikasi bahan pangan yang akan
difortifikasi. Fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna, dan penampakan
serta daya simpan bahan pangan.

II.11 Kebutuhan Zat Besi

Kebutuhan zat besi yang diserap berbeda-beda antar individu, tergantung umur,
jenis kelamin, dan kondisi fisiolois. Secara umum, kebutuhan zat gizi disajikan pada table
berikut :
Umur / Jenis Kelamin
4-12 bulan

g/kg/hari

mg/hari
120

0,96

12-24 bulan

56

0,61

2-5 tahun

44

0,70

6-11 tahun

40

1,17

12-16 tahun

34

1,82

Dewasa

18

1,14

12-16 tahun

40

2,02

Usia subur

43

2,38

Hamil / menyusui

24

1,31

Menopause

18

0,96

Laki-laki :

Wanita :

2.11 Pencegahan
Lebih banyak mengkonsumsi daging, hati dan kuning telur; juga tepung, roti dan gandum
yang telah diperkaya dengan zat besi. Jika makanan sehari-hari sedikit mengandung zat
besi, maka harus diberikan tablet besi.

III.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari data hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Anemia di sebabkan karena kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit dalam darah
kurang dari nilai standar (normal).
2.

Penyebab

anemia

pada

umumnya

karena

kurang

gizi

(malnutrisi),

kurang zat besi dalam diet, Malabsorpsi, kehilangan darah yang banyak.
3.2 Saran
Karena keterbatasan waktu, dan pengetahuan, yang kami miliki maka kami
menyarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui atau membuktikan
berapa banyak masyarakat yang mengetahui tentang penyakit anemia gizi besi.

DAFTAR PUSTAKA

Wirakusumah, Emma Satriaty. 1999. Perencanaan Anemia Gizi Besi. Jakarta:


www.google.com
www.wikipedia.org