Anda di halaman 1dari 30

MANAJEMEN dan KEPEMIMPINAN KEPERAWATAN

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)

OLEH:
KELOMPOK 4
NAMA ANGGOTA

: 1. Feri adiyanto
2. nova ayu wulandari
3. nur asri wulandari
4. nyimas maryama
5. ratih wulandari
6. ratri arseno
7. Siti rahma
8. yanti saputri

DOSEN PEMBIMBING

: Hj. ISMAR AGUSTIN, S.Kp., M.kep

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG


PRODI D-IV KEPERAWATAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manajemen keperawatan adalah upaya staf keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien, keluarga, serta masyarakat.
Model praktik keperawatan professional (MPKP) adalah suatu system (struktur, proses
dan nilai-nilai professional) yang memungkinkan perawat professional mengatur
pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian
asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).
Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indonesia dimulai sejak diterima dan
diakuinya keperawatan sebagai profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983).
Sejak saat itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional,
Departemen Kesehatan dan organisasi profesi, diantaranya adalah dengan membuka
pendidikan pada tingkat sarjana, mengembangkan Kurikulum Diploma III keperawatan,
mengadakan pelatihan bagi tenaga keperawatan, serta mengembangkan standar praktik
keperawatan. Upaya penting lainnya adalah dibentuknya Direktorat Keperawatan di
Departemen Kesehatan di Indonesia. Semua upaya tersebut bertujuan untuk
meningkatkan profesionalisme keperawatan agar mutu asuhan keperawatan dapat
ditingkatkan. (Sitorus, 2006).
Walaupun sudah banyak hal positif yang telah dicapai di bidang pendidikan keperawatan,
tetapi gambaran pengelolaan layanan keperawatan belum memuaskan. Layanan
keperawatan masih sering mendapat keluhan masyarakat, terutama tentang sikap dan
kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien atau keluarga.
(Sitorus, 2006).
Dalam pelaksanaan manajemen terdapat model praktik keperawatan professional ( MPKP
) yang di dalamnya terdapat kegiatan ronde keperawatan. Ronde keperawatan adalah
suatu kegiatan dimana perawat primer dan perawat asosiet bekerja sama untuk
menyelesaikan masalah klien, dan klien dilibatkan secara langsung dalam proses
penyelesaian masalah tersebut.
Ronde keperawatan diperlukan agar masalah klien dapat teratasi dengan baik, sehingga
semua kebutuhan dasar klien dapat terpenuhi. Perawat professional harus dapat
menerapkan ronde keperawatan, sehingga role play tentang ronde keperawatan ini sangat
perlu dilakukan agar mahasiswa paham mengenai ronde keperawatan dan dapat
mengaplikasikannya kelak saat bekerja.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari MPKP?


2. bagaimana Nilai-Nilai Profesional?
3. bagaimana Pendekatan Manajemen?
4. bagaimana Metode pemberian asuhan keperawatan?
5. Apa Hubungan Professional?
6. bagaimana Sistem Kompensasi dan Penghargaan?
7. apa Kelebihan Dan Kekurangan Dari Model Praktik Keperawatan Profesional?
8. apa Karakteristik MPKP?
9. apa Langkah-langkah dalam MPKP?
10. bagaimana Tingkatan MPKP Menurut Sudarsono (2000), berdasarkan
pengalaman ?
11. apa Pilar-pilar MPKP?
12. apa pengertian Renpra?
13. apa Fungsi Perawat Melakukan Konferen?
14. apa Scenario dari MPKP?

1.3 Tujuan
1. untuk mengetahui pengertian dari MPKP
2. untuk mengetahui Nilai-Nilai Profesional
3. untuk mengetahui Pendekatan Manajemen
4. untuk mengetahui Metode pemberian asuhan keperawatan
5. untuk mengetahui Hubungan Professional
6. untuk mengetahui Sistem Kompensasi dan Penghargaan
7. untuk mengetahui Kelebihan Dan Kekurangan Dari Model Praktik Keperawatan
Profesional
8. untuk mengetahui Karakteristik MPKP

9. untuk mengetahui Langkah-langkah dalam MPKP


10. untuk mengetahui Tingkatan MPKP Menurut Sudarsono (2000), berdasarkan
pengalaman
11. untuk mengetahui Pilar-pilar MPKP
12. untuk mengetahui pengertian Renpra
13. untuk mengetahui Fungsi Perawat Melakukan Konferen
14. untuk mengetahui Scenario dari MPKP

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian MPKP
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur
pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang
pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996). Sebagai suatu model berarti
ruang rawat tersebut menjadi contoh teladan dalam praktik keperawatan professional.
Pengembangan MPKP merupakan upaya banyak Negara untuk memberdayakan
keperawatan dalam layanan kesehatan, terutama pada saat meningkatnya kebutuhan
yang disertai biaya tinggi dalam layanan kesehatan.
2.2 Nilai-Nilai Profesional
Nilai-nilai professional menjadi komponen utama pada suatu praktik keperawatan
professional. Nilai- nilai tentang penghargaan atas otonomi klien, menghargai klien,
melakukan yang terbaik bagi klien dan tidak merugikan klien merupakan nilai-nilai
yang harus terus ditingkatkan pada suatu layanan professional. Dalam
mengimplementasikan nilai-nilai tersebut diperlukan pemahaman dan komitmen
perawat yang tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Pemahaman dan
komitmen ini dipelihara dan ditingkatkan dengan adanya sikap perawat untuk terus
belajar sehingga selalu dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
perkembangan ilmu dan teknologi.
2.3 Pendekatan Manajemen
Dalam melakukan asuhan keperawatan adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar
manusia, yang bilamana ingin memenuhi kebutuhan dasar tersebut seorang perawat
harus melakukan pendekatan penyelesaian masalah, sehingga dapat diidentifikasi
masalah klien, dan nantinya dapat diterapkan terapi keperawatan yang tepat untuk
masalah klien.
2.4 Metode pemberian asuhan keperawatan
Dalam perkembangan keperawatan menuju layanan yang profesional, digunakan
beberapa metode pemberian asuhan keperawatan, misalnya metode kasus, fungsional,
tim, dan keperawatan primer, serta manajemen kasus. Dalam praktik keperawatan
profesional, metode yang paling memungkinkan pemberian asuhan keperawatan
profesional adalah metode yang menggunakan the breath of keperawatan primer.

2.5 Hubungan Professional


Pemberian asuhan kesehatan kepada klien diberikan oleh beberapa anggota tim
kesehatan. Namun, fokus pemberian asuhan kesehatan adalah klien. Karena

banyaknya anggota tim kesehatan yang terlibat, maka dari itu perlu kesepakatan
tentang cara melakukan hubungan kolaborasi tersebut.
2.6 Sistem Kompensasi dan Penghargaan
Pada suatu layanan profesional, seorang profesional mempunyai hak atas kompensasi
dan penghargaan. Pada suatu profesi, kompensasi yang didapat merupakan imbalan
dan kewajiban profesi yang terlebih dahulu dipenuhi. Kompensasi dan penghargaan
yang diberikan pada MPKP dapat disepakati di setiap institusi dengan mengacu pada
kesepakatan bahwa layanan keperawatan adalah pelayanan profesional.
2.7 Kelebihan Dan Kekurangan Dari Model Praktik Keperawatan Profesional
Kelebihan model praktek keperawatan professional :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
d. memberikankepuasan pada anggota tim
e. bila diimplementasikan di RS dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan
f. ruang MPKP merupakan lahan praktek yang baik untuk proses belajar
g. ruang rawat MPKP sangat menunjang program pendidikan Nursing
Kekurangan model praktek keperawatan professional :
a. Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim,
membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
b. Akuntabilitas pada tim.Konsep
c. beban kerja tinggi
d. pendelegasian tugas terbatas
e. kelanjutan keperawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung
jawab klien tugas
2.8 Karakteristik MPKP
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan.
Penetapan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan
derajat ketergantungan klien.
2. Penetapan jenis tenaga keperawatan.
Pada suatu ruang rawat MPKP, terdapat beberapa jenis tenaga yang memberikan
asuhan keperawatan yaitu Clinical Care Manager (CCM), Perawat Primer (PP),
dan Perawat Asosiet (PA). Selain jenis tenaga tersebut terdapat juga seorang
kepala ruang rawat yang bertanggung jawab terhadap manajemen pelayanan
keperawatan di ruang rawat tersebut. Peran dan fungsi masing-masing tenaga
sesuai dengan kemampuannya dan terdapat tanggungjawab yang jelas dalam
sistem pemberian asuhan keperawatan.
3. Penetapan standar rencana asuhan keperawatan (renpra).
Standar renpra perlu ditetapkan, karena berdasarkan hasil obsevasi, penulisan
renpra sangat menyita waktu karena fenomena keperawatan mencakup 14
kebutuhan dasar manusia (Potter & Perry, 1997).

4. Penggunaan metode modifikasi keperwatan primer.


Pada MPKP digunakan metode modifikasi keperawatn primer, sehingga terdapat
satu orang perawat profesional yang disebut perawat primer yang bertanggung
jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan.
Disamping itu, terdapat Clinical Care Manager (CCM) yang mengarahkan dan
membimbing PP dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM diharapkan akan
menjadi peran ners spesialis pada masa yang akan datang.
Melalui penataan struktur dan proses pemberian asuhan keperawatan, hubungan
perawat-klien berkesinambungan sehingga memungkinkan PP bertanggung jawab dan
bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dibawah
tanggung jawabnya. Hubungan perawat-klien yang berkesinambungan inilah yang
memfasilitasi penerapan nilai nilai professional yang merupakan inti suatu pelayananan
professional, antara lain penghargaan otonomi klien, melakukan yang baik bagi klien, dsb
(Clifford & Horvath, 1990).
Analisis MPKP FIKUI-RSUPNCM menurut lima komponen MPKP yang
diuraikan oleh Hoffart & Woods (1996).
a. Nilai-nilai professional sebagai inti model
Pada model ini,PP dan PA membangun kontrak dengan klien/ keluarga yang
merupakan awal dari penghargaan atas harkat dan martabat manusia. Hubungan itu
akan terus dibina selama klien dirawat diruang rawat tersebut sehingga klien/keluarga
menjadi mitra dalam member asuhan keperawatan. Pada pelaksanaan dan evaluasi
renpra, PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggung jawabkan
asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan PA di bawah tanggung
jawabnya. Dengan demikian diharapkan bahwa semua tindakan keperawatan yang
diberikan kepada klien merupan tindakan yang sesuai standar.
b. Pendekatan manajemen
pada model ini diberlakukan manajemen SDM, artinya ada garis komunikasi yang
jelas antara PP dan PA. performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP. hal
itu sangat penting, sehingga PP mempunyai Kewajiban membimbing PA dalam
Memberi asuhan keperawatan yang sesuai dengan prosedur yang seharusnya
dilakukan. Dengan demikian CCM dan PP memerlukan kemampuan untuk
memahami asuhan keperawatan secara rinci, kepemimpinan dan manajemen.
Bagaimana menjadi pemimpin yang efektif dalam timnya akan member dampak yang
positif pada hasil akhir asuhan keperawatan.
PP sebagai seorang generalis, perlu mendapat bimbingan dari seorang CCM yang
mempunyai kemampuan sebagai ners spesialis. CCM akan membimbing PP dan PA
dalam member asuhan Keperawatan termasuk mengimplementasikan hasil hasil
penelitian pada pemberian asuhan keperawatan sehingga tercipta evidence based
practice (EBP).
c. Metode pemberian asuhan keperawatan

Metode yang digunakan ialah modifikasi keperawatan primer sehingga keputusan


tentang renpra ditetapkan oleh PP. PP akan mengevaluasi perkembangan klien setiap
hari dan membuat modifikasi renpra sesuai kebutuhan kien.
d. Hbungan profesional
Pada model ini, hubungan antar-profesional dalam tim kesehatan dilakukan oleh PP.
PP yang paling mengetahui tentang perkembangan kondisi klien sejak awal masuk
kesuatu ruang rawat sehingga mampu memberi data yang adekuat tentang kondisi
klien kepada profesi lain khususnya dokter. Oleh karena itu pada MPKP ini PP tidak
melapor kepada dokter tetapi memberikan analisis tentang kondisi klien. Pemberian
informasi yang akurat tentang perkembangan klien akan membantu dalam
menetapkan rencana tindakan medik.
e. System kompensasi dan penghargaan
PP dan timnya berhak atas kompensasi dan penghargaan untuk asuhan keperawatan
yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional. Dengan demikian kompensasi dan
penghargaan yang diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau
berdasarkan prosedur. Kompensasi berupa jasa dapat diberikan kepada PP dan PA
dalam satu tim yang dapat ditentukan berdasarkan derajat ketergantungan klien.
Penghargaan lain yang diperlukan adalah PP dapat mempelajari secara detail tentang
asuhan keperawatan klien tertentu sesuai gangguan/ masalah yang dialami sehingga
mengarah kepada pendidikan spesialis.
2.9 Langkah-langkah dalam MPKP
1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan penerapan MPKP ini ada beberapa hal yang harus dilakukan,
yaitu (Sitorus, 2006).:
a. Pembentukan Tim
Jika MPKP akan diimplementasikan di rumah sakit yang digunakan sebagai tempat
proses belajar bagi mahasiswa keperawatan, sebaiknya kelompok kerja ini melibatkan
staf dari institusi yang berkaitan. Sehingga kegiatan ini merupakan kegiatan
kolaborasi antara pelayanan/rumah saklit dan institusi pendidikan. Tim ini bisa terdiri
dari seorang koordinator departemen, seorang penyelia, dan kepala ruang rawat serta
tenaga dari institusi pendidikan. (Sitorus, 2006).
b. Rancangan Penilaian Mutu
Penilaian mutu asuhan keperawatan meliputi kepuasan klien/keluarga kepatuhan
perawat terhadap standar yang diniali dari dokumentasi keperawatan, lama hari rawat
dan angka infeksi noksomial. (Sitorus, 2006).
c. Presentasi MPKP

Selanjutnya dilakukan presentasi tentang MPKP dan hasil penilaian mutu asuhan
kepada pimpinan rumah sakit, departemen,staf keperawtan, dan staf lain yang terlibat.
Pada presentasi ini juga, sudah dapat ditetapkan ruang rawat tempat implementasi
MPKP akan dilaksanakan. (Sitorus, 2006).
d. Penempatan Tempat Implementasi MPKP
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan tempat implementasi
MPKP, antara lain (Sitorus, 2006) :
1. Mayoritas tenaga perawat merupakan staf baru di ruang tersebut. Hal ini
diperlukan sehingga dari awal tenaga perawat tersebut akan mendapat pembinaan
tentang kerangka kerja MPKP
2. Bila terdapat ruang rawat, sebaiknya ruang rawat tersebut terdiri dari 1 swasta dan
1 ruang rawat yang nantinya akan dikembangkan sebagai pusat pelatihan bagi
perawat dari ruang rawat lain.
e. identifikasi jumlah klien
jumlah klien yang dirawat diidentifikasi berdasarkan derajat ketergantungan.
Identifikasi jumlah klien berdasarkan derajat ketergantungan dilakukan mengikuti
panduan berikut :
1. dilakukan 1x sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh perawat
yang sama selama beberapa hari sesuai kebutuhan, dengan menggunakan format
klasifikasi klien berdasarkan derajat ketergantungan.
2. Setiap klien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi klien (minimal memenuhi 3
kriteria).
3. Kelompokkan klien sesuai dengan klasifikasi tersebut dengan member tanda tally
(l) pada kolom yang tersedian sehingga dalam waktu 1 hari dapat diketahui berapa
jumlah klien dengan klasifikasi minimal, parsial, dan total.
4. Bila klien hanya mempunyai 1 kriteria dari klasifikasi tersebut, maka klien
dikelompokkan pada klasifikasi diatasnya.
f. Penetapan Tenaga Keperawatan
Pada MPKP, jumlah tenaga keperawatan di suatu ruang rawat ditetapkan dari
klasifikasi klien berdasarkan derajat ketergantungan. Untuk menetapkan jumlah
tenaga keperawtan di suatu ruangrawat didahului dengan menghitung jumlah klien
derdasarkan derajat ketergantungan dalam waktu tertentu, minimal selama 7 hari
berturut-turut. (Sitorus, 2006).
g. Penetapan Jenis Tenaga

Pada MPKP metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah metode
modifikasi keperawatan primer. Dengan demikian, dalam suatu ruang rawat terdapat
beberapa jenis tenaga, meliputi (Sitorus, 2006).:
1) Kepala ruang rawat
Kepala ruang rawat adalah perawat dengan kemampuan DIII Keperawatan yang
berpengalaman dan pada MPKP tingkat 1 adalah perawat dengan kemampuan
Skp/Ners yang berpengalaman. Kepala ruang rawat bertugas sesuai jam kerja yaitu
dinas pagi.
Tugas dan tanggung jawab kepala ruang rawat
Mengatur pembagian tugas jaga perawat (jadwal dinas)
Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketertiban ruangan
Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah di ruangan
Membimbing siswa/mahasiswa (bekerja sama dengan pembimbing klinik)
dalam pemberian asuhan keperawatan di ruangan, dengan mengikuti system
MPKP yang sudah ada
Melakukan kegiatan administrasi dan surat menyurat
Mengorientasikan pegawai baru, residen, mahasiswa kedokteran, dan
mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktik diruangan (disepakati
dengan CCM) dengan menggunakan format orientasi
Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan klien /
keluarga dan tim kesehatan lain, antara lain kepala ruang rawat mengingatkan
kembali klien/keluarga tentang perawat/tim yang bertanggung jawab terhadap
mereka diruangan yang bersangkutan
Memeriksa kelengkapan persediaan status keperawatan minimal 5 set setiap hari
Melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal implementasi MPKP
termasuk sikap dan tingkah laku propesional
Bila PP cuti, tugas dan tanggung jawab PP dapat didelegasikan kepada PA
senior (wakil PP pemula yang ditunjuk) tetapi tetap dibawah pengawasan kepala
ruang rawat dan CCM
Merencanakan dan memfasilitasi ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan
diruangan
Memntau dan mengevaluasi penampilan kerja semua tenaga yang ada
diruangan, membuat DP3, dan usulan kenaikan pangkat
Melakukan penemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan untuk
membahas kebutuhan diruangan
Merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu asuhan keperawatan (bersama
dengan CCM)
Membuat peta resiko diruang rawat
2) Perawat primer

Adalah perawat lulusan D3 keperawatan dengan pengalaman minimal 4 tahun dan


pada MPKP tingkat I adalah perawat SKp/Ners dengan pengalaman minimal 1
tahun. PP dapat bertugas pada pagi, sore, atau malam hari, namun sebaiknya PP
hanya bertugas pada pagi atau sore saja karena bila bertugas pada malam hari, PP
akan libur beberapa hari sehingga sulit menilai perkembangan klien. Bila PP
bertugas pada sore hari, PP harus didampingi oleh inimal 1 orang PA pada timnya.
Hal ini bertujuan agar pada sore hari PP mempunyai waktu untuk menilai
perkembangan semua kliennya. Disamping itu bila PP bertugas sore hari, ia akan
menjadi penanggung jawab pada shift tersebut.
Tugas dan tanggung jawab PP :
Melakukan kontrak dengan klien/keluarga pada awal masuk ruangan sehingga
tercipta hubungan terapeutik.
Melakukan pengkajian terhadap klien baru atau melengkapi pengkajian yang
sudah dilakukan PP pada sore, malam, atau hari libur
Menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis standar renpra
sesuai dengan hasil pengkajian
Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan kepada PA dibawah tanggung
jawabnya sesuai klien yang dirawat (preconference)
Menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap klien, setiap kali giliran
jaga (shift). Pembagian klien didasarkan pada jumlah klien, tingkat
ketergantungan klien, dan tempat tidur yang berdekatan.
Melakukan bimbingan dan evaluasi (mengecek) PA dalam melakukan tindakan
keperawatan apakah sesuai dengan SOP
Memonitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA
Membantu dan memfasilitasi terlaksanannya kegiatan PA
Melakukan tindakan keperawatan yang bersikap terapi keperawatan dan
tindakan keperawatan yang tidak dapat dilakukan oleh PA
Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium
Melakukan kegiatan serah terima klien dibawah tanggung jawabnya bersama
dengan PA
Mendampingi dokter fisip klien dibawah tanggung jawabnya. Bila PP atidak
ada, visite didampingi oleh PA sesuai timnya
Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan perkembangan
klien setiap hari
Melakukan pertemuan dengan klien/keluarga minimal setiap 2 hari untuk
membahas kondisi keperawatan klien ( bergantung pada kondisi klien)
Bila PP cuti/ libur, tugas tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah ditunjuk (
wakil PP) dengan bimbingan kepala ruang rawat atau CCM
Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien/ keluarga
Membuat perencanaan ulang
Bekerja sama dengan CCM dalam mengidentifikasi isu yang memerlukan
pembuktian sehingga tercipta evidence based practice (EBP)

3) Perawat asosiet
Perawat asosiet (PA) pada MPKP pemula atau MPKP tingkat I, sebaiknya adalah
perawat dengan kemampuan D3 keperawatan. Namun, pada beberapa kondisi bila
belum semua tenaga mendapat pendidikan tambahan, beberapa MPKP, PA adalah
perawat dengan pendidikan SPK tetapi mempunyai pengalaman yang sudah cukup
lama dirumah sakit tersebut.
Tugas dan tanggung jawab PA :
Membaca renpra yang telah ditetapkan PP
Membina hubungan terapeutik dengan klien/keluarga sebagi lanjutan kontrak
yang sudah dilakukan PP
Menerima klien baru (kontrak) dan memberikan informasi berdasarkan format
orientasi klien/ keluarga jika PP tidak ada ditempat
Melakukan tindak keperawatan pada kliennya berdasarkan renpra
Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan
mendokumentasikannya pada format yang tersedia
Mengikuti visite dokter bila PP tidak ada ditempat
Memeriksa kerapian dan kelengkapan status keperawatan
Membuat laporan penggantian dinas dan setelah selesai diparaf
Mengkomunikasikan kepada PP/ PJ dinas bila menemukan masalah yang perlu
diselesaikan
Menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostic, laboratorium, pengobatan, dan
tindakan
Berperan serta dalam memberikan pendidikan kesehatan pada klien / keluarga
yang dilakukan oleh PP
Melakukan inventarisasi fasilitas yang terkait dengan timnya
Membantu tim lain yang membutuhkan
Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi
tanggung jawabnya dan berkoordinasi dengan PP
h.

Pengembangan Standar rencana asuhan Keperawatan


Pengembangan standar renpra bertujuan untuk mengurangi waktu perawat
menulis, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak dilakukan untuk melakukan
tindakan sesuai kebutuhan klien. Adanya standar renpra menunjukan asuhan
keperawtan yang diberikan berdasarkan konsep dan teori keperwatan yang kukuh,
yang merupakan salah satu karakteristik pelayanan professional. Format standar
renpra yang digunakan biasanya terdiri dari bagian-bagian tindakan keperawatan:
diagnose keperawatan dan data penunjang, tujuan, tindakan keperawatan dan
kolom keterangan. (Sitorus, 2006).

i. Penetapan Format Dokumentasi Keperawatan

Selain standar renpra, format dokumentasi keperawatan lain yang diperlukan


adalah (Sitorus, 2006) :
1) Format pengkajian awal keperawatan
2) Format implementasi tindakan keperawatan
3) Format kardex
4) Format catatan perkembangan
5) Format daftar infuse termasuk instruksi atau pesanan dokter
6) Format laporan pergantian shif
7) Resume perawatan
j. Identifikasi Fasilitas
Fasilitas minimal yang dibutuhkan pada suatu ruang MPKP sama dengan fasilitas
yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat. Adapun fasilitas tambahan yang di
perlukan adalah (Sitorus, 2006) :
1) Badge atau kartu nama tim
Badge atau kartu nama tim merupakan kartu identitas tim yang berisi nama PP dan
PA dalam tim tersebut. Kartu ini digunakan pertama kali sat melakukan kontrak
dengan klien/keluarga.
2) Papan nama
Papan nama ini menunjukan daftar nama klien, dokter, dan PP serta digunakan
untuk menempelkan semua dokumentasi keperawatan yang terkait dengan klien.
3) Papan MPKP
Papan MPKP berisi darfat nama-nama klien, PP, PA, dan timnya serta dokter yang
merawat klien. Papan ini memudahkan seseorang yang ingin mengetahui dengan
cepat tentang klien, tim, dan dokter yang merawat klien. Papan ini biasanya
diletakkan di ners station agar mudah dilihat.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan MPKP dilakukan langkah-langkah berikut ini (Sitorus, 2006) :
a. Pelatihan tentang MPKP

Pelatihan MPKP diberikan kepada semua perawat yang terlibat di ruang yang sudah
ditentukan.
b. Memberi bimbingan kepada perawat primer (PP) dalam melakukan konferensi.
Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Konferensi
dilakukan setelah melaukan operan dinas, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas
PP. Konferensi sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi
gangguan dari luar. (Sitorus, 2006).
Panduan bagi PP dalam melakukan konferensi.
Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas
pagi/sore sesuai dengan jadwal dinas PP
Konferensi dihadiri oleh PP dan PA dalam timnya masing masing
Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi
kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam.
PP mendiskusikan dan mengarahkan PA tentang masalah yang terkait dengan
keperawatan klien.
Mengingatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan
Mengingatkan kembali tentang kedisiplinan, ketelitian, kejujuran, dan kemajuan
masing masing PA
Membantu PA menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikannya
c. Memberi bimbingan kepada perawat primer (PP) dalam melakukan ronde dengan
porawat asosiet (PA).
Ronde keperawatan bersama dengan PA sebaiknya juga dilakukan setiap hari. Ronde
ini penting selain untuk supervisi kegiatan PA, juga sarana bagi PP untuk memperoleh
tambahan data tentang kondisi klien. (Sitorus, 2006).
Panduang bagi PP dalam melakukan ronde dengan PA
PP menentukan 2-3 klien yang akan dironde
Sebaiknya dipilih klien yang membutuhkan perawat khusus dengan masalah yang
relative lebih kompleks
Ronde dilakukan dilakukan setiap hari, terutama pada waktu ketika intensitas
kegiatan diruang rawat sudah relative tenang
Waktu yang dilakukan untuk melakukan keseluruhan ronde kurang lebih 1 jam
PAnmempresentasikan kondisi klien dan tindakan yang telah dilakukan
PP memberikan masukan kepada PA dan memberikan pujian pada hal hal
tertentu
Masalah yang sensitive sebaiknya tidak didiskusikan dihadapan klien

d. Memberi bimbingan kepada PP dalam memanfaatkan standar renpra.


Standar renpra merupakan acuan bagi tim dalam melaksanakan asuhan keperawatan.
Semua masalah dan tindakan yang direncenakan mengacu pada standar tersebut.
(Sitorus, 2006).
Panduan bagi PP dalam memanfaatkan standar renpra
Renpra ditetapkan oleh PP paling lambat 24 jam setelah klien masuk, berdasarkan
standar renpra yang sudah dikembangkan
Renpra ditetapkan dipapan yang telah disediakan disisi tempat tidur klien
Rencana tindakan yang terdapat pada renpra merupakan pedoman bagi PP dalam
melakukan tindakan keperawatan
Pada 24 jam pertama, PP menetapkan minimal 2 diagnosis keperawatan utama
(prioritas) yang dievakuasi setiap hari dan ditetapkan diagnosis lainnya sesuai
dengan kondisi klien
Renpra dievaluasi setiap hari dengan menggunakan metode SOAP
e. Memberi bimbingan kepada PP dalam membuat kontrak/orientasi dengan
klien/keluarga.
Kontrak antara perawat dan klien/keuarga merupakan kesepakatan antara perawat dan
klien/keluarganya dalam pemberian asuhan keperawatan. Kontrak ini diperlukan agar
hubungan saling percaya antara perawat dan klien dapat terbina. Kontrak diawali
dengan pemberian orientasibagi klien dan keluarganya. (Sitorus, 2006).
Panduan bagi PP dalam melakukan kontrak/ orientasi dengan klien/keluarga
Orientasi dilakukan saat pertama kali klien datang (24 jam pertama) kondisi klien
sudah tenang
Orientasi dilakukan oleh PP. bila PP tidak ada, PA dapat memberikan orientasi untuk
klien dan keluarga.
Orientasi diberikan kepada klien dan didampingi oleh anggota keluarga yang
dilakukan dikamar klien dengan menggunakan format orientasi. Selanjutnya klien
diinformasikan untuk membaca lebih lengkap format orientasi yang ditempelkan
dikamar klien
Setelah orientasi,berikan daftar nama tim atau bedge kepada klien dan keluarga
kemudian gantungkan daftar nama tersebut pada laci klien
Orientasi ini diulang kembali minimal setiap 2 hari oleh PP atau yang mewakili,
terutama tentang daftar nama tim yang sudah diberikan, sekaligus
menginformasikan perkembangan kondisi keperawatan klien dan
mengidentifikasi kebutuhan klien

Pada saat pergantian dinas (dikamar klien), ingatkan klien nama perawat yang
bertugas pada saat itu. Bila perlu anjurkan klien atau keluarga melihat pada daftar
nama tim
f. Memberi bimbingan kepada PP dalam melakukan presentasi kasus dalam tim.
PP secara teratur diharapkan dapat mempresentasikan kasus-kasus klien yang
dirawatnya. Melalui kasus ini PP dan PA dapat lebih mempelajari kasus yang
ditanganinya secara mendalam. (Sitorus, 2006).
Panduan dalam melakukan presentasi kasus.
Presentasi kasus dilakukan minimal 1 kali /bulan
PP menentukan satu kasus yang akan dipresentasikan
Kasus yang dipilih adalah kasus yang istimewa dan menarik sehingga melalui
presentasi ini banyak hal yang dipelajari bagi PP maupun PA
CCM member bimbingan kepada PP dengan cara memberikan kritip dan umpan
balik pada kasus dan presentasi yang dilakukan PP dan merupakan waktu yang
tepat bagi CCM untuk menekankan hasil hasil penelitian (minimal pada MPKP
tingkat I)
Sistematika dalam melakukan presentasi kasus dapat dilihat sebagai berikut :
Nama kasus
Tujuan presentasi kasus
Patofisiologi
Rencana asuhan keperawatan
Implementasi tindakan keperawatan
Masalah yang timbul selama memberikan asukan keperawatan
Presentasi mengundang PA dalam tim
Lama presentasi dan diskusi lebih kurang 1 jam (30 menit presentasi, dan 30 menit
diskusi)
g. Memberi bimbingan kepada Critical Care Manager (CCM) dalam membimbing PP
dan PA.
Bimbingan CCM terhadap PP dan PA dalam melakukan implementasi MPKP
dilakukan melalui supervisi secara berkala. Agar terdapat kesinambungan bimbingan,
diperlukan buku komunikasi CCM. Buku ini menjadi sangat diperlukan karena CCM
terdiri dari beberapa orang yaitu anggota tim/panitia yang diatur gilirannya untuk
memberikan bimbingan kepada PP dan PA. Bila sudah ada CCM tertentu untuk setiap
ruangan, buku komunikasi CCM tidak diperlukan lagi. (Sitorus, 2006).
h. Memberi bimbingan kepada tim panitia tentang dokumentasi keperawatan.

Dokumentasi keperawatan menjadi bukti tanggung jawab perawat kepada klien. Oleh
karena itu, pengisisan dokumentasi secara tepat menjadi penting.
Panduan bagi tim / panitia MPKP dalam membimbing PP dan PA tentang
pengisian dokumentasi keperawatan meliputi :
1) Format pengkajian keperawatan
Format pengkajian diisi lengkap dalam 24 jam pertama klien masuk (untuk klien
baru)
Format pengkajian diisi oleh PP dengan lengkap. Bila PP tidak ada, format
pengkajian diisi oleh PA diantaranya:
Identitas klien
Identitas keluarga
Tanda vital saat klien masuk
Keluhan utama saat klien masuk
Isi dengan tanda () pada kotak yang dimaksud
Selanjutnya isis titik-titik yang kosong dengan penjelasan sesuai yang didapat dari
klien/keluarga
Format ini hanya ditanda tangani oleh PP.
2) Format standar renpra
Pada saat menerima klien baru, PP harus segera menganalisis standar renpra
berdasarkan diagnosis medis pada saat klien masuk.
Standar renpra berdasarkan diagnosis medis, dianalisis dan di tetepkan oleh PP sesuai
hasil pengkajian. Sertakan tanggal terjadinya pada kolom tanggal dibagian
paling
kiri format
Bila diagnosis medis belum jelas/belum terdiagnosis,gunakan standar renpra
berdasarkan system terkait yang mengalami gangguan atau umum dan sesuai
dengan keluhan utama klien
Bila PP tidak ada,PA menetapkan minimal satu diagnosis keperawatan utama
berdasarkan hasil pengkajian. Diskusikan dengan penanggung jawab saat itu
Diagnosis keperawatan yang ada pada klien minimal dua diagnosis dalam 24 jam
pertama. Selanjutnya diagnosis ditambah sesuai dengan perkembangan klien.
Apabila klien sudah dirawat satu minggu, jumlah diagnosis keperawatan minimal
empat diagnosisi termasuk diagnosis psikososial dan kurang pengetahuan (bila
ada)
PP memberikan tanda (
) pada kotak etiologi yang sesuai dengan klien,
melengkapi data subjektif dan objektif, kemudian memberikan tanda ( ) pada
kotak yang tersedia didaftar tidakan keperawatan sesuai dengan kondisi klien
Bila diagnosis keperawatan teratasi, tulis tanggal teratasi pada kolom keterangan
Relevansi renpra dengan kondisi klien dievaluasi setiap hari oleh PP dan ini harus
terlihat pada catatan perkembangan

3) Format implementasi tindakan keperawatan


Format implementasi ini diisi PP dan PA setelah melaksanakan tindakan
berdasarkan renpra
Kolom observasi diisi berdasarkan jam dan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
PA
Kolom pemasukan dan pengeluaran (I/O) di tulis jenis dan jumlah cairan yang masuk
dan keluar
Cairan parenteral:di tuliskan jenis dan sisa cairan setiap pergantian dinas
Kolom tindakan keperawatan (selain observasi) diisi dengan paraf perawat yang
melaksanakan tindakan tersebut, bila tidak dilakukan jangan diparaf
Tindakan keperawatan selain observasi dilakukan minimal dua kali tiap dinas atau
sesuai indikasi
Untuk tindakan yang tidak rutin diisi pada kolom jenis tindakan yang tersedia
(misalnya: pasang/ganti selang NGT, pasang/ganti botol WSD,klisma,menimbang
berat badan, pendidikan kesehatan,dll)
Kolom hal-hal istimewa diisi dengan kejadian tidak rutin, misalnya pemberian obat
khusus, hasil laboratorium
4) KARDEX (daftar obat, tekanan darah, nadi, suhu, dan pemeriksaan laboratorium)
Kardeks untuk setiap rumah sakit sangat bervariasi sehingga dapat dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan masing-masing rumah sakit
Identitas klien diisi oleh perawat
Grafik tekanan darah,suhu, nadi, diisi sesuai hasil observasi klien (pada format
implementasi tindakan keperawatan), garis dibuat setelah selasai mengukur
Kolom laboratorium diisi sesuai dengan jenis pemeriksaan laboratorium pada hari
tersebut
Pada kolom obat: untuk obat-obat baru diisi oleh dokter dan untuk selanjutnya dapat
diisi oleh perawat
Untuk obat-obat oral dituliskan mulai dari baris atas dan untuk obat injeksi
dimulai dari baris bawah
Bukti telah memberikan obat dilakukan dengan menuliskan jam pemberian dan
paraf pada kolom yang tersedia
Jika obat tidak diberikan, cukup memberikan tanda titik(.) pada kolom yang
tersedia, kemudian keterangan tentang obat yang tidak diberikan dituliskan pada
format implementasi tindakan keperawatan pada kolom hal-hal istimewa
5) Format catatan perkembangan
Catatan perkembangan diisi oleh PP pada setiap akhir dinas
Catatan perkembangan dibuat untuk setiap diagnosis keperawatan yang ada pada
klien
Catatan perkembangan diisi dengan metode SOAP

Subjektif (S):respons verbal klien setelah dilakukan tidakan keperawatan


Objektif (O):data yang ditemukan perawat pada klien merupakan hasil
observasi setelah tindakan keperawatan
Analisis (A):menurut analisis PP masalah yang ada teratasi,tidak teratasi, atas
teratasi sebagian
Perencanaan(P):berdasarkan hasil analisis apa yang akan dilakukan
selanjutnya, terutama hal-hal yang sangat penting, selain yang ditulis pada
renpra
Tuliskan tanggal evaluasi dan sertakan paraf dan nama jelas PP pada setiap SOAP
yang telah dibuat
Bila masalah sudah teratasi tulis tanggal teratasi pada standar renpra di kolom
keteranagan
6) Format daftar infuse
Format disesuaikan dengan masing-masing rumah sakit
Format diisi oleh dokter dan harus dilengkapi dengan tanggal dan jam saat
penulisan rencana tindakan dokter
Nama dan jenis cairan infuse yang diberikan diisi oleh perawat dan dituliskan nama
serta paraf perawat yang memasang/mengganti cairan infuse tersebut
7) Format laporan pergantian dinas
Laporan pergantian dinas diisi oleh PA diakhir dinasnya dan diperiksa kembali oleh
PP
Pada kolom laporan pergantian dinas diisi:
Keadaan umum klien(misalnya, keadaan umum: tenang,helisah,lemah,payah)
Hal-hal penting yang telah dilakukan pada dinas tersebut dan memerlukan
pemantauan atau perhatian pada dinas berikutnya
Pesan untuk dinas berikutnya(missal, hasil trombosit terakhir belum
ada,ingatkan klien untuk latihan napas dalam, dll)
Laporan pergantian dinas ditanda tangani oleh PA
8) Resume keperawatan
Resume perawat, diisi oleh kepala ruang rawat pada MPKP pemula, dan diisi oleh
PP pada MPKP tingkat I
Kolom nasihat diisi pada waktu klien akan pulang dan mengidentifikasi secara
spesifik hal-hal yang perlu dilakukan klien dirumah
3. Tahap Evaluasi
Evaluasi proses dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen evsluasi MPKP oleh
CCM. Evaluasi prses dilakukan oleh CCM dua kali dalam seminggu. Evaluasi ini
bertujuan untuk mengidentifikasi secara dini maslah-masalah yang ditemukan dan

dapat segera diberi umpan balik atau bimbingan. Evluasi hasil (outcome) dapat
dilakukan dengan (Sitorus, 2006) :
a. Memberika instrumen evaluasi kepuasan klien/keluarga untuk setiap klien
pulang.
b. Mengevaluasi kepatuhan perawat terhadap standar yang dinilai berdasarkan
dokumentasi.
c. Penilaian infeksi nosokomial (biasanya ditetapkan per ruang rawat).
d. Penilaian rata-rata lama hari rawat.
Untuk mengetahui keberhasilan implementasi MPKP, bandingkan data awal dengan
data akhir. Sebelum mengimplementasikan MPKP, sebaiknya ditetapkan terlebih dulu
data awal (lihat tahap persiapan)
Evaluasi proses dan evaluasi hasil ini, merupakan evaluasi tentang implementasi
system MPKP. Bentuk evaluasi substansi keperawatan dikembangkan sesuai dengan
substansi keilmuan keperawatan.
4. Tahap Lanjut
MPKP merupakan penataan struktur dan proses (sistem) pemberian asuhan
keperawatan. Agar implementasi MPKP memberikan dampak yang lebih optimal,
perlu disertai dengan implementasi substansi keilmuan keperawatan. Pada ruang
MPKP diuji coba ilmu dan teknologi keperawatan karena sudah ada sistem yang tepat
untuk menerapkannya. (Sitorus, 2006).
a. MPKP pemula ditingkatkan menjadi MPKP tingkat I. Pada tingkat ini, PP pemula
diberi kesempatan meningkatkan pendidikan sehingga mempunyai kemampuan
sebagai SKp/Ners. Setelah mendapatkan pendidikan tambahan tersebut berperan
sebagai PP (bukan PP pemula). (Sitorus, 2006).
b. MPKP tingkat I ditingkatkan menjadi MPKP tingkat II. Pada MPKP tingkat I, PP
adalah SKp/Ners. Agar PP dapat memberikan asuhan keperawatan berdasarkan ilmu
dan teknologi mutakhir, diperlukan kemampuan seorang Ners sepeialis yang akan
berperan sebagai CCM. Oleh karena itu, kemampuan perawat SKp/ Ners ditingkatkan
menjadi ners spesialis. (Sitorus, 2006).
c. MPKP tingkat II ditingkatkan menjadi MPKP tingkat III. Pada tingkat ini perawat
denga kemampuan sebagai ners spesialis ditingkatkan menjadi doktor keperawatan.
Perawat diharapkan lebih banyak melakukan penelitian keperawatan eksperimen yang
dapat meningkatkan asuhan keperwatan sekaligus mengembangkan ilmu keperawatan.
(Sitorus, 2006).
2.10 Tingkatan MPKP Menurut Sudarsono (2000), berdasarkan pengalaman

mengembangkan model PKP dan masukan dari berbagai pihak perlu dipikirkan untuk
mengembangkan suatu model PKP yang disebut Model Praktek Keperawatan
Profesional Pemula (PKPP). Ada beberapa jenis model PKP yaitu:
a. Model Praktek Keperawatan Profesional III Melalui pengembangan model PKP III
dapat berikan asuhan keperawatan profesional tingkat III. Pada ketenagaan terdapat
tenaga perawat dengan kemampuan doktor dalam keperawatan klinik yang berfungsi
untuk melakukan riset dan membimbing para perawat melakukan riset sera
memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan.
b. Model Praktek Keperawatan Profesional II Pada model ini akan mampu
memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat II. Pada ketenagaan terdapat
tenaga perawat dengan kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik untuk cabang
ilmu tertentu. Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi tentang asuhan
keperawatan kepada perawat primer pada area spesialisnya. Disamping itu melakukan
riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan.
Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer pada area
spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset dalam
memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang
untuk 10 perawat primer (1:10).
c. Model Praktek Keperawatan Profesional I. Pada model ini perawat mampu
memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat I dan untuk itu diperlukan
penataan 3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian
asuhan keperawatan yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode
keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer. d. Model Praktek
Keperawatan Profesional Pemula Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
(MPKPP) merupakan tahap awal untuk menuju model PKP. Model ini mampu
memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat pemula. Pada model ini terdapat
3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan
keperawatan dan dokumentasi asuhan keperawatan.
2.11 Pilar-pilar MPKP
a) Pilar 1: Pendekatan manajemen keperawatan. Terdiri dari :
(1) Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi
( perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan rencana jangka pendek, harian, bulanan
dan tahunan).
(2) Pengorganisasian dengan menyusun struktur organisasi, jadwal dinas, dan daftar
alokasi pasien.

(3) Pengarahan
Terdapat kegiatan delegasi, supervisi, menciptakan iklim motivasi, manajemen waktu,
komunikasi efektif yang mencakup pre dan post conference, dan manajemen konflik.
b) Pilar 2: Sistem penghargaan
Manajemen sumber daya manusia diruang MPKP berfokus pada proses rekruitmen,
seleksi kerja orientasi, penilaian kerja, staf perawat. Proses ini selalu dilakukan
sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru.
c) Pilar 3: Hubungan profesional
Hubungan profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dalam
penerimaan pelayanan keperawatan (klien dan keluarga). Pada pelaksanaannya
hubungan profesional secara internal artinya
hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya perawat
dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan lain, sedangkan hubungan profesional
secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan.
d) Pilar 4: Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan
dengan menerapkan proses keperawatan.
2.12 Renpra
Rencana asuhan keperawatan ( renpra ) selain berfungsi sebagai :
1. Pedoman bagi PP-PA
2. Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu
pengetahuan
Kerjasama profesional PP-PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk perencanaan
asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP pada PA.
Berdasarkan renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan sebagian tindakan
keperawatan yang telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk
tim PP-PA dapat bekerjasama secara efektif jika PP tidak membuat perencanaan
asuhan keperawatan ( renpra ). Hal ini menunjukan bahwa renpra sesungguhnya dibuat
bukan sekedar memenuhi ketentuan ( biasanya ketentuan dalam menentukan akreditasi
rumah sakit ).
2.13 Fungsi Perawat Melakukan Konferen

Konferensi adalah pertemuan yang direncanakan antara PP dan PA untuk membahas


kondisi pasien dan rencana asuhan yang dilakukan setiap hari. Konferensi biasanya
merupakan kelanjutan dari serah terima shift. Hal-hal yang ingin dibicarakan lebih
rinci dan sensitif dibicarakan didekat pasien dapat dibahas lebih jauh didalam
konferensi. Konferensi akan efektif jika PP telah membuat renpra dan membuat
rencana apa yang akan dibicarakan dalam konferensi. Konferensi ini lebih bersifat 2
arah dalam diskusi antara PPPA tentang rencana asuhan keperawatan dari dan
klarifikasi pada PA dan hal lain yang terkait. Ketika PP melakukan konferensi,
biasanya melalui tahap pre konferen, konferen, dan post konferen. Pada saat konferen
PP akan menjelaskan mengenai renpra yang telah dibuat, dan untuk menyatukan
pendapat antara perawat PP dan PA
2.14 Scenario
Tokoh drama :
1. Arifatul Fitriana sebagai keluarga pasien
2. Ariyo Guntoro sebagai pasien
3. Asim Maulana sebagai perawat asosiet 1
4. Asrofikah sebagai perawat asosiet 2
5. Ayu Setya Asih sebagai narator
6. Ayuningtyas Budi Rahayu sebagai perawat primer / ketua tim
7. Azizah Rahmah M. sebagai kepala ruang
8. Dwi Kurniawati sebagai perawat spesialis
Tema
Sub Tema

: Ronde Keperawatan
: Ronde Keperawatan di Ruang Penyakit Dalam

Tempat yang digunakan untuk pelaksanaan drama adalah ruang laboraturium


Media yang digunakan untuk menampilkan drama adalah benda benda sederhana,
meliputi :
a. Meja
b. Kursi
c. Alat alat pendukung seperti buku, pena, dan peralatan pendukung lainnya.

Di ruang penyakit dalam sebuah rumah sakit yang sudah menerapkan model praktik
keperawatan professional, akan dilakukan ronde keperawatan. Tahap pre ronde
keperawatan..
Sebelum ketua tim memberikan tugas kepada perawat asosiet, ketua tim menemui
pasien terlebih dahulu untuk memberikan informed concent.
Di ruang pasien..
Ayu : Assalamualaikum. Pak Ariyo, bagaimana keadaannya?
Ariyo : Dada saya masih sakit Sus, saya tidak bisa tidur semalaman.
Ayu : Oh, begitu ya.
Arifatul : Ariyo juga tidak mau makan Sus.
Ayu : Oh, kenapa tidak mau makan Pak? Kan biar cepat sembuh. Begini Pak Ariyo, Bu
Arifatul, saya mau meminta persetujuan Pak Ariyo dan bu Arifatul.
Arifatul : Persetujuan apa Sus?
Ayu : Pak Ariyo akan saya jadikan pasien untuk ronde keperawatan. Lha ronde
keperawatan ini adalah suatu kegiatan yang nantinya pasien dan keluarga akan diajak
diskusi untuk menyelesakan masalah yang dihadapi pasien.
Ariyo : Oh, gitu.. lha terus saya harus bagaimana Sus?
Ayu : Bapak Ariyo ya tidak harus bagaimana bagaimana, Pak Ariyo tinggal
menyetujui saja. Dengan ronde keperawatan ini, nanti masalah pak Ariyo Insyaalla
akan bisa diatasi.
Arifatul : Benar begitu Sus?
Ayu : Insyaallah Bu. Bagaimana, bersedia ya Pak?
Ariyo : Oh, kalau begitu saya bersedia Sus.
Ayu : Baik, kalau begitu silakan Pak Ariyo dan Bu Arifatul tanda tangan disini.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pasien, kemudian ketua tim menuju ke ruang
perawat untuk memberikan tugas kepada perawat asosiet.
Di ruang perawat.

Ayu : Assalamualaikum perawat Asim dan perawat Fika. Seperti yang sudah
direncanakan, hari ini kita akan melakukan tahap pra ronde keperawatan, dimana
pasien yang akan kita pilih adalah bapak Aryo.
Asim : Memangnya bapak Ariyo menderita penyakit apa Bu?
Ayu : Bapak Ariyo itu memiliki penyakit gagal jantung, tetapi setahu saya beliau juga
mengalami gangguan harga diri rendah, soalnya sudah berumur hampir 40 tahun tetapi
belum menikah.
Fika : Wah, kasihan sekali ya.
Ayu : Maka dari itu, nanti tolong ya perawat Asim dan perawat Fika untuk mengkaji
lebih lanjut masalah yang ada pada bapak Ariyo.
Asim dan Fika : Baik Bu.
Kemudian perawat asosiet melakukan pengkajian kepada pasien.
Di ruang pasien
Asim : Selamat pagi Pak Ariyo? Bagaimana kabarnya?
Ariyo : Wah, tidak ada perubahan Pak. Dada saya masih sakit, saya tidak bisa tidur
semalam, sama mau makan rasanya tidak enak.
Fika : Oh, begitu ya Pak. Baik, kami disini, nama saya Fika dan ini teman saya Asim,
akan melakukan pengkajian pada bapak, untuk mengetahui masalah apa yang ada
pada bapak.
Arifatul : Oh, iya, silakan Suster.
Perawat asosiet pun melakukan pengkajian kepada Pak Ariyo. Ternyata didapatkan
hasil bahwa Pak Ariyo mengalami nyeri pada dada, gangguan sulit tidur, susah makan
dan mengalami gangguan konsep diri, yaitu gangguan citra tubuh dan harga diri
rendah.
Setelah mendapatkan data yang dirasa cukup, kemudian perawat asosiet melaporkan
hasil pengkajiannya kepada ketua tim.
Di ruang perawat
Asim : Bu, pengkajian sudah kami lakukan.
Ayu : Oh, kemuian bagaimana hasilnya?

Fika : Ternyata masalah yang dihadapi oleh pasien banyak sekali Bu. (sambil
menggeleng gelengkan kepalanya dan membuka hasil pengkajian)
Asim : Pasien mengalami nyeri dada, gangguan tidur, susah makan, dan gangguan
konsep diri Bu.
Ayu : Baiklah kalau begitu, mari kita lakukan validasi data, langsung ke pasiennya saja
ya..
Fika : Baik Bu.
Kepala tim dan perawat asosiet melakukan validasi data. Setelah selesai melakukan
validasi data, ketua tim melakukan kontrak waktu esok hari untuk ronde keperawatan
Di ruang pasien
Ayu : Baik, terima kasih atas kerja samanya. Pak Ariyo dan Bu Arifatul memang orang
baik. Kita ketemu laagi besok yan Pak, Bu, untuk melakukan ronde keperawatan.
Ariyo : Oh, iya. Terima kasih Sus..
Ayu : Iya, sama sama Pak. Kami permisi dulu ya, Wassalamualaikum..
Arifatul : Waalaikumsalam.
Keesokan harinya, ronde keperawatan pun dimulai.. ronde tersebut dihadiri oleh ketua
tim, perawat asosiet, kepala ruang, dan perawat specialis.
Di ruang perawat..
Azizah ; Assalamualaikum, selamat pagi Bapak dan Ibu. Di pagi hari ini, kita akan
melaksanakan ronde keperawatan, sebagaimana yang sudah dijadwalkan
sebelumnya. Langsung saja, silakan Bu Ayu membacakan data pasiennya..
Ayu : Baik, terima kasih.. Assalamualaikum.. pasien dalam ronde keperawatan kita
kali ini adalah Pak Ariyo, dengan diagnosa medis gagal jantung. Setelah dilakukan
pengkajian kemarin oleh perawat Fika dan perawat Asim, didapatkan data bahwa
pasien ini mengalami nyeri pada dada, susah tidur, tidak mau makan, dan mengalami
gangguan konsep diri.
Dwi : Gangguan konsep diri yang bagaimana Bu?
Ayu : Jadi dia mengalami gangguan citra tubuh karena dia merasa tubuhnya itu tidak
berguna, pasien sakit sakitan sudah sejak lama, jadi dia tidak bisa bekerja. Dia juga
sekarang umurnya hampir 40 tahun tetapi belum menikah, jadi sekarang dia merasa
minder. Mengalami harga diri rendah juga.

Azizah : Iya, terima kasih kepada bu Ayu, sebelum kita melakukan validasi data, ada
yang ingin ditanyakan?
Asim : Tidak Bu, cukup.
Azizah : OK, langsung saja kita ke pasiennya ya..
Tim ronde keperawatan menuju ke ruang pasien.
Di ruang pasien
Azizah : Assalamualaikum.. Selamat pagi pak Ariyo? Bagaimana? Bisa tidur tadi
malam?
Ariyo : Wah, masih tidak bisa tidur Bu. Dada saya ini lho sakit banget rasanya.
Azizah : Oh, begitu ya..
Setelah selesai melakukan validasi data, tim ronde keperawatan kembali ke ruang
perawat.
Di ruang perawat
Azizah : Baik, tadi kita sudah sama sama mengetahui keadaan pasien tersebut,
bagaimana sebaiknya? Ada yang punya usul?
Dwi : Kita harus melakukan rontgent dulu pada pasien Bu.
Ayu : Iya, untuk mengetahui keadaan jantung. Apa perlu melakukan cangkok jantung
Bu
Dwi : Saya belum bisa memastikan, kita lihat dulu saja hasilnya, baru saya bisa
menentukan.
Azizah : Untuk masalah gangguan konsep dirinya, kita diskusi dengan keluarganya
saja ya Bu Dwi.
Dwi : Iya Bu, Saya rasa itu perlu.
Pemecahan masalah pun telah ditemukan. Akhirnya keluarga klien diajak untuk
berdiskusi mengenai masalah gangguan konsep diri klien. Keluarga diberi pengarahan
bagaimana cara meningkatkan harga diri klien.
Setelah dilakukan diskusi dengan klien, tugas didelegasikan kepada perawat asosiet.
Ayu : Baik, perawat Asim dan perawat Fika, Anda sudah tahu apa yang akan Anda
lakukan?

Fika : Sudah Bu.


Asim : Sudah.
Ayu : OK, bagus.. Kalau begitu silakan nanti Anda lakukan tugas yang harus Anda
lakukan
Asim : Siap Bu.
Azizah : OK, ronde keperawatan kita kali ini sudah selesai. Terima kasih atas kerja
samanya, semuanya bagus. Semoga masalah pasien kita dapat segera teratasi.
Wassalamualaikum.
Semua : Waalaikumsalam..
Akhirnya ronde keperawatan telah selesai dilakukan, perawat asosiet mulai
menjalankan tugasnya..
Sekian..
Terima kasih (^_^)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses
dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur
pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang
pemberian asuhan tersebut.
Kelebihan MPKP salah satunya ialah Memungkinkan pelayanan keperawatan yang
menyeluruh dan Kekurangan MPKP antara lain, Komunikasi antar anggota tim
terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit
melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
Struktur MPKP terdiri dari,
1.
Kepala Ruangan yang Bertugas untuk Mengawasi dan mengendalikan kegiatan
pelayanan Keperawatan di ruang rawat yang berada di wilayah tanggung
jawabnya.
2.
Perawat Primer bertugas tugas untuk Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan
pasien secara komprehensif.
3.
Perawata Asosiet Bertugas untuk Memberikan perawatan secara langsung
berdasarkan proses keperawatan dengan sentuhan kasih sayang.

3.2 Saran
Sebagai seorang perawat nantinya, kita diharapkan mampu memahami konsep MPKP
sehingga nantinya kita dapat menerapkan konsep tersebut ketika kita sudah bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Sitorus, R. (2006). Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit:Penataan
Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang
Rawat.Jakarta:EGC.
Sitorus, R. (2006). Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit:Penataan
Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang
Rawat:Implementasi.Jakarta:EGC.
Swanburg, R. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Perawatan
Klinis.Jakarta:EGC.
Sitorus, R. (2005). Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit. EGC :
Jakarta
http://puskesmassidamulih.blogspot.com/2010/09/ronde-keperawatan.html
http://staff.undip.ac.id/psikfk/muhammadrofii/2011/08/09/ronde-keperawatan/
http://sukardjoskmmkes.blogspot.com/2010/11/ronde-keperawatan.html
Clifford, J. C. & Horvath, K. J. (1990). Advancing Professional Nursing Practice:
Innovations at bastons beth Israel Hospital New York: Springer Publishing Company.

Sitorus, R. (2000). Mutu Asuhan Keperawatan di Indonesia Dinilai Berdasarkan


Kepuasan Klien dan Dokumentasi Penerapan Proses Keperawatan. Tidak
dipublikasikan.
Sitorus, R. (2002). Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional dan
Dampaknya Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit. Disertasi.
Sulaiman, M. (2000). Pola Layanan Keperawatan dalam Menghadapi Desentralisasi
Sistem Layanan Kesehatan di Indonesia. Disampaikan pada Seminar Keperawatan
Kongres Nasional IXITKKI, di Jakarta.