Anda di halaman 1dari 7

SKIZOFRENIA

HEBEFRENIK
Elfath Rahmaweny
61111022

BAB I : PENDAHULUAN

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik,


pada orang yang mengalaminya tidak dapat menilai
realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk
(Kaplan dan Sadock, 1997).

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Skizofrenia Hebefrenik
Tipe terdisorganisasi yang dulunya disebut skizofrenia hebefrenik
ditandai oleh regresi yang nyata ke prilaku primitif, terdisinhibisi,
dan tidak teratur dan oleh tidak adanya gejala yang memenuhi
kriteria untuk tipe ketatonik. Onset biasanya awal, sebelum usia 25
tahun. Gangguan pikiran mereka adalah menonjol, dan kontaknya
dengan kenyataan adalah buruk. Penampilan pribadinya dan
prilaku sosialnya adalah rusak. Respon emosionalnya adalah tidak
sesuai, dan mereka sering kali meledak tertawanya tanpa alasan.
Seringis dan seringai wajah adalah sering ditemukan pada tipe
pasien ini, perilaku tersebut paling baik digambarkan sebagai
kekanak-kanakan atau bodoh (Sadock BJ, 2003).

Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya


diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya,
untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
memang benar bertahan :
Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat
diramalkan, serta mannerisme, ada kecendrungan untuk
selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan
hampa tujuan dan hampa perasaan.
Afek
pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar
(inapropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau
perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (selfabsorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty
manner ), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme,
mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang
(reiterated phrases).
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu (rambling) serta inkoheren.

II.2 Sindrom Neurolitik Maligna (SNM)


Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) merupakan kondisi yang
mengancam kehidupan akibat reaksi idiosinkrasi terhadap obat anti
psikosis ( khususnya pada long acting resiko ini lebih besar). Semua
pasien yang yang diberikan obat anti psikosis mempunyai risiko untuk
terjadinya SNM tetapi dengan kondisi dehidrasi, kelelahan atau
malnutrisi, resiko ini akan menjadi lebih tinggi (Rusdi Maslim, 2001).
Gambaran klinis sindrom neuroleptik malignan adalah :
Hipertermia
Rigiditas otot yang sangat berat (ekstrapiramidal sangat berat)
Sistem otonom yang tidak stabil (hipertermia, takikardia, tekanan darah
meningkat, takipneu, dan diaforesis)
Penurunan kesadaran
Peningkatan kreatin fosfokinase
Peningkatan transaminase hati, leukositosis, mioglobinemia, dan
mioglobinuria
Dapat terjadi kegagalan ginjal akut

Bila ada dugaan sindrom neuroleptik malignan, anti psikotik


yang sedang digunakan harus dihentikan. Pasien diberikan
terapi suportif dan simptomatis yaitu diberikan anti parkinson
untuk gejala EPS, mengoreksi keseimbangan elektrolit,
mengobati demamnya dan mengoreksi gejala kardiovaskular.
Pengobatan :
Hentikan segera obat anti psikosis
Perawatan suportif
Obat dopamine agonist (bromokriptin 7,5-60 mg/h 3dd, idopa 2x 100 mg/h, atau amantadin 200 mg/h) (Dadang
Hawari, 2001).
Pada pasien usia lanjut atau dengan Sindrom Psikosis
Organik obat anti psikosis diberikan dalam dosis kecil dan
minimal efek samping otonomik (hipotensi ortostatik) dan
sedasinya (golongan high potency neuroleptics)
Dantrolene (dantrium) efektif untuk mengobati sindrom
neuroleptik maligna yang berat.

THANK YOU