Anda di halaman 1dari 18

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFARAT
APRIL 2016

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

GIZI BURUK

Disusun Oleh :
Octavina Sri Indra Handayani, S.Ked
1008012012
Pembimbing :
dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A
dr. Regina Maya Manubulu, Sp.A., M.Kes
DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITRAAN KLINIK
SMF/ BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF.DR.W.Z.JOHANNES
KUPANG
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Referat ini diajukan oleh :


Nama : Octavina Sri Indra Handayani
NIM : 1008012012
Telah berhasil dibacakan dan dipertahankan di hadapan para pembimbing klinik
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk mengikuti ujian komprehensif di
bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD. Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Pembimbing Klinik
1. dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A
Pembimbing Klinik I
2. dr. Regina Maya Manubulu, Sp.A., M.Kes
Pembimbing Klinik II
Ditetapkan di

: Kupang

Tanggal

: April 2016

1. .
2. .

GIZI BURUK
Octavina Sri Indra Handayani, S. Ked
SMF Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Prof.Dr.W.Z. Johannes FK Universitas Nusa Cendana
PENDAHULUAN

Kekurangan energi dan protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi
dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun
2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. 1
KEP merupakan kondisi patologis yang terjadi karena kekurangan energi dan protein
sebagai hasil dari tidak adekuat dan kualitas diet protein yang sering terjadi
berhubungan dengan infeksi.2,3 Gizi buruk didefinisikan sebagai kekurangan berat
badan yang sangat berat ( < 70 % BB/PB atau < -3 Z-score ) dan atau edema.4 Dua
keadaan klinis nutrisi yang berat yang termasuk dalam KEP adalah marasmus dan
kwashiorkor.2,5 Keduanya mempunyai bentuk klinis yang berbeda namun terkadang
seorang anak dengan marasmus dapat menampilkan klinis edema dan berkembang
menjadi marasmus-kwashiorkor.5
Nutrisi dikenal sebagai pilar dasar untuk perkembangan sosial dan ekonomi.
Nutrisi yang adekuat penting pada anak usia dini untuk memastikan pertumbuhan
yang sehat, pembentukan organ yang tepat dan fungsi, sistem kekebalan yang kuat
dan perkembangan neurologis dan kognitif. Kurangnya gizi pada anak berdampak
pada fungsi kognitif dan memberikan kontribusi kepada kemiskinan.3 Gizi kurang dan
gizi buruk merupakan penyebab kematian sekitar 55% anak di bawah usia lima tahun
di seluruh dunia.6 Masalah gizi masih terus menjadi topik yang kontroversial di
hampir setiap aspek terutama berkaitan dengan klasifikasi dan patogenesis.
Penyebabnya adalah penyajian masalah gizi yang masih bervariasi dalam kandungan
gizi dari makanan, prevalensi penyakit, variabilitas host, dan waktu terjadinya.5
Di negara berkembang, hal tersebut disebabkan oleh kekurangan gizi yang
berhubungan dengan diare, infeksi saluran pernapasan, campak, dan malaria.
Kematian akibat gizi buruk tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin
yang tidak terakses pelayanan kesehatan, kekurangan vitamin A dan zink selama
dalam kandungan, serta kematian anak pada usia 2 tahun pertama.1 Masa bayi dan
kanak-kanak adalah masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dan sangat
penting karena merupakan landasan yang menentukan kualitas generasi bangsa. Umur

6-24 bulan merupakan masa kritis anak karena pada periode tersebut tanda dan gejala
gagal tumbuh umumnya mulai terlihat. Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor
yang saling terkait antara lain konsumsi makanan yang kurang dan penyakit infeksi.
Secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh pola asuh anak, ketersediaan pangan,
daya beli rendah yang dipengaruhi oleh penghasilan, pendidikan, pemeliharaan
kesehatan, dan lingkungan. Selain itu, kondisi rumah tangga, jumlah anggota
keluarga, serta sanitasi di dalam dan di luar rumah juga berpengaruh. Sementara
faktor sosial ekonomi, budaya, dan politik merupakan faktor mendasar yang menjadi
akar permasalahan. Secara perlahan, kekurangan gizi akan berdampak pada
peningkatan angka kematian ibu, bayi dan balita, serta umur harapan hidup yang
rendah. Dampak kekurangan gizi juga terlihat pada partisipasi sekolah, pendidikan,
serta pertumbuhan ekonomi yang lambat.6
DEFINISI
Gizi buruk adalah suatu keadaan dimana gizi anak yang ditandai dengan satu
atau lebih dari tanda gejala yaitu sangat kurus, edema maupun edema minimal pada
kedua punggung kaki, berat badan (BB)/panjang badan (PB) atau BB/tinggi badan
(TB) < -3 SD dan lingkar lengan atas (LiLA) <11,5 cm untuk anak dengan usia 6-59
bulan.1,7
Anak dengan gizi buruk bisa tampak salah satu antara sangat kurus atau
gemuk karena edema maupun gabungan dari keduanya. Sangat kurus merupakan
tampilan yang diakibatkan karena kekurangan energi protein (KEP) yang ditandai
dengan BB/PB-BB/TB < -3 SD atau pada anak usia 6-59 bulan dengan LiLA < 11,5
cm. Sedangkan pada anak gizi buruk tampilan gemuk merupakan manifestasi dari
edema akibat penimbunan cairan tubuh di bawah kulit yang disebabkan oleh
kekurangan asupan protein. Penimbunan cairan dapat terjadi pada kedua punggung
kaki (edema minimal) atau di seluruh tubuh (edema + + +).1

Tabel 1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak berdasarkan Indeks 7
ETIOLOGI
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Menurut
UNICEF, gizi buruk dapat disebabkan oleh penyebab langsung, penyebab tidak
langsung dan penyebab dasar. Faktor penyebab langsung timbulnya masalah gizi
buruk adalah penyakit infeksi dan masalah ketidakseimbangan asupan makanan.
Faktor penyebab tidak langsung adalah tidak cukupnya persediaan pangan dalam
rumah tangga, pola asuh anak yang tidak memadai juga rendahnya tingkat
pendidikan, pengetahuan dan keterampilan orang tua. Pokok masalah timbulnya
kurang gizi di masyarakat adalah kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga,
kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat, pengangguran, inflasi, kurang
pangan dan kemiskinan. Sedangkan yang menjadi akarnya masalah adalah krisis
ekonomi, politik dan sosial.8

Gambar 1. Konsep penyebab Gizi Buruk 8


EPIDEMIOLOGI
Kasus gizi buruk yang ditemukan pada balita yang mendapat perawatan di
Indonesia dari berbagai provinsi pada tahun 2014 adalah sebanyak 32.521 balita.
Provinsi Nusa Tenggara Timur menduduki urutan ketiga dengan jumlah kasus
terbanyak penemuan kasus gizi buruk pada balita yang mendapat perawatan pada
tahun 2014 sebanyak 3.415 balita setelah Jawa Timur sebanyak 6.772 balita dan Jawa
Tengah 4.107 balita.9
Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan daya tahan anak sehingga anak
mudah sakit hingga berakibat pada kematian. Gizi buruk dapat terjadi pada semua

kelompok umur, tetapi yang perlu lebih diperhatikan adalah pada kelompok bayi dan
balita. Pada usia 0-2 tahun merupakan masa tumbuh kembang yang optimal (golden
period) terutama untuk pertumbuhan janin sehingga bila terjadi gangguan pada masa
ini tidak dapat dicukupi pada masa berikutnya dan akan berpengaruh negatif pada
kualitas generasi penerus.9
Provinsi NTT berdasarkan prevalensi status gizi balita berdasarkan BB
menurut TB (BB/TB) menurut provinsi Riskesdas 2013 dalam hal status gizi normal
berada pada urutan ke-21, status gizi kurus pada posisi ke-7 sedangkan status gizi
sangat kurus pada urutan ke-4.9
PATOFISIOLOGI
Malnutrisi mempengaruhi hampir setiap sistem organ. Protein dibutuhkan
untuk menyediakan asam amino untuk mensintesis protein dan senyawa lain yang
memiliki berbagai peran fungsional. Energi sangat penting dalam fungsi biokimia dan
fisiologis dalam tubuh. Selanjutnya, mikronutrien penting dalam banyak fungsi
metabolisme dalam tubuh sebagai komponen dan kofaktor dalam proses enzimatik.10
Gangguan pertumbuhan fisik, kognitif dan fungsi fisiologis lainnya serta
perubahan respon imun terjadi diawal perjalanan malnutrisi pada anak. Perubahan
respon imun berkorelasi dengan penampakkan hasil pada anak-anak dengan Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Keterlambatan hipersensitivitas, sedikitnya
limfosit T, gangguan respon limfosit, gangguan fagositosis sekunder yaitu menurun
komplemen dan sitokin serta penurunan sekresi immunoglobulin A (IgA) adalah
beberapa perubahan yang mungkin terjadi. Perubahan kekebalan tubuh ini
mempengaruhi anak-anak yang mengalami infeksi berat dan kronis, paling sering,
infeksi diare, anoreksia, penurunan penyerapan gizi, peningkatan kebutuhan
metabolik, dan kehilangan gizi langsung. Anak-anak dengan gizi kurang
menunjukkan kelambatan perkembangan otak, korteks cerebral yang lebih rendah,
penurunan jumlah neuron, insufisiensi mielinisasi dan perubahan dendrit. Perubahan

patologis lainnya dapat berupa degenerasi lemak pada hati dan jantung, atrofi usus
kecil, dan penurunan volume intravaskular yang mengarah ke hiperaldosteronisme
sekunder.10

Gambar 2. Adaptasi hormonal pada kasus malnutrisi 10


GEJALA KLINIS
Pada kasus gizi buruk, gejala klinis dapat dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu kwashiorkor dan marasmus. Namun gizi buruk tipe marasmus yang lama dapat
berkembang menjadi kwashiorkor dan menjadi bentuk gizi buruk campuran
kwashiorkor-marasmus.
Gejala utama yang dapat dilihat pada gizi buruk tipe marasmus adalah
kegagalan tumbuh. Pada kasus yang lebih berat, pertumbuhan bahkan dapat terhenti
sama sekali. Selain itu didapatkan penurunan aktifias fisik dan keterlambatan
perkembangan psikomotorik. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan ditemukan
suara tangisan anak yang monoton, lemah, dan tanpa air mata, lemak subkutan
menghilang dan lemak pada telapak kaki juga menghilang sehingga memberikan
8

kesan tapak kaki seperti orang dewasa. Kulit anak menjadi tipis dan halus serta
mudah terjadi luka. Kaki dan tangan menjadi kurus karena otot-otot lengan serta
tungkai mengalami atrofi disertai lemak subkutan yang turut menghilang. Pada
pemeriksaan protein serum, ditemukan hasil yang normal atau sedikit meningkat.
Selain itu keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan pada
wajah sehingga wajah anak menjadi lonjong, berkeriput dan tampak lebih tua (old
man face). Tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan kulitnya
longgar. Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya.
Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. Cengeng dan rewel
serta lebih sering disertai diare kronik atau konstipasi, serta penyakit kronik.11
Tanda-tanda kwashiorkor yang dapat kita temui seperti edema, kelainan
rambut, kelainan kulit, dan kelainan biokimiawi. Kelainan rambut pada kwashiorkor
adalah rambut menjadi lebih mudah dicabut tanpa reaksi sakit dari penderita, warna
rambut menjadi lebih merah dan kasar. Kelainan kulit yang khas pada penyakit ini
ialah crazy pavement dermatosis, yaitu kulit menjadi tampak bercak menyerupai
petechiae yang lambat laun menjadi hitam dan mengelupas di tengahnya, menjadikan
daerah sekitarnya kemerahan dan dikelilingi batas-batas yang masih hitam. Adanya
pembesaran hati dan juga anemia ringan dikarenakan kekurangan berbagai faktor
yang turut mengiringi kekurangan protein, seperti zat besi, asam folat, vitamin B12,
vitamin C, dan tembaga. Selain itu juga ditemukan kelainan biokimiawi seperti
albumin serum yang menurun, globulin serum yang menurun, dan kadar kolesterol
yang rendah.11

PENATALAKSANAAN
Tujuan pelayanan pada penderita gizi buruk adalah meningkatkan status gizi
dan menurunkan angka kematian anak gizi buruk.1 Anak dengan gizi buruk tanpa
komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan

yang baik, sedangkan penderita yang mengalami komplikasi seperti anoreksia,


pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi sampai
penurunan kesadaran perlu mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.1

Gambar 3. Alur pemeriksaan gizi buruk 1


Penanganan gizi buruk dilakukan sesuai dengan tanda bahaya dan tanda
penting yaitu: renjatan (syok), letargis (tidak sadar) dan muntah/diare/dehidrasi. Bila
ketiga tanda ini ada pada anak dengan gizi buruk maka dilakukan rencana I. Gizi
buruk dengan tanda letargis dan muntah/diare/dehidrasi dilakukan rencana II, bila
hanya ada tanda muntah/diare/dehidrasi maka dilakukan rencana III, bila tanda
letargis saja yang didapat pada anak dengan gizi buruk maka dilakukan rencana IV
sedangkan jika anak gizi buruk datang tanpa ketiga tanda bahaya tersebut maka
dilaksanakan rencana V.12

10

Tabel 2. Rencana penatalaksanaan gizi buruk berdasarkan tanda bahaya dan


tanda penting 12
Ada 10 langkah yang harus dilakukan pada penanganan gizi buruk. Pada fase
stabilisasi, tujuan yan diharapkan adalah untuk menangani atau mencegah
hipoglikemia, hipotermi, dan dehidrasi. Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama
merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain
mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB
pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam
berikutnya. Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360C. Pada
keadaan ini anak harus dihangatkan dengan cara mendekap anak di dadanya ibu atau
anggota keluarga lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Semua penderita gizi buruk
diberikan antibiotik untuk mencegah komplikasi yang berupa infeksi dengan
mempertimbangkan diagnosis, keparahan, dan keadaan klinis dari anak tersebut.12
Tahap kedua yaitu fase transisi yaitu sebagian besar penderita tidak
memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan
penyesuaian terhadap pemberian makanan. Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang
diberikan sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari,
dengan protein 1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap
1-2 hari sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg
BB/hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi kalori tinggi protein ini
lebih kurang 7-10 hari. Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari. Formula yang

11

biasa diberikan dalam tahap ini adalah F-75 yang mengandung 75kcal/100ml dan 0,9
protein/100ml) yang diberika terus menerus setiap 2 jam. 12
Vitamin A juga diberikan sebanyak 200.000 IU peroral atau 100.000 IU IM
pada hari pertama kemudian pada hari ke dua diberikan 200.000 IU oral. Vitamin A
diberikan tanpa melihat ada/tidaknya gejala defisiensi Vitamin A untuk mencegah
terjadinya xeroftalmia. Mineral yang perlu ditambahkan ialah kalium sebanyak 1-2
Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg BB/hari dan
Magenseium berupa MgS04 50% 0,25 ml/kg BB/hari atau magnesium oral 30 mg/kg
BB/hari. Dapat diberikan 1 ml vitamin B (IC) dan 1 ml vitamin C (IM), selanjutnya
diberikan preparat oral atau dengan diet. 12
Fase rehabilitasi dimulai saat nafsu makan anak meningkat dan infeksi yang
ada berhasil ditangani. Formula F-75 diganti menjadi F-100 yang dikurangi kadar
gulanya untuk mengurangi osmolaritasnya. Jenis makanan yang memenuhi syarat
untuk penderita gizi buruk adalah susu dan diberikan bergantian dengan F-100.
Dalam pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan
untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan
makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap
ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg
diberikan makanan untuk anak di atas 1 tahun, dalam bentuk makanan cair kemudian
makanan lunak dan makanan padat. 12

12

Tabel 3. Sepuluh langkah tatalaksana gizi buruk 12


PENYAKIT PENYULIT 13
Keadaan gizi buruk dapat menyebabkan anak mendapatkan penyakit penyerta
yang terkadang tidak ringan apabila penatalaksanaan gizi buruk tidak segera
dilakukan. Beberapa keadaan tersebut yaitu:
1.

Gangguan pada mata


Gangguan pada mata yang dapat terjadi pada gizi buruk terjadi akibat
kekurangan vitamin A. Gejala yang timbul berupa buta senja, bercak Bitot,
nanah/radang, kornea keruh, ulkus kornea. Pada kasus gizi buruk pemberian
vitamin A pada usia < 6 bulan sebanyak 50.000 IU (1/2 kapsul biru), usia 6-11
bulan sebanyak 100.000 IU (kapsul merah) dan usia 1-5 tahun sebanyak

2.

200.000 IU (kapsul biru).


Gangguan pada kulit (dermatosis)
Kulit dapat mengalami hipo/hiperpigmentasi, deskuamasi (kulit mengelupas)
dan lesi ulserasi eksudatif, menyerupai luka bakar, sering disertai infeksi

13

sekunder contohnya candida maka dapat dilakukan kompres pada bagian yang
terkena dengan larutan KMnO4 1/10.000 selama 10 menit, salep/krim (Zn
dengan minyak kastor), menjaga daerah perineum tetap kering atau bias
3.

diberikan preparat Zinc peroral bila terjadi defisiensi Zinc.


Diare persisten
Anak dengan gizi buruk yang mengalami diare karena mengkonsumsi
makanan yang tinggi laktosa diberikan makanan secara berhati-hati, yaitu
makanan formula bebas yang rendah laktosa. Kerusakan mukosa usus dan
giardiasis diberikan kotrimoksasol 5-8 mg/kgBB/hari dan bila saat
pemeriksaan tinja hasil mikroskopiknya positif maka diganti dengan

4.

Metronidazol 30-50 mg/kgBB/hari selama 7-10 hari.


Anemia Berat
Pemeriksaan Hb < 4,0 g/dl maka diberikan transfusi darah segar sebanyak 10
ml/kgBB dalam waktu 3 jam. Bila ada tanda gagal jantung gunakan packed
red cells untuk transfusi dengan jumlah yang sama. Hb 4.0-6.0 g/dl disertai
distress pernapasan atau tanda gagal jantung maka diberikan furosemide 1
mg/kgBB secara IV pada saat transfusi dimulai dan hentikan semua
pemberian cairan lewat oral/ Naso Gastric Tube (NGT) selama anak

5.

ditransfusi.
Jika anak berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah mendapatkan obat ini
dalam 6 bulan terakhir dengan hasil pemeriksaan tinjanya positif, beri pirantel
pamoat pada fase transisi sesuai dengan umur dan berat badan pada tabel 4.

Tabel 4. Dosis pemberian Pirantel Pamoat 13


6.

Tuberkulosis
Anak dengan gizi buruk mudah terinfeksi kuman karena penurunan kekebalan
tubuh. Salah satunya adalah mudahnya anak dengan malnutrisi berat terinfeksi
kuman mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit tuberkulosis.
14

DIAGNOSA
Gizi buruk ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran
antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila: BB/TB < -3 SD atau <70% dari
median (marasmus), edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh
(kwashiorkor: BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD. Jika
BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak tampak
sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah
kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan paha; tulang iga terlihat jelas,
dengan atau tanpa adanya edema. Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi
buruk, karena mungkin anak tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus.
Anak seperti itu tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika
ditemukan penyakit lain yang berat.11
Pada penilaian awal gizi buruk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis.
Anamnesis terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan. Pada anamnesis awal
untuk kejadian kegawatdaruratan dapat ditanyakan mengenai kejadian mata cekung
yang baru saja muncul, lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari
bahan muntah dan diare (encer/darah/lendir), kapan terakhir berkemih, sejak kapan
tangan dan kaki teraba dingin. Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin
anak mengalami dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera. 11
Anamnesis lanjutan dilakukan untuk mencari penyebab dan rencana
tatalaksana selanjutnya yang dilakukan setelah kedaruratan ditangani. Hal-hal yang
dapat ditanyakan seperti diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit, riwayat
pemberian ASI, asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari
terakhir, hilangnya nafsu makan, kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis
paru, pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir, batuk kronik, kejadian dan
penyebab kematian saudara kandung, berat badan lahir, riwayat tumbuh kembang:
duduk, berdiri, bicara dan lain-lain, riwayat imunisasi, apakah ditimbang setiap bulan,

15

lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak), diketahui atau
tersangka infeksi HIV. 11
Pemeriksaan fisis yang dapat ditemukan anak tampak sangat kurus, edema
pada kedua punggung kaki. Kemudian tentukan status gizi dengan menggunakan
BB/TB-PB. Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk. Adakah tanda
syok seperti tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi lemah dan cepat),
kesadaran menurun. Demam (suhu aksilar 37.5 C) atau hipotermi (suhu aksilar <
35.5 C), sangat pucat, pembesaran hati dan icterus, perut kembung, bising usus
melemah/meninggi, tanda asites, atau adanya suara seperti pukulan pada permukaan
air (abdominal splash). 11
PROGNOSIS
World Health Organization 2003 menyampaikan hasil observasinya yang
menyatakan bahwa 60% dari 10,9 juta kematian balita di dunia setiap tahunnya
disebabkan secara langsung dan tidak langsung oleh gizi kurang atau gizi buruk. Jika
seorang balita terlanjur mengalami gizi buruk maka prognosisnya dapat dipastikan
suram.14

DAFTAR PUSTAKA
1.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Anak Gizi


Buruk. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011

16

2.

Banstola Amrit. Prevalence of energy malnutrition in children under five


years and service delivery responses in Nepal. International Journal of Health

3.

Sciences & Research 2012;2:90-79


Mane Vijaykumar, Nalk Trupti B, Mallapa O, Ambure Omprakash. Protein
energy malnutrition among preschool children: a cross-sectional study.

4.

International Journal of Scientific Study 2012;3:113-109


C Schubl. Management of severe malnutrition. S Afr J Clin Nutr 2010;23:24-

5.

22
Protein-energy Malnutrition. Mother and Child Nutrition in the Tropics and
Subtropics.

Journal

of Tropical

Pediatrics

2016;62(2):

p.

237-280

www.oxfordjournals.org/tropej/.../mcnts_chap7.p... [diakses pada tanggal 06


6.

April 2016]
Kusumawati Erna, Rahardjo Setiyowati. Pengaruh Pelayanan Kesehatan
terhadap Gizi Buruk Anak Usia 6-24 Bulan. Kesmas, Jurnal Kesehatan
Masyarakat

Nasional

2012;6:162-158

jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/viewFile/93/94 [diakses pada


7.

tanggal 06 April 2016]


Keputusan
Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor:

1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status


Gizi Anak. Kemennterian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Gizi dan
8.

Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Bina Gizi. 2011


The UNICEF Conceptual Framework for Malnutrition. School of Public

9.

Health (SOPH), University of the Western Cape (UWC), South Africa. 2011
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Kementerian Kesehatan Republik

10.

Indonesia 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2015.


Harohalli R Shashidhar. Malnutrition. Medscape. Update May, 2016.
http://emedicine.medscape.com/article/985140-overview#a6

11.

[diakses

pada

tanggal 08 April 2016]


Gizi Buruk. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Pedoman
bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota

17

12.

Bagan Tatalaksana Gizi Buruk Anak I. Kementerian Kesehatan Republik


Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak

13.

Direktorat Bina Gizi. 2011


Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku II. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan

14.

Ibu dan Anak Direktorat Bina Gizi. 2011


Asuhan Nutrisi Pediatrik (Pediatric Nutrition Care), penyunting, Damayanti
Rusli Sjarif, Sri S. Nasar, Yoga Devaera, Conny Tanjung. Rekomendasi Ikatan
Dokter Anak Indonesia UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik. 2011

18