Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Anak prasekolah adalah anak berusia tiga sampai lima tahun menurut
teori Erikson dan teori Wong, pada usia tersebut anak berada pada periode
emas seorang anak dalam pertumbuhan dan perkembangan. Untuk menunjang
pertumbuhan dan perkembangan tersebut, asupan nutrisi dari makanan salah satu
faktor yang sangat penting diperhatikan (Nursalam, 2008).

Anak prasekolah merupakan potensi sumber daya manusia masa


depan bangsa sehingga peningkatan kualitas kesejahteraan anak menduduki
posisi sangat strategis dan sangat penting dalam pembangunan masyarakat
Indonesia. Program-program pemerintah yang dilaksanakan di bidang
kesehatan telah memberikan perhatian terhadap anak sejak dini, sejak anak
berada dalam kandungan sampai lahir hingga usia balita. Ibu mempunyai
peranan yang sangat besar dalam pengasuhan, perawatan dan pendidikan
anak, sehingga proses interaksi antara ibu dan anak perlu diwujudkan sebaikbaiknya terutama pada anak usia prasekolah (Luciasaro, 2010).
Seorang anak yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai dengan
potensi genetik, tetapi pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi oleh intake zat
gizi yang dikonsumsi dalam makanan. Kekurangan atau kelebihan gizi akan
dimanifestasikan dalam bentuk pertumbuhan yang menyimpan dari pola
standar. Pertumbuhan fisik sering dijadikan indikator untuk mengukur status
gizi baik individu maupun populasi. Oleh karena itu orang tua perlu
perhatian pada aspek pertumbuhan anak bila ingin mengetahui keadaan gizi
anak mereka (Khomsan, 2010)
1

Faktor penyebab gizi kurang menurut UNICEF ada 2 yaitu langsung


dan tidak langsung. Penyebab langsung adalah makanan yang tidak seimbang
dan penyakit infeksi, sedangkan faktor penyebab tidak langsung adalah cukup
persedian makanan, pola asuh makan anak tidak memadai. Pola asuh makan
adalah praktek-praktek pengasuhan yang diterapkan ibu kepada anak yang
berkaitan dengan cara dan situasi makan (Istiany, 2013). Pola asuh makan
sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia
bawah 5 tahun, dimana anak masih sangat membutuhkan suplai makanan dan
gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai (Santoso, 2004). Kurang gizi
pada masa prasekolah ini akan menimbulkan masalah tumbuh kembang anak,
mental, sosial dan intelektual yang akan menjadi sifat menetap sampai
dewasanya nanti (Sri, 2011).
Data status gizi nasional tahun 2013 prevalensi berat-kurang
(underweight) adalah 19,6 persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9
persen gizi kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional
tahun 2007 (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat meningkat. Perubahan
terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 persen tahun 2007, 4,9
persen pada tahun 2010, dan 5,7 persen tahun 2013. Mencapai sasaran MDGs
(Millennium Development Goals) tahun 2015 yaitu 15,5 persen maka
prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4.1
persen dalam periode 2013 sampai 2015 (Bappenas dalam Riskesdas, 2012).
Secara nasional prevalensi gizi buruk-kurang pada anak sebesar 19,6
persen, yang berarti masalah gizi berat-kurang di Indonesia masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat mendekati prevalensi tinggi. Gizi kurus
menurut provinsi dan nasional menentukan anak harus dirawat adalah

keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore <-3,0 SD. Prevalensi
sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 persen,
terdapat penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2 %).
Demikian pula halnya dengan prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga
menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen (tahun 2010) dan 7,4 persen
(tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak balita kurus dan sangat
kurus menurun dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada
tahun 2013. Prevalensi gemuk secara nasional di Indonesia tahun 2013
adalah 11,9 persen, yang menunjukkan terjadi penurunan dari 14,0 persen
pada tahun 2010. Terdapat 12 provinsi yang memiliki masalah anak gemuk di
atas angka nasional (Riskesda, 2013).
Disimpulkan data status gizi anak di indonesia menurut ketiga indeks
BB/U, TB/U dan BB/TB terlihat prevalensi gizi buruk dan gizi kurang
meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Diantara 33 provinsi di Indonesia,
18 provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di atas angka prevalensi
nasional yaitu berkisar antara 21,2 persen sampai dengan 33,1 persen salah
satunya termasuk Sumatra Barat.
Prevalensi Status gizi anak balita di Sumatra Barat tahun 2013
berdasarkan BB/U adalah: dari 3.223 anak yang ditimbang ditemukan : Gizi
lebih 3,97 persen, Gizi baik 83,62 persen, Gizi kurang 9,54 persen dan Gizi
buruk 3,16 persen. Pada tahun 2013 yang mengalami gizi buruk di Kota
Padang ditemukan sebanyak 119 kasus, dimana anak laki laki (65 Balita)
lebih banyak mengalami gizi buruk dibanding balita perempuan (54 Balita).
Kasus anak gizi buruk ini meningkat dibanding tahun 2012 sebanyak 98
orang (Profil kesehatan sumbar, 2013).

Berdasarkan BB/U jumlah anak prasekolah dengan gizi sangat kurang


pada tahun 2012 di Kota Bukittinggi sebesar 0.26 persen, dibandingkan
dengan tahun 2011 jumlah Balita dengan gizi sangat kurang mengalami
penurunan di tahun 2012 apa lagi jika dibandingkan dengan target Standar
Pelayanan Minimal tahun 2012, Jumlah anak dengan gizi sangat kurang
sudah dibawah target yaitu 15 persen. Menurut MDGs, anak prasekolah
dengan prevalensi BB kurang / gizi kurang < 15 persen. Jadi untuk kota
Bukittinggi status gizi baik sudah mengalami peningkatan. Pada tahun 2012
anak dengan berat badan naik adalah 86 persen, dimana mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu 81.6 persen dan anak
dengan berat badan di bawah garis merah pada tahun 2012 adalah 1 persen,
dimana mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu
0,7 persen. Keberhasilan peningkatan status gizi anak ini tidak terlepas dari
meningkatnya program gizi berupa penyuluhan kepada masyarakat (Profil
kesehatan Bukittinggi, 2012).
Hasil pemantauan status gizi anak di Kabupaten Agam selama tahun
2011 kasus gizi buruk anak yaitu 193 orang atau 0,4 persen dan gizi kurang
sebanyak 6.286 anak atau 13,4 persen dari 47.000 sasaran balita yang
dilakukan penimbangan. Kabupaten Agam tahun 2011-2015, maka cakupan
status gizi buruk dan kurang ini masih dibawah target yaitu 17 %, sehingga
untuk di kabupaten Agam selama tahun 2011 belum terjadi peningkatan
prevalensi gizi buruk dan kurang (Profil kesehatan Agam, 2011).
Terlihat jelas jika dibandingkan data status gizi anak prasekolah kota
Bukittinggi dengan Agam, maka persentase gizi kurang lebih tinggi di Agam.
Hasil penelitian Siti Habibah Wardah tahun 2014 Perilaku gizi ibu yang
pempunyai hubungan signifikan dengan pola asuh makan adalah praktik gizi

(p<0.05). Dari hasil penelitian pola asuh pada anak prasekolah adalah kurang

baik yaitu (54,7 persen) dan pola makan baik sebanyak (56,6 persen). Hasil
dari analisis chi square menunjukkan nilai signifikan p-value 0,001 (p<0,05).
Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh ibu
dengan pola makan anak prasekolah di TK Pertiwi 37 Desa Mangunsari Kec.
Gunung Pati Kota Semarang (Yuni T.W & dkk, 2014).
Berdasarkan survei awal yang peneliti lakukan pada bulan maret 2015
di puskesmas Biaro didapatkan data dari 33 posyandu terdapat 6 posyandu
yang terdapat anak gizi buruk. Dari yang 6 posyandu itu persentase yang
lebih besar gizi buruk yaitu di posyandu Ampang Gadang. Wawancara yang
dilakukan kepada 8 orang tua tentang pola asuh makan kepada ibu yang
mempunyai anak prasekolah yang berada di posyandu Ampang Gadang, 6
orang ibu bekerja diluar rumah, dan 2 orang ibu sebagai ibu rumah tangga.
Berdasarkan pengamatan awal yang peneliti lakukan peneliti menemukan
anak yang ditinggal dengan nenek, saudara, tetangga atau dipenitipan anak.
Sebagian besar ibu mengatakan untuk makan anaknya sering tidak
dimasakan, dan waktu makan yang tidak teratur hanya tergantung pada
kemauan anak saja, bahkan ibu-ibu cuma melebihkan uang jajan untuk anak,
hal tersebut mengalami pola asuh makan yang kurang baik, hal ini
dikarenakan mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka dan sedikitnya waktu
untuk bersama anak sehingga mereka kurang memperhatikan makan anaknya.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian
tentang hubungan pola asuh makan dengan status gizi anak prasekolah di
posyandu Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas Biaro tahun 2015.
B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah Ampang


Gadang dengan diwawancarai ibu yang mempunyai anak prasekolah 6 orang
ibu bekerja pergi pagi pulang sore, anaknya tinggal di rumah dengan
kakaknya atau nenek bahkan dititip dengan tetangga, maka pola asuh makan
anaknya kurang baik disebabkan kurangnya perhatian, kepedulian orang tua
terhadap makan bahkan makanan yang disediakan dirumah tidak ada hanya
uang jajan yang dilebihkan ibu untuk anak, sehingga peneliti ingin
mengetahui apakah ada hubungan pola asuh makan dengan status gizi anak
prasekolah di posyandu Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas Biaro
tahun 2015.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan umun
Mengetahui hubungan pola asuh makan dengan status gizi anak
prasekolah di posyandu wilayah kerja puskesmas Biaro tahun 2015.
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya distribusi frekunsi pola asuh makan anak prasekolah di
posyandu Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas Biaro tahun
2015.
b. Diketahuinya distribusi frekunsi status gizi anak prasekolah di
posyandu Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas Biaro tahun
2015.
c. Diketahuinya hubungan pola asuh makan dengan status gizi anak
prasekolah di posyando Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas
Biaro tahun 2015
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Pihak Posyandu Dan Puskesmas
Dapat menjadikan masukan dan informasi mengenai pola asuh makan
dengan status gizi anak prasekolah, pihak puskesmas juga bisa

memberikan penyuluhan tentang pentingnya pola asuh makan dan status


gizi anak prasekolah, selanjutnya status gizi anak prasekolah yang ada di
posyandu Ampang Gadang wilayah kerja puskesmas Biaro kecematan
ampek angkek lebih baik ditahun-tahun berikutnya.
2. Bagi Penulis
Sebagai pengembangan diri dan aplikasi kemampuan penelitian dalam
mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dibangku perkulihan dan dapat
menambah wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh makan dengan
status gizi anak usia prasekolah.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi mahasiswa tentang pola
asuh makan dengan status gizi anak usia sekolah dan sebagai bahan
bacaan dan sumber informasi untuk dipergunakan oleh pihak lain dan
dapat dipergunakan untuk mata ajar terkait.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. POLA ASUH MAKAN
1. Definisi pola asuh makan
Kebutuhan makan akan mempergaruhi anak sepanjang hidupnya,
dan kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi dengan bantuan orang tua, yang
sangat berperan disini adalah ibu yang aka mendidik anaknya melalui pola
asuh makan. Pola asuh makan adalah praktek-praktek pengasuhan yang
diterapkan ibu kepada anak yang berkaitan dengan cara dan situasi makan
(Istiany, 2013). Pola asuh adalah sikap dan prilaku ibu atau pengasuh lain
dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat,
menjaga kebersihan, memberi kasih sayang dan sebagainya. Agar pola
hidup anak sesuai dengan standar kesehatan, disamping harus mengatur pola
makan yang benar juga tak kalah pentingnya mengatur pola asuh yang benar
pula. Pola asuh yang benar bisa ditempuh dengan memberikan perhatian dan
kasih sayang kepada anak. Pola asuh yang tidak memadai dapat
menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan
seimbang, dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang
kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak.

Pola asuh makan merupakan asupan makan dalam rangka


menopang tumbuh kembang fisik dan biologis balita secara tepat dan
berimbang. Pola pengasuhan anak berupa sikap perilaku ibu atau
pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan,
merawat, kebersihan, memberikan kasih sayang dan sebagainya.
Kesemuanya berhubungan dengan keadaan ibu terutama dalam kesehatan,
status gizi, pendidikan umum, pengetahuan dan ketrampilan tentang
pengasuhan anak yang baik, peran dalam keluarga atau dimasyarakat,
sifat pekerjaan sehari-hari, adat kebiasaan keluarga, masyarakat dan
sebagainya dari ibu atau pengasuh anak (Soekirman, 2000).
Pemberian makanan merupakan bentuk mendidik ketrampilan
makan, membina kebiasaan makan, membina selera terhadap jenis
makanan, membina kemampuan memilih makanan untuk kesehatan dan
mendidik perilaku makan yang baik dan benar sesuai kebudayaan
masing-masing. Kekurangan dalam pemberian makan akan berakibat
sebagai masalah kesulitan makan atau kekurangan nafsu makan yang
pada gilirannya akan berdampak negatif pada kesehatan dan tumbuh
kembang nantinya (Waryana, 2010). Oleh karena itu kegiatan dalam
mengasuh anak prasekolah sangat diperhatikan dalam memberi makanan
(feeding) dan perawatan (caring) yang benar untuk mencapai status gizi
yang baik dan tumbuh kembang anak secara positif.
Praktek pemberian makan anak mempunyai peran yang besar
dalam memenuhi asupan nutrisi anak. Ada tiga hal yang dapat
mempengaruhi asupan makan anak,yaitu:

a. menyesuaikan metode pemberian makan dengan kemapuan


psikomotor anak
b. pemberian makan yang responsif, termasuk dorongan untuk makan,
memerhatikan nafsu makan anak, waktu pemberian, kontrol
terhadap makanan antara anak dan pemberi makan, dan hubungan
yang baik dengan anak selama memberi makan.
c. Situasi pemberian makan yang tertentu, perhatian dan perlindungan
selama makan (Khomsan, 2010).
2. Bentu-bentuk pola asuh
Menurut hartoyo, dkk tahun 2001 menyatakan bahwa prilaku
pengasuhan mencakup empat aspek yaitu : prilaku pengasuhan dalam
pemberian makan, prilaku pengasuh kesehatan, prilaku pengasuh higiene
dan, prilaku pengasuh psikososial.
a. Prilaku pengasuhan makan
Prilaku pengasuhan makan menyangkut:
1) Siapa yang memberikan makan
2) Waktu yang disedikan ibu untuk anak mengasuh anak
3) Frekwensi pemberian makan
b. Prilaku pengasuh kesehatan
Pilaku pengasuha kesehatan menyangkut:
1) Pencegahan penyakit
2) Pemanfaatan pelayanan kesehatan
3) Menyediakan perawatan dirumah
4) Kegiatan pemeriksaan kesehatan secara berkal
5) Prilaku pengasuhan Higienis
c. Prilaku pengasuh higiene menyakut:
1) Kebersihan pribadi
2) Mencuci tangan
3) Membersihkan rumah dan tempat bermain anak
4) Memandikan anak
5) Memasak air
d. Prilaku pengasuh psikososial menyangkut
1) Tanggung jawab terhadap mental anak
2) Pemberian perhatian dan kasih sayang oleh orang tua
3) Memberikan dorong dan membimbing anak
3. Pola makan
Menurut Nursalam (2005) kebutuhan dasar anak terbagi 3 yaitu
asuh, asah dan asih. Pola asuh adalah mendidik, membimbing dan

10

memelihara anak, mengurus makanan, minuman, pakaian, kebersihannya.


Ibu sebagai tokoh sentral dan sangat penting untuk melaksanakan
kehidupan khususnya pada anak balita. Anak masih membutuhkan
bimbingan seorang ibu dalam memilih makanan agar pertumbuhan tidak
terganggu. Bentuk perhatian atau dukungan ibu terhadap anak meliputi
perhatian ketika anak makan dan sikap orang tua dalam memberi makan.
Menurut Depkes RI 2002, pemberian makanan balita bertujuan
untuk mendapatkan zat makan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh. Zat makan ini berperan untuk memelihara dan
memulihkan kesehatan serta melaksanakan kegiatan sehari-hari, dalam
pengaturan makanan yang tepat dan benar merupakan kunci pemecahan
masalah. Gizi seimbang adalah makanan yang dikonsumsi dalam satu hari
yang beragam dan mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat
pengatur sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Keadaan ini tercemin dari
derajat kesehatan dan tumbuh kembang balita yang optimal.
a. Ritual makan
Anak prasekolah umumnya mengalami masalah makan, suka dan
tidak suka makan dapat berubah dari hari ke hari bahkan dari minggu
ke minggu, misalnya anak hanya suka makan telur rebus sebagai
snack selama seminggu tetapi untuk berikitnya tidak suka lagi selama
satu bulan lagi.
b. Nafsu makan
Nafsu makan anak selalu tidak menentu dan tidak bisa diduga, bisa
saja pada siang hari anak lahap untuk makan dan pada malam hari
anak menolak makan atau sebaliknya. Jadi orang tua harus bisa
mengatur pemberian snack kepada anak, agar terjaga nafsu makan
anak atau pemberian jarak waktu antara makan dengan snack.

11

c. Kesukaan makanan
Anak prasekoalh umunya menyukai makanan kaya karbonhidrat yang
mudah dikunyah seperti roti, biskuit, kue kecil, buah, makanan manis
dan lain-lain.
d. Frekuensi makanan
Umunya anak prasekolah lebih dari tiga kali makan dalam sehari, jika
kurang dari empat kali sehari maka lebih sedikit dibandingkan ratarata asupan anak lain sebaya yang makan empat kali sehari atau lebih.
e. Jenis makanan
Makanan anak prasekolah yang baik diberi dalam bentuk sup, telur,
semur, dan puding dan, diberikan dengan bentuk warna menarik
misalnya wortel dan tomat.
f. Kemudahan menangani
Hendaknya memberi makanan kepada anak disajikan sedemikian rupa
agar anak mudah memakannya dengan tangan.
g. Karakteristik makanan
Ada tiga karakteristik makanan yang mempengaruhi pengembangan
rasa penerimaan, dan keterampilan makan sendiri yaitu: tekstur
makanan lunak dan mudah dikunyah, aroma yang menarik pada anak
dan menghindari aroma pedas, asam, asin, pahit, dan besar porsi
berikan porsi yang sesuai dengan anak.
Beberapa peneliti menunjukkan rendahnya konsumsi makan anak
usia prasekolah, langkah yang dapat ditempuh untuk menaikkan masukan
kalori pada anak dilakukan dengan cara menambah frekuensi makan atau
memberi makan selingan (Istiany, 2013).
Gizi dapat diperoleh seorang anak prasekolah melalui konsumsi
setiap hari yang di siapkan, disediakan ibu di rumah. Pola makan atau
kebiasaan makan yang ada di masyarakat di mana seorang anak hidup. Pola
makan kelompok masyarakat tertentu juga menjadi pola makan anak, akan
mempengaruhi penyusunan menu. Menyusun hidangan untuk anak, hal ini

12

perlu diperhatikan di samping kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat


bertumbuh kembang (Santoso, 2009).
Pola konsumsi memberikan gambaran frekuensi konsumsi satu
pangan dalam periode tertentu. Dan ada juga faktor yang mempengaruhi
bentu pola konsumsi pertama faktor yang berhubungan dengan persediaan
atau pengadaan bahan pangan, dan kedua faktor ekonomi dan adat istiadat
setempat tinggal (Adriani, 2014).
4. Mengatur pola asuh pemberian makanan anak prasekolah
Mengatur makan pola asuh makan anak prasekolah hal yang
sangat penting yaitu untuk menanamkan kebiasaan memilih bahan
makanan yang baik pada usia dini. Waktu makan sebaiknya sudah mulai
disesuaikan dengan waktu keluarga dan anak diajak makan bersama-sama
dengan anggota keluarga yang lain. Harus diperhatikan makan anak
antara lainnya:
a. Melatih anak memilih yang berfaedah
Menanamkan kebiasaan memilih makanan yang baik kepada
anak,

kesukaran

yang

sering

dijumpai

saat

ibu-ibu

memberikan makan kepada anaknya. Anak prasekolah ini hal


yang sangat penting mengajarkan anak memilih bahan
makanan yang bernilai, untuk itu terlebih dahulu pada waktu
makan diciptakan suatu suasana riang dan tenang, sehingga
waktu menghadapi meja makan merupakan saat-saat gembira
dan dinanti-nantkan oleh anak-anak.
b. Jajan
Jajan ynag dilakukan sekali-kali ada juga manfaatnya, anak
akan mendapatkan selingan makanan dari luar, tapi jangan
membiarkan anak membeli jajan sendiri, sebaiknya bersamasama dengna orang tua, sehingga orang tua dapat memilihkan

13

mana makanan yang baik dan tidak, sekaligus orang dapat


menunjukan mana tempat yang bersih dan mana yang tidak.
c. Kesukaran dalam menyusun makanan anak
Ada beberapa kesukaran dalam menyusun makanan anakanak di negara kita, antara lain: tidak terdapatnya bahan-bahan
makan yang baik, bahan-bahan makan di pedesaan umumnya
terbatas sehingga tak ada piihan lain, jika ibu harus menyusun
makannya sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan,
bahan-bahan makanan seperti susu,daging, umunya, tidak
terbeli oleh sebagian besar keluarga (Moehji, 2003).
Bagi anak prsekolah makanan sehari-harinya dapat terdiri dari:
a. Makanan pagi
1) Bubur beras atau roti diolesi dengan mentega atau margarin
2) Telur, daging, atau ikan
3) Satu gelas susu
b. Makanan siang
1) Nasi
2) Daging, ayam, ikan, telur, tahu, atau tempe
3) Sayur seperti tomat, wortel, bayam
4) Buah seperti pisang, jeruk, pepaya, apel
5) Satu gelas susu
c. Makan malam/sore
1) Nasi atau roti diolesi dengan mentega atau margarin
2) Daging, ayam, ikan, tahu atau tempe
3) Sayur- mayur
4) Buah atau pudding
5) Satu gelas susu
Di antara makan pagi dan makan siang, juga antara makan siang
dan makan malam anak dapat diberi snack seperti biskuit, keju, kue
basah, es krim. Jangan memberikan makanan tersebut terlalu banyak
hingga mengganggu nafsu makannya diwaktu makan siang atau makan
malam (Pudjiadi, 2000).
Dalam memenuhi kebutuhan zat gizi anak hendaknya digunakan
kebutuhan prinsip sebagai berikut:

14

a. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi makanan pokok,


minyak dan zat lemak serta gula.
b. Berikan sumber protein nabati dan hewani
c. Jangan memaksa makan mkanan yang tidak disukai anak.
d. Berikan makanan selingan diberikan antara makan pagi, siang, malam
(Marimbi, 2010).
5. Masalah makan yang mungkin timbul pada anak prasekolah
a. Penolakan terhadap makanan, sulit makan, hanya sedikit jenis
makanan yang dimakan
b. Kebiasaan makan cemilan di antara waktu makan, maka akan
mengurangi nafsu makan.
c. Tingginya konsumsi jus buah dan minuman ringan
d. Diet rendah lemak atau tinggi serat, yang dianggap sehat oleh orang
tua.
e. Tingginya konsumsi kudapan seperti: kue, biskuit, keripik, kudapan
manis, permen,
f. Makanan digunakan sebagai hadiah (Marryana, 2011).
B. STATUS GIZI
1. Pengertian Status Gizi
Kata gizi berasal dari bahasa arab ghidza yang berarti makanan,di
satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh
manusia. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dibedakan antara status gizi buruk,
kurang, baik dan lebih (Almatsier, 2001).
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
variabel tertentu, contohnya gondok endemik merupakan keadaan
ketidakseimbangn antara pemasukan dan pengeluaran yodium dalm tubuh.
Status gizi anak adalah keadaan kesehatan anak yang diperlukan oleh derajat
kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi yang lain, yang diperoleh dari pangan

15

dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri yang


dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS. (Supariasa, 2012).

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk


variabel tertentu,atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel
tertentu.Status gizi juga dinyatakan sebagai keadaan tubuh yang merupakan
akibat dari konsumsi makanan dan penggunaan zat zat gizi dengan 4
klasifikasi yaitu status gizi buruk ,kurang ,baik dan lebih (Almatsier,2001).
Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu
(level yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung
adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi
ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak
dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan
kesehatan (Riyadi, 2001 yang dikutip oleh Simarmata, 2009).
Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition
merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih
sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah
energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw,
2007).
Menurut Robinson & weighley,status gizi adalah keadaan kesehatan
yang berhubungan dengan penggunaan makanan oleh tubuh.
2. Cara Penentukan Status Gizi
Metode penilai status gizi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
penilaian secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung
diantara adalah antropometri, klinis, biokimia dan biofisik, sedangkan

16

penilaian secara tidak langsung diantaranya adalah survei konsumsi pangan,


statistik vital, dan faktor ekologi.
a. Metode penilaian status gizi secara langsung
1) Penilaian antropometri
Antropometri adalah berbagai macam pengukuran dimensi
tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain tinggi badan, berat
badan, lingkar lengan atas, dan tebal lemak dibawah kulit. Secara
umum antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan atau konsumsi protein dan energi.
2) Penilaian klinis
Penilaian klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat dengan melihat jaringan epitel
seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ
organ yang dekat dengan permukaan tubuh.
3) Penilaian biokimiawi
Penilain laboratorium (biokimia)

dilakukan

melalui

pemeriksaan spesimen jaringan tubuh (darah, urin, tinja, hati dan


otot ) bertujuan untuk mengetahui gizi secara spesifik.
4) Penilaian biofisik, pemeriksaan dilakukan dengan

melihat

kemampuan fungsi jaringan dan perubahan struktur. Pemeriksaan


biofisik bertujuan mengetahui situasi tertentu, misalnya pada orang
yang buta senja. Kelemahan pemeriksaan biofisik adalah sangat
mahal, memerlukan tenaga profesional dan hanya dapat diterapkan
pada keadaan tertentu saja
b. Metode penilaina status gizi secara tidak langsung
1) Survei konsumsi makanan
Survei konsumsi makanan adalah untuk mengetahui kebiasaan
makan, gambaran tingkat kecukupan bahan makan ,dan zat gizi

17

pada tingkat kelompok, rumah tangga, dan perorangan serta


faktor faktor yang mempengaruhinya.
2) Statistik vital
Pengukuran statu gizi dengan statistik vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian
akibat penyebab tertentu dan data lain yang berhungan dengan
gizi (Supariasa, 2012).
3) Faktor ekologi
Pengukuran status gizi didasarkan atas ketersedian makanan
yang dipengaruhi oleh faktor ekologi seperti iklim, tanah, irigasi
dan sebagainya. Faktor ekologi tersebut perlu diketahui untuk
mengetahui penyebab malnutrisi di masyarakat (Istiany, 2013).
3. Klasifikasi Status Gizi
a. Klasifikasi status gizi menurut Rekomendasi Lokakarya Antropometri
1975 serta puslitbang 1978 digunakan 5 macam indeks yaitu: BB/U,
TB/U, LLA/U, BB/TB dan LLA/TB.
Tabel 2.1
Klasifikasi status gizi berdasarkan BB/U, TB/U, LLA/U, BB/TB dan LLA/TB
Kategori
BB/U
TB/U
LLA/U
BB/TB LLA/TB
Gizi baik
100-80 100-95
100-95
100-90
100-85
Gizi kurang <80-60 <95-85
<95-85
<90-70
<85-75
Gizi buruk
<60
<85
<85
<70
<75
(sumber Lokakarya Antropometri 1975)
b. Klasifikasi menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun
1999 dibagi menjadi 5 yaitu: gizi lebih, gizi baik, gizi sedang, gizi
kurang dan gizi buruk bisa dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.2
Klasifikasi status gizi
Kategori
Cut ofpoint
Gizi lebih
>120%
Gizi baik
80 % - 120 %
Gizi sedang
70 % - 79,9 %

18

Gizi kurang
60%- 69,9%
Gizi buruk
<60%
(sumber Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun 1999)
c. Klasifikasi menurut WHO, pada dasarnya cara penggolongan indeks
sama dengan cara Waterlo. Indikator yang digunakan meliputi BB/TB,
BB/U, dan TB/U. Standar yang digunakan adalah NCHS (Nutrional
Center for Health Statistics, USA).
d. Klasifikasi status gizi dalam buku karangan Ari Istiany tahun 2013
dibagi menurut IMT/U secara umum :
1.
2.
3.
4.
5.

Sangat kurus, yaitu kurang dari -3 standar deviasi (< - 3 SD)


Kurus, yaitu antara -3 SD sampai dengan < - 2 sd
Normal, yaitu antara -2 SD sampai dengan 1 SD
Gemuk, yaitu antara 1 SD sampai dengan 2 SD
Sangat gemuk (obesitas), yaitu > 3 SD

Tabel 2.3
Kategori status gizi untuk umur 0 60 bulan
Indeks
Ketegori status gizi
Ambang batas
Berat badan menurut
Gizi buruk
< -3 SD
umur (BB/U)

Gizi kurang

-3 SD s/d < -2 SD

Gizi baik

-2 SD s/d 2 SD

Tinggi badan menurut

Gizi lebih
Sangat pendek

> 2 SD
>-3 SD

umur (TB/U)

Pendek

-3 SD s/d 2 SD

Normal

-2 s/d 2 SD

Berat badan menurut

Tinggi
Sangat kurus

> 2 SD
< - 3 SD

tinggi badan (BB/TB)

Kurus

-3 SD s/d < -2 SD

Normal

-2 SD s/d 2 SD

Indeks masa tubuh

gemuk
Sangat kurus

> 2 SD
< -3 SD

menurut umur (IMT/U)

Kurus

-3 SD s/d < -2 SD

19

Normal

-2 SD s/d 2 SD

gemuk
> 2 SD
(Sumber dalam buku Ari Istiany&Rusilanty 2013)
4. Indeks Yang Digunakan
a. Indeks berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan
gambaran masa tubuh. Indek berat badan menurut umur ada
kelebihannya antara lain:
1) Sensitif untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek, indeks
ini sangat berguna untuk memantau pertumbuhan anak.
2) Perubahan berat badan anak sangat perlu menjaga kesehatan anak
yang terutama berat yang menurun agar dapat dan cepat
memberikan intervesi.
3) Dapat mendeteksi kegemukan
Selain dari itu juga mempunyai kelemahan, antara lain:
1) Dapat terjadi kekeliruan interpretasi status gizi bila terdapat edema
2) Memerlukan data umur yang akurat
3) Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran
b. Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan pengukuran antropometri yang dapat
menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal tinggi badan tumbuh
seiring dengan pertambahan umur.
Ada beberapa kelebihan antara lain:
1) Baik untuk menilai status gizi masa lampau
2) Alat ukuran panjang dapat diubah sendiri, murah,dan mudah dibawa.
Adapun kelemahannya:
1) Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungikin turun
2) Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak,
sehingga diperlukan 2 orang untuk melakukannya.
3) Ketepatan umur sulit didapat
(Adriani, 2014).
c. Indeks barat badan menurut tinggi badan (BB/TB)

20

Beberapa kelebihan, antara lain:


1) Tidak memerlukan data umur
2) Indeks BB/TB merupakan indikator yang biak untuk menyatakan
status gizi saat ini.
3) Sesuai untuk memantau keadaan status gizi akibat kurang pangan
pada saat yang tidak lama
4) Cukup sesuai sebagai gambaran indikator kekurusan
5) Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus)
Ada juga kelemahannya:
1) Tidak dapat memberikan gambaran, apakah anak pendek,cukup, atau
kelebihan tinggi badan menurut umur karena faktor umur tidak
2)
3)
4)
5)
6)

dipertimbangan
Kesulitan dalam malakukan pengukuran tinggi badan pada balita
Membutuhkan dua jenis alat ukur
Pengukuran relatif lebih lama
Membutuhkan dua orang untuk malakukannya
Sering terjadi kesalahan pembacaan hasil pengukuran, terutama pada
orang yang nonprofesional

d. Indeks masa tubuh IMT


Penilaian status gizi berdasarkan antrometri dapat diukur
menggunakan parameter tunggal seperti umur,berat badan, tinggi
badan,lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul
dan tebal lebal lemak di bawah kulit. Pada umumnya penilaian status
gizi menggunakan parameter gabungan seperti:berat badan menurut
umur (BB/U),tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB), dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).
Penelaian status gizi untuk semua golongan umur yang digunakan
dalam buku ini menggunakan parameter IMT untuk orang dewasa dan
ibu hamil, sedangkan parameter IMT/U untuk umur 0 sampai 18 tahun.
Rumus untuk menentukan nilai IMT adalah:

21

IMT = BB (kg) / TB (m)2


Kerugian berat badan kurang dan berat badan berlebih menurut sumber
Depkes RI, 1994:
A. Berat badan kurang atau kurus
1. Penampilan cenderung kurang baik
2. Mudah letih
3. Risiko sakit tinggi antara lain: penyakit infeksi, depresi,
anemia, diare
4. Kurang mampu melakukan pekerjaan
B. Berat badan lebih
1) Penampilan kurang menarik
2) Gerakan tidak gesit dan lambat
3) Mempunyai risiko penyakit antara lain: jantung, kencing
manis, hipertensi, gangguan sendi dan tulang, gangguan
ginjal, gangguan kandungan empedu, kanker.
5. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
Faktor yang menyebabkan kurang gizi telah diperkenalkan UNICEF dan
telah digunakan secara internasional, yang meliputi beberapa tahapan
penyebab timbulnya kurang gizi pada anak balita, bail penyebab langsung,
tidak langsung, akar masalah dan pokok masalah. Berdasarkan soekirman
dalam materi aksi pangan dan gizi nasional (Depkes, 2000).
a. Secara langsung
Menurut soekirman (2000) penyebab langsung timbulnya gizi
kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyakit infeksi.
Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. Dengan demikian
timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makan tetapi juga
karena adanya penyakit infeksi, terutama diare atau demam, akibatnya
dapat mnderita gizi kurang. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh
makan cukup dan seimbang, daya tahan tubuhnya dapat melemah.
Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang
nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. Akhirnya berat

22

badan anak menurun. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak


menjadi kurus dan timbullah kejadian kurang gizi (Soekirman, 2000).
b. Secara tidak langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu:
1) Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap
keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan
seluruh anggota keluarganya yang cukup baik jumlah maupun
mutu gizinya.
2) Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan
masyarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian dan
dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan
baik, baik fisik, mental dan sosial.
3) Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim
pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin
penyediaan air bersih dan sasaran pelayanan kesehatan dasar
yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.
4) Ekonomi keluarga, pengahasilan keluarga merupaka faktor yang
memengaruhi kedua faktor yang berperan langsung terhadap
status gizi.
5) Budaya, masih ada kepercayaan untuk memantangkan makanan
tertentu yang dipandang dari segi gizi sebenarnya mengandung
zat gizi yang baik.
6) Kebersihan lingkungan, kebersihan lingkungan yang jelek akan
memudahkan anak menderita penyakit tertentu seperti ispa,
infeksi saluran pancernaan.
Ketiga

faktor

tersebut

berkaitan

dengan

tingkat

pendidikan,

pengetahuan dan keterampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan,


pengetahuan dan keterampilan, makin tinggi tingkat ketahanan pangan

23

keluarga, makin baik pula pola pengasuhan maka banyak keluarga yang
memanfaatkan pelayanan kesehatan (Dinkes, 2010).
C. Hubungan Pola Asuh Makan Dengan Status Gizi
menurut soekirman (2000) pola asuh makan adalah sikap dan prilaku
ibu atau pengasuh lain dalm hal kedekatannya dengan anak memberikan
makan. Agar pola hidup anak sesuai dengan standar kesehatan, disamping
harus mengatur pola makan yang benar juga tak kalah pentingnya mengatur
pola asuh yang benar pula. Pola asuh yang benar bisa ditembuh dengan
memberikan perhatian serta kasih sayang kepada anak, memberinya waktu
yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga.
Dalam masa pengasuhan lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak
adalah orang tua terutama ibu. Anak tumbuh dan berkembang dibawah asuhan
dan perawatan orang tua oleh karena itu ibu merupakan dasar pertama bagi
pembentukan pribadi anak. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan
lingkungannya. Dengan demikian dasar pengembangan dari seorang individu
telah diletakkan oleh orang tua melalui praktek pengasuhan anak sejak ia masih
bayi (supanto, 2000). Menurut prasetya (2012), kesehatan anak sangat erat
kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi. Zat-zat yang terkandung dalam
makanan yang masuk kedalam tubuh sangat mempengaruhi kesehatan dan
status gizi anak. Menurut Menkes (2011), fakor yang cukup dominan yang
menyebabkan keadaan gizi kurang meningkat adalah pilaku memilih dan
memberikan makanan yang tidak tepat kepada anggota keluarga termasuk
anak-anak.
D. Peneliti terkait

24

Penelitian yang pernah dilakukan oleh vicka (2014) tentang


hubungan pola asuh makan dengan status gizi balita di wilayah kerja
puskesmas ranotana weru kecematan wanea kota manado. Didapatkan
hasil yaitu dari 51 responden terdapat 82,4% responden dengan kategori
pola asuh makan baik dan 17,6% responden dengan kategori pola asuh
makan kurang baik.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Natalia (2006) pada anak
balita di Desa Durian IV Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang
menunjukkan juga bahwa praktek pemberian makan sebagian besar berada
pada kategori baik yaitu sebesar 65% sedangkan pada kategori tidak baik
sebesar 35%.
Berkaitan dengan penelitian palviana (2014) sebagian besar
responden anak mengalami gizi normal senyak 88 responden (60,7%)
gemuk 26 orang (17,9) dan kurus 31 orang (21,4%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sarasani (2005) yang
menyatakan bahwa anak yang mempunyai praktek pemberian makan yang
baik lebih banyak berstatus gizi baik pula.
E. Kerangka Teori
Penyebab terjadinya gangguan gizi, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi, khususnya
gangguan gizi pada bayi dan balita adalah tidak sesuainya jumlah zat gizi
yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka atau pola
makan yang salah dan adanya penyakit infeksi atau status kesehatan. Anak
merupakan kelompok yang manunjukkan pertumbuhan pesat, sehingga
memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilometer berat badannya. Anak
prasekolah ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering
menderita akibat kekurangan gizi (KEP). Ada faktor penyebab kurang gizi

25

secara tidak langsung antara lain tidak cukup persedian pangan, pola asuh
anak tidak memadai akibat dari kurangnya pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan orang tua terutama ibu, serta buruknya sanitasi lingkungan dan
akses pelayanan kesehatan.

Skema Teori
Dampak

Kurang gizi

Makan tidak
seimbang
26

Penyakit
infeksi

Penyebab langsung

Penyebab
tidak
langsung

Pola asuh
makan tidak
memadai

Tidak cukup
persedian
pangan

Sanitasi dan
air
bersih/pelaya
nan kesehatan
dasr tidak

kurang pendidikan, pengetahuan dan keterampilan

pokok masalah
di masyarakat
Kurang pemberdayaan wanita dan
keluarga, kurang pemanfaatan
sumberdaya masyarakat

akar masalah
nasional

Krisis ekonomi, politik dan


sosial

Sumber: penyebab kurang gizi UNICEF 1998

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. KERANGKA KONSEP ATAU VARIABEL

27

Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan


atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara
variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.
Konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan
suatu pengertian.
Pada penelitian ini, yang menjadi variabel independen yaitu pola asuh makan
sedangkan yang menjadi variabel dependen yaitu status gizi.
Variabel independen

Variabel dependen

Pola asuh
makan:
Baik,dan
Kurang baik

Status gizi anak :


Berat badan menurut
umur (BB/TB)
dikategorikan:
kurus -3 SD s/d < -2 SD
normal -2 SD s/d 2 SD
gemuk > 2 SD

Status gizi dipengaruhi oleh pola asuh makan yang meliputi perhatian
atau dukungan ibu terhadap anak dalam pemberian makanan (prilaku
pemberian makanan pada anak serta persiapan, peran, sikap dan penyimpanan
makanan), rangsangan psikososial, perawatan kesehatan (pratek kebersihan
atau hygiene dan sanitasi lingkungan serta perawatan anak dalam keadaan
sakit). Pola asuh yang baik akan mempengaruhi status gizi. Jika pola asuh anak
di dalam keluarga sudah baik maka status gizi akan baik juga.
B. HIPOTESA
Penelitian sudah dilakukan dengan hasil hipotesa diterima , Ho ditolak.
Ha : Ada hubungan yang bermakna antara pola asuh makan dengan ststus gizi
anak prasekolah di posyandu ampang gadang wilayah kerja puskesmas
Biaro Kecematan Ampek Angkek tahun 2015.

28

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN
Desain penelitian merupakan strategi untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis atau untuk menjawab
pertanyaan penelitian dan sebagai alat untuk mengontrol atau mengendalikan
berbagai variabel yang berpengaruh dalam penelitian (Nursalam, 2003). Desain
Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan
29

metode Cross Sectional dimana peneliti melakukan observasi atau pengukuran


variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. variabel ini
menyangkut status pekerjaan ibu dengan perkembangan motorik kasar anak
usia toddler yang akan dikumpulkan secara bersamaan, untuk mencari
hubungan korelasi antara variabel independent (bebas) dengan variabel
dependent (terikat) (Notoatmodjo, 2012).
Penelitian ini yang berjudul hubungan antara pola asuh makan dengan
ststus gizi anak prasekolah, yang menjadi variabel independen adalah pola asuh
makan sedangkan variabel dependennya adalah status gizi. Dalam penelitian
ini peneliti akan mencari apakah ada hubungan antara dua variabel tersebut.

B. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN


Peneliti dilakukan di ampang gadang wilayah kerja puskesmas awal
pelaksanaan proposal dilakukan pada bulan februari dan pengumpulan data
dilakukan pada tanggal 16-20 juni 2015.

C. POPULASI DAN SAMPEL


1. POPULASI
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti (Notoatmodjo,
2010). Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut

30

masalah yang teliti. Variabel tersebut bisa berupa orang, kejadian, perilaku
atau sesuatu yang akan dilakukan peneliti (Nursalam, 2003).
Populasi penelitian ini, seluruh ibu dan anak usia prasekolah (3-5 tahun)
yang berada di wilayah posyandu Ampang Gadang sebagai responden
sebayak 125 orang anak prasekolah.
2. SAMPEL
Sampel adalah objek yang diteliti akan dianggap mewakili seluruh
populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel adalah bagian dari populasi yang
dipilih dengan sampling tertentu untuk bisa memenuhi atau mewakili
populasi (Nursalam, 2003).
Besar sampel minimal dalam penelitian ini dihitung dengan
menggunakan rumus finit sebagai berikut: (Lemeshow, 1997).
(Z1 - /2 )2 . P (1 P) N
n=
(d2)2 (N-1) + (Z1 - /2 )2. P(1-P
keterangan:
n
(Z1

= Jumlah sampel
-

/2 ) = nilai kurva normal standar pada tingkat kepeceyaan


tertentu

= Presentasi kejadian

d2

= Presisi (5 10 %) tingkat ketetapan

= Jumlah populasi

Jadi sampel peneliti adalah:


(1,64)2 . 0,35 (1 0,35) 125
n=
0,05(124)+2,68.0.35(0,65)
109,2

31

=
2,12
= 51,5orang
Jumlah sampel yang di butuhkan peneliti 52 ibu dan anak yang usia 3-5
tahun, dengan teknik pengambilan sampel dengan cara accidental sampling
yaitu pengambilan sampel dilakukan dengan responden yang kebetulan ada
atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan kriteria inklusif dan ekslusif.
D. KRITERIA INKLUSI DAN EKLUSI
1. Kriteria Inklusi
a. Ibu dan anak yang usia prasekolah (35 tahun)
b. Ibu yang bisa baca tulis
c. Ibu dan anak prasekolah (3-5 tahun) bersedia menjadi responden
d. Bertempat tinggal di lokasi penelitian
2. Kriteria eklusi
a. Anak yang sedang sakit
b. Ibu atau anak yang tidak bersedia untuk menjadi responden
E. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang
diamati memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran
secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Nursalam, 2009).
Tabel 4.1
Definisi operasional
N

Variabel

O
1 Independen
(pola
asuh
makan)

Defenisi

Cara

operasional
Suatu tindakan

pengukuran
Wawancara

pemberikan
makan

Alat ukur
Daftar
kuesioner

pada

Skala
ukur
Ordial

Hasil ukur
Pola asuh
makan
baik bila

anak, perhatian

jumlah

yang

skor

penuh

serta gambaran

75% dan

mengenai sikap,

kurang

peran ibu dalam

bila

memilih

jumlah

makanan, serta

skor

penyiapkan

<75%
(Soekirman,

makanan

yang

2000)

sudah berlalu.

32

2 Dependen
( status gizi)

Ekspresi

dari

penimbangan

Timbangan

keadaan

berat

badan

berat badan

anak

keseimbangan

(BB)

dan

digital

dikategorika

dalam

tinggi

bentuk

variabel tertentu
yang

badan

dan

microtoise

(TB)

Ordinal

Status

gizi

n menjadi:
kurus -3 SD

diukur

s/d < -2 SD,

secara

normal -2

antropometri

SD s/d 2 SD

menurut

Gemuk > 2

indek

BB/TB

SD (WHONCHS)

F. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengatur apa yang
seharusnya diukur (Nursalam, 2011). Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah angket atau kuesioner, yaitu sejumlah pernyataan tertulis
yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti
laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006).
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
1. Pola asuh makan
Daftar pernyataan (kuesioner) dengan menggunakan skala Guttman yang
terdiri dari 24 pernyataan tentang pola asuh makan, dimodifikasi dari
penelitian Ritayani Lubis tahun 2008. Responden memilih jawaban dalam
bentuk check list dimana responden tinggal membutuhkan tanda check list
pada kolom yang telah disediakan, dan dinilai apabila jawaban iya maka
nilainya 1, dan jawabannya tidak nilainya 0.
2. Status gizi
Alat ukur status gizi dengan menggunakan timbangan berat badan
digital, tinggi badan dengan menggunakan microtoise, data umur, dan
formulir pengukuran anak untuk menentukan status gizi anak prasekolah,
interpretasi: gizi kurang, gizi baik, gizi lebih.
33

Pengukuran Berat Badan


Alat:
Timbangan berat badan digital merek GEA dengan kapasitas 150
kg dan ketelitian 10 gram, menggunakan baterai alkaline 3A sebanyak 2
buah. Timbangan berat badan digital sangat sederhana penggunaannya,
namun

diperlukan

pelatihan

petugas

agar

mengerti

dan

dapat

menggunakannya secara sempurna. Pedoman penggunaan timbangan berat


badan ini harus dipelajari dengan benar untuk hasil yang optimal. Berikut
ini adalah langkah-langkah dalam menggunakan timbangan digital merek
GEA :
PERSIAPAN
a. Ambil timbangan dari kotak karton dan keluarkan dari bungkus
plastiknya
b. pasang baterai pada bagian bawah alat timbang (perhatikan posisi
baterai)
c. pasang 4 (empat) kaki timbangan pada bagian bawah alat timbang
(kaki timbangan harus dipasang dan tidak boleh hilang)
d. Letakan alat timbang pada lantai yang datar
e. Responden yang akan ditimbang diminta membuka alas kaki dan
jaket serta
f. mengeluarkan isi kantong yang berat seperti kunci.
PROSEDUR PENIMBANGAN RESPONDEN ANAK YANG SUDAH
BISA BERDIRI:
1. Aktifkan alat timbang secara otomatis dan tunggu sampai muncul
angka 0,0 berarti timbangan siap digunakan.
2. Responden diminta naik ke alat timbang dengan posisi kaki tepat
di tengah alat timbang tetapi tidak menutupi jendela baca.

34

3. Perhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang,


sikap tenang (jangan bergerak-gerak) dan kepala tidak menunduk
(memandang lurus kedepan)
4. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan tunggu
sampai angka tidak berubah (statis)
5. Catat angka yang terakhir (ditandai dengan munculnya tanda
bulatan O diujung kiri atas kaca display)
6. Minta Responden turun dari alat timbang
7. Alat timbang akan OFF secara otomatis.
8. Untuk menimbang responden berikutnya, ulangi prosedur 1 s/d 7.
Demikian pula untuk responden berikutnya.
Pengukuran Tinggi Badan Anak yang Sudah Bisa Berdiri
Pengukuran tinggi badan (cm) dimaksudkan untuk mendapatkan
data tinggi badan semua kelompok umur, agar dapat diketahui status gizi
penduduk.
Alat :
Pengukur tinggi badan : microtoise dengan kapasitas ukur 2 meter
dan ketelitian 0,1 cm.
PERSIAPAN (CARA MEMASANG MICROTOISE) :
1. Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang microtoise di
dinding agar tegak lurus.
2. Letakan alat pengukur di lantai yang datar tidak jauh dari bandul
tersebut dan menempel pada dinding. Dinding jangan ada lekukan
atau tonjolan (rata).
3. Tarik papan penggeser tegak lurus keatas, sejajar dengan benang
berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca
menunjukkan angka 0 (nol). Kemudian dipaku atau direkat dengan
lakban pada bagian atas microtoise.

35

4. Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat


pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas microtoise.
PROSEDUR PENGUKURAN TINGGI BADAN
1. Minta responden melepaskan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup
kepala).
2. Pastikan alat geser berada diposisi atas.
3. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser.
4. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit
menempel pada dinding tempat microtoise di pasang.
5. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas.
6. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden.
Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Keadaan
ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding.
7. Baca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih
besar (ke bawah) Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala)
pada garis merah, sejajar dengan mata petugas.
8. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus
berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar.
9. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian sampai satu angka dibelakang
koma (0,1 cm).
G. ETIKA PENELITIAN
Dalam melakukan

penelitian

ini

peneliti

telah

mendapatkan

rekomendasi dari STIKes Yarsi Bukittinggi akan diajukan ke puskesmas biaro


untuk memintak izin melakukan penelitian. Setelah itu peneliti mulai
melakukna penelitian dengan cara door to door (dari rumah ke rumah) mencari
responden, jika sudah dapat responden maka peneliti menjelaskan tujuan
peneliti, jika responden bersedia maka peneliti memulai melakukan penelitian
sesuai dengan etika peneliti sebagai berikut:
1

Informed Consent

36

Merupakan cara persetujuan antara penelitian dengan responden penelitian


yang tertuang dalam suatu lembar persetujuan (Informed Consent).
(Informed Consent) diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Pemberian
lembar ini agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian dan
mengetahui dampaknya. Peneliti meminta kepada calom responden yang
bersedia berpatisipasi dalam penelitian untuk menandatangani lembar
persetujuan dan menghormati hak calon responden yang menolak untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini.
2

Anonimity (tanpa nama)


Masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak
memberikan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan
inisial atau kode pada lembar pengumpulan data berupa urutan responden.

Confidentiality (kerahasiaan)
Merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil
penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua
informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti.

H. METODE PENGUMPULAN DATA


1. Cara pengumpulan data
Penelitian ini memerlukan metode pengumpulan data dengan
melewati beberapa tahap dibawah ini:

37

a. Peneliti menemui responden dan menjelaskan maksud dan tujuan


peneliti serta memintak responden membaca dan menandatangani surat
persetujuan menjadi responden.
b. Setelah responden menyetujui maka selanjutnya, dilakukan pengukuran
status gizi dengan mengukur berat badan dan tinggi badan anak.
c. Memberikan kuesioner (peryataan pola asuh makan) kepada ibu.
2. Pengolahan data
Dalam melakukan analisis data terlebih dahulu diolah dengan
tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam statistic, informasi yang
diperoleh dipergunakan untuk proses penganbilan keputusan, terutama
dalam pengkajian hipotesis. Menurut Hidayat, 2007 dalam proses
pengolahan data terdapat langkahlangkah yang harus ditempuh
diantaranya:
a. Pemeriksaan data (Editing)
Setelah kuesioner diisi dan dikembalikan responden, kemudian
kuesioner diperiksa kembali untuk melihat apakah benar telah
terjawab dengan baik. Editing bertujuan menjaga kualitas data agar
dapat editing diproses lebih lanjut.
b. Pengkodean data (Coding)
Memberi kode pada kuesioner yang telah terkumpul untuk
mempermudah pengolahan.
c. Pemindahan data (Entry)
Memasukan data yang telah diberi kode pada kuesioner untuk
diproses secara komputerisasi melalui program SPSS. Data yang
diperoleh adalah nilai dari pertanyaan yang diberikan kepada ibu
mencakup pola asuh ibu tentang makan, hasil pengukuran tersebut
dinilai untuk mengetahui dan menilai apakah ada hubungan antara
pola asuh ibu tentang makan dengan status gizi anak prasekolah.
d. Pembersihan (Cleaning)

38

Yaitu pembersihan data dari kesalahan-kesalahan kita selama


mengentry data misalnya pengecekan ulang kuesioner.
e. Proses (prosesing)
Memproses data serta memberikan nilai atau skor yang telah
ditetapkan.
I. ANALISA DATA
1. ANALISIS UNIVARIAT
Analisa Univariat adalah analisa terhadap masingmasing variabel,
analisis di lakukan dengan menggunakan statistik distribusi frekuensi.
Analisis univariat akan menunjukkan distribusi dan presentase pola asuh
makan dan status gizi. Status gizi diukur menggunakan pengukuran
antrometri dimana nantinya setiap sampel di ukur berat badan menggunakan
timbangan badan, dan menanyakan umur anak. Dikelompokkan menjadi 3
kategori yaitu kurus, normal, gemuk. Mengetahui pola makan dengan
memberikan kuesioner atau peryataan dan dihitung dengan rumus :
p = f/n 100%. Data yang diperoleh akan ditampilkan dalam bentuk tabel,
diagram batang.
2. ANALISIS BIVARIAT
Analisis bivariat ini dilakukan untuk melihat hubungna antara dua
variabel yaitu pola asuh makan dengan status gizi dengan menggunakan uji
statistik: uji Chi-Square. Peneliti dibantu dengan pengolahan secara
komputerisasi yaitu dengan menggunakan program SPSS (Statistical
Program For Social Science).
Pengujian hipotesa mengambil keputusan tentang apakah hipotesa yang di
ajukan cukup meyakinkan untuk di tolak atau di terima dengan
menggunakan uji statistik Chi Square dengan rumus :
( 0-E )2
X2 =
E

39

Keterangan :
X2

= Nilai Chi-Square yang diharapkan pada perhitungan

= Obserasi ( Nilai yang eramati )

= Expected ( Nilai yang di harapkan )

Hasil analisis dinyatakan bermakna (signifikn) apabila nilai p = 0,05 dengan


Confidence interval 95%, yaitu dengan kriteria:
Ha diterima jika p 0,05 berakti ada hubungan yang bermakna.
H0 ditolak jika p > 0,05 berakti tidak ada hubungan yang bermakna.

40

BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umun Penelitian
Penelitian dilakukan selama satu minggu mengenai hubungan pola
asuh makan dengan status gizi anak prasekolah di posyandu wilayah kerja
puskesmas biaro kecematan ampek angkek dengan jumlah responden 52 orang
ibu dan anak prasekolah. Analisa univariat mengambarkan karakteristik
responden dan karakteristik variabel pola asuh makan dengan status gizi anak
prasekolah. Sedangkan analisa bivariat menyajikan hubungan pola asuh makan
dengan status gizi anak prasekolah.
Karakteristik reponden dapat dilihat dengan menggunakan kuisioner melalui
wawancara yang meliputi umur ibu, pekerjaan ibu, pendidikan ibu, jenis anak,
jumlah anak, umur anak. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tebel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur Ibu Di Posyandu Ampang
Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek
Tahun 2015
no.
1.
2.
3.

umur
20-29 tahun (dewasa muda)
30-40 tahun (dewasa menengah)
>40 tahun (dewasa akhir)
Total

41

f
12
32
8
52

%
23,1
61,5
15,4
100

Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa distribusi responden


menurut umur yang terbanyak adalah ibu yang berumur 30-40 tahun
(dewasa menengah) yaitu sebanyak 32 orang (61%) dan yang paling
sedikit adalah ibu berumur 40 tahun keatas yaitu 8 orang (15,4%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Menurut pekerjaan Ibu Di Posyandu Ampang
Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun
2015
no.
1.

pekerjaan ibu
ibu rumah tangga

f
29

%
55,8

2.
3.

wiraswasta
pns
Total

19
4
52

36,6
7,7
100

Dari tabel 5.2 dapat diketahui bahwa distribusi responden menurut


pekerjaan ibu yang terbanyak adalah ibu yang yang bekerja sebagai ibu
rumah tangga yaitu sebanyak 29 orang (55,8) dan yang sedikit adalah ibu
yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil yaitu 4 orang (7,7%).
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Menurut pendidikan Ibu Di Posyandu
Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek
Angkek Tahun 2015
no.
1.
2.
3.
4.

pendidikan ibu
SD
SMP
SMA
PEGURUAN TINGGI
TOTAL

f
3
11
28
10
52

%
5,8
21,2
53,8
19,2
100

Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa distribusi responden


menurut pendidikan ibu yang terbanyak adalah ibu yang pendidikan
SMA yaitu sebanyak 28 orang (53,8) dan yang sedikit adalah ibu yang
pendidikan SD yaitu 3 orang (5,8%).
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Menurut jenis kelamin anak prasekolah Di
Posyandu Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan
Ampek Angkek Tahun 2015
no.
1.

jenis kelamin
laki laki

f
23

42

%
44,2

2.

perempuan
Total

29
52

55,8
100

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa distribusi responden menurut jenis
kelamin yang terbanyak jenis kelamin perempuan berjumlah 29 orang
(55,8%), dan yang sedikit anak laki-laki berjumlah 23 orang (44,2%).
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Menurut jumlah anak Di Posyandu Ampang
Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun
2015
no.
1.
2.

jumlah anak
2
>2
Total

f
35
17
52

%
67,3
32,7
100

Dari tabel 5.5 dapat diketahui bahwa distribusi responden menurut


jumlah anak yang terbanyak adalah ibu yang mempunyai anak kecil sama
dari 2 orang yaitu 35 orang (67,3%) dan yang paling sedikit ibu yang
mempunyai anak lebih dari 2 orang yaitu 17 orang (32,7%).
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Menurut umur anak Di Posyandu Ampang
Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun
2015
no.
1.
2.

umur anak
36 bln 48 bln
49 bln 60 bln
Total

f
28
24
52

%
53,8
46,2
100

Dari tabel 5.6 dapat diketahui bahwa distribusi responden menurut


umur anak yang terbanyak adalah umur anak 36 bln 48 bln yaitu 28
orang (53,8%) sedangkan yang paling sedikit umur anak yang 49 bln
60 bln yaitu 24 orang (46,2%).
B. Analisa Univariat
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Menurut status gizi anak prasekolah Di
Posyandu Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan
Ampek Angkek Tahun 2015
no.
1.
2.

status gizi anak prasekolah


Kurus
Normal
Tota l

f
25
27
52

43

%
48,1
51,9
100

Dari tabel 5.7 diatas dapat diketahui bahwa dari 52 responden


diketahui bahwa responden yang berstatus gizi kurus 25 orang (48,1%)
dan yang berstatus gizi normal 27 orang (51,9%).
Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Responden Menurut pola asuh makan Di Posyandu
Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek
Tahun 2015.
no.
1.
2.

pola asuh makan


Kurang baik
Baik
Total

f
23
29
52

%
44,2
55,8
100

Dari tabel 5.8 diatas dapat diketahui bahwa dari 52 orang


responden didapatkan responden yang mempunyai pola asuh makan
kurang baik sebanyak 23 orang (44,2%) sedangkan pola asuh makan
baik sebanyak 29 orang (55,8%).
C. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan pola asuh
makan dengan status gizi anak prasekolah. Uji statistik yang digunakan adalah
chi-square. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan
batas kemaknaan 0,05% sehingga nilai p 0,05 maka secara statistik disebut
bermakna dan jika nilai p > 0,05 maka secara statistik disebut tidak bermakna.
Hasil dari analisa bivariat ini pada penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 5.9
Hubungan Pola Asuh Makan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di
Posyandu Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek
Angkek Tahun 2015.
pola asuh
makan
Kurang baik
baik
Total
X2= 24,974b

f
20
5
25

status gizi
%
f
38,5
3
9,6
24
48,1
27

%
5,8
46,2
51,9
df= 1

f
23
29
52

total
%
44,2
55,8
100
P= 0,000

p value
0,000

or (95%)
32,000

Berdasarkan tabel 5.9 diatas dapat diketahui bahwa dari 25 responden


memiliki pola asuh makan kurang baik 20 orang memiliki status gizi kurus dan

44

3 orang memiliki status gizi normal. Sedangkan 27 responden memiliki pola


asuh baik, 5 orang memiliki status gizi kurus dan 24 orang memiliki status gizi
normal.
Sedangkan dari uji statistik chi-square didapatkan nilai p= 0,000 (p <
0,05) yang artinya Ha= diterima sehingga terdapat hubungan bermakna antara
pola asuh makan anak prasekolah di posyandu ampang gadang di wilayah kerja
puskesmas biaro kecematan ampek angkek tahun 2015. Nilai OR= 32,000 yang
artinya anak yang memiliki pola asuh makan yang tidak normal, beresiko untuk
status gizi kurang baik yaitu 32,000 kali dibandingkan anak yang mempunyai
status gizi baik.

45

BAB VI
PEMBAHASAN
A. ANALISA UNIVARIAT
1. Pola asuh gizi anak prasekolah
Berdasarkan tabel 5.8 diatas dapat diketahui bahwa dari 52 orang
responden didapatkan responden yang mempunyai pola asuh makan
kurang baik sebanyak 44,2% responden sedangkan pola asuh makan baik
sebanyak 55,8% responden. Secara umun sebagian besar pola asuh makan
tergolong baik 55,8%.
Sebanding dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh
Vicka (2014) tentang hubungan pola asuh makan dengan status gizi balita
di wilayah kerja puskesmas ranotana weru kecematan wanea kota manado.
Didapatkan hasil yaitu sebagian besar dari 51 responden terdapat 82,4%
responden dengan kategori pola asuh makan baik dan 17,6% responden
dengan kategori pola asuh makan kurang baik.
Menurut Nursalam (2005), kebutuhan dasar anak terbagi 3 yaitu
asuh, asah dan asih. Pola asuh adalah mendidik, membimbing dan
memelihara anak, mengurus makanan, minuman, pakaian, kebersihannya.
Ibu sebagai tokoh sentral dan sangat penting untuk melaksanakan
kehidupan khususnya pada anak balita. Anak masih membutuhkan
bimbingan seorang ibu dalam memilih makanan agar pertumbuhan tidak
terganggu. Bentuk perhatian atau dukungan ibu terhadap anak meliputi
perhatian ketika anak makan dan sikap orang tua dalam memberi makan.
Menurut Depkes RI (2002), pemberian makanan balita bertujuan
untuk mendapatkan zat makan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh. Zat makan ini berperan untuk memelihara dan
46

memulihkan kesehatan serta melaksanakan kegiatan sehari-hari, dalam


pengaturan makanan yang tepat dan benar merupakan kunci pemecahan
masalah. Gizi seimbang adalah makanan yang dikonsumsi dalam satu hari
yang beragam dan mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat
pengatur sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Keadaan ini tercemin dari
derajat kesehatan dan tumbuh kembang balita yang optimal.
Beberapa peneliti menunjukkan rendahnya konsumsi makan anak
usia prasekolah, langkah yang dapat ditempuh untuk menaikkan masukan
kalori pada anak dilakukan dengan cara menambah frekuensi makan atau
memberi makan selingan (Istiany, 2013).
Gizi dapat diperoleh seorang anak prasekolah melalui konsumsi
setiap hari yang di siapkan, disediakan ibu di rumah. Pola makan atau
kebiasaan makan yang ada di masyarakat di mana seorang anak hidup. Pola
makan kelompok masyarakat tertentu juga menjadi pola makan anak, akan
mempengaruhi penyusunan menu. Menyusun hidangan untuk anak, hal ini
perlu diperhatikan di samping kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat
bertumbuh kembang (Santoso, 2009).
Pola konsumsi memberikan gambaran frekuensi konsumsi satu
pangan dalam periode tertentu. Dan ada juga faktor yang mempengaruhi
bentu pola konsumsi pertama faktor yang berhubungan dengan persediaan
atau pengadaan bahan pangan, dan kedua faktor ekonomi dan adat istiadat
setempat tinggal (Adriani, 2014). Mengatur makan pola asuh makan anak
prasekolah hal yang sangat penting yaitu untuk menanamkan kebiasaan
memilih bahan makanan yang baik pada usia dini. Waktu makan sebaiknya
sudah mulai disesuaikan dengan waktu keluarga dan anak diajak makan
bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.

47

Uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa mayoritas pola asuh


makan responden tergolong baik. Pola asuh makan biasanya berkaitan
dengan perhatian ibu terhadap anak meliputi perhatian ketika anak makan
dan sikap ibu dalam memberi makan, mempersiapkan makanan. Dilihat dari
analisa bivariat antara ibu yang berkerja dengan pola asuh makan maka
hasilnya dari ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga plus bekerja maka
hasilnya dari 29 ibu sebagian besar memiliki pola asuh makan kurang baik
yaitu 20 ibu (68,9%). Mempunyai hubungan yang bermakna antara ibu yang
bekerja dengan pola asuh makan, ini juga disebabkan kesibukan ibu dalam
bekerja dan anak boleh dikatakan akan terabaikan terutama kurangnya
perhatian orang tua kepada anaknya. Masih ada ditemukan pola asuh makan
berkategori kurang baik, hal ini dapat disebabkan karena faktor karakteristik
ibu. Seperti pendidikan ibu, pekerjaan ibu lebih dari separoh ibu bekrerja
sebagai ibu rumah tangga, dari waktu melakukan penelitian ternyata ibu
mempunyai kerja yang sangat sibuk di rumah sebagai menjahit atau
konveksi. Sehingga anak kurang mendapatkan perhatian terutama dalam hal
makan. Ditambah lagi jika anak tidak mau makan atau nafsu makan anak
kurang maka ibu tidak ada usaha untuk memujuk anak untuk makan
disebabkan kesibukan kerja di rumah.
2. Status gizi anak prasekolah
Berdasarkan tabel 5.7 diatas dapat diketahui status gizi anak
prasekolah dengan menggunakan indeks BB/TB (berat badan menurut
tinggi badan) bahwa dari 52 responden diketahui bahwa responden yang
berstatus gizi kurus 25 orang (48,1%) dan yang berstatus gizi normal 27

48

orang (51,9%). Secara umum sebagian besar status gizi anak prasekolah
tergolong normal yaitu 51,9%.
Berkaitan dengan penelitian palviana (2014), sebanding atau sama
hasilnya sebagian besar responden anak mengalami gizi normal senyak 88
responden (60,7%) gemuk 26 orang (17,9) dan kurus 31 orang (21,4%).
Menurut Supariasa (2012), Status gizi merupakan ekspresi dari
keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari
nutrisi dalam bentuk variabel tertentu, contohnya gondok endemik
merupakan keadaan ketidakseimbangn antara pemasukan dan pengeluaran
yodium dalm tubuh. Status gizi anak adalah keadaan kesehatan anak yang
diperlukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi yang lain,
yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur
secara antropometri yang dikategorikan berdasarkan standar baku WHONCHS. Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu
(level yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung
adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi
ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak
dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan
kesehatan (Riyadi, 2001 yang dikutip oleh Simarmata, 2009).
Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan
keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari
energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang
masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007).
Menurut peneliti responden yang memiliki status gizi yang kurus
dikarenakn orang tua yang tidak memperhatikan asupan gizi yang dimakan

49

oleh anaknya. Kebanyakan ibu hanya memperhatikan kualitas dari makanan


tersebut. Orang tua beranggapan jika anaknya sudah makan 2-3 kali sehari
itu sudah dapat memenuhi kebutuhan mereka. Padahal terkadang anaknya
hanya memakan makanan sejenis karbonhidrat saja setiap harinya tanpa ibu
mempertimbangkan 4 sehat 5 sempurna. Bahkan tidak sedikit anak-anak
yang makan dengan bahan penyedap saja tanpa ditambah dengan lauk pauk
dan sayur. Sedangkan status gizi kurus hal ini mungkin disebabkan karena
masih kurangnya tingkat kesadaran ibu untuk memperhatikan asupan
makani anaknya. Status gizi dikatakan baik dikarenakan orang tua (ibu)
yang memperhatikan zat-zat gizi yang diberikan kepada anaknya dan juga
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan gizi anak balita
sehingga si anak menjadi tumbuh dan berkembang secara normal.
B. Analisa Bivariat yaitu Hubungan Pola Asuh Makan Dengan Status Gizi
Anak Prasekolah.
Berdasarkan tabel 5.9 diatas dapat diketahui bahwa dari 25 responden
memiliki pola asuh makan kurang baik 20 orang memiliki status gizi kurus dan
3 orang memiliki status gizi normal. Sedangkan 27 responden memiliki pola
asuh baik, 5 orang memiliki status gizi kurus dan 24 orang memiliki status gizi
normal. Berdasarkan dari uji statistik chi-square didapatkan nilai p= 0,000 (p <
0,05) yang artinya Ha= diterima sehingga terdapat hubungan bermakna antara
pola asuh makan anak prasekolah di posyandu ampang gadang di wilayah kerja
puskesmas biaro kecematan ampek angkek tahun 2015. Nilai OR= 32,000 yang
artinya anak yang memiliki pola asuh makan yang tidak normal, beresiko untuk
status gizi kurang baik yaitu 32,000 kali dibandingkan anak yang mempunyai
status gizi baik.

50

Sebanding dengan hasil penelitian Palvia (2014), yang berjudul


hubungan pola asuh ibu dengan status gizi anak balita di desa tunang
kecematan mempawah hulu kabupaten landak kalimantan barat, didapatkan
hasilnya tidak ada hubungan antara pola asuh ibu dengan status gizi anak
balita.
Menurut Soekirman (2000), pola asuh makan adalah sikap dan prilaku
ibu atau pengasuhan yang lain dalam hal kedekatannya dengan anak,
memberikan makanan, merawat, memberikan kasih sayang dan sebagainya.
Pola asuh makan yang tidak memadai dapat menyebabkan makan yang
diberikan tidak seimbang sehingga berpengaruh pada status gizi anak.
Menurut Prasetya (2012), kesehatan anak sangat erat kaitannya dengan
makanan yang dikonsumsi. Zat-zat yang terkandung dalam makanan yang
masuk kedalam tubuh sangat mempengaruhi kesehatan dan status gizi anak.
Menurut Menkes (2011), fakor yang cukup dominan yang menyebabkan
keadaan gizi kurang meningkat adalah pilaku memilih dan memberikan
makanan yang tidak tepat kepada anggota keluarga termasuk anak-anak.
Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti berpendapat bahwa pola
asuh makan yang baik sangat mendukung tercapainya status gizi anak yang
baik atau normal, ini dikarenakan orang tua yang selalu berada dekat anaknya
dan memberi perhatian penuh kepada anaknya dengan memberikan makanan
yang mempunyai asupan gizi yang baik juga. Sebaliknya jika praktek
pemberian makan pada anak tidak baik menyebabkan status gizi anak tidak
baik pula. Jika responden yang memiliki pola asuh makan yang kurang baik
dengan status gizi yang kurus dikarenakan banyak faktor seperti kesibukan ibu
dalam bekerja bisa dilihat pada tabel 5.2 sebagian besar ibu rumah tangga plus
bekerja yaitu 29 ibu (55,8%) disebabkan ibu sibuk dalam bekerja untuk

51

mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Jumlah anak yang


banyak (lebih dari 2 orang) juga dapat dilihat pada tabel 5.5 sebagian kecil
yaitu 17 orang (32,7%) jadi disimpulkan untuk wilayah Ampang Gadang
program cukup 2 anak sudah terlaksana. Pendidikan ibu bisa dilihat dari tabel
5.3 ibu yang mempunyai pendidikan yang rendah masih ada juga sebanyak 14
(27%) ibu dari 52 ibu karena tingkat pendidikan ibu akan berkaitan erat dengan
wawasan pengetahuan mengenai sumber gizi dan jenis makanan yang baik
untuk konsumsi anak. Ibu rumag tangga yang berpendidikan akan cenderung
memilih makan yang lebih baik dalam mutu dan jumlahnya, dibanding dengan
ibu yang pendidikannya lebih rendah, sehingga mereka tidak mengetahui cara
merawat anak yang baik dan tidak memperhatikan status gizi dan pemberian
asupan makan anak sehingga anak tidak dapat tumbuh dengan normal. Jenis
kelamin anak bisa dilihat pada tabel 5.4 hasilnya yaitu laki-laki sebanyak 23
anak (44,2%) dan perempuan 29 anak (55,8%) karena jenis kelamin akan
menentukan besar kecilnya kebutuhan gizi seseorang, anak laki-laki lebihnya
membutuhkan zat tenaga dan protein dari pada anak perempuan.
Peneliti ini tidak sependapat dengan hasil penelitian Palvia (2014),
disebabkan bebagai faktor lainnya seperti budaya, jenis makanan yang sering
dikonsumsi. Terlihat jelas pada peneliti ini ibu yang kurang memberi perhatian
kepada anak terhadap apa yang dimakan anak, dan kurangnya waktu
mendampingi anak saat makan.

52

BAB VII
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian pada bulan juni selama satu minggu tentang
Hubungan Pola Asuh Makan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di
Posyandu Ampang Gadang Di Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan
Ampek Angkek Tahun 2015, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1 Lebih dari sebagian responden yaitu 55,8% responden memiliki pola asuh
makan anak prasekolah baik Di Ampang Gadang Wilayah Kerja
Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun 2015.
2 Lebih dari sebagian besar responden yaitu 51,9% responden memiliki
status gizi anak prasekolah menurut indeks BB/TB normal Di Ampang

53

Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek


Tahun 2015.
3 Terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh makan dengan status
gizi anak prasekolah Di Ampang Gadang Wilayah Kerja Puskesmas
Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun 2015 dengan nilai p= 0,000
(< 0,05) maka Ha= diterima.
B. SARAN
Setelah dilakukan penelitian tentang Hubungan Pola Asuh Makan
Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di Ampang Gadang Wilayah Kerja
Puskesmas Biaro Kecematan Ampek Angkek Tahun 2015 dan melihat hasil
penelitian yang didapatkan makna pada kesempatan ini peneliti mengajukan
beberapa saran:
1 Bagi ibu-ibu yang mempunyai anak prasekolah
Diharapkan bagi ibu supaya memperhatikan asupan makan yang
diberi kepada anak hal ini sangat berhubungan dengan status gizinya.
Bagi ibu yang telah menerapkan pola asuh yang baik untuk tetap
dipertahankan dan bagi ibu yang mempunyai anak balita yang
berstatus gizi kurus untuk lebih memperhatikan asupan makan yang
2

diberikan.
Bagi pihak posyandu dan puskesmas
Peningkatkan pengetahuan bagi para ibu melalui penyuluhan
kesehatan terutama pada perbaikan status gizi anak yang kurang, dan

menggerakkan masyarakat dalam memenuhi gizi seimbang.


Bagi institusi
Dapat dijadikan sebagai referensi bagi mahasiswa yang akan

melakukan penelitian selanjtnya.


Bagi peneliti selanjutnya
Agar dapat melakukan penelitian ulang dengan metode yang berbeda
seperti pengembangan instrumen yang lebih baik lagi dan melihat
faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi status gizi anak.

54

55